Pencarian

Senin, 26 Agustus 2024

Hakikat Sebagai Bobot Timbangan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW membentuk akhlak mulia harus dilakukan dengan usaha memahami ayat-ayat Allah baik ayat kauniyah, ayat kitabullah maupun ayat dalam diri. Keseluruhan ayat Allah akan mengarahkan manusia untuk memahami ayat-ayat tersebut secara terintegrasi, yaitu bagi orang-orang yang ingin membentuk diri dalam akhlak mulia. Pemahaman terintegrasi yang benar terhadap ayat-ayat Allah merupakan hakikat, dan hakikat itu akan menjadi bobot besar bagi timbangan seseorang di hadirat Allah. Bobot timbangan seseorang di hadirat Allah kelak akan ditentukan berdasarkan hakikat yang dikenal, bukan jumlah amal-amal yang dilakukan oleh seseorang.

﴾۸﴿وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (al-haqq), maka barangsiapa berat timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Al-A’raaf : 8)

Ayat di atas sangat terkait dengan diturunkannya kitabullah agar manusia memperoleh pelajaran dan memberikan peringatan tentang kehidupan mereka. Hakikat diturunkan bersama kitabullah. Orang-orang yang memahami alam semesta selaras tuntunan kitabullah merupakan orang-orang yang mengenal hakikat. Kitabullah itu benar-benar diturunkan dari sisi Allah sedangkan hal-hal yang lain tidak sama dengan kitabullah. Boleh jadi seseorang mengenal kebenaran, boleh jadi seseorang berpegang pada pemahaman yang salah, atau boleh jadi seseorang mengenal kebenaran dan mengikuti pula pemahaman yang salah. Tidak ada jaminan kebenaran yang dapat diperoleh manusia kecuali dari kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW. Dengan diturunkannya kitabullah dari sisi Allah, hendaknya setiap orang mengikuti apa-apa yang diturunkan Allah tidak mengambil wali-wali selain dari Allah.

Bobot seseorang di hadirat Allah akan ditimbang berdasarkan pengenalan mereka terhadap hakikat. Sebenarnya bobot seseorang di alam dunia juga ditentukan dengan pengenalan mereka terhadap hakikat. Hasil yang baik dari amal-amal seseorang pada dasarnya merupakan buah dari hakikat-hakikat yang dikenalinya, bukan dari amal-amal yang dilakukan. Sangat banyak amal-amal yang disangka manusia sebagai kebaikan tetapi sebenarnya justru mendatangkan madlarat yang banyak bagi mereka. Misalnya para pemimpin yang curang boleh jadi berkeinginan menjadikan kaum mereka bodoh dan kemudian memberikan bantuan kepada kaumnya karena kelemahan mereka, maka kaum mereka kemudian memandang baik pemimpin mereka dan apa-apa yang dilakukan mereka. Perbuatan para pemimpin demikian tidak akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan kaum tersebut, dan tidak memberi bobot bagi timbangan di akhirat, karena sebenarnya perbuatan mereka mendatangkan keburukan yang besar bagi kaum mereka. Sangat banyak bentuk-bentuk keburukan yang dapat dibuat manusia dalam tampilan yang baik, maka hal-hal demikian tidak mempunyai bobot kebaikan bagi umat manusia.

Sebenarnya hasil yang baik itu hanya akan muncul dari orang-orang yang mengenal kebenaran (hakikat) dari sisi Allah. Akan tetapi tidak semua orang yang mengenal hakikat dapat mewujudkan kebaikan yang mereka kenal ke alam dunia. Sekalipun demikian, kebenaran itu benar-benar akan tetap menjadi pemberat bagi timbangan mereka di akhirat kelak. Bila orang-orang yang mengenal hakikat memperoleh keadaan yang tepat untuk melahirkan hakikat yang mereka kenali, maka akan terwujud kebaikan-kebaikan yang banyak di alam dunia. Bila tidak memperoleh keadaan yang tepat bagi terwujudnya suatu pengenalan hakikat, maka umat manusia tidak memperoleh buah dari pengetahuan mereka. Hal ini tidak merugikan orang yang mengenal hakikat karena mereka akan memperoleh bobot timbangan mereka di hadirat Allah, tetapi masyarakat mereka akan kehilangan banyak manfaat dari kebenaran yang dapat dilahirkannya.

Mengikuti Kebenaran

Di antara orang-orang beriman, boleh jadi ada yang mengambil wali-wali selain Allah dengan meninggalkan petunjuk kitabullah. Perbuatan demikian tidak diperbolehkan untuk dilakukan oleh orang-orang beriman. Yang dilarang bukanlah perbuatan mengambil wali, karena ada wali-wali Allah yang benar di antara manusia. Mengambil perwalian kepada mereka diperbolehkan selama tidak menyelisihi atau menentang kitabullah. Mengambil perwalian dari para wali Allah akan memudahkan langkah taubat kepada Allah, tetapi hendaknya setiap orang menjaga batas-batas dalam mengambil perwalian. Apabila mengambil perwalian kepada mereka dilakukan hingga menyelisihi kitabullah, maka mereka telah mengambil wali-wali selain Allah. Bila mengambil perwalian dilakukan hingga dengan perbuatan menentang kitabullah, maka boleh jadi mereka telah mempertuhankan wali-wali di antara mereka. Hal demikian tidak diperbolehkan. Setiap orang tidak boleh mengambil wali-wali selain Allah.

Untuk menjaga batas tersebut, setiap orang harus menegakkan batas langkah antara mengikuti dan bertaklid. Yang membedakan langkah mengikuti dan bertaklid hanya berupa perbedaan tipis dalam hati seseorang, dan seringkali orang lain tidak dapat membedakan antara orang yang mengikuti dan orang bertaklid. Mengikuti langkah wali adalah mengikuti langkah para wali dengan mencari landasan amal-amal dirinya dari kitabullah, sedangkan bertaklid terjadi karena mengikuti amal tanpa memperhatikan landasan dari kitabullah. Ada amal-amal para wali mereka yang mungkin tidak dimengerti tetapi boleh dilakukan karena tidak ada syubhat dan madlarat yang menyertai, ada yang tidak boleh dilakukan selama belum memperoleh keterangan dari kitabullah. Seseorang tidak boleh mengikuti para wali apabila melihat madlarat yang mengikuti amalnya, walaupun mungkin saja sebenarnya pendapatnya salah setelah ia memahami. Apabila seseorang melihat pertentangan terhadap kitabullah pada suatu amal atau perkataan, ia tidak boleh mengikuti amal atau perkataan itu karena hal itu termasuk dalam sikap taklid dan mengambil wali selain Allah.

Jalan mewujudkan kebaikan di alam dunia ini adalah dengan berusaha mewujudkan pengenalan hakikat oleh orang-orang yang mengenalnya. Tidak semua orang dapat melihat suatu hakikat, tetapi dapat menimbang kebenaran hakikat yang dibacakan. Umat manusia hendaknya mendengarkan dan mengikuti orang-orang yang membacakan hakikat dari ayat kitabullah terkait mereka dan mengikuti apa-apa yang dibacakan. Orang-orang yang membacakan ayat Allah tidaklah mengharapkan suatu imbalan dari kaumnya, tetapi mengharapkan adanya kebaikan bagi mereka dengan mewujudkan urusan-urusan Allah yang harus dikerjakan. Apabila ada suatu infaq dari orang yang mendengarkan seruannya, maka infaq itu akan menjadi penyiram benih kebaikan yang seharusnya diwujudkan. Tanpa ada infaq, hakikat yang mereka bacakan ibarat menanam benih tanpa disiram. Manakala bacaan mereka diabaikan, kadangkala mereka takut akan akibat buruk yang akan menimpa kaumnya dan takut akan pertanggungjawaban atas apa yang dilalaikannya dari urusan Allah, tetapi tidak merasa kehilangan imbalan atas amal-amal yang mereka lakukan. Pengetahuan terhadap hakikat itu bernilai jauh lebih tinggi bagi pengenal hakikat daripada imbalan-imbalan duniawi yang mungkin tidak mereka peroleh, dan mereka mengetahui bahwa pengetahuan hakikat itu akan menjadi bobot dirinya di hadirat Allah.

Ringannya Bobot Kebenaran

Bobot dari pengetahuan hakikat pada masing-masing manusia bisa berbeda-beda meskipun misalnya berpijak pada realitas dan tuntunan ayat kitabullah yang sama. Hal itu bergantung pada perhatian mereka terhadap kehendak Allah yang terkandung pada ayat-ayat yang mereka perhatikan. Ada orang-orang yang mempunyai bobot hakikat yang besar dan ada orang-orang yang mempunyai bobot hakikat yang ringan.

﴾۹﴿وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ
Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka berbuat dzalim dengan (menggunakan) ayat-ayat Kami (QS Al-A’raaf : 9)

Ada orang-orang yang berbuat dzalim dengan ayat-ayat Allah, maka mereka itu termasuk orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan bobot hakikat mereka ringan. Ringannya bobot hakikat mereka bertimbal balik dengan kedzaliman. Bobot hakikat ringan menyebabkan mereka berbuat dzalim, dan kedzaliman mereka membuat bobot hakikat yang dapat mereka pahami ringan. Mereka adalah orang-orang yang memperhatikan ayat-ayat Allah tetapi ayat-ayat itu menjadikan mereka berbuat dzalim. Kedzaliman mereka terjadi karena tidak sungguh-sungguh memperhatikan kehendak Allah, hanya memperhatikan ayat-ayat Allah untuk kepentingan-kepentingan yang tidak berhubungan erat dengan kehendak Allah. Mungkin kepentingan itu berupa kepentingan diri sendiri atau kemegahan-kemegahan umat menurut hawa nafsu mereka meskipun kemegahan itu mungkin tampak baik. Hal-hal demikian dapat menyebabkan seseorang berbuat dzalim dengan ayat-ayat Allah.

Memperhatikan ayat Allah harus dilakukan untuk dapat beramal shalih menunaikan kehendak Allah, tidak boleh dilakukan untuk memperoleh kepentingan diri sendiri. Setiap orang harus berusaha benar-benar memperhatikan kehendak Allah atas diri mereka hingga mereka dapat melaksanakan perintah-Nya. Manakala muncul suatu kebutuhan atau keinginan terhadap sesuatu dalam dirinya, hendaknya keinginan itu tidak dipenuhi dengan memanfaatkan ayat-ayat Allah, tidak menghalangi atau mengurangi perhatiannya terhadap kehendak Allah, atau bahkan hendaknya ia berusaha untuk tidak memberikan tempat pada keinginan itu. Tidak jarang suatu lintasan pikiran atau keinginan secara perlahan-lahan membengkokkan langkah tanpa terasa, maka ia akan celaka bila tidak berusaha kembali memperhatikan kehendak Allah dengan sebaik-baiknya. Kadangkala suatu rahmat dari Allah kemudian menjadikan seseorang terlupa terhadap penghambaan dirinya hingga ia berbuat kufur. Hal-hal demikian akan menjadikan bobot dari pengenalan terhadap hakikat menjadi ringan sehingga merugikan dirinya sendiri. Ia mungkin memandang dirinya bernilai tinggi sedangkan di mata Allah ia hanya bernilai ringan atau justru termasuk orang-orang yang dilupakan.

Ringannya bobot hakikat pada diri seseorang cenderung akan menjadikan mereka menyentuhkan akar pertumbuhan pada hawiyah. Manakala ayat-ayat Allah digunakan seseorang untuk membangun sesuatu tidak berdasar keinginan mengikuti kehendak Allah, maka pemahaman terhadap ayat-ayat itu akan tumbuh berakar kepada suatu hawiyah di neraka yang sangat panas. Walaupun benih pemahaman mereka merupakan kebaikan dari ayat-ayat Allah, tetapi mereka tumbuh di atas ibu hawa nafsu. Buah dari pertumbuhan demikian berbentuk kedzaliman-kedzaliman yang terbungkus dengan ayat-ayat Allah. Mereka menjadi orang-orang yang dzalim dan orang-orang yang mengikuti mereka akan terdzalimi. Suatu ayat kitabullah mungkin mereka gunakan untuk mendzalimi umat islam yang lain, atau suatu ayat dalam hati digunakan untuk melegitimasi kedzaliman terhadap orang lain. Boleh jadi mereka memandang indah kedzaliman itu sebagai perintah Allah karena ringannya pemahaman mereka terhadap hakikat yang menjadi kehendak Allah.

Orang-orang yang mempelajari ayat-ayat Allah harus menghindari hawiyah. Kebenaran yang ringan bobotnya cenderung akan mengantar seseorang menuju hawiyah, karena itu setiap orang hendaknya bersungguh-sungguh dalam memperhatikan tuntunan kitabullah berdasar keinginan membina akhlak mulia. Kebenaran yang ringan tidak mempunyai nilai yang mantap dalam menuntun manusia pada nilai-nilai kehidupan. Kadangkala ringannya bobot kebenaran dibungkus dengan waham-waham yang menjadikan bobot yang ringan terlihat berat, waham yang mempertakuti manusia agar terus mengikuti kebenaran yang ringan itu dan menganggapnya berbobot. Kadangkala suatu kebenaran yang telah berat bobotnya dicampur dengan syubhat dan kesesatan kemudian campuaran itu menjadikan orang yang mengikutinya menjadi dzalim, maka kebenaran itu menjadi ringan manakala tidak dibersihkan. Kebenaran yang ringan itu kelak di hari yang berat akan menjadi seperti anai-anai yang tertiup api tidak mampu berpijak. Untuk memperoleh bobot timbangan, setiap orang harus berusaha mengikuti kehendak Allah.

Bobot suatu kebenaran yang harus diikuti manusia dapat ditinjau berdasar pada tujuan membina sifat rahman dan rahim. Sifat Rahman menunjuk pada keinginan untuk menyeru manusia menuju kehidupan yang terang sesuai petunjuk Allah. Orang yang bersifat rahman akan mengajak manusia untuk memperkuat akalnya dalam memahami kehendak Allah dan menghindarkan manusia mensia-siakan akal dan pikiran yang benar. Kadangkala seseorang mengajak manusia kepada tuntunan Allah akan tetapi dilakukan dengan menutup akal yang orang-orang yang diseru dari memahami petunjuk Allah, maka hal demikian menunjukkan belum tumbuhnya sifat rahmaniah pada penyeru. Tidak jarang seruan demikian hanya merupakan dorongan hawa nafsu. Sifat rahmaniah menjadikan seseorang bisa memahami kebenaran dan bisa menunjukkan kebenaran itu kepada orang lain, serta dapat menerima pendapat orang lain yang lebih baik. Sifat rahim menunjukkan keinginan seseorang terhadap kebaikan bagi orang lain, baik berupa kebaikan bagi nafs hingga kebaikan pada tataran jasmaniah manusia.

Terwujudnya kebaikan bagi umat manusia akan terjadi manakala manusia mengikuti tuntunan Allah dengan melihat hakikat-hakikat yang diperkenalkan oleh orang-orang yang menyeru mereka kembali kepada Allah Ar-Rahman Ar-Rahim. Hakikat yang dikenali oleh seseorang seringkali tidak dapat terwujud ke alam dunia tanpa kesertaan masyarakat dalam mewujudkan kehendak Allah, walaupun tetap saja hakikat itu menjadi bobot seseorang di hadirat Allah. Sangat disayangkan apabila hakikat yang dikenali seseorang tidak terwujud di alam dunia, karena umat manusia akan kehilangan kebenaran dari sisi Allah. Wahana utama yang dibutuhkan seseorang untuk mewujudkan nilai-nilai hakikat dari sisi Allah adalah bayt yang diijinkan Allah untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah di dalamnya. Pernikahan yang baik akan menjadi media utama terwujudnya kebaikan dari hakikat-hakikat yang dapat dikenali oleh manusia. Bila para perempuan suatu negeri tumbuh dengan baik sesuai dengan tuntunan Allah, maka kemakmuran di suatu negeri akan terjadi. Kemakmuran yang mencakup nafs dan raga akan terwujud manakala para laki-laki dan perempuan negeri itu shalih. Bila kaum laki-laki yang shalih di suatu negeri didustakan oleh isteri-isteri mereka, suatu adzab akan mengintai negeri itu. Pembinaan perempuan merupakan kunci pemakmuran suatu negeri, dan pembinaan yang salah akan menyebabkan kerusakan yang besar pada negeri. Rumah tangga yang baik menjadi sarana terwujudnya kemakmuran suatu negeri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar