Pencarian

Kamis, 31 Oktober 2024

Mengikuti Petunjuk Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah menempatkan manusia di alam bumi untuk dijadikan sebagai khalifah-Nya. Walaupun ditempatkan di alam bumi, pada awalnya manusia diciptakan di surga. Sebenarnya setiap manusia merupakan makhluk bumi yang mempunyai ingatan tentang musyahadah terhadap rabb-nya dan juga kehidupan di alam surga, akan tetapi bagi kebanyakan manusia semua itu terkubur dengan kehidupan di alam bumi. Bila manusia bertaubat, maka ia akan mulai dapat merasakan atau mengingat pengajaran yang telah terpendam itu. Manakala seseorang dapat mengingat kembali apa yang tersimpan di dalam dirinya, ia akan mulai mengerti fungsi khalifah yang diembankan kepada dirinya.

Kehidupan di bumi sangat berbeda dengan di surga. Manusia hidup di bumi dengan dorongan untuk bermusuhan antara satu dengan yang lain, sedangkan di surga setiap makhluk menyayangi satu dengan yang lain. Sebagian makhluk surga mempunyai pengetahuan yang salah, tetapi pada dasarnya ada rasa sayang di antara mereka. Iblis pada dasarnya dahulu menyayangi manusia, akan tetapi ia mempunyai kesombongan maka muncul kedengkian atas manusia karena kedudukan yang diberikan Allah maka ia menjadi memusuhi manusia. Di bumi, manusia akan didorong untuk bermusuhan satu dengan yang lain, baik karena tabiat duniawi manusia ataupun karena dorongan syaitan agar manusia bermusuhan.

﴾۳۲۱﴿قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara. (QS Thaahaa : 123)

Untuk mengingat kembali amanat Allah kepada manusia sebagai khalifah-Nya, seseorang perlu mengikuti petunjuk yang datang dari Allah. Pada bentuk dasarnya, petunjuk itu berupa petunjuk yang menghindarkan manusia dari rasa permusuhan di antara mereka, dan petunjuk Allah itu akan mengantarkan manusia untuk dapat memahami kehendak Allah. Tidak ada petunjuk dari Allah yang memecah-belah manusia. Contoh petunjuk Allah yang mengarahkan manusia menghindari permusuhan adalah petunjuk perjodohan sebagai petunjuk pendahuluan untuk membentuk bayt dalam rangka meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Suatu bayt merupakan penyatuan antara laki-laki dan perempuan dalam ibadah kepada Allah, maka petunjuk yang mengarah pada terbentuknya bayt merupakan petunjuk Allah yang paling nyata.

Suatu petunjuk harus disikapi dengan sebaik-baiknya. Kadangkala seseorang menerima suatu petunjuk tetapi tidak mengerti kebenaran petunjuknya. Hendaknya ia menimbang kebenaran dari arah petunjuk itu, yaitu menghindarkan manusia dari permusuhan dan menyatukan manusia dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bila suatu petunjuk atau perintah yang diterima seseorang jelas mengarahkan manusia untuk bermusuhan atau berpecah-belah, maka petunjuk itu jelas bukan petunjuk Allah dan mungkin merupakan petunjuk syaitan. Dalam banyak hal, suatu petunjuk seringkali diterima seseorang dalam keadaan tidak bersih. Misalnya petunjuk jodoh seringkali bukan benar-benar petunjuk tetapi hamburan dari syahwat dan hawa nafsu. Meskipun arahnya menuju penyatuan, tetapi mungkin saja syaitan berkepentingan memberi petunjuk seseorang untuk memisahkan orang lain dari jodoh yang sebenarnya, dan syaitan melakukan itu dengan memanfaatkan syahwa dan hawa nafsu seseorang. Setiap petunjuk harus diperhatikan kebenarannya, dan kemudian diikuti bila benar.

Setiap orang harus berusaha mengikuti petunjuk Allah yang diterimanya, yaitu manakala petunjuk itu telah dipahami kebenarannya. Petunjuk yang belum dipahami tidak termasuk dalam petunjuk yang harus diikuti, dan seseorang tidak perlu tergesa-gesa untuk mengikutinya. Manakala suatu petunjuk mengarah pada persaudaraan di antara manusia, seseorang harus berusaha sungguh-sungguh untuk memahami petunjuknya secara adil, tidak memaksakan kebenaran petunjuknya. Kadangkala suatu petunjuk menjadikan seseorang berhamburan hawa nafsunya, menghisab diri secara berlebihan karena petunjuk yang datang. Keadaan demikian tidak termasuk dalam kategori memahami petunjuk, hingga ia merasa tenang dan mengetahui secara tepat makna petunjuknya. Kebenaran dari suatu petunjuk akan mengarah pada pemahaman tertentu terhadap firman Allah dalam kitabullah Alquran. Manakala pemahaman demikian telah terbit, maka seseorang wajib untuk mengikuti petunjuknya, karena itu merupakan petunjuk yang datang dari Allah.

Orang yang mengikuti petunjuk yang datang dari Allah tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara. Kewajiban mengikuti itu tiba manakala jelas bahwa petunjuk itu datang dari Allah, dan tidak gugur karena suatu keterpaksaan. Suatu kelemahan tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang untuk tidak mengikuti petunjuk Allah. Seandainya seseorang harus mati karena mengikuti petunjuk Allah, maka hal itu harus dilakukan dan ia akan termasuk sebagai seorang syahid. Seandainya seseorang tidak mampu melaksanakan petunjuknya karena suatu halangan, maka ia akan hidup dalam kesengsaraan. Kadangkala seseorang kesulitan mengikuti petunjuk karena halangan yang dibuatnya sendiri, maka hal itu menunjukkan kurang bersyukur terhadap nikmat Allah dan ia akan mudah terjatuh pada suatu kekufuran terhadap nikmat Allah. Kadangkala seseorang mengalami kesulitan karena halangan dari orang lain, maka seandainya ia mampu ia harus meruntuhkan halangan itu dan seandainya tidak mampu ia harus menahan kesengsaraannya sendiri, dan mungkin mendatangkan kesengsaraan pula pada kaumnya. Jika ia menghindar dari petunjuknya dan memilih jalan yang lain, ia akan tersesat jalannya.

Tabah Menghadapi Halangan

Dalam keadaan sesulit apapun, seseorang tidak boleh berpaling dari petunjuk Allah atau pengajaran Allah. Keberpalingan seseorang terhadap pengajaran Allah akan mendatangkan kehiduan yang sempit dan kelak akan dihimpunkan dalam keadaan buta.

﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaahaa : 124)

Berpaling menunjuk pada perbuatan memilih mengikuti hal lain dengan meninggalkan petunjuk Allah. Seseorang mungkin saja tidak dapat mengikuti petunjuk Allah tetapi sebenarnya tidak berpaling dari petunjuk-Nya. Mungkin akan banyak halangan yang datang ketika seseorang ingin mengikuti petunjuk Allah, dan halangan itu mungkin sangat sulit dilampaui. Misalnya seseorang mungkin tidak akan bisa mengikuti suatu petunjuk jodoh yang benar manakala pihak lainnya tidak bersedia untuk menjalani, maka ia akan terhalang mengikuti petunjuk. Halangan demikian tidak dapat dilampaui seseorang walaupun ia siap mati untuk mengikuti petunjuk. Kadangkala suatu petunjuk dijadikan syaitan sebagai alat untuk merusak keadaan seseorang hingga ia benar-benar terhalang untuk mengikuti petunjuk.

Kesempitan ditetapkan Allah bagi orang yang tidak mengikuti petunjuk. Kadang seseorang yang tidak dapat mengikuti petunjuk menemukan suatu kesempatan untuk terhindar dari kesempitan yang menimpa. Tidak masalah bila seseorang memilih untuk menanggung kesempitannya hingga terbuka jalan untuk mengikuti petunjuk. Kesempitan-kesempitan yang ia tanggung merupakan kesempitan yang telah ditetapkan Allah hingga ia dapat mentaati petunjuk, bukan suatu dosa. Seseorang yang memperoleh petunjuk tidak boleh memilih keinginan sendiri dibanding petunjuk Allah. Ia mungkin harus menanggung perkataan orang lain terkait pilihan itu. Mungkin seseorang merasa bisa memanfaatkan kesempatan itu sebagai sarana pengantar untuk dapat melaksanakan petunjuknya, tetapi hal itu berpotensi melalaikannya dari petunjuk. Hendaknya ia tidak melupakan petunjuk yang belum dia laksanakan. Bila menempuh kesempatan itu tanpa suatu keyakinan yang kuat bahwa yang dilakukan akan menjadi sarana untuk dapat melaksanakan petunjuk, keinginan untuk mengikuti petunjuk seringkali menimbulkan perasaan terikat pada petunjuk hingga kesempatan yang datang itu tidak dapat dimanfaatkan dengan baik, maka kesempitan itu tidak beranjak dari dirinya. Kesempitan itu akan pergi jika ia mendustakan petunjuk Allah, tetapi kesempitan itu akan dipindahkan sepenuhnya ke alam barzakh dan seterusnya.

Di sisi lain, kadangkala suatu kaum harus berusaha menyadari bahwa mereka mungkin saja membuat kehidupan seseorang menjadi sempit karena tidak dapat mengikuti petunjuk Allah. Seringkali orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat keihsananan. Manakala suatu kaum tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan mudah menyangka bahwa mereka berbuat keihsanan manakala menghalangi orang-orang dari jalan Allah. Syaitan akan menimbulkan pula suatu kekejian yang melemahkan akal mereka dalam mengikuti tuntunan Allah dan membalik-balik pemahaman umat terhadap kebenaran. Boleh jadi suatu petunjuk dikatakan sebagai kesesatan dan suatu kesesatan dipandang sebagai petunjuk. Suatu keihsanan mempunyai tolok ukur yang jelas yaitu tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kedua tuntunan ini tidak dapat digantikan dengan pendapat atau persepsi indera seseorang atau suatu kaum sekalipun. Orang yang lebih mengikuti tuntunan Allah berarti lebih ihsan dibanding orang yang berbuat bertentangan dengan keduanya.

Suatu halangan mengikuti petunjuk yang timbul dari kelalaian umat kadangkala bisa sedemikian rumit sehingga bertindak mengikuti petunjuk tampak akan menyebabkan permusuhan, sedangkan bila tidak diikuti akan menyebabkan kesempitan. Hal demikian benar-benar bisa terjadi karena halangan yang dibuat tanpa sedikitpun menunjukkan indikasi bahwa petunjuknya salah. Misalnya bila suatu petunjuk ta’addud dijadikan oleh pihak tertentu sebagai bahan merusak hubungan, boleh jadi setiap pihak terkait petunjuk menjadi saling bermusuhan satu dengan yang lain. Langkah apapun yang ditempuh menjadi suatu masalah bagi salah satu pihak atau semuanya. Tidak mengikuti petunjuk mendatangkan kesempitan, sedangkan berusaha mengikuti petunjuk mendatangkan masalah dalam rumah tangga. Petunjuk yang merupakan langkah awal membentuk bayt sesuai kehendak Allah bisa saja justru dijadikan bahan permusuhan. Tidak terbatas pada petunjuk ta’addud, kerusakan semacam ini bisa terjadi pada setiap petunjuk yang mengarah pada persaudaraan. Syaitan bisa mengacaukan manusia bahkan dengan petunjuk yang benar. Hal ini mudah terjadi terutama pada kaum yang tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Halangan demikian akan berkurang potensinya apabila masyarakat mempunyai kesadaran yang baik dalam mengikuti petunjuk. Sebaliknya masalah akan menjadi sangat intensif apabila masyarakat permisif terhadap tipuan syaitan tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah. Kesulitan dalam mengikuti petunjuk akan mendatangkan kesengsaraan setidaknya untuk orang yang tidak dapat mengikutinya, dan mungkin pula akan menimpa masyarakat secara umum. Bila setiap orang menggunakan akal dengan sebaik-baiknya untuk memahami kebenaran, maka potensi untuk menghalangi manusia mengikuti petunjuk akan mengecil. Bila suatu kaum tidak menggunakan akalnya untuk memahami kebenaran, mereka akan mudah dan bermudah-mudah menghalangi manusia untuk mengikuti petunjuk. Tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW harus berusaha dipahami dengan tepat, tidak membuat-buat sendiri pemahaman secara menyimpang berdasar tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin saja ada pemahaman yang tidak benar-benar serupa, tetapi harus tetap bisa dihubungkan dengan tepat tanpa suatu pertentangan dengan tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Setiap orang hendaknya menggunakan akalnya untuk memahami ayat Allah dengan tepat agar tidak timbul kekacauan dalam mengikuti petunjuk Allah, tidak membuta dalam melangkah dan mengikuti perkataan manusia. Hal demikian berlaku disetiap tingkatan. Setiap isteri hendaknya tidak menghukumi suaminya berdasar perkataan orang lain. Ia harus mengetahui dengan akalnya sendiri keadaan suaminya, tidak mengada-adakan masalah dengan suaminya karena penghakiman orang lain. Kesalahan atau kebenaran dari suaminya harus diketahui oleh dirinya sendiri, bukan karena penghakiman orang lain. Perkataan orang lain bisa saja menjadi informasi suatu fakta tentang suaminya dan boleh didengarkan selama bukan suatu fitnah, tetapi penghakiman orang lain terhadap suami sama sekali tidak boleh diikuti. Demikian pula masyarakat tidak bermudah-mudah menghukumi seseorang karena suatu perkataan orang lain tanpa menimbang kebenarannya dengan cukup. Penghakiman seseorang atau suatu kaum terhadap seseorang hanya karena mengikuti perkataan manusia menunjukkan kurangnya penggunaan akal, dan hal itu akan menjadi sumber masalah dalam mengikuti petunjuk Allah.

Senin, 28 Oktober 2024

Meniti Jalan Tauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang yang bertaubat akan ditumbuhkan Allah sebagai pohon thayyibah hingga mereka dapat menghasilkan buah untuk diberikan kepada semesta mereka. Orang yang tidak bertaubat sebenarnya dapat diibaratkan layaknya bumi yang gersang tanpa suatu pohon yang tumbuh, dan manakala seseorang bertaubat maka Allah menurunkan air dari langit kepada bumi itu. Dengan air yang diturunkan dari langit maka tumbuhlah pohon thayibah yang ada pada diri seseorang.

﴾۳۳﴿وَآيَةٌ لَّهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ
Dan suatu ayat bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. (QS Yaasiin : 33)

Allah menciptakan bumi sebagai ujung alam penciptaan yang paling jauh dari sumber cahaya. Sangat banyak lapis-lapis penciptaan makhluk dari yang dekat dengan cahaya Allah hingga alam bumi yang paling gelap. Langit merupakan alam yang lebih dekat kepada Allah daripada kehidupan di bumi, dan sebenarnya kehidupan di bumi merupakan perpanjangan bentuk-bentuk kehidupan di langit. Kehidupan di bumi sebenarnya merupakan perpanjangan dari kehidupan di langit. Manakala kehidupan di bumi tidak terhubung pada langitnya, pada dasarnya makhluk bumi itu dekat pada kematian, kehidupan yang tidak mengetahui makna kehidupan.

Walaupun demikian, manusia seringkali tidak menyadari keadaan dirinya karena kuatnya cahaya Allah yang hadir dalam diri manusia, terutama dalam bentuk ruh, sehingga manusia melihat dirinya hidup sekalipun tidak terhubung dengan baik pada langitnya. Manakala ruh pergi, manusia mungkin baru akan menyadari bahwa dirinya selama ini tidak benar-benar hidup, hanya terkurung dalam jasmani yang dihidupkan. Bila seseorang bertaubat, mereka akan mengetahui bentuk kehidupan yang terhubung dengan kehidupan alam langit mereka sebagai kehidupan yang lebih hakiki daripada kehidupan jasmaniah. Tumbuhnya pengetahuan terhadap bentuk kehidupan hakiki ini merupakan pertumbuhan pohon thayyibah, dan hal ini dapat terjadi apabila seseorang menempuh jalan taubat. Sebagian besar manusia mengalami pertumbuhan pengetahuan hanya sesuai hawa nafsu. Pengetahuan itu tumbuh dari kehidupan dunia, menguat seiring dengan usia, kemudian menua seperti tumbuhan menguning dan mati manakala ruh-nya dipanggil kembali, maka ia akan menghadapi kehidupan baru yang mungkin sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentangnya di alam berikutnya. Orang yang bertaubat akan memahami percikan kehidupan langit sehingga ia mempunyai percikan atau pengetahuan yang kuat tentang kehidupan yang lebih hakiki.

Tumbuhnya seseorang melalui jalan taubat akan menjadikan seseorang dapat mengeluarkan buah atau biji-bijian, dan dengan biji-bijian itu manusia memperoleh makanan. Jalan taubat tidak hanya berupa penyesalan-penyesalan dosa. Penyesalan-penyesalan terhadap dosa merupakan bagian dari jalan taubat, tetapi taubat tidak hanya berisi penyesalan-penyesalan dosa. Suatu taubat yang benar seharusnya mengantarkan manusia untuk mempunyai pengetahuan terhadap ayat-ayat Allah hingga mereka tumbuh sebagai makhluk yang dapat mengeluarkan buah-buah dirinya dan memperoleh makanan dari buah-buah itu. Hal ini tidak berlaku untuk menghukumi bahwa orang miskin ada karena tidak cukup bertaubat. Kadangkala seorang yang bertaubat hingga pohon thayibah berbuah tidak dapat memperoleh makanan dari buah-buah yang dihasilkan karena keadaan umatnya tidak mau atau bisa menerima manfaat buah itu. Buah dari pohon thayibah tetaplah buah yang baik sekalipun tidak dihargai oleh umat manusia, dan akal umat yang tidak menghargai kebenaran itu harus ditumbuhkan hingga mengenal buah dari pohon thayibah.

Orang-orang yang tumbuh pohon thayyibahnya harus berusaha untuk menghubungkan alam bumi semesta mereka hingga terhubung ke langit, baik alam bumi dalam bentuk manusia-manusia yang harus terbina untuk mengenal kehidupan yang lebih hakiki, ataupun alam bumi dalam bentuk lingkungan hidup yang dikelola mengikuti ketetapan dari alam langit tidak rusak karena terpisah dengan tuntunan Allah. Ayat di atas tidak hanya berbicara tentang alam langit. Orang-orang yang bertaubat hendaknya memperhatikan bahwa ayat Allah terkait pula dengan kehidupan bumi, tidak boleh dimaknai hanya untuk kehidupan di langit. Ayat ini tidak hanya berbicara pada tingkatan bathin.

Menata Kehidupan Bumi

Allah telah menumbuhkan kehidupan di bumi, maka hendaknya umat manusia memperhatikan dengan sungguh-sungguh bentuk-bentuk kehidupan di alam bumi yang bermanfaat untuk mencukupi kehidupan diri mereka dan makhluk-makhluk lain secara seimbang. Ayat-ayat di atas sebenarnya tidak terbatas membahas tatanan alam langit saja, tetapi juga tatanan di bumi. Sumber-sumber makanan bagi umat manusia dan makhluk lain adalah tanaman-tanaman yang ditumbuhkan di bumi. Pengelolaan kehidupan di bumi dengan tepat dapat dilakukan dengan mengikuti tuntunan Allah. Banyak bentuk kehidupan di bumi yang membutuhkan pengelolaan kehidupan di bumi yang baik tidak hanya bentuk-bentuk jasmaniah kasar, tetapi ada pula makhluk-makhluk dari kalangan jin ataupun makhluk halus lain yang hidup di bumi. Setiap makhluk di bumi baik yang terlihat di alam kasar ataupun alam yang lebih halus membutuhkan pengelolaan kehidupan bumi yang baik, dengan bentuk kebutuhan yang berbeda.

Allah telah menumbuhkan kehidupan di bumi, dan manusia mempunyai kecenderungan merusak bentuk-bentuk kehidupan yang telah ditumbuhkan. Kehidupan singkat para manusia seringkali menjadikan mereka tidak memahami bahwa banyak makhluk yang berkepentingan terhadap bentuk kehidupan yang ditumbuhkan Allah di bumi, maka manusia berbuat tidak seimbang hanya berusaha memenuhi kebutuhan untuk kalangan mereka saja. Mereka tidak mengetahui dampak buruk yang dilakukannya karena singkatnya usia mereka dibandingkan makhluk lain. Rusaknya keseimbangan sebenarnya mendatangkan banyak madlarat. Misalnya banyak badan air dewasa ini menjadi berkurang airnya dan mengering pada masa kemarau dan banjir pada saat hujan karena ketidakseimbangan dalam mengelola apa-apa yang ditumbuhkan Allah.

Bumi menjadi hidup dengan tumbuhnya pohon. Hal itu menunjukkan pada fungsi aktif pohon bagi bumi. Bumi menjadi hidup dalam menyediakan air bagi para penghuninya karena pohon yang tumbuh di atasnya. Allah menjadikan mata air di bumi terkait dengan terbentuknya kebun-kebun (jannah). Kebun-kebun dalam ayat ini bukan semakna dengan kebun yang dibentuk manusia dari tanaman sejenis, tetapi menunjukkan kumpulan dari berbagai macam pohon yang ada pada suatu wilayah tertentu. Mata air–mata air terbentuk melalui terbentuknya kebun-kebun. Adanya mata air-mata air di bumi merupakan salah satu wujud dari kehidupan yang diberikan kepada bumi.

﴾۴۳﴿وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ
Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya mata air - mata air (QS Yaasiin : 34)

Di alam bumi, pohon secara hidrologis berfungsi secara aktif sebagai pengatur ketersediaan air, termasuk di antaranya memunculkan mata air–mata air. Ketika musim hujan tiba, pohon secara aktif menghisap air yang turun dari langit membasahi tanah di tempatnya hingga air itu banyak yang masuk ke dalam jaringan tubuh tumbuhan itu dan tanaman itu menahan air yang dihisap. Air hujan yang membasahi tanah tidak mengalir begitu saja di permukaan bumi hingga menyebabkan banjir. Ketika musim kemarau tiba, manakala tingkat kelembaban tanah di tempat pohon itu berkurang, pohon melepaskan air yang ditahan dalam jaringan tubuhnya secara perlahan sesuai dengan perbedaan tekanan air antara kelembaban tanah dan tekanan air dalam jaringan tubuh tumbuhan. Dengan demikian, akan terdapat sumber air bagi tanah yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang menyediakan sumber air pada masa kering. Pohon merupakan agen yang secara aktif memberikan ketersediaan air bagi kehidupan di bumi.

Jenis pohon di bumi sangatlah banyak. Sebagian pohon mempunyai perakaran yang sangat dalam dan tahan terhadap kekeringan, sebagian pohon mempunyai akar dangkal dan mempunyai kemampuan menghisap air dalam jumlah besar dibandingkan massa tubuhnya tetapi harus hidup di tempat yang teduh. Sebagian pohon menyerap air dalam jumlah besar dan menguapkannya ke udara lepas karena hidup pada dataran yang sering tertutup salju. Sangat banyak jenis pohon yang tidak dapat disebutkan satu demi satu. Keragaman jenis pohon pada suatu wilayah akan menyediakan pola ketersediaan air bagi lingkungan secara bervariasi. Allah memberikan contoh dipancarkannya mata air mata air dari kebun-kebun kurma dan kebun-kebun anggur.

Orang beriman hendaknya mencari pengetahuan tentang bentuk-bentuk kehidupan yang ditumbuhkan Allah di bumi untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam mengelola kehidupan di bumi agar memperoleh bentuk kehidupan jasmaniah yang baik. Investigasi palynologis misalnya, orang beriman hendaknya melakukan penelitian dan investigasi sejarah tumbuhan di suatu wilayah untuk memperoleh gambaran bentuk kehidupan yang baik untuk ditumbuhkan pada wilayah yang ditentukan. Investigasi palinologis dengan analisa spora dan serbuk sari tumbuhan yang tersebar pada suatu wilayah yang mencakup masa yang panjang dapat menunjang umat untuk memahami ayat Allah sebagaimana tersebut di atas. Tanpa suatu upaya konkret di tingkatan jasmaniah, bentuk kehidupan jasmaniah yang ditumbuhkan Allah di bumi akan sulit diketahui dan bentuk kombinasi tanaman yang baik sulit untuk dapat dirumuskan secara tepat.

Upaya memahami ayat Allah demikian harus dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mengungkap setiap detail ayat Allah yang ditemukan. Kadangkala suatu kaum melakukan suatu usaha tanpa suatu perhatian yang mencukupi, maka jalan Allah yang terdapat pada suatu ayat yang mereka perhatikan tidak terungkap. Suatu investigasi palinologis misalnya, bila dilakukan hanya satu langkah saja tanpa suatu kajian lebih lanjut terhadap hasil investigasi tidak akan bisa membuka makna ayat Allah yang terkait dengan investigasi itu. Demikian pula metode-metode terkait ayat-ayat lain harus dilakukan dan dilakukan hingga terbentuk hubungan antara satu ayat dengan ayat lain, maka jalan itu akan terbuka bagi orang beriman. Ayat-ayat tersebut di atas tentu tidak berdiri sendiri, mempunyai hubungan dengan siklus matahari, bulan bintang dan hal-hal lain yang terkait dengan lingkungan. Keseluruhan ayat Allah tentang alam semesta hendaknya diperhatikan untuk mengelola kehidupan bumi dengan lebih baik.

Kadangkala suatu jalan untuk memperoleh jalan Allah di bumi diperoleh melalui kesatuan antara beberapa ayat. Makna dari hubungan-hubungan satu ayat dengan ayat lain seringkali bersifat personal, satu orang mengetahui maknanya dalam pengetahuan yang beragam tanpa menyimpang dari bunyi ayat-ayatnya. Misalnya ayat tentang hidupnya bumi terkait pula dengan keberpasangan di antara banyak hal, maka jalan penghidupan itu juga muncul dari keberpasangan-keberpasangan. Sebagian orang akan memperoleh manfaat yang banyak dengan memperhatikan keberpasangan dirinya, dan sebagian lagi mungkin saja memperoleh manfaat yang banyak dengan memperhatikan keberpasangan objek-objek yang mereka perhatikan. Dari masing-masing sudut pandang akan diperoleh manfaat yang berbeda-beda tanpa menyimpang dari firman Allah.

Ayat Allah berbicara tentang ketersediaan air berdasarkan jenis-jenis pohon. Secara tersirat, ayat ini seharusnya menjadi dasar memahami kesetimbangan ketersediaan air. Dewasa ini seringkali manusia mengelola bumi dari sudut pandang memanfaatkan tidak dengan sudut pandang keseimbangan. Penelitian dan pengelolaan sumberdaya air seringkali dilakukan dengan tujuan menentukan cara memanfaatkan saja, tidak merumuskan kesetimbangan sumber daya air. Upaya demikian tidak sepenuhnya menjadikan seseorang dapat memahami ayat di atas. Untuk memahami ayat Allah di atas, upaya yang dilakukan seharusnya mempelajari kesetimbangan ketersediaan air di kebun terkait dengan jenis-jenis pohon yang ada pada wilayah tersebut, dan pemanfaatan sumber daya air dilakukan berdasarkan kesetimbangan ketersediaan air. Pengukuran-pengukuran harus dibuat sedemikian hingga data yang diperoleh mewakili pola ketersediaan air di suatu wilayah terkait dengan vegetasi yang tumbuh. Pola pemanfaatan air harus dirumuskan sebagai turunan berdasarkan keadaan wilayah, tidak melupakan penelitian utamanya yaitu hubungan ketersediaan air dengan vegetasi yang tumbuh.



Jumat, 25 Oktober 2024

Luasnya Karunia Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Perjalanan taubat kembali kepada Allah akan mendatangkan ampunan (maghfirah) dan mendatangkan keutamaan (fadhilah) dari sisi Allah. Allah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya ampunan dan keutamaan (fadhilah) bagi hamba-hamba-Nya. Dengan fadhilah yang diterima para hamba, mereka akan mengetahui bahwa Allah Maha Luas dalam memberikan karunia kepada makhluk dan Maha mengetahui.

﴾۸۶۲﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
﴾۹۶۲﴿يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُوا الْأَلْبَابِ
(268) Syaitan menjanjikan kamu kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kekejian; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan keutamaan (fadhillah). Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (269) Allah menganugerahkan al hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya ulul albab-lah yang dapat mengambil pelajaran. (QS Al-Baqarah : 268-269)

Pengetahuan tentang luasnya karunia Allah merupakan jalan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang tampak di muka bumi. Kehidupan di bumi pada dasarnya masih dikuasakan kepada Iblis, maka kehidupan di bumi tampak penuh dengan kesulitan-kesulitan. Tentu kuasa yang diberikan itu bukan kekuasaan pada semua aspek, mempunyai batasan-batasan tertentu. Kekuasaan iblis atas kehidupan bumi pada dasarnya ditentukan terbatas hingga hari agama, sedangkan iblis meminta penangguhan hingga hari berbangkit. Hal ini jarang disadari oleh manusia. Manakala kehidupan di bumi terlihat sulit, mereka tidak melihat bahwa syaitan sebenarnya mempunyai peran dalam menjadikan kehidupan di bumi terlihat sulit.

Takut Kekurangan dan Kekejian

Syaitan mengurus bumi dengan cara sedemikian hingga manusia menjalani kehidupan dengan ketakutan terhadap kekurangan dan menjadikan umat manusia menempuh jalan-jalan yang keji. Tanpa suatu keimanan, manusia akan selalu merasa takut terjatuh pada kekurangan. Sebagian orang beriman berusaha untuk tidak merasa takut terhadap kekurangan atau menyingkirkan rasa takut mereka hingga tidak mengganggu. Mungkin ada rasa takut kekurangan, tetapi terbangun pula rasa tawakkal kepada Allah hingga ketakutan itu menipis atau tidak terasa. Sebagian orang beriman memperoleh ampunan dan fadhillah dari sisi Allah, maka mereka melihat bahwa karunia Allah sangat luas, maka mereka tidak merasa ada kesulitan di bumi yang datang dari sisi Allah. Hal ini tidak menunjukkan bahwa mereka tidak mengalami kesulitan, tetapi dalam pandangan mereka kesulitan-kesulitan dalam kehidupan di bumi muncul karena cara syaitan dalam mengatur kehidupan manusia.

Rasa takut terhadap kekurangan akan menjadikan manusia sulit untuk memahami masalah dan bertindak dengan benar. Pemakmuran bumi yang sebnenarnya harus dilakukan dengan membuka pintu-pintu berkah dari langit dan bumi untuk dialirkan ke alam bumi. Hal ini seharusnya dilakukan oleh orang-orang beriman. Bagi orang-orang secara umum, pemakmuran harus dilakukan dengan membuat langkah-langkah yang tepat dengan didukung kemampuan untuk menanggung beban. Apabila seseorang merasa takut terhadap kekurangan, kemampuan mereka untuk melakukan amal yang paling bermanfaat bagi masyarakat akan berkurang atau hilang. Mereka hanya akan berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang paling mendatangkan keuntungan bagi diri mereka sendiri bukan berdasar manfaat terbaik bagi umat. Manakala menjadi pemimpin, mereka membuat keputusan-keputusan yang merugikan masyarakat hanya untuk mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya bagi diri mereka seolah-olah mereka akan hidup abadi di dunia.

Tatanan masyarakat akan rusak manakala pimpinan-pimpinan yang mengurus umat diangkat dari kalangan manusia yang ingin memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya bagi mereka dan kelompok mereka. Akan terbentuk pemisahan antara orang-orang kaya dan miskin, dan orang-orang kaya akan semakin menjadi kaya dan orang miskin semakin tertindas dengan perbuatan-perbuatan orang-orang kaya. Orang-orang kaya membentuk jaringan kekuasaan yang mempertahankan kekuasaan mereka tanpa perhatian yang memadai terhadap kepentingan orang-orang lemah di antara mereka. Tidak jarang para pimpinan demikian menggunakan cara mempertakuti orang-orang miskin di antara mereka dengan kemiskinan yang bertambah, misalnya hilangnya program bantuan sosial dan lainnya. Tanpa suatu iktikad jahat, perasaan takut kekurangan akan menjadikan manusia bertindak tidak adil. Seringkali rasa takut kekurangan itu disertai dengan iktikad kurang baik sehingga amal-amal di masyarakat menjadi sangat buruk. Rasa takut kekurangan sangat berdekatan dengan kekejian.

Kekejian merupakan jalan syaitan yang lain dalam memerintahkan manusia, menunjukkan penyimpangan langkah yang ditempuh seseorang terhadap tuntunan yang seharusnya. Ada jarak yang sangat jauh tidak terkira antara hamba dengan rabb-nya, dan setiap hamba harus mendekat kepada rabb-nya melalui jalan yang ditentukan. Jalan seorang hamba untuk mendekat kepada rabb-nya harus dilakukan dengan menempuh jalan dan sarana yang ditentukan. Jalan itu dalam bentuk sempurna dapat dilihat dalam sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak orang yang menempuh jalan kepada rabb-nya walaupun tidak sesempurna Rasulullah SAW, dan Allah memperkenalkan dirinya dengan menurunkan tajalli-Nya, sebagaimana nabi Musa a.s di lembah suci Thuwa. Hal yang penting diperhatikan dalam menempuh jalan kepada Allah adalah hendaknya ia tidak menyimpang dari sunnah Rasulullah SAW. Penyimpangan langkah dalam menempuh jalan taubat merupakan kekejian. Demikian pula memilih sarana pengabdian secara menyimpang merupakan kekejian, sebagaimana kekejian seorang isteri yang menyimpang dari pengabdian kepada suaminya. Seseorang yang mengabdi kepada syaitan berarti telah melakukan kekejian.

Terkait dengan kesulitan dalam kehidupan di bumi, suatu kekejian membuat tatanan kehidupan menjadi rusak hingga manusia akan mengalami kesulitan untuk melakukan pemakmuran bumi. Terjadinya kekejian akan sangat menghambat proses mengalirnya khazanah dari sisi Allah untuk terwujud di alam bumi. Misalnya suatu pembacaan ayat kitabullah dan ayat kauniyah seharusnya menumbuhkan banyak pengetahuan pada akal orang-orang beriman hingga mereka dapat merumuskan tindakan-tindakan yang dibutuhkan secara tepat. Suatu kekejian akan menjadikan pengetahuan yang tumbuh di antara mereka menyimpang sehingga amal-amal yang terwujud tidak sesuai dengan tuntunan kitabullah. Kadangkala suatu kekejian membuat akal suatu kaum tidak peka terhadap kebenaran maka petunjuk-petunjuk Allah tidak dipahami. Ketidakpekaan akal ataupun penyimpangan dari tuntunan akan menimbulkan kesulitan dalam mewujudkan petunjuk Allah di alam dunia. Suatu pemahaman dalam akal seorang laki-laki mestinya dapat terealisasi di alam bumi dengan baik, akan tetapi suatu kekejian dalam rumah tangga akan menyebabkan usaha mewujudkan pemahaman itu menjadi sulit dilakukan.

Untuk mewujudkan tatanan manusia yang baik dan menjauhkan manusia dari tatanan syaitan, setiap kaum harus menghindarkan manusia dari rasa takut kekurangan dan menghindarkan manusia dari kekejian. Hal itu dapat dilakukan dengan berusaha memperkenalkan luasnya karuni Allah. Luasnya karunia Allah akan diketahui oleh orang-orang yang memperoleh ampunan dan fadhilah dari sisi Allah. Keinginan untuk memperoleh ampunan Allah dan memperoleh fadhilah dari sisi Allah harus tumbuh pada setiap diri manusia, maka mereka akan tahan terhadap upaya syaitan mempertakuti manusia dengan kekurangan dan memerintahkan mereka untuk berbuat kekejian. Rasa takut untuk mengalami kekurangan akan memudahkan syaitan untuk mengatur manusia berbuat kekejian, tetapi kekejian terjadi tidak hanya didorong dengan takut kekurangan. Sifat alamiah penciptaan manusia dari bumi dan hawa nafsunya menjadi media syaitan untuk mendorong manusia melakukan perbuatan keji.

Fadhilah dari sisi Allah akan menjadikan seseorang mengetahui jalan-jalan yang harus dilakukan dalam mengurus umat manusia memakmurkan bumi. Orang-orang yang memperoleh ampunan dan fadhilah dari sisi Allah berkewajiban untuk menjadi musuh syaitan dalam mengurus manusia dengan berusaha memperkenalkan manusia terhadap luasnya karunia Allah, menyeru manusia untuk memperoleh maghfirah dan fadhilah dari sisi Allah, menghindarkan manusia dari kekejian dan mengentaskan manusia dari rasa takut terhadap kekurangan. Barangkali pengetahuan seseorang dari fadhilahnya untuk tugas di atas tidak serta merta luas dan jelas. hal demikian tidak perlu dijadikan hambatan dalam berusaha. Keterbatasan pengetahuan pada diri seseorang akan semakin meluas seiring waktu, dan sangat banyak pengetahuan lain yang seharusnya dijalani bersama dalam al-jamaah. Yang penting diperhatikan dalam mengurus manusia adalah kebenaran dari pengetahuan-pengetahuan yang terbuka. Bila pengetahuan yang diperoleh keliru, upaya itu bisa justru berbahaya bagi umat.

Besarnya nilai manfaat yang akan diperoleh akan selaras dengan keberjamaahan. Satu orang yang memperoleh fadhilah dari sisi Allah tidak akan dapat merealisasikan khazanah dari sisi Allah sedikitpun manakala tidak disertai dengan seorang istri yang menyertai langkahnya. Demikian pula satu pasangan yang berusaha merealisasikan fadhilah dari sisi Allah akan semakin banyak menghasilkan nilai manfaat apabila ia memperoleh tempat di antara umat dalam menunaikan nilai manfaat dirinya. Manakala ada shahabat yang memperoleh fadhilah, mereka akan semakin besar memberikan nilai manfaat kepada umat secara bersama-sama dalam al-jamaah. Demikian nilai manfaat itu akan diperoleh selaras dengan tingkat keberjamaahan. Upaya ini akan menjadi rusak manakala suatu kekejian memasuki tatanan di antara masyarakat hingga usaha ini tampak tanpa hasil.

Infaq di Jalan Allah

Di antara peran yang harus dijalankan oleh setiap orang beriman bagi orang lain adalah memberikan infaq (belanja) di jalan Allah. Infaq menunjukkan perbuatan melepaskan bagian dari harta benda untuk memenuhi suatu kebutuhan. Tujuan dari melakukan infaq adalah memberikan suatu bagian pembiayaan terhadap suatu perjuangan. Infaq berbeda dengan shadaqah atau zakat, walaupun dalam sebagaian bentuk dzahirnya mungkin tampak serupa yaitu manakala seseorang memberikan infaq untuk memenuhi kebutuhan orang yang berjihad untuk agama. Seseorang yang berjihad di jalan Allah berhak untuk memperoleh bagian dari infaq, dan tidak selayaknya diberi shadaqah atau zakat.

﴾۷۶۲﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (QS Al-Baqarah : 267)

Kedudukan infaq lebih utama daripada shadaqah dan zakat. Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk menghilangkan kotoran dalam harta mereka. Setiap yang kotor hendaknya dibersihkan dari harta orang beriman melalui zakat, dan dalam setiap harta yang telah mencapai nishab terdapat bagian yang harus dizakati. Dengan zakat, umat islam dapat hidup dengan harta yang bersih. Shadaqah merupakan sikap pembenaran yang harus dilakukan oleh orang-orang beriman terhadap kebaikan. Senyum merupakan kebaikan yang bisa menjadi shadaqah, layaknya memberikan bagian harta kepada orang lain untuk dimanfaatkan dalam kebaikan bisa menjadi shadaqah. Suatu shadaqah merupakan sikap yang perlu dilakukan setiap muslim untuk mengikuti kebenaran. Infaq merupakan bentuk pembiayaan yang dilakukan orang beriman terhadap program jihad yang harus dilakukan.

Orang-orang beriman hendaknya berusaha menemukan jalan yang terbaik untuk melakukan infaq sedemikian infaqnya benar-benar akan dibelanjakan untuk berjihad di jalan Allah. Setiap orang seharusnya memperhatikan infaqnya dan bagian harta yang digunakan untuk infaq. Infaq hendaknya diberikan dari bagian terbaik dari harta-harta orang beriman. Berinfaq bagi perjuangan di jalan Allah harus dijadikan sebagai tujuan oleh setiap orang beriman dalam mencari harta, sedemikian setiap orang beriman hendaknya mengetahui jalannya untuk berinfaq, mengetahui infaqnya benar-benar digunakan secara tepat untuk perjuangan di jalan Allah, dan mengetahui bagian-bagian terbaik dari hartanya untuk diberikan sebagai infaq. Pengetahuan seseorang tentang infaqnya akan mengantarkan dirinya untuk ikut serta di jalan Allah.

Pada zaman Rasulullah SAW, semua infaq akan diterima Rasulullah SAW untuk jihad fi sabilillah. Keadaan pada zaman ini sedikit berbeda di mana umat islam tidak menemukan pemimpin tunggal yang dapat menentukan penggunaan infaq. Hal ini hendaknya tidak menyurutkan keinginan untuk memperoleh jalan terbaik untuk berinfaq. Orang-orang yang memperoleh maghfirah dan fadhilah dari sisi Allah termasuk bagian dari orang-orang yang mengetahui cara penggunaan infaq di jalan Allah. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang jalan keluar dari masalah dunia akibat jeratan dan tipuan syaitan, dan mempunyai pengetahuan tentang luasnya karunia Allah. Barangkali mereka tidak berhasil untuk merealisasikan pengetahuan itu dengan segala persoalan yang menimpa mereka, tetapi mereka mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Mereka membutuhkan infaq bukan untuk mengumpulkan harta, tetapi untuk melaksanakan urusan Allah. Mereka bukan orang-orang yang tertipu oleh syaitan yang mempertakuti manusia dengan kekurangan, dan tidak tertipu pula dengan kekejian yang diajarkan oleh syaitan.

Kekejian merupakan faktor utama yang menggagalkan usaha orang-orang yang memperoleh maghfiran dan fadhilah dari sisi Allah untuk memberikan nilai manfaatnya bagi umat mereka. Suatu kaum yang mengikuti kekejian dalam mengikuti tuntunan Allah akan sulit untuk memahami kebenaran sebagaimana mestinya. Mereka mengikuti waham kebenaran yang menutupi pandangan terhadap kebenaran dari sisi Allah. Orang-orang yang mengetahui luasnya karunia Allah barangkali tidak akan dipercaya oleh kaum mereka atau bahkan oleh keluarga mereka yang mengikuti kekejian hingga mereka mungkin saja sama sekali tidak bisa memberikan nilai manfaat kepada umatnya. Untuk merumuskan infaq di jalan Allah dengan keluarganya saja mungkin mereka tidak berhasil, apalagi membicarakan dengan umatnya. Bila suatu kekejian telah menghunjam hingga keluarganya, seseorang yang memperoleh fadhillah Allah akan kesulitan memberikan nilai manfaatnya kepada umatnya.

Infaq tidak selalu diwujudkan dengan memberikan harta kepada orang lain. Manakala seseorang menemukan jalan Allah yang harus mereka tempuh, mereka bisa membelanjakan harta mereka sendiri sebagai infaq di jalan Allah. Bahkan mereka bisa menerima infaq dari orang lain baik untuk berjihad di jalan Allah dan untuk memenuhi kebutuhan yang mencukupi mereka sendiri. Berikutnya, tidak sewajarnya bagi mukmin untuk meninggalkan orang dekatnya yang membutuhkan infaq untuk berjuang di jalan Allah menyumbangkan manfaat dirinya, dan tidak sewajarnya justru mencari penerima infaq dari kalangan orang asing. Setiap orang hendaknya memperhatikan orang dekatnya terlebih dahulu untuk berinfaq, bukan memberi infaq untuk orang-orang yang asing. Ada ketentuan bagi orang yang menerima fadhilah, manakala mereka menemukan imam untuk ruang dan jamannya, ia harus berusaha untuk menjadi bagian dari jihad imamnya, dan pengelolaan infaq dilakukan secara terintegrasi dengan imamnya.

Suatu infaq akan tumbuh subur manakala dikelola dengan baik oleh orang yang tepat. Pengelola infaq yang utama adalah orang yang memperoleh ampunan dan fadhilah dari sisi Allah, di mana mereka mempunyai pengetahuan tentang luasnya karunia Allah bagi umat manusia, dan mereka akan mengarahkan penggunaan infaq untuk program-program yang tepat. Pengelolaan infaq tidak sama dengan mengelola zakat, dimana orang-orang yang berhak untuk menerima zakat telah ditentukan secara syariat. Pengelolaan infaq kurang baik bila dilakukan oleh orang-orang yang sekadar mencari amal atau kehidupan dengan mengelola infaq, kecuali dalam membantu pengelolaannya. Infaq diberikan kepada orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan program-program yang harus dilaksanakan untuk membuka karunia Allah. Dalam al-jamaah, pengelolaan infaq dilakukan secara terintegrasi dan masing-masing ulul amri memperoleh anggaran sesuai dengan program yang dilaksanakan, dan orang-orang yang membantu ulul amr harus membantu merumuskan program-program yang paling baik.

Infaq hendaknya tidak dilakukan secara boros misalnya membiayai program-program yang tidak terlihat manfaatnya, tidak jelas hasil yang akan dicapai atau tidak jelas metode untuk mencapai tujuannya. Bila demikian, infaq tidak akan mendatangkan kemakmuran. Kadang pemborosan terjadi karena usaha yang berlebihan pada satu program hingga program yang lain tidak memperoleh perhatian. Hal demikian kadang terjadi karena pengelola infaq tidak menyatu pada Al-jamaah. Tidak jarang suatu pemborosan menjadikan hal-hal yang paling penting menjadi terbengkalai karena memperhatikan yang tidak penting. Kriteria penerima infaq utama adalah orang yang memperoleh fadhilah dan maghfirah Allah, tidak takut dengan kekurangan, tidak tertipu dengan kekejian syaitan dan mengenal jalan-jalan untuk membuka karunia Allah. Bila infaq diberikan kepada mereka, infaq itu akan tumbuh subur mendatangkan kemakmuran.

Minggu, 20 Oktober 2024

Akal dan Akhlak Mulia

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Taubat kembali kepada Allah harus dilakukan dengan proses membina diri untuk dapat memahami dan melaksanakan kehendak Allah dengan sebaik-baiknya. Terdapat beberapa tahapan dalam proses berjalan kembali kepada Allah berupa tazkiyatun-nafs, mengenal nafs wahidah, membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan kemudian menjadi hamba Allah yang didekatkan. Setiap tahapan menunjukkan tingkat kekuatan akal dalam memahami kehendak Allah yang terkait dengan kedekatan kepada Allah. Semakin kuat akal seseorang dalam memahami, ia semakin dekat kepada Allah dan semakin sedikit kesalahan yang mungkin ada dalam akhlaknya. Bila seseorang menyimpang tidak mengikuti  tahapan-tahapan itu secara semestinya, akan terjadi kesesatan. Meskipun pengetahuannya tumbuh kuat tetapi tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Setiap orang yang menempuh jalan taubat harus waspada terhadap kesesatan. Kesesatan menimpa orang-orang yang berkeinginan untuk kembali mendekat kepada Allah akan tetapi jalan yang ditempuh menyimpang. Mereka mempunyai keinginan untuk mengikuti kebenaran tetapi kebenaran yang mereka ikuti keliru sedangkan mereka meyakini hal-hal yang keliru tersebut sebagai kebenaran.

﴾۷﴿صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)

Tidak semua umat manusia menjadi orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Ada orang-orang yang hidup dalam murka Allah, dan ada orang-orang yang tersesat dari jalan Allah. Kebanyakan manusia tidak benar-benar berada pada keadaan yang jelas dari ketiga golongan di atas, tetapi berada dalam pengaruh tarikan-tarikan dari ketiga golongan manusia. Hanya sedikit orang yang masuk dalam golongan orang yang memperoleh nikmat Allah, dan sedikit orang yang benar-benar hidup dalam murka Allah, dan sedikit pula orang yang benar-benar tersesat. Sebagian besar manusia berada dalam tarikan ketiga golongan manusia tersebut. Sekalipun hanya tarikan pada satu golongan, kebaikan, keburukan dan imbalan yang akan diperoleh seseorang akan mengikuti golongan yang diikutinya.

Setiap orang harus menyadari bahwa kembali kepada Allah harus dilakukan dengan membentuk diri sebagaimana kehendak Allah, dan kehendak Allah itu tercantum dalam Alquran. Kembali kepada Allah tidak dapat ditempuh dengan mengikuti pendapat sendiri dan menyangka Allah pasti menerima taubatnya. Kegembiraan Allah manakala seorang makhluk bertaubat sangatlah besar, tetapi makhluk itu harus menempuh taubatnya pada jalan yang benar tidak boleh menyimpang menuju kesesatan. Suatu penyimpangan dari jalan yang ditentukan menunjukkan kurang seriusnya seseorang dalam memperhatikan tujuan taubat.

Pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah harus diketahui dari tuntunan kitabullah Alquran, tidak boleh menyangka bahwa ia mengetahui kehendak Allah secara mandiri. Allah telah menurunkan Alquran secara sempurna tanpa ada sesuatupun dari hakikat yang tertinggal, sedemikian seseorang tidak berhak sedikitpun mengatakan bahwa ia mengenal kehendak Allah tanpa mengetahui landasan bagi pengetahuannya dari kitabullah Alquran. Adapun pengetahuan kebenaran yang bersifat turunan tidak terhubung secara langsung terhadap Alquran, kebenaran hakikat dari pengetahuan itu akan bersifat kuat manakala seseorang menyatukan diri dengan orang-orang yang mengetahui urusannya langsung dari kitabullah Alquran. Hal itu merupakan usaha untuk bersatu dengan Al-jamaah. Dalam kasus tertentu, hubungan penyatuan demikian bersifat washilah. Pengetahuan turunan akan mendatangkan manfaat yang besar manakala digunakan bersama Al-Jamaah. Seandainya tidak menemukannya, menggunakan ilmu untuk kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula, tetapi tidak dapat dijadikan tanda bahwa ia mengenal kehendak Allah.

Allah adalah Dzat yang Maha Mulia, dan mendekat kepada Allah harus dilakukan dengan berusaha mengubah diri menuju akhlak mulia. Kemuliaan Allah akan dikenali oleh orang-orang yang menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah. Apabila tidak mempergunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah, seseorang tidak akan mengenal kemuliaan Allah kecuali persangkaan-persangkaan saja. Orang yang tidak sungguh-sungguh mengenal kemuliaan Allah akan mudah disimpangkan jalannya hingga terjatuh pada hal-hal yang keji. Mungkin seseorang mengira apa yang dilakukan adalah kemuliaan sedangkan Allah tidak menghendaki hal demikian. Orang yang bertaubat hendaknya memperhatikan sikap mulia tidak menyimpang hingga menimbulkan hal-hal yang keji. Syaitan akan menyimpangkan manusia dengan perbuatan keji dan kebodohan. Kemuliaan Allah akan dikenali makhluk bila ia memahami ayat-ayat Allah.

Seseorang tidak boleh membiarkan diri dalam kesesatan, berpendapat bahwa ia akan menanggung sendiri kesesatannya tidak perlu orang lain turut campur terhadap keyakinannya. Kemunkaran dan perbuatan keji akan mendatangkan madlarat bagi umat manusia secara umum. Orang-orang yang mengikuti kesesatan akan bertindak bodoh hingga mendatangkan keadaan yang buruk bagi umat, walaupun seringkali keadaan yang buruk itu mereka pandang sebagai ketentuan Allah, tidak dipandang bersumber dari kebodohan mereka sendiri. Tidak jarang orang-orang yang ingin mengikuti kehendak Allah akan mendapatkan gangguan dari orang-orang yang sesat hingga tidak dapat mewujudkan kehendak Allah. Manakala orang-orang yang mengikuti kehendak Allah terhalangi dari jalannya, madlarat yang besar bagi mereka akan mendatangi. Banyak hal buruk yang bersumber dari suatu kesesatan.

Pentingnya Menggunakan Akal

Suatu kesesatan bisa terjadi karena seseorang atau suatu kaum tidak menggunakan akal untuk memahami kehendak Allah, atau mengikuti hawa nafsu dan syaitan. Andai saja setiap orang berkeinginan untuk sungguh-sungguh mengikuti kehendak Allah, niscaya mereka tidak membina keyakinan yang keliru hingga tersesat. Adapun kesalahan-kesalahan mungkin saja terjadi pada setiap tahap taubat kecuai bila seseorang telah menjadi orang yang didekatkan kepada Allah, akan tetapi mereka akan lebih mudah untuk menyadari kesalahannya, tidak akan terbentuk keyakinan terhadap kesalahan sebagai suatu kebenaran. Kesesatan yang sangat jauh akan menimpa orang-orang yang diberi qalb tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, diberi mata tetapi tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, dan diberi pendengaran hati tetapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka memiliki indera-indera bathiniah kemudian memperturutkan hawa nafsu sendiri dengan menggunakan indera-indera itu tidak sebagaimana mestinya.

﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS Al-A’raaf : 179)

Orang-orang demikian meyakini bahwa apa-apa yang dipersepsi oleh indera-indera bathiniah mereka sepenuhnya merupakan kebenaran tanpa berusaha mendudukkan atau memahami persepsi-persepsi mereka berdasarkan tuntunan ayat-ayat Allah baik ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah yang digelar bagi mereka. Seringkali mereka tidak mau melihat realitas yang terjadi ataupun ayat kitabullah, atau bahkan kadang-kadang membantah ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka.

Hal ini bisa terjadi tidak hanya pada orang yang diberi indera-indera bathiniah saja, tetapi juga orang-orang yang mengikuti mereka hingga terbentuk suatu kaum yang tidak berusaha memahami ayat-ayat Allah dengan indera bathiniah yang dikaruniakan kepada mereka. Kadangkala suatu kaum tidak mau memahami kebenaran karena mengikuti orang-orang yang diberi indera bathiniah, memandang bahwa kebenaran hanyalah apa-apa yang dipersepsi indera bathiniah di antara mereka saja. Akal mereka terbungkus dengan keping kebenaran yang ada, tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah secara selayaknya. Kaum demikian tidak jarang menggantikan kedudukan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan pendapat di antara mereka sendiri, maka mereka sama saja dengan orang-orang yang tidak menggunakan akalnya. Seandainya tidak menggantikan, pandangan mereka terhadap fungsi kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW menjadi kabur karena jalan yang mereka ikuti.

Ayat Allah terhampar sangat luas di seluruh semesta alam dan dalam kitabullah Alquran tidak boleh dibatasi pada persepsi indera tertentu saja. Tidak ada peristiwa kauniyah yang terjadi yang diketahui manusia secara sempurna, dan manusia mengetahui hanya potongan-potongan suatu peristiwa. Bahkan potongan-potongan pengetahuan itu seringkali bukan merupakan informasi yang benar. Upaya untuk memahami suatu ayat kauniyah dengan tepat hanya dapat dilakukan dengan berusaha memahami hakikat dari peristiwa itu, dan hakikat itu terdapat dalam ayat kitabullah Alquran. Untuk memahami kitabullah Alquran, seseorang harus melakukan tazkiyatun-nafs hingga diberi karunia indera-indera bathin. Manakala seseorang memahami hakikat yang terjadi, ia akan mempunyai bahan untuk menimbang kualitas informasi-informasi yang sampai kepada dirinya. Usaha untuk mengenal hakikat-hakikat dalam kitabullah Alquran ini merupakan bobot yang harus diupayakan setiap manusia untuk memperoleh kelayakan dihadirkan di hadirat Allah kelak.

Sebagian orang yang diberi indera bathiniah tidak menggunakannya untuk mengenal hakikat-hakikat yang menjadi bobotnya di hadirat Allah. Seringkali mereka terjebak untuk bertindak berdasar kebenaran menurut persepsi indera bathiniah mereka sendiri, terlupa dengan hakikat yang seharusnya menjadi landasan untuk menentukan tindakan itu. Indera bathiniah harus digunakan untuk mencerap ayat-ayat Allah, tidak digunakan untuk menjadi pedoman secara membuta tanpa memahami ayat-ayat Allah. Pendengaran bathin harus digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, mata bathin harus digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah dan qalb harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Boleh saja indera-indera itu digunakan untuk mencari yang terbaik sebagaimana indera lahiriah digunakan untuk mencari informasi yang terbaik, tetapi tidak boleh digunakan dengan menutup sampainya kebenaran dari orang.

contoh masalah

Menutup diri dari kebenaran ayat Allah bisa menimbulkan masalah rumit. Kadangkala suatu kaum menafikan iktikad seseorang di antara mereka untuk mengikuti petunjuk Allah karena tidak mempunyai persepsi indera bathiniah yang kuat. Kadang intervensi itu dilakukan bahkan hingga peran pribadi atau rumah tangga orang tersebut. Belum lagi intervensi terhadap peran dalam masalah umat. Orang yang berusaha bersusah-payah untuk mengikuti petunjuk Allah bisa babak belur karena tindakan suatu kaum yang tidak menggunakan indera bathin dengan semestinya untuk melihat, mendengar dan memahami ayat-ayat Allah. Bisa saja mereka justru membenturkan petunjuk dengan persepsi indera bathiniah.

Misalnya manakala dua orang yang berusaha membangun shilaturrahmi ishlah atau menikah kemudian justru menjadi bermusuhan karena suatu kaum merasa yakin untuk hanya mengikuti indera bathin di antara mereka. Ada banyak tingkatan hubungan baik di antara manusia, dari ishlah hingga pernikahan dan hubungan-hubungan baik lain yang ada di antara keduanya. Keinginan ishlah itu sendiri merupakan akal yang mengikuti petunjuk, sekalipun misalnya tidak disertai penglihatan yang memerintahkan untuk ishlah. Sebaliknya penglihatan yang menghalangi usaha ishlah dua orang beriman bukanlah suatu petunjuk karena bertentangan dengan perintah Allah. Susah payah kedua pihak untuk memahami petunjuk, susah payah menata hati untuk bisa saling menerima semua kekurangan atau kesalahan dan menyadari kesalahan diri, susah payah berusaha mengalahkan hawa nafsu untuk bisa membangun kedekatan yang semestinya, dan semua usaha lain yang dilakukan seseorang bisa kemudian harus berantakan karena indera kaumnya mempersepsi bahwa keduanya hanya mengikuti hawa nafsu. Orang yang berusaha mengikuti petunjuk bisa jadi justru dipandang masyarakat sebagai orang yang terobsesi, sedangkan orang yang terobsesi dikatakan mengikuti petunjuk.

Persepsi indera bathiniah yang diikuti suatu kaum dengan meninggalkan akal bisa mengarahkan mereka untuk merusak karena syaitan bisa ikut berperan memberikan arahan, maka kedua pihak justru menjadi bermusuhan sedangkan keinginan mereka semula adalah untuk ishlah atau menikah. Kerusakan yang harus ditanggung karena hal demikian bisa sangat besar, misalnya bisa saja mereka kehilangan basis untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW. Bagi kaum demikian, seringkali penjelasan dari masing-masing dari kedua pihak yang membangun hubungan tidak diperlukan karena mereka lebih percaya untuk mengikuti indera bathiniah sendiri tanpa perlu melihat ayat-ayat Allah. Mereka menyangka bahwa persepsi indera bathiniah mereka adalah petunjuk yang benar, dan menghitung keinginan baik yang ada di antara keduanya sebagai hawa nafsu yang buruk.

Perselisihan dalam upaya demikian kadang muncul secara berproses menjalar seperti jalannya ular melewati suatu kaum, dengan suatu tujuan menghalangi jalan seseorang mengikuti petunjuk. Fitnah itu menjalar melalui berbagai pihak terlebih dahulu sebelum sampai pada pihak yang akan difitnah sebagai pengkondisian fitnah. Di antara media paling efektif penjalaran fitnah itu adalah kaum yang indera bathiniah mereka tidak digunakan semestinya. Pada saatnya, satu pihak menuntut melibatkan pihak ketiga, tetapi pihak ketiga itu telah terkondisikan untuk mendatangkan fitnah dan resiko besar bagi pihak lain, sekaligus mungkin menggores luka lama. Demikian gambaran bahwa tidak menggunakan indera bathiniah itu dengan semestinya dapat mendatangkan fitnah yang merusak hubungan yang seharusnya dibangun di antara manusia dan menghalangi manusia untuk mengikuti petunjuk.

Untuk setiap tingkatan hubungan shilaturrahmi, ada tingkat kedekatan tertentu yang harus dicapai dan tidak dapat dicapai sebelum hilangnya tingkat perbedaan yang menghalangi. Suatu tuntutan dari satu pihak kadangkala dipandang pihak lain sebagai perbedaan yang menjadi penghalang shilaturahmi dalam tingkat yang mereka inginkan. Bisa saja suatu tuntutan satu pihak dipandang pihak lain sebagai potensi perselisihan berkepanjangan. Dengan demikian ia memilih berada pada jarak yang aman tidak berdekatan. Keadaan demikian sering dipandang sebagai kemarahan atau kebencian, sedangkan yang diinginkan adalah menjauhi potensi masalah. Tetap saja fenomena yang kemudian terlihat adalah muncul permusuhan. Sebenarnya keadaan demikian juga dekat saja dengan permusuhan karena mudahnya fitnah yang bebas beredar di antara orang yang kehilangan shilaturrahmi. Seandainya potensi masalah itu berkurang atau keadaan kaum lebih baik hingga tidak mendatangkan fitnah, mungkin ia tidak perlu menjaga jarak sedemikian.

Di tingkat keumatan, boleh jadi sebagian orang di antara kaum demikian akan merasa kebingungan dalam mengikuti arah kehidupan bersama di masyarakat  yang mengikuti persepsi indera, karena boleh jadi persepsi indera di antara mereka bertentangan satu dengan yang lain.  Setiap persepsi dihitung sebagai petunjuk Allah tanpa mendudukkannya pada ayat Allah. Kadang orang yang harus mengikuti dipandang sebagai pembangkang karena tidak dapat mengikuti. Masalah sebenarnya ada pada arahannya. Mustahil satu orang harus mengikuti dua arahan yang bertentangan dalam satu urusan yang sama secara bersama-sama, maka pastilah ia mengalami kebingungan mengikuti arah kehidupan bersama. Keadaan demikian bisa terjadi karena mereka tidak menggunakan indera bathiniah dengan benar. Kesesatan orang-orang yang tidak mau memperhatikan ayat-ayat Allah dan hanya mengikuti persepsi indera bathiniah sendiri merupakan kesesatan yang lebih jauh daripada kesesatan orang yang hanya mengikuti kehidupan jasmaniah saja.

Umat manusia tidak bolaeh bertindak demikian, dan harus berusaha menggunakan indera mereka dengan benar, yaitu sebagai sarana untuk memperkuat akal dalam memahami ayat-ayat Allah. Tidak jarang suatu kaum memuja penggunaan indera saja tanpa menyadari fungsi utama dari indera. Kadangkala kurangnya kesadaran terhadap fungsi indera menjadikan suatu kaum bersikap terbalik, menggunakan indera untuk menghukumi pemahaman akal yang tumbuh di antara mereka. Setiap indera harus digunakan untuk memperkuat akal dalam memahami ayat-ayat Allah, tidak digunakan sebaliknya justru untuk menghukumi suatu pemahaman terhadap ayat Allah. Suatu pemahaman harus dihukumi berdasarkan ayat Allah, bukan dihukumi dengan persepsi indera. Boleh saja persepsi indera digunakan untuk membantu mencari kesalahan dalam suatu pemahaman, tetapi penghakiman atas kesalahan suatu pemahaman tetap harus berdasarkan ayat Allah. Berbuat terbalik memanfaatkan indera sangat berbahaya. Allah akan menjadikan orang-orang yang tidak menggunakan indera bathiniah mereka untuk memahami ayat Allah sebagai penghuni jahannam. Menggunakan indera secara terbalik merupakan hal yang lebih buruk daripada perbuatan tidak menggunakan indera untuk memahami ayat Allah.