Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Untuk mengikuti langkah beliau, setiap orang harus berusaha memahami ayat-ayat Allah tidak sekadar menggunakan logika. Hal utama yang harus dibina oleh setiap hamba Allah untuk memahami ayat-ayat Allah adalah pembinaan nafs dan jasmani untuk menjadi suatu misykat cahaya yang membentuk bayangan yang tepat dari cahaya Allah. Setiap manusia diciptakan untuk dapat menjadi suatu misykat yang membentuk bayangan dari cahaya Allah layaknya suatu kamera membentuk bayangan dari objek yang dibidik, yaitu manakala syarat-syarat untuk berfungsinya terpenuhi.
﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberi berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun belum disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nuur : 35)
Perumpamaan cahaya Allah tidaklah menunjuk pada suatu kehadiran Allah, tetapi menunjukkan terbentuknya bayangan yang benar tentang kehendak Allah dalam diri hamba-Nya. Seorang manusia tidaklah bisa menjadi wadah dari kehadiran Allah, tetapi ia dapat membentuk suatu bayangan dari cahaya Allah yang diterima. Setiap manusia seharusnya membina akhlak dirinya sebagai suatu misykat cahaya layaknya suatu kamera membentuk bayangan dari cahaya yang datang.
Perumpamaan cahaya pada ayat di atas merupakan bentuk sempurna yang dapat dicapai oleh setiap hamba Allah dalam memahami kehendak Allah. Kesempurnaan bentuk perumpamaan cahaya itu tidaklah bisa diperoleh seorang hamba Allah dengan tiba-tiba. Setiap orang harus memulai pertumbuhan pemahaman dirinya dari sedikit. Ada bagian-bagian yang ditumbuhkan dengan usaha-usaha seorang hamba dengan ijin Allah, dan ada bagian yang sama sekali tidak dapat ditumbuhkan manusia karena semata merupakan kehendak Allah. Penyalaan api ruh qudus merupakan bagian yang sepenuhnya merupakan kehendak Allah tanpa dapat diusahakan oleh hamba Allah, sedangkan penumbuhan pohon thayibah mensyaratkan adanya usaha dari setiap hamba untuk menumbuhkannya.
Membaca Ayat-Ayat Allah
Pohon zaitun yang terbentuk dalam misykat cahaya adalah pohon thayyibah. Pohon itu merupakan citra kehendak Allah yang tumbuh dalam diri seorang hamba, terbentuk dari cahaya Allah yang diarahkan oleh nafs secara tepat hingga terbentuk bayangannya. Tanpa cahaya Allah, tidak akan terbentuk citra jati diri dalam diri seorang hamba. Cahaya Allah dalam hal ini adalah tuntunan ayat-ayat Allah berupa kitabullah serta ayat kauniyah yang selaras. Citra jati diri seorang hamba Allah tidak dapat dibentuk hanya dengan pengamatan-pengamatan jasmaniah saja, tetapi harus disertai dengan keinginan mengetahui kehendak Allah yang menyertai objek pengamatan-pengamatan jasmaniahnya. Manakala pengamatan-pengamatan itu tanpa disertai dengan keinginan mengenal kehendak Allah, tidak akan terbentuk citra diri yang benar pada seorang hamba kecuali hanya bentuk-bentuk semu. Kehendak Allah yang menyertai alam kauniyah itu terdapat dalam ayat-ayat kitabullah Alquran.
Pohon thayyibah juga tidak dapat dibentuk hanya dengan amal-amal tanpa berusaha melakukan amal berdasarkan kehendak Allah sebagaimana tercantum dalam kitabullah. Amal-amal yang dilaksanakan untuk membangun kemegahan-kemegahan hanya akan mewujudkan kemegahan dalam pikiran manusia ke alam duniawi tidak akan menumbuhkan pohon thayyibah. Demikian pula manakala seseorang melakukan amal-amal hanya dengan mengikuti perkataan-perkataan manusia tanpa berusaha menemukan landasan amalnya dari tuntunan kitabullah, mereka tidak akan dapat menumbuhkan pohon thayyibahnya. Barangkali ada hasil-hasil kebaikan dalam setiap amal baik yang dilakukan manusia, akan tetapi pohon thayyibah seseorang hanya terbentuk dari cahaya Allah. Bobot amal seseorang di akhirat kelak akan ditimbang berdasarkan pemahaman seseorang berdasarkan kebenaran yang dikenalinya, bukan dari wujud amalnya.
Amal-amal dan pengamatan-pengamatan yang baik akan sangat mendukung terbentuknya pohon thayyibah dalam diri, akan tetapi yang paling utama membentuk pohon thayyibah adalah keinginan mengenal kehendak Allah mengikuti tuntunan kitabullah. Sangat penting bagi setiap hamba Allah berusaha mengenali kehendak Allah yang terjadi pada alam kauniah mereka berdasarkan tuntunan kitabullah. Dengan memperhatikan tuntunan kitabullah demikian maka akan terbentuk pertumbuhan pohon thayyibah dalam diri. Tanpa tuntunan kitabullah, bayangan yang terbentuk dalam diri seseorang akan sulit untuk dipastikan kebenarannya.
Kadangkala
seseorang tidak memperoleh kesempatan beramal sesuai dengan
pengetahuan yang diperolehnya, atau tidak memperoleh sarana yang
layak untuk mengamati alam kauniyahnya. Hal demikian tidak membatasi
kesempatan dirinya untuk menumbuhkan pohon dirinya karena ada
tuntunan kitabullah yang dapat digunakan untuk menumbuhkan.
Kadangkala pohon yang tumbuh dalam
keadaan demikian itu menjadi
kerdil
akan tetapi tetap dapat memberikan buah manakala kematangannya tiba.
Amal-amal
dan pengamatan terhadap kauniyah diri bermanfaat dalam menyuburkan
pertumbuhan pohon thayyibah, akan tetapi keikhlasan seseorang yang
menentukan kematangannya. Kadangkala orang-orang yang telah terbentuk pohon dirinya tidak mempunyai sarana untuk benar-benar terhubung ke alam kauniyahnya, tetapi bisa memahami manakala dihubungkan.
Prasangka-prasangka yang dibentuk seseorang berdasarkan keinginan
yang ikhlas untuk mengenal kehendak Allah seringkali sebenarnya bukan
prasangka kosong, tetapi merupakan suatu tuntunan untuk mengenali
kehendak Allah secara lengkap meskipun seseorang tidak benar-benar
dapat menimbang bobot kebenaran prasangka itu. Pohon
thayyibah diri seringkali tidak dikenali jenisnya secara tepat
oleh seseorang hingga pohon itu mengeluarkan buahnya. Boleh jadi seseorang
telah menumbuhkan pohon thayyibah dalam dirinya tanpa mengenali
secara tepat perkembangan pertumbuhannya. Seseorang boleh jadi telah
berjalan menuju keadaan yang dekat dengan jati dirinya tanpa
mengetahui secara tepat. Ia mungkin merasa hanya mengetahui
kehendak Allah dengan meraba-raba atau seperti prasangka-prasangka
berdasarkan pengetahuan logika. Ia tidak boleh memegang kuat prasangka itu tetapi tidak boleh pula melepaskannya tanpa alasan yang benar karena boleh jadi prasangka itu benar. Manakala Allah mengizinkan,
pohon itu kemudian mengeluarkan buah yang dapat dikenali.
Pohon itu tumbuh tidak di barat dan tidak di timur. Hal ini menunjukkan bahwa pohon itu tidak tumbuh di alam jasmaniah dan tidak di alam ruh yang dekat dengan Allah. Pohon itu tumbuh di alam nafs yang merupakan bagian inti dari diri manusia. Nafs yang tumbuh sebagai pohon thayyibah akan tumbuh sebagai salinan dari amr Allah, tidak sepenuhnya mewakili amr Allah dan tidak pula tumbuh sepenuhnya mengikuti tabiat jasmaniahnya walaupun bersama-sama. Kadangkala tumbuhnya pohon itu tidak terasa oleh sebagian jasmani manusia. Pohon itu bukan sepenuhnya sebagai representasi amr Allah sebagaimana ruh. Nafs itu tumbuh sebagai salinan dari amr Allah yang dikehendaki bagi hamba-Nya tersebut. Manakala seseorang tidak mempunyai keinginan mengenal amr Allah atau keinginannya keliru dalam mengenal amr Allah, nafs akan sulit mengarahkan pertumbuhannya dengan benar.
Tidak semua yang bisa tumbuh dari pertumbuhan pohon thayibah nafs merupakan amr Allah. Kadangkala suatu benalu bisa tumbuh layaknya dahan atau ranting dari suatu pohon, tetapi ia tidak boleh dianggap sebagai bagian dari pohon tersebut. Kode genetik dari suatu benalu sama sekali tidak sama dengan kode genetik dari pohon inangnya, dan benalu itu akan mematikan pohon inang. Demikian syaitan dapat menumbuhkan suatu benalu pada pohon thayyibah yang tumbuh pada nafs manusia. Suatu benalu dapat menghasilkan buah-buahan yang kadangkala terasa manis akan tetapi dapat menyebarkan penyakit pada suatu umat. Kode genetik pohon thayyibah adalah ayat-ayat dalam kitabullah Alquran yang tumbuh sebagai akhlak mulia, sedangkan kode genetik benalu berasal dari syaitan yang akan menjadikan manusia dzalim. Manakala berusaha menumbuhkan pohon thayyibah, setiap orang hendaknya benar-benar melakukan pemeriksaan terhadap hal-hal yang tumbuh dari dirinya dengan kitabullah Alquran, karena hanya kitabullah Alquran yang akan memberikan penjelasan tentang adanya benalu-benalu dan hama yang tumbuh dalam pertumbuhan pohon dirinya.
Manakala seseorang mengetahui pohon thayyibah dirinya berbuah, ia hendaknya mengamalkan pengetahuannya dengan memberikan kepada orang lain pengetahuan dirinya. Nafsnya akan memperoleh manfaat yang banyak dari ilmu-ilmu yang diamalkannya. Manfaat dari ilmu dari buah itu ibarat minyak dari buah zaitun, minyak itu akan memberikan lapisan minyak terhadap bola kaca hingga bola kaca itu berkilauan dengan cahaya. Orang yang beramal dengan ilmu-ilmu yang diberikan kepadanya akan menjadikan nafsnya berkilau dengan cahaya-cahaya Allah sekalipun belum disentuh api. Apabila jarang mengamalkan ilmunya, seseorang mungkin kehilangan kilau cahaya yang memberikan petunjuk. Mereka mungkin tidak peka terhadap petunjuk yang diturunkan. Semakin ilmu diamalkan, seseorang akan semakin peka terhadap cahaya Allah hingga dapat memperoleh petunjuk mencapai hal-hal yang terperinci dalam kehidupan mereka.
Ayat-ayat Yang Menjelaskan
Buah dari pertumbuhan pohon thayyibah itu berupa ilmu yang diberikan Allah ke dalam dada, yaitu ayat-ayat yang menerangkan. Pokok ilmu yang diberikan kepada seorang hamba adalah tumbuhnya ayat-ayat yang menjelaskan di dalam dada mereka, bukan berupa bentuk-bentuk kesaktian atau yang dianggap karomah-karomah. Suatu ayat kitabullah akan menjadi penerang bagi orang-orang yang diberi ilmu, penerang yang menjelaskan kesatuan ayat-ayat Allah baik ayat kauniyah maupun ayat-ayat yang terlintas dalam hati mereka sendiri. Mungkin saja bentuk karomah dari orang yang diberi ilmu dimunculkan, tetapi karomah itu merupakan cabang yang tumbuh di atas pengetahuan tentang ayat-ayat yang menjelaskan di dalam dada, bukan karomah yang tumbuh secara mandiri tanpa suatu pemahaman terhadap ayat Allah.
﴾۹۴﴿بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ
Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang menjelaskan di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS Al-Ankabuut : 49)
Ilmu itu menjelaskan di dalam dada, bukan dalam bentuk dikte-dikte dari luar diri. Penjelasan di dalam dada menunjukkan adanya integritas penjelasan ayat kitabullah itu dengan akhlak mulia dalam diri, bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba tanpa dapat terintegrasi dengan akhlak mulia. Mungkin saja penjelasan itu bersifat baru, tetapi tetap dapat terintegrasi dengan akhlak mulia dirinya. Mereka akan membenarkan penjelasan dalam dada mereka sekalipun misalnya mungkin hawa nafsu mereka merasa keberatan. Hal itu tidak menunjukkan kesalahan tetapi kurang sempurna. Yang berbahaya adalah bila seseorang memperoleh penjelasan yang salah tetapi merasa sempurna memahami kebenaran. Syaitan bisa meniru karomah memberikan keajaiban-keajaiban kepada manusia yang mereka pilih, tetapi tidak akan mau memberikan pengetahuan yang membentuk akhlak mulia. Apabila memberi pengetahuan, pengetahuan yang mungkin diberi para syaitan justru akan menjadikan manusia tidak bisa menggunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah.
Pohon diri yang tumbuh dengan minyak yang menghiasi nafs akan mendatangkan api berupa nafakh ruh. Peristiwa ini berada di luar lingkup yang dapat diupayakan manusia. Ayat di atas menyebutkan peristiwa ini dengan redaksi : “walaupun belum disentuh api”. Redaksi ini secara tersirat menunjukkan adanya proses nafakh ruh dan secara tersirat menuntun manusia agar tidak perlu mengupayakan terjadinya nafakh ruh. Cukuplah bagi orang-orang beriman mengupayakan terbentuknya pohon thayyibah dan mengamalkan apa-apa yang mereka peroleh dari pohon thayyibah itu untuk umat mereka agar minyak dari buah itu menjadi kilauan bagi nafs mereka, sedangkan sentuhan api itu merupakan hak Allah.
Harapan manusia tentang nafakh ruh ini seringkali menjadikan manusia bertindak tidak tepat. Orang-orang kadangkala terlalu berharap besar terhadap nafakh ruh dan terlalai dari memahami ayat-ayat Allah yang dihadirkan bagi mereka. Setiap orang harus memperhatikan ayat-ayat yang sampai kepada diri mereka dan berusaha memahaminya tidak terlalaikan oleh apapun, karena yang mengubah nafs mereka adalah perhatian terhadap ayat Allah. Sekalipun ruh dapat menghidupkan materi, pengubah nafs manusia adalah ayat-ayat Allah. Kadangkala perhatian manusia terhadap ayat Allah terlalaikan manakala berhadapan dengan suatu keajaiban, termasuk keajaiban ruh, hingga manusia mengikuti keajaiban itu daripada tetap memperhatikan ayat Allah. Hal demikian merupakan sikap yang tidak tepat. Setiap orang harus berpegang pada ayat-ayat Allah sekalipun berhadapan dengan keajaiban. Keajaiban tidak selalu datang dari sisi Allah karena syaitan juga sering dibolehkan menampilkan keajaiban. Manakala manusia melupakan tuntunan kitabullah karena nafakh ruh, mereka telah keliru dalam mensikapi nafakh ruh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar