Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Banyak hal dapat membelokkan langkah seseorang dalam mengikuti Rasulullah SAW apabila tidak berhati-hati, baik pada masa awal melangkah ataupun manakala telah jauh mengikuti langkah Rasulullah SAW. Selain akan menjumpai shirat al-mustaqim, mungkin pula seseorang akan menjumpai banyak hal-hal bathil ketika melangkah.
﴾۷۶﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ
Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah haram yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka apakah mereka beriman kepada yang bathil dan kufur terhadap nikmat Allah? (QS Al-Ankabuut : 67)
Ayat di atas bercerita secara khusus tentang orang-orang yang tiba di tanah haram bagi diri mereka. Dalam perjalanan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s dan sunnah Rasulullah SAW, tibanya seseorang di tanah haram menunjukkan pada tibanya seseorang pada fase pengenalan jati diri penciptaannya. Seseorang mengenal untuk apa dirinya diciptakan dan harus menetap pada amal-amal yang ditentukan bagi dirinya. Ia mengenal ayat-ayat Allah pada kauniyah dirinya sesuai dengan tuntunan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan mengetahui kedudukan dirinya dalam Al-jamaah dalam melaksanakan amr jami’ Rasulullah SAW. Mereka itu adalah orang yang tiba di tanah haram bagi diri mereka. Tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan diri mereka karena amal-amal bagi mereka itu telah ditentukan secara khusus.
Sebenarnya manakala seseorang tiba di tanah haram dirinya, akan banyak hal terbuka kepada dirinya baik yang haq maupun yang bathil. Segala sesuatu yang haq akan mempunyai hubungan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW baik secara langsung ataupun terhubung melalui hubungan yang rumit. Orang yang dekat kedudukannya dengan Rasulullah SAW mungkin akan melihat hubungan langsung pengetahuan hakikat yang terbuka kepada dirinya dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Amal yang harus ia tunaikan tercantum secara jelas dalam kitabullah Alquran tanpa perlu pembenaran dari pihak lainnya. Dalam kedudukan yang agak jauh, seseorang mungkin perlu pembenaran dari pihak lain, misalnya dari pihak yang perlu ditolong dalam urusan pelaksanaan amr jami’ Rasulullah SAW. Seseorang yang menemukan cara membuat senjata yang efektif mungkin harus meminta persetujuan dari wasilahnya sebelum membuat senjata agar pembuatan senjata dapat menempati kedudukan yang tepat dalam urusan jihad menolong Allah. Banyak kemungkinan bahaya yang timbul karena senjata yang dibuat tanpa persetujuan washilah.
Banyak hal yang haq dan bathil dapat terbuka pada seseorang manakala mereka tiba pada tanah haram yang ditetapkan bagi diri mereka. Apabila seseorang tidak memperhatikan kebenaran dan kebathilan yang terbuka kepada dirinya, syaitan akan bermain dalam amalnya. Seseorang akan terjatuh pada keimanan terhadap yang bathil dan kekufuran terhadap nikmat Allah. Syaitan mungkin saja ikut membukakan kepada diri mereka hal-hal bathil yang harus diikuti dan menutup pandangan mereka dari nikmat Allah yang harus ditunaikan untuk menemukan shirat almustaqim. Sangat banyak cara yang bisa dipakai syaitan untuk menjadikan seseorang beriman terhadap hal yang bathil dan kufur terhadap nikmat Allah apabila seseorang tidak memperhatikan nikmat Allah dan tidak menimbang kebathilan dalam urusan mereka. Mungkin saja syaitan hadir sebagai thaghut menjadikan dirinya tuhan bagi seseorang dalam melaksanakan amal-amal sedemikian menyeretnya dan manusia yang mengikutinya dari cahaya menuju kegelapan.
Nikmat Allah merupakan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah bagi setiap hamba-Nya. Orang yang memperoleh nikmat Allah mengetahui ketentuan-ketentuan yang diberikan Allah bagi dirinya termasuk jati diri penciptaannya ataupun ketetapan keadaan kauniyah yang dihadirkan Allah, dan ia berusaha untuk beramal sesuai dengan ketentuan-ketentuan tersebut. Ketentuan-ketentuan Allah bagi orang yang memperoleh nikmat Allah itu berupa ketentuan yang tercantum dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang menyangka mengetahui ketentuan Allah bagi dirinya tetapi tidak mengetahui tuntunan kitabullah Alquran tentang ketentuan itu, maka pengetahuan itu bukan suatu pengetahuan yang kokoh. Mungkin pengetahuannya benar atau mungkin pula keliru. Nikmat Allah yang benar adalah berupa pengetahuan tentang ketentuan Allah yang mempunyai landasan dalam tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.
Ketentuan demikian diturunkan sebagai bagian pada suatu urusan Al-jamaah. Mustahil bagi seseorang mengenal dengan benar ketentuan Allah melalui pemisahan diri dari al-jamaah. Seseorang yang memperoleh nikmat Allah setidaknya mengetahui urusan bagi dirinya sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW. Keadaan itu seringkali akan lebih diperkuat dengan pengenalan terhadap washilah dirinya kepada Rasulullah SAW dan pengenalan terhadap sahabat-sahabatnya. Ketika seseorang berbuat durhaka terhadap washilah yang benar, ia tidak mungkin mengenal dengan benar ketentuan Allah bagi dirinya. Benar atau salahnya para pihak ditentukan dari ketentuan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan dari derajat masing-masing pihak atau dari pendapat diri masing-masing. Seorang washilah mungkin saja berbuat salah tidak berpegang pada tuntunan yang benar dan itu merupakan tanggung jawab dirinya. Manakala seorang washilah berbuat benar sesuai tuntunan sedangkan pengikutnya durhaka, para pengikutnya tidak akan mengenal ketentuan Allah dengan benar.
Mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW
Bagi para pencari kebenaran, para washilah akan sangat membantu langkah dalam mengikuti Rasulullah SAW apabila disertai dengan usaha memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hal pokok yang menjadikan para pengikut tumbuh adalah kegemaran mereka terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena keduanya merupakan benih dari kalimah thayibah yang harus tumbuh dalam diri para pengikut Rasulullah SAW. Tanpa suatu keinginan untuk memahami dan beramal dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak ada benih yang dapat ditumbuhkan sekalipun lahan untuknya selalu diolah dengan sebaik-baiknya. Manakala tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW ditinggalkan, para washilah itu tidak akan mampu memberikan pemahaman apapun. Mungkin mereka juga tidak mau memberikan kecuali peringatan-peringatan.
Pengikut Rasulullah SAW hendaknya menempatkan prioritas utama perhatiannya terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan kemudian mencari dan mengikuti washilah yang dapat mengajarkan tuntunan itu dengan sebaik-baiknya. Banyak pengikut Rasulullah SAW salah menempatkan prioritas dalam urusan ini dan menjadikan perhatian terhadap washilah lebih tinggi daripada perhatian terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Banyak madlarat pada cara demikian. Sebenarnya banyak orang yang menghafalkan kitabullah tanpa memahaminya, sedangkan kitabullah itu digunakan untuk mengaku bahwa diri mereka adalah ulama yang seharusnya diikuti umat manusia. Mereka tidak memahami nilai-nilai kebaikan dalam tuntunan kitabullah. Orang-orang musyrik sangat menyukai mereka dan memberikan bantuan dengan cara yang tidak terlihat atau cara yang indah agar umat Rasulullah SAW mengikuti jalan mereka dan menjadi lemah dalam memahami tuntunan kitabullah. Kesalahan dalam menempatkan prioritas perhatian bisa mendatangkan bahaya bagi umat Rasulullah SAW.
Termasuk bahaya yang dapat timbul dari salah menempatkan prioritas demikian terjadi manakala seseorang yang tiba di tanah haramnya lebih beriman terhadap hal yang bathil dan kufur terhadap nikmat Allah. Skala bahaya yang bisa menimpa umat karena peristiwa demikian lebih tinggi dibandingkan dengan kesalahan mengikuti orang bodoh. Mungkin kesalahan demikian hanya berpengaruh pada masyarakat yang berjumlah tidak besar tetapi merupakan golongan terbaik. Kadangkala umat merasa takjub dengan kedudukan seseorang di antara mereka hingga terlupa untuk lebih memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala ada orang lain yang menyeru untuk lebih memperhatikan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk memahami keadaan dan melahirkan amal-amal, mereka mengabaikan seruan itu karena lebih memilih mengikuti kehebatan orang yang telah sampai di tanah haramnya. Mereka tidak bisa memahami ayat kauniyah dan kitabullah dengan benar karena salah menempatkan prioritas perhatian terhadap tuntunan mereka.
Bila umat menempatkan perhatian terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai tuntunan utama, berbagai masalah yang mungkin terjadi di antara mereka tidak menimbulkan bahaya yang besar. Musuh tidak dapat melemahkan mereka dan mereka tidak menyimpang dari kehendak Allah. Apabila salah seorang di antara mereka menyimpang dan tidak mau menempuh jalan yang lurus, ia akan menyimpang sendiri tanpa menyimpangkan yang lain. Bila tidak demikian, umat akan menyimpang dari jalan lurus beramai-ramai manakala seseorang di antara mereka menyimpang. Sayangnya mungkin kebanyakan orang islam tidak memprioritaskan perhatian terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Memprioritaskan perhatian terhadap kitabullah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Setiap pembacaan kitabullah yang tepat hendaknya diperhatikan kebenarannya tidak mengabaikannya sekalipun banyak orang mencemooh. Mencemooh pembacaan Alquran yang tepat akan menjadikan manusia bodoh terkurung dalam waham kebenaran. Hal demikian pasti melibatkan syaitan yang ingin menjadikan manusia bersikap semau sendiri, bodoh dan menyimpang dalam memahami kehendak Allah. Para pencemooh demikian sebenarnya mengikuti kebodohan dirinya sendiri walaupun mungkin tampak terpandang di antara manusia. Mungkin seseorang perlu waktu berpikir untuk mengikuti kebenaran, tetapi hal demikian hendaknya tidak berlebihan hingga bersikap mencemooh. Apabila telah mempunyai keyakinan tentang kebenarannya, hendaknya ia bersegera mengikuti langkah atau ia akan digoyahkan lagi oleh syaitan.
Kebenaran dan Pemakmuran
Dalam proses pemakmuran, keimanan terhadap hal yang bathil dan kufur terhadap nikmat Allah akan menghambat keberhasilan proses yang dilakukan. Hal ini terkait dengan keterhubungan langkah yang ditempuh dengan hakikat dari sisi Allah. Pemakmuran akan terjadi apabila manusia mengalirkan khazanah dari sisi Allah hingga terwujud ke alam dunia. Pengaliran khazanah demikian itu merupakan fungsi manusia sebagai khalifah. Peran demikian tidak boleh tersimpangkan tergantikan dengan pengaliran kebathilan dari alam yang tinggi ke alam dunia karena justru akan merusak bumi dan proses pemakmuran di bumi. Proses demikian sebenarnya memutuskan pengaliran khazanah dari sisi Allah bagi alam dunia.
Proses pengaliran khazanah dari sisi Allah dapat dilakukan dengan baik oleh manusia melalui proses al-jamaah berupa terwujudnya hubungan antara satu orang beriman dengan orang beriman lain sesuai dengan urusan masing-masing yang dikehendaki Allah. Manakala seorang beriman hanya berusaha sendirian tanpa mengenal sahabatnya yang lain yang juga berusaha mewujudkan kehendak Allah dengan benar, tidak akan diperoleh hasil yang baik dari usaha mereka, atau dalam tingkat tertentu bisa saja tidak ada hasil yang bisa diperoleh dari usaha mereka sendiri-sendiri. Pada keberjamaahan di tingkatan pernikahan misalnya, nabi Nuh a.s dan nabi Luth a.s tidak bisa memberikan hasil pemakmuran bumi secara memadai dan justru mendatangkan adzab karena kedurhakaan isteri masing-masing. Pernikahan merupakan bentuk inti keberjamaahan bagi setiap mukmin yang akan menentukan terbentuknya lingkar-lingkar keberjamaahan lebih luas bagi diri mereka yang akan membangkitkan pemakmuran lebih besar bagi dunia.
Pemakmuran bumi akan terwujud apabila seseorang yang mengenal hakikat dari sisi Allah membentuk jamaah bersama mukminin lain. Mukminin lain akan dapat mengikuti atau merasakan hakikat yang dikenal oleh mukminin tersebut. Apabila pembentukan jamaah itu terpotong, akan terpotong pula pengaliran dan proses pemakmuran di bumi sesuai dengan tingkat keterpotongan aljamaah yang harus terbentuk. Bila terpotong pada tingkatan pernikahan, pengaliran pemakmuran melalui orang itu akan terpotong seluruhnya. Semakin banyak orang yang bersama atau mengikuti, akan semakin besar hasil yang dapat diwujudkan, yaitu bila masing-masing berusaha mewujudkan firman Allah. Apabila jamaah yang mengikuti tidak berusaha mengenal hakikat dari sisi Allah yang disediakan bagi mereka, pemakmuran yang terjadi hanya akan mengalir sedikit saja sesuai dengan hakikat yang dikenal oleh orang yang mengenalnya. Apabila setiap orang berusaha mengenali hakikat yang disediakan bagi diri mereka, pemakmuran itu akan mengalir deras sesuai dengan hakikat yang dialirkan. Hal itu tetap berlaku sekalipun seluruhnya hanya berusaha mewujudkan satu ayat yang sama.
Hakikat adalah kebenaran di sisi Allah yang diperkenalkan kepada makhluk melalui tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Ada banyak tingkatan kebenaran di alam semesta ini, dari realitas yang benar di alam dunia hingga kebenaran yang ada di sisi Allah. Sangat banyak kebenaran yang ada di antara realitas alam dunia hingga sisi Allah, bukan hanya kebenaran pada keduanya saja. Permen yang manis adalah kebenaran, frekuensi suatu dawai adalah kebenaran, malaikat penjaga merupakan kebenaran, dan firman-firman Allah dalam Alquran merupakan kebenaran yang dapat menjadi materi pemakmuran. Di antara semua kebenaran, firman Allah merupakan bentuk kebenaran paling tinggi dan paling penting diperhatikan. Pengenalan seseorang terhadap kandungan ayat dalam kitabullah Alquran merupakan pengetahuan hakikat, dan sebenarnya pengetahuan demikian merupakan pengetahuan terhadap urusan paling penting.
Keimanan terhadap yang bathil dan kufur terhadap nikmat Allah merupakan satu jenis penyebab terpotongnya suatu sumber pengaliran hakikat dari sisi Allah, atau tercemarnya hakikat dari sisi Allah. Seseorang yang beriman kepada yang bathil akan mengubah sumber dari khazanah Allah menuju kebathilan, dan bisa jadi ia memotong pula pengaliran khazanah melalui jalur yang lain karena keingkaran terhadap nikmat Allah melalui orang lain sehingga tidak terwujud pemakmuran bumi berdasarkan khazanah di sisi Allah. Manakala suatu masyarakat berkembang semakin buruk, itu bisa menjadi tanda bahwa khazanah dari sisi Allah tidak mengalir kepada mereka. Setiap pengaliran khazanah dari sisi Allah akan mendatangkan perbaikan di bumi, adapun munculnya keburukan yang menyertai itu berbentuk perlawanan dari alam yang kurang baik. Keimanan terhadap yang bathil akan memunculkan keburukan internal pada masyarakat yang mungkin sebelumnya baik, sedangkan alam syaitan mungkin saja justru mendukung melancarkan perkembangan masyarakat menuju keburukannya tidak mendatangkan halangan-halangan. Kadangkala sesuatu yang telah mapan berubah menjadi buruk melalui proses internal.
Mekanisme demikian harus disadari oleh setiap orang beriman agar dapat mengalirkan khazanah dari sisi Allah sebagai pemakmuran bumi. Merusak mekanisme demikian tidak mungkin mendatangkan pemakmuran. Boleh jadi lebih baik membiarkan orang lain mengerjakan amal daripada mengatur mereka dengan cara yang salah misalnya menyalah-nyalahkan tanpa alasan orang yang mengenal nikmat Allah untuk dirinya. Pengaturan yang salah akan mendatangkan kesulitan bagi manusia untuk melakukan pemakmuran, bahkan kesulitan hingga tingkat yang rendah. Mukminin tidak boleh terkurung waham agar bisa menjadi agen pengaliran khazanah, baik pada tingkatan pokok yang tinggi ataupun pada tingkatan cabang di alam yang rendah. Suatu kaum yang terkurung waham akan tumbuh sebagai kaum yang berakhlak buruk. Mungkin seseorang akan berselisih dengan orang lain tanpa memahami apa yang mereka perselisihkan, bahkan mungkin tetap gemar berselisih sekalipun dengan orang yang membacakan hakikat dengan tepat. Lebih buruk lagi mungkin kemudian mengutuk orang lain untuk membela orang-orang yang sepaham dengannya. Syaitan akan mengikuti mereka dan memanfaatkannya untuk merusak secara lebih luas. Ketika berselisih, seseorang mungkin didorong syaitan untuk mengutuk keluarga lawannya, bukan mengutuk lawannya, maka syaitan melebarkan masalah hingga kepada keluarga lawannya. Hal demikian akan menjadi pemicu kekisruhan lebih luas. Sekadar mengutuk seseorangpun merupakan perilaku yang buruk, dan meluaskan kutukan itu mendatangkan keburukan lebih luas. Bukan pemakmuran yang terwujud di alam dunia tetapi kekisruhan dalam membela kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar