Pencarian

Jumat, 25 Oktober 2024

Luasnya Karunia Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Perjalanan taubat kembali kepada Allah akan mendatangkan ampunan (maghfirah) dan mendatangkan keutamaan (fadhilah) dari sisi Allah. Allah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya ampunan dan keutamaan (fadhilah) bagi hamba-hamba-Nya. Dengan fadhilah yang diterima para hamba, mereka akan mengetahui bahwa Allah Maha Luas dalam memberikan karunia kepada makhluk dan Maha mengetahui.

﴾۸۶۲﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
﴾۹۶۲﴿يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُوا الْأَلْبَابِ
(268) Syaitan menjanjikan kamu kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kekejian; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan keutamaan (fadhillah). Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (269) Allah menganugerahkan al hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya ulul albab-lah yang dapat mengambil pelajaran. (QS Al-Baqarah : 268-269)

Pengetahuan tentang luasnya karunia Allah merupakan jalan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang tampak di muka bumi. Kehidupan di bumi pada dasarnya masih dikuasakan kepada Iblis, maka kehidupan di bumi tampak penuh dengan kesulitan-kesulitan. Tentu kuasa yang diberikan itu bukan kekuasaan pada semua aspek, mempunyai batasan-batasan tertentu. Kekuasaan iblis atas kehidupan bumi pada dasarnya ditentukan terbatas hingga hari agama, sedangkan iblis meminta penangguhan hingga hari berbangkit. Hal ini jarang disadari oleh manusia. Manakala kehidupan di bumi terlihat sulit, mereka tidak melihat bahwa syaitan sebenarnya mempunyai peran dalam menjadikan kehidupan di bumi terlihat sulit.

Takut Kekurangan dan Kekejian

Syaitan mengurus bumi dengan cara sedemikian hingga manusia menjalani kehidupan dengan ketakutan terhadap kekurangan dan menjadikan umat manusia menempuh jalan-jalan yang keji. Tanpa suatu keimanan, manusia akan selalu merasa takut terjatuh pada kekurangan. Sebagian orang beriman berusaha untuk tidak merasa takut terhadap kekurangan atau menyingkirkan rasa takut mereka hingga tidak mengganggu. Mungkin ada rasa takut kekurangan, tetapi terbangun pula rasa tawakkal kepada Allah hingga ketakutan itu menipis atau tidak terasa. Sebagian orang beriman memperoleh ampunan dan fadhillah dari sisi Allah, maka mereka melihat bahwa karunia Allah sangat luas, maka mereka tidak merasa ada kesulitan di bumi yang datang dari sisi Allah. Hal ini tidak menunjukkan bahwa mereka tidak mengalami kesulitan, tetapi dalam pandangan mereka kesulitan-kesulitan dalam kehidupan di bumi muncul karena cara syaitan dalam mengatur kehidupan manusia.

Rasa takut terhadap kekurangan akan menjadikan manusia sulit untuk memahami masalah dan bertindak dengan benar. Pemakmuran bumi yang sebnenarnya harus dilakukan dengan membuka pintu-pintu berkah dari langit dan bumi untuk dialirkan ke alam bumi. Hal ini seharusnya dilakukan oleh orang-orang beriman. Bagi orang-orang secara umum, pemakmuran harus dilakukan dengan membuat langkah-langkah yang tepat dengan didukung kemampuan untuk menanggung beban. Apabila seseorang merasa takut terhadap kekurangan, kemampuan mereka untuk melakukan amal yang paling bermanfaat bagi masyarakat akan berkurang atau hilang. Mereka hanya akan berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang paling mendatangkan keuntungan bagi diri mereka sendiri bukan berdasar manfaat terbaik bagi umat. Manakala menjadi pemimpin, mereka membuat keputusan-keputusan yang merugikan masyarakat hanya untuk mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya bagi diri mereka seolah-olah mereka akan hidup abadi di dunia.

Tatanan masyarakat akan rusak manakala pimpinan-pimpinan yang mengurus umat diangkat dari kalangan manusia yang ingin memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya bagi mereka dan kelompok mereka. Akan terbentuk pemisahan antara orang-orang kaya dan miskin, dan orang-orang kaya akan semakin menjadi kaya dan orang miskin semakin tertindas dengan perbuatan-perbuatan orang-orang kaya. Orang-orang kaya membentuk jaringan kekuasaan yang mempertahankan kekuasaan mereka tanpa perhatian yang memadai terhadap kepentingan orang-orang lemah di antara mereka. Tidak jarang para pimpinan demikian menggunakan cara mempertakuti orang-orang miskin di antara mereka dengan kemiskinan yang bertambah, misalnya hilangnya program bantuan sosial dan lainnya. Tanpa suatu iktikad jahat, perasaan takut kekurangan akan menjadikan manusia bertindak tidak adil. Seringkali rasa takut kekurangan itu disertai dengan iktikad kurang baik sehingga amal-amal di masyarakat menjadi sangat buruk. Rasa takut kekurangan sangat berdekatan dengan kekejian.

Kekejian merupakan jalan syaitan yang lain dalam memerintahkan manusia, menunjukkan penyimpangan langkah yang ditempuh seseorang terhadap tuntunan yang seharusnya. Ada jarak yang sangat jauh tidak terkira antara hamba dengan rabb-nya, dan setiap hamba harus mendekat kepada rabb-nya melalui jalan yang ditentukan. Jalan seorang hamba untuk mendekat kepada rabb-nya harus dilakukan dengan menempuh jalan dan sarana yang ditentukan. Jalan itu dalam bentuk sempurna dapat dilihat dalam sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak orang yang menempuh jalan kepada rabb-nya walaupun tidak sesempurna Rasulullah SAW, dan Allah memperkenalkan dirinya dengan menurunkan tajalli-Nya, sebagaimana nabi Musa a.s di lembah suci Thuwa. Hal yang penting diperhatikan dalam menempuh jalan kepada Allah adalah hendaknya ia tidak menyimpang dari sunnah Rasulullah SAW. Penyimpangan langkah dalam menempuh jalan taubat merupakan kekejian. Demikian pula memilih sarana pengabdian secara menyimpang merupakan kekejian, sebagaimana kekejian seorang isteri yang menyimpang dari pengabdian kepada suaminya. Seseorang yang mengabdi kepada syaitan berarti telah melakukan kekejian.

Terkait dengan kesulitan dalam kehidupan di bumi, suatu kekejian membuat tatanan kehidupan menjadi rusak hingga manusia akan mengalami kesulitan untuk melakukan pemakmuran bumi. Terjadinya kekejian akan sangat menghambat proses mengalirnya khazanah dari sisi Allah untuk terwujud di alam bumi. Misalnya suatu pembacaan ayat kitabullah dan ayat kauniyah seharusnya menumbuhkan banyak pengetahuan pada akal orang-orang beriman hingga mereka dapat merumuskan tindakan-tindakan yang dibutuhkan secara tepat. Suatu kekejian akan menjadikan pengetahuan yang tumbuh di antara mereka menyimpang sehingga amal-amal yang terwujud tidak sesuai dengan tuntunan kitabullah. Kadangkala suatu kekejian membuat akal suatu kaum tidak peka terhadap kebenaran maka petunjuk-petunjuk Allah tidak dipahami. Ketidakpekaan akal ataupun penyimpangan dari tuntunan akan menimbulkan kesulitan dalam mewujudkan petunjuk Allah di alam dunia. Suatu pemahaman dalam akal seorang laki-laki mestinya dapat terealisasi di alam bumi dengan baik, akan tetapi suatu kekejian dalam rumah tangga akan menyebabkan usaha mewujudkan pemahaman itu menjadi sulit dilakukan.

Untuk mewujudkan tatanan manusia yang baik dan menjauhkan manusia dari tatanan syaitan, setiap kaum harus menghindarkan manusia dari rasa takut kekurangan dan menghindarkan manusia dari kekejian. Hal itu dapat dilakukan dengan berusaha memperkenalkan luasnya karuni Allah. Luasnya karunia Allah akan diketahui oleh orang-orang yang memperoleh ampunan dan fadhilah dari sisi Allah. Keinginan untuk memperoleh ampunan Allah dan memperoleh fadhilah dari sisi Allah harus tumbuh pada setiap diri manusia, maka mereka akan tahan terhadap upaya syaitan mempertakuti manusia dengan kekurangan dan memerintahkan mereka untuk berbuat kekejian. Rasa takut untuk mengalami kekurangan akan memudahkan syaitan untuk mengatur manusia berbuat kekejian, tetapi kekejian terjadi tidak hanya didorong dengan takut kekurangan. Sifat alamiah penciptaan manusia dari bumi dan hawa nafsunya menjadi media syaitan untuk mendorong manusia melakukan perbuatan keji.

Fadhilah dari sisi Allah akan menjadikan seseorang mengetahui jalan-jalan yang harus dilakukan dalam mengurus umat manusia memakmurkan bumi. Orang-orang yang memperoleh ampunan dan fadhilah dari sisi Allah berkewajiban untuk menjadi musuh syaitan dalam mengurus manusia dengan berusaha memperkenalkan manusia terhadap luasnya karunia Allah, menyeru manusia untuk memperoleh maghfirah dan fadhilah dari sisi Allah, menghindarkan manusia dari kekejian dan mengentaskan manusia dari rasa takut terhadap kekurangan. Barangkali pengetahuan seseorang dari fadhilahnya untuk tugas di atas tidak serta merta luas dan jelas. hal demikian tidak perlu dijadikan hambatan dalam berusaha. Keterbatasan pengetahuan pada diri seseorang akan semakin meluas seiring waktu, dan sangat banyak pengetahuan lain yang seharusnya dijalani bersama dalam al-jamaah. Yang penting diperhatikan dalam mengurus manusia adalah kebenaran dari pengetahuan-pengetahuan yang terbuka. Bila pengetahuan yang diperoleh keliru, upaya itu bisa justru berbahaya bagi umat.

Besarnya nilai manfaat yang akan diperoleh akan selaras dengan keberjamaahan. Satu orang yang memperoleh fadhilah dari sisi Allah tidak akan dapat merealisasikan khazanah dari sisi Allah sedikitpun manakala tidak disertai dengan seorang istri yang menyertai langkahnya. Demikian pula satu pasangan yang berusaha merealisasikan fadhilah dari sisi Allah akan semakin banyak menghasilkan nilai manfaat apabila ia memperoleh tempat di antara umat dalam menunaikan nilai manfaat dirinya. Manakala ada shahabat yang memperoleh fadhilah, mereka akan semakin besar memberikan nilai manfaat kepada umat secara bersama-sama dalam al-jamaah. Demikian nilai manfaat itu akan diperoleh selaras dengan tingkat keberjamaahan. Upaya ini akan menjadi rusak manakala suatu kekejian memasuki tatanan di antara masyarakat hingga usaha ini tampak tanpa hasil.

Infaq di Jalan Allah

Di antara peran yang harus dijalankan oleh setiap orang beriman bagi orang lain adalah memberikan infaq (belanja) di jalan Allah. Infaq menunjukkan perbuatan melepaskan bagian dari harta benda untuk memenuhi suatu kebutuhan. Tujuan dari melakukan infaq adalah memberikan suatu bagian pembiayaan terhadap suatu perjuangan. Infaq berbeda dengan shadaqah atau zakat, walaupun dalam sebagaian bentuk dzahirnya mungkin tampak serupa yaitu manakala seseorang memberikan infaq untuk memenuhi kebutuhan orang yang berjihad untuk agama. Seseorang yang berjihad di jalan Allah berhak untuk memperoleh bagian dari infaq, dan tidak selayaknya diberi shadaqah atau zakat.

﴾۷۶۲﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (QS Al-Baqarah : 267)

Kedudukan infaq lebih utama daripada shadaqah dan zakat. Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk menghilangkan kotoran dalam harta mereka. Setiap yang kotor hendaknya dibersihkan dari harta orang beriman melalui zakat, dan dalam setiap harta yang telah mencapai nishab terdapat bagian yang harus dizakati. Dengan zakat, umat islam dapat hidup dengan harta yang bersih. Shadaqah merupakan sikap pembenaran yang harus dilakukan oleh orang-orang beriman terhadap kebaikan. Senyum merupakan kebaikan yang bisa menjadi shadaqah, layaknya memberikan bagian harta kepada orang lain untuk dimanfaatkan dalam kebaikan bisa menjadi shadaqah. Suatu shadaqah merupakan sikap yang perlu dilakukan setiap muslim untuk mengikuti kebenaran. Infaq merupakan bentuk pembiayaan yang dilakukan orang beriman terhadap program jihad yang harus dilakukan.

Orang-orang beriman hendaknya berusaha menemukan jalan yang terbaik untuk melakukan infaq sedemikian infaqnya benar-benar akan dibelanjakan untuk berjihad di jalan Allah. Setiap orang seharusnya memperhatikan infaqnya dan bagian harta yang digunakan untuk infaq. Infaq hendaknya diberikan dari bagian terbaik dari harta-harta orang beriman. Berinfaq bagi perjuangan di jalan Allah harus dijadikan sebagai tujuan oleh setiap orang beriman dalam mencari harta, sedemikian setiap orang beriman hendaknya mengetahui jalannya untuk berinfaq, mengetahui infaqnya benar-benar digunakan secara tepat untuk perjuangan di jalan Allah, dan mengetahui bagian-bagian terbaik dari hartanya untuk diberikan sebagai infaq. Pengetahuan seseorang tentang infaqnya akan mengantarkan dirinya untuk ikut serta di jalan Allah.

Pada zaman Rasulullah SAW, semua infaq akan diterima Rasulullah SAW untuk jihad fi sabilillah. Keadaan pada zaman ini sedikit berbeda di mana umat islam tidak menemukan pemimpin tunggal yang dapat menentukan penggunaan infaq. Hal ini hendaknya tidak menyurutkan keinginan untuk memperoleh jalan terbaik untuk berinfaq. Orang-orang yang memperoleh maghfirah dan fadhilah dari sisi Allah termasuk bagian dari orang-orang yang mengetahui cara penggunaan infaq di jalan Allah. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang jalan keluar dari masalah dunia akibat jeratan dan tipuan syaitan, dan mempunyai pengetahuan tentang luasnya karunia Allah. Barangkali mereka tidak berhasil untuk merealisasikan pengetahuan itu dengan segala persoalan yang menimpa mereka, tetapi mereka mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Mereka membutuhkan infaq bukan untuk mengumpulkan harta, tetapi untuk melaksanakan urusan Allah. Mereka bukan orang-orang yang tertipu oleh syaitan yang mempertakuti manusia dengan kekurangan, dan tidak tertipu pula dengan kekejian yang diajarkan oleh syaitan.

Kekejian merupakan faktor utama yang menggagalkan usaha orang-orang yang memperoleh maghfiran dan fadhilah dari sisi Allah untuk memberikan nilai manfaatnya bagi umat mereka. Suatu kaum yang mengikuti kekejian dalam mengikuti tuntunan Allah akan sulit untuk memahami kebenaran sebagaimana mestinya. Mereka mengikuti waham kebenaran yang menutupi pandangan terhadap kebenaran dari sisi Allah. Orang-orang yang mengetahui luasnya karunia Allah barangkali tidak akan dipercaya oleh kaum mereka atau bahkan oleh keluarga mereka yang mengikuti kekejian hingga mereka mungkin saja sama sekali tidak bisa memberikan nilai manfaat kepada umatnya. Untuk merumuskan infaq di jalan Allah dengan keluarganya saja mungkin mereka tidak berhasil, apalagi membicarakan dengan umatnya. Bila suatu kekejian telah menghunjam hingga keluarganya, seseorang yang memperoleh fadhillah Allah akan kesulitan memberikan nilai manfaatnya kepada umatnya.

Infaq tidak selalu diwujudkan dengan memberikan harta kepada orang lain. Manakala seseorang menemukan jalan Allah yang harus mereka tempuh, mereka bisa membelanjakan harta mereka sendiri sebagai infaq di jalan Allah. Bahkan mereka bisa menerima infaq dari orang lain baik untuk berjihad di jalan Allah dan untuk memenuhi kebutuhan yang mencukupi mereka sendiri. Berikutnya, tidak sewajarnya bagi mukmin untuk meninggalkan orang dekatnya yang membutuhkan infaq untuk berjuang di jalan Allah menyumbangkan manfaat dirinya, dan tidak sewajarnya justru mencari penerima infaq dari kalangan orang asing. Setiap orang hendaknya memperhatikan orang dekatnya terlebih dahulu untuk berinfaq, bukan memberi infaq untuk orang-orang yang asing. Ada ketentuan bagi orang yang menerima fadhilah, manakala mereka menemukan imam untuk ruang dan jamannya, ia harus berusaha untuk menjadi bagian dari jihad imamnya, dan pengelolaan infaq dilakukan secara terintegrasi dengan imamnya.

Suatu infaq akan tumbuh subur manakala dikelola dengan baik oleh orang yang tepat. Pengelola infaq yang utama adalah orang yang memperoleh ampunan dan fadhilah dari sisi Allah, di mana mereka mempunyai pengetahuan tentang luasnya karunia Allah bagi umat manusia, dan mereka akan mengarahkan penggunaan infaq untuk program-program yang tepat. Pengelolaan infaq tidak sama dengan mengelola zakat, dimana orang-orang yang berhak untuk menerima zakat telah ditentukan secara syariat. Pengelolaan infaq kurang baik bila dilakukan oleh orang-orang yang sekadar mencari amal atau kehidupan dengan mengelola infaq, kecuali dalam membantu pengelolaannya. Infaq diberikan kepada orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan program-program yang harus dilaksanakan untuk membuka karunia Allah. Dalam al-jamaah, pengelolaan infaq dilakukan secara terintegrasi dan masing-masing ulul amri memperoleh anggaran sesuai dengan program yang dilaksanakan, dan orang-orang yang membantu ulul amr harus membantu merumuskan program-program yang paling baik.

Infaq hendaknya tidak dilakukan secara boros misalnya membiayai program-program yang tidak terlihat manfaatnya, tidak jelas hasil yang akan dicapai atau tidak jelas metode untuk mencapai tujuannya. Bila demikian, infaq tidak akan mendatangkan kemakmuran. Kadang pemborosan terjadi karena usaha yang berlebihan pada satu program hingga program yang lain tidak memperoleh perhatian. Hal demikian kadang terjadi karena pengelola infaq tidak menyatu pada Al-jamaah. Tidak jarang suatu pemborosan menjadikan hal-hal yang paling penting menjadi terbengkalai karena memperhatikan yang tidak penting. Kriteria penerima infaq utama adalah orang yang memperoleh fadhilah dan maghfirah Allah, tidak takut dengan kekurangan, tidak tertipu dengan kekejian syaitan dan mengenal jalan-jalan untuk membuka karunia Allah. Bila infaq diberikan kepada mereka, infaq itu akan tumbuh subur mendatangkan kemakmuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar