Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Taubat kembali kepada Allah harus dilakukan dengan proses membina diri untuk dapat memahami dan melaksanakan kehendak Allah dengan sebaik-baiknya. Terdapat beberapa tahapan dalam proses berjalan kembali kepada Allah berupa tazkiyatun-nafs, mengenal nafs wahidah, membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan kemudian menjadi hamba Allah yang didekatkan. Setiap tahapan menunjukkan tingkat kekuatan akal dalam memahami kehendak Allah yang terkait dengan kedekatan kepada Allah. Semakin kuat akal seseorang dalam memahami kehendak Allah, ia semakin dekat kepada Allah.
Proses taubat itu sangat penting bagi setiap orang beriman. Doa utama orang beriman adalah permohonan untuk ditunjukkan pada shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim menunjukkan suatu keadaan di mana seseorang memperoleh petunjuk tentang amal-amal yang merupakan amanah Allah yang dikalungkan baginya sejak sebelum kelahirannya.
﴾۶﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS Al-Fatihah : 6)
Orang yang bertaubat harus berusaha sungguh-sungguh untuk terus memahami kehendak Allah dan bertindak sesuai dengan pemahaman yang benar. Usaha seseorang untuk memahami kehendak Allah akan menjadikan seseorang mengenal shirat al-mustaqim, yaitu apabila upaya itu dilakukan dengan benar. Seseorang yang bertaubat akan dapat mengenal kandungan Alquran apabila ia telah mencapai nafs yang disucikan, dan pengetahuan tentang kandungan Alquran akan mengantarkan dirinya untuk mengenal nafs wahidah. Manakala seseorang mengenal nafs wahidah dirinya, ia akan mengenali shirat al-mustaqim yang harus ditunaikan. Orang yang mengenal nafs wahidah akan mengenali rabb-nya. Hal itu sebenarnya tidak terbatas pada pengenalan terhadap rabb-nya, tetapi juga kedudukan dirinya dalam kebenaran, kedudukan dirinya terhadap amr jami’ Rasulullah SAW, kedudukan dirinya dalam al-jamaah dan banyak hal termasuk fungsi dirinya di alam ciptaan. Shirat al-mustaqim merupakan pelaksanaan manfaat dirinya di alam ciptaan.
Membaca Kitabullah
Alquran merupakan penuntun yang paling baik bagi setiap orang untuk memahami kehendak Allah dan mengenal shirat al-mustaqim. Setiap orang dapat membentuk hubungan yang bersifat khusus terhadap kitabullah Alquran tidak dibatasi oleh orang lain. Seorang syaikh akan mengajarkan kepada para muridnya dasar-dasar untuk memahami kitabullah Alquran, tetapi pemahaman terhadap Alquran yang terbentuk pada setiap manusia tidak dapat terbatasi oleh sang syaikh. Allah merupakan sumber firman-Nya yang tidak terbatasi oleh sesuatupun, maka tidak ada yang dapat membatasi hubungan antara seorang hamba dengan Allah, kecuali pengetahuan yang dilimpahkan kepada Rasulullah SAW. Firman Allah bagi seluruh makhluk-Nya dibatasi dengan pengetahuan yang dilimpahkan kepada Rasulullah SAW, karenanya hubungan yang benar antara seorang hamba dengan Allah dibatasi dengan pengetahuan Rasulullah SAW.
Para syaikh mengajarkan dasar-dasar kitabullah kepada para murid agar para murid dapat membaca kandungan dalam kitabullah. Hal ini harus benar-benar dihayati oleh para murid. Misalnya manakala syaikh mengajarkan agar setiap murid menggunakan mata, pendengaran dan hati untuk memahami ayat Allah, hendaknya para murid berusaha memperhatikannya. Banyak murid yang mengikuti sang syaikh berhenti pada terbentuknya mata pendengaran dan hati pada dirinya tanpa digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Bila demikian yang terjadi, maka para murid tidak benar-benar mengikuti apa yang diajarkan oleh syaikh. Tidak taatnya para murid terhadap apa yang diajarkan sang syaikh seringkali mendatangkan madlarat yang besar bagi umat manusia. Bukan hanya karena kebodohan yang terbentuk, tetapi sering pula diiringi munculnya suatu madlarat yang besar pada masyarakat. Orang-orang yang mengikuti syaikh untuk memahami ayat-ayat Allah bisa saja justru dituding oleh orang-orang yang tidak menggunakan akal sebagai orang yang mengada-ada, sedangkan seharusnya setiap orang harus memahami hubungan dirinya kepada Allah dalam bentuk khusus. Kasus lainnya, kadangkala hawa nafsu seseorang tumbuh bersama tumbuhnya indera-indera tanpa disertai akal, maka ia kemudian bisa berkuasa dengan hawa nafsu.
Bekal-bekal pengenalan diri seseorang benar-benar terdapat pada pengetahuannya terhadap ayat-ayat Allah. Pengetahuan terhadap kandungan ayat-ayat Allah telah dapat dibina manakala seseorang menempuh tazkiyatun-nafs hingga mencapai derajat orang yang disucikan. Sucinya nafs seseorang akan menjadi pendahuluan terhadap pengenalan nafs wahidah. Benih pengenalan diri seseorang bisa tumbuh manakala ia mengenal keadaan kauniyah berdasarkan hakikat berupa pengetahuan terhadap ayat kitabullah. Seseorang akan dapat merasakan peran dirinya di alam kauniyah bila memahaminya berdasarkan kitabullah, dan kemudian bisa terus tumbuh hingga ia berada dekat dengan jati dirinya. Pengenalan seseorang terhadap nafs wahidah seringkali bersifat diskrit dengan pengetahuan sebelumnya. Artinya, seseorang seringkali tidak mempunyai gambaran sama sekali tentang nafs wahidah dirinya hingga saat diperkenalkan, tetapi ia telah berada dalam keadaan yang dekat. Manakala pengetahuan terhadap ayat-ayat Allah tidak terbentuk, seseorang tidak dapat berada pada keadaan yang dekat dengan jati dirinya.
Pengetahuan yang akan menjadi bekal mengenal diri adalah pengetahuan yang diyakini. Ilmu yang diyakini ditandai dengan adanya kemampuan untuk membenarkan berdasarkan struktur pengetahuan yang telah ada. Hal ini bergantung pada akal seseorang, dan tidak berkorelasi dengan benar dan salahnya informasi. Mungkin seseorang mendengar dari orang lain ilmu yang benar tetapi tidak bisa membenarkan maka ilmu yang diperoleh bukan ilmu yang diyakini. Atau sebaliknya seseorang mendengar ilmu yang salah tetapi mengetahui ayat yang lebih tepat tentang ilmu itu, maka pengetahuan itu merupakan pengetahuan yang diyakini. Ilmu yang diyakini itu yang akan mengantarkan seseorang untuk mengenal diri.
Waspada Menempuh Jalan
Syaitan di sisi lain berkepentingan terhadap umat manusia untuk mengenal jati dirinya secara keliru. Hal ini menjadi kisah klasik turunnya Adam ke bumi, dan demikian syaitan hingga saat ini menginginkan untuk menggegas manusia untuk mengenal dirinya secara prematur. Tidak semua manusia digegas untuk mengenal diri, hanya orang-orang yang mencari. Setiap orang harus memperhatikan jalannya agar tidak terjebak oleh tipuan syaitan. Jalan yang harus ditempuh oleh setiap manusia adalah melakukan tazkiyatun-nafs dan berusaha memahami ayat Allah dengan seksama dan tepat. Mungkin ada kesalahan-kesalahan dalam upaya memahami, maka hal itu akan menjadi berbahaya bila menjadi keyakinan. Apabila seseorang berusaha kembali pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, kesalahan-kesalahan itu mungkin akan terkoreksi dan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. Sangat penting bagi setiap orang untuk berusaha memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan seksama dan tepat.
Tidak kalah penting, setiap orang harus berusaha mengenal diri dalam kedudukannya sebagai bagian dari al-jamaah. Shirat al-mustaqim merupakan jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang mengenal kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW, kedudukan dirinya dalam al-jamaah. Setiap orang manakala mengenal diri harus berusaha menemukan kedudukan dirinya dalam al-jamaah, setidaknya mengetahui bahwa peran dirinya termasuk amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Sebenarnya seseorang mempunyai pula washilah yang terdekat untuk ruang dirinya, maka mengenal washilah itu akan membantu menemukan al-jamaah. Tanpa mengenal kedudukan dalam al-jamaah, sangat banyak bahaya yang dapat menimpa.
﴾۷﴿صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
(7)(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)
Ada banyak orang-orang yang diberi karunia nikmat Allah, dan orang-orang demikian menempuh jalan yang satu yaitu shirat al-mustaqim. Hal ini tidak menunjukkan kesamaan dalam semua amal, tetapi menunjukkan kesatuan dalam al-jamaah. Masing-masing orang yang memperoleh karunia nikmat Allah mengerjakan hal yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain, akan tetapi semua mengerjakan untuk urusan yang sama yaitu amr jami’ Rasulullah SAW. Setiap orang mengerjakan urusan masing-masing untuk melaksanakan peran diri sebagai bagian dari amr Rasulullah SAW.
Tidak semua umat manusia menjadi orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Ada orang-orang yang hidup dalam murka Allah, dan ada orang-orang yang tersesat dari jalan Allah. Kebanyakan manusia tidak benar-benar berada pada keadaan yang tetap pada ketiga golongan di atas, tetapi berada dalam pengaruh tarikan-tarikan dari ketiga golongan manusia. Hanya sedikit orang yang masuk dalam golongan orang yang memperoleh nikmat Allah, dan sedikit orang yang benar-benar hidup dalam murka Allah, dan sedikit pula orang yang benar-benar tersesat. Sebagian besar manusia berada dalam tarikan ketiga golongan manusia tersebut. Sekalipun hanya ditarik pada satu golongan, kebaikan, keburukan dan imbalan yang akan diperoleh seseorang akan mengikuti golongan yang diikutinya.
Bagi kaum muslimin, secara khusus hal yang penting dihindari adalah kesesatan. Kesesatan menimpa orang-orang yang berkeinginan untuk kembali mendekat kepada Allah akan tetapi jalan yang ditempuh menyimpang. Mereka mempunyai keinginan untuk mengikuti kebenaran tetapi kebenaran yang mereka ikuti keliru sedangkan mereka meyakini hal-hal yang keliru tersebut sebagai kebenaran. Hal tersebut bisa terjadi karena barangkali mereka tidak menggunakan akal untuk memahami kehendak Allah, atau mengikuti hawa nafsu dan syaitan. Andai saja mereka berkeinginan untuk sungguh-sungguh mengikuti kehendak Allah, niscaya mereka tidak membina keyakinan yang keliru. Adapun kesalahan-kesalahan mungkin saja terjadi, akan tetapi mereka akan lebih mudah untuk menyadari kesalahannya, tidak akan terbentuk keyakinan terhadap kesalahan sebagai suatu kebenaran.
Setiap orang harus menyadari bahwa untuk kembali kepada Allah, mereka harus membentuk diri sebagaimana kehendak Allah yang tercantum dalam Alquran. Kembali kepada Allah tidak dapat ditempuh dengan mengikuti keinginan sendiri atau pendapat sendiri. Syaitan sangat berkeinginan kembali kepada Allah karena ia mengetahui kedudukan mulia di sisi Allah, tetapi tidak mau membentuk diri sebagaimana kehendak Allah. Demikian pula di antara manusia, yang paling jauh sesat di antara manusia adalah orang yang mempunyai hati, telinga dan mata hati tetapi tidak digunakan dengan semestinya. Mereka justru menggunakan indera-indera bathiniah untuk mengikuti hawa nafsu mereka sendiri, tidak mau mendengarkan atau melihat kebenaran dari kauniyah mereka, dan tidak digunakan untuk memahami ayat Allah. Sikap demikian kadangkala tidak disadari walaupun sangat mengherankan bagi orang lain yang terdzalimi dengan sikap mereka.
Kaum khawarij dan para ahli bid’ah bisa menjadi contoh kaum yang tersesat. Kaum khawarij berusaha memahami tuntunan berdasarkan hawa nafsu maka mereka terlempar jauh dari islam. Sebagian orang hanya berkeinginan terhadap kehidupan dunia dengan agama kemudian memperoleh urusan aneh-aneh yang harus dikerjakan, maka umat manusia mudah mengetahui bid’ah yang mereka lakukan. Sebagian orang berkeinginan untuk kembali kepada Allah akan tetapi tidak waspada terhadap tipuan syaitan, maka bid’ah yang timbul dari mereka sulit untuk dikenali. Sebagian ahli bid’ah berasal dari orang-orang yang ingin bertaubat kepada Allah dan kemudian menemukan urusan-urusan yang harus dikerjakan, akan tetapi urusan-urusan itu tidak termasuk dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Bid’ah yang demikian akan menimbulkan kesulitan bagi umat manusia. Manakala orang mengikuti, mereka akan mengarah pula pada kesesatan.
Amr Rasulullah SAW adalah urusan-urusan terkait dengan ruang dan jaman ditimbang dari sudut pandang hakikat. Hakikat dalam hal ini berupa kebenaran yang diungkapkan dalam kitabullah Alquran. Setiap orang yang mengerti urusan dirinya hendaknya benar-benar mencari tuntunan langkahnya dari kitabullah agar terjauh dari bid’ah. Bagi orang awam, tidak semua hal yang dilihatnya baru merupakan bid’ah. Banyak urusan-urusan Allah yang dahulu belum ditampakkan, dan banyak urusan Rasulullah SAW diturunkan terkait dengan ruang dan jaman. Ada pula ilmu-ilmu pada tingkat praktis yang diturunkan terkait ruang dan jaman. Urusan-urusan yang ditampakkan baru tetapi merupakan bagian dari kitabullah Alquran bukanlah suatu bid’ah. Ketidakmampuan memahami tuntunan Allah hendaknya tidak dijadikan bahan membuat perselisihan di antara umat Rasulullah SAW.
Dalam tingkatan praktis, amr jami’ Rasulullah SAW terbagi kepada orang-orang yang benar-benar menolong beliau SAW dalam suatu al-jamaah yang masing-masing mengenal urusan dirinya sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW, maka keberjamaahan akan membantu menyatukan urusan dengan amr Rasulullah SAW. Barangkali satu orang tidak mengenal sepenuhnya urusan sahabatnya, akan tetapi ia mungkin bisa mengenali kesatuan urusan dengan amr jami’ Rasulullah SAW. Dalam banyak hal, keasingan terhadap urusan sahabat hanya terjadi pada masalah terperinci, tidak pada masalah pokok. Seringkali amr yang dilakukan orang yang menolong Rasulullah SAW akan terganggu dengan bid’ah yang terjadi di antara kaum mukminin. Hendaknya setiap orang sungguh-sungguh mencari kesatuan urusannya dengan amr Rasulullah SAW, dan hal itu kadangkala harus dilakukan dengan berusaha menemukan washilah. Seseorang tidak boleh membantah arahan washilahnya manakala tidak bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Lurusnya jalan taubat dihitung dari sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s, yaitu menjadi hamba Allah yang didekatkan melalui bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tahap langkah menuju terbentuknya bayt menunjukkan kualitas pemahaman seseorang terhadap agamanya, diawali dengan tazkiyatun-nafs, kemudian menuju pengenalan diri, lalu membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan puncaknya menjadi hamba Allah yang didekatkan. Suatu langkah menjadi prasyarat bagi langkah yang lain. Misalnya seseorang yang mengenal diri memiliki pemahaman lebih baik daripada orang yang disucikan, tetapi pengenalan diri itu tidak sah manakala tazkiyatun-nafs ditinggalkan. Demikian seterusnya. Tidak ada seseorang yang mengenal Allah dengan benar yang meninggalkan langkah-langkah dalam taubat.
Membentuk bayt menjadi tujuan taubat dalam kehidupan dunia, dan pernikahan menjadi setengah bagian dari agama. Kedudukan pernikahan mengungkapkan kesempurnaan hamba Allah dalam memahami kehendak Allah. Pernikahan merupakan media yang akan menghubungkan sepasang manusia terhadap tuntunan Allah secara terintegrasi berupa ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat kitabullah, dan memproses pasangan tersebut untuk menjadi hamba Allah yang sebenarnya. Seorang laki-laki akan terhubung pada urusan-urusan dunia secara haq melalui isterinya yang mengharuskannya untuk mencari tuntunan kitabullah, dan seorang isteri harus berusaha memahami ayat kitabullah melalui suaminya. Dengan proses demikian, sepasang manusia akan mengalami transformasi menjadi hamba Allah yang lebih baik, pasangan manusia yang memahami ayat-ayat Allah dan kehendak-Nya secara lebih tepat. Besaran nilai yang dapat diperoleh seseorang dalam memahami kehendak Allah akan sangat dipengaruhi oleh akal masing-masing pihak yang menikah dan kualitas pernikahan. Suatu pernikahan dapat mengantarkan seseorang menjadi penguasa atau menjadi seorang pecundang dalam pandangan masyarakat. Pernikahan menjadi bagian dari keseluruhan proses taubat dari awal hingga akhir tujuan bertaubat di alam dunia.
Sebenarnya agama Allah merupakan pemahaman terhadap kesatuan ayat-ayat Allah dan tindakan ketakwaan yang mengikutinya. Sebagian orang berbangga dengan kemampuan menggunakan indera-indera bathiniah hingga meremehkan orang-orang yang memahami integritas ayat kauniyah dan kitabullah. Hal demikian tidak seharusnya terjadi. Kemampuan indera bathiniah merupakan kelengkapan yang harus digunakan untuk membangun integritas pemahaman terhadap ayat Allah, tidak boleh digunakan secara terbalik justru untuk meremehkan suatu pemahaman. Hal ini harus disadari baik oleh orang yang mempunyai indera bathin ataupun orang-orang yang takjub dengan mereka dan mengikutinya, sehingga setiap orang dapat membina agamanya dengan lebih sempurna. Bila terbalik, suatu kaum akan sangat mudah tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh justru karena mengikuti indera bathiniah mereka.
Kesempurnaan agama Rasulullah SAW ditunjukkan dengan paripurnanya jalan bagi makhluk untuk membentuk kedekatan terhadap rabb-nya. Kesempurnaan agama tidak ditunjukkan oleh sempurnanya ritual beribadah, karena pelaksanaan ibadah dalam bentuk demikian sebenarnya merupakan karunia Allah terhadap hamba yang ingin memperoleh sarana terhubung kepada Allah. Hamba Allah-lah yang membutuhkan syariat, sedangkan Allah tidak membutuhkan manusia melaksanakan syariatnya, dan tidak membutuhkan pembelaan manusia terhadap syariat. Manakala membela syariat, setiap orang harus meniatkannya untuk menjaga sarana itu untuk manfaat manusia, tidak membuat-buat manusia sebagai musuh Allah. Dalam kasus tertentu, gerakan menuding bid’ah terhadap orang lain sebenarnya merupakan strategi musyrikin untuk memecah belah umat islam dari dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar