Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Allah menempatkan manusia di alam bumi untuk dijadikan sebagai khalifah-Nya. Walaupun ditempatkan di alam bumi, pada awalnya manusia diciptakan di surga. Sebenarnya setiap manusia merupakan makhluk bumi yang mempunyai ingatan tentang musyahadah terhadap rabb-nya dan juga kehidupan di alam surga, akan tetapi bagi kebanyakan manusia semua itu terkubur dengan kehidupan di alam bumi. Bila manusia bertaubat, maka ia akan mulai dapat merasakan atau mengingat pengajaran yang telah terpendam itu. Manakala seseorang dapat mengingat kembali apa yang tersimpan di dalam dirinya, ia akan mulai mengerti fungsi khalifah yang diembankan kepada dirinya.
Kehidupan di bumi sangat berbeda dengan di surga. Manusia hidup di bumi dengan dorongan untuk bermusuhan antara satu dengan yang lain, sedangkan di surga setiap makhluk menyayangi satu dengan yang lain. Sebagian makhluk surga mempunyai pengetahuan yang salah, tetapi pada dasarnya ada rasa sayang di antara mereka. Iblis pada dasarnya dahulu menyayangi manusia, akan tetapi ia mempunyai kesombongan maka muncul kedengkian atas manusia karena kedudukan yang diberikan Allah maka ia menjadi memusuhi manusia. Di bumi, manusia akan didorong untuk bermusuhan satu dengan yang lain, baik karena tabiat duniawi manusia ataupun karena dorongan syaitan agar manusia bermusuhan.
﴾۳۲۱﴿قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara. (QS Thaahaa : 123)
Untuk mengingat kembali amanat Allah kepada manusia sebagai khalifah-Nya, seseorang perlu mengikuti petunjuk yang datang dari Allah. Pada bentuk dasarnya, petunjuk itu berupa petunjuk yang menghindarkan manusia dari rasa permusuhan di antara mereka, dan petunjuk Allah itu akan mengantarkan manusia untuk dapat memahami kehendak Allah. Tidak ada petunjuk dari Allah yang memecah-belah manusia. Contoh petunjuk Allah yang mengarahkan manusia menghindari permusuhan adalah petunjuk perjodohan sebagai petunjuk pendahuluan untuk membentuk bayt dalam rangka meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Suatu bayt merupakan penyatuan antara laki-laki dan perempuan dalam ibadah kepada Allah, maka petunjuk yang mengarah pada terbentuknya bayt merupakan petunjuk Allah yang paling nyata.
Suatu petunjuk harus disikapi dengan sebaik-baiknya. Kadangkala seseorang menerima suatu petunjuk tetapi tidak mengerti kebenaran petunjuknya. Hendaknya ia menimbang kebenaran dari arah petunjuk itu, yaitu menghindarkan manusia dari permusuhan dan menyatukan manusia dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bila suatu petunjuk atau perintah yang diterima seseorang jelas mengarahkan manusia untuk bermusuhan atau berpecah-belah, maka petunjuk itu jelas bukan petunjuk Allah dan mungkin merupakan petunjuk syaitan. Dalam banyak hal, suatu petunjuk seringkali diterima seseorang dalam keadaan tidak bersih. Misalnya petunjuk jodoh seringkali bukan benar-benar petunjuk tetapi hamburan dari syahwat dan hawa nafsu. Meskipun arahnya menuju penyatuan, tetapi mungkin saja syaitan berkepentingan memberi petunjuk seseorang untuk memisahkan orang lain dari jodoh yang sebenarnya, dan syaitan melakukan itu dengan memanfaatkan syahwa dan hawa nafsu seseorang. Setiap petunjuk harus diperhatikan kebenarannya, dan kemudian diikuti bila benar.
Setiap orang harus berusaha mengikuti petunjuk Allah yang diterimanya, yaitu manakala petunjuk itu telah dipahami kebenarannya. Petunjuk yang belum dipahami tidak termasuk dalam petunjuk yang harus diikuti, dan seseorang tidak perlu tergesa-gesa untuk mengikutinya. Manakala suatu petunjuk mengarah pada persaudaraan di antara manusia, seseorang harus berusaha sungguh-sungguh untuk memahami petunjuknya secara adil, tidak memaksakan kebenaran petunjuknya. Kadangkala suatu petunjuk menjadikan seseorang berhamburan hawa nafsunya, menghisab diri secara berlebihan karena petunjuk yang datang. Keadaan demikian tidak termasuk dalam kategori memahami petunjuk, hingga ia merasa tenang dan mengetahui secara tepat makna petunjuknya. Kebenaran dari suatu petunjuk akan mengarah pada pemahaman tertentu terhadap firman Allah dalam kitabullah Alquran. Manakala pemahaman demikian telah terbit, maka seseorang wajib untuk mengikuti petunjuknya, karena itu merupakan petunjuk yang datang dari Allah.
Orang yang mengikuti petunjuk yang datang dari Allah tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara. Kewajiban mengikuti itu tiba manakala jelas bahwa petunjuk itu datang dari Allah, dan tidak gugur karena suatu keterpaksaan. Suatu kelemahan tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang untuk tidak mengikuti petunjuk Allah. Seandainya seseorang harus mati karena mengikuti petunjuk Allah, maka hal itu harus dilakukan dan ia akan termasuk sebagai seorang syahid. Seandainya seseorang tidak mampu melaksanakan petunjuknya karena suatu halangan, maka ia akan hidup dalam kesengsaraan. Kadangkala seseorang kesulitan mengikuti petunjuk karena halangan yang dibuatnya sendiri, maka hal itu menunjukkan kurang bersyukur terhadap nikmat Allah dan ia akan mudah terjatuh pada suatu kekufuran terhadap nikmat Allah. Kadangkala seseorang mengalami kesulitan karena halangan dari orang lain, maka seandainya ia mampu ia harus meruntuhkan halangan itu dan seandainya tidak mampu ia harus menahan kesengsaraannya sendiri, dan mungkin mendatangkan kesengsaraan pula pada kaumnya. Jika ia menghindar dari petunjuknya dan memilih jalan yang lain, ia akan tersesat jalannya.
Tabah Menghadapi Halangan
Dalam keadaan sesulit apapun, seseorang tidak boleh berpaling dari petunjuk Allah atau pengajaran Allah. Keberpalingan seseorang terhadap pengajaran Allah akan mendatangkan kehiduan yang sempit dan kelak akan dihimpunkan dalam keadaan buta.
﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaahaa : 124)
Berpaling menunjuk pada perbuatan memilih mengikuti hal lain dengan meninggalkan petunjuk Allah. Seseorang mungkin saja tidak dapat mengikuti petunjuk Allah tetapi sebenarnya tidak berpaling dari petunjuk-Nya. Mungkin akan banyak halangan yang datang ketika seseorang ingin mengikuti petunjuk Allah, dan halangan itu mungkin sangat sulit dilampaui. Misalnya seseorang mungkin tidak akan bisa mengikuti suatu petunjuk jodoh yang benar manakala pihak lainnya tidak bersedia untuk menjalani, maka ia akan terhalang mengikuti petunjuk. Halangan demikian tidak dapat dilampaui seseorang walaupun ia siap mati untuk mengikuti petunjuk. Kadangkala suatu petunjuk dijadikan syaitan sebagai alat untuk merusak keadaan seseorang hingga ia benar-benar terhalang untuk mengikuti petunjuk.
Kesempitan
ditetapkan Allah bagi orang yang tidak mengikuti petunjuk. Kadang
seseorang yang tidak dapat mengikuti petunjuk menemukan suatu
kesempatan untuk terhindar dari kesempitan yang menimpa. Tidak
masalah bila seseorang memilih untuk menanggung kesempitannya hingga
terbuka jalan untuk mengikuti petunjuk. Kesempitan-kesempitan yang ia
tanggung merupakan kesempitan yang telah ditetapkan Allah hingga ia
dapat mentaati petunjuk, bukan suatu dosa. Seseorang yang memperoleh
petunjuk tidak boleh memilih keinginan sendiri dibanding petunjuk
Allah. Ia mungkin harus menanggung perkataan orang lain terkait
pilihan itu. Mungkin seseorang merasa bisa memanfaatkan kesempatan
itu sebagai sarana pengantar untuk dapat melaksanakan petunjuknya,
tetapi hal itu berpotensi melalaikannya dari petunjuk. Hendaknya ia
tidak melupakan petunjuk yang belum dia laksanakan. Bila menempuh
kesempatan itu tanpa suatu keyakinan yang kuat bahwa yang dilakukan
akan menjadi sarana untuk dapat melaksanakan petunjuk, keinginan
untuk mengikuti petunjuk seringkali menimbulkan perasaan terikat pada
petunjuk hingga kesempatan yang datang itu tidak dapat dimanfaatkan
dengan baik, maka kesempitan itu tidak beranjak dari dirinya. Kesempitan itu akan pergi jika ia mendustakan petunjuk Allah, tetapi kesempitan itu akan dipindahkan sepenuhnya ke alam barzakh dan seterusnya.
Di sisi lain, kadangkala suatu kaum harus berusaha menyadari bahwa mereka mungkin saja membuat kehidupan seseorang menjadi sempit karena tidak dapat mengikuti petunjuk Allah. Seringkali orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat keihsananan. Manakala suatu kaum tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan mudah menyangka bahwa mereka berbuat keihsanan manakala menghalangi orang-orang dari jalan Allah. Syaitan akan menimbulkan pula suatu kekejian yang melemahkan akal mereka dalam mengikuti tuntunan Allah dan membalik-balik pemahaman umat terhadap kebenaran. Boleh jadi suatu petunjuk dikatakan sebagai kesesatan dan suatu kesesatan dipandang sebagai petunjuk. Suatu keihsanan mempunyai tolok ukur yang jelas yaitu tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kedua tuntunan ini tidak dapat digantikan dengan pendapat atau persepsi indera seseorang atau suatu kaum sekalipun. Orang yang lebih mengikuti tuntunan Allah berarti lebih ihsan dibanding orang yang berbuat bertentangan dengan keduanya.
Suatu halangan mengikuti petunjuk yang timbul dari kelalaian umat kadangkala bisa sedemikian rumit sehingga bertindak mengikuti petunjuk tampak akan menyebabkan permusuhan, sedangkan bila tidak diikuti akan menyebabkan kesempitan. Hal demikian benar-benar bisa terjadi karena halangan yang dibuat tanpa sedikitpun menunjukkan indikasi bahwa petunjuknya salah. Misalnya bila suatu petunjuk ta’addud dijadikan oleh pihak tertentu sebagai bahan merusak hubungan, boleh jadi setiap pihak terkait petunjuk menjadi saling bermusuhan satu dengan yang lain. Langkah apapun yang ditempuh menjadi suatu masalah bagi salah satu pihak atau semuanya. Tidak mengikuti petunjuk mendatangkan kesempitan, sedangkan berusaha mengikuti petunjuk mendatangkan masalah dalam rumah tangga. Petunjuk yang merupakan langkah awal membentuk bayt sesuai kehendak Allah bisa saja justru dijadikan bahan permusuhan. Tidak terbatas pada petunjuk ta’addud, kerusakan semacam ini bisa terjadi pada setiap petunjuk yang mengarah pada persaudaraan. Syaitan bisa mengacaukan manusia bahkan dengan petunjuk yang benar. Hal ini mudah terjadi terutama pada kaum yang tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Halangan demikian akan berkurang potensinya apabila masyarakat mempunyai kesadaran yang baik dalam mengikuti petunjuk. Sebaliknya masalah akan menjadi sangat intensif apabila masyarakat permisif terhadap tipuan syaitan tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah. Kesulitan dalam mengikuti petunjuk akan mendatangkan kesengsaraan setidaknya untuk orang yang tidak dapat mengikutinya, dan mungkin pula akan menimpa masyarakat secara umum. Bila setiap orang menggunakan akal dengan sebaik-baiknya untuk memahami kebenaran, maka potensi untuk menghalangi manusia mengikuti petunjuk akan mengecil. Bila suatu kaum tidak menggunakan akalnya untuk memahami kebenaran, mereka akan mudah dan bermudah-mudah menghalangi manusia untuk mengikuti petunjuk. Tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW harus berusaha dipahami dengan tepat, tidak membuat-buat sendiri pemahaman secara menyimpang berdasar tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin saja ada pemahaman yang tidak benar-benar serupa, tetapi harus tetap bisa dihubungkan dengan tepat tanpa suatu pertentangan dengan tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.
Setiap orang hendaknya menggunakan akalnya untuk memahami ayat Allah dengan tepat agar tidak timbul kekacauan dalam mengikuti petunjuk Allah, tidak membuta dalam melangkah dan mengikuti perkataan manusia. Hal demikian berlaku disetiap tingkatan. Setiap isteri hendaknya tidak menghukumi suaminya berdasar perkataan orang lain. Ia harus mengetahui dengan akalnya sendiri keadaan suaminya, tidak mengada-adakan masalah dengan suaminya karena penghakiman orang lain. Kesalahan atau kebenaran dari suaminya harus diketahui oleh dirinya sendiri, bukan karena penghakiman orang lain. Perkataan orang lain bisa saja menjadi informasi suatu fakta tentang suaminya dan boleh didengarkan selama bukan suatu fitnah, tetapi penghakiman orang lain terhadap suami sama sekali tidak boleh diikuti. Demikian pula masyarakat tidak bermudah-mudah menghukumi seseorang karena suatu perkataan orang lain tanpa menimbang kebenarannya dengan cukup. Penghakiman seseorang atau suatu kaum terhadap seseorang hanya karena mengikuti perkataan manusia menunjukkan kurangnya penggunaan akal, dan hal itu akan menjadi sumber masalah dalam mengikuti petunjuk Allah.