Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW akan mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan di bumi. Kehidupan manusia akan tertata dengan baik untuk urusan akhirat ataupun urusan duniawi. Manusia akan mengetahui bahwa tatanan kehidupan manusia tidak seharusnya seperti apa yang dialami umat manusia pada zaman ini, tetapi mengikuti suatu tatanan yang ditentukan Allah. Jika manusia mengetahui tatanan yang dikehendaki Allah maka mereka akan mengetahui bahwa tatanan umat manusia jaman sekarang ini sangatlah buruk. Hal ini akan diketahui jika umat manusia benar-benar mengikuti langkah Rasulullah SAW.
Banyak kalangan menginginkan kembali kepada tatanan islam akan tetapi tidak benar-benar mengetahui tatanan agama yang sebenarnya. Salah satu masalah besar yang menghalangi umat manusia untuk mengenal tatanan sesuai kitabullah adalah akhlak-akhlak semu.
﴾۲۰۱﴿وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan atas kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi syaitan-syaitan lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan (mengajarkan) apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya fitnah (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka (para syaitan) mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan ilmu itu, mereka dapat menceraikan antara seseorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (syaitan) tidak memberi mudharat dengan (ilmu)nya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka (manusia) mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang membelinya, tiadalah baginya akhlak itu di akhirat, dan amat buruklah apa yang mereka beli dengan nafs mereka kalau mereka mengetahui. (QS Al-Baqarah : 102)
Sebenarnya tatanan kehidupan di bumi saat ini tidaklah terjadi tanpa suatu tipu daya syaitan terhadap umat manusia. Tatanan kehidupan dunia saat ini sebenarnya dipengaruhi oleh rumusan-rumusan orang-orang yang mengikuti suatu bacaan syaitan atas kerajaan Sulaiman. Mereka adalah orang-orang yang terobsesi untuk membentuk suatu negara syaitan mengikuti dajjal sebagaimana bacaan syaitan atas negara Sulaiman. Bila berkeinginan membentuk tatanan umat manusia sesuai kehendak Allah, para pengikut Rasulullah SAW harus menyadari akan berhadapan dengan tatanan yang dirumuskan oleh para pengikut syaitan.
Ayat di atas secara umum bercerita tentang tantangan yang harus dihadapi oleh para pengikut Rasulullah SAW manakala berkeinginan untuk membangkitkan kembali tatanan umat manusia mengikuti kehendak Allah. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh umat islam untuk menolong agama Allah dalam membentuk tatanan umat manusia sesuai tuntunan Allah, di antaranya akhlak semu, pembentukan keluarga sesuai tuntunan Allah, ilmu yang tidak bermanfaat atau ilmu fitnah di antara orang beriman dan sihir di antara manusia. Orang yang ingin menolong agama Allah tetapi melakukan hal-hal yang berlawanan justru akan mendatangkan madlarat terhadap agama bukan menolong agama Allah. Setiap orang harus menghindari madlarat terhadap agama Allah dan melakukan hal yang menolong agama Allah hingga batas kemampuannya. Bila tidak mampu, maka hendaknya tidak mendatangkan kerusakan.
Berlawanan dengan musuh yang kuat membutuhkan disiplin dalam beramal. Sebagian umat islam mungkin telah mendengar berita tentang kebangkitan islam tetapi tidak benar-benar memperhatikan petunjuk Rasulullah SAW. Mereka mungkin berusaha dengan pemikiran mereka sendiri untuk mendukung kebangkitan islam. Hal demikian tidak akan mendatangkan hasil yang berarti, atau justru salah kaprah merusak umat islam. Bila berkeinginan mendukung kebangkitan islam, setiap muslim harus memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentang hal itu tidak mengabaikannya untuk mengikuti pikiran sendiri. Bila mengabaikan, mereka tidaklah akan memberikan pertolongan yang layak untuk mendukung kebangkitan islam.
Akhlak Semu
Syaitan akan mendatangkan tipuan bagi orang-orang islam. Syaitan membuat fitnah-fitnah bagi umat manusia, dan salah satu fitnah yang syaitan yang paling sulit adalah akhlak semu. Yang dimaksud akhlak semu adalah akhlak yang tampak baik dari seorang manusia tetapi kelak akan lenyap di kehidupan akhirat. Pada ayat 102 Al-Baqarah disebutkan suatu peringatan tentang akhlak yang semu dengan redaksi : “Sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang membelinya, tiadalah baginya akhlak itu di akhirat”. Itu adalah peringatan tentang akhlak semu yang harus diwaspadai oleh orang beriman, karena akhlak demikian kelak akan lenyap di akhirat.
Akhlak semu berwujud sebagai akhlak-akhlak yang terlihat baik hingga seolah-olah orang yang berakhlak demikian akan tiba di hadapan Allah dengan selamat. Orang-orang boleh jadi akan menyangka bahwa mereka adalah para ahli surga yang ada di muka bumi sedangkan sebenarnya tidak demikian. Orang-orang itu mungkin akan melangkah selamat di berbagai alam hingga akhirnya akan sia-sia di hadapan Allah. Contoh akhlak semu demikian adalah para perempuan yang menggunakan kiswah kehormatan di kehidupan dunia akan tetapi kelak di akhirat akan telanjang. Hal demikian sebenarnya tidak hanya terjadi pada kaum perempuan. Ada akhlak-akhlak semu yang mungkin terjadi atas kaum laki-laki, di mana mereka bisa memperoleh jubah-jubah kehormatan dalam kehidupan dunia akan tetapi akan lenyap kelak dalam kehidupan akhirat.
Akhlak semu sebenarnya merupakan suatu tipu daya syaitan yang mereka gunakan untuk mencegah umat manusia dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Akhlak semu digunakan syaitan terutama untuk menutupi upaya mereka dalam mendirikan suatu kerajaan syaitan sebagaimana bacaan mereka atas kerajaan Sulaiman. Dalam peristiwa pengangkatan iblis yang didekatkan kepada Iblis besar di 'ars-nya, akhlak semu itulah yang digunakan iblis tersebut bersama golongannya dan Iblis lainnya untuk menimbulkan fitnah yang paling berat bagi umat manusia yaitu manakala mereka memisahkan seorang isteri dari suaminya. Manusia mungkin akan merasa telah melangkah jauh maju dengan langkah-langkah yang mereka pikirkan sedangkan sebenarnya mereka mungkin tidak mengikuti langkah Rasulullah SAW, dan justru membuat kerusakan besar bagi umat manusia dengan memporak-porandakan tatanan umat manusia menurut tuntunan kitabullah. Tatanan menurut tuntunan kitabullah itu justru mereka rusak dengan tatanan yang muncul dalam pikiran mereka sendiri.
Kebangkitan islam akan dimulai dengan terbinanya akhlak mulia yang sesungguhnya pada masing-masing manusia sebagai elemen keumatan, diikuti terbinanya pondasi bermasyarakat yang baik berupa keluarga sesuai dengan tuntunan Allah, kemudian terlaksananya jihad umat islam dalam memerangi sihir dan ilmu-ilmu yang menjadi fitnah bagi manusia baru kemudian tatanan masyarakat sesuai dengan tuntunan Allah dapat ditegakkan. Tatanan masyarakat sesuai tuntunan Allah itu tidak akan terbentuk tanpa dilandasi akhlak mulia yang sesungguhnya pada masing-masing manusia, atau tanpa dibina dengan tatanan keluarga mengikuti tuntunan Allah, atau tanpa disertai terlaksananya jihad mencegah ilmu tanpa manfaat dan ilmu sihir.Umat Islam hendaknya benar-benar memperhatikan tuntunan ayat di atas dalam upaya mendukung kebangkitan islam, tidak mendukung hanya dengan pikiran mereka sendiri karena sangat mungkin akan sia-sia sedangkan mereka akan memandang perbuatan mereka sebagai perbuatan mulia. Salah-salah pikiran mereka justru menjadi lawan yang menghambat kebangkitan islam sendiri. Salah satu hal terinci yang harus menjadi perhatian setiap pengikut Rasulullah SAW adalah terbentuknya akhlak semu yang dibuat oleh syaitan untuk menjebak manusia.
Salah satu tanda dari tumbuhnya akhlak semu di antara masyarakat adalah tumbuhnya orang-orang yang melupakan ayat-ayat Allah di antara masyarakat manakala ayat-ayat itu datang kepada mereka.
﴾۶۲۱﴿قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS Thaahaa : 126)
Ayat di atas merupakan jawaban yang difirmankan Allah kepada orang-orang yang dahulu termasuk sebagai orang-orang mempunyai bashirah di alam dunia, tetapi kemudian dikumpulkan di hadirat Allah sebagai orang-orang yang buta. Mereka termasuk orang-orang yang membentuk akhlak semu dalam kehidupan mereka, maka kemudian di akhirat mereka kehilangan semua akhlak yang terbentuk. Dalam kasus ini mereka kehilangan bashirah yang telah mereka peroleh dalam kehidupan di dunia.
Akhlak Mulia
Akhlak mulia merupakan akhlak yang tumbuh mengikuti cahaya Allah berupa ayat-ayat Allah yang benar baik ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah. Secara khusus, ayat kitabullah tidak diragukan kebenarannya maka ia menjadi bahan pokok pertumbuhan akhlak mulia, dan tidak ada akhlak mulia yang kokoh tanpa mengikuti cahaya kitabullah Alquran. Tidak jarang manusia tertipu syaitan dengan akhlak yang semu. Tuntunan kitabullah merupakan indikator utama terbentuknya akhlak mulia, dan akhlak semu akan dapat dibedakan dengan akhlak mulia yang benar berdasarkan sikap seseorang dalam mengikuti kitabullah. Seindah apapun akhlak yang tampak dari seseorang, manakala mereka menentang tuntunan kitabullah maka keindahan akhlak mereka itu merupakan akhlak semu yang akan lenyap di hadirat Allah. Mungkin akhlak itu akan menembus beberapa alam, tetapi lenyap di hadirat Allah.
Tanda semunya akhlak seseorang bukan berupa penentangan terhadap tuntunan kitabullah, tetapi manakala mereka melupakan ayat Allah yang disampaikan kepada mereka. Hal ini terkait dengan kepekaan seseorang terhadap kebenaran. Bila ada akhlak mulia yang sebenarnya, seseorang akan merasakan kebenaran ayat Allah yang disampaikan kepada mereka. Manakala seseorang tidak dapat merasakan kebenaran pada ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka, maka sebenarnya tidak ada akhlak mulia dalam diri mereka dalam urusan tersebut. Tidak pekanya seseorang terhadap kebenaran ayat Allah ditunjukkan dengan sikap terlupanya mereka terhadap ayat Allah yang disampaikan. Manakala seseorang menentang tuntunan kitabullah, mereka termasuk golongan yang durhaka kepada Allah.
Terlupa terhadap ayat Allah dalam hal ini tidak ditunjukkan dengan kelupaan seseorang terhadap hafalan. Ayat Allah yang disampaikan menunjuk pada penjelasan yang benar dari kandungan ayat-ayat Allah yang bermanfaat bagi orang yang memperolehnya. Bila hanya redaksi kitabullah yang disampaikan, tidak banyak orang yang dapat memahami kandungan redaksi ayat Alquran kecuali orang-orang yang disucikan karena Allah menentukan demikian. Manakala tidak memahami, seseorang akan sulit untuk mengingatnya hingga mudah terlupa. Ayat Allah yang disampaikan menunjuk pada penjelasan kandungan ayat kitabullah yang disampaikan yang seharusnya tidak dilupakan oleh orang mempunyai akhlak mulia. Bila seseorang kufur terhadap penjelasan itu maka mereka termasuk orang kafir. Manakala seseorang bisa memahami kemudian bersikap abai terhadap kebenaran dalam ayat itu, mereka melupakan ayat Allah yang disampaikan dan kelak mereka itulah orang-orang yang akan dilupakan Allah.
Akhlak mulia tumbuh dari sikap mengikuti ayat Allah. Sebagian umat islam tumbuh akhlaknya dengan mengikuti pertumbuhan indera-indera bathiniah mereka tanpa berusaha memahami ayat-ayat Allah. Sikap demikian tidak tepat dan dapat mendatangkan kesesatan yang lebih jauh daripada kesesatan orang-orang kebanyakan. Ada pula kaum yang mengira akan tumbuh akhlak mereka hanya dengan mengikuti perkataan kaum mereka mengabaikan tuntunan yang benar dari kitabullah yang disampaikan selain dari kaum mereka. Mereka sebenarnya tidak memperhatikan tuntunan kitabullah. Hal demikian juga jalan yang buruk untuk menumbuhkan akhlak. Setiap orang harus berusaha menumbuhkan diri dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan ayat-ayat Allah lainnya yang diperoleh dan dipahami dengan benar, bukan mengandalkan hanya indera-indera bathiniah yang mereka miliki. Indera-indera yang diberikan Allah kepada mereka harus digunakan dengan sebaik-baiknya untuk memahami ayat Allah, tidak justru menggunakan ayat-ayat Allah untuk mendukung indera-indera mereka. Perkataan dari manusia akan membantu seseorang untuk memahami kitabullah bila seseorang memilihnya berdasarkan/mengikuti kitabullah, dan pemahaman terhadap kitabullah itulah yang harus digunakan untuk menumbuhkan akhlak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar