Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Setiap orang beriman harus menumbuhkan sikap mau mendengarkan perkataan-perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik. Pengenalan terhadap jati diri bangsa akan sangat bermanfaat bagi umat untuk bangkit mendengar perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik. Setiap bangsa memiliki jati diri yang telah digariskan sejak dahulu kala. Nusantara misalnya, memiliki jati diri bangsa yang digambarkan sebagai sang merah putih. Apabila nilai-nilai sang merah putih dibangkitkan dengan benar, komponen-komponen bangsa akan lebih mudah mengikuti perkataan-perkataan tentang merah putih karena setiap diri berkepentingan dengan jati diri bersama sebagai bangsa. Nilai-nilai sang merah putih dapat mengarahkan bangsa untuk berbuat yang terbaik.
Seorang syaikh mengajarkan nilai-nilai itu dengan berhati-hati agar tidak mencelakakan muridnya. Tampaknya sang syaikh hanya mengajarkan kunci pengenalan terhadap jati diri bangsa, tetapi sebenarnya mengandung suatu pengajaran yang sangat banyak. Contoh yang sering diajarkan syaikh kepada para murid adalah sebagaimana ayat berikut :
﴾۲۲۱﴿أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-An’aam : 122)
Bagi seorang murid, ayat tersebut mungkin membuat suatu gambaran tentang sesosok insan yang telah mati secara syahid dengan pakaian putih dengan jubah luar bercelup darahnya sendiri sedangkan ia dihidupkan kembali ke tengah-tengah masyarakat manusia dan berjalan bersama mereka. Sosok itu merupakan sosok merah putih yang menjadi jati diri nusantara. Gambaran demikian bukanlah gambaran yang salah atau sia-sia, dan bahwa sosok itu seharusnya menjadi tauladan bagi bangsa. Pakaian demikian menggambarkan sifat insan tersebut. Pakaian putih menggambarkan keikhlasan sedangkan jubah merah darah menggambarkan sifat rela berkorban untuk memberikan yang terbaik bagi umat manusia. Kaum muslimin harus meneladani sebisa mungkin sifat-sifat dari sang merah putih, dan ikut serta berjuang untuk mewujudkan cita-cita.
Bangsa Indonesia hendaknya menghayati nilai-nilai merah putih untuk membina peradaban yang baik. Merah putih pada ayat di atas menunjuk pada seseorang yang benar-benar tidak dapat ditiru, dan mungkin hanya sedikit orang yang dapat berjumpa dengannya. Ketika seseorang mati sekalipun syahid, raganya tidak akan bisa kembali hidup dengan keinginannya sendiri kecuali atas kehendak Allah. Tidak perlu ada seorangpun yang perlu berharap bahwa dirinya adalah sang merah putih tersebut di atas, karena tidak ada cara untuk menirunya. Hikmah yang penting diperhatikan umat dalam pengajaran merah putih itu adalah penghayatan nilai-nilai merah putih dalam kehidupan setiap orang, yaitu keikhlasan dalam beribadah kepada Allah serta sikap rela berkorban untuk memberikan yang terbaik bagi yang lain.
Keikhlasan adalah kemurnian ibadah kepada Allah, menunjukkan pada suatu keinginan melaksanakan kehendak Allah dengan landasan pengetahuan kehendak Allah secara tepat dan benar. Keikhlasan tidak ditunjukkan dengan kebersihan shalat puasa dan lainnya secara persis mengikuti syariat saja, tetapi juga terwujudnya amal-amal yang dilakukan untuk memberikan manfaat diri bagi masyarakat luas sesuai kehendak Allah. Seseorang yang ikhlas sangat berkeinginan untuk beramal sesuai dengan pengetahuan yang benar terhadap kehendak Allah, dan ia menjadikan amal berdasar pengetahuan itu sebagai jalan ibadah. Pengetahuan yang benar tersebut berupa pengetahuan yang tidak terkotori oleh campuran hawa nafsu ataupun keinginan duniawi dan tidak pula terkotori dengan kebodohan dari alam syaitan. Mungkin pengetahuan dirinya terhadap kehendak Allah tidaklah benar-benar bersih dari kesalahan, tetapi apabila ia mengetahui kesalahannya ia segera memilih yang lebih baik tidak memperturutkan dorongan untuk mengikuti yang salah.
Landasan untuk ikhlas adalah memahami kehendak Allah dengan benar di atas pertumbuhan akal. Untuk beribadah secara murni kepada Allah, seorang hamba harus beramal sesuai dengan kehendak-Nya atas dirinya. Kadangkala seseorang beramal untuk Allah sedangkan ia hanya mengikuti hawa nafsu atau keinginan diri tanpa suatu pemahaman terhadap kehendak Allah maka sebenarnya tidak ada keikhlasan pada ibadahnya. Demikian pula apabila seseorang tidak waspada terhadap bisikan syaitan kemudian beramal dengannya, ia tidak dapat dikatakan sebagai orang yang ikhlas. Keikhlasan hanya dapat dibangun di atas pemahaman terhadap kehendak Allah dengan akalnya. Manakala seseorang tidak berakal, ia tidak akan mencapai keikhlasan.
Untuk memahami kehendak Allah dengan benar, seseorang harus melakukan tazkiyatun nafs agar dapat memisahkan pemahaman yang benar dan yang berasal dari hawa nafsu dan keinginan duniawi. Bersihnya nafs dari hawa nafsu harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, yaitu berusaha membentuk bayangan dari ayat-ayat Allah di dalam dirinya. Banyak orang berjuang dengan mencomot potongan ayat-ayat kitabullah dengan hawa nafsu. Hal demikian tidak menunjukkan keikhlasan karena sebenarnya ia tidak benar-benar mengetahui kehendak Allah kecuali hanya secara dzahirnya. Bukan masalah pengetahuan dzahiriahnya, tetapi karena sebenarnya pemahaman yang terbentuk hanya di atas hawa nafsu, tidak menunjukkan pahamnya akal terhadap firman Allah. Tingkat keikhlasan ditentukan oleh pemahaman seseorang terhadap kebaikan dalam kehendak Allah. Pahamnya akal ditandai dengan terbentuknya bayangan ayat-ayat Allah dalam hati seseorang.
Terbentuknya bayangan ayat-ayat Allah di dalam hati ditunjukkan dengan tumbuhnya pengetahuan terhadap nilai-nilai kebaikan dalam ayat-ayat yang dibaca. Seluruh kehendak Allah mengandung kebaikan yang sangat banyak dan tidak ada keburukan di dalamnya. Orang yang memahami ayat-ayat Allah mengenal kebaikan-kebaikan dalam ayat yang dipahaminya. Mungkin hanya sebagian dari kandungan kebaikan dalam ayat itu diketahuinya dan masih sangat banyak kandungan kebaikan yang tidak diketahui, tetapi telah cukup dikatakan ia telah mempunyai pemahaman terhadap ayat Allah. Pemahaman terhadap ayat Allah belum diperoleh oleh orang-orang yang beramal sekadar dengan melakukan perintahnya. Bukan berarti tidak boleh melakukan hal demikian, tetapi hanya menunjukkan seseorang sebenarnya belum memahami. Manakala seseorang telah mempunyai pemahaman terhadap kehendak Allah, ia bisa membangun keikhlasan.
Manfaat paling besar dari penghayatan nilai-nilai merah putih adalah terwujudnya kehidupan yang terang dan dapat berjalannya umat manusia menuju kebaikan. Terang dan dapat berjalan itu merupakan satu kesatuan tanda. Kadangkala seseorang atau suatu kaum mengaku kehidupan mereka terang tetapi tidak mengetahui jalan keluar dari masalah yang menimpa diri mereka, maka sebenarnya pengakuan demikian tidak benar sepenuhnya. Tidak sedikit seseorang atau suatu kaum bersikap memandang perbuatan-perbuatan mereka sangat baik sekalipun sebenarnya mereka kufur terhadap cahaya Allah. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya berada dalam kegelapan dan tidak mengetahui jalan keluar dari kegelapan mereka. Orang yang berada dalam cahaya mengetahui keadaan diri mereka berdasarkan hakikat dari sisi Allah dan mengetahui jalan untuk keluar dari masalah mereka.
Pengetahuan tentang keadaan diri secara hakiki sesuai dengan pandangan Allah dapat diperoleh manusia melalui penghayatan yang sungguh-sungguh terhadap nilai-nilai merah putih. Harapan untuk mengenal kehendak Allah harus tumbuh di dalam diri setiap manusia, agar ia dapat beramal sesuai dengan kehendak Allah. Bila seseorang telah mempunyai pengetahuan, ia harus beramal dengan pengetahuan itu. Kemampuan untuk beramal itu hendaknya selalu ditingkatkan dengan kekuatan rela berkorban memberikan yang terbaik bagi umat manusia. Dengan jalan demikian, nilai-nilai merah putih dapat tumbuh dengan kuat pada diri manusia.
Sebagian Manfaat dari Penghayatan Merah Putih
Terangnya kehidupan dengan cahaya akan menampakkan jalan bagi umat manusia, termasuk jalan keluar dari masalah-masalah yang menimpa diri mereka. Seseorang yang berjiwa merah putih akan mengetahui keadaan diri mereka dalam pandangan Allah secara tepat, dan mengetahui jalan keluar dari masalah-masalah yang menimpa diri mereka. Tetapi perlu diperhatikan bahwa pengetahuan itu belum tentu menjadikan umat manusia keluar dari masalah. Keluar dari masalah merupakan hasil dari jalan yang ditempuh atau amal-amal yang dilaksanakan seseorang berdasarkan pengetahuan.
Manakala seseorang atau suatu kaum tidak menempuh jalan keluar yang diketahui oleh seseorang di antara mereka, mereka tidak akan keluar dari masalah mereka. Manakala seseorang atau suatu kaum menempuh jalan yang bukan jalan keluar, mereka tidak juga akan keluar dari masalah. Atau apabila orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan keluar dihalang-halangi, tidak akan terwujud hasil dari pengetahuan tentang jalan keluar itu. Suatu kaum mungkin saja hanya berputar-putar dalam keadaan yang sama sepanjang waktu dengan amal-amal yang sungguh-sungguh mereka laksanakan untuk keluar dari masalah, karena mereka tidak menempuh jalan keluar dari masalah. Mereka mungkin memandang baik seluruh upaya yang telah mereka laksanakan tetapi sebenarnya mereka kufur terhadap cahaya Allah.
Dalam sebuah hadits, terkait dengan harta simpanan merah putih Rasulullah SAW diceritakan bahwa umat Islam akan melakukan suatu kesalahan yang menyebabkan harta simpanan putih Rasulullah SAW kehilangan pijakan. Hal itu akan menyebabkan banyak masalah bagi umat Islam. Manakala umat Islam tidak mau menyadari kesalahan yang dilakukan, mereka akan terus menyebabkan harta simpanan Rasulullah SAW terperosok, dan mereka tidak akan menemukan jalan keluar dari masalah yang menimpa mereka. Mungkin sangat banyak masalah menimpa negri mereka tetapi mereka tidak dapat memahami masalahnya dengan benar, apalagi mencari jalan keluar dari masalah. Mungkin masalah itu meliputi diri mereka sendiri. Mungkin mereka mempunyai suatu konsep-konsep masalah yang menimpa negeri atau menimpa diri mereka tetapi konsep-konsep itu tidak mempunyai landasan apapun dari sisi Allah. Allah menjadikan mereka memandang indah keadaan diri mereka sedangkan mereka tidak mengetahui hakikat keadaan mereka dan jalan keluar dari masalahnya.
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ أَوْ قَالَ إِنَّ رَبِّي زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ مُلْكَ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ
Dari Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku sehingga aku bisa melihat bagian timur dan baratnya. Sesungguhnya kerajaan umatku akan mencapai bumi yang telah digulung untukku. Dan aku diberi dua harta simpanan merah dan putih. Dan sesungguhnya aku memohon kepada Rabbku untuk umatku agar Dia tidak membinasakan umatku dengan paceklik yang merata, dan agar Dia tidak menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, kecuali karena (kesalahan) diri mereka sendiri sehingga tenggelamlah (harta simpanan) putihnya (HR Abu Dawud, no: 4252; Ahmad 5/278, 284; Al-Baihaqi, no: 3952.)
Terperosoknya aspek putih menunjukkan terperosoknya aspek keikhlasan. Keinginan umat Islam pada jaman itu untuk mengetahui secara tepat kehendak Allah atas diri mereka barangkali sangat rendah sehingga mereka mengabaikan penjelasan-penjelasan yang benar (al-bayaan) yang dibacakan oleh seseorang di antara mereka. Umat Islam barangkali lebih memilih mengikuti waham mereka sendiri tentang kehendak Allah daripada penjelasan-penjelasan dari kitabullah. Waham mereka berupa pengetahuan yang tidak mempunyai akar yang kuat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Boleh jadi mereka juga mencederai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan konsep-konsep mereka sendiri. Ada banyak hal pada kaum muslimin yang mungkin menyebabkan terperosoknya harta simpanan putih Rasulullah SAW.
Skala kesalahan ini cukup besar hingga harta simpanan putih Rasulullah SAW terperosok. Bukan hanya keikhlasan pada kaum muslimin saja yang terperosok, tetapi juga mempengaruhi harta simpanan Rasulullah SAW hingga terperosok. Hal ini menunjukkan skala kesalahan yang cukup besar. Mungkin kaum muslimin memandang diri mereka baik, sedangkan nilai-nilai agama tidak mereka hayati dengan benar. Barangkali mereka merasa menghidupkan agama tetapi sebenarnya pokok-pokok agama justru tenggelam karena tidak mempunyai pengetahuan tentang kehendak Allah. Orang-orang yang membangkitkan pokok-pokok agama barangkali tidak mampu untuk berbuat apa-apa dengan keikhlasan mereka karena terperosoknya umat dalam waham hingga tidak menyadari kesalahan mereka. Seruan untuk memahami kehendak Allah berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mungkin tidak akan diperhatikan, terganti dengan pendapat mereka sendiri tentang kehendak Allah.
Umat Islam hendaknya berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk membangun keikhlasan, tidak menggantikannya dengan yang lain karena bisa merusak keikhlasan. Mungkin saja seorang muslim menyangka dirinya ikhlas sedangkan sebenarnya ia hanya mengikuti hawa nafsu atau keinginan duniawi atau bahkan hanya mengikuti langkah-langkah syaitan. Hal itu bisa terjadi apabila umat islam tidak berpegang teguh dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan akalnya. Keterperosokan keikhlasan ini bisa sangat dalam. Ketika sahabat memperingatkan, ia menganggap sahabatnya tidak mempunyai pengetahuan. Ketika gurunya meluruskan, ia menganggap gurunya tidak menyadari rincian masalah. Ketika kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW disampaikan, ia menganggap tafsiran orang yang menyampaikan terhadap kedua tuntunan itu tidak tepat, sekalipun tidak menyimpang dari redaksi. Ia tidak berusaha memahami tuntunan sekalipun telah disampaikan. Fenomena demikian ini menunjukkan keterperosokan dalam memahami kehendak Allah.
Mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan bersikap sebagai pengikut. Kadangkala seseorang berjuang berdasarkan pikiran sendiri dan mengambil ayat kitabullah untuk mendukung usaha mereka. Hal ini kurang tepat. Dengan cara demikian seringkali seseorang sebenarnya tidak mengusahakan apa yang dimaksudkan dalam ayat kitabullah yang diambilnya, hanya memanfaatkannya saja sebagai pendukung pendapat. Kasus lainnya, banyak orang yang mengikuti orang lain dan menyangka ia telah mengikuti kitabullah dengan mengikuti orang lain tersebut. Bukan tidak boleh mengikuti orang lain, tetapi hendaknya ia memperhatikan kitabullah ketika mengikuti. Banyak orang terjebak mengikuti kesalahan orang lain karena tidak memperhatikan tuntunan kitabullah. Atau bisa saja mereka kemudian mengabaikan suatu seruan atau penjelasan dari kitabullah yang benar. Hal itu menunjukkan ia tidak memperhatikan kitabullah. Mukminin hendaknya memperhatikan ayat kauniyah dan ayat kitabullah yang bersesuaian, dan memperhatikan rincian yang disampaikan ayat kitabullah untuk dijadikan sebagai dasar bagi usaha yang perlu mereka lakukan. Prioritas usaha yang dilakukan harus terlahir dengan memperhatikan rincian penjelasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Demikian itu merupakan usaha mengikuti kitabullah.
Indikator mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan penghayatan yang benar tentang nilai merah putih adalah terangnya keadaan diri selaras dengan pandangan Allah, serta terlihatnya jalan keluar dari masalah kehidupan bangsa. Bila bangsa terlilit masalah tanpa seseorang dari kaum itu mengetahui keadaan yang sebenarnya dalam pandangan Allah, atau tidak mengetahui jalan keluar dari masalah itu, umat belum cukup menghayati nilai-nilai merah putih atau sebenarnya justru mereka orang yang menjadikan harta putih Rasulullah SAW terperosok. Bila benar penghayatan nilai-nilai merah putihnya, suatu kaum akan mengetahui keadaan diri bangsa mereka dan mengetahui jalan keluar dari masalah bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar