Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Rasulullah SAW adalah tauladan yang tertinggi bagi semesta alam, sebagai makhluk yang diberi kemampuan mengenal tajalliat Allah di ufuk yang tertinggi. Beliau menjadi tauladan utama bagi setiap makhluk agar menjadi dekat kepada Allah. Orang-orang yang mencintai Allah hendaknya mengikuti langkah-langkah yang beliau tempuh hingga menjadi dekat kepada Allah, maka seseorang akan menjadi orang yang dicintai Allah.
﴾۱۳﴿قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
﴾۲۳﴿قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
(31)Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (32) Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS Al-An’aam : 31-32)
Mengikuti langkah Rasulullah SAW bukan hanya berupa pelaksanaan ibadah-ibadah yang dicontohkan saja, tetapi juga harus disertai dengan melangkah pada arah yang sama dengan langkah Rasulullah SAW. Beliau SAW melangkah kembali kepada Allah sebagaimana ketika beliau SAW dimi’rajkan ke ufuk yang tertinggi. Mi’raj demikian merupakan hadiah bagi Rasulullah SAW karena langkah-langkah yang telah beliau SAW tempuh untuk menjadi dekat kepada Allah yang ditunjukkan dengan kemuliaan akhlak pada diri beliau. Orang yang ingin mengikuti langkah Rasulullah SAW hendaknya juga melangkah untuk membentuk akhlak sebagaimana akhlak Rasulullah SAW.
Mi’raj merupakan kedudukan yang sangat tinggi, yang mungkin diberikan kepada hamba Allah yang telah membina bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Rasulullah SAW dimi’rajkan dari bayt al-aqsha dan diberangkatkan dari bayt al-haram. Keduanya adalah bayt yang merupakan millah nabi Ibrahim a.s dan keturunannya. Tanpa terbentuknya bayt, tidak ada tempat bertolak untuk mi’raj. Mi’raj Rasulullah SAW ke ufuk yang tertinggi menunjukkan kesempurnaan langkah seseorang kembali kepada Allah, dan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah titik tolak mi’raj. Mi’raj merupakan sasaran akhir yang dapat diusahakan oleh manusia untuk kembali bertaubat kepada Allah, sebagai tujuan dari taubat yang dapat dilakukan dalam kehidupan di bumi. Ada banyak tujuan pendahuluan dalam langkah taubat sebelum seseorang dapat membentuk bayt untuk membina bayt. Masuk ke dalam islam merupakan langkah pertama, kemudian diikuti dengan langkah tazkiyatun-nafs, kemudian membentuk misykat cahaya untuk dapat memahami cahaya Allah merupakan langkah-langkah pendahuluan yang harus ditempuh setiap orang untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti Langkah Rasulullah SAW
Mengikuti langkah Rasulullah SAW pada tuntunan ayat di atas harus dilakukan dengan membina diri sesuai dengan tahapan-tahapan langkah Rasulullah SAW secara urut. Mengikuti Rasulullah SAW bukan hanya dilakukan dengan meniru bentuk-bentuk fisik ibadah yang dicontohkan saja. Tentu saja pembinaan itu tidak dapat dilakukan tanpa melaksanakan bentuk fisik ibadah yang dicontohkan, tetapi melaksanakan bentuk fisik ibadah yang dicontohkan saja tidak menunjukkan seseorang telah mengikuti langkah Rasulullah SAW. Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan membina diri selaras dengan akhlak Rasulullah SAW. Sebagian umat Islam bersikap berlebihan dalam urusan ibadah yang dicontohkan tanpa memahami langkah yang harus ditempuh. Mereka bersikap berlebihan memandang ibadah yang dicontohkan untuk menuduh kesesatan kepada sebagian umat islam yang lain, tetapi sebenarnya mereka tidak memahami agama dengan benar. Kaum demikian ini kebanyakan berasal dari pengikut keturunan Dzulkhuwaisirah.
Setiap orang beriman hendaknya berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW agar menjadi orang yang dicintai Allah. Setiap orang bisa mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan mencapai tahapan yang terdekat bagi dirinya, tidak perlu merasa susah dengan jauhnya perbedaan dirinya dengan kedudukan Rasulullah SAW. Apabila ia masih dalam keadaan kafir, ia dapat masuk Islam tanpa syarat yang menyusahkan. Awal keislaman saja merupakan bentuk ibadah kepada Allah, tetapi seseorang sebenarnya masih berada di tepian jurang yang mudah terjatuh ke neraka. Ia perlu melangkah bertaubat lebih lanjut dengan melakukan tazkiyatun-nafs agar dapat memahami tuntunan Allah. Setelah menempuh langkah tazkiyatun-nafs, hendaknya ia berusaha untuk menumbuhkan pohon thayibah diri dengan kalimah-kalimah Allah, sedemikian ia dapat membentuk misykat cahaya. Demikian seterusnya bahwa setiap orang dapat mengikuti langkah Rasulullah SAW menjadi hamba yang didekatkan tanpa perlu merasa susah karena keadaan dirinya yang mungkin belum cukup baik. Kedekatan kepada Allah itu tidak dapat terjadi manakala seseorang tetap dalam kebodohan dari mengenal kehendak Allah.
Yang penting diperhatikan dalam melangkah adalah kelurusan dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Selama seseorang tidak menyimpang langkahnya dari tuntunan Rasulullah SAW, ia akan selamat walaupun mungkin baru saja memasuki keislaman. Sebaliknya, seseorang yang menyimpang dari langkah Rasulullah SAW walaupun telah menempuh perjalanan tahap yang lanjut, tetap saja ia akan celaka. Setiap orang harus memperhatikan kelurusan langkahnya dalam mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Sunnah dirinya harus selaras dengan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang. Langkah seseorang menempuh jalan taubat merupakan sunnah dirinya. Sunnah tidak secara khusus menunjuk pada sesuatu yang dilekatkan kepada Rasulullah SAW, tetapi dapat pula menunjuk pada sesuatu yang melekat pada khulafa’ Ar-rasyidin maupun kaum mukminin dan muslimin secara umum. Lurus dan tepatnya langkah seseorang mengikuti langkah Rasulullah SAW merupakan suatu sunnah yang baik (hasanah), dan menyimpangnya langkah dan arah langkah seseorang dari sunnah Rasulullah SAW merupakan sunnah yang buruk.
Sebagian muslimin berlebih-lebihan dalam menggolongkan perbuatan manusia sebagai sunnah dan bid’ah karena terlalu sempit dalam memahami arti sunnah. Mereka sempit dalam memahami sunnah hanya dalam batas amal yang tampak dari Rasulullah SAW, bukan dalam batasan berupa langkah Rasulullah SAW mewujudkan kehendak Allah. Boleh jadi mereka tidak mengetahui langkah Rasulullah SAW mewujudkan kehendak Allah. Mereka mungkin menggolongkan segala perbuatan baik yang dilakukan seseorang tanpa dicontohkan Rasulullah SAW sebelumnya sebagai bid’ah. Sebenarnya orang-orang yang mengikuti perbuatan baik khulafa ar-rasyidin dan perbuatan baik mukminin umumnya merupakan sunnah yang baik manakala menjadikan yang beramal lebih dekat kepada Allah, tidak termasuk dalam kategori bid’ah. Perbuatan baik yang dapat mengantarkan seseorang mengikuti langkah Rasulullah SAW menjadi hamba yang didekatkan merupakan sunnah yang baik. Rasulullah SAW mengatakan tentang seorang anshar yang membawa makanan satu shurrah untuk tamu Rasulullah SAW, bahwa ia membuat sunnah yang baik (sunnah hasanah). Berbuat sesuatu mengikuti arah langkah Rasulullah SAW sekalipun tidak diperbuat Rasulullah SAW merupakan sunnah bukan bid’ah.
Untuk memudahkan memahami, gambaran bid’ah dapat dilihat pada kasus seseorang manakala mereka merasa tinggi memperoleh perintah Allah sedangkan perintah itu tidak ditemukan dalam kitabullah Alquran ataupun hadits Rasulullah SAW, atau bahkan mungkin bertentangan dengan tuntunan yang benar. Bid’ah bisa terjadi secara nyata atau secara halus, bisa tampak buruk ataupun tampak baik pada orang-orang yang berbuat dan memandang perbuatan mereka adalah perintah Allah sedangkan tidak ada tuntunan tentang perintah itu. Memandang diri tinggi dalam urusan Allah secara bathil merupakan sumber bid’ah. Pada sisi lain, sebenarnya ada orang yang memahami dengan benar perintah Allah yang harus ditunaikan untuk ruang dan jamannya. Suatu pemahaman terhadap perintah mungkin benar manakala dinemukan landasannya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kalaupun bukan perintah Allah untuk ruang dan jamannya, amal yang dilakukan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar akan mendatangkan kebaikan. Orang-orang yang berbuat baik dengan niat berbuat baik tanpa merasa besar diri dengan amalnya tidak termasuk sebagai ahli bid’ah. Bid’ah sering terjadi manakala seseorang menyimpang dari Al-jamaah karena kurang memperhatikan urusan Rasulullah SAW bersama mukminin lainnya.
Ada orang yang memahami perintah Allah secara khusus dan ia tidak menyimpang. Perintah itu tumbuh dari petunjuk apabila seseorang memahami kebaikan dalam perintah itu berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya bisa saja seseorang memperoleh petunjuk tentang bentuk tertentu keluarga yang harus diwujudkan oleh dirinya bersama keluarganya, dan ia mengetahui bahwa petunjuk itu tidak bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Petunjuk yang benar tentang bentuk tertentu keluarga yang harus diwujudkan itu seringkali merupakan petunjuk untuk menuju sasaran akhir taubat dalam kehidupan di bumi yaitu membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Manakala ia mengetahui manfaat dan madlarat yang timbul dari petunjuk itu, petunjuk itu bisa menjadi suatu perintah.
Petunjuk yang benar hanya diperoleh oleh orang-orang yang telah melakukan tazkiyatun-nafs hingga taraf memadai. Tidak jarang orang merasa memperoleh petunjuk sedangkan sebenarnya hanya merupakan luapan dari syahwat, hawa nafsu atau bahkan tipuan syaitan yang berbahaya. Petunjuk-petunjuk demikian tidak termasuk sebagai petunjuk. Suatu petunjuk berupa persepsi indera bathiniah sebenarnya berfungsi membuka makna suatu ayat dari kitabullah atau sunnah Rasulullah SAW. Manakala masih berupa suatu persepsi indera bathiniah saja tanpa pemahaman hubungan dengan kitabullah atau sunnah Rasulullah SAW, petunjuk demikian kadang belum perlu dipandang sebagai petunjuk. Manakala telah jelas pemahaman makna petunjuk berdasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, orang tersebut harus mengikuti petunjuknya karena boleh jadi merupakan perintah. Bila suatu petunjuk bertentangan dengan syariat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mengikuti petunjuk demikian merupakan bentuk bid’ah. Setiap orang harus membuang petunjuk demikian tidak mengikutinya. Tidak ada langkah yang benar dapat dilakukan secara menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Seringkali melaksanakan petunjuk bukan suatu amal yang mudah. Banyak manusia tidak menyukai petunjuk karena beratnya amal yang harus dilakukan. Petunjuk ta’addud misalnya, barangkali orang yang memperoleh petunjuk tidak menyukainya. Para perempuan yang memperoleh petunjuk ta’addud seringkali menolak petunjuk yang datang kepada mereka karena kurangnya akhlak mulia dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Sikap rahman dan rahim perlu ditumbuhkan pada setiap orang agar berakhlak mulia. Kadangkala akhlak manusia dididik dengan keliru hingga kadang justru dirusak dengan fitnah-fitnah. Mungkin para perempuan yang terlibat tidak cukup mengasihi sesama perempuan yang seharusnya menjadi madunya membentuk rumah tangga bersama, dan mungkin pula mereka dihasut untuk saling bermusuhan satu dengan yang lain, bahkan untuk membenci suami mereka. Fitnah sangat mudah beredar pada masyarakat yang berakhlak buruk. Syaitan pandai membuat fitnah-fitnah yang menjauhkan manusia dari pelaksanaan petunjuk mereka.
Kecintaan Allah
Langkah seseorang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan mendatangkan kecintaan Allah. Kecintaan Allah tidak datang karena prasangka kecintaan seseorang, tetapi karena langkah mereka mengikuti Rasulullah SAW. Setiap orang mukmin mencintai Allah dengan pengetahuan yang ada pada diri mereka, tetapi ada orang beriman yang tidak Allah cintai karena tidak mengikuti langkah Rasulullah SAW. Hanya orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW yang mendatangkan kebaikan dari sisi Allah baik sedikit ataupun banyak, dan itu mendatangkan kecintaan Allah. Manakala seseorang tidak melangkah mengikuti Rasulullah SAW, mungkin mereka tidak benar-benar beriman. Tidak selalu berarti kafir, tetapi mungkin saja mereka muslim yang tidak mempunyai pengetahuan tentang kemuliaan dari sisi Allah. Orang yang menyimpang dari langkah Rasulullah SAW akan mendatangkan kerusakan bagi semesta dan Allah tidak menyukai kerusakan mereka. Kadangkala seseorang mencintai Allah dan menyangka Allah mencintainya tetapi sebenarnya ia justru merusak tuntunan Rasulullah SAW, maka persangkaan mereka itu tidak benar. Kecintaan Allah hanya terhadap orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW, tidak mungkin terlimpah atas orang-orang yang justru merusak sunnah Rasulullah SAW.
Menyimpangnya seorang mukmin dari langkah mengikuti tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW dapat menjadikan diri mereka sebagai kafir. Manakala ada orang yang memperingatkan penyimpangan mereka dan menyeru untuk kembali pada ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah SAW sedangkan mereka berpaling dari peringatan itu tidak berhenti dari penyimpangan mereka, maka mereka yang menyimpang itu termasuk sebagai orang-orang yang kafir. Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir, termasuk orang yang kafir melalui cara demikian. Barangkali mereka orang-orang yang mencintai Allah akan tetapi tidak mau memperhatikan tuntunan Allah hanya mengikuti prasangka sendiri, maka mereka bisa saja terjerumus menjadi orang yang kafir.
Beberapa jenis penyimpangan kadangkala hanya diketahui oleh orang-orang yang berilmu sekalipun manakala tuntunan Allah terkait penyimpangan itu jelas. Banyak orang yang dibuat memandang bid’ah sebagai kebaikan sekalipun amal para ahli bid’ah itu jelas timbangannya dalam tuntunan kitabullah Alquran. Bisa saja terjadi suatu kasus kebanyakan manusia tidak cukup paham tentang penyimpangan yang terjadi, sedemikian hanya orang yang berilmu saja yang mengetahui. Banyaknya pendapat manusia tidak menentukan kebenaran penyimpangan. Demikian pula pandangan baik manusia tidak menjadikan suatu penyimpangan menjadi kebenaran. Peringatan tentang penyimpangan oleh orang-orang yang berilmu tidak boleh dianggap sebagai perselisihan pendapat di antara orang beriman. Orang-orang berilmu dapat merasakan atau mengetahui kerusakan yang akan terjadi karena penyimpangan itu. Pilihan atas peringatan itu hanya kembali mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW atau meneruskan mengikuti pendapat sendiri dan itu berarti akan menjerumuskan pada kekafiran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar