Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan terletak pada pengenalan terhadap amr Allah. Setiap manusia pada dasarnya diciptakan untuk suatu tujuan tertentu berupa pelaksanaan amr Allah. Amr Allah itulah jalan menuju kedekatan kepada Allah apabila ditempuh. Allah menjelaskan kepada hamba-hamba yang dikehendaki sebagian perintah dari perintah-perintah-Nya, maka orang-orang tersebut kemudian mempunyai kemudahan untuk mengenal sebagian dari perintah Allah.
Orang-orang yang mengetahui amr Allah yang harus ditunaikannya akan diberi kekuasaan untuk melaksanakan amr tersebut. Kekuasaan itu diberikan mengikuti pengetahuannya tentang amr Allah setelah melangkah hingga tahap tertentu, bukan sesuatu yang diberikan secara bersamaan dengan diperolehnya pengetahuan terhadap amr Allah. Tanda dari turunnya kekuasaan itu adalah kembalinya tabut kepada mereka, sedangkan di dalam tabut itu terdapat sakinah.
﴾۸۴۲﴿وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذٰلِكَ لَآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan (sakinah) dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman. (QS Al-Baqarah : 248)
Tabut pada bani Israel berbentuk peti yang mewadahi sisa-sisa dari jasmani nabi Yusuf a.s dan/atau perangkat nabi Musa a.s berupa keranjang bayi ketika dihanyutkan, pakaian serta tongkat beliau a.s. Ketika bani Israel berhijrah dipimpin nabi Musa a.s menuju tanah yang dijanjikan, mereka membawa serta kubur nabi Yusuf a.s dalam sebuah tabut. Manakala bani Israel telah tiba di tanah yang dijanjikan, keranjang bayi Musa ketika dihanyutkan, pakaian serta tongkat beliau a.s disimpan di dalam tabut. Tabut itu berfungsi sebagai kiblat dalam ibadah bani Israel dengan diletakkan pada kemah suci. Ibadah bani Israel dilakukan dengan menghadap kepada tabut sebagai kiblat ibadah mereka. Setelah kuil Sulaiman didirikan, tabut itu diletakkan di kuil sulaiman pada area yang paling suci.
Kiblat ibadah sebenarnya menunjukkan arah kehidupan yang harus ditempuh setiap hamba Allah agar dapat melaksanakan ibadah dengan tepat sesuai kehendak Allah. Suatu kiblat bukanlah sesuatu yang dijadikan sebagai objek penyembahan, tetapi sesuatu yang dijadikan tauladan dan arah dalam ibadah. Bani Israel diperintahkan untuk menjadikan tabut sebagai kiblat dalam ibadah mereka. Nabi Yusuf a.s memberikan tauladan kepada umat manusia agar setiap hamba Allah berusaha melepaskan diri dari keterpenjaraan mereka oleh aspek-aspek bumi untuk menjadi hamba yang merdeka dalam beribadah kepada Allah. Bila manusia terkurung dalam keinginan syahwat dan hawa nafsu, mereka sebenarnya terpenjara di bumi. Kadangkala manusia terpenjara dengan waham yang mereka bangun sendiri tanpa berpegang pada penjelasan yang haq, maka ia terpenjara oleh ilmunya. Setiap orang harus berusaha menjadi merdeka dari keterpenjaraan dunia. Nabi Musa a.s memberikan tauladan kepada hamba Allah agar menempuh jalan hijrah menuju tanah yang dijanjikan. Tanah yang dijanjikan bagi setiap hamba Allah berupa jati diri penciptaan masing-masing. Setiap hamba Allah hendaknya mengarahkan kehidupannya untuk mengenal jati diri penciptaan masing-masing, karena hal itu merupakan sarana ibadah yang sesungguhnya ditentukan bagi dirinya. Tauladan-tauladan itulah yang harus dijadikan kiblat, pedoman menentukan arah kehidupan setiap orang beriman.
Kiblat final bagi para hamba Allah adalah millah nabi Ibrahim a.s yang dirupakan dalam bentuk bayt al-haram di tanah makkah. Kiblat nabi Ibrahim a.s telah dibangun mendahului kiblat-kiblat bani Israel yang lain karena kiblat nabi Ibrahim a.s itu merupakan induk dari semua kiblat, sedangkan kiblat bani Israel yang lain merupakan perincian langkah yang harus ditempuh untuk mencapai kiblat nabi Ibrahim a.s. Hal itu akan diketahui seorang hamba manakala mereka telah mencapai tujuan dari kiblat nabi Yusuf a.s dan kiblat nabi Musa a.s. Manakala umat islam beribadah dengan menghadapkan wajah ke kiblat bayt al-haram, mereka sebenarnya dituntut untuk mengikuti millah nabi Ibrahim a.s bukan menyembah bayt yang didirikan oleh beliau a.s bersama keluarganya. Seseorang tidak akan mampu menempuh langkah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah tanpa mengikuti tauladan nabi Yusuf a.s dan tauladan nabi Musa a.s. Dengan terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, seseorang mempunyai tempat berpijak untuk mi’raj kepada Allah menjadi hamba Allah yang didekatkan dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.
Tabut demikian membawa sakinah (ketenangan) dari Allah. Kehidupan manusia akan memperoleh ketenangan apabila langkah kehidupan mereka menyatu dengan kehendak Allah, sedangkan tabut merupakan representasi kehendak Allah atas kehidupan umat manusia. Apabila suatu umat dapat melangkah sesuai dengan tabutnya, mereka akan mendekat pada suatu sakinah. Pada umat nabi Muhammad SAW, suatu sakinah dapat ditemukan dalam hubungan pernikahan, tetapi tidak semua pernikahan mendatangkan sakinah bagi pihak-pihak yang menikah. Sakinah yang terkandung dalam suatu tabut merupakan sakinah yang serupa dengan sakinah pada pernikahan, yaitu apabila suatu pernikahan dapat mewujudkan suatu bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt demikian merupakan bentuk kiblat yang harus dicapai dalam mengikuti millah nabi Ibrahim a.s.
Sakinah merupakan ketenangan dalam menempuh kehidupan karena menyatunya langkah kehidupan dengan kehendak Allah. Suatu keluarga sakinah akan terbentuk manakala setiap pihak dalam keluarga mempunyai kesatuan langkah kehidupan dalam beribadah kepada Allah. Bila satu pihak mempunyai tujuan langkah yang berbeda dengan pihak lain, hal itu bukan suatu bentuk dari sakinah. Demikian pula bila suatu keluarga mempunyai kesatuan langkah tetapi bukan dalam ibadah kepada Allah, maka kesatuan demikian bukan merupakan sakinah. Kadangkala manusia merasa tenang dan ridha terhadap semua ketentuan Allah sedangkan diri mereka dalam keadaan menyimpang atau menentang kehendak Allah, maka hal demikian bukan merupakan sakinah tetapi kebodohan. Sakinah terbentuk karena ketenangan dalam kesatuan langkah terhadap kehendak Allah. Kesatuan langkah keluarga sakinah dalam ibadah kepada Allah akan terbentuk apabila seorang kepala keluarga dapat memahami jati diri penciptaan mereka sebagai jalan ibadah yang harus ditempuh, sedangkan anggota keluarganya dapat meyakini bahwa jalan ibadah yang dikenali merupakan jalan ibadah yang benar, kemudian mereka berusaha melaksanakan jalan ibadah yang ditentukan bagi diri mereka.
Sakinah menjadi tanda bahwa seseorang akan memperoleh kekuasaan atas amanah yang dilimpahkan kepada diri mereka. Apabila seseorang memperoleh suatu keterbukaan pengetahuan terhadap jati diri penciptaan mereka, mereka akan mengetahui amanah yang harus ditunaikan sebagai jalan ibadahnya kepada Allah. Akan tetapi mungkin saja ia tidak mempunyai kekuatan atau kesempatan untuk menunaikan amanah yang telah diketahuinya. Hal demikian merupakan hal yang lazim terjadi. Thalut merupakan orang yang berilmu dan berbadan kuat hingga Allah menentukannya sebagai raja bagi bani Israel, tetapi kekuasaan atas kerajaan itu baru akan diberikan apabila tabut yang membawa sakinah didatangkan kepada diri mereka. Demikian pula kekuasaan seorang hamba untuk melaksanakan amanah bagi dirinya akan ditemukan apabila ia mengarahkan kehidupannya mencapai sakinah, yaitu membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Orang yang memperoleh ilmu dari Allah belum tentu mempunyai kekuatan untuk menunaikannya.
Pilihan Allah dan Pilihan Manusia
Sekalipun belum memperoleh kekuasaan untuk menunaikan, Allah sebenarnya telah menentukan seseorang untuk mengemban amanah manakala ia telah memperoleh ilmunya. Sifat ilmu yang menyertai pemberian amanah demikian adalah luas. Badan seseorang mempunyai kesesuaian untuk mengemban amanah itu. Kadangkala orang demikian tidak terlihat oleh pandangan suatu kaum karena miskin atau bukan dari keluarga terpandang, tetapi ia mempunyai ilmu yang luas. Ilmu itu mungkin tidak ia gunakan untuk mencari harta benda atau kedudukan di antara masyarakat walaupun sebenarnya ilmu itu sangat sesuai untuk mencari kedudukan.
﴾۷۴۲﴿وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak terhadap pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang memadai?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang kuat". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah : 247)
Dalam kisah Thalut, seorang nabi (nabi Samuel) memberitahukan kepada bani Israel yang meminta kepadanya untuk diangkatkan seorang raja bagi mereka. Sang nabi tersebut memberitahukan kepada mereka bahwa sesungguhnya Allah telah memilih Thalut sebagai raja bagi mereka. Hal itu membuat bani Israel terheran-heran. Dalam pandangan mereka, Thalut bukan orang yang tampak sebagai seseorang yang cakap untuk memerintah sedangkan banyak di antara mereka tampak lebih cakap dalam memerintah daripada Thalut. Demikian pula Thalut adalah orang yang miskin tidak mempunyai banyak harta dibandingkan diri mereka. Mereka bertanya, orang yang demikian itukah yang diangkat sebagai raja bagi mereka sedangkan banyak orang yang tampak bagi mereka lebih baik daripada Thalut.
Bisa ditemukan selisih yang sangat banyak antara cara pandang manusia dibandingkan dengan kehendak Allah. Allah telah memberikan ilmu yang luas kepada Thalut sedangkan bani Israel melihatnya sebagai orang yang lemah. Sekalipun diberi ilmu yang luas, Thalut dipandang tidak layak untuk memimpin bani Israel sedangkan banyak orang di antara bani Israel tampak dalam pandangan mereka lebih baik daripada Thalut. Masalah ini sebenarnya bersumber dari cara bani Israel memandang, bukan masalah pada Thalut. Bila bani Israel berusaha memahami ilmu dari sisi Allah, mereka tentu akan memandang Thalut sebagai orang yang berilmu, bukan orang yang tidak layak untuk memperoleh kedudukan sebagai raja di antara mereka, dan barangkali mereka tidak akan memandang diri mereka lebih tinggi dibandingkan Thalut. Cara pandang mereka membuat mereka memandang diri mereka lebih layak menjadi raja dibandingkan dengan Thalut yang telah dipilih Allah untuk menjadi raja bagi mereka.
Cara pandang bani Israel terhadap Thalut demikian sebenarnya tipikal terjadi pada umat manusia yang tidak mau berpegang pada tuntunan Allah, tidak hanya terjadi pada bani Israel. Lebih dari bani Israel, kebanyakan manusia tidak merasa membutuhkan pemimpin bagi diri mereka, lebih menginginkan memperturutkan hawa nafsu sendiri daripada dipimpin oleh orang yang ditentukan Allah. Hanya orang beriman tertentu yang merasa membutuhkan pemimpin yang tepat sebagai washilah diri mereka terhadap urusan Allah agar mereka termasuk dari golongan al-jamaah. Di antara orang demikian, lebih banyak orang memilih pemimpin tanpa berusaha memahami kehendak Allah hanya dengan membebek pada perkataan orang-orang sehingga mereka hanya mengikuti pemimpin yang tidak benar-benar tepat. Sangat sedikit orang yang benar-benar menginginkan untuk menjadi gologan al-jamaah dengan menggunakan akal secara benar. Orang-orang demikian itulah yang akan mengenali pemimpin yang ditentukan Allah bagi mereka.
Dari sisi Thalut, ia tidak bersalah dalam munculnya persangkaan kaumnya. Seandainya ia tidak menggunakan ilmunya untuk dipandang terhormat oleh masyarakat, itu bukanlah perbuatan dosa dan justru merupakan ketakwaan. Seandainya ia tidak banyak membicarakan ilmunya, ilmunya barangkali tidak bisa dibicarakan dengan orang kebanyakan yang tidak ingin mengetahui ilmunya tersebut. Sangat banyak ilmu yang bersifat hanya dapat dibicarakan kepada orang-orang yang terbatas. Adapun ilmu yang dapat dibicarakan dengan orang lain kadang-kadang tidak dapat disampaikan karena keadaan pendengarnya. Seandainya ada orang-orang yang ingin mendengar kebenaran yang dikenalinya, ia tentu akan menyampaikan kebenaran itu. Tentu ada keinginan dalam diri seseorang yang diberi ilmu untuk membagikan ilmu yang diberikan kepadanya, tetapi seringkali masyarakat tidak ingin mendengar ilmu yang benar, karena itu bagaimanapun Thalut tidak menampakkan diri sebagai orang yang berilmu. Mungkin pula ada keadaan tertentu yang menyebabkan Thalut tidak dapat memperoleh harta dan ia dipandang rendah oleh kaumnya. Sangat banyak kemungkinan yang menyebabkan Thalut dipandang rendah, sedangkan ia tidak ingin menimbulkan prasangka buruk masyarakat terhadap dirinya.
Dewasa ini, suatu ilmu dari sisi Allah yang ada pada diri seseorang dapat diukur berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Suatu ilmu dari sisi Allah ditunjukkan dengan pemahaman seseorang terhadap kauniyah dan tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara integral. Suatu hafalan saja terhadap dalil agama tidak menunjukkan adanya ilmu dari sisi Allah. Demikian pula pengetahuan kauniyah saja tidak menunjukkan adanya ilmu dari sisi Allah. Ilmu dari sisi Allah ditunjukkan dengan pemahaman integral terhadap kauniyah selaras dengan tuntunan Allah. Artinya, orang yang berilmu sebenarnya adalah orang-orang yang mempunyai pemahaman terhadap kauniyah diri mereka selaras dengan penjelasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak jarang manusia salah menyangka terhadap orang-orang berilmu karena waham mereka sendiri sebagaimana bani Israel salah menyangka terhadap berilmunya Thalut.
Ada orang-orang atau kaum tertentu yang mempunyai mata bathin, pendengaran bathin serta qalb. Indera-indera demikian seharusnya menjadi modal untuk memperoleh ilmu dari sisi Allah. Tetapi hal itu tidak menjadi jaminan bahwa seseorang memperoleh ilmu dari sisi Allah sebelum orang-orang tersebut dapat memahami keadaan kauniyah mereka selaras dengan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak sedikit para pemilik indera-indera demikian justru menjadi kaum yang tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh hingga membantah tuntunan kitabullah dan para ulul amri yang benar di antara mereka dengan persepsi indera mereka tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Banyak kerusakan yang dapat timbul dari perbuatan demikian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar