Pencarian

Minggu, 31 Agustus 2025

Fajar Sang Merah Putih : Dampak

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Nusantara merupakan negeri yang akan memperoleh anugerah berupa sang merah putih. Tugas utama yang akan ditunaikan oleh sang merah putih adalah menunjukkan kepada umat manusia jalan menuju cahaya Allah, sedemikian umat manusia akan mengetahui persoalan kegelapan yang menyelimuti diri mereka dan memperoleh jalan keluar dari masalah mereka. Cahaya itu sebenarnya adalah pemahaman yang tepat terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan kauniyah. Sang merah putih itu menunjukkan kepada umat manusia tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan alam kauniyah mereka, sedemikian umat manusia memahami kauniyah yang terjadi menurut hakikat dari sisi Allah sedemikian umat manusia mengetahui jalan keluar yang seharusnya ditempuh untuk keluar dari masalah mereka.

Dunia ini pada dasarnya merupakan alam yang gelap, dan akan semakin gelap dengan dosa-dosa yang dilakukan oleh para pendosa. Banyak manusia yang mengikuti langkah-langkah syaitan untuk membangun kemakmuran bagi diri mereka tanpa mempedulikan kebaikan bagi umat secara menyeluruh. Cara-cara demikian akan menambah kegelapan dan kesulitan bagi kehidupan manusia di alam dunia. Misalnya sebagian besar kekayaan bangsa mungkin dikuasai oleh segelintir orang dengan rakus dengan dukungan kekuasaan dan tata hukum yang dibuat untuk mengesahkan penguasaan itu. Hal itu dapat menimbulkan kesulitan bagi kehidupan bangsa secara menyeluruh. Itu adalah contoh kegelapan yang dapat menyelimuti keadaan suatu bangsa, dan amanah sang merah putih adalah menunjukkan manusia kehidupan yang penuh cahaya dan menemukan jalan keluar dari kegelapan itu.

Perbuatan dosa demikian akan menyertai kemunculan sang merah putih. Apabila kaum mukminin tidak berusaha memahami keadaan dan kehendak Allah dengan tepat, mereka akan dikuasai oleh para pendosa yang mendatangkan kesulitan pada kehidupan mereka hingga pemakmuran bumi akan sulit diwujudkan, dan justru umat manusia atau bangsa indonesia akan terjebak pada kesulitan karena dosa-dosa yang diperbuat oleh orang-orang yang menjadi pembesar-pembesar mereka. Alih-alih terbentuk kemakmuran, manusia akan terbelit oleh berbagai masalah yang sengaja dibuat untuk mempersulit keadaan diri.

﴾۳۲۱﴿وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri pembesar-pembesar dari kalangan para pendosa mereka agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. (Al-An’aam : 123)

Para pendosa akan menjadi pembesar-pembesar negeri karena kurangnya pemahaman manusia terhadap tatanan yang dikehendaki Allah. Barangkali manusia tidak mengenal tatanan diri yang harus dibina sesuai dengan tuntunan kitabullah, atau tidak mengenal tatanan keluarga yang merupakan lingkaran inti tatanan sosial diri mereka maka tatanan sosial masyarakat yang lebih besar pun menjadi kacau hingga para pendosa justru menjadi pembesar-pembesar negeri sedangkan orang-orang yang mempunyai pengetahuan dan berkeinginan baik justru disingkirkan dari tatanan bermasyarakat. Kurangnya pemahaman manusia terhadap tatanan yang dikehendaki Allah menjadikan suatu bangsa justru menjadikan para pendosa sebagai pembesar-pembesar negeri. Fenomena ini berfungsi menunjukkan pentingnya menempuh jalan mengikuti kehendak Allah karena syaitan sangat lihai pula membuat makar. Selain itu juga agar suatu kaum tidak menyangka dirinya orang yang telah berilmu tentang kehendak Allah secara serampangan.

Pada masyarakat yang sama sekali buta terhadap tatanan sesuai kehendak Allah, para pendosa yang menjadi pembesar-pembesar negeri itu akan tampak di mata masyarakat bagaikan pahlawan dengan lagak yang mereka lakukan sedangkan kejahatan mereka tersembunyi dari pandangan masyarakat. Masyarakat mungkin akan memuja kebaikan para pembesar yang justru menipu dan melakukan makar terhadap diri mereka. Boleh jadi para pembesar mereka menjual kekayaan negeri untuk keuntungan sendiri, mendatangkan orang-orang asing untuk menjadi tuan di negeri sendiri dan menjadikan bangsa sendiri sebagai budak yang melayani kepentingan orang asing. Aturan-aturan dibuat untuk menjadikan orang-orang leluasa untuk berkuasa atas orang lain yang lebih lemah, dan para pembesar itu memperoleh keuntungan dengan aturan yang mereka buat dari orang-orang yang kuat.

Manakala masyarakat mulai mengerti adanya tatanan mengikuti kehendak Allah, mungkin mereka tidak bisa langsung mengikuti kehendak tersebut. Para pembesar negeri mungkin bukan sepenuhnya dari kalangan pendosa yang mempunyai keinginan jahat memanfaatkan bangsa untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi bercampur-campur antara para manusia normal dengan para pendosa. Orang-orang baik yang berpengetahuan mulai dapat memberikan sumbangsih bagi negeri sedangkan orang-orang jahat masih mempunyai kekuatan untuk menggerakkan kekacauan pada negeri. Orang-orang baik harus melakukan negosiasi dengan orang-orang jahat untuk mewujudkan tatanan yang mendatangkan kebaikan bagi masyarakat luas. Setiap tatanan yang baik akan merugikan kepentingan para pendosa.

Manakala para pemimpin yang baik berusaha mewujudkan tatanan yang baik, para pendosa di antara mereka akan menggerakkan kekuatan untuk menimbulkan kekacauan pada masyarakat. Kekuatan mereka boleh jadi sangat besar karena mungkin telah dan masih mempunyai perpanjangan tangan pada berbagai lapisan bangsa, dari kalangan eksekutif, legislatif, yudikatif, aparat hukum dan keamanan hingga lapis rakyat jelata yang bersikap pragmatis mencari keuntungan duniawi dengan cara bersekongkol dengan kejahatan. Untuk membuat kerusuhan, mereka sebenarnya mengadu perpanjangan tangan mereka sendiri yang ada pada setiap lapisan, menyeret orang lain di sekitarnya untuk menggerakkan masyarakat yang lain hingga saling beradu. Masyarakat yang tidak menyadari akan ikut saling beradu hingga timbul berbagai korban. Makar-makar yang mereka lakukan itu sebenarnya akan kembali kepada diri mereka sendiri. Orang-orang hendaknya tidak terjebak pada kerusuhan yang dibuat oleh para pendosa yang menjadi pembesar-pembesar bagi mereka.

Menelisik Tatanan Kehendak Allah

Terwujudnya tatanan yang baik akan mulai terjadi apabila masyarakat mengerti tatanan sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini harus dimulai dari orang-orang beriman pada negeri tersebut. Bila orang-orang beriman tidak peduli dengan adanya kehendak Allah dalam merumuskan tatanan masyarakat, masyarakat umum juga tidak akan mengerti kehendak Allah tersebut. Bila orang-orang beriman memperhatikan kehendak Allah untuk melakukan tatanan pada masyarakat, mungkin masyarakat umum akan ikut menyadari pentingnya terwujudnya tatanan mengikuti kehendak Allah. Semakin tinggi kesadaran orang-orang beriman untuk mewujudkan tatanan mengikuti kehendak Allah, akan semakin baik pula tatanan masyarakat yang terbentuk. Pewujudan tatanan tersebut harus terbentu dari masing-masing orang beriman dan disebarkan secara bertahap melalui lingkungan sosial diri masing-masing.

Pemahaman tentang tatanan mengikuti kehendak Allah harus dibentuk mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW hingga terbentuk pengetahuan terhadap nilai-nilai kebaikan pada aturan yang diikuti. Pengetahuan tentang nilai kebaikan itu yang akan mendatangkan perubahan menuju kebaikan karena adanya kekuatan akal di dalamnya. Pada setiap ketentuan pada kitabullah, ada nilai-nilai kebaikan yang dapat diperoleh oleh setiap orang, dan mukminin hendaknya merumuskan nilai-nilai kebaikan demikian. Tidak boleh dibentuk tatanan yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sekalipun seluruh kaum melihat kebaikan pada suatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah, sebenarnya ada suatu keburukan yang akan menimpa umat manusia pada tatanan yang bertentangan itu. Nilai-nilai kebaikan pada setiap tuntunan Allah hendaknya disadari oleh kaum mukminin, tidak meremehkannya berdasar pendapat sendiri. Dengan cara demikian, maka pemahaman terhadap kehendak Allah itu akan benar dan mendatangkan hasil yang baik bagi masyarakat.

Kadangkala suatu kaum membentuk tatanan yang dikatakan mengikuti kehendak Allah sedangkan mereka tidak mempunyai pengetahuan terhadap nilai kebaikan dalam tatanan yang mereka ikuti dan kadangkala justru bertentangan dengan perintah Allah. Misalnya manakala dua pihak mukminin yang berselisih hendak melakukan ishlah, diterapkan tatanan bahwa ishlah itu tidak perlu dilakukan dan salah satu atau kedua pihak harus dihukum. Hal ini sama sekali tidak mempunyai dasar dari tuntunan kitabullah dan bertentangan dengan kitabullah. Tuntunan kitabullah tentang hal itu adalah apabila kedua pihak mukmin berselisih, langkah yang diperintahkan kitabullah adalah mukminin lain hendaknya mengishlahkan keduanya. Apabila salah seorang melakukan bughat atas yang lain, hendaknya yang melakukan bughat diperangi. Tidak ada perintah dua pihak mukminin yang melakukan ishlah setelah perselisihan harus dibuat tetap bermusuhan atau harus dijatuhi hukuman. Secara prinsip, dzahirnya tindakan tersebut menyalahi tuntunan kitabullah, dan secara bathin menunjukkan tidak ada pengetahuan terhadap nilai kebaikan yang ada dalam tuntunan kitabullah. Dampak dari tatanan yang buruk seringkali sangat besar.

Mewujudkan Tatanan Yang Baik

Untuk memperbaiki tatanan bermasyarakat, kaum mukminin harus melakukan perbaikan tatanan dari dalam diri sendiri. Setiap orang harus memahami langkah taubat kembali kepada Allah dengan membina akhlak mulia sebagai tatanan diri yang dikehendaki Allah. Ia mengenal untuk apa dirinya diciptakan dan mengenali kedudukan Rasulullah SAW sebagai penghulu urusan di alam ciptaan, serta mengenali para washilah dirinya termasuk sang merah putih. Itu adalah tatanan akhlak mulia yang seharusnya terbentuk pada diri setiap mukmin.

Akhlak diri itu harus pula disebarluaskan kepada masyarakatnya. Gerbang sosial inti bagi setiap mukmin adalah terbentuknya rumah tangga sebagai bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt demikian akan menentukan keberhasilan syi’ar akhlak mulia untuk membentuk tatanan bermasyarakat. Apabila bayt tidak berhasil dibentuk, syiar akan sulit terjadi sehingga akhlak mulia itu hanya akan diketahui oleh diri sendiri. Tidak jarang seseorang dengan akhlak mulia dengan pengetahuan fitrah diri, musyahadah yang kuat terhadap Allah dan musyahadah terhadap Rasulullah SAW, serta pengenalan dengan baik terhadap para washilah termasuk sang merah putih, ia kemudian justru dipandang hina oleh masyarakat mereka karena kegagalan dalam membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sebagaimana nabi Nuh a.s atau nabi Luth a.s.

Dalam urusan ini syaitan berusaha sungguh-sungguh untuk menjatuhkan orang-orang shalih dari pandangan kaumnya. Sekalipun mereka tidak jatuh dalam tipuan syaitan, mereka dijatuhkan dalam pandangan manusia dengan merusak rumah tangga. Kerusakan rumah tangga itu berfungsi menelanjangi (pakaian) kehormatan orang shalih. Seorang yang shalih mungkin dipandang hina oleh masyarakatnya karena kerusakan rumah tangganya. Bila ia berkata, orang mungkin menyalahkan perkataannya sekalipun tidak mengetahui kesalahannya. Atau bila masyarakat mengetahui ada kebenaran di dalam perkataannya tetapi tidak mau mengikuti karena memandang perkataan itu dari orang yang hina. Kadangkala suatu kaum menunggu kesalahan terjadi oleh orang shalih untuk menjatuhkannya. Mereka tidak berusaha mengikuti kebaikan yang disampaikan orang shalih itu tetapi mengikuti syaitan menanti terbukanya aib sahabatnya. Itu merupakan contoh fitnah dari syaitan yang menimpa orang yang dirusak rumah tangganya. Pengetahuan-pengetahuan yang ada pada dirinya tidak dipandang baik oleh masyarakat.

Kerusakan demikian bisa terjadi karena salah satu pihak atau banyak pihak, baik pihak suami maupun pihak istri, atau bahkan pihak-pihak di luar keduanya yang mungkin tidak punya sangkut paut dengan pasangan tersebut tanpa kesalahan suami atau istri. Ada ilmu-ilmu yang merupakan fitnah untuk merusak pembinaan hubungan yang baik antara suami atau istri seperti ilmu Harut dan Marut. Manakala seseorang bermudah-mudah menggunakan atau suatu kaum bersifat permisif terhadap pemakaian ilmu-ilmu demikian di antara mereka, maka kehidupan rumah tangga kaum itu akan menjadi rusak karena ilmu tersebut, dan pembinaan rohani mereka tidak akan mendatangkan kebaikan di alam dunia sekalipun pembinaan itu dapat dilakukan secara benar dan terarah.

Inti dari pembentukan bayt adalah pembahasan dan pelaksanaan urusan Allah yang harus ditunaikan pasangan suami isteri. Hal itu membutuhkan persiapan akhlak dari setiap pihak yang harus ditumbuhkan sejak masa muda. Setiap orang harus dididik untuk menjadi hamba Allah yang ikhlas dalam menunaikan perintah Allah. Para perempuan gadis harus disiapkan untuk dapat menerima jodoh yang ditentukan baginya dalam menunaikan kehendak Allah, tidak mengumbar keinginan dirinya mencari jodoh dengan mengejar ketampanan sembarang laki-laki atau mengejar harta kekayaan yang dibawa oleh sembarang laki-laki. Dalam hal perjodohan hendaknya dibangun keinginan pada perempuan berupa keinginan memperoleh imam yang tepat untuk menunaikan amanah Allah, bukan keinginan memperoleh harta yang banyak atau ketampanan. Hal demikian sebenarnya berlaku pula bagi laki-laki, yaitu keinginan menikah untuk mengenal nafs wahidah sebagai imam yang mengenal fitrah diri. Hal itu dapat dikenali melalui kesatuan nafs wahidah antara orang-orang yang berjodoh.

Selanjutnya dalam pernikahan, setiap pihak harus berjalan lurus tidak tersimpangkan dalam kekejian. Para laki-laki harus taat pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang mengikuti tuntunan syaitan. Akan sangat banyak tipuan syaitan yang dijadikan tampak baik dalam pandangan manusia, dan setiap orang harus bisa melangkah tanpa menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Para perempuan harus taat kepada suami sebagaimana Asiyah binti Muzahim r.a mewujudkan urusan Allah mendidik masa kecil Musa a.s. Apabila suaminya shalih, ia menolong urusan suaminya untuk mewujudkan urusan Allah, dan apabila suaminya kafir ia mewujudkan urusan Allah yang diperoleh melalui suaminya dengan ridha suaminya. Perempuan tidak boleh menyimpang kepada laki-laki lain untuk mewujudkan kehendak Allah. Hal-hal demikian akan mewujudkan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Apabila menyimpang, akan sulit membentuk bayt sebagai inti struktur sosial bagi seseorang atau pasangan untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah yang telah dikenali.

Di antara para perempuan, ada kemungkinan terbentuk hubungan kemitraan horizontal dalam pernikahan ta’addud. Para perempuan harus bisa membina sifat demikian, sebagaimana para laki-laki harus membina hubungan kemitraan sejajar dalam melaksanakan urusan Allah. Kemampuan demikian akan melahirkan kultur yang sehat di masyarakat, bahwa satu orang dengan orang lain tidak perlu bersaing memperebutkan kedudukan. Sebenarnya setiap orang mempunyai kedudukan sendiri dalam pelaksanaan urusan Allah tidak perlu saling berebut kedudukan. Kadangkala masyarakat tidak mempunyai keinginan untuk menempati dan melaksanakan kedudukan yang ditentukan, hanya menginginkan kedudukan yang setinggi-tingginya tanpa mengenal batas-batas diri maka terjadilah perseteruan di antara mereka dalam melaksanakan amal. Keadaan itu akan membaik apabila para perempuan mau mengenal bentuk hubungan nafs wahidah yang seharusnya terbentuk antara dirinya, suaminya dan isteri-isteri suaminya yang lain. Bila para perempuan tidak mau mengenal bentuk hubungan nafs wahidah asal penciptaan dirinya, masyarakat akan terus terjebak pada perilaku bersaing dan berseteru dalam memperoleh kedudukan.

Hal-hal di atas merupakan sebagian dari pokok-pokok pembinaan bayt untuk mewujudkan tatanan bermasyarakat mengikuti kehendak Allah. Apabila pokok-pokok tersebut dirusak, akan timbul pula kerusakan yang besar pada masyarakat hingga terjadilah berkuasanya orang-orang jahat atas masyarakat luas. Semakin baik pokok-pokok itu terbina, akan semakin baik pula keadaan masyarakat dijauhkan dari penguasaan orang-orang jahat. Bila pokok-pokok itu diabaikan, orang jahat akan mudah memperoleh kekuasaan. Bila pokok-pokok itu dirusak, sebenarnya masyarakat telah membukakan jalan bagi orang jahat untuk memegang kekuasaan atas diri mereka. Bila pokok-pokok itu diperbaiki, kesempatan orang jahat berkuasa akan menyempit.

Proses pembentukan akhlak mulia harus dilakukan dengan benar. Pengenalan diri harus dicapai hingga bentuk pengenalan kedudukan diri di antara al-jamaah dengan mengenal washilah-washilah dirinya kepada Rasulullah SAW. Mengenal sang merah putih merupakan satu bukti penguat bahwa pembentukan akhlak mulia berada di garis yang benar, sebaliknya pendustaan terhadap sang merah putih merupakan satu bentuk menyimpangnya akhlak dari yang diharapkan. Banyak implikasi dari penyimpangan demikian. Sahabat-sahabat dalam al-jamaah akan merasa terganggu dengan penyimpangan sahabatnya. Seandainya seorang pendidik menyimpang, sahabatnya yang tentara akan kehilangan kekuatan masyarakat karena kesalahan didikan sahabatnya, atau sahabatnya yang ekonom akan kehilangan kemampuan meningkatkan ekonomi masyarakat, dan seluruh sahabat yang lain akan merasa terganggu dengan hasil didikan yang bersangkutan. Demikian pula bila bidang lain menyimpang, yang lain akan terganggu dengan penyimpangan yang terjadi, dan sebenarnya sang merah putih yang merasa paling terusik dan terjadi dengan semua penyimpangan yang terjadi.

Setelah pembinaan diri dan pembinaan bayt, seseorang dapat melangkah menuju perbaikan keadaan sosial dengan baik. Tanpa kedua pembinaan sebelumnya, seseorang seringkali hanya akan menimbulkan masalah bagi yang lain alih-alih mendatangkan kebaikan bagi yang lain. Manakala pembinaan diri belum menunjukkan tanda kebenarannya, seseorang hendaknya mengikuti langkah orang lain dalam bentuk yang nyata. Sebenarnya setelah muncul tanda kebenarannya, seseorang juga akan menemukan washilah yang juga harus dipahami urusannya dan ditaati ketentuannya sebagai imam, hanya saja mungkin washilah itu tidak hadir dalam wujud jasmaniah. Misalnya seseorang mungkin harus memahami urusan sang merah putih bagi dirinya tanpa hadirnya sang merah putih, atau harus memahami secara tepat tuntunan Rasulullah SAW untuk urusan dirinya tanpa kehadiran sang nabi. Tetap saja seseorang harus menemukan imam untuk urusannya. Hal demikian itu merupakan pokok Al-jamaah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar