Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Rasulullah SAW merupakan mitsal yang paling sempurna bagi cahaya Allah. Allah memberikan cahaya bagi langit dan bumi agar manusia dan para makhluk dapat memahami kehendak Allah tentang penciptaan diri mereka, dan seluruh cahaya yang hendak ditampakkan Allah tersebut diberikan kepada Rasulullah SAW. Allah menghadirkan asma Ar-Rahman pada ufuk yang tertinggi kepada Rasulullah SAW maka Rasulullah SAW mengenal asma Allah yang paling tinggi dengan pengenalan yang paling sempurna. Ar-Rahman merupakan asma Allah yang beristiwa’ di atas ‘arsy.
﴾۵۱﴿يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ
﴾۶۱﴿يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
(15)Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu apa-apa yang kamu sembunyikan dari isi alkitab, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.(16)Allah menunjuki dengan kitab itu orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS Al-Maidah : 15-16)
Rasulullah SAW merupakan misykat cahaya paling sempurna yang dapat membentuk seluruh bayangan cahaya Allah tanpa suatu kesalahan sedikitpun. Beliau SAW dapat memahami cahaya Allah hingga alam yang tertinggi di atas ‘Arsy. Tidak ada makhluk lain yang dapat memahami cahaya Allah sebagaimana Rasulullah SAW memahami. Pemahaman yang dikenal oleh Rasulullah SAW dapat menyingkapkan seluruh kebenaran, baik yang diajarkan manusia ataupun tidak diketahuai, yang disembunyikan ataupun yang dihapus oleh manusia maupun makhluk-makhluk lain. Demikian pula pemahaman beliau SAW dapat mengenali kebenaran-kebenaran palsu yang muncul di antara makhluk-makhluk.
Waspada Terhadap Penyimpangan
Setiap manusia harus berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW dan berpegang pada tuntunan kitabullah agar dapat berjalan kembali kepada Allah dengan selamat. Rasulullah SAW adalah mitsal yang paling sempurna bagi cahaya Allah dan yang benar. Iblis pada sisi lain sangat ingin memperkenalkan dirinya kepada makhluk-makhluk sebagai pembawa cahaya, dan menamakan dirinya demikian (lucifer). Kekuatan iblis tidak boleh dianggap remeh karena dahulu ia tinggal di suatu tempat yang memungkinkannya bertemu dengan tajalli Allah bersama dengan para malaikat yang didekatkan. Di suatu tafsir, dengan penyederhanaan dikatakan bahwa iblis mengambil huruf alif pada kalimat bi ismillah, sehingga ayat tersebut menjadi berbunyi bismillah. Sebenarnya Iblis itu tidak dapat mencuri. Peristiwa dipindahkannya huruf alif ini menunjukkan bahwa Allah berkehendak agar manusia mengenal asma-Nya dengan benar dibalik semua hijab yang ditutupkan atas diri mereka. Ini juga menunjukkan kepada manusia adanya keinginan iblis untuk tampil kepada manusia sebagai pengganti asma Allah. Mengenal Allah dengan benar hanya dapat dilakukan bila manusia mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Iblis dan balatentaranya pada dasarnya mengenal dengan baik kebenaran-kebenaran, tetapi ia mempunyai keinginan untuk dipandang sebagai pembawa cahaya. Selain itu, ia mempunyai dendam yang besar kepada umat manusia sehingga ia sangat berkeinginan untuk menjadikan manusia celaka. Berbagai karakter dalam diri Iblis membuatnya bisa tampil dalam berbagai bentuk yang diinginkannya dan menipu manusia, baik tampil dalam karakter pendendamnya ataupun tampil dalam karakter malaikat yang memberikan penerangan kepada umat manusia. Bagi para penyembahnya, ia bisa tampil dalam wujud malaikat yang baik atau jahat tergantung keinginannya, memberikan kepandaian dan kekuatannya kepada para penyembahnya. Bagi orang beriman ia kadang menampilkan dirinya mengaku sebagai Allah agar dijadikan taghut sesembahan bagi mereka untuk menyesatkan manusia. Bisa juga ia meminjamkan kekuatannya kepada manusia untuk menipu mereka. Keadaan seperti ini termasuk hal yang dikatakan bahwa Iblis telah mencuri huruf alif.
Hal ini harus diperhatikan oleh setiap orang yang ingin kembali kepada Allah. Iblis tidak hanya berusaha menyesatkan manusia dengan bentuk-bentuk kejahatan. Manakala seseorang ingin mempunyai pengetahuan langit, iblis dapat dengan mudah memberikan pengetahuan-pengetahuan langit. Manakala seseorang ingin kekuasaan atau kekayaan, iblis dapat membantu memilihkan bagi seseorang jalan terbaik yang mungkin dilakukan untuk mengantarkan mencapai keadaan yang diinginkan. Yang tidak dapat diberikan iblis kepada manusia adalah sifat rahman dan rahim, tetapi iblis menggunakan pula suatu ilmu malaikat yang dijadikan Allah sebagai fitnah hingga ia seolah-olah ia memberikan pula sifat rahman dan rahim. Sifat cinta kasih itu manakala datang melalui tangan iblis, sifat itu merupakan fitnah yang harus diwaspadai. Setiap orang harus tumbuh dengan berdasar pengetahuan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Sangat penting bagi manusia untuk memiliki ilmu melalui tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. banyak ilmu yang bisa diperoleh makhluk dari semesta alam. Manusia dapat memperoleh ilmu dari ayat-ayat kauniyah, atau ayat kitabullah atau memperolehnya melalui campur tangan syaitan. Ilmu-ilmu yang diperoleh seseorang itu akan sangat berguna untuk memahami ayat-ayat Allah kecuali ilmu yang diperoleh melalui tangan syaitan. Sangat penting bagi manusia untuk tidak mengambil ilmu dan meninggalkan ilmu melalui tangan syaitan. Apabila syaitan memberikan ilmu, sekalipun manusia memandangnya baik tetapi sebenarnya syaitan mempunyai celah untuk memanfaatkan ilmu yang mereka berikan. Misalnya ilmu dua malaikat Harut dan Marut barangkali akan dipandang baik oleh manusia akan tetapi syaitan dapat memanfaatkan ilmu itu untuk tujuan mereka. Syaitan juga akan menyembunyikan bagi mereka pengetahuan kunci yang akan mendekatkan diri mereka kepada Allah apabila manusia mencari ilmu dari mereka. Karenanya hendaknya manusia meninggalkan ilmu demikian sekalipun bila mereka memandang baik karena akan mendatangkan madlarat yang sangat banyak bagi manusia.
Kedudukan Rasulullah SAW dan Kitabullah
Rasulullah SAW adalah cahaya Allah dan kitabullah merupakan kitab yang menjelaskan. Kedua tuntunan tersebut akan menunjukkan kepada manusia yang mengharapkan ridha Allah jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan ijin Allah, dan akan menunjukkan mereka kepada jalan yang lurus. Sangat penting bagi umat islam pengikut Rasulullah SAW untuk memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebelum menginginkan pertemuan dengan Allah, sedikit berbeda dengan cara yang digunakan nabi-nabi jaman dahulu yang kadangkala berkomunikasi kepada Allah dan Allah memberikan jalan komunikasi bagi mereka.
Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW telah diijinkan Allah untuk menunjukkan kepada para hamba Allah jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya Allah dan bahkan menunjukkan jalan yang lurus untuk kembali kepada Allah. Karena itu untuk urusan-urusan demikian hamba Allah hendaknya berusaha menemukannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Urusan-urusan demikian merupakan urusan utama bagi manusia, dan hal itu telah dapat ditemukan melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa memandang remeh makna hubungan personal kepada Allah, memperhatikan kedua tuntunan itu lebih memberikan keselamatan bagi hamba Allah daripada langsung memohon tuntunan Allah. Bukan karena nilai hubungan kepada Allah tidak utama, tetapi secara natur manusia adalah makhluk yang lemah dan bodoh yang mudah dirampok oleh makhluk lain manakala tidak memperhatikan tuntunan yang diturunkan secara nyata. Dari sisi adab, memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan bentuk penghormatan kepada sarana yang telah diturunkan Allah bagi hamba-Nya, dan merupakan bentuk pengagungan hamba kepada Allah yang terwujud dari terbinanya khauf (takut) dan raja’ (harap) kepada Allah dalam diri mereka.
Derajat ijin Allah atas kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mencakup semua aspek, tidak ada yang tersisa. Manakala seseorang mengikuti langkah nabi Musa a.s berhijrah menuju tanah suci, kesempurnaan langkah berhijrah itu belum menunjukkan kesempurnaan langkah dalam bertaubat kepada Allah. Ia harus membina bayt di tanah suci itu untuk memperoleh ijin Allah meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Membina bayt demikian hanya dapat terjadi manakala hamba Allah mengikuti langkah Rasulullah SAW dan mewujudkan tuntunan kitabullah. Bila demikian yang dilakukan seseorang manakala berada di tanah sucinya, mereka berada pada batas-batas ijin Allah. Bila seseorang mengandalkan pengetahuan dirinya tentang tanah suci mereka, mereka mungkin tidak berada pada batas-batas ijin Allah dan bisa saja mereka menyimpang dan tersesat dari jalan Allah. Manakala seseorang kemudian menyimpang langkahnya setelah tiba di tanah suci, ia akan celaka.
Setelah jaman Rasulullah SAW, tidak ada hamba Allah yang boleh mengandalkan dirinya sendiri untuk membina hubungan kepada Allah. Bersumpah atas nama Allah tentang kebenaran diri mereka yang bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sama sekali bukan langkah yang dibenarkan. Hal ini tidak termasuk perbuatan merendahkan kedudukan Allah sebagai landasan sumpah, tetapi karena terkait dengan kekurangan seorang hamba dalam memahami kebenaran. Kebenaran puncak yang diperkenalkan Allah terwujud dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan segala kebenaran yang mungkin dikenal makhluk yang bertentangan dengan tuntunan itu tidak benar. Akal makhluk yang memahami kebenaran secara menyimpang itulah yang bermasalah dan bukan merupakan kebenaran dari Allah, tidak boleh dijadikan bahan permasalahan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Setiap hamba Allah harus berusaha untuk membina akhlak mereka mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sehingga dapat kembali kepada Allah dengan selamat. Tumbuhnya akhlak mulia dalam diri seseorang ditunjukkan dengan kemampuan mereka bersikap terhadap kauniyah mereka sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala umat manusia menyangka bahwa akhlak mulia adalah adab yang disukai oleh mereka, sehingga apabila seseorang yang mereka sukai berpendapat bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetap dipandang berakhlak mulia. Hal ini kurang tepat. Akhlak mulia ditunjukkan dengan kemampuan seseorang bersikap terhadap kauniyah mereka sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Terbentuknya akhlak mulia akan diuji pada setiap fase kehidupan. Dalam kehidupan dunia, akhlak mulia ditunjukkan dengan kemampuan bersikap mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Di alam barzakh, setiap orang yang membina akhlak mulia akan diuji akhlak mereka dengan pengenalan terhadap Rasulullah SAW. Orang-orang yang yakin akan mengenal dengan baik Rasulullah SAW dan apa yang beliau SAW sampaikan. Di hadirat Allah, akhlak-akhlak yang tampak baik tetapi tidak tumbuh dari tuntunan ayat-ayat Allah akan gugur terlepas dari pemilik akhlak.
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
( أُوحِيَ إِلَيَّ: أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي قُبُورِكُمْ ، يُقَالُ : مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ ؟ فَأَمَّا المُؤْمِنُ أَوِ المُوقِنُ فَيَقُولُ: هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّه ِ، جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالهُدَى ، فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا، هُوَ مُحَمَّدٌ ثَلاَثًا، فَيُقَالُ: نَمْ صَالِحًا قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا بِهِ ، وَأَمَّا المُنَافِقُ أَوِ المُرْتَابُ فَيَقُولُ: لاَ أَدْرِي، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ )
Diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya kamu semua akan diuji dalam kuburan. Dikatakan, “Apa pengetahuanmu tentang orang ini? Maka orang mukmin atau orang yang yakin akan menjawab, “Dia adalah Muhammad Rasulullah. Ia datang kepada kami dengan penjelasan dan petunjuk. Maka kami menjawab dan mengikutinya. Dia adalah Muhammad, (mereka mengatakan) tiga kali. Dikatakan, “Tidurlah dengan tenang, kami telah mengetahui bahwa anda termasuk orang yang meyakininya. Sementara orang munafik atau orang yang ragu dia akan menjawab, “Saya tidak tahu. Saya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka saya ikut mengatakannya. ( HR Bukhori, no.86 dan Muslim no.905 )
Orang-orang beriman dan yakin akan mengetahui kebenaran-kebenaran dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan bersikap membenarkan. Membenarkan menunjukkan telah tumbuhnya sikap yang selaras dalam diri orang yang membenarkan terhadap apa yang mereka benarkan. Dalam sikap membenarkan terhadap Rasulullah SAW dan kitabullah, sikap ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang menumbuhkan akhlak sesuai dengan tuntunan Allah. Manakala seseorang tidak membina diri untuk bersikap sebagaimana tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka tidak akan bisa membenarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin mereka orang-orang yang pernah mendengar suatu kebenaran tetapi tidak benar-benar menumbuhkan akhlak mereka sesuai dengan tuntunan Allah.
Secara keseluruhan, orang-orang islam akan berada di antara/hingga dua keadaan itu. Akan banyak orang yang beriman dan meyakini Rasulullah SAW, sangat banyak orang yang sebenarnya hanya mendengar saja dari orang lain tentang kebenaran dari Rasulullah SAW tanpa suatu keyakinan. Mereka meyakini kebenaran hanya sebatas yang dikatakan orang lain sebagai kebenaran tanpa mengetahui nilai kebenaran atau kesalahannya. Manakala orang lain mengatakan suatu kesalahan sebagai kebenaran, mereka mungkin ikut mengatakannya sebagai kebenaran. Manakala orang lain mengatakan suatu kebenaran sebagai kesalahan, mereka mungkin ikut mengatakan sebagai kesalahan. Mereka tidak membentuk akhlak diri sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga memperoleh keadaan mampu membenarkan Rasulullah. Manakala mereka berpindah ke alam barzakh, mereka akan mengalami ketakutan terhadap pertanyaan-pertanyaan di alam barzakh.