Pencarian

Minggu, 20 Oktober 2024

Akal dan Akhlak Mulia

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Taubat kembali kepada Allah harus dilakukan dengan proses membina diri untuk dapat memahami dan melaksanakan kehendak Allah dengan sebaik-baiknya. Terdapat beberapa tahapan dalam proses berjalan kembali kepada Allah berupa tazkiyatun-nafs, mengenal nafs wahidah, membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan kemudian menjadi hamba Allah yang didekatkan. Setiap tahapan menunjukkan tingkat kekuatan akal dalam memahami kehendak Allah yang terkait dengan kedekatan kepada Allah. Semakin kuat akal seseorang dalam memahami, ia semakin dekat kepada Allah dan semakin sedikit kesalahan yang mungkin ada dalam akhlaknya. Bila seseorang menyimpang tidak mengikuti  tahapan-tahapan itu secara semestinya, akan terjadi kesesatan. Meskipun pengetahuannya tumbuh kuat tetapi tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Setiap orang yang menempuh jalan taubat harus waspada terhadap kesesatan. Kesesatan menimpa orang-orang yang berkeinginan untuk kembali mendekat kepada Allah akan tetapi jalan yang ditempuh menyimpang. Mereka mempunyai keinginan untuk mengikuti kebenaran tetapi kebenaran yang mereka ikuti keliru sedangkan mereka meyakini hal-hal yang keliru tersebut sebagai kebenaran.

﴾۷﴿صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)

Tidak semua umat manusia menjadi orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Ada orang-orang yang hidup dalam murka Allah, dan ada orang-orang yang tersesat dari jalan Allah. Kebanyakan manusia tidak benar-benar berada pada keadaan yang jelas dari ketiga golongan di atas, tetapi berada dalam pengaruh tarikan-tarikan dari ketiga golongan manusia. Hanya sedikit orang yang masuk dalam golongan orang yang memperoleh nikmat Allah, dan sedikit orang yang benar-benar hidup dalam murka Allah, dan sedikit pula orang yang benar-benar tersesat. Sebagian besar manusia berada dalam tarikan ketiga golongan manusia tersebut. Sekalipun hanya tarikan pada satu golongan, kebaikan, keburukan dan imbalan yang akan diperoleh seseorang akan mengikuti golongan yang diikutinya.

Setiap orang harus menyadari bahwa kembali kepada Allah harus dilakukan dengan membentuk diri sebagaimana kehendak Allah, dan kehendak Allah itu tercantum dalam Alquran. Kembali kepada Allah tidak dapat ditempuh dengan mengikuti pendapat sendiri dan menyangka Allah pasti menerima taubatnya. Kegembiraan Allah manakala seorang makhluk bertaubat sangatlah besar, tetapi makhluk itu harus menempuh taubatnya pada jalan yang benar tidak boleh menyimpang menuju kesesatan. Suatu penyimpangan dari jalan yang ditentukan menunjukkan kurang seriusnya seseorang dalam memperhatikan tujuan taubat.

Pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah harus diketahui dari tuntunan kitabullah Alquran, tidak boleh menyangka bahwa ia mengetahui kehendak Allah secara mandiri. Allah telah menurunkan Alquran secara sempurna tanpa ada sesuatupun dari hakikat yang tertinggal, sedemikian seseorang tidak berhak sedikitpun mengatakan bahwa ia mengenal kehendak Allah tanpa mengetahui landasan bagi pengetahuannya dari kitabullah Alquran. Adapun pengetahuan kebenaran yang bersifat turunan tidak terhubung secara langsung terhadap Alquran, kebenaran hakikat dari pengetahuan itu akan bersifat kuat manakala seseorang menyatukan diri dengan orang-orang yang mengetahui urusannya langsung dari kitabullah Alquran. Hal itu merupakan usaha untuk bersatu dengan Al-jamaah. Dalam kasus tertentu, hubungan penyatuan demikian bersifat washilah. Pengetahuan turunan akan mendatangkan manfaat yang besar manakala digunakan bersama Al-Jamaah. Seandainya tidak menemukannya, menggunakan ilmu untuk kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula, tetapi tidak dapat dijadikan tanda bahwa ia mengenal kehendak Allah.

Allah adalah Dzat yang Maha Mulia, dan mendekat kepada Allah harus dilakukan dengan berusaha mengubah diri menuju akhlak mulia. Kemuliaan Allah akan dikenali oleh orang-orang yang menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah. Apabila tidak mempergunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah, seseorang tidak akan mengenal kemuliaan Allah kecuali persangkaan-persangkaan saja. Orang yang tidak sungguh-sungguh mengenal kemuliaan Allah akan mudah disimpangkan jalannya hingga terjatuh pada hal-hal yang keji. Mungkin seseorang mengira apa yang dilakukan adalah kemuliaan sedangkan Allah tidak menghendaki hal demikian. Orang yang bertaubat hendaknya memperhatikan sikap mulia tidak menyimpang hingga menimbulkan hal-hal yang keji. Syaitan akan menyimpangkan manusia dengan perbuatan keji dan kebodohan. Kemuliaan Allah akan dikenali makhluk bila ia memahami ayat-ayat Allah.

Seseorang tidak boleh membiarkan diri dalam kesesatan, berpendapat bahwa ia akan menanggung sendiri kesesatannya tidak perlu orang lain turut campur terhadap keyakinannya. Kemunkaran dan perbuatan keji akan mendatangkan madlarat bagi umat manusia secara umum. Orang-orang yang mengikuti kesesatan akan bertindak bodoh hingga mendatangkan keadaan yang buruk bagi umat, walaupun seringkali keadaan yang buruk itu mereka pandang sebagai ketentuan Allah, tidak dipandang bersumber dari kebodohan mereka sendiri. Tidak jarang orang-orang yang ingin mengikuti kehendak Allah akan mendapatkan gangguan dari orang-orang yang sesat hingga tidak dapat mewujudkan kehendak Allah. Manakala orang-orang yang mengikuti kehendak Allah terhalangi dari jalannya, madlarat yang besar bagi mereka akan mendatangi. Banyak hal buruk yang bersumber dari suatu kesesatan.

Pentingnya Menggunakan Akal

Suatu kesesatan bisa terjadi karena seseorang atau suatu kaum tidak menggunakan akal untuk memahami kehendak Allah, atau mengikuti hawa nafsu dan syaitan. Andai saja setiap orang berkeinginan untuk sungguh-sungguh mengikuti kehendak Allah, niscaya mereka tidak membina keyakinan yang keliru hingga tersesat. Adapun kesalahan-kesalahan mungkin saja terjadi pada setiap tahap taubat kecuai bila seseorang telah menjadi orang yang didekatkan kepada Allah, akan tetapi mereka akan lebih mudah untuk menyadari kesalahannya, tidak akan terbentuk keyakinan terhadap kesalahan sebagai suatu kebenaran. Kesesatan yang sangat jauh akan menimpa orang-orang yang diberi qalb tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, diberi mata tetapi tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, dan diberi pendengaran hati tetapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka memiliki indera-indera bathiniah kemudian memperturutkan hawa nafsu sendiri dengan menggunakan indera-indera itu tidak sebagaimana mestinya.

﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS Al-A’raaf : 179)

Orang-orang demikian meyakini bahwa apa-apa yang dipersepsi oleh indera-indera bathiniah mereka sepenuhnya merupakan kebenaran tanpa berusaha mendudukkan atau memahami persepsi-persepsi mereka berdasarkan tuntunan ayat-ayat Allah baik ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah yang digelar bagi mereka. Seringkali mereka tidak mau melihat realitas yang terjadi ataupun ayat kitabullah, atau bahkan kadang-kadang membantah ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka.

Hal ini bisa terjadi tidak hanya pada orang yang diberi indera-indera bathiniah saja, tetapi juga orang-orang yang mengikuti mereka hingga terbentuk suatu kaum yang tidak berusaha memahami ayat-ayat Allah dengan indera bathiniah yang dikaruniakan kepada mereka. Kadangkala suatu kaum tidak mau memahami kebenaran karena mengikuti orang-orang yang diberi indera bathiniah, memandang bahwa kebenaran hanyalah apa-apa yang dipersepsi indera bathiniah di antara mereka saja. Akal mereka terbungkus dengan keping kebenaran yang ada, tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah secara selayaknya. Kaum demikian tidak jarang menggantikan kedudukan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan pendapat di antara mereka sendiri, maka mereka sama saja dengan orang-orang yang tidak menggunakan akalnya. Seandainya tidak menggantikan, pandangan mereka terhadap fungsi kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW menjadi kabur karena jalan yang mereka ikuti.

Ayat Allah terhampar sangat luas di seluruh semesta alam dan dalam kitabullah Alquran tidak boleh dibatasi pada persepsi indera tertentu saja. Tidak ada peristiwa kauniyah yang terjadi yang diketahui manusia secara sempurna, dan manusia mengetahui hanya potongan-potongan suatu peristiwa. Bahkan potongan-potongan pengetahuan itu seringkali bukan merupakan informasi yang benar. Upaya untuk memahami suatu ayat kauniyah dengan tepat hanya dapat dilakukan dengan berusaha memahami hakikat dari peristiwa itu, dan hakikat itu terdapat dalam ayat kitabullah Alquran. Untuk memahami kitabullah Alquran, seseorang harus melakukan tazkiyatun-nafs hingga diberi karunia indera-indera bathin. Manakala seseorang memahami hakikat yang terjadi, ia akan mempunyai bahan untuk menimbang kualitas informasi-informasi yang sampai kepada dirinya. Usaha untuk mengenal hakikat-hakikat dalam kitabullah Alquran ini merupakan bobot yang harus diupayakan setiap manusia untuk memperoleh kelayakan dihadirkan di hadirat Allah kelak.

Sebagian orang yang diberi indera bathiniah tidak menggunakannya untuk mengenal hakikat-hakikat yang menjadi bobotnya di hadirat Allah. Seringkali mereka terjebak untuk bertindak berdasar kebenaran menurut persepsi indera bathiniah mereka sendiri, terlupa dengan hakikat yang seharusnya menjadi landasan untuk menentukan tindakan itu. Indera bathiniah harus digunakan untuk mencerap ayat-ayat Allah, tidak digunakan untuk menjadi pedoman secara membuta tanpa memahami ayat-ayat Allah. Pendengaran bathin harus digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, mata bathin harus digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah dan qalb harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Boleh saja indera-indera itu digunakan untuk mencari yang terbaik sebagaimana indera lahiriah digunakan untuk mencari informasi yang terbaik, tetapi tidak boleh digunakan dengan menutup sampainya kebenaran dari orang.

contoh masalah

Menutup diri dari kebenaran ayat Allah bisa menimbulkan masalah rumit. Kadangkala suatu kaum menafikan iktikad seseorang di antara mereka untuk mengikuti petunjuk Allah karena tidak mempunyai persepsi indera bathiniah yang kuat. Kadang intervensi itu dilakukan bahkan hingga peran pribadi atau rumah tangga orang tersebut. Belum lagi intervensi terhadap peran dalam masalah umat. Orang yang berusaha bersusah-payah untuk mengikuti petunjuk Allah bisa babak belur karena tindakan suatu kaum yang tidak menggunakan indera bathin dengan semestinya untuk melihat, mendengar dan memahami ayat-ayat Allah. Bisa saja mereka justru membenturkan petunjuk dengan persepsi indera bathiniah.

Misalnya manakala dua orang yang berusaha membangun shilaturrahmi ishlah atau menikah kemudian justru menjadi bermusuhan karena suatu kaum merasa yakin untuk hanya mengikuti indera bathin di antara mereka. Ada banyak tingkatan hubungan baik di antara manusia, dari ishlah hingga pernikahan dan hubungan-hubungan baik lain yang ada di antara keduanya. Keinginan ishlah itu sendiri merupakan akal yang mengikuti petunjuk, sekalipun misalnya tidak disertai penglihatan yang memerintahkan untuk ishlah. Sebaliknya penglihatan yang menghalangi usaha ishlah dua orang beriman bukanlah suatu petunjuk karena bertentangan dengan perintah Allah. Susah payah kedua pihak untuk memahami petunjuk, susah payah menata hati untuk bisa saling menerima semua kekurangan atau kesalahan dan menyadari kesalahan diri, susah payah berusaha mengalahkan hawa nafsu untuk bisa membangun kedekatan yang semestinya, dan semua usaha lain yang dilakukan seseorang bisa kemudian harus berantakan karena indera kaumnya mempersepsi bahwa keduanya hanya mengikuti hawa nafsu. Orang yang berusaha mengikuti petunjuk bisa jadi justru dipandang masyarakat sebagai orang yang terobsesi, sedangkan orang yang terobsesi dikatakan mengikuti petunjuk.

Persepsi indera bathiniah yang diikuti suatu kaum dengan meninggalkan akal bisa mengarahkan mereka untuk merusak karena syaitan bisa ikut berperan memberikan arahan, maka kedua pihak justru menjadi bermusuhan sedangkan keinginan mereka semula adalah untuk ishlah atau menikah. Kerusakan yang harus ditanggung karena hal demikian bisa sangat besar, misalnya bisa saja mereka kehilangan basis untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW. Bagi kaum demikian, seringkali penjelasan dari masing-masing dari kedua pihak yang membangun hubungan tidak diperlukan karena mereka lebih percaya untuk mengikuti indera bathiniah sendiri tanpa perlu melihat ayat-ayat Allah. Mereka menyangka bahwa persepsi indera bathiniah mereka adalah petunjuk yang benar, dan menghitung keinginan baik yang ada di antara keduanya sebagai hawa nafsu yang buruk.

Perselisihan dalam upaya demikian kadang muncul secara berproses menjalar seperti jalannya ular melewati suatu kaum, dengan suatu tujuan menghalangi jalan seseorang mengikuti petunjuk. Fitnah itu menjalar melalui berbagai pihak terlebih dahulu sebelum sampai pada pihak yang akan difitnah sebagai pengkondisian fitnah. Di antara media paling efektif penjalaran fitnah itu adalah kaum yang indera bathiniah mereka tidak digunakan semestinya. Pada saatnya, satu pihak menuntut melibatkan pihak ketiga, tetapi pihak ketiga itu telah terkondisikan untuk mendatangkan fitnah dan resiko besar bagi pihak lain, sekaligus mungkin menggores luka lama. Demikian gambaran bahwa tidak menggunakan indera bathiniah itu dengan semestinya dapat mendatangkan fitnah yang merusak hubungan yang seharusnya dibangun di antara manusia dan menghalangi manusia untuk mengikuti petunjuk.

Untuk setiap tingkatan hubungan shilaturrahmi, ada tingkat kedekatan tertentu yang harus dicapai dan tidak dapat dicapai sebelum hilangnya tingkat perbedaan yang menghalangi. Suatu tuntutan dari satu pihak kadangkala dipandang pihak lain sebagai perbedaan yang menjadi penghalang shilaturahmi dalam tingkat yang mereka inginkan. Bisa saja suatu tuntutan satu pihak dipandang pihak lain sebagai potensi perselisihan berkepanjangan. Dengan demikian ia memilih berada pada jarak yang aman tidak berdekatan. Keadaan demikian sering dipandang sebagai kemarahan atau kebencian, sedangkan yang diinginkan adalah menjauhi potensi masalah. Tetap saja fenomena yang kemudian terlihat adalah muncul permusuhan. Sebenarnya keadaan demikian juga dekat saja dengan permusuhan karena mudahnya fitnah yang bebas beredar di antara orang yang kehilangan shilaturrahmi. Seandainya potensi masalah itu berkurang atau keadaan kaum lebih baik hingga tidak mendatangkan fitnah, mungkin ia tidak perlu menjaga jarak sedemikian.

Di tingkat keumatan, boleh jadi sebagian orang di antara kaum demikian akan merasa kebingungan dalam mengikuti arah kehidupan bersama di masyarakat  yang mengikuti persepsi indera, karena boleh jadi persepsi indera di antara mereka bertentangan satu dengan yang lain.  Setiap persepsi dihitung sebagai petunjuk Allah tanpa mendudukkannya pada ayat Allah. Kadang orang yang harus mengikuti dipandang sebagai pembangkang karena tidak dapat mengikuti. Masalah sebenarnya ada pada arahannya. Mustahil satu orang harus mengikuti dua arahan yang bertentangan dalam satu urusan yang sama secara bersama-sama, maka pastilah ia mengalami kebingungan mengikuti arah kehidupan bersama. Keadaan demikian bisa terjadi karena mereka tidak menggunakan indera bathiniah dengan benar. Kesesatan orang-orang yang tidak mau memperhatikan ayat-ayat Allah dan hanya mengikuti persepsi indera bathiniah sendiri merupakan kesesatan yang lebih jauh daripada kesesatan orang yang hanya mengikuti kehidupan jasmaniah saja.

Umat manusia tidak bolaeh bertindak demikian, dan harus berusaha menggunakan indera mereka dengan benar, yaitu sebagai sarana untuk memperkuat akal dalam memahami ayat-ayat Allah. Tidak jarang suatu kaum memuja penggunaan indera saja tanpa menyadari fungsi utama dari indera. Kadangkala kurangnya kesadaran terhadap fungsi indera menjadikan suatu kaum bersikap terbalik, menggunakan indera untuk menghukumi pemahaman akal yang tumbuh di antara mereka. Setiap indera harus digunakan untuk memperkuat akal dalam memahami ayat-ayat Allah, tidak digunakan sebaliknya justru untuk menghukumi suatu pemahaman terhadap ayat Allah. Suatu pemahaman harus dihukumi berdasarkan ayat Allah, bukan dihukumi dengan persepsi indera. Boleh saja persepsi indera digunakan untuk membantu mencari kesalahan dalam suatu pemahaman, tetapi penghakiman atas kesalahan suatu pemahaman tetap harus berdasarkan ayat Allah. Berbuat terbalik memanfaatkan indera sangat berbahaya. Allah akan menjadikan orang-orang yang tidak menggunakan indera bathiniah mereka untuk memahami ayat Allah sebagai penghuni jahannam. Menggunakan indera secara terbalik merupakan hal yang lebih buruk daripada perbuatan tidak menggunakan indera untuk memahami ayat Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar