Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Berjalan kembali kepada Allah tidak ditunjukkan dengan perbuatan meninggalkan alam dunia, tetapi bahwa hendaknya manusia menghadapi alam dunia dengan selalu meningkatkan kualitas akal untuk memahami kehendak Allah maka ia dapat beramal sesuai dengan kehendak Allah. Proses membina diri untuk dapat memahami dan melaksanakan kehendak Allah dengan sebaik-baiknya itu merupakan proses kembali kepada Allah. Terdapat beberapa tahapan dalam proses berjalan kembali kepada Allah berupa tazkiyatun-nafs, mengenal nafs wahidah, membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan kemudian menjadi hamba Allah yang didekatkan. Setiap tahapan menunjukkan tingkat kekuatan akal dalam memahami kehendak Allah yang terkait dengan kedekatan kepada Allah. Semakin kuat akal seseorang dalam memahami kehendak Allah, ia semakin dekat kepada Allah.
Kemakmuran akan terwujud di bumi karena berkah yang dibukakan Allah bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Manusia akan menjadi makhluk yang membangun kemakmuran di bumi dengan menurunkan berkah-berkah dari langit dan dari bumi melalui amal-amal yang dilakukan oleh orang-orang yang bertaubat. Kemakmuran di bumi tidak akan dapat diwujudkan bila manusia tidak beriman dan bertakwa. Adapun kemakmuran-kemakmuran yang bisa tampak sebenarnya tidak mengandung banyak berkah dan terkandung madlarat di dalamnya.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan membukakan kepada mereka berkah-berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [Al-A’râf : 96]
Kunci pembuka barakah dari langit dan bumi adalah keimanan dan ketakwaan. Kebanyakan manusia menyangka bahwa kemakmuran itu akan terwujud dari usaha-usaha gigih mereka untuk menghasilkan sesuatu. Kemakmuran yang terwujud semata dari usaha demikian seringkali tidak membawa barakah, hanya merupakan balasan lahiriah yang layak bagi upaya yang dilakukan manusia karena Allah tidak akan merugikan usaha manusia. Sebenarnya akan ditemukan banyak ketimpangan dari upaya demikian. Manakala seseorang berusaha memperoleh kemakmuran, sangat mungkin ia merugikan orang lain dan/atau harus berebut dengan orang lain. Manakala bekerjasama dengan orang lain, sangat mungkin mereka perlu merugikan hak-hak orang lain. Hal demikian sangat wajar terjadi pada upaya-upaya pemakmuran dengan mengandalkan upaya sendiri, dan madlarat yang terjadi tidak terbatas kerugian dalam bentuk-bentuk demikian.
إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنَ الدُّنْيَا، وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ، فَإِنَّ اللهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِي الْآخِرَةِ وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِي الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ
Sesungguhnya bila seorang kafir berbuat satu kebaikan, ia akan diberi rezeki sebagai balasannya di dunia. Adapun seorang Mukmin, maka sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla menyimpankan balasan kebaikannya di akhirat dan juga memberinya rezeki di dunia atas ketaatannya.[HR Muslim]
Untuk membuka barakah dari langit dan bumi, umat manusia hendaknya beriman dan bertakwa kepada Allah. Keimanan tidaklah terbatas pada percaya, tetapi harus menjadikan tuntunan Allah sebagai cahaya yang menerangi usaha-usaha yang dilakukan. Banyak orang yang percaya adanya Allah yang menciptakan seluruh alam akan tetapi tidak memandang tuntunan yang telah diturunkan sebagai cahaya yang menerangi usaha yang mereka lakukan. Ada orang-orang yang percaya bahwa Allah akan menunjukkan kepada mereka jalan untuk melakukan pemakmuran akan tetapi tidak berusaha mencari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagian umat menyangka bahwa mereka memperoleh petunjuk Allah untuk melakukan sesuatu tetapi mereka tidak mencari landasan petunjuk itu pada kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Keimanan-keimanan demikian tidak menunjukkan keimanan yang sungguh-sungguh. Keimanan yang sesungguhnya adalah manakala manusia memperoleh cahaya kehidupan dari tuntunan Allah yang telah diturunkan.
Bertakwa menunjuk pada upaya mewujudkan cahaya keimanan yang telah dipahami dalam langkah-langkah pemakmuran. Setelah memahami tuntunan Allah tentang kauniyah berdasar kitabullah, mereka kemudian merumuskan langkah-langkah sesuai dengan apa yang mereka pahami dari tuntunan Allah. Pemahaman tuntunan Allah yang terbina pada diri mereka bukan semata-mata pemahaman terhadap redaksi ayat-ayat kitabullah atau hadits, tetapi juga terintegrasi dengan pemahaman keadaan kauniyah. Suatu pemahaman terhadap redaksi ayat kitabullah saja kadangkala atau seringkali bukan merupakan bentuk pemahaman yang benar. Ada orang-orang yang melakukan kesewenang-wenangan terhadap orang lain menggunakan ayat kitabullah, maka hal demikian tidak menunjukkan pemahaman yang benar. Pemahaman akan terwujud manakala seseorang memahami kauniyah mereka sesuai dengan tuntunan ayat kitabullah. Melakukan langkah-langkah berdasarkan pengetahuan demikian merupakan bentuk ketakwaan yang akan membuka berkah-berkah di langit dan di bumi.
Iman dan Takwa dalam Ekonomi (contoh)
Dewasa ini, kehidupan di bumi bukanlah kehidupan yang sejahtera. Hampir setiap penduduk bumi hidup dalam riba, setidaknya hidup terpapar debu-debu riba. Kehidupan dalam belitan riba sebenarnya mendatangkan madlarat yang banyak bagi umat manusia, tetapi sebagian besar manusia tidak menyadari bahwa mereka mengalami kehidupan yang sulit karena jeratan riba. Sebagian besar manusia menerima realitas demikian dan berpikir bahwa kehidupan memang seharusnya berjalan dengan cara demikian. Bahkan orang-orang islam pun kebanyakan berpikir demikian, hampir tidak ada yang berpikir bahwa Allah sebenarnya memberikan tuntunan untuk memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera. Ada kelompok umat yang berusaha untuk melepaskan diri dari riba tetapi tidak dapat melepaskan diri karena tidak mengetahui fundamen sistem riba. Sangat sedikit umat yang bisa melihat fundamen dari sistem riba dan melihat celah untuk melepaskan diri dari sistem riba tersebut.
Tanpa melihat fundamen sistem riba yang terjadi, sulit bagi umat islam untuk melepaskan diri dari jeratan riba. Sangat banyak orang yang berusaha untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera bagi kaum mereka, tetapi mereka hanya memperoleh kemajuan yang sedikit. Memahami fundamen sistem riba yang terjadi berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan wujud dari keimanan, dan melaksanakan langkah-langkah dari pengetahuan tersebut merupakan bentuk ketakwaan. Iman dan ketakwaan dalam bentuk demikian merupakan keimanan dan ketakwaan yang akan membuka berkah-berkah yang ada di langit dan di bumi. Pengakuan keimanan dan ketakwaan tanpa suatu cahaya pemahaman dari tuntunan Allah bukan merupakan keimanan dan ketakwaan yang dapat membuka berkah-berkah yang ada di langit dan di bumi.
Dewasa ini, ekonomi bangsa Indonesia sangat timpang sedangkan kebanyakan penduduknya orang islam dan orang beriman. Seharusnya orang-orang beriman memikirkan keadaan ini berdasarkan tuntunan Allah. Setengah kekayaan bangsa ini terkumpul pada sebagian kecil manusia. Hal ini membuat modal usaha yang beredar dan dapat diperoleh masyarakat mayoritas menjadi kecil. Orang-orang kaya itu tidak memutarkan kekayaan itu untuk usaha-usaha yang memberikan manfaat pada masyarakat luas, tetapi digunakan untuk usaha-usaha mereka sendiri. Masyarakat luas tidak memperoleh kesempatan memadai untuk bergerak di bidang usaha yang ada, karena bidang-bidang usaha itu justru dikuasai pemilik modal untuk mereka sendiri dan sesedikit mungkin memberikan kepada masyarakat luas. Sebagian masyarakat yang memperoleh kesempatan diarahkan untuk membuat keruwetan dan korupsi di tatanan masyarakat dan membuat kerusakan lingkungan. Masyarakat secara umum tidak dibantu untuk memperoleh kesempatan berusaha dan memperoleh modal. Bahkan bidang-bidang usaha yang mestinya secara khusus diperuntukkan bagi masyarakat kecil dibiarkan dicaplok para pemodal besar tanpa suatu aturan yang melindungi. Rumusan ekonomi yang menjadikan masyarakat luas dapat memperoleh akses usaha dan permodalan sepertinya tidak diperhatikan secara serius oleh pemerintah, dan bahkan para pelaku pemerintahan terkesan menjual kebijakan untuk memberikan keuntungan bagi pemodal besar untuk menguasai tatanan masyarakat.
Hal demikian seharusnya diperhatikan oleh orang-orang beriman. Ada sesuatu yang salah dalam tatanan ekonomi hingga keadaan masyarakat sulit. Tidak semestinya keadaan berjalan demikian. Seandainya belum dapat melangkah, seharusnya orang beriman memperoleh pemahaman yang fundamental dalam menghadapi masalah demikian. Bila orang beriman tidak memikirkan masalah, tidak ada orang yang dapat memikirkannya. Bila orang beriman hanya berusaha sebagaimana orang-orang kebanyakan atau orang kafir berusaha tanpa mencari landasan langkah berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk memahami permasalahan yang terjadi, umat manusia akan semakin terpuruk diperbudak para pemilik modal. Landasan sistem ekonomi ribawi harus digeser menuju sistem ekonomi yang mengikuti tuntunan Allah, dan struktur ekonomi bangsa harus dirumuskan untuk dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat yang luas untuk dapat berperan serta memberikan kontribusi terhadap pemakmuran bangsa. Bila orang-orang beriman terjebak hanya mencari kesempatan berusaha, orang beriman akan terjepit dalam permasalahan ekonomi tanpa memperoleh jalan keluar.
Permasalahan riba dalam struktur ekonomi merupakan salah satu bagian dari ayat Allah yang terhampar. Banyak masalah lain yang harus menjadi perhatian kaum mukminin. Sisi pertahanan misalnya, infiltrasi faham-faham khawarij atau gerakan komunisme terhadap orang beriman hendaknya diperhatikan dengan baik. Masalah kesehatan manusia dan kesetimbangan lingkungan juga harus mendapatkan perhatian yang layak. Syiar agama, pendidikan dan pembinaan manusia merupakan pokok-pokok yang harus diperhatikan lebih dari masalah yang lain. Demikian pula penataan sumber daya alam dan penataan sumber daya manusia, seluruhnya harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya.
Seandainya orang-orang di suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Allah akan membukakan berkah-berkah dari langit dan bumi, akan tetapi kebanyakan orang mendustakan ayat-ayat Allah. Barangkali jaman ini tidak banyak bentuk pendustaan terhadap ayat Allah yang dilakukan secara terang-terangan, tetapi sangat sedikit pula orang yang berusaha memikirkan persoalan berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian tidak akan membuat pintu berkah terbuka. Boleh jadi kebanyakan orang tidak benar-benar beriman dengan keimanan yang dapat membuka berkah, atau boleh jadi sebagian di antara mereka mendustakan tanpa mendzahirkannya. Kaum mukminin harus beriman dan bertakwa dalam tingkatan memperoleh cahaya yang menerangi kehidupan dari syariat yang ada dalam tuntnan Allah.
Berbagai Persoalan
Pengabaian terhadap masalah umat yang terkait dengan tuntunan Allah akan menimbulkan masalah besar. Kaum beriman tidak boleh meninggalkan perhatian terhadap ayat-ayat Allah yang terhampar. Suatu kaum mungkin tidak memperhatikan ayat Allah karena melakukan taklid terhadap panutan hingga tidak mau memperhatikan ayat Allah selain yang dibacakan kepada mereka. Ada pula kaum yang akal mereka terbungkus dengan keping kebenaran yang sempit hingga tidak mau memperhatikan ayat Allah dengan lebih menyeluruh. Hal demikian bisa menjadi contoh keadaan yang menyebabkan suatu kaum tidak memperhatikan tuntunan Allah. Sungguh Allah telah berkehendak menghamparkan keseluruhan ayat kauniyah itu bagi seluruh umat manusia dan makhluknya untuk menjadi pengajaran bagi mereka semua. Tidak ada yang bisa membatasi kehendak Allah untuk mengajarkan penjelasan. Tidak adanya arahan dari pemimpin hendaknya tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk memperhatikan ayat Allah. Apabila pemimpin atau ulul amri melarang memperhatikan ayat Allah, hal itu tidak boleh ditaati orang beriman. Tidak ada pula yang berhak membatasi perhatian seseorang terhadap suatu ayat Allah, atau menganggap perhatian mereka terhadap ayat Allah tidak penting. Larangan untuk memperhatikan ayat Allah hanya boleh dilakukan terhadap seseorang yang menyimpang dalam memahaminya.
Suatu kemakmuran akan lebih mudah terbangun manakala sikap rahmaniah terbina pada suatu kaum, yaitu berusaha untuk mencari kebenaran dengan memahami kehendak Allah agar dapat berbuat sesuai kehendak-Nya. Sikap rahmaniah merupakan parameter kesuburan pada kaum laki-laki. Suburnya seorang laki-laki ditandai dengan gairah yang tumbuh pada akal manakala memperoleh stimulasi berupa suatu kebenaran. Kaum laki-laki yang tidak mempunyai semangat manakala memperoleh stimulasi kebenaran menunjukkan kemandulan nafs mereka. Tanpa sikap rahmaniah, suatu kaum akan mudah terlena dari kebenaran. Suatu keping kebenaran bisa saja menjadi penyebab akal kaum menjadi tumpul dalam memahami kebenaran secara lebih menyeluruh. Manakala ayat-ayat Allah datang kepada mereka, mereka tidak mempunyai keinginan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik karena hanya mau berkutat dengan kebenaran diri mereka sendiri.
Sikap rahmaniah harus tumbuh dalam suatu landasan menjadi hamba Allah yang dapat bertindak dengan benar sesuai kehendak Allah. Orang dengan sifat rahmaniah tidak mau terkungkung suatu waham kebenaran sendiri, tetapi selalu berusaha memperhatikan ayat Allah dengan seksama. Hal yang sangat menghambat pertumbuhan sifat rahmaniah pada kaum muslimin adalah kesesatan. Kesesatan merupakan sifat yang tumbuh di antara orang yang ingin mengikuti kebenaran tetapi kebenaran yang mereka ikuti keliru sedangkan mereka meyakini sebagai kebenaran. Kesesatan bukan menunjuk pada suatu sikap kufur yang jelas. Suatu kesesatan dapat menjadikan nafs-nafs pada suatu kaum menjadi mandul ketika menerima ayat Allah. Mereka menyangka kebenaran yang ada pada diri mereka telah sempurna. Kadangkala suatu kaum yang mengikuti kesesatan membatasi kebenaran pada orang-orang yang mereka tentukan, tidak pada ayat-ayat Allah yang diturunkan dan digelar Allah di semesta hingga mungkin saja mereka mempertentangkan ayat Allah dengan kebenaran versi mereka sendiri. Tentu saja sikap demikian menjadikan sikap rahmaniah tidak tumbuh dalam diri mereka kecuali hanya pada lisan-lisan saja. Sikap rahmaniah harus tumbuh di atas suatu keinginan untuk menjadi hamba Allah yang dapat bertindak dengan benar sesuai kehendak Allah.
Penghambaan sungguh-sungguh kepada Allah sebenarnya harus dibangun di atas dua sifat, yaitu rahman dan rahim, tetapi kadangkala seseorang tumbuh menguat pada satu sifat. Sifat rahman menunjukkan keinginan untuk dapat memahami dan berbuat sesuai dengan kehendak Allah, dan sifat rahim menunjukkan sifat menyayangi orang lain sebagaimana menyayangi diri sendiri. Sifat rahim seringkali berbentuk keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain. Kaum laki-laki akan tumbuh menguat rahmaniahnya, sedangkan kaum perempuan akan menguat rahimiahnya. Pernikahan yang baik akan menumbuhkan sifat-sifat itu secara seimbang. Manakala seseorang hanya menguat pada satu sifat tanpa diiringi sifat lainnya secara seimbang, ada beberapa hal yang bisa dijadikan parameter kebenaran. Seseorang tidak bisa mengandalkan pendapat sendiri atau pendapat orang lain dalam menilai kelurusan kebenarannya. Kelurusan sifat rahman bernilai benar bila sesuai dengan perilaku kauniyahnya. Tanpa mengamati ayat kauniyah, kebenaran dari sifat rahman seseorang mungkin hanya kebenaran hawa nafsu. Suatu sifat rahim kadangkala tidak berdiri lurus manakala tidak disertai sifat rahman. Sifat rahim sangat mungkin mengandung kekejian manakala seseorang tidak mentaati tuntunan Allah. Bagi kebanyakan manusia, sifat rahim akan lebih mempengaruhi persepsi tentang kebenaran dari diri seseorang, sedangkan mungkin saja perbuatan orang tersebut masih bengkok tetapi dinilai baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar