Pencarian

Kamis, 22 Agustus 2024

Menumbuhkan Akhlak Mengikuti Kitabullah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW membentuk akhlak mulia harus dilakukan dengan usaha memahami ayat-ayat Allah baik ayat kauniyah, ayat kitabullah maupun ayat dalam diri. Keseluruhan ayat Allah akan mengarahkan manusia untuk memahami ayat-ayat tersebut secara terintegrasi, yaitu orang-orang yang ingin membentuk diri dalam akhlak mulia mengikuti langkah Rasulullah SAW. Akan tetapi tidak semua orang kemudian dapat memahami ayat-ayat Allah dengan baik karena berbagai permasalahan yang terjadi pada diri mereka.

Sebagian orang berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk membentuk akhlak mulia akan tetapi tidak bersungguh-sungguh berusaha memahami ayat-ayat Allah dengan baik. Tidak sedikit orang yang berusaha membina diri sebagai insan dengan mengikuti hawa nafsu sendiri, atau mengikuti indera-indera baik dzahir atau bathin yang mereka miliki hingga mereka tumbuh sebagai manusia yang mempunyai visi-visi yang tampak besar. Sekalipun tampak besar, belum tentu orang demikian mempunyai akhlak yang benar-benar mulia selama mereka tidak menumbuhkan visi mereka berdasarkan ayat-ayat Allah yang digelar bagi mereka. Akhlak mulia akan tumbuh manakala seseorang menumbuhkan diri berdasarkan petunjuk ayat-ayat Allah, bukan hanya berdasar visi-visi mereka sendiri ataupun visi kaum mereka.

﴾۶۲۱﴿قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS Thaahaa : 126)

Ayat di atas merupakan jawaban yang difirmankan Allah kepada orang-orang yang dahulu termasuk sebagai orang-orang mempunyai bashirah di alam dunia, tetapi kemudian dikumpulkan di hadirat Allah dalam keadaan buta. Mereka adalah orang-orang yang kehilangan akhlak yang mereka bina di alam dunia, karena tidak membina akhlak berdasarkan ayat-ayat Allah. Manakala ayat-ayat Allah dibacakan kepada mereka, mereka melupakan ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka. Sebagian besar keadaan mereka disebabkan karena mereka memilih mengikuti pendapat mereka sendiri tentang kebenaran, tidak mengikuti petunjuk-petunjuk yang diturunkan melalui ayat-ayat Allah.

Melupakan ayat-ayat Allah yang disampaikan tidak hanya menunjuk suatu penolakan yang jelas terhadap ayat-ayat Allah. Melupakan ayat Allah menunjukkan sikap tidak memberikan perhatian terhadap ayat Allah secara proporsional sesuai dengan tingkat kepentingan ayat-ayat yang dibacakan. Boleh jadi orang yang melupakan ayat Allah adalah orang-orang yang dapat memahami kebenaran ayat-ayat yang dibacakan akan tetapi lebih memandang penting waham mereka sendiri daripada ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka. Kadangkala mereka tidak percaya kepada orang yang membacakan, walaupun mempercayai bacaannya benar. Seringkali hal demikian menunjukkan adanya kesombongan atau adanya fitnah yang dibiarkan menghinggapi masyarakat. Mereka memilih menumbuhkan akhlak mereka mengikuti waham kebenaran yang mereka ikuti daripada mengikuti ayat-ayat kitabullah. Sekalipun orang-orang demikian bisa mempunyai bashirah, telinga bathin dan qalb dalam kehidupan di dunia, mereka akan kehilangan akhlak mereka itu manakala dikumpulkan di hadirat Allah kelak. Mereka akan dikumpulkan di hadirat Allah dalam keadaan buta walaupun dahulu mereka dapat melihat.

Tidak ada alasan bagi manusia untuk melupakan suatu bacaan ayat Allah yang benar, karena timbangan atas bacaan itu telah diturunkan berupa kitabullah. Menyentuh ayat-ayat Allah pada dasarnya hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang disucikan, tetapi bacaan yang benar terhadap kitabullah dapat dilkenali oleh setiap orang yang ingin memahami dengan ikhlas ayat Allah dengan akalnya. Bila seseorang belum meyakini suatu bacaan yang benar, hendaknya ia menimbang bacaan itu dengan kitabullah tidak meninggalkannya hingga ayat itu terlupakan. Bacaan kitabullah yang benar akan menjadi jalan bagi manusia untuk mengerti maksud dari ayat-ayat Allah. Tidak ada yang lebih penting untuk diperhatikan oleh setiap manusia dari seruan untuk kembali kepada Allah melalui jalan yang ditentukan sesuai dengan penjelasan ayat-ayat Allah. Tidak ada bacaan kitabullah yang benar bertentangan dengan redaksi dari kitabullah. Setiap yang bertentangan dengan kitabullah tidak boleh dianggap sebagai kebenaran.

Bagi orang-orang yang belum diberi kemampuan membaca kitabullah, mereka dapat mengikuti bacaan dari orang lain untuk membina akhlak mulia agar dapat memahami kehendak Allah. Hal demikian akan membuat suatu susunan prioritas bacaan terhadap kitabullah. Urusan yang dekat dengan seseorang akan mudah dipahami oleh orang tersebut, sedangkan urusan yang tidak dekat relatif akan lebih sulit dipahami. Tersusunnya prioritas dalam mengikuti bacaan akan menunjukkan arah kehidupan diri. Yang penting, setiap orang hendaknya memperhatikan bahwa yang diikuti benar merupakan bacaan ayat kitabullah. Manakala seseorang tidak memperhatikan ayat kitabullah yang menjadi sumber bacaan itu, ia tidak memperoleh kebenaran yang mantap dari bacaan itu. Bobot dari amal-amal yang dilakukan akan ditentukan dari kebenaran yang dikenal.

Melupakan Ayat Allah

Orang yang melupakan kitabullah berasal dari kalangan orang-orang yang tidak sungguh-sungguh memperhatikan ayat-ayat Allah. Mungkin mereka orang yang tidak membutuhkan kebenaran, atau mereka orang-orang yang bertaklid kepada orang lain. Mengikuti bacaan kitabullah tidak sama dengan bersikap taklid walaupun secara fenomena mungkin terlihat sama. Orang yang mengikuti kitabullah benar-benar berusaha mengetahui firman Allah untuk dijadikan landasan bagi amal-amal yang dilakukan sedangkan orang yang bertaklid mungkin melakukan amal yang sama tanpa merasa perlu mengetahui firman Allah. Walaupun amalnya tampak sama, bobot di antara keduanya berbeda sangat jauh. Tidak jarang orang yang bertaklid tidak mengetahui benar dan salahnya suatu bacaan karena tidak berusaha membaca ayat dari kitabullah, sedangkan mereka mungkin telah menyimpang jauh.

Setiap orang yang melupakan ayat Allah yang disampaikan kepada mereka akan kehilangan akhlak mereka manakala mereka dikumpulkan di hadirat Allah. Allah tidak bertanya kepada mereka atau membahas keadaan mereka karena mereka dahulu tidak ingin mengetahui bentuk akhlak diri mereka yang dikehendaki Allah, hanya membina diri mengikuti persangkaan diri mereka saja. Mungkin mereka bertanya tetapi mengabaikan jawaban dari ayat Allah. Allah akan menghilangkan akhlak mereka yang telah terbentuk sebelumnya tanpa menyampaikan kepentingan-Nya berbuat demikian hingga mereka bertanya kepada Allah tentang perubahan keadaan diri mereka. Di hadirat Allah, seseorang hanya akan menggunakan akhlak yang sesuai dengan kehendak Allah bagi mereka masing-masing. Orang yang sedikit mengenal kehendak Allah akan berpakaian pendek, yang banyak mengenal kebenaran dan mengikutinya akan berpakaian sesuai keadaan mereka. Orang-orang yang mengambil pakaian secara bathil tanpa ketakwaan kepada Allah, tidak mengikuti firman-Nya, pakaian mereka akan dilenyapkan kecuali yang mereka bangun berdasarkan pengetahuan yang benar terhadap kehendak Allah. Orang yang melupakan ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka akan dikumpulkan di hadirat Allah dalam keadaan buta meskipun mereka dahulu dapat melihat.

Kebenaran pemahaman seseorang terhadap kehendak Allah terletak pada kesesuaian dengan firman dalam kitabullah, tidak ditimbang mengikuti prasangka. Pengetahuan seseorang mungkin terbatas, tetapi akan bernilai benar dan sangat bermanfaat manakala bersesuaian dengan tuntunan kitabullah. Itu lebih baik daripada pengetahuan luas yang bertentangan dengan kitabullah, atau pengetahuan luas yang tidak mempunyai landasan tuntunan kitabullah. Luasnya ilmu demikian itu boleh jadi merupakan ilmu yang tidak bermanfaat. Akan sangat baik bila seseorang berusaha sungguh-sungguh untuk memahami ayat-ayat Allah dengan seluruh kemampuannya berdasarkan tuntunan kitabullah dan beramal mengikuti pemahaman itu karena itu akan menjadi pakaian dirinya di hadapan Allah kelak. Orang yang mengetahui dengan benar kehendak Allah akan memahami firman Allah dalam ayat kitabullah dan ayat kauniyah secara terintegrasi, tanpa membuat pengecualian-pengecualian yang menyimpang dari tuntunan kitabullah. Mereka tidak akan mengambil pengecualian dari hukum kitab Allah kemudian dianggap sebagai kekhususan atas diri mereka karena mengetahui akan mendatangkan celaka.

Setiap orang harus memperhatikan tuntunan kitabullah dengan sebaik-baiknya. Yang benar-benar merupakan perintah Allah adalah ayat-ayat yang ada dalam kitabullah. Kadangkala seseorang memahami suatu urusan Allah berdasarkan pemahaman hatinya atau berdasar suatu ayat kauniyah tertentu. Mungkin pemahaman itu benar, tetapi bobotnya tidak sebesar tuntunan kitabullah. Bobot kebenaran yang paling besar dari urusan yang dipahaminya itu akan ditemukan pada tuntunan kitabullah. Pemahaman seseorang berdasar ayat kauniyah dan ayat dalam hati seringkali tidak benar-benar jernih. Bila tidak menemukan ayat dalam kitabullah, mungkin perintah itu hanya merupakan prasangka dirinya saja, karena setiap urusan dan perintah Allah ada dalam kitabullah. Mungkin pula ada kesalahan dalam pemahaman seseorang terhadap perintah Allah atau pemahamannya kurang tajam. Bila seseorang menemukan ayat kitabullah terkait urusan yang harus dikerjakan, ayat kitabullah akan menghilangkan kesalahan pemahaman atau kekaburan pemahaman yang mungkin ada. Manfaat lain, mengikuti perintah Allah berdasarkan kitabullah akan menjadikan seseorang tumbuh akhlaknya secara tepat sesuai kehendak Allah Allah, menghindarkan dirinya dari tumbuh mengikuti pendapat diri. Berhasil ataupun gagal usaha seseorang untuk mewujudkan urusan atau perintah Allah itu, ia akan memperoleh suatu pemahaman kebenaran dari sisi Allah yang akan mempunyai bobot besar dalam timbangan di akhirat bila mencari landasannya dari kitabullah.

Ada suatu potensi masalah yang akan mengintai orang yang menumbuhkan diri tanpa tuntunan kitabullah. Mungkin syaitan akan menjadikannya memandang indah segala sesuatu yang tumbuh dalam dirinya hingga ia tidak dapat memahami kebenaran dari sisi Allah. Manakala Allah mendatangkan suatu bacaan ayat Allah kepada diri mereka, mereka tidak memperhatikan bacaan itu dan melupakannya. Hal itu sangat mungkin terjadi terjadi. Karena perbuatan syaitan itu, mereka tidak memandang adanya suatu kepentingan dalam ayat yang didatangkan itu karena memandang lebih penting kebenaran yang ada dalam persepsi mereka, walaupun mereka memahami kebenaran dari bacaan yang didatangkan itu. Bila demikian, kebenaran yang mereka perjuangkan itu kelak akan terlepas dari diri mereka setidaknya manakala dikumpulkan di hadirat Allah. Bashirah mereka pun akan dilepaskan dari diri mereka.

Tuntunan Yang Nyata

Setiap orang harus berusaha memperoleh tuntunan kitabullah tidak berhenti hanya pada sisi-sisi normatif dalam kehidupan, tetapi juga hingga sisi-sisi operasional praktis. Misalnya manakala terjerat pada suatu kehidupan yang sulit, seseorang seharusnya tidak berhenti hanya pada suatu pemahaman bahwa semua terjadi atas kehendak Allah. Tentu benar bahwa setiap orang harus ridla menerima segala sesuatu yang ditetapkan Allah bagi mereka. Tetapi boleh jadi apa yang diturunkan bagi mereka itu sebenarnya ditentukan berdasar pengaruh suatu kesalahan dirinya. Bila demikian maka ia harus berusaha mengenali kesalahannya dan meminta ampunan atas kesalahannya. Kadangkala seseorang tidak melaksanakan petunjuk Allah maka ia tertimpa suatu kehidupan yang sulit. Hal-hal demikian hendaknya juga diperhatikan oleh setiap manusia agar ia bisa lebih mengenal kebenaran dan tidak menyangka buruk bahwa Allah menimpakan kesulitan kepada hamba-Nya. Di tingkat selanjutnya, sebagian insan mungkin harus melaksanakan suatu petunjuk Allah untuk kepentingan umat, maka hendaknya orang-orang yang terkait atau umat memberikan dukungannya untuk hasil yang baik. Bila tidak memahami petunjuknya, setidaknya mereka tidak menghalangi pelaksanaan petunjuk yang baik. Kadangkala suatu kaum menganggap remeh orang yang memperoleh petunjuk hingga merasa layak untuk berbuat bebas atas mereka bahkan hingga merusak rumah tangga orang itu. Hal demikian merupakan kesalahan yang sangat buruk yang akan mendatangkan kesengsaraan yang besar bagi umat. Benar ataupun salah petunjuk yang diterima, tidak ada bentuk hukuman berupa merusak rumah tangga. Hal-hal demikian merupakan contoh sisi-sisi operasional praktis dari kitabullah yang harus diperhatikan oleh setiap manusia, tidak berhenti mencari tuntunan kitabullah hanya pada sisi normatif.

Dalam tingkatan tertentu, ada orang-orang yang harus bertanggung jawab atas kesulitan yang menimpa umat manusia, dan tanggung jawab itu hanya dapat ditebus dengan jalan menggunakan akal untuk memahami perintah Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Bila orang-orang itu mengikuti pendapat diri mereka sendiri, dosa itu tidak terangkat dari diri mereka. Misalnya kehidupan yang terjerat riba yang menimbulkan kesulitan umat manusia merupakan dosa yang harus ditebus oleh beberapa insan dengan berusaha menggunakan akal mereka untuk memahami perintah Allah dalam urusan itu. Manakala mereka tidak menggunakan akalnya untuk memahami tuntunan kitabullah, dosa-dosa yang menjerat manusia itu akan menjadi tanggungan mereka. Ada orang-orang di kalangan orang beriman yang harus bertanggung-jawab atas permasalahan yang menimpa umat.

Dewasa ini, ada beberapa bidang yang harus diperhatikan untuk mewujudkan tatanan yang baik di antaranya bidang ekonomi dan kesejahteraan, bidang pendidikan dan pembinaan manusia, bidang syiar agama, bidang penataan dan pemanfaatan sumber daya-sumber daya negeri, bidang keamanan dan intelegensi umat, bidang kesehatan dan keseimbangan dengan lingkungan, serta bidang pengelolaan sumber daya manusia. Seluruhnya harus diperhatikan dengan setimbang. Pembinaan manusia dan syiar agama menjadi langkah yang perlu didahulukan, tetapi setiap bidang mempunyai tingkat kepentingan yang hampir setara dan saling berkaitan satu dengan yang lain tidak ada yang boleh diabaikan. Bila diabaikan, bidang-bidang yang lain akan mengalami kesulitan. Bila disempitkan pada bidang tertentu, akan banyak orang-orang yang tampak menjadi tidak berguna karena keilmuannya tidak dianggap benar. Setiap ilmu dari kitabullah Alquran harus ditempatkan pada kedudukan yang tepat, tidak dinilai dengan cara pandang sendiri. Cara pandang menurut kitabullah merupakan pemberitahuan cara pandang Allah terhadap setiap permasalahan, tidak boleh dikalahkan dengan cara pandang makhluk. Lingkup perumusan pada setiap bidang mencakup seluruh umat manusia, tidak hanya untuk kalangan terbatas, dan untuk syiar islam ajaran Rasulullah SAW bukan aliran tertentu.

Barangkali tidak semua orang harus menggali solusi-solusi kehidupan umat berdasarkan kitabullah Alquran. Sebagian orang harus mengikuti penjelasan-penjelasan orang lain yang dapat menyentuh makna kitabullah Alquran karena hanya orang-orang yang disucikan yang dapat menyentuh makna kitabullah. Amal yang harus ditunaikan bisa dilakukan dengan mengikuti atau melengkapi amal orang yang diikuti, sebagaimana seorang isteri melakukan amal mengikuti suaminya, tidak harus amal yang berdiri sendiri. Hanya saja mereka tetap berkewajiban berpegang teguh pada kitabullah Alquran, berusaha memahami penjelasan secara tepat sesuai tuntunan kitabullah dan tidak mengikuti penjelasan-penjelasan yang bertentangan dengan firman Allah secara membuta.

Setiap orang harus membangun adab diri mereka berdasarkan kitabullah Alquran sejauh yang dapat mereka pahami, setidaknya mengikuti tuntunan kitabullah secara normatif. Langkah demikian termasuk dalam kategori menggunakan akal. Setiap orang harus membina diri untuk dapat membaca kitabullah setidaknya untuk diri mereka sendiri. Sebagian orang yang dapat menyentuh makna kitabullah Alquran berkewajiban untuk menggali permasalahan kehidupan umat manusia dari sudut pandang kitabullah Alquran. Tuntutan bagi mereka dalam menggunakan akal lebih tinggi daripada orang-orang yang belum mampu menyentuh Alquran.

Menggali solusi masalah kehidupan umat harus dilakukan orang-orang beriman dengan landasan kitabullah Alquran, tidak semata berpegang pada persangkaan. Bila hanya berpegang pada persangkaan dan melupakan tuntunan-tuntunan Allah dalam merumuskan tatanan-tatanan, umat manusia tidak akan keluar dari masalah yang menjerat diri mereka. Apa yang mereka pandang baik seringkali tidak benar-benar baik. Yang pasti, rumusan tatanan-tatanan itu tidak akan menyentuh akar masalah yang sebenarnya manakala tidak menjadikan ayat Allah sebagai landasan rumusan. Sedikit atau banyak akar masalah yang tersentuh, itu akan mendatangkan perubahan pada masyarakat. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang beriman yang menggunakan akal untuk memahami tuntunan Allah. Manakala tidak menggunakan akal, orang beriman memikul dosa-dosa permasalahan negeri mereka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar