Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Untuk dapat berjalan lurus mengikuti langkah Rasulullah SAW kembali kepada Allah, setiap orang beriman harus menumbuhkan sikap mau mendengarkan perkataan-perkataan dan mau menggunakan akal. Ini adalah pangkal dari kemampuan untuk memahami diri dan memahami kehendak Allah. Banyak orang celaka karena tidak mau mendengarkan perkataan-perkataan yang baik sedangkan perkataan itu terkait dengan keadaan diri mereka. Sebagian orang baru menyadari bahwa dirinya adalah orang-orang celaka ketika memasuki kehidupan akhirat dan mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.
﴾۰۱﴿وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
﴾۱۱﴿فَاعْتَرَفُوا بِذَنبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَابِ السَّعِيرِ
(10)Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau menggunakan akal niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (11)Kemudian mereka menyadari dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS Al-Mulk : 10-11)
Ayat di atas terkait dengan pertanyaan neraka kepada orang-orang yang memasukinya, bukankah telah datang kepada mereka orang-orang yang memperingatkan? Para ahli neraka itu mengatakan mereka telah bertemu dengan orang-orang yang memperingatkan, akan tetapi mereka mendustakan. Mereka mengatakan bahwa para pemberi peringatan itu tidaklah memperoleh sesuatu yang diturunkan Allah tetapi hanya orang-orang yang tersesat. Penilaian tentang kesesatan itu menunjukkan mereka mempunyai suatu pedoman tertentu dan para pemberi peringatan itu menyimpang dari acuan pedoman yang mereka ikuti. Para ahli neraka itu mungkin bukan orang-orang yang kafir kepada Allah, akan tetapi tidak mempercayai bahwa Allah menurunkan sesuatu kepada orang-orang yang memberikan peringatan kepada diri mereka, dan dalam pandangan diri mereka pemberi peringatan itu hanyalah orang-orang yang tersesat jauh.
Dari percakapan yang terjadi antara pemberi peringatan dan pendustanya, suasana yang mewarnai percakapan itu adalah masing-masing pihak mengetahui kebenaran yang menjadi landasan amal-amal mereka. Barangkali percakapan semacam itu akan terlihat layaknya percakapan yang ngotot dengan kebenaran masing-masing, walaupun sebenarnya tidak demikian. Salah satu pihak sebenarnya memperoleh suatu peringatan yang diturunkan Allah. Suatu peringatan bukanlah omong kosong tentang kebenaran. Manakala Allah menurunkan peringatan kepada salah seorang di antara mereka, sebenarnya ada suatu masalah yang akan menimpa diri mereka, tetapi mereka menganggap bahwa peringatan itu tidak mungkin diturunkan kepada orang tersebut, dan mereka memandang bahwa orang yang memberi peringatan tersebut adalah orang yang tersesat. Itu adalah penilaian yang terburu-buru tanpa suatu landasan yang jelas bagi penilaian mereka disebabkan karena mereka tidak mau mendengarkan penjelasan orang yang memberi peringatan dan tidak menggunakan akal untuk memahami peringatan itu.
Hal demikian menimbulkan suatu dosa yang menjadikan mereka sebagai ahli neraka. Suatu peringatan bukanlah perdebatan kosong tentang kebenaran. Ada konsekuensi tertentu dalam kekeliruan mensikapi peringatan, misalnya suatu masyarakat mungkin akan mengalami kesulitan karena salah dalam mensikapi suatu peringatan, atau mungkin tidak dapat berubah menuju keadaan yang lebih baik atau mungkin suatu kaum tertimpa bencana tertentu, atau mungkin bentuk-bentuk konsekuensi lain yang mungkin terjadi. Bagi sebagian orang, kesalahan mensikapi peringatan itu kadangkala bisa dibaca melalui keadaan yang terjadi, untuk dijadikan penunjuk arah menuju kebaikan sebagai jalan taubat dari kesalahan. Suatu kaum mungkin dalam suatu bentuk kesulitan tertentu, dan kesulitan tertentu itu sebenarnya mungkin terjadi karena suatu kesalahaan dalam mensikapi peringatan yang terjadi sebelumnya. Kesalahaan dalam mensikapi peringatan sebenarnya merupakan suatu bentuk dosa yang menjadikan seseorang sebagai ahli neraka. Jalan taubat dari kesalahan itu berupa memperbaiki keadaan dengan amal-amal yang menjadi obat bagi dosa yang dilakukan.
Mendengarkan Ayat Kitabullah
Dosa dalam bentuk di atas seringkali tidak disadari oleh orang-orang yang bersangkutan, dan mungkin baru akan disadari kelak di akhirat. Sebenarnya bila mereka memperhatikan, ada kerusakan-kerusakan yang timbul dari pendustaan mereka tetapi kebanyakan orang tidak memperhatikan akibat dari pendustaan yang mereka lakukan. Sebagian manusia berbuat dengan semangat tinggi melanggar ketentuan kitabullah dan mengira amal mereka adalah perintah Allah. Mereka benar-benar tidak menyadari perihal apa yang mengantarkan mereka menuju neraka hingga neraka bertanya kepada mereka tidakkah telah datang kepada mereka pemberi peringatan. Mereka baru akan menyadari dosa mereka setelah itu dengan datangnya kesadaran tentang pendustaan terhadap peringatan yang pernah disampaikan mungkin oleh sahabatnya. Ia telah mendustakan peringatan yang disampaikan oleh sahabatnya dan memandang bahwa Allah tidaklah mungkin menurunkan sesuatu kepada sahabatnya dan memandang sahabatnya hanya seorang yang tersesat dengan kesesatan yang jauh.
Objek peringatan demikian pada masa ini tentulah sesuatu yang terkait dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sedemikian mendustakannya akan menjadikan seseorang sebagai ahli neraka. Setiap peringatan dari sisi Allah akan dapat diketahui dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin saja peringatan itu diturunkan melalui seseorang di antara umat islam, tidak hanya kepada Rasulullah SAW. Peringatan yang benar dari sisi Allah akan selalu mempunyai dasar dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak berupa peringatan yang berdiri sendiri. Manakala suatu peringatan berdiri sendiri, pembenaran atau pendustaan terhadap peringatan demikian mungkin tidak terkait kuat dengan kedudukan seseorang sebagai ahli neraka atau bukan. Manakala suatu peringatan terkait dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, pembenaran atau pendustaan peringatan demikian akan berimplikasi terhadap kedudukan seseorang sebagai ahli neraka.
Hal ini tidak menafikan bahwa ada peringatan-peringatan dari orang-orang tertentu yang mempunyai implikasi besar terhadap kehidupan umat manusia. Dosa dari implikasi melanggar peringatan itu akan sesuai dengan akibat yang ditimbulkan oleh mengabaikan peringatan. Seorang syaikh misalnya mungkin mengetahui ketentuan tertentu yang harus ditepati oleh muridnya dan syaikh tersebut memberikan peringatan, maka murid yang melanggar peringatan itu akan mendatangkan madlarat yang besar. Tetap saja itu merupakan suatu dosa bagi orang yang mengabaikan peringatan. Dalam kasus demikian, syaikh tersebut sebenarnya mungkin mempunyai pengetahuan tentang kitabullah terkait peringatannya, tetapi muridnya belum bisa memahami landasan peringatan yang disampaikan kepadanya. Hal demikian sama saja dengan melanggar peringatan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada pula orang-orang yang berusaha memberikan peringatan berdasarkan ayat-ayat yang samar diketahuinya, dan peringatan itu mendatangkan madlarat manakala diabaikan oleh orang-orang yang diperingatkan. Hal itu termasuk dalam suatu dosa yang akan dihitung kelak di akhirat.
Pendustaan terhadap peringatan terjadi karena orang-orang tidak mendengarkan atau tidak mau menggunakan akal untuk memahami peringatan itu. Mendengarkan pada ayat ini menunjuk pada usaha memahami informasi dari perkataan orang yang menyampaikan. Seseorang mungkin mendengar suatu letusan, maka mendengar demikian bukan yang dimaksudkan ayat tersebut. Ketika seseorang mendengar suatu peringatan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang disampaikan oleh sahabatnya dan menganggap peringatan itu hanya layaknya suatu letusan balon, ia sebenarnya tidak mendengarkan peringatan itu. Ia dikatakan mendengarkan apabila ia dapat menangkap berita yang disampaikan oleh penyampai peringatan itu.
Mendengarkan dalam hal ini adalah mendengarkan perkataan yang merupakan penjelasan ayat-ayat Allah, baik ayat kauniyah maupun ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan mendengarkan pada suara-suara ghaib yang datang dari arah yang tidak diketahui. Kadangkala suatu kaum terjebak pada waham bahwa peringatan dari Allah adalah peringatan yang datang dari alam ghaib, maka orang yang memperoleh peringatan adalah orang yang mendengar suatu suara dari alam ghaib. Bukan demikian. Pemberi peringatan seringkali berupa orang yang mampu memahami ayat kauniyah selaras dengan penjelasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan ia menyampaikan peringatan-peringatan yang ia ketahui dari pemahamannya. Mungkin ia mendengar suatu perintah yang jelas untuk menyampaikan, tetapi inti dari kebenaran peringatan itu terletak pada keselarasan ayat kauniyah dan ayat kitabullah bukan pada terdengarnya suara ghaib tersebut. Dalam keadaan tertentu seseorang mungkin tidak mendengar suatu perintah apapun tetapi tetap menyampaikan peringatan Allah karena kasih sayangnya kepada orang lain, maka peringatan itu lebih penting bagi umat manusia daripada mempermasalahkan suara ghaib yang tidak didengarnya.
Sumber dari alam ghaib ini sering menjadi hijab bagi suatu kaum untuk memahami peringatan. Kadangkala suatu peringatan yang benar disampaikan oleh seseorang berdasarkan ayat-ayat kitabullah yang terkait, dan dengan mudahnya peringatan itu dikontra dengan pernyataan yang berasal dari alam langit. Kadang dijumpai suatu kaum yang berusaha mendengarkan suara dari langit untuk memeriksa kebenaran ayat Allah yang disampaikan, bukan mengikuti ayat Allah dengan benar. Orang-orang tidak melakukan pemeriksaan asal dari pernyataan itu dan dengan mudahnya mendustakan peringatan yang disampaikan kepada mereka. Sumber dari keduanya tidak sejajar. Sesuatu yang bersumber dari kitabullah berasal dari suatu hakikat di sisi Allah Yang Maha Tinggi, sedangkan pernyataan dari alam langit bisa berasal dari langit yang rendah ataupun yang tinggi, tetapi mungkin tidak mencapai sisi Allah. Pernyataan dari alam langit tidak boleh digunakan untuk membatalkan sesuatu yang bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setinggi apapun kedudukan seseorang dan apa yang bisa diinderanya, ia tidak akan melebihi kedudukan kitabullah dan Rasulullah SAW.
Orang yang mendengar peringatan itu hendaknya memeriksa kebenaran dari peringatan itu berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengetahui secara lebih tepat maksud dari peringatan yang disampaikan. Ini adalah proses penggunaan akal untuk memahami kehendak Allah. Pemberi peringatan pada dasarnya lebih mudah menyampaikan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW daripada menjelaskan panjang lebar peringatan yang diturunkan kepada dirinya, tetapi seringkali merasa perlu untuk berkata lebih panjang lebar untuk merangsang akal umat untuk memahami ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seandainya seluruh umat cukup kuat akalnya, ia akan menyampaikan lebih singkat agar tidak banyak berbuat kesalahan. Dalam majelis tertentu, barangkali pemberi peringatan akan berbicara lebih terperinci agar peringatan itu dapat disikapi dengan tepat bersama-sama. Dalam keadaan yang lain, pemberi peringatan mungkin akan berbicara panjang lebar dan meninggalkan pembicaraannya tanpa dialog. Banyak kemungkinan sikap yang dilakukan oleh pemberi peringatan, dan pendengar hendaknya menggunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah dan sunnah Rasulullah SAW.
Mendengarkan dengan Baik
Kemampuan seseorang untuk mendengarkan sebagaimana ayat di atas merupakan salah satu dasar membangun akhlak mulia dan pengabaian hal tersebut merupakan penyebab kebinasaan yang menyebabkan seseorang terjatuh di neraka. Mendengar terkait dengan penggunaan akal, yaitu kemampuan untuk memahami ayat Allah. Orang-orang yang mempunyai keinginan untuk memahami ayat-ayat Allah harus mempunyai kemampuan untuk mendengarkan. Terbinanya kemampuan mendengarkan dan kemampuan memahami ayat-ayat Allah akan mengantarkan seseorang untuk membangun akhlak mulia. Kemampuan untuk mendengarkan harus dibina oleh setiap manusia agar diberi sarana untuk memahami kebenaran. Bila seseorang tidak mau mendengarkan kebenaran, ia kehilangan sarana untuk memahami kebenaran.
Imam Ali k.w berkata : “temukanlah kebenaran, maka engkau akan mengenali orang-orang yang mengikuti kebenaran.” Ada suatu prinsip dalam mencari kebenaran berupa pencarian kebenaran hendaknya dilakukan dengan cara mengenali sendiri kebenaran, tidak akan bisa mengenali kebenaran karena mengikuti kebenaran orang lain. Pengenalan kebenaran itulah yang akan menjadikan seseorang mampu mengenali orang-orang yang mengikuti kebenaran. Prinsip ini tidak boleh terbalik mengenali kebenaran karena mengikuti orang lain. Kemampuan mendengarkan merupakan salah satu landasan mencari kebenaran, yaitu berusaha menangkap informasi dari orang yang menyampaikan suatu peringatan dan memikirkan kebenaran dari yang disampaikan.
Mendengarkan dan menggunakan akal merupakan bagian dari pencarian kebenaran yang harus digunakan oleh setiap orang. Sangat banyak orang yang telah memperoleh pengajaran Allah yang dapat mengatakan kebenaran-kebenaran, maka mereka itu adalah orang-orang yang harus didengarkan penjelasannya. Mendengarkan dalam hal ini harus dilakukan dengan menggunakan akal, memahami penjelasan itu untuk memahami kehendak Allah. Setiap penjelasan harus dipahami dengan cara yang benar sedemikian maksud dari orang yang menjelaskan dapat diterima dengan tepat, tidak menyimpang dari yang dimaksud.
Setiap orang harus dapat mendengarkan kebenaran dengan sebaik-baiknya karena sangat banyak pengubah persepsi manusia dalam mendengarkan kebenaran. Syaitan mempunyai keterampilan yang sangat terasah untuk menjadikan suatu ajaran yang buruk menjadi baik, dan menjadikan ajaran yang baik menjadi tampak buruk. Yang paling sering, mereka menjadikan ajaran-ajaran yang kosong sebagai ajaran yang indah dalam pandangan manusia. Demikian pula banyak manusia yang akhlaknya buruk dan bodoh berusaha keras untuk dipandang mulia oleh orang lain untuk mendapatkan kedudukan mulia di antara manusia. Kadangkala mereka menggunakan ilmu-ilmu yang bersifat fitnah untuk menjadikan manusia memandang baik diri mereka hingga manusia mudah terkelabui. Dalam kasus tertentu, syaitan dapat menelanjangi orang-orang shalih sedemikian mereka dipandang hina oleh manusia, sedangkan apa yang dikatakannya mungkin merupakan hikmah yang berharga. Bila ia berkata, orang lain menyalahkannya tanpa mengetahui kesalahannya. Bila melihat kebenaran dalam perkataannya, mereka tidak mau mengikuti kebenarannya, atau bahkan menunggu terjadinya kesalahan untuk menjatuhkan nama baiknya di mata manusia. Bila tidak mengasah kemampuan mendengarkan dengan sebaik-baiknya, manusia akan mudah terkelabui dengan kebenaran-kebenaran semu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar