Pencarian

Senin, 28 Oktober 2024

Meniti Jalan Tauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang yang bertaubat akan ditumbuhkan Allah sebagai pohon thayyibah hingga mereka dapat menghasilkan buah untuk diberikan kepada semesta mereka. Orang yang tidak bertaubat sebenarnya dapat diibaratkan layaknya bumi yang gersang tanpa suatu pohon yang tumbuh, dan manakala seseorang bertaubat maka Allah menurunkan air dari langit kepada bumi itu. Dengan air yang diturunkan dari langit maka tumbuhlah pohon thayibah yang ada pada diri seseorang.

﴾۳۳﴿وَآيَةٌ لَّهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ
Dan suatu ayat bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. (QS Yaasiin : 33)

Allah menciptakan bumi sebagai ujung alam penciptaan yang paling jauh dari sumber cahaya. Sangat banyak lapis-lapis penciptaan makhluk dari yang dekat dengan cahaya Allah hingga alam bumi yang paling gelap. Langit merupakan alam yang lebih dekat kepada Allah daripada kehidupan di bumi, dan sebenarnya kehidupan di bumi merupakan perpanjangan bentuk-bentuk kehidupan di langit. Kehidupan di bumi sebenarnya merupakan perpanjangan dari kehidupan di langit. Manakala kehidupan di bumi tidak terhubung pada langitnya, pada dasarnya makhluk bumi itu dekat pada kematian, kehidupan yang tidak mengetahui makna kehidupan.

Walaupun demikian, manusia seringkali tidak menyadari keadaan dirinya karena kuatnya cahaya Allah yang hadir dalam diri manusia, terutama dalam bentuk ruh, sehingga manusia melihat dirinya hidup sekalipun tidak terhubung dengan baik pada langitnya. Manakala ruh pergi, manusia mungkin baru akan menyadari bahwa dirinya selama ini tidak benar-benar hidup, hanya terkurung dalam jasmani yang dihidupkan. Bila seseorang bertaubat, mereka akan mengetahui bentuk kehidupan yang terhubung dengan kehidupan alam langit mereka sebagai kehidupan yang lebih hakiki daripada kehidupan jasmaniah. Tumbuhnya pengetahuan terhadap bentuk kehidupan hakiki ini merupakan pertumbuhan pohon thayyibah, dan hal ini dapat terjadi apabila seseorang menempuh jalan taubat. Sebagian besar manusia mengalami pertumbuhan pengetahuan hanya sesuai hawa nafsu. Pengetahuan itu tumbuh dari kehidupan dunia, menguat seiring dengan usia, kemudian menua seperti tumbuhan menguning dan mati manakala ruh-nya dipanggil kembali, maka ia akan menghadapi kehidupan baru yang mungkin sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentangnya di alam berikutnya. Orang yang bertaubat akan memahami percikan kehidupan langit sehingga ia mempunyai percikan atau pengetahuan yang kuat tentang kehidupan yang lebih hakiki.

Tumbuhnya seseorang melalui jalan taubat akan menjadikan seseorang dapat mengeluarkan buah atau biji-bijian, dan dengan biji-bijian itu manusia memperoleh makanan. Jalan taubat tidak hanya berupa penyesalan-penyesalan dosa. Penyesalan-penyesalan terhadap dosa merupakan bagian dari jalan taubat, tetapi taubat tidak hanya berisi penyesalan-penyesalan dosa. Suatu taubat yang benar seharusnya mengantarkan manusia untuk mempunyai pengetahuan terhadap ayat-ayat Allah hingga mereka tumbuh sebagai makhluk yang dapat mengeluarkan buah-buah dirinya dan memperoleh makanan dari buah-buah itu. Hal ini tidak berlaku untuk menghukumi bahwa orang miskin ada karena tidak cukup bertaubat. Kadangkala seorang yang bertaubat hingga pohon thayibah berbuah tidak dapat memperoleh makanan dari buah-buah yang dihasilkan karena keadaan umatnya tidak mau atau bisa menerima manfaat buah itu. Buah dari pohon thayibah tetaplah buah yang baik sekalipun tidak dihargai oleh umat manusia, dan akal umat yang tidak menghargai kebenaran itu harus ditumbuhkan hingga mengenal buah dari pohon thayibah.

Orang-orang yang tumbuh pohon thayyibahnya harus berusaha untuk menghubungkan alam bumi semesta mereka hingga terhubung ke langit, baik alam bumi dalam bentuk manusia-manusia yang harus terbina untuk mengenal kehidupan yang lebih hakiki, ataupun alam bumi dalam bentuk lingkungan hidup yang dikelola mengikuti ketetapan dari alam langit tidak rusak karena terpisah dengan tuntunan Allah. Ayat di atas tidak hanya berbicara tentang alam langit. Orang-orang yang bertaubat hendaknya memperhatikan bahwa ayat Allah terkait pula dengan kehidupan bumi, tidak boleh dimaknai hanya untuk kehidupan di langit. Ayat ini tidak hanya berbicara pada tingkatan bathin.

Menata Kehidupan Bumi

Allah telah menumbuhkan kehidupan di bumi, maka hendaknya umat manusia memperhatikan dengan sungguh-sungguh bentuk-bentuk kehidupan di alam bumi yang bermanfaat untuk mencukupi kehidupan diri mereka dan makhluk-makhluk lain secara seimbang. Ayat-ayat di atas sebenarnya tidak terbatas membahas tatanan alam langit saja, tetapi juga tatanan di bumi. Sumber-sumber makanan bagi umat manusia dan makhluk lain adalah tanaman-tanaman yang ditumbuhkan di bumi. Pengelolaan kehidupan di bumi dengan tepat dapat dilakukan dengan mengikuti tuntunan Allah. Banyak bentuk kehidupan di bumi yang membutuhkan pengelolaan kehidupan di bumi yang baik tidak hanya bentuk-bentuk jasmaniah kasar, tetapi ada pula makhluk-makhluk dari kalangan jin ataupun makhluk halus lain yang hidup di bumi. Setiap makhluk di bumi baik yang terlihat di alam kasar ataupun alam yang lebih halus membutuhkan pengelolaan kehidupan bumi yang baik, dengan bentuk kebutuhan yang berbeda.

Allah telah menumbuhkan kehidupan di bumi, dan manusia mempunyai kecenderungan merusak bentuk-bentuk kehidupan yang telah ditumbuhkan. Kehidupan singkat para manusia seringkali menjadikan mereka tidak memahami bahwa banyak makhluk yang berkepentingan terhadap bentuk kehidupan yang ditumbuhkan Allah di bumi, maka manusia berbuat tidak seimbang hanya berusaha memenuhi kebutuhan untuk kalangan mereka saja. Mereka tidak mengetahui dampak buruk yang dilakukannya karena singkatnya usia mereka dibandingkan makhluk lain. Rusaknya keseimbangan sebenarnya mendatangkan banyak madlarat. Misalnya banyak badan air dewasa ini menjadi berkurang airnya dan mengering pada masa kemarau dan banjir pada saat hujan karena ketidakseimbangan dalam mengelola apa-apa yang ditumbuhkan Allah.

Bumi menjadi hidup dengan tumbuhnya pohon. Hal itu menunjukkan pada fungsi aktif pohon bagi bumi. Bumi menjadi hidup dalam menyediakan air bagi para penghuninya karena pohon yang tumbuh di atasnya. Allah menjadikan mata air di bumi terkait dengan terbentuknya kebun-kebun (jannah). Kebun-kebun dalam ayat ini bukan semakna dengan kebun yang dibentuk manusia dari tanaman sejenis, tetapi menunjukkan kumpulan dari berbagai macam pohon yang ada pada suatu wilayah tertentu. Mata air–mata air terbentuk melalui terbentuknya kebun-kebun. Adanya mata air-mata air di bumi merupakan salah satu wujud dari kehidupan yang diberikan kepada bumi.

﴾۴۳﴿وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ
Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya mata air - mata air (QS Yaasiin : 34)

Di alam bumi, pohon secara hidrologis berfungsi secara aktif sebagai pengatur ketersediaan air, termasuk di antaranya memunculkan mata air–mata air. Ketika musim hujan tiba, pohon secara aktif menghisap air yang turun dari langit membasahi tanah di tempatnya hingga air itu banyak yang masuk ke dalam jaringan tubuh tumbuhan itu dan tanaman itu menahan air yang dihisap. Air hujan yang membasahi tanah tidak mengalir begitu saja di permukaan bumi hingga menyebabkan banjir. Ketika musim kemarau tiba, manakala tingkat kelembaban tanah di tempat pohon itu berkurang, pohon melepaskan air yang ditahan dalam jaringan tubuhnya secara perlahan sesuai dengan perbedaan tekanan air antara kelembaban tanah dan tekanan air dalam jaringan tubuh tumbuhan. Dengan demikian, akan terdapat sumber air bagi tanah yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang menyediakan sumber air pada masa kering. Pohon merupakan agen yang secara aktif memberikan ketersediaan air bagi kehidupan di bumi.

Jenis pohon di bumi sangatlah banyak. Sebagian pohon mempunyai perakaran yang sangat dalam dan tahan terhadap kekeringan, sebagian pohon mempunyai akar dangkal dan mempunyai kemampuan menghisap air dalam jumlah besar dibandingkan massa tubuhnya tetapi harus hidup di tempat yang teduh. Sebagian pohon menyerap air dalam jumlah besar dan menguapkannya ke udara lepas karena hidup pada dataran yang sering tertutup salju. Sangat banyak jenis pohon yang tidak dapat disebutkan satu demi satu. Keragaman jenis pohon pada suatu wilayah akan menyediakan pola ketersediaan air bagi lingkungan secara bervariasi. Allah memberikan contoh dipancarkannya mata air mata air dari kebun-kebun kurma dan kebun-kebun anggur.

Orang beriman hendaknya mencari pengetahuan tentang bentuk-bentuk kehidupan yang ditumbuhkan Allah di bumi untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam mengelola kehidupan di bumi agar memperoleh bentuk kehidupan jasmaniah yang baik. Investigasi palynologis misalnya, orang beriman hendaknya melakukan penelitian dan investigasi sejarah tumbuhan di suatu wilayah untuk memperoleh gambaran bentuk kehidupan yang baik untuk ditumbuhkan pada wilayah yang ditentukan. Investigasi palinologis dengan analisa spora dan serbuk sari tumbuhan yang tersebar pada suatu wilayah yang mencakup masa yang panjang dapat menunjang umat untuk memahami ayat Allah sebagaimana tersebut di atas. Tanpa suatu upaya konkret di tingkatan jasmaniah, bentuk kehidupan jasmaniah yang ditumbuhkan Allah di bumi akan sulit diketahui dan bentuk kombinasi tanaman yang baik sulit untuk dapat dirumuskan secara tepat.

Upaya memahami ayat Allah demikian harus dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mengungkap setiap detail ayat Allah yang ditemukan. Kadangkala suatu kaum melakukan suatu usaha tanpa suatu perhatian yang mencukupi, maka jalan Allah yang terdapat pada suatu ayat yang mereka perhatikan tidak terungkap. Suatu investigasi palinologis misalnya, bila dilakukan hanya satu langkah saja tanpa suatu kajian lebih lanjut terhadap hasil investigasi tidak akan bisa membuka makna ayat Allah yang terkait dengan investigasi itu. Demikian pula metode-metode terkait ayat-ayat lain harus dilakukan dan dilakukan hingga terbentuk hubungan antara satu ayat dengan ayat lain, maka jalan itu akan terbuka bagi orang beriman. Ayat-ayat tersebut di atas tentu tidak berdiri sendiri, mempunyai hubungan dengan siklus matahari, bulan bintang dan hal-hal lain yang terkait dengan lingkungan. Keseluruhan ayat Allah tentang alam semesta hendaknya diperhatikan untuk mengelola kehidupan bumi dengan lebih baik.

Kadangkala suatu jalan untuk memperoleh jalan Allah di bumi diperoleh melalui kesatuan antara beberapa ayat. Makna dari hubungan-hubungan satu ayat dengan ayat lain seringkali bersifat personal, satu orang mengetahui maknanya dalam pengetahuan yang beragam tanpa menyimpang dari bunyi ayat-ayatnya. Misalnya ayat tentang hidupnya bumi terkait pula dengan keberpasangan di antara banyak hal, maka jalan penghidupan itu juga muncul dari keberpasangan-keberpasangan. Sebagian orang akan memperoleh manfaat yang banyak dengan memperhatikan keberpasangan dirinya, dan sebagian lagi mungkin saja memperoleh manfaat yang banyak dengan memperhatikan keberpasangan objek-objek yang mereka perhatikan. Dari masing-masing sudut pandang akan diperoleh manfaat yang berbeda-beda tanpa menyimpang dari firman Allah.

Ayat Allah berbicara tentang ketersediaan air berdasarkan jenis-jenis pohon. Secara tersirat, ayat ini seharusnya menjadi dasar memahami kesetimbangan ketersediaan air. Dewasa ini seringkali manusia mengelola bumi dari sudut pandang memanfaatkan tidak dengan sudut pandang keseimbangan. Penelitian dan pengelolaan sumberdaya air seringkali dilakukan dengan tujuan menentukan cara memanfaatkan saja, tidak merumuskan kesetimbangan sumber daya air. Upaya demikian tidak sepenuhnya menjadikan seseorang dapat memahami ayat di atas. Untuk memahami ayat Allah di atas, upaya yang dilakukan seharusnya mempelajari kesetimbangan ketersediaan air di kebun terkait dengan jenis-jenis pohon yang ada pada wilayah tersebut, dan pemanfaatan sumber daya air dilakukan berdasarkan kesetimbangan ketersediaan air. Pengukuran-pengukuran harus dibuat sedemikian hingga data yang diperoleh mewakili pola ketersediaan air di suatu wilayah terkait dengan vegetasi yang tumbuh. Pola pemanfaatan air harus dirumuskan sebagai turunan berdasarkan keadaan wilayah, tidak melupakan penelitian utamanya yaitu hubungan ketersediaan air dengan vegetasi yang tumbuh.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar