Pencarian

Selasa, 19 Mei 2026

Pengembangan Potensi Manusia sebagai Pilar Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan di antaranya adalah melakukan pemakmuran bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikannya sebagai pemakmurnya. Itu adalah tugas bagi manusia yang dijadikan sebagai jalan kembali kepada-Nya. Dengan jalan demikian, Allah sebenarnya dekat kepada hambaNya dan memperkenankan doa.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)" QS huud ; 61)

pemakmuran bumi dapat dilakukan dengan menegakkan pilar-pilarnya. Pilar-pilar pemakmuran itu berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi wilayah, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengolahan basis data. Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan.

Kepedulian terhadap Potensi Manusia

Pemakmuran akan terlaksana apabila potensi manusia yang menghuni bumi berkembang dengan baik dan dapat mengerjakan tugas-tugas terkait kedudukan diri mereka. Setiap orang pada dasarnya ditugaskan untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu di alam dunia ini sebagai sarana untuk mengenal Allah. Untuk tugas-tugas itu, masing-masing manusia sebenarnya diberi potensi kekuatan untuk melaksanakan tugas yang harus diemban. Kekuatan itu bukan hanya berbentuk pengetahuan tetapi juga keterampilan untuk membangkitkan proses perubahan seperti yang diharapkan. Kekuatan-kekuatan itu seringkali tersembunyi dari pandangan masing-masing dan setiap orang harus berusaha untuk membangkitkan potensi kekuatan yang diberikan kepada diri mereka.

Potensi setiap diri manusia terkait erat dengan ayat-ayat Allah yang terjadi pada alam kauniyah diri mereka dan kedudukan diri dalam Al-Jamaah. Potensi diri manusia akan bangkit mengikuti akalnya apabila mereka mengerjakan urusan yang diberikan. Seseorang yang berada pada keadaan yang tepat akan lebih mudah untuk melihat ayat-ayat Allah yang terhampar bagi dirinya, sehingga ia bisa memahami potensi dirinya dengan lebih mudah. Demikian pula manakala seseorang berada pada suatu Al-Jamaah yang mengerti urusan jaman mereka akan lebih mudah untuk mengenal potensi diri mereka untuk disumbangkan kepada Al-Jamaah karena telah terarahnya urusan yang dikerjakan, dan ia akan mudah menempatkan diri pada langkah Al-Jamaah berdasarkan potensi yang ada pada diri masing-masing. Manakala seseorang hidup di antara kaum yang kafir, mungkin ia tidak nmemperoleh kemudahan untuk mengenal urusan yang perlu dilakukan.

Pengembangan potensi manusia harus dilakukan agar seseorang atau suatu bangsa mempunyai kemampuan untuk membangkitkan proses pemakmuran di bumi. Pembinaan potensi manusia dapat dilakukan dengan memperhatikan ayat-ayat Allah pada kauniyah mereka hingga orang-orang pada suatu kaum mengetahui perilaku objek pada ayat Allah yang diperhatikan. Pembinaan itu harus dilakukan hingga terbentuk pengetahuan yang benar dan mendasar terkait kehidupan alam bumi dan terbentuk keterampilan melakukan proses pemakmuran berdasarkan pengetajhuan itu. Keterampilan demikian hendaknya disertai kemampuan bekerja bersama dengan orang lain. Kebanyakan orang harus dibina agar dapat bekerjasama dengan orang lain untuk melakukan proses, tidak boleh dibina hanya untuk bekerja sendirian. Hanya sebagian kecil orang yang seharusnya bekerja dengan sedikit orang atau sendiri.

Masyarakat mempunyai pengaruh yang besar dalam pembinaan potensi manusia di antara mereka. Ada bentuk budaya yang harus diperhatikan agar potensi manusia yang ada pada mereka berkembang dengan baik, dan ada budaya-budaya buruk yang mempersulit pengembangan potensi manusia. Kaum yang menggunakan akal untuk memahami tuntunan Allah akan menjadi kaum yang menyuburkan pembinaan potensi manusia selama mereka tidak menyimpang dalam menggunakan akal. Kadangkala suatu kaum merasa berbudaya baik sedangkan mereka membunuh potensi manusia di antara mereka. Ada bermacam-macam pola pembunuhan potensi yang dapat terjadi. Mungkin ada orang yang mempunyai pengetahuan yang baik tidak diberi tempat untuk mengembangkan keterampilan memakmurkan bumi berdasarkan pengetahuannya. Mungkin ada orang yang ingin mengabdi kepada Allah justru diperbudak untuk mengabdi secara keliru bukan dikembangkan pengetahuannya mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman. Kadangkala orang-orang yang mempunyai potensi yang terlihat berbeda kemudian tidak dihormati potensi dirinya. Banyak macam budaya yang bisa membunuh pengembangan potensi manusia. 

Budaya yang menyuburkan pertumbuhan potensi manusia ditumbuhkan melalui pilar tauhid dan shilaturrahmi. Masyarakat yang bertauhid dan membangun shilaturrahmi akan bisa menghormati secara benar setiap perkembangan manusia, tidak terjebak menghakimi orang-orang berdasarkan selera masing-masing. Dengan tauhid masyarakat memperleh landasan yang kokoh dalam menilai kebenaran, dan dengan shilaturrahmi setiap komponen masyarakat bisa membangun kesepahaman dalam melangkah terhindar dari prasangka buruk. Hal ini pada dasarnya berlaku timbal balik. Manakala suatu kaum mudah terjebak dalam prasangka buruk sebenarnya shilaturrahmi di antara mereka buruk. Demikian pula manakala kebenaran yang mereka anut dalam keadaan kacau, tauhid di antara mereka sebenarnya tidak lurus. Kadangkala suatu kaum merasa bertauhid sedangkan kebenaran di antara mereka tersia-sia dan prasangka buruk terhadap orang-orang yang menyampaikan kebenaran begitu kuat. Kadangkala mereka sedemikian terhalangi untuk berprasangka baik terhadap orang lain hingga bisa saja seseorang dibuat memandang buruk jodohnya hanya berdasar perasaan, atau bahkan seorang isteri dibuat memandang buruk suaminya atau sebaliknya karena dihambatnya proses komunikasi di antara mereka. Hal itu menunjukkan rusaknya shilaturrahmi di antara mereka. Hal demikian itu bisa menjadi tanda bahwa pengembangan potensi manusia di antara mereka sebenarnya sangat buruk atau justru sebenarnya terjadi perusakan potensi manusia.

Pengembangan potensi manusia harus dilakukan mengarah pada terbentuknya masyarakat bertauhid dan bershilaturrahmi mewujudkan kebenaran dan kasih sayang di antara manusia,. Potensi diri masing-masing orang di antara masyarakat harus digunakan sebagai alat untuk dapat memberikan manfaat diri dengan sebaik-baiknya. Manakala orang bertauhid dan bershilaturrahmi tidak mempunyai pengetahuan dan keterampilan, manfaat yang muncul di antara mereka hanya sedikit hingga pemakmuran mungkin tidak terjadi. Sebaliknya, manakala pengembangan potensi tidak berlandaskan tauhid dan shilaturrahmi, berkembangnya potensi manusia itu bisa berbalik menimbulkan kesengsaraan bagi masyarakat. Kerusakan pengembangan potensi manusia banyak yang terjadi bukan karena berkurangnya penguasaan pengetahuan dan keterampilan, tetapi karena rusaknya arah pembinaan manusia. Orang-orang yang dibina agar berpengetahuan dan terampil kemudian membuat langkah-langkah yang merugikan masyarakat, tidak berbuat yang terbaik bagi masyarakat. Ini merupakan akhlak yang buruk.

Pengembangan potensi manusia harus dilakukan sedemikian seseorang memperoleh kedudukan yang terbaik untuk memanfaatkan potensi yang berkembang pada diri mereka. Semakin kokoh kedudukan yang diberikan kepada seseorang, ia akan semakin mudah berusaha untuk memberikan manfaat kepada masyarakatnya. Demikian pula sebaliknya, semakin lemah kedudukan yang diberikan kepada seseorang, semakin banyak kesulitan ditemukan seseorang dalam upaya memberikan manfaat dari potensi dirinya. Manakala seseorang dicabut dari kedudukan yang seharusnya, mereka akan kesulitan untuk memberikan manfaat dirinya. Setiap orang harus diberi kedudukan yang layak sesuai dengan kemampuan dirinya tidak dihalangi untuk memberikan manfaat. Seseorang yang sangat berpotensi besar sekalipun tidak akan bisa memberikan manfaat kepada orang lain apabila tidak memperoleh kedudukan yang layak.

Kedudukan paling mendasar bagi seseorang untuk memberikan manfaat bagi masyarakat berdasar potensi yang diberikan Allah adalah kedudukan dalam keluarga. Kokohnya kedudukan seseorang dalam keluarga akan menambahkan kekuatan kedudukan dirinya di masyarakat. Demikian pula manakala seseorang kehilangan kedudukan dirinya dalam keluarga, ia bisa kehilangan seluruh kedudukan sosialnya. Bila suatu masyarakat tidak memperhatikan azas demikian, mereka sebenarnya tidaklah memperhatikan pengembangan potensi manusia di antara mereka dengan benar. Kadangkala suatu masyarakat terwahami suatu keinginan untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas akan tetapi tidak memperhatikan kedudukan dasar manusia yang harus diberikan, maka sebenarnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu saja. Setiap orang harus diberikan hak untuk hidup berkeluarga dengan sebaik-baiknya. Para lajang diberi haknya untuk menemukan pasangan yang terbaik bagi dirinya. Para suami diberi hak untuk membimbing dan mengajak keluarganya untuk beribadah kepada Allah, dan para isteri dibina untuk bisa memahami amal shalih suaminya tidak hanya dididik menuntut suami untuk mengejar keinginan isterinya. Bila hak demikian dilanggar, tidak ada pengembangan potensi manusia yang dilakukan dengan benar.

Orang yang telah berkembang akalnya dalam memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hendaknya didukung sedemikian mereka dapat memberikan manfaat diri mereka dengan sebaik-baiknya. Perkembangan akal pada diri seseorang itu ditunjukkan dengan kemampuan memahami perintah-perintah yang ada pada suatu ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW baik perintah yang tertulis ataupun penjelasan-penjelasan yang tersirat dibalik segala sesuatu yang tertulis. Kalam kitabullah bagi orang-orang demikian merupakan kalam yang berbicara, dan mereka menghidupkan sebagian pemahaman dan semangat Rasulullah SAW dalam kalam itu. Itu adalah tanda dari akal yang berkembang pada diri seseorang sehingga layak didukung, bukan orang yang mencomot apa yang ada dalam kitabullah untuk mencari keuntungan sendiri.

Mengentaskan Penjajahan

Setiap elemen masyarakat hendaknya mempunyai kepedulian terhadap pengembangan potensi manusia di antara mereka. Pengembangan potensi manusia dapat dibentuk oleh setiap masyarakat tidak harus bergantung pada pemerintah. Dalam beberapa kasus, pemerintah suatu masyarakat sebenarnya hanyalah administratur penjajahan atas suatu negeri yang justru berfungsi untuk menghambat kemajuan suatu bangsa. Tatanan yang dirumuskan administratur tidak jarang menimbulkan kerugian yang banyak bagi kehidupan bermasyarakat. Banyak kalangan mungkin merasa kehidupannya dipersulit oleh pemerintah. Ini tidak bersifat umum seluruhnya. Boleh jadi ada banyak aparatur pemerintah yang mempunyai keinginan besar memakmurkan kehidupan bangsa, akan tetapi mereka terikat pada tatanan yang lebih besar sedemikian hanya dapat berusaha secara terbatas. Dalam keadaan demikian, masyarakat sendiri harus berusaha mengembangkan potensi manusia yang ada di sekitar mereka agar tumbuh manusia-manusia yang bertauhid dan mempunyai kasih-sayang yang besar dengan sesama. Membuat perlawanan-perlawanan tanpa suatu konsep berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak jarang menjebak manusia dalam kekacauan, justru membuat kerusakan yang banyak terhadap tatanan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam agama, kemerdekaan atau penjajahan atas suatu kaum bukanlah sesuatu yang bersifat esensial karena hanya merupakan cerminan dari keadaan nafs manusia pada kaum tersebut. Para pengikut nabi Isa a.s diperintahkan untuk memberikan koin pajak kepada raja sebagai hak raja. Ajaran nabi Isa a.s belum mengajarkan pembebasan diri dari penjajahan dalam tingkat duniawi. Mengikuti ajaran demikian bukanlah suatu kesalahan. Dalam Islam, penjajahan merupakan manifestasi dari keterjajahan manusia terhadap hawa nafsu atau waham diri sendiri. Apabila suatu kaum bisa memahami kebenaran dan mengikutinya, maka penjajahan akan tersingkir dari kaum tersebut bila disertai dengan perjuangan menegakkan pilar-pilar kebenaran. Penjajahan atas suatu kaum tidak akan terangkat manakala masyarakat tidak memahami kebenaran yang diturunkan Allah dan berjihad untuk menegakkannya. Keadaan diri mereka sendiri itulah yang menjajah mereka. Masyarakat yang rakus akan terjajah dengan kerakusannya, masyarakt yang bodoh akan terjajah dengan kebodohannya dan seterusnya. Kadangkala suatu bangsa terlilit dalam penjajahan yang rumit. Penjajahan akan terangkat manakala suatu masyarakat terbentuk sebagai orang yang mampu memahami kebenaran hingga dapat diperjuangkan untuk menggantikan tatanan penjajahan. Konsep ekonomi, keuangan, perbankan dan semua aspek kehidupan yang lain berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus dipersiapkan terlebih dahulu oleh suatu kaum untuak menggantikan tatanan penjajahan, maka penjajahan itu dapat disingkirkan dengan cara yang baik dari mereka. Tanpa suatu persiapan, menghapuskan penjajahan seringkali tidak dapat terwujud dengan baik. Kadangkala suatu bangsa tampak merdeka tetapi sebenarnya tetap dalam kungkungan penjajahan. Memahami kehendak Allah dengan benar merupakan kunci menyingkirkan penjajahan dari suatu bangsa. Manakala suatu kaum mengikuti kebenaran yang salah, mereka tidak akan terbebas dari penjajahan atas diri mereka.

Usaha mengembangkan potensi manusia secara mandiri dapat dilakukan masyarakat setidaknya dengan tidak merusak kedudukan dasar seseorang. Seorangpun tidak boleh diganggu kedudukan dasarnya tanpa suatu alasan yang dibenarkan, terlebih lagi orang yang membangun tauhid di masyarakat. Lebih baik lagi apabila masyarakat bisa mendukung upaya membangun masyarakat untuk bertauhid. Untuk hal itu, kaum muslimin hendaknya memperhatikan kebenaran agar dapat mendukung dan tidak menghalangi seseorang mendatangkan manfaat. Bila muslimin hanya mengikuti kebenaran yang mereka tentukan sendiri tanpa berlandaskan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka mungkin justru akan membunuh potensi sumber daya manusia yang ada di antara mereka. Mungkin saja orang-orang yang berjuang untuk menegakkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW justru menjadi orang-orang yang tersingkir karena kaum muslimin hanya mengikuti kebenaran mereka sendiri tanpa memperhatikan asas-asas sikap dan tindakan mereka dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian menambah kesulitan bagi orang-orang yang berusaha meningkatkan potensi sumber daya manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar