Pencarian

Jumat, 30 Agustus 2024

Akhlak Mulia Mengikuti Rasulullah SAW

 Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW merupakan mitsal yang paling sempurna bagi cahaya Allah. Allah memberikan cahaya bagi langit dan bumi agar manusia dan para makhluk dapat memahami kehendak Allah tentang penciptaan diri mereka, dan seluruh cahaya yang hendak ditampakkan Allah tersebut diberikan kepada Rasulullah SAW. Allah menghadirkan asma Ar-Rahman pada ufuk yang tertinggi kepada Rasulullah SAW maka Rasulullah SAW mengenal asma Allah yang paling tinggi dengan pengenalan yang paling sempurna. Ar-Rahman merupakan asma Allah yang beristiwa’ di atas ‘arsy.

﴾۵۱﴿يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ
﴾۶۱﴿يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
(15)Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu apa-apa yang kamu sembunyikan dari isi alkitab, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.(16)Allah menunjuki dengan kitab itu orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS Al-Maidah : 15-16)

Rasulullah SAW merupakan misykat cahaya paling sempurna yang dapat membentuk seluruh bayangan cahaya Allah tanpa suatu kesalahan sedikitpun. Beliau SAW dapat memahami cahaya Allah hingga alam yang tertinggi di atas ‘Arsy. Tidak ada makhluk lain yang dapat memahami cahaya Allah sebagaimana Rasulullah SAW memahami. Pemahaman yang dikenal oleh Rasulullah SAW dapat menyingkapkan seluruh kebenaran, baik yang diajarkan manusia ataupun tidak diketahuai, yang disembunyikan ataupun yang dihapus oleh manusia maupun makhluk-makhluk lain. Demikian pula pemahaman beliau SAW dapat mengenali kebenaran-kebenaran palsu yang muncul di antara makhluk-makhluk.

Waspada Terhadap Penyimpangan

Setiap manusia harus berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW dan berpegang pada tuntunan kitabullah agar dapat berjalan kembali kepada Allah dengan selamat. Rasulullah SAW adalah mitsal yang paling sempurna bagi cahaya Allah dan yang benar. Iblis pada sisi lain sangat ingin memperkenalkan dirinya kepada makhluk-makhluk sebagai pembawa cahaya, dan menamakan dirinya demikian (lucifer). Kekuatan iblis tidak boleh dianggap remeh karena dahulu ia tinggal di suatu tempat yang memungkinkannya bertemu dengan tajalli Allah bersama dengan para malaikat yang didekatkan. Di suatu tafsir, dengan penyederhanaan dikatakan bahwa iblis mengambil huruf alif pada kalimat bi ismillah, sehingga ayat tersebut menjadi berbunyi bismillah. Sebenarnya Iblis itu tidak dapat mencuri. Peristiwa dipindahkannya huruf alif ini menunjukkan bahwa Allah berkehendak agar manusia mengenal asma-Nya dengan benar dibalik semua hijab yang ditutupkan atas diri mereka. Ini juga menunjukkan kepada manusia adanya keinginan iblis untuk tampil kepada manusia sebagai pengganti asma Allah. Mengenal Allah dengan benar hanya dapat dilakukan bila manusia mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Iblis dan balatentaranya pada dasarnya mengenal dengan baik kebenaran-kebenaran, tetapi ia mempunyai keinginan untuk dipandang sebagai pembawa cahaya. Selain itu, ia mempunyai dendam yang besar kepada umat manusia sehingga ia sangat berkeinginan untuk menjadikan manusia celaka. Berbagai karakter dalam diri Iblis membuatnya bisa tampil dalam berbagai bentuk yang diinginkannya dan menipu manusia, baik tampil dalam karakter pendendamnya ataupun tampil dalam karakter malaikat yang memberikan penerangan kepada umat manusia. Bagi para penyembahnya, ia bisa tampil dalam wujud malaikat yang baik atau jahat tergantung keinginannya, memberikan kepandaian dan kekuatannya kepada para penyembahnya. Bagi orang beriman ia kadang menampilkan dirinya mengaku sebagai Allah agar dijadikan taghut sesembahan bagi mereka untuk menyesatkan manusia. Bisa juga ia meminjamkan kekuatannya kepada manusia untuk menipu mereka. Keadaan seperti ini termasuk hal yang dikatakan bahwa Iblis telah mencuri huruf alif.

Hal ini harus diperhatikan oleh setiap orang yang ingin kembali kepada Allah. Iblis tidak hanya berusaha menyesatkan manusia dengan bentuk-bentuk kejahatan. Manakala seseorang ingin mempunyai pengetahuan langit, iblis dapat dengan mudah memberikan pengetahuan-pengetahuan langit. Manakala seseorang ingin kekuasaan atau kekayaan, iblis dapat membantu memilihkan bagi seseorang jalan terbaik yang mungkin dilakukan untuk mengantarkan mencapai keadaan yang diinginkan. Yang tidak dapat diberikan iblis kepada manusia adalah sifat rahman dan rahim, tetapi iblis menggunakan pula suatu ilmu malaikat yang dijadikan Allah sebagai fitnah hingga ia seolah-olah ia memberikan pula sifat rahman dan rahim. Sifat cinta kasih itu manakala datang melalui tangan iblis, sifat itu merupakan fitnah yang harus diwaspadai. Setiap orang harus tumbuh dengan berdasar pengetahuan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Sangat penting bagi manusia untuk memiliki ilmu melalui tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. banyak ilmu yang bisa diperoleh makhluk dari semesta alam. Manusia dapat memperoleh ilmu dari ayat-ayat kauniyah, atau ayat kitabullah atau memperolehnya melalui campur tangan syaitan. Ilmu-ilmu yang diperoleh seseorang itu akan sangat berguna untuk memahami ayat-ayat Allah kecuali ilmu yang diperoleh melalui tangan syaitan. Sangat penting bagi manusia untuk tidak mengambil ilmu dan meninggalkan ilmu melalui tangan syaitan. Apabila syaitan memberikan ilmu, sekalipun manusia memandangnya baik tetapi sebenarnya syaitan mempunyai celah untuk memanfaatkan ilmu yang mereka berikan. Misalnya ilmu dua malaikat Harut dan Marut barangkali akan dipandang baik oleh manusia akan tetapi syaitan dapat memanfaatkan ilmu itu untuk tujuan mereka. Syaitan juga akan menyembunyikan bagi mereka pengetahuan kunci yang akan mendekatkan diri mereka kepada Allah apabila manusia mencari ilmu dari mereka. Karenanya hendaknya manusia meninggalkan ilmu demikian sekalipun bila mereka memandang baik karena akan mendatangkan madlarat yang sangat banyak bagi manusia.

Kedudukan Rasulullah SAW dan Kitabullah

Rasulullah SAW adalah cahaya Allah dan kitabullah merupakan kitab yang menjelaskan. Kedua tuntunan tersebut akan menunjukkan kepada manusia yang mengharapkan ridha Allah jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan ijin Allah, dan akan menunjukkan mereka kepada jalan yang lurus. Sangat penting bagi umat islam pengikut Rasulullah SAW untuk memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebelum menginginkan pertemuan dengan Allah, sedikit berbeda dengan cara yang digunakan nabi-nabi jaman dahulu yang kadangkala berkomunikasi kepada Allah dan Allah memberikan jalan komunikasi bagi mereka.

Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW telah diijinkan Allah untuk menunjukkan kepada para hamba Allah jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya Allah dan bahkan menunjukkan jalan yang lurus untuk kembali kepada Allah. Karena itu untuk urusan-urusan demikian hamba Allah hendaknya berusaha menemukannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Urusan-urusan demikian merupakan urusan utama bagi manusia, dan hal itu telah dapat ditemukan melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa memandang remeh makna hubungan personal kepada Allah, memperhatikan kedua tuntunan itu lebih memberikan keselamatan bagi hamba Allah daripada langsung memohon tuntunan Allah. Bukan karena nilai hubungan kepada Allah tidak utama, tetapi secara natur manusia adalah makhluk yang lemah dan bodoh yang mudah dirampok oleh makhluk lain manakala tidak memperhatikan tuntunan yang diturunkan secara nyata. Dari sisi adab, memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan bentuk penghormatan kepada sarana yang telah diturunkan Allah bagi hamba-Nya, dan merupakan bentuk pengagungan hamba kepada Allah yang terwujud dari terbinanya khauf (takut) dan raja’ (harap) kepada Allah dalam diri mereka.

Derajat ijin Allah atas kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mencakup semua aspek, tidak ada yang tersisa. Manakala seseorang mengikuti langkah nabi Musa a.s berhijrah menuju tanah suci, kesempurnaan langkah berhijrah itu belum menunjukkan kesempurnaan langkah dalam bertaubat kepada Allah. Ia harus membina bayt di tanah suci itu untuk memperoleh ijin Allah meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Membina bayt demikian hanya dapat terjadi manakala hamba Allah mengikuti langkah Rasulullah SAW dan mewujudkan tuntunan kitabullah. Bila demikian yang dilakukan seseorang manakala berada di tanah sucinya, mereka berada pada batas-batas ijin Allah. Bila seseorang mengandalkan pengetahuan dirinya tentang tanah suci mereka, mereka mungkin tidak berada pada batas-batas ijin Allah dan bisa saja mereka menyimpang dan tersesat dari jalan Allah. Manakala seseorang kemudian menyimpang langkahnya setelah tiba di tanah suci, ia akan celaka.

Setelah jaman Rasulullah SAW, tidak ada hamba Allah yang boleh mengandalkan dirinya sendiri untuk membina hubungan kepada Allah. Bersumpah atas nama Allah tentang kebenaran diri mereka yang bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sama sekali bukan langkah yang dibenarkan. Hal ini tidak termasuk perbuatan merendahkan kedudukan Allah sebagai landasan sumpah, tetapi karena terkait dengan kekurangan seorang hamba dalam memahami kebenaran. Kebenaran puncak yang diperkenalkan Allah terwujud dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan segala kebenaran yang mungkin dikenal makhluk yang bertentangan dengan tuntunan itu tidak benar. Akal makhluk yang memahami kebenaran secara menyimpang itulah yang bermasalah dan bukan merupakan kebenaran dari Allah, tidak boleh dijadikan bahan permasalahan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Setiap hamba Allah harus berusaha untuk membina akhlak mereka mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sehingga dapat kembali kepada Allah dengan selamat. Tumbuhnya akhlak mulia dalam diri seseorang ditunjukkan dengan kemampuan mereka bersikap terhadap kauniyah mereka sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala umat manusia menyangka bahwa akhlak mulia adalah adab yang disukai oleh mereka, sehingga apabila seseorang yang mereka sukai berpendapat bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetap dipandang berakhlak mulia. Hal ini kurang tepat. Akhlak mulia ditunjukkan dengan kemampuan seseorang bersikap terhadap kauniyah mereka sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Terbentuknya akhlak mulia akan diuji pada setiap fase kehidupan. Dalam kehidupan dunia, akhlak mulia ditunjukkan dengan kemampuan bersikap mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Di alam barzakh, setiap orang yang membina akhlak mulia akan diuji akhlak mereka dengan pengenalan terhadap Rasulullah SAW. Orang-orang yang yakin akan mengenal dengan baik Rasulullah SAW dan apa yang beliau SAW sampaikan. Di hadirat Allah, akhlak-akhlak yang tampak baik tetapi tidak tumbuh dari tuntunan ayat-ayat Allah akan gugur terlepas dari pemilik akhlak.

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
( أُوحِيَ إِلَيَّ: أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي قُبُورِكُمْ ، يُقَالُ : مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ ؟ فَأَمَّا المُؤْمِنُ أَوِ المُوقِنُ فَيَقُولُ: هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّه ِ، جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالهُدَى ، فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا، هُوَ مُحَمَّدٌ ثَلاَثًا، فَيُقَالُ: نَمْ صَالِحًا قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا بِهِ ، وَأَمَّا المُنَافِقُ أَوِ المُرْتَابُ فَيَقُولُ: لاَ أَدْرِي، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ )
Diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya kamu semua akan diuji dalam kuburan. Dikatakan, “Apa pengetahuanmu tentang orang ini? Maka orang mukmin atau orang yang yakin akan menjawab, “Dia adalah Muhammad Rasulullah. Ia datang kepada kami dengan penjelasan dan petunjuk. Maka kami menjawab dan mengikutinya. Dia adalah Muhammad, (mereka mengatakan) tiga kali. Dikatakan, “Tidurlah dengan tenang, kami telah mengetahui bahwa anda termasuk orang yang meyakininya. Sementara orang munafik atau orang yang ragu dia akan menjawab, “Saya tidak tahu. Saya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka saya ikut mengatakannya. ( HR Bukhori, no.86 dan Muslim no.905 )

Orang-orang beriman dan yakin akan mengetahui kebenaran-kebenaran dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan bersikap membenarkan. Membenarkan menunjukkan telah tumbuhnya sikap yang selaras dalam diri orang yang membenarkan terhadap apa yang mereka benarkan. Dalam sikap membenarkan terhadap Rasulullah SAW dan kitabullah, sikap ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang menumbuhkan akhlak sesuai dengan tuntunan Allah. Manakala seseorang tidak membina diri untuk bersikap sebagaimana tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka tidak akan bisa membenarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin mereka orang-orang yang pernah mendengar suatu kebenaran tetapi tidak benar-benar menumbuhkan akhlak mereka sesuai dengan tuntunan Allah.

Secara keseluruhan, orang-orang islam akan berada di antara/hingga dua keadaan itu. Akan banyak orang yang beriman dan meyakini Rasulullah SAW, sangat banyak orang yang sebenarnya hanya mendengar saja dari orang lain tentang kebenaran dari Rasulullah SAW tanpa suatu keyakinan. Mereka meyakini kebenaran hanya sebatas yang dikatakan orang lain sebagai kebenaran tanpa mengetahui nilai kebenaran atau kesalahannya. Manakala orang lain mengatakan suatu kesalahan sebagai kebenaran, mereka mungkin ikut mengatakannya sebagai kebenaran. Manakala orang lain mengatakan suatu kebenaran sebagai kesalahan, mereka mungkin ikut mengatakan sebagai kesalahan. Mereka tidak membentuk akhlak diri sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga memperoleh keadaan mampu membenarkan Rasulullah. Manakala mereka berpindah ke alam barzakh, mereka akan mengalami ketakutan terhadap pertanyaan-pertanyaan di alam barzakh.

Senin, 26 Agustus 2024

Hakikat Sebagai Bobot Timbangan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW membentuk akhlak mulia harus dilakukan dengan usaha memahami ayat-ayat Allah baik ayat kauniyah, ayat kitabullah maupun ayat dalam diri. Keseluruhan ayat Allah akan mengarahkan manusia untuk memahami ayat-ayat tersebut secara terintegrasi, yaitu bagi orang-orang yang ingin membentuk diri dalam akhlak mulia. Pemahaman terintegrasi yang benar terhadap ayat-ayat Allah merupakan hakikat, dan hakikat itu akan menjadi bobot besar bagi timbangan seseorang di hadirat Allah. Bobot timbangan seseorang di hadirat Allah kelak akan ditentukan berdasarkan hakikat yang dikenal, bukan jumlah amal-amal yang dilakukan oleh seseorang.

﴾۸﴿وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (al-haqq), maka barangsiapa berat timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Al-A’raaf : 8)

Ayat di atas sangat terkait dengan diturunkannya kitabullah agar manusia memperoleh pelajaran dan memberikan peringatan tentang kehidupan mereka. Hakikat diturunkan bersama kitabullah. Orang-orang yang memahami alam semesta selaras tuntunan kitabullah merupakan orang-orang yang mengenal hakikat. Kitabullah itu benar-benar diturunkan dari sisi Allah sedangkan hal-hal yang lain tidak sama dengan kitabullah. Boleh jadi seseorang mengenal kebenaran, boleh jadi seseorang berpegang pada pemahaman yang salah, atau boleh jadi seseorang mengenal kebenaran dan mengikuti pula pemahaman yang salah. Tidak ada jaminan kebenaran yang dapat diperoleh manusia kecuali dari kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW. Dengan diturunkannya kitabullah dari sisi Allah, hendaknya setiap orang mengikuti apa-apa yang diturunkan Allah tidak mengambil wali-wali selain dari Allah.

Bobot seseorang di hadirat Allah akan ditimbang berdasarkan pengenalan mereka terhadap hakikat. Sebenarnya bobot seseorang di alam dunia juga ditentukan dengan pengenalan mereka terhadap hakikat. Hasil yang baik dari amal-amal seseorang pada dasarnya merupakan buah dari hakikat-hakikat yang dikenalinya, bukan dari amal-amal yang dilakukan. Sangat banyak amal-amal yang disangka manusia sebagai kebaikan tetapi sebenarnya justru mendatangkan madlarat yang banyak bagi mereka. Misalnya para pemimpin yang curang boleh jadi berkeinginan menjadikan kaum mereka bodoh dan kemudian memberikan bantuan kepada kaumnya karena kelemahan mereka, maka kaum mereka kemudian memandang baik pemimpin mereka dan apa-apa yang dilakukan mereka. Perbuatan para pemimpin demikian tidak akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan kaum tersebut, dan tidak memberi bobot bagi timbangan di akhirat, karena sebenarnya perbuatan mereka mendatangkan keburukan yang besar bagi kaum mereka. Sangat banyak bentuk-bentuk keburukan yang dapat dibuat manusia dalam tampilan yang baik, maka hal-hal demikian tidak mempunyai bobot kebaikan bagi umat manusia.

Sebenarnya hasil yang baik itu hanya akan muncul dari orang-orang yang mengenal kebenaran (hakikat) dari sisi Allah. Akan tetapi tidak semua orang yang mengenal hakikat dapat mewujudkan kebaikan yang mereka kenal ke alam dunia. Sekalipun demikian, kebenaran itu benar-benar akan tetap menjadi pemberat bagi timbangan mereka di akhirat kelak. Bila orang-orang yang mengenal hakikat memperoleh keadaan yang tepat untuk melahirkan hakikat yang mereka kenali, maka akan terwujud kebaikan-kebaikan yang banyak di alam dunia. Bila tidak memperoleh keadaan yang tepat bagi terwujudnya suatu pengenalan hakikat, maka umat manusia tidak memperoleh buah dari pengetahuan mereka. Hal ini tidak merugikan orang yang mengenal hakikat karena mereka akan memperoleh bobot timbangan mereka di hadirat Allah, tetapi masyarakat mereka akan kehilangan banyak manfaat dari kebenaran yang dapat dilahirkannya.

Mengikuti Kebenaran

Di antara orang-orang beriman, boleh jadi ada yang mengambil wali-wali selain Allah dengan meninggalkan petunjuk kitabullah. Perbuatan demikian tidak diperbolehkan untuk dilakukan oleh orang-orang beriman. Yang dilarang bukanlah perbuatan mengambil wali, karena ada wali-wali Allah yang benar di antara manusia. Mengambil perwalian kepada mereka diperbolehkan selama tidak menyelisihi atau menentang kitabullah. Mengambil perwalian dari para wali Allah akan memudahkan langkah taubat kepada Allah, tetapi hendaknya setiap orang menjaga batas-batas dalam mengambil perwalian. Apabila mengambil perwalian kepada mereka dilakukan hingga menyelisihi kitabullah, maka mereka telah mengambil wali-wali selain Allah. Bila mengambil perwalian dilakukan hingga dengan perbuatan menentang kitabullah, maka boleh jadi mereka telah mempertuhankan wali-wali di antara mereka. Hal demikian tidak diperbolehkan. Setiap orang tidak boleh mengambil wali-wali selain Allah.

Untuk menjaga batas tersebut, setiap orang harus menegakkan batas langkah antara mengikuti dan bertaklid. Yang membedakan langkah mengikuti dan bertaklid hanya berupa perbedaan tipis dalam hati seseorang, dan seringkali orang lain tidak dapat membedakan antara orang yang mengikuti dan orang bertaklid. Mengikuti langkah wali adalah mengikuti langkah para wali dengan mencari landasan amal-amal dirinya dari kitabullah, sedangkan bertaklid terjadi karena mengikuti amal tanpa memperhatikan landasan dari kitabullah. Ada amal-amal para wali mereka yang mungkin tidak dimengerti tetapi boleh dilakukan karena tidak ada syubhat dan madlarat yang menyertai, ada yang tidak boleh dilakukan selama belum memperoleh keterangan dari kitabullah. Seseorang tidak boleh mengikuti para wali apabila melihat madlarat yang mengikuti amalnya, walaupun mungkin saja sebenarnya pendapatnya salah setelah ia memahami. Apabila seseorang melihat pertentangan terhadap kitabullah pada suatu amal atau perkataan, ia tidak boleh mengikuti amal atau perkataan itu karena hal itu termasuk dalam sikap taklid dan mengambil wali selain Allah.

Jalan mewujudkan kebaikan di alam dunia ini adalah dengan berusaha mewujudkan pengenalan hakikat oleh orang-orang yang mengenalnya. Tidak semua orang dapat melihat suatu hakikat, tetapi dapat menimbang kebenaran hakikat yang dibacakan. Umat manusia hendaknya mendengarkan dan mengikuti orang-orang yang membacakan hakikat dari ayat kitabullah terkait mereka dan mengikuti apa-apa yang dibacakan. Orang-orang yang membacakan ayat Allah tidaklah mengharapkan suatu imbalan dari kaumnya, tetapi mengharapkan adanya kebaikan bagi mereka dengan mewujudkan urusan-urusan Allah yang harus dikerjakan. Apabila ada suatu infaq dari orang yang mendengarkan seruannya, maka infaq itu akan menjadi penyiram benih kebaikan yang seharusnya diwujudkan. Tanpa ada infaq, hakikat yang mereka bacakan ibarat menanam benih tanpa disiram. Manakala bacaan mereka diabaikan, kadangkala mereka takut akan akibat buruk yang akan menimpa kaumnya dan takut akan pertanggungjawaban atas apa yang dilalaikannya dari urusan Allah, tetapi tidak merasa kehilangan imbalan atas amal-amal yang mereka lakukan. Pengetahuan terhadap hakikat itu bernilai jauh lebih tinggi bagi pengenal hakikat daripada imbalan-imbalan duniawi yang mungkin tidak mereka peroleh, dan mereka mengetahui bahwa pengetahuan hakikat itu akan menjadi bobot dirinya di hadirat Allah.

Ringannya Bobot Kebenaran

Bobot dari pengetahuan hakikat pada masing-masing manusia bisa berbeda-beda meskipun misalnya berpijak pada realitas dan tuntunan ayat kitabullah yang sama. Hal itu bergantung pada perhatian mereka terhadap kehendak Allah yang terkandung pada ayat-ayat yang mereka perhatikan. Ada orang-orang yang mempunyai bobot hakikat yang besar dan ada orang-orang yang mempunyai bobot hakikat yang ringan.

﴾۹﴿وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ
Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka berbuat dzalim dengan (menggunakan) ayat-ayat Kami (QS Al-A’raaf : 9)

Ada orang-orang yang berbuat dzalim dengan ayat-ayat Allah, maka mereka itu termasuk orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan bobot hakikat mereka ringan. Ringannya bobot hakikat mereka bertimbal balik dengan kedzaliman. Bobot hakikat ringan menyebabkan mereka berbuat dzalim, dan kedzaliman mereka membuat bobot hakikat yang dapat mereka pahami ringan. Mereka adalah orang-orang yang memperhatikan ayat-ayat Allah tetapi ayat-ayat itu menjadikan mereka berbuat dzalim. Kedzaliman mereka terjadi karena tidak sungguh-sungguh memperhatikan kehendak Allah, hanya memperhatikan ayat-ayat Allah untuk kepentingan-kepentingan yang tidak berhubungan erat dengan kehendak Allah. Mungkin kepentingan itu berupa kepentingan diri sendiri atau kemegahan-kemegahan umat menurut hawa nafsu mereka meskipun kemegahan itu mungkin tampak baik. Hal-hal demikian dapat menyebabkan seseorang berbuat dzalim dengan ayat-ayat Allah.

Memperhatikan ayat Allah harus dilakukan untuk dapat beramal shalih menunaikan kehendak Allah, tidak boleh dilakukan untuk memperoleh kepentingan diri sendiri. Setiap orang harus berusaha benar-benar memperhatikan kehendak Allah atas diri mereka hingga mereka dapat melaksanakan perintah-Nya. Manakala muncul suatu kebutuhan atau keinginan terhadap sesuatu dalam dirinya, hendaknya keinginan itu tidak dipenuhi dengan memanfaatkan ayat-ayat Allah, tidak menghalangi atau mengurangi perhatiannya terhadap kehendak Allah, atau bahkan hendaknya ia berusaha untuk tidak memberikan tempat pada keinginan itu. Tidak jarang suatu lintasan pikiran atau keinginan secara perlahan-lahan membengkokkan langkah tanpa terasa, maka ia akan celaka bila tidak berusaha kembali memperhatikan kehendak Allah dengan sebaik-baiknya. Kadangkala suatu rahmat dari Allah kemudian menjadikan seseorang terlupa terhadap penghambaan dirinya hingga ia berbuat kufur. Hal-hal demikian akan menjadikan bobot dari pengenalan terhadap hakikat menjadi ringan sehingga merugikan dirinya sendiri. Ia mungkin memandang dirinya bernilai tinggi sedangkan di mata Allah ia hanya bernilai ringan atau justru termasuk orang-orang yang dilupakan.

Ringannya bobot hakikat pada diri seseorang cenderung akan menjadikan mereka menyentuhkan akar pertumbuhan pada hawiyah. Manakala ayat-ayat Allah digunakan seseorang untuk membangun sesuatu tidak berdasar keinginan mengikuti kehendak Allah, maka pemahaman terhadap ayat-ayat itu akan tumbuh berakar kepada suatu hawiyah di neraka yang sangat panas. Walaupun benih pemahaman mereka merupakan kebaikan dari ayat-ayat Allah, tetapi mereka tumbuh di atas ibu hawa nafsu. Buah dari pertumbuhan demikian berbentuk kedzaliman-kedzaliman yang terbungkus dengan ayat-ayat Allah. Mereka menjadi orang-orang yang dzalim dan orang-orang yang mengikuti mereka akan terdzalimi. Suatu ayat kitabullah mungkin mereka gunakan untuk mendzalimi umat islam yang lain, atau suatu ayat dalam hati digunakan untuk melegitimasi kedzaliman terhadap orang lain. Boleh jadi mereka memandang indah kedzaliman itu sebagai perintah Allah karena ringannya pemahaman mereka terhadap hakikat yang menjadi kehendak Allah.

Orang-orang yang mempelajari ayat-ayat Allah harus menghindari hawiyah. Kebenaran yang ringan bobotnya cenderung akan mengantar seseorang menuju hawiyah, karena itu setiap orang hendaknya bersungguh-sungguh dalam memperhatikan tuntunan kitabullah berdasar keinginan membina akhlak mulia. Kebenaran yang ringan tidak mempunyai nilai yang mantap dalam menuntun manusia pada nilai-nilai kehidupan. Kadangkala ringannya bobot kebenaran dibungkus dengan waham-waham yang menjadikan bobot yang ringan terlihat berat, waham yang mempertakuti manusia agar terus mengikuti kebenaran yang ringan itu dan menganggapnya berbobot. Kadangkala suatu kebenaran yang telah berat bobotnya dicampur dengan syubhat dan kesesatan kemudian campuaran itu menjadikan orang yang mengikutinya menjadi dzalim, maka kebenaran itu menjadi ringan manakala tidak dibersihkan. Kebenaran yang ringan itu kelak di hari yang berat akan menjadi seperti anai-anai yang tertiup api tidak mampu berpijak. Untuk memperoleh bobot timbangan, setiap orang harus berusaha mengikuti kehendak Allah.

Bobot suatu kebenaran yang harus diikuti manusia dapat ditinjau berdasar pada tujuan membina sifat rahman dan rahim. Sifat Rahman menunjuk pada keinginan untuk menyeru manusia menuju kehidupan yang terang sesuai petunjuk Allah. Orang yang bersifat rahman akan mengajak manusia untuk memperkuat akalnya dalam memahami kehendak Allah dan menghindarkan manusia mensia-siakan akal dan pikiran yang benar. Kadangkala seseorang mengajak manusia kepada tuntunan Allah akan tetapi dilakukan dengan menutup akal yang orang-orang yang diseru dari memahami petunjuk Allah, maka hal demikian menunjukkan belum tumbuhnya sifat rahmaniah pada penyeru. Tidak jarang seruan demikian hanya merupakan dorongan hawa nafsu. Sifat rahmaniah menjadikan seseorang bisa memahami kebenaran dan bisa menunjukkan kebenaran itu kepada orang lain, serta dapat menerima pendapat orang lain yang lebih baik. Sifat rahim menunjukkan keinginan seseorang terhadap kebaikan bagi orang lain, baik berupa kebaikan bagi nafs hingga kebaikan pada tataran jasmaniah manusia.

Terwujudnya kebaikan bagi umat manusia akan terjadi manakala manusia mengikuti tuntunan Allah dengan melihat hakikat-hakikat yang diperkenalkan oleh orang-orang yang menyeru mereka kembali kepada Allah Ar-Rahman Ar-Rahim. Hakikat yang dikenali oleh seseorang seringkali tidak dapat terwujud ke alam dunia tanpa kesertaan masyarakat dalam mewujudkan kehendak Allah, walaupun tetap saja hakikat itu menjadi bobot seseorang di hadirat Allah. Sangat disayangkan apabila hakikat yang dikenali seseorang tidak terwujud di alam dunia, karena umat manusia akan kehilangan kebenaran dari sisi Allah. Wahana utama yang dibutuhkan seseorang untuk mewujudkan nilai-nilai hakikat dari sisi Allah adalah bayt yang diijinkan Allah untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah di dalamnya. Pernikahan yang baik akan menjadi media utama terwujudnya kebaikan dari hakikat-hakikat yang dapat dikenali oleh manusia. Bila para perempuan suatu negeri tumbuh dengan baik sesuai dengan tuntunan Allah, maka kemakmuran di suatu negeri akan terjadi. Kemakmuran yang mencakup nafs dan raga akan terwujud manakala para laki-laki dan perempuan negeri itu shalih. Bila kaum laki-laki yang shalih di suatu negeri didustakan oleh isteri-isteri mereka, suatu adzab akan mengintai negeri itu. Pembinaan perempuan merupakan kunci pemakmuran suatu negeri, dan pembinaan yang salah akan menyebabkan kerusakan yang besar pada negeri. Rumah tangga yang baik menjadi sarana terwujudnya kemakmuran suatu negeri.

Kamis, 22 Agustus 2024

Menumbuhkan Akhlak Mengikuti Kitabullah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW membentuk akhlak mulia harus dilakukan dengan usaha memahami ayat-ayat Allah baik ayat kauniyah, ayat kitabullah maupun ayat dalam diri. Keseluruhan ayat Allah akan mengarahkan manusia untuk memahami ayat-ayat tersebut secara terintegrasi, yaitu orang-orang yang ingin membentuk diri dalam akhlak mulia mengikuti langkah Rasulullah SAW. Akan tetapi tidak semua orang kemudian dapat memahami ayat-ayat Allah dengan baik karena berbagai permasalahan yang terjadi pada diri mereka.

Sebagian orang berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk membentuk akhlak mulia akan tetapi tidak bersungguh-sungguh berusaha memahami ayat-ayat Allah dengan baik. Tidak sedikit orang yang berusaha membina diri sebagai insan dengan mengikuti hawa nafsu sendiri, atau mengikuti indera-indera baik dzahir atau bathin yang mereka miliki hingga mereka tumbuh sebagai manusia yang mempunyai visi-visi yang tampak besar. Sekalipun tampak besar, belum tentu orang demikian mempunyai akhlak yang benar-benar mulia selama mereka tidak menumbuhkan visi mereka berdasarkan ayat-ayat Allah yang digelar bagi mereka. Akhlak mulia akan tumbuh manakala seseorang menumbuhkan diri berdasarkan petunjuk ayat-ayat Allah, bukan hanya berdasar visi-visi mereka sendiri ataupun visi kaum mereka.

﴾۶۲۱﴿قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS Thaahaa : 126)

Ayat di atas merupakan jawaban yang difirmankan Allah kepada orang-orang yang dahulu termasuk sebagai orang-orang mempunyai bashirah di alam dunia, tetapi kemudian dikumpulkan di hadirat Allah dalam keadaan buta. Mereka adalah orang-orang yang kehilangan akhlak yang mereka bina di alam dunia, karena tidak membina akhlak berdasarkan ayat-ayat Allah. Manakala ayat-ayat Allah dibacakan kepada mereka, mereka melupakan ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka. Sebagian besar keadaan mereka disebabkan karena mereka memilih mengikuti pendapat mereka sendiri tentang kebenaran, tidak mengikuti petunjuk-petunjuk yang diturunkan melalui ayat-ayat Allah.

Melupakan ayat-ayat Allah yang disampaikan tidak hanya menunjuk suatu penolakan yang jelas terhadap ayat-ayat Allah. Melupakan ayat Allah menunjukkan sikap tidak memberikan perhatian terhadap ayat Allah secara proporsional sesuai dengan tingkat kepentingan ayat-ayat yang dibacakan. Boleh jadi orang yang melupakan ayat Allah adalah orang-orang yang dapat memahami kebenaran ayat-ayat yang dibacakan akan tetapi lebih memandang penting waham mereka sendiri daripada ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka. Kadangkala mereka tidak percaya kepada orang yang membacakan, walaupun mempercayai bacaannya benar. Seringkali hal demikian menunjukkan adanya kesombongan atau adanya fitnah yang dibiarkan menghinggapi masyarakat. Mereka memilih menumbuhkan akhlak mereka mengikuti waham kebenaran yang mereka ikuti daripada mengikuti ayat-ayat kitabullah. Sekalipun orang-orang demikian bisa mempunyai bashirah, telinga bathin dan qalb dalam kehidupan di dunia, mereka akan kehilangan akhlak mereka itu manakala dikumpulkan di hadirat Allah kelak. Mereka akan dikumpulkan di hadirat Allah dalam keadaan buta walaupun dahulu mereka dapat melihat.

Tidak ada alasan bagi manusia untuk melupakan suatu bacaan ayat Allah yang benar, karena timbangan atas bacaan itu telah diturunkan berupa kitabullah. Menyentuh ayat-ayat Allah pada dasarnya hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang disucikan, tetapi bacaan yang benar terhadap kitabullah dapat dilkenali oleh setiap orang yang ingin memahami dengan ikhlas ayat Allah dengan akalnya. Bila seseorang belum meyakini suatu bacaan yang benar, hendaknya ia menimbang bacaan itu dengan kitabullah tidak meninggalkannya hingga ayat itu terlupakan. Bacaan kitabullah yang benar akan menjadi jalan bagi manusia untuk mengerti maksud dari ayat-ayat Allah. Tidak ada yang lebih penting untuk diperhatikan oleh setiap manusia dari seruan untuk kembali kepada Allah melalui jalan yang ditentukan sesuai dengan penjelasan ayat-ayat Allah. Tidak ada bacaan kitabullah yang benar bertentangan dengan redaksi dari kitabullah. Setiap yang bertentangan dengan kitabullah tidak boleh dianggap sebagai kebenaran.

Bagi orang-orang yang belum diberi kemampuan membaca kitabullah, mereka dapat mengikuti bacaan dari orang lain untuk membina akhlak mulia agar dapat memahami kehendak Allah. Hal demikian akan membuat suatu susunan prioritas bacaan terhadap kitabullah. Urusan yang dekat dengan seseorang akan mudah dipahami oleh orang tersebut, sedangkan urusan yang tidak dekat relatif akan lebih sulit dipahami. Tersusunnya prioritas dalam mengikuti bacaan akan menunjukkan arah kehidupan diri. Yang penting, setiap orang hendaknya memperhatikan bahwa yang diikuti benar merupakan bacaan ayat kitabullah. Manakala seseorang tidak memperhatikan ayat kitabullah yang menjadi sumber bacaan itu, ia tidak memperoleh kebenaran yang mantap dari bacaan itu. Bobot dari amal-amal yang dilakukan akan ditentukan dari kebenaran yang dikenal.

Melupakan Ayat Allah

Orang yang melupakan kitabullah berasal dari kalangan orang-orang yang tidak sungguh-sungguh memperhatikan ayat-ayat Allah. Mungkin mereka orang yang tidak membutuhkan kebenaran, atau mereka orang-orang yang bertaklid kepada orang lain. Mengikuti bacaan kitabullah tidak sama dengan bersikap taklid walaupun secara fenomena mungkin terlihat sama. Orang yang mengikuti kitabullah benar-benar berusaha mengetahui firman Allah untuk dijadikan landasan bagi amal-amal yang dilakukan sedangkan orang yang bertaklid mungkin melakukan amal yang sama tanpa merasa perlu mengetahui firman Allah. Walaupun amalnya tampak sama, bobot di antara keduanya berbeda sangat jauh. Tidak jarang orang yang bertaklid tidak mengetahui benar dan salahnya suatu bacaan karena tidak berusaha membaca ayat dari kitabullah, sedangkan mereka mungkin telah menyimpang jauh.

Setiap orang yang melupakan ayat Allah yang disampaikan kepada mereka akan kehilangan akhlak mereka manakala mereka dikumpulkan di hadirat Allah. Allah tidak bertanya kepada mereka atau membahas keadaan mereka karena mereka dahulu tidak ingin mengetahui bentuk akhlak diri mereka yang dikehendaki Allah, hanya membina diri mengikuti persangkaan diri mereka saja. Mungkin mereka bertanya tetapi mengabaikan jawaban dari ayat Allah. Allah akan menghilangkan akhlak mereka yang telah terbentuk sebelumnya tanpa menyampaikan kepentingan-Nya berbuat demikian hingga mereka bertanya kepada Allah tentang perubahan keadaan diri mereka. Di hadirat Allah, seseorang hanya akan menggunakan akhlak yang sesuai dengan kehendak Allah bagi mereka masing-masing. Orang yang sedikit mengenal kehendak Allah akan berpakaian pendek, yang banyak mengenal kebenaran dan mengikutinya akan berpakaian sesuai keadaan mereka. Orang-orang yang mengambil pakaian secara bathil tanpa ketakwaan kepada Allah, tidak mengikuti firman-Nya, pakaian mereka akan dilenyapkan kecuali yang mereka bangun berdasarkan pengetahuan yang benar terhadap kehendak Allah. Orang yang melupakan ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka akan dikumpulkan di hadirat Allah dalam keadaan buta meskipun mereka dahulu dapat melihat.

Kebenaran pemahaman seseorang terhadap kehendak Allah terletak pada kesesuaian dengan firman dalam kitabullah, tidak ditimbang mengikuti prasangka. Pengetahuan seseorang mungkin terbatas, tetapi akan bernilai benar dan sangat bermanfaat manakala bersesuaian dengan tuntunan kitabullah. Itu lebih baik daripada pengetahuan luas yang bertentangan dengan kitabullah, atau pengetahuan luas yang tidak mempunyai landasan tuntunan kitabullah. Luasnya ilmu demikian itu boleh jadi merupakan ilmu yang tidak bermanfaat. Akan sangat baik bila seseorang berusaha sungguh-sungguh untuk memahami ayat-ayat Allah dengan seluruh kemampuannya berdasarkan tuntunan kitabullah dan beramal mengikuti pemahaman itu karena itu akan menjadi pakaian dirinya di hadapan Allah kelak. Orang yang mengetahui dengan benar kehendak Allah akan memahami firman Allah dalam ayat kitabullah dan ayat kauniyah secara terintegrasi, tanpa membuat pengecualian-pengecualian yang menyimpang dari tuntunan kitabullah. Mereka tidak akan mengambil pengecualian dari hukum kitab Allah kemudian dianggap sebagai kekhususan atas diri mereka karena mengetahui akan mendatangkan celaka.

Setiap orang harus memperhatikan tuntunan kitabullah dengan sebaik-baiknya. Yang benar-benar merupakan perintah Allah adalah ayat-ayat yang ada dalam kitabullah. Kadangkala seseorang memahami suatu urusan Allah berdasarkan pemahaman hatinya atau berdasar suatu ayat kauniyah tertentu. Mungkin pemahaman itu benar, tetapi bobotnya tidak sebesar tuntunan kitabullah. Bobot kebenaran yang paling besar dari urusan yang dipahaminya itu akan ditemukan pada tuntunan kitabullah. Pemahaman seseorang berdasar ayat kauniyah dan ayat dalam hati seringkali tidak benar-benar jernih. Bila tidak menemukan ayat dalam kitabullah, mungkin perintah itu hanya merupakan prasangka dirinya saja, karena setiap urusan dan perintah Allah ada dalam kitabullah. Mungkin pula ada kesalahan dalam pemahaman seseorang terhadap perintah Allah atau pemahamannya kurang tajam. Bila seseorang menemukan ayat kitabullah terkait urusan yang harus dikerjakan, ayat kitabullah akan menghilangkan kesalahan pemahaman atau kekaburan pemahaman yang mungkin ada. Manfaat lain, mengikuti perintah Allah berdasarkan kitabullah akan menjadikan seseorang tumbuh akhlaknya secara tepat sesuai kehendak Allah Allah, menghindarkan dirinya dari tumbuh mengikuti pendapat diri. Berhasil ataupun gagal usaha seseorang untuk mewujudkan urusan atau perintah Allah itu, ia akan memperoleh suatu pemahaman kebenaran dari sisi Allah yang akan mempunyai bobot besar dalam timbangan di akhirat bila mencari landasannya dari kitabullah.

Ada suatu potensi masalah yang akan mengintai orang yang menumbuhkan diri tanpa tuntunan kitabullah. Mungkin syaitan akan menjadikannya memandang indah segala sesuatu yang tumbuh dalam dirinya hingga ia tidak dapat memahami kebenaran dari sisi Allah. Manakala Allah mendatangkan suatu bacaan ayat Allah kepada diri mereka, mereka tidak memperhatikan bacaan itu dan melupakannya. Hal itu sangat mungkin terjadi terjadi. Karena perbuatan syaitan itu, mereka tidak memandang adanya suatu kepentingan dalam ayat yang didatangkan itu karena memandang lebih penting kebenaran yang ada dalam persepsi mereka, walaupun mereka memahami kebenaran dari bacaan yang didatangkan itu. Bila demikian, kebenaran yang mereka perjuangkan itu kelak akan terlepas dari diri mereka setidaknya manakala dikumpulkan di hadirat Allah. Bashirah mereka pun akan dilepaskan dari diri mereka.

Tuntunan Yang Nyata

Setiap orang harus berusaha memperoleh tuntunan kitabullah tidak berhenti hanya pada sisi-sisi normatif dalam kehidupan, tetapi juga hingga sisi-sisi operasional praktis. Misalnya manakala terjerat pada suatu kehidupan yang sulit, seseorang seharusnya tidak berhenti hanya pada suatu pemahaman bahwa semua terjadi atas kehendak Allah. Tentu benar bahwa setiap orang harus ridla menerima segala sesuatu yang ditetapkan Allah bagi mereka. Tetapi boleh jadi apa yang diturunkan bagi mereka itu sebenarnya ditentukan berdasar pengaruh suatu kesalahan dirinya. Bila demikian maka ia harus berusaha mengenali kesalahannya dan meminta ampunan atas kesalahannya. Kadangkala seseorang tidak melaksanakan petunjuk Allah maka ia tertimpa suatu kehidupan yang sulit. Hal-hal demikian hendaknya juga diperhatikan oleh setiap manusia agar ia bisa lebih mengenal kebenaran dan tidak menyangka buruk bahwa Allah menimpakan kesulitan kepada hamba-Nya. Di tingkat selanjutnya, sebagian insan mungkin harus melaksanakan suatu petunjuk Allah untuk kepentingan umat, maka hendaknya orang-orang yang terkait atau umat memberikan dukungannya untuk hasil yang baik. Bila tidak memahami petunjuknya, setidaknya mereka tidak menghalangi pelaksanaan petunjuk yang baik. Kadangkala suatu kaum menganggap remeh orang yang memperoleh petunjuk hingga merasa layak untuk berbuat bebas atas mereka bahkan hingga merusak rumah tangga orang itu. Hal demikian merupakan kesalahan yang sangat buruk yang akan mendatangkan kesengsaraan yang besar bagi umat. Benar ataupun salah petunjuk yang diterima, tidak ada bentuk hukuman berupa merusak rumah tangga. Hal-hal demikian merupakan contoh sisi-sisi operasional praktis dari kitabullah yang harus diperhatikan oleh setiap manusia, tidak berhenti mencari tuntunan kitabullah hanya pada sisi normatif.

Dalam tingkatan tertentu, ada orang-orang yang harus bertanggung jawab atas kesulitan yang menimpa umat manusia, dan tanggung jawab itu hanya dapat ditebus dengan jalan menggunakan akal untuk memahami perintah Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Bila orang-orang itu mengikuti pendapat diri mereka sendiri, dosa itu tidak terangkat dari diri mereka. Misalnya kehidupan yang terjerat riba yang menimbulkan kesulitan umat manusia merupakan dosa yang harus ditebus oleh beberapa insan dengan berusaha menggunakan akal mereka untuk memahami perintah Allah dalam urusan itu. Manakala mereka tidak menggunakan akalnya untuk memahami tuntunan kitabullah, dosa-dosa yang menjerat manusia itu akan menjadi tanggungan mereka. Ada orang-orang di kalangan orang beriman yang harus bertanggung-jawab atas permasalahan yang menimpa umat.

Dewasa ini, ada beberapa bidang yang harus diperhatikan untuk mewujudkan tatanan yang baik di antaranya bidang ekonomi dan kesejahteraan, bidang pendidikan dan pembinaan manusia, bidang syiar agama, bidang penataan dan pemanfaatan sumber daya-sumber daya negeri, bidang keamanan dan intelegensi umat, bidang kesehatan dan keseimbangan dengan lingkungan, serta bidang pengelolaan sumber daya manusia. Seluruhnya harus diperhatikan dengan setimbang. Pembinaan manusia dan syiar agama menjadi langkah yang perlu didahulukan, tetapi setiap bidang mempunyai tingkat kepentingan yang hampir setara dan saling berkaitan satu dengan yang lain tidak ada yang boleh diabaikan. Bila diabaikan, bidang-bidang yang lain akan mengalami kesulitan. Bila disempitkan pada bidang tertentu, akan banyak orang-orang yang tampak menjadi tidak berguna karena keilmuannya tidak dianggap benar. Setiap ilmu dari kitabullah Alquran harus ditempatkan pada kedudukan yang tepat, tidak dinilai dengan cara pandang sendiri. Cara pandang menurut kitabullah merupakan pemberitahuan cara pandang Allah terhadap setiap permasalahan, tidak boleh dikalahkan dengan cara pandang makhluk. Lingkup perumusan pada setiap bidang mencakup seluruh umat manusia, tidak hanya untuk kalangan terbatas, dan untuk syiar islam ajaran Rasulullah SAW bukan aliran tertentu.

Barangkali tidak semua orang harus menggali solusi-solusi kehidupan umat berdasarkan kitabullah Alquran. Sebagian orang harus mengikuti penjelasan-penjelasan orang lain yang dapat menyentuh makna kitabullah Alquran karena hanya orang-orang yang disucikan yang dapat menyentuh makna kitabullah. Amal yang harus ditunaikan bisa dilakukan dengan mengikuti atau melengkapi amal orang yang diikuti, sebagaimana seorang isteri melakukan amal mengikuti suaminya, tidak harus amal yang berdiri sendiri. Hanya saja mereka tetap berkewajiban berpegang teguh pada kitabullah Alquran, berusaha memahami penjelasan secara tepat sesuai tuntunan kitabullah dan tidak mengikuti penjelasan-penjelasan yang bertentangan dengan firman Allah secara membuta.

Setiap orang harus membangun adab diri mereka berdasarkan kitabullah Alquran sejauh yang dapat mereka pahami, setidaknya mengikuti tuntunan kitabullah secara normatif. Langkah demikian termasuk dalam kategori menggunakan akal. Setiap orang harus membina diri untuk dapat membaca kitabullah setidaknya untuk diri mereka sendiri. Sebagian orang yang dapat menyentuh makna kitabullah Alquran berkewajiban untuk menggali permasalahan kehidupan umat manusia dari sudut pandang kitabullah Alquran. Tuntutan bagi mereka dalam menggunakan akal lebih tinggi daripada orang-orang yang belum mampu menyentuh Alquran.

Menggali solusi masalah kehidupan umat harus dilakukan orang-orang beriman dengan landasan kitabullah Alquran, tidak semata berpegang pada persangkaan. Bila hanya berpegang pada persangkaan dan melupakan tuntunan-tuntunan Allah dalam merumuskan tatanan-tatanan, umat manusia tidak akan keluar dari masalah yang menjerat diri mereka. Apa yang mereka pandang baik seringkali tidak benar-benar baik. Yang pasti, rumusan tatanan-tatanan itu tidak akan menyentuh akar masalah yang sebenarnya manakala tidak menjadikan ayat Allah sebagai landasan rumusan. Sedikit atau banyak akar masalah yang tersentuh, itu akan mendatangkan perubahan pada masyarakat. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang beriman yang menggunakan akal untuk memahami tuntunan Allah. Manakala tidak menggunakan akal, orang beriman memikul dosa-dosa permasalahan negeri mereka.



Kamis, 15 Agustus 2024

Akhlak Mulia dan Tatanan Umat Manusia

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW akan mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan di bumi. Kehidupan manusia akan tertata dengan baik untuk urusan akhirat ataupun urusan duniawi. Manusia akan mengetahui bahwa tatanan kehidupan manusia tidak seharusnya seperti apa yang dialami umat manusia pada zaman ini, tetapi mengikuti suatu tatanan yang ditentukan Allah. Jika manusia mengetahui tatanan yang dikehendaki Allah maka mereka akan mengetahui bahwa tatanan umat manusia jaman sekarang ini sangatlah buruk. Hal ini akan diketahui jika umat manusia benar-benar mengikuti langkah Rasulullah SAW.

Banyak kalangan menginginkan kembali kepada tatanan islam akan tetapi tidak benar-benar mengetahui tatanan agama yang sebenarnya. Salah satu masalah besar yang menghalangi umat manusia untuk mengenal tatanan sesuai kitabullah adalah akhlak-akhlak semu.

﴾۲۰۱﴿وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan atas kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi syaitan-syaitan lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan (mengajarkan) apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya fitnah (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka (para syaitan) mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan ilmu itu, mereka dapat menceraikan antara seseorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (syaitan) tidak memberi mudharat dengan (ilmu)nya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka (manusia) mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang membelinya, tiadalah baginya akhlak itu di akhirat, dan amat buruklah apa yang mereka beli dengan nafs mereka kalau mereka mengetahui. (QS Al-Baqarah : 102)

Sebenarnya tatanan kehidupan di bumi saat ini tidaklah terjadi tanpa suatu tipu daya syaitan terhadap umat manusia. Tatanan kehidupan dunia saat ini sebenarnya dipengaruhi oleh rumusan-rumusan orang-orang yang mengikuti suatu bacaan syaitan atas kerajaan Sulaiman. Mereka adalah orang-orang yang terobsesi untuk membentuk suatu negara syaitan mengikuti dajjal sebagaimana bacaan syaitan atas negara Sulaiman. Bila berkeinginan membentuk tatanan umat manusia sesuai kehendak Allah, para pengikut Rasulullah SAW harus menyadari akan berhadapan dengan tatanan yang dirumuskan oleh para pengikut syaitan.

Ayat di atas secara umum bercerita tentang tantangan yang harus dihadapi oleh para pengikut Rasulullah SAW manakala berkeinginan untuk membangkitkan kembali tatanan umat manusia mengikuti kehendak Allah. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh umat islam untuk menolong agama Allah dalam membentuk tatanan umat manusia sesuai tuntunan Allah, di antaranya akhlak semu, pembentukan keluarga sesuai tuntunan Allah, ilmu yang tidak bermanfaat atau ilmu fitnah di antara orang beriman dan sihir di antara manusia. Orang yang ingin menolong agama Allah tetapi melakukan hal-hal yang berlawanan justru akan mendatangkan madlarat terhadap agama bukan menolong agama Allah. Setiap orang harus menghindari madlarat terhadap agama Allah dan melakukan hal yang menolong agama Allah hingga batas kemampuannya. Bila tidak mampu, maka hendaknya tidak mendatangkan kerusakan.

Berlawanan dengan musuh yang kuat membutuhkan disiplin dalam beramal. Sebagian umat islam mungkin telah mendengar berita tentang kebangkitan islam tetapi tidak benar-benar memperhatikan petunjuk Rasulullah SAW. Mereka mungkin berusaha dengan pemikiran mereka sendiri untuk mendukung kebangkitan islam. Hal demikian tidak akan mendatangkan hasil yang berarti, atau justru salah kaprah merusak umat islam. Bila berkeinginan mendukung kebangkitan islam, setiap muslim harus memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentang hal itu tidak mengabaikannya untuk mengikuti pikiran sendiri. Bila mengabaikan, mereka tidaklah akan memberikan pertolongan yang layak untuk mendukung kebangkitan islam.

Akhlak Semu

Syaitan akan mendatangkan tipuan bagi orang-orang islam. Syaitan membuat fitnah-fitnah bagi umat manusia, dan salah satu fitnah yang syaitan yang paling sulit adalah akhlak semu. Yang dimaksud akhlak semu adalah akhlak yang tampak baik dari seorang manusia tetapi kelak akan lenyap di kehidupan akhirat. Pada ayat 102 Al-Baqarah disebutkan suatu peringatan tentang akhlak yang semu dengan redaksi : “Sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang membelinya, tiadalah baginya akhlak itu di akhirat”. Itu adalah peringatan tentang akhlak semu yang harus diwaspadai oleh orang beriman, karena akhlak demikian kelak akan lenyap di akhirat.

Akhlak semu berwujud sebagai akhlak-akhlak yang terlihat baik hingga seolah-olah orang yang berakhlak demikian akan tiba di hadapan Allah dengan selamat. Orang-orang boleh jadi akan menyangka bahwa mereka adalah para ahli surga yang ada di muka bumi sedangkan sebenarnya tidak demikian. Orang-orang itu mungkin akan melangkah selamat di berbagai alam hingga akhirnya akan sia-sia di hadapan Allah. Contoh akhlak semu demikian adalah para perempuan yang menggunakan kiswah kehormatan di kehidupan dunia akan tetapi kelak di akhirat akan telanjang. Hal demikian sebenarnya tidak hanya terjadi pada kaum perempuan. Ada akhlak-akhlak semu yang mungkin terjadi atas kaum laki-laki, di mana mereka bisa memperoleh jubah-jubah kehormatan dalam kehidupan dunia akan tetapi akan lenyap kelak dalam kehidupan akhirat.

Akhlak semu sebenarnya merupakan suatu tipu daya syaitan yang mereka gunakan untuk mencegah umat manusia dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Akhlak semu digunakan syaitan terutama untuk menutupi upaya mereka dalam mendirikan suatu kerajaan syaitan sebagaimana bacaan mereka atas kerajaan Sulaiman. Dalam peristiwa pengangkatan iblis yang didekatkan kepada Iblis besar di 'ars-nya, akhlak semu itulah yang digunakan iblis tersebut bersama golongannya dan Iblis lainnya untuk menimbulkan fitnah yang paling berat bagi umat manusia yaitu manakala mereka memisahkan seorang isteri dari suaminya. Manusia mungkin akan merasa telah melangkah jauh maju dengan langkah-langkah yang mereka pikirkan sedangkan sebenarnya mereka mungkin tidak mengikuti langkah Rasulullah SAW, dan justru membuat kerusakan besar bagi umat manusia dengan memporak-porandakan tatanan umat manusia menurut tuntunan kitabullah. Tatanan menurut tuntunan kitabullah itu justru mereka rusak dengan tatanan yang muncul dalam pikiran mereka sendiri.

Kebangkitan islam akan dimulai dengan terbinanya akhlak mulia yang sesungguhnya pada masing-masing manusia sebagai elemen keumatan, diikuti terbinanya pondasi bermasyarakat yang baik berupa keluarga sesuai dengan tuntunan Allah, kemudian terlaksananya jihad umat islam dalam memerangi sihir dan ilmu-ilmu yang menjadi fitnah bagi manusia baru kemudian tatanan masyarakat sesuai dengan tuntunan Allah dapat ditegakkan. Tatanan masyarakat sesuai tuntunan Allah itu tidak akan terbentuk tanpa dilandasi akhlak mulia yang sesungguhnya pada masing-masing manusia, atau tanpa dibina dengan tatanan keluarga mengikuti tuntunan Allah, atau tanpa disertai terlaksananya jihad mencegah ilmu tanpa manfaat dan ilmu sihir.

Umat Islam hendaknya benar-benar memperhatikan tuntunan ayat di atas dalam upaya mendukung kebangkitan islam, tidak mendukung hanya dengan pikiran mereka sendiri karena sangat mungkin akan sia-sia sedangkan mereka akan memandang perbuatan mereka sebagai perbuatan mulia. Salah-salah pikiran mereka justru menjadi lawan yang menghambat kebangkitan islam sendiri. Salah satu hal terinci yang harus menjadi perhatian setiap pengikut Rasulullah SAW adalah terbentuknya akhlak semu yang dibuat oleh syaitan untuk menjebak manusia.

Salah satu tanda dari tumbuhnya akhlak semu di antara masyarakat adalah tumbuhnya orang-orang yang melupakan ayat-ayat Allah di antara masyarakat manakala ayat-ayat itu datang kepada mereka.

﴾۶۲۱﴿قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS Thaahaa : 126)

Ayat di atas merupakan jawaban yang difirmankan Allah kepada orang-orang yang dahulu termasuk sebagai orang-orang mempunyai bashirah di alam dunia, tetapi kemudian dikumpulkan di hadirat Allah sebagai orang-orang yang buta. Mereka termasuk orang-orang yang membentuk akhlak semu dalam kehidupan mereka, maka kemudian di akhirat mereka kehilangan semua akhlak yang terbentuk. Dalam kasus ini mereka kehilangan bashirah yang telah mereka peroleh dalam kehidupan di dunia. 

Akhlak Mulia

Akhlak mulia merupakan akhlak yang tumbuh mengikuti cahaya Allah berupa ayat-ayat Allah yang benar baik ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah. Secara khusus, ayat kitabullah tidak diragukan kebenarannya maka ia menjadi bahan pokok pertumbuhan akhlak mulia, dan tidak ada akhlak mulia yang kokoh tanpa mengikuti cahaya kitabullah Alquran. Tidak jarang manusia tertipu syaitan dengan akhlak yang semu. Tuntunan kitabullah merupakan indikator utama terbentuknya akhlak mulia, dan akhlak semu akan dapat dibedakan dengan akhlak mulia yang benar berdasarkan sikap seseorang dalam mengikuti kitabullah. Seindah apapun akhlak yang tampak dari seseorang, manakala mereka menentang tuntunan kitabullah maka keindahan akhlak mereka itu merupakan akhlak semu yang akan lenyap di hadirat Allah. Mungkin akhlak itu akan menembus beberapa alam, tetapi lenyap di hadirat Allah.

Tanda semunya akhlak seseorang bukan berupa penentangan terhadap tuntunan kitabullah, tetapi manakala mereka melupakan ayat Allah yang disampaikan kepada mereka. Hal ini terkait dengan kepekaan seseorang terhadap kebenaran. Bila ada akhlak mulia yang sebenarnya, seseorang akan merasakan kebenaran ayat Allah yang disampaikan kepada mereka. Manakala seseorang tidak dapat merasakan kebenaran pada ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka, maka sebenarnya tidak ada akhlak mulia dalam diri mereka dalam urusan tersebut. Tidak pekanya seseorang terhadap kebenaran ayat Allah ditunjukkan dengan sikap terlupanya mereka terhadap ayat Allah yang disampaikan. Manakala seseorang menentang tuntunan kitabullah, mereka termasuk golongan yang durhaka kepada Allah.

Terlupa terhadap ayat Allah dalam hal ini tidak ditunjukkan dengan kelupaan seseorang terhadap hafalan. Ayat Allah yang disampaikan menunjuk pada penjelasan yang benar dari kandungan ayat-ayat Allah yang bermanfaat bagi orang yang memperolehnya. Bila hanya redaksi kitabullah yang disampaikan, tidak banyak orang yang dapat memahami kandungan redaksi ayat Alquran kecuali orang-orang yang disucikan karena Allah menentukan demikian. Manakala tidak memahami, seseorang akan sulit untuk mengingatnya hingga mudah terlupa. Ayat Allah yang disampaikan menunjuk pada penjelasan kandungan ayat kitabullah yang disampaikan yang seharusnya tidak dilupakan oleh orang mempunyai akhlak mulia. Bila seseorang kufur terhadap penjelasan itu maka mereka termasuk orang kafir. Manakala seseorang bisa memahami kemudian bersikap abai terhadap kebenaran dalam ayat itu, mereka melupakan ayat Allah yang disampaikan dan kelak mereka itulah orang-orang yang akan dilupakan Allah.

Akhlak mulia tumbuh dari sikap mengikuti ayat Allah. Sebagian umat islam tumbuh akhlaknya dengan mengikuti pertumbuhan indera-indera bathiniah mereka tanpa berusaha memahami ayat-ayat Allah. Sikap demikian tidak tepat dan dapat mendatangkan kesesatan yang lebih jauh daripada kesesatan orang-orang kebanyakan. Ada pula kaum yang mengira akan tumbuh akhlak mereka hanya dengan mengikuti perkataan kaum mereka mengabaikan tuntunan yang benar dari kitabullah yang disampaikan selain dari kaum mereka. Mereka sebenarnya tidak memperhatikan tuntunan kitabullah. Hal demikian juga jalan yang buruk untuk menumbuhkan akhlak. Setiap orang harus berusaha menumbuhkan diri dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan ayat-ayat Allah lainnya yang diperoleh dan dipahami dengan benar, bukan mengandalkan hanya indera-indera bathiniah yang mereka miliki. Indera-indera yang diberikan Allah kepada mereka harus digunakan dengan sebaik-baiknya untuk memahami ayat Allah, tidak justru menggunakan ayat-ayat Allah untuk mendukung indera-indera mereka. Perkataan dari manusia akan membantu seseorang untuk memahami kitabullah bila seseorang memilihnya berdasarkan/mengikuti kitabullah, dan pemahaman terhadap kitabullah itulah yang harus digunakan untuk menumbuhkan akhlak.

Selasa, 13 Agustus 2024

Langkah-langkah Membina Nafs

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Untuk mengikuti langkah beliau, setiap orang harus berusaha memahami ayat-ayat Allah tidak sekadar menggunakan logika. Hal utama yang harus dibina oleh setiap hamba Allah untuk memahami ayat-ayat Allah adalah pembinaan nafs dan jasmani untuk menjadi suatu misykat cahaya yang membentuk bayangan yang tepat dari cahaya Allah. Setiap manusia diciptakan untuk dapat menjadi suatu misykat yang membentuk bayangan dari cahaya Allah layaknya suatu kamera membentuk bayangan dari objek yang dibidik, yaitu manakala syarat-syarat untuk berfungsinya terpenuhi.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberi berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun belum disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nuur : 35)

Perumpamaan cahaya Allah tidaklah menunjuk pada suatu kehadiran Allah, tetapi menunjukkan terbentuknya bayangan yang benar tentang kehendak Allah dalam diri hamba-Nya. Seorang manusia tidaklah bisa menjadi wadah dari kehadiran Allah, tetapi ia dapat membentuk suatu bayangan dari cahaya Allah yang diterima. Setiap manusia seharusnya membina akhlak dirinya sebagai suatu misykat cahaya layaknya suatu kamera membentuk bayangan dari cahaya yang datang.

Perumpamaan cahaya pada ayat di atas merupakan bentuk sempurna yang dapat dicapai oleh setiap hamba Allah dalam memahami kehendak Allah. Kesempurnaan bentuk perumpamaan cahaya itu tidaklah bisa diperoleh seorang hamba Allah dengan tiba-tiba. Setiap orang harus memulai pertumbuhan pemahaman dirinya dari sedikit. Ada bagian-bagian yang ditumbuhkan dengan usaha-usaha seorang hamba dengan ijin Allah, dan ada bagian yang sama sekali tidak dapat ditumbuhkan manusia karena semata merupakan kehendak Allah. Penyalaan api ruh qudus merupakan bagian yang sepenuhnya merupakan kehendak Allah tanpa dapat diusahakan oleh hamba Allah, sedangkan penumbuhan pohon thayibah mensyaratkan adanya usaha dari setiap hamba untuk menumbuhkannya.

Membaca Ayat-Ayat Allah

Pohon zaitun yang terbentuk dalam misykat cahaya adalah pohon thayyibah. Pohon itu merupakan citra kehendak Allah yang tumbuh dalam diri seorang hamba, terbentuk dari cahaya Allah yang diarahkan oleh nafs secara tepat hingga terbentuk bayangannya. Tanpa cahaya Allah, tidak akan terbentuk citra jati diri dalam diri seorang hamba. Cahaya Allah dalam hal ini adalah tuntunan ayat-ayat Allah berupa kitabullah serta ayat kauniyah yang selaras. Citra jati diri seorang hamba Allah tidak dapat dibentuk hanya dengan pengamatan-pengamatan jasmaniah saja, tetapi harus disertai dengan keinginan mengetahui kehendak Allah yang menyertai objek pengamatan-pengamatan jasmaniahnya. Manakala pengamatan-pengamatan itu tanpa disertai dengan keinginan mengenal kehendak Allah, tidak akan terbentuk citra diri yang benar pada seorang hamba kecuali hanya bentuk-bentuk semu. Kehendak Allah yang menyertai alam kauniyah itu terdapat dalam ayat-ayat kitabullah Alquran.

Pohon thayyibah juga tidak dapat dibentuk hanya dengan amal-amal tanpa berusaha melakukan amal berdasarkan kehendak Allah sebagaimana tercantum dalam kitabullah. Amal-amal yang dilaksanakan untuk membangun kemegahan-kemegahan hanya akan mewujudkan kemegahan dalam pikiran manusia ke alam duniawi tidak akan menumbuhkan pohon thayyibah. Demikian pula manakala seseorang melakukan amal-amal hanya dengan mengikuti perkataan-perkataan manusia tanpa berusaha menemukan landasan amalnya dari tuntunan kitabullah, mereka tidak akan dapat menumbuhkan pohon thayyibahnya. Barangkali ada hasil-hasil kebaikan dalam setiap amal baik yang dilakukan manusia, akan tetapi pohon thayyibah seseorang hanya terbentuk dari cahaya Allah. Bobot amal seseorang di akhirat kelak akan ditimbang berdasarkan pemahaman seseorang berdasarkan kebenaran yang dikenalinya, bukan dari wujud amalnya.

Amal-amal dan pengamatan-pengamatan yang baik akan sangat mendukung terbentuknya pohon thayyibah dalam diri, akan tetapi yang paling utama membentuk pohon thayyibah adalah keinginan mengenal kehendak Allah mengikuti tuntunan kitabullah. Sangat penting bagi setiap hamba Allah berusaha mengenali kehendak Allah yang terjadi pada alam kauniah mereka berdasarkan tuntunan kitabullah. Dengan memperhatikan tuntunan kitabullah demikian maka akan terbentuk pertumbuhan pohon thayyibah dalam diri. Tanpa tuntunan kitabullah, bayangan yang terbentuk dalam diri seseorang akan sulit untuk dipastikan kebenarannya.

Kadangkala seseorang tidak memperoleh kesempatan beramal sesuai dengan pengetahuan yang diperolehnya, atau tidak memperoleh sarana yang layak untuk mengamati alam kauniyahnya. Hal demikian tidak membatasi kesempatan dirinya untuk menumbuhkan pohon dirinya karena ada tuntunan kitabullah yang dapat digunakan untuk menumbuhkan. Kadangkala pohon yang tumbuh dalam keadaan demikian itu menjadi kerdil akan tetapi tetap dapat memberikan buah manakala kematangannya tiba. Amal-amal dan pengamatan terhadap kauniyah diri bermanfaat dalam menyuburkan pertumbuhan pohon thayyibah, akan tetapi keikhlasan seseorang yang menentukan kematangannya. Kadangkala orang-orang yang telah terbentuk pohon dirinya tidak mempunyai sarana untuk benar-benar terhubung ke alam kauniyahnya, tetapi bisa memahami manakala dihubungkan.

Prasangka-prasangka yang dibentuk seseorang berdasarkan keinginan yang ikhlas untuk mengenal kehendak Allah seringkali sebenarnya bukan prasangka kosong, tetapi merupakan suatu tuntunan untuk mengenali kehendak Allah secara lengkap meskipun seseorang tidak benar-benar dapat menimbang bobot kebenaran prasangka itu. Pohon thayyibah diri seringkali tidak dikenali jenisnya secara tepat oleh seseorang hingga pohon itu mengeluarkan buahnya. Boleh jadi seseorang telah menumbuhkan pohon thayyibah dalam dirinya tanpa mengenali secara tepat perkembangan pertumbuhannya. Seseorang boleh jadi telah berjalan menuju keadaan yang dekat dengan jati dirinya tanpa mengetahui secara tepat. Ia mungkin merasa hanya mengetahui kehendak Allah dengan meraba-raba atau seperti prasangka-prasangka berdasarkan pengetahuan logika. Ia tidak boleh memegang kuat prasangka itu tetapi  tidak boleh pula melepaskannya tanpa alasan yang benar karena boleh jadi prasangka itu benar. Manakala Allah mengizinkan, pohon itu kemudian mengeluarkan buah yang dapat dikenali.

Pohon itu tumbuh tidak di barat dan tidak di timur. Hal ini menunjukkan bahwa pohon itu tidak tumbuh di alam jasmaniah dan tidak di alam ruh yang dekat dengan Allah. Pohon itu tumbuh di alam nafs yang merupakan bagian inti dari diri manusia. Nafs yang tumbuh sebagai pohon thayyibah akan tumbuh sebagai salinan dari amr Allah, tidak sepenuhnya mewakili amr Allah dan tidak pula tumbuh sepenuhnya mengikuti tabiat jasmaniahnya walaupun bersama-sama. Kadangkala tumbuhnya pohon itu tidak terasa oleh sebagian jasmani manusia. Pohon itu bukan sepenuhnya sebagai representasi amr Allah sebagaimana ruh. Nafs itu tumbuh sebagai salinan dari amr Allah yang dikehendaki bagi hamba-Nya tersebut. Manakala seseorang tidak mempunyai keinginan mengenal amr Allah atau keinginannya keliru dalam mengenal amr Allah, nafs akan sulit mengarahkan pertumbuhannya dengan benar. 

Tidak semua yang bisa tumbuh dari pertumbuhan pohon thayibah nafs merupakan amr Allah. Kadangkala suatu benalu bisa tumbuh layaknya dahan atau ranting dari suatu pohon, tetapi ia tidak boleh dianggap sebagai bagian dari pohon tersebut. Kode genetik dari suatu benalu sama sekali tidak sama dengan kode genetik dari pohon inangnya, dan benalu itu akan mematikan pohon inang. Demikian syaitan dapat menumbuhkan suatu benalu pada pohon thayyibah yang tumbuh pada nafs manusia. Suatu benalu dapat menghasilkan buah-buahan yang kadangkala terasa manis akan tetapi dapat menyebarkan penyakit pada suatu umat. Kode genetik pohon thayyibah adalah ayat-ayat dalam kitabullah Alquran yang tumbuh sebagai akhlak mulia, sedangkan kode genetik benalu berasal dari syaitan yang akan menjadikan manusia dzalim. Manakala berusaha menumbuhkan pohon thayyibah, setiap orang hendaknya benar-benar melakukan pemeriksaan terhadap hal-hal yang tumbuh dari dirinya dengan kitabullah Alquran, karena hanya kitabullah Alquran yang akan memberikan penjelasan tentang adanya benalu-benalu dan hama yang tumbuh dalam pertumbuhan pohon dirinya.

Manakala seseorang mengetahui pohon thayyibah dirinya berbuah, ia hendaknya mengamalkan pengetahuannya dengan memberikan kepada orang lain pengetahuan dirinya. Nafsnya akan memperoleh manfaat yang banyak dari ilmu-ilmu yang diamalkannya. Manfaat dari ilmu dari buah itu ibarat minyak dari buah zaitun, minyak itu akan memberikan lapisan minyak terhadap bola kaca hingga bola kaca itu berkilauan dengan cahaya. Orang yang beramal dengan ilmu-ilmu yang diberikan kepadanya akan menjadikan nafsnya berkilau dengan cahaya-cahaya Allah sekalipun belum disentuh api. Apabila jarang mengamalkan ilmunya, seseorang mungkin kehilangan kilau cahaya yang memberikan petunjuk. Mereka mungkin tidak peka terhadap petunjuk yang diturunkan. Semakin ilmu diamalkan, seseorang akan semakin peka terhadap cahaya Allah hingga dapat memperoleh petunjuk mencapai hal-hal yang terperinci dalam kehidupan mereka.

Ayat-ayat Yang Menjelaskan

Buah dari pertumbuhan pohon thayyibah itu berupa ilmu yang diberikan Allah ke dalam dada, yaitu ayat-ayat yang menerangkan. Pokok ilmu yang diberikan kepada seorang hamba adalah tumbuhnya ayat-ayat yang menjelaskan di dalam dada mereka, bukan berupa bentuk-bentuk kesaktian atau yang dianggap karomah-karomah. Suatu ayat kitabullah akan menjadi penerang bagi orang-orang yang diberi ilmu, penerang yang menjelaskan kesatuan ayat-ayat Allah baik ayat kauniyah maupun ayat-ayat yang terlintas dalam hati mereka sendiri. Mungkin saja bentuk karomah dari orang yang diberi ilmu dimunculkan, tetapi karomah itu merupakan cabang yang tumbuh di atas pengetahuan tentang ayat-ayat yang menjelaskan di dalam dada, bukan karomah yang tumbuh secara mandiri tanpa suatu pemahaman terhadap ayat Allah.

﴾۹۴﴿بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ
Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang menjelaskan di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS Al-Ankabuut : 49)

Ilmu itu menjelaskan di dalam dada, bukan dalam bentuk dikte-dikte dari luar diri. Penjelasan di dalam dada menunjukkan adanya integritas penjelasan ayat kitabullah itu dengan akhlak mulia dalam diri, bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba tanpa dapat terintegrasi dengan akhlak mulia. Mungkin saja penjelasan itu bersifat baru, tetapi tetap dapat terintegrasi dengan akhlak mulia dirinya. Mereka akan membenarkan penjelasan dalam dada mereka sekalipun misalnya mungkin hawa nafsu mereka merasa keberatan. Hal itu tidak menunjukkan kesalahan tetapi kurang sempurna. Yang berbahaya adalah bila seseorang memperoleh penjelasan yang salah tetapi merasa sempurna memahami kebenaran. Syaitan bisa meniru karomah memberikan keajaiban-keajaiban kepada manusia yang mereka pilih, tetapi tidak akan mau memberikan pengetahuan yang membentuk akhlak mulia. Apabila memberi pengetahuan, pengetahuan yang mungkin diberi para syaitan justru akan menjadikan manusia tidak bisa menggunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah.

Pohon diri yang tumbuh dengan minyak yang menghiasi nafs akan mendatangkan api berupa nafakh ruh. Peristiwa ini berada di luar lingkup yang dapat diupayakan manusia. Ayat di atas menyebutkan peristiwa ini dengan redaksi : “walaupun belum disentuh api”. Redaksi ini secara tersirat menunjukkan adanya proses nafakh ruh dan secara tersirat menuntun manusia agar tidak perlu mengupayakan terjadinya nafakh ruh. Cukuplah bagi orang-orang beriman mengupayakan terbentuknya pohon thayyibah dan mengamalkan apa-apa yang mereka peroleh dari pohon thayyibah itu untuk umat mereka agar minyak dari buah itu menjadi kilauan bagi nafs mereka, sedangkan sentuhan api itu merupakan hak Allah.

Harapan manusia tentang nafakh ruh ini seringkali menjadikan manusia bertindak tidak tepat. Orang-orang kadangkala terlalu berharap besar terhadap nafakh ruh dan terlalai dari memahami ayat-ayat Allah yang dihadirkan bagi mereka. Setiap orang harus memperhatikan ayat-ayat yang sampai kepada diri mereka dan berusaha memahaminya tidak terlalaikan oleh apapun, karena yang mengubah nafs mereka adalah perhatian terhadap ayat Allah. Sekalipun ruh dapat menghidupkan materi, pengubah nafs manusia adalah ayat-ayat Allah. Kadangkala perhatian manusia terhadap ayat Allah terlalaikan manakala berhadapan dengan suatu keajaiban, termasuk keajaiban ruh, hingga manusia mengikuti keajaiban itu daripada tetap memperhatikan ayat Allah. Hal demikian merupakan sikap yang tidak tepat. Setiap orang harus berpegang pada ayat-ayat Allah sekalipun berhadapan dengan keajaiban. Keajaiban tidak selalu datang dari sisi Allah karena syaitan juga sering dibolehkan menampilkan keajaiban. Manakala manusia melupakan tuntunan kitabullah karena nafakh ruh, mereka telah keliru dalam mensikapi nafakh ruh.