Pencarian

Kamis, 14 Agustus 2025

Mengikuti Perkataan Terbaik

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Banyak hal dapat membelokkan langkah seseorang dalam mengikuti Rasulullah SAW apabila tidak berhati-hati, baik pada masa awal melangkah ataupun manakala telah jauh mengikuti langkah Rasulullah SAW. Selain akan menjumpai shirat al-mustaqim, mungkin pula seseorang akan menjumpai banyak hal-hal bathil ketika melangkah hingga bisa saja seseorang kemudian justru bersembah kepada taghut. Hal tersebut menjadikan seseorang tidak lurus dalam menempuh jalan kembali kepada Allah.

Untuk dapat berjalan lurus kembali kepada Allah dan menghindari penyembahan kepada taghut, setiap orang beriman harus menumbuhkan sikap mau mendengarkan perkataan-perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.

﴾۸۱﴿الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولٰئِكَ هُمْ أُولُوا الْأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az-Zumar : 18)

Sikap demikian merupakan bagian dari membina keikhlasan beribadah kepada Allah. Keikhlasan beribadah kepada Allah tidak terbatas dalam bentuk ibadah-ibadah mahdlah, tetapi juga dalam bentuk amal-amal dzahiriah yang nyata untuk mewujudkan hal-hal yang terbaik bagi umat dan alam semesta. Tidak pula keikhlasan itu dibatasi hanya dalam bentuk pengetahuan-pengetahuan pribadi terhadap kehendak Allah, tetapi juga dalam bentuk kemampuan mendengarkan perkataan-perkataan dari makhluk-makhluk lain serta kemampuan menilai dan mengikuti perkataan yang terbaik. Seseorang yang tidak mempunyai kemampuan memandang perkataan terbaik, atau memandang perkataan terbaik hanyalah perkataannya sendiri, orang tersebut tidaklah mempunyai nilai keikhlasan yang baik. Orang yang mempunyai keikhlasan mampu dan berkeinginan untuk mendengarkan perkataan-perkataan serta mengikuti perkataan yang terbaik.

Secara khusus, kemauan mendengarkan perkataan orang lain terkait dengan keikhlasan (kemurnian) ibadah dari penyembahan kepada taghut. Orang yang mau mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik akan terbersihkan dari penyembahan kepada taghut. Perkembangan akal umat dalam memahami kebaikan dari sisi Allah akan menghindarkan dari penyembahan kepada taghut. Keikhlasan (kemurnian) ibadah terbangun atas dasar suatu pemahaman terhadap nilai-nilai kebaikan dalam mengikuti petunjuk Allah. Pemahaman demikian dapat dibangun dengan kemauan mendengarkan perkataan-perkataan yang baik dan mengikuti perkataan yang paling baik. Manakala seseorang hanya mengikuti dorong perkataan diri sendiri saja dan tidak dapat mengerti adanya kebenaran dan kebaikan pada perkataan orang lain, ia akan sangat mudah terjebak pada penyembahan kepada taghut.

Perkataan Terbaik Sebagai Petunjuk

Secara tidak langsung, dari ayat di atas dapat diperoleh suatu pengertian bahwa taghut mengatur manusia dengan kekuatan tiran, tidak mempunyai hubungan dengan aturan tertentu dan tidak perlu dimengerti oleh para hamba mereka. Taghut menginginkan para hamba agar mendengarkan kepada perintahnya tanpa perlu menimbang nilai-nilai kebaikan dan keburukan yang ada pada pengaturan mereka. Perintah para taghut itu bersifat otoriter tanpa perlu melibatkan akal. Contoh tindakan tiran dan otoriter misalnya mungkin saja para pengikut taghut itu menghakimi seseorang yang benar di antara mereka sebagai bersalah tanpa perlu penjelasan dari orang yang dihakimi. Mereka mungkin menghakimi hanya dengan mengikuti perkataan sendiri tanpa perlu acuan kebenaran dalam penghakiman. Tidak hanya berbentuk demikian, ada banyak bentuk tiran dan otoriter yang tampak halus, tetapi tetap merupakan tiran dan otoriter berdasarkan ciri tidak mau mendengarkan perkataan orang lain sekalipun benar.

Kadang perbuatan tirani otoriter itu tampak dilakukan dengan benar tetapi tidak mencerdaskan orang-orang yang mengikuti mereka, tidak menambahkan pengetahuan manusia terhadap kebenaran. Pengaturan taghut tidak selalu melahirkan amal yang salah tetapi secara kumulatif selalu berdampak buruk bagi umat manusia. Seringkali perbuatan mereka justru terlihat hebat tetapi mendatangkan madlarat yang besar melalui pelanggaran pokok-pokok agama yang disangka ringan atau justru baik. Barangkali pengikut mereka mengatakan perintah taghut itu sebagai petunjuk, tetapi sebenarnya tidak menjadikan mereka memahami kebenaran dan kebaikan yang ada dibalik petunjuk tersebut. Petunjuk Allah tidak bersifat demikian. Seluruh petunjuk harus bisa mengacu pada tuntunan kitabullah Alquran. Alquran itu acuan yang diturunkan Allah kepada orang beriman. Petunjuk Allah berfungsi sebagai pembuka nilai-nilai kebaikan yang mungkin tidak terlihat oleh para hamba Allah sebelumnya, bukan suatu perintah tirani yang harus dilaksanakan tanpa ada suatu pemahaman yang dapat diperoleh. Manakala seseorang memperoleh suatu petunjuk yang benar, petunjuk itu bila diikuti akan mengungkapkan suatu realitas kebenaran dari sisi Allah yang mempunyai nilai kebaikan bagi umat manusia. Sayangnya banyak orang menyimpang dalam memahami petunjuk karena mengikuti hawa nafsu sehingga sebagian kelompok lain tidak mau mengakui adanya petunjuk yang turun kepada manusia. Sebenarnya petunjuk Allah sangat bermanfaat untuk membuka kebenaran bila petunjuk itu benar dan pemahaman pada penerimanya benar.

Dalam urusan mengikuti petunjuk Allah, setiap orang harus berusaha untuk dapat mendengarkan perkataan-perkataan yang baik dari orang lain terkait petunjuk atau perintah yang harus dilaksanakan, dan kemudian mengikuti perkataan yang terbaik. Hanya mempercayai kebenaran perkataan sendiri menunjukkan seseorang tidak berusaha menghindari taghut, sehingga ia mungkin akan terjebak pada tipuan taghut. Perkataan terbaik itu mungkin berupa pengetahuan baru yang tersusun dari berbagai perkataan termasuk perkataannya sendiri, atau mungkin berupa perkataan dari salah satu orang yang menyampaikannya, atau mungkin pula berupa perkataan sendiri. Perkataan terbaik berupa perkataan sendiri ini harus disertai pengamatan seksama, dan sebenarnya akan menyisakan suatu perasaan mengambang sebelum ada pendapat orang lain tentang hal itu. Apabila seseorang hanya percaya pada pendapatnya sendiri tidak bisa memahami kebenaran dari perkataan orang lain, ia akan mudah terjebak pada tipuan taghut. Manakala taghut menghampirinya, tidak ada orang lain yang dapat menolong karena tidak menemukan celah untuk memberitahu keburukan pada pendapatnya.

Dalam upaya mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik ini terdapat petunjuk Allah. Petunjuk Allah bukan hanya berbentuk tanda-tanda langit saja tetapi juga berbentuk hal-hal yang menunjukkan manusia kepada pengenalan kebenaran, termasuk di dalamnya perkataan-perkataan kebenaran dari orang lain. Perkataan kebenaran dari orang lain bisa menjadi petunjuk Allah apabila seseorang dapat memahami kebenaran yang ditunjukkan. Bila tidak memahami dengan benar, perkataan itu tidak menjadi petunjuk bagi seseorang walaupun mungkin menjadi petunjuk bagi orang lain yang memahaminya. Orang yang bisa mendengarkan perkataan yang benar dari orang lain dan bisa mengikuti perkataan yang terbaik itu menjadi orang yang memperoleh petunjuk Allah.

Perkataan Terbaik dan Al-Jamaah

Yang terbaik di antara perkataan-perkataan (أَحْسَنَهُ) adalah perkataan yang menjadikan seseorang mengenal kehendak Allah. Secara mutlak, perkataan terbaik adalah firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Secara relatif, manusia dapat berkata dengan perkataan yang terbaik. Perkataan-perkataan benar yang mengungkapkan kandungan kebenaran di dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah perkataan terbaik secara relatif, dan segala perkataan yang menentang tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah perkataan yang buruk. Setiap orang hendaknya berusaha mengikuti perkataan-perkataan terbaik baik dalam kategori mutlak maupun dalam kategori relatif. Perkataan terbaik itu merupakan petunjuk Allah yang dapat meningkatkan kualitas akal orang-orang yang mengikutinya.

Kehendak Allah selalu mengandung nilai-nilai kebaikan yang dapat dipahami manusia. Perkataan manusia mempunyai nilai kebaikan apabila ia dapat menunjukkan nilai-nilai kebaikan dari kehendak Allah. Bila seseorang tidak mengenali nilai kebaikan dari apa yang dipersepsinya sebagai suatu kehendak Allah, ia sebenarnya belum memahami kehendak Allah. Persepsi demikian mungkin baru dalam kategori melihat atau mendengar. Mungkin seseorang merasa mengetahui kehendak Allah tetapi tidak mengetahui landasannya dari kitabullah, maka nilai-nilai yang terbentuk pada pemahamannya belum tentu benar, atau bahkan mungkin apa yang disangka kehendak Allah itu tidak juga benar. Nilai kebaikan pada suatu kehendak Allah terutama terletak pada apa-apa yang menjadi firman-Nya. Setiap orang beriman hendaknya berusaha memahami nilai-nilai kebaikan yang terdapat pada kehendak Allah untuk diwujudkan dalam bentuk amal, terutama nilai kebaikan yang tertera pada firman-Nya. Seseorang hendaknya tidak beramal hanya karena mengikuti suatu perintah tanpa memahami nilai-nilai kebaikan berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Salah satu manfaat mengikuti perkataan terbaik adalah seseorang dapat mengenali al-jamaah, tidak terjebak memandang baik keadaan diri yang mungkin buruk. Tanpa mengikuti perkataan terbaik, seseorang tidak akan mengetahui adanya sahabat-sahabat yang bisa menyertai dirinya ataupun adanya orang-orang yang mempunyai kedudukan lebih dekat di sisi Allah dibandingkan dirinya. Ketika dirinya benar, ia menyangka bahwa ia satu-satunya orang yang benar di sisi Allah. Ketika salah, ia tidak bisa diingatkan oleh orang lain karena memandang kedudukan yang lain lebih rendah dari kedudukan dirinya. Keadaan demikian akan menjadikannya sulit mengetahui kedudukan diri dalam al-jamaah bahkan mungkin menjadikannya tidak mengetahui kedudukan Rasulullah SAW dan sunnah-sunnahnya menganggap dirinya bisa mempunyai sunnah sendiri kepada Allah. Ini adalah bid’ah. Bila seseorang berusaha mendengarkan perkataan-perkataan yang baik dan mengikuti yang terbaik, ia akan mengenali orang-orang yang dapat menjelaskan perkataan yang lebih baik dari khazanah Allah dan mengetahui kedudukan mereka dan dirinya dalam al-jamaah.

Pengenalan terhadap al-jamaah itu akan terbentuk apabila seseorang memahami tingkat kebaikan pada masing-masing perkataan. Ini akan dipahami apabila akal seseorang tumbuh dalam memahami kehendak Allah. Orang yang mendustakan atau beriman kepada yang bathil akan sulit menimbang bobot kebaikan suatu perkataan. Perkataan yang lebih dekat dengan perkataan Rasulullah SAW adalah perkataan yang berbobot lebih baik. Orang yang berkedudukan lebih dekat dengan Rasulullah SAW akan melahirkan perkataan-perkataan yang lebih mendekati perkataan Rasulullah SAW. Sebagian orang harus beramal pada tingkatan amal yang lebih praktis untuk pemakmuran bumi maka mereka hendaknya mengikuti perkataan yang lebih dekat dengan perkataan Rasulullah SAW. Mungkin akan ditemukan sangat banyak tingkatan kebaikan perkataan di masyarakat, dan masing-masing berusaha menempati kedudukan yang tepat sesuai keadaan diri dan setiap orang harus berusaha untuk tidak menyimpang dari tuntunan Rasulullah SAW dan orang-orang yang kedudukannya lebih dekat. Kadangkala seseorang yang berkedudukan tinggi memerintahkan seseorang untuk berdekatan dengan orang tertentu sebelum berkomunikasi dengan petinggi tersebut karena kedekatan urusan mereka. Kedekatan orang-orang dengan urusan dekat itu dapat membuka pengetahuan secara lebih rinci dibandingkan berkomunikasi dengan petinggi tersebut. Ibaratnya, seorang engineer akan lebih mampu mengeksplorasi bidang engineering bersama dengan sesama engineer dibandingkan dengan direktur.

Mengikuti perkataan yang terbaik adalah mengikuti perkataan orang-orang yang berkeinginan untuk memahami dan mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan benar. Dalam beberapa hal, seseorang atau suatu kaum menjadi tidak mendengar dan tidak mengikuti perkataan terbaik karena terjebak pada waham sebagai golongan yang terbaik. Mereka menyangka bahwa tidak ada yang lebih baik daripada pendapat mereka. Dalam beberapa kasus, mereka mendustakan nikmat Allah yang diperoleh orang lain. Keadaan demikian membuat mereka tidak dapat menyatu dengan al-jamaah dan menjadi kelompok eksklusif dari islam. Hendaknya setiap orang waspada bahwa seseorang mungkin saja berkata yang terdengar baik tetapi sebenarnya hanya berdasar hawa nafsu tanpa keinginan memahami dan mengikuti perkataan Rasulullah SAW dengan benar, maka hal demikian tidak termasuk perkataan yang baik dan tidak mengantarkan mengenal al-jamaah. Ada pula orang-orang yang berkata-kata tanpa landasan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Di antara tanda seseorang berkeinginan memahami dan mengikuti Rasulullah SAW adalah terbentuknya pengetahuan integral antara ayat kauniyah dengan ayat kitabullah. Dalam bahasa lain, mereka adalah orang-orang yang mengetahui urusan jamannya. Sebenarnya pengetahuan mereka bukan hanya urusan jamannya saja, tetapi mempunyai pengetahuan tentang urusan untuk jaman-jaman berikutnya, tetapi mungkin tidak sejelas pengetahuannya tentang urusan jamannya. Apabila ada orang bertanya kepada mereka tentang apa yang seharusnya dilakukan, mereka akan membacakan kepada orang yang bertanya tentang keadaan jaman mereka sedemikian orang yang bertanya akan mempunyai bayangan tentang urusan yang harus dikerjakannya. Perkataan mereka itu termasuk dalam kategori perkataan yang terbaik untuk diikuti.

Umat manusia hendaknya tidak mengikuti perkataan orang lain yang tidak menimbulkan pengetahuan tentang urusan Allah atas diri mereka, atau hendaknya tidak mengikuti orang lain dengan kebodohan terhadap kehendak Allah. Bila seseorang bodoh pada awalnya, ia harus menjadi berpengetahuan setelah mengikuti selama sekian waktu, tidak boleh terus menerus mengikuti dalam kebodohan. Apabila terus menerus bodoh ketika mengikuti, ia barangkali harus berusaha menemukan jalan lain untuk menemukan perkataan yang terbaik untuk diikuti. Boleh jadi ia tidak perlu meninggalkan panutan sebelumnya, tetapi harus bersikap terbuka terhadap kemungkinan adanya perkataan yang lebih baik untuk diikuti. Setiap orang harus berusaha mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik, tidak boleh mengabaikan perkataan-perkataan yang baik apalagi mendustakannya karena akan menutup dirinya dari suatu jalan petunjuk Allah. Perkataan terbaik itu bisa mengalir melalui banyak jalan sedemikian manusia tidak boleh tertutup waham bahwa tidak ada kebaikan yang bisa mengalir kecuali melalui apa yang mereka ikuti.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar