Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Setiap orang beriman harus menumbuhkan sikap mau mendengarkan perkataan-perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.
﴾۸۱﴿الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولٰئِكَ هُمْ أُولُوا الْأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az-Zumar : 18)
Mendengarkan perkataan dan mengikuti yang paling baik akan mewujudkan peradaban yang baik pada bangsa, dan sebaliknya ketidakmampuan mendengar perkataan akan melahirkan kemerosotan peradaban suatu bangsa. Bangsa yang mampu mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik akan menjadi bangsa yang memahami petunjuk dan mempunyai akal, sedangkan bangsa yang tidak mempunyai kemampuan mendengar akan menjadi orang-orang yang mengikuti hawa nafsu sendiri atau bahkan taghut tanpa suatu kemampuan untuk memahami orang lain, baik kebaikan mereka ataupun hal-hal yang perlu dibantu. Setiap orang beriman harus membangun kemampuan mendengar perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.
Kemampuan mengikuti perkataan terbaik ditentukan dari perkembangan akal. Setiap orang harus melakukan tazkiyatun nafs dan belajar membobot dengan benar nilai kebaikan (atau keburukan) dari suatu perkataan secara objektif agar memahami kebaikan perkataan dengan benar. Manakala seseorang tidak berkembang akalnya, mereka tidak akan mempunyai kemampuan mengikuti perkataan yang terbaik. Mereka mungkin hanya akan mengikuti orang-orang yang mereka pandang tanpa menimbang kebenarannya. Akal menjadi modal dasar manusia untuk dapat mengenali perkataan terbaik untuk diikuti. Dengan berkembangnya akal manusia akan semakin mengenali perkataan-perkataan yang terbaik yang bisa mereka ikuti, dan peradaban mereka akan tumbuh menjadi baik.
Kaum muslimin dewasa ini sebenarnya dijadikan kurang mampu mendengar perkataan dan mengenali perkataan yang terbaik karena rekayasa kaum musyrikin yang disebarkan melalui kolonialis. Suku-suku bangsa di negeri ini misalnya, dibuat tidak lagi mengenali warisan leluhur mereka sendiri dengan penyitaan pustaka-pustaka dari negeri ini, sedemikian anak-anak negeri kehilangan pengetahuan keluhuran budi nenek moyang dan memandang masalah secara pragmatis sesuai hawa nafsu dan keinginan syahwat sendiri. Kolonialis pun menyebarkan pustaka-pustaka yang menjadikan adab anak-anak negeri terdegradasi. Sangat banyak tatacara yang mereka lakukan untuk menjadikan kaum muslimin tidak mampu mendengar perkataan dan mengikuti yang terbaik dengan menghilangkan perkataan-perkataan luhur bangsa jajahan mereka. Selain kaum musyrikin, para syaitan pun sebenarnya mengajarkan perkataan yang membangkitkan fanatisme tanpa akal melalui kaum musyrikin, dan menghembuskan bagi tiap-tiap muslimin agar tidak mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.
Hal-hal demikian membuat peradaban bangsa menjadi buruk. Nusantara ini pernah memilih pemimpin mereka dari kalangan pembohong yang menipu rakyat sendiri untuk mengumpulkan harta kekayaan bagi dirinya sendiri, melakukan hutang dalam jumlah raksasa dan membagikan sebagian kecil untuk bantuan sosial tanpa membuat program mencerdaskan rakyat. Mereka menjual kekayaan negeri tanpa mencatatnya sebagai kekayaan negara. Orang-orang yang mau menjilat dijadikan pejabat-pejabat pemerintahan hingga tanpa malu sebagian mereka memuja junjungan mereka sebagai nabi karena mengharapkan jabatan. Hal demikian merupakan salah satu dampak dari terbentuknya budaya tidak mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik. Sebagian besar masyarakat bertindak pragmatis mengikuti hasrat duniawi dan hawa nafsu sehingga peradaban menjadi buruk dan kehidupan menjadi sulit.
Keadaan yang muncul dalam fenomena adab demikian seringkali bertambah rumit karena ketiadaan atau menghilangnya perkataan yang baik sehingga masyarakat tidak mengetahui atau tidak terlatih untuk mendengar perkataan yang baik, digantikan dengan perkataan-perkataan yang menjadikan masyarakat bodoh. Masyarakat yang pragmatis dibuat hiruk pikuk memperebutkan duniawi dan kedudukan, masyarakat yang mengikuti tuntunan agama dibuat memusuhi jalan untuk memahami tuntunan Allah, dan mukminin yang ingin mengikuti aturan dan tuntunan Allah dibuat tidak bisa memahami kehendak Allah dengan fanatisme membuta. Manakala pemimpin mereka berganti lebih baik, masyarakat justru bergejolak karena mengikuti perkataan-perkataan yang buruk hingga pemimpin yang lebih baik merasa repot untuk berbuat yang terbaik. Seringkali para penjahat yang masih ingin berkuasa melakukan rekayasa sosial untuk menimbulkan gejolak dengan memanfaatkan karakter masyarakat yang terbiasa tidak mendengarkan perkataan dan tidak mengikuti perkataan yang terbaik.
Kemampuan untuk mendengar perkataan secara benar dan mengikuti perkataan yang terbaik menjadi salah satu kunci untuk melakukan perbaikan adab masyarakat. Hal demikian akan akan subur apabila dibangkitkan perkataan-perkataan terbaik untuk diikuti oleh bangsa. Banyak orang yang berusaha berkata-kata baik tetapi dilakukan untuk membangkitkan pengaruh dirinya kepada masyarakat, maka hal demikian tidak membangkitkan keinginan masyarakat mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik. Kaum mukminin hendaknya berusaha membangkitkan perkataan-perkataan yang baik dengan melahirkan kandungan-kandungan dari firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, maka itu adalah perkataan yang baik yang dapat membangkitkan umat untuk mendengar perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik. Seandainya ada perkataan yang tidak tepat atau terjadi suatu kesalahan pada perkataan itu, umat dapat menimbang kesalahannya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak terus mengikuti secara membuta kesalahan-kesalahan yang dilakukan.
Perkataan yang baik dapat terlahir berupa cabang dari pokok yang tumbuh dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kisah para wali di nusantara dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam perjuangan para wali itu bisa menjadi perkataan yang baik untuk diikuti oleh bangsa. Perjuangan para pejuang kemerdekaan dewasa ini didegradasi dalam catatan sejarah kaum kolonialis. Bila kisah perjuangan itu dibangun kembali sebagai bagian dari upaya menegakkan adab bangsa yang mulia, kisah itu akan menjadi perkataan-perkataan yang baik sebagai cabang dari pohon yang tumbuh dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kisah kerajaan-kerajaan hindu di nusantara pun sebenarnya merupakan perwujudan dari cabang yang tumbuh dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bila umat dapat memahaminya. Sangat banyak perkataan-perkataan yang baik yang seharusnya dibangun kembali sebagai perwujudan nilai-nilai dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak terbatas pada kasus-kasus yang telah disebutkan. Sayangnya bangsa telah kehilangan banyak kisah-kisah yang merupakan perkataan yang baik yang merupakan nilai-nilai luhur nenek moyang.
Ada beberapa hal yang mungkin akan menghalangi atau menyimpangkan perumusan perkataan luhur bangsa. Sebagian orang mungkin berbantah tentang perkataan yang seharusnya diikuti, sebagian orang mungkin akan melahirkan perkataan-perkataan tanpa dasar yang benar. Kaum musyrikin membuat-buat perkataan yang membuat umat kehilangan keyakinan tentang perkataan yang baik di antara mereka. Sebagian dari kaum muslimin mungkin akan mencela upaya membangkitkan perkataan yang baik dari nilai luhur nenek moyang dengan sembrono menuduh bahwa itu hanya mengikuti perkataan nenek moyang. Sebagian yang mengatakan demikian karena bodoh dan sebagian adalah agen dari kaum musyrikin di antara kaum muslimin. Yang harus diperhatikan adalah nilai kebaikan dari perkataan, bahwa orang-orang terdahulu sebenarnya mempunyai arah perjuangan yang bernilai luhur untuk diteruskan oleh manusia modern, bukan membangkitkan perkataan nenek moyang sebagai tindakan melawan tuntunan agama.
Tumbuh Dengan Jati Diri Bangsa
Pengenalan terhadap jati diri bangsa akan sangat bermanfaat bagi umat untuk bangkit mendengar perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik. Setiap bangsa memiliki jati diri yang telah digariskan sejak dahulu kala. Nusantara misalnya, memiliki jati diri bangsa yang digambarkan sebagai sang merah putih. Apabila nilai-nilai sang merah putih dibangkitkan dengan benar, komponen-komponen bangsa akan lebih mudah mengikuti perkataan-perkataan tentang merah putih karena setiap diri berkepentingan dengan jati diri bersama sebagai bangsa. Nilai-nilai sang merah putih dapat mengarahkan bangsa untuk berbuat yang terbaik.
Sejak dahulu, para tokoh wali Allah dari berbagai negeri dan para ksatria dari negeri India datang berbondong-bondong ke nusantara untuk mempersiapkan jalan bagi sang merah putih. Hal ini dapat ditemukan pada petilasan-petilasan kerajaan hindu di jawa yang menggunakan bendera merah putih sebagai pengenal cita-cita mereka dalam mendirikan bangsa. Para wali Allah berbondong-bondong ke Nusantara untuk menyambut sabda Nabi Muhammad SAW tentang merah putih, dan mereka mengetahui harus berbuat apa untuk menyambut sabda Rasulullah SAW tersebut.
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ أَوْ قَالَ إِنَّ رَبِّي زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ مُلْكَ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ
Dari Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku sehingga aku bisa melihat bagian timur dan baratnya. Sesungguhnya kerajaan umatku akan mencapai bumi yang telah digulung untukku. Dan aku diberi dua harta simpanan merah dan putih. Dan sesungguhnya aku memohon kepada Rabbku untuk umatku agar Dia tidak membinasakan umatku dengan paceklik yang merata, dan agar Dia tidak menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, kecuali karena (kesalahan) diri mereka sendiri sehingga tenggelamlah (harta simpanan) putihnya (HR Abu Dawud, no: 4252; Ahmad 5/278, 284; Al-Baihaqi, no: 3952.)
Merah putih merupakan dua harta simpanan yang diberikan kepada Rasulullah SAW. Disayangkan bahwa salah satu harta simpanan tersebut akan tenggelam karena kesalahan umat Islam sendiri. Hal ini hendaknya diperhatikan agar muslimin bersikap hati-hati. Sebenarnya para wali Allah yang berbondong-bondong datang ke Nusantara mempunyai keinginan untuk mempersiapkan jalan terwujudnya harta simpanan merah dan putih tersebut. Keinginan ini akan dikenali oleh orang yang sama. Banyak orang-orang yang mencari jalan ibadah mengetahui kesamaan dorongan bahin di antara mereka untuk menemukan objek untuk pengabdian dan menemukannya dalam wujud merah putih. Di jaman yang jauh setelah Nabi SAW, orang yang ingin berjuang untuk agama Allah kebanyakan akan menemukan jalan perjuangannya untuk sang merah putih, sebagai bentuk nyata upaya menolong Rasulullah SAW. Umat beragama selain umat islam akan menemukan objek perjuangan untuk tuhannya melalui jalan merah putih.
Sebenarnya riwayat tentang sang merah putih tercantum pada setiap agama. Para ksatria hindu dari negeri India pun datang berbondong-bondong ke nusantara karena nubuat tentang merah putih. Hingga kerajaan hindu berakhir di tanah jawa, mereka tetap mengabadikan sang merah putih untuk petilasan-petilasan yang mereka tinggalkan karena untuk sang merah putih itulah mereka berjuang. Sebenarnya merah putih di kalangan Islam dan Hindu merupakan merah putih yang sama walaupun mungkin cara penuturannya berbeda. Demikian pula sang merah putih di kalangan nasrani menunjuk pada sang merah putih yang sama. Merah putih itu juga tetap terabadikan dalam jati diri bangsa Indonesia walaupun kebanyakan orang mungkin tidak lagi mengenali hakikat dari sang merah putih.
Merah putih terkait dengan kebangkitan agama. Setiap orang yang berjuang untuk membantu merah putih sebenarnya telah berbuat menolong Allah secara berjamaah, menolong menghidupkan dan menyiarkan kembali agama kepada manusia tanpa meninggalkan al-jamaah. Para wali Allah, para ksatria, para pejuang kemerdekaan yang memahami nilai merah putih dan berjuang untuknya merupakan cabang-cabang dari pohon yang tumbuh di atas tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, sedemikian mereka adalah bagian dari al-jamaah. Manakala seseorang atau suatu kaum berjuang sendiri untuk islam, kebanyakan perjuangan demikian tidak mewakili islam secara utuh hingga kadang justru menjadi fitnah bagi islam. Hal demikian terjadi karena kurangnya dorongan dalam diri untuk dapat menyatu dalam kebenaran universal pada al-jamaah hingga melupakan harta simpanan Rasulullah SAW.
Nilai-nilai merah putih merupakan landasan kebangkitan kembali ajaran Allah di antara umat manusia. Sayangnya umat islam akan berbuat salah dalam urusan itu sedemikian harta simpanan putih menjadi kehilangan pijakan tidak dapat tegak dengan kokoh. Barangkali sebagian kaum mukminin mendengar tentang suatu kebangkitan kembali Islam di antara mereka, tetapi kemudian mereka berjuang untuk kebangkitan agama tanpa mempedulikan sang merah putih harta simpanan Rasulullah SAW. Barangkali mereka memandang diri mereka cukup kuat untuk membangkitkan agama tanpa mengikuti tuntunan Rasulullah SAW kemudian melupakan sang merah putih. Atau boleh jadi mereka merasa telah memahami tuntunan Rasulullah SAW dengan sempurna hingga mampu menempuh jalan sendiri untuk agama Allah. Kelalaian terhadap harta merah putih demikian itu pada dasarnya menunjukkan sedikit atau banyak terlepasnya muslim dari Al-jamaah. Hal-hal demikian menyebabkan mereka berbuat salah hingga justru menyebabkan tenggelamnya harta simpanan putih.
Bangkitnya bangsa harus dimulai dengan membangun kebaikan adab dan hal itu dapat dibangun dengan perkataan yang baik. Musuh bangsa yang paling merusak sebenarnya berupa kerusakan adab. Para musuh dari kalangan orang-orang jahat hanya dapat memanfaatkan kelemahan bangsa tidak akan bisa mengalahkan muslimin apabila mereka baik. Untuk membangkitkan perkataan yang baik, bangsa ini perlu memperkenalkan jati diri bangsanya agar dapat menyatukan langkah membangun sinergi untuk kebaikan bangsa. Jati diri nusantara ini adalah merah putih. Orang-orang beriman hendaknya menggali khazanah dalam tuntunan kitabullah Alquran untuk dapat menggali nilai-nilai merah putih. Nilai-nilai merah putih itu sebenarnya merupakan perwujudan nilai-nilai kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dalam bentuk terapan nyata bagi hamba Allah.
Untuk memahami nilai-nilai merah putih, setiap muslim hendaknya berpegang kepada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tidak membuat suatu pemahaman atau amal-amal dengan meninggalkan tuntunan tersebut. Seandainya belum memahami nilai-nilai dari merah putih, mereka tidak akan terlepas dari Al-jamaah karena tetap mengikuti tuntunan kitabullah. Apabila mulai memahami nilai-nilai merah putih, hendaknya seseorang berusaha membantu agar nilai-nilai itu dapat tersebar luas dan dihayati oleh sebanyak mungkin umat manusia. Apabila mereka membantah kebenaran-kebenaran yang disampaikan kepada mereka, mereka akan terlepas dari al-jamaah sekalipun tetap menggunakan nama Islam untuk identitas diri. Kenyataannya, kaum muslimin atau mukminin justru membuat harta simpanan putih itu kehilangan pijakan maka hendaknya setiap orang tidak berkeras kepala dengan kebenaran versi mereka sendiri. Setiap muslim hendaknya berusaha dapat mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar