Pencarian

Senin, 05 Agustus 2024

Misykat Cahaya untuk Memahami

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Untuk mengikuti langkah beliau, setiap orang harus berusaha memahami ayat-ayat Allah tidak sekadar menggunakan logika. Hal utama yang harus dibina oleh setiap hamba Allah untuk memahami ayat-ayat Allah adalah pembinaan nafs dan jasmani untuk menjadi suatu misykat cahaya yang membentuk bayangan yang tepat dari cahaya Allah. Sebenarnya setiap manusia diciptakan untuk dapat menjadi suatu misykat yang membentuk bayangan dari cahaya Allah layaknya suatu kamera membentuk bayangan dari objek yang dibidik, yaitu manakala syarat-syarat untuk berfungsinya terpenuhi.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberi berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nuur : 35)

Perumpamaan cahaya Allah tidaklah menunjuk pada suatu kehadiran Allah, tetapi menunjukkan terbentuknya bayangan yang benar tentang kehendak Allah dalam diri hamba-Nya. Seorang manusia tidaklah bisa menjadi wadah dari kehadiran Allah, tetapi ia dapat membentuk suatu bayangan dari cahaya Allah yang diterima. Manusia itu seharusnya membina akhlak dirinya sebagai suatu misykat cahaya layaknya suatu kamera membentuk bayangan dari cahaya yang datang.

Badan jasmaniah manusia merupakan suatu misykat yang tidak tembus cahaya. Misykat ini dapat diibaratkan badan kamera yang berfungsi menahan cahaya-cahaya dan hanya melewatkan sedikit cahaya tertentu yang seharusnya dibentuk bayangannya. Bila suatu misykat tidak ada, lensa dan bagian dalam dari kamera tidak akan dapat membentuk bayangan yang seharusnya. Bayangan itu hanya dapat dibentuk bila lensa hanya menerima cahaya dalam jumlah tertentu yang sangat sedikit melalui lubang cahaya yang tersedia. Jasmani manusia harus dibina untuk mengarahkan wajahnya hanya kepada Allah dan menutup wajah dari keinginan-keinginan yang lain, dengan demikian nafs mereka diharapkan dapat membentuk bayangan cahaya Allah. Bila jasmani manusia menginginkan segala hal, tidak ada sama sekali bayangan yang dapat terbentuk. Bila jasmani manusia mengalami kebocoran cahaya pada beberapa tempat, kebocoran cahaya itu akan menjadi cahaya yang mengganggu terbentuknya bayangan yang seharusnya.

Nafs manusia merupakan bola kaca yang ada di dalam jasmaninya. Nafs dapat diibaratkan lensa yang mengarahkan cahaya-cahaya yang datang hingga membentuk bayangan objek yang dibidik. Untuk dapat membentuk cahaya, lensa perlu dibersihkan hingga mencapai kejernihan yang mencukupi. Demikian pula bentuk dari lensa harus diasah hingga sesuai dengan yang diperlukan. Untuk mencapai syarat-syarat berfungsinya, seseorang harus menempuh proses tazkiyatun-nafs. Tazkiyatun-nafs akan membersihkan nafs seseorang dan melatih membentuk bayangan cahaya kehendak Allah yang harus ditunaikan.

Tazkiyatun-nafs tidak hanya menempuh pembersihan nafs. Tazkiyatun-nafs seharusnya dilakukan untuk dapat memahami cahaya Allah. Cahaya Allah itu adalah ayat-ayat Allah yang terhampar dalam kehidupan manusia. Ayat kauniyah, ayat kitabullah dan ayat dalam dada manusia merupakan cahaya-cahaya yang harus dibentuk bayangannya hingga seseorang mengetahui kehendak Allah bagi dirinya. Tazkiyatun-nafs yang dilakukan tanpa berusaha memahami ayat-ayat Allah dapat diibaratkan orang yang mengolah lahan akan tetapi tidak melakukan penanaman pada lahan itu.

Bayangan cahaya itu dalam tingkatan paling sempurna menjadikan seseorang mengenal rabb-nya. Pengenalan dalam hal ini berbentuk pengenalan amr Allah dalam rububiyah-Nya. Seseorang akan mengenal perintah Allah untuk urusan pemakmuran bumi dalam bentuk yang jelas dan terarah, dan ia akan mengenal rabb-nya dalam bentuk asma-Nya. Ia mengetahui bahwa rabb yang dikenalnya tersebut tidaklah merupakan wajah Allah yang sesungguhnya, hanya bagian asma Allah yang diperkenalkan-Nya. Rasulullah SAW mengenal rabb-nya dalam wujud asma Ar-Rahman, nabi Ibrahim a.s mengenal rabb-nya dalam wujud asma Ar-Rahim dan khalifatullah Al-Mahdi mengenal rabb-nya sebagai asma Malik sebagai nafakh ruh Ar-Rahman. Asma-asma demikian tidaklah merupakan wujud Allah sepenuhnya, tetapi merupakan asma-asma yang diperkenalkan Allah kepada hamba-Nya sesuai keadaan mereka masing-masing.

Pengenalan demikian terjadi karena Allah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-Nya, bukan karena usaha hamba-Nya. Yang dapat diusahakan oleh setiap hamba Allah adalah mengenal kehendak Allah sebagai sarana ibadahnya, maka boleh jadi Allah akan memperkenalkan diri-Nya kepada hamba yang sungguh-sungguh ingin beribadah kepada-Nya. Seorang hamba dapat mengusahakan pengenalan tentang rububiyah Allah terhadap kauniyah dirinya dan kemudian berusaha mengenali jalan ibadahnya melalui pengenalannya terhadap rububiyah-Nya. Adapun pengenalan seseorang terhadap wajah Allah hanya dapat terjadi dalam hubungan searah, hanya manakala Allah berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-Nya.

Pengenalan demikian terjadi manakala seseorang mengenal dirinya. Dikatakan bahwa “siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal rabb-nya”. Pengenalan demikian tidak menunjukkan bahwa seseorang bertemu rabb-nya, tetapi misykat cahaya dirinya tiba-tiba membentuk bayangan dari cahaya rabb-nya. Dalam peristiwa pengenalan diri seseorang, peristiwa yang terjadi kadangkala berupa bertemunya orang tersebut dengan nafs dirinya, dan nafsnya berfungsi sebagai pembimbing penghambaannya kepada Allah, maka ia mengenal rabb-nya. Kadangkala seseorang lebih menghadap kepada rabb-nya hingga tidak menyadari kehadiran nafs-nya tetapi ia tetap mengenal nafs-nya. Adapun pertemuan seorang hamba dengan rabb-Nya dapat dilihat dalam peristiwa mi’rajnya Rasulullah SAW ke ufuk yang tertinggi, bukan pada peristiwa pengenalan diri. Sebelum mi’raj, Rasulullah SAW telah mengenal wajah Allah karena terbentuknya bayangan cahaya Allah dalam diri beliau SAW. Sebagian dari para hamba Allah barangkali akan diberitahu pula jalannya untuk mi’raj hingga dapat bertemu rabb-nya, maka jalan itu harus dilaksanakan.

Membaca Ayat Allah

Mengenal rububiyah Allah harus dilakukan dengan berusaha memahami ayat-ayat Allah dengan akhlak mulia yang berbentuk misykat cahaya sebagaimana telah dijelaskan. Keikhlasan harus terbentuk hingga tingkatan jasmaniah hingga terbentuk jasmani yang semata-mata menghadap kepada Allah tanpa suatu kebocoran menginginkan kemegahan dan hal-hal lain dalam kehidupannya. Kebocoran misykat cahaya itu akan mengganggu terbentuknya bayangan cahaya Allah yang seharusnya. Demikian pula nafs harus dibersihkan dan dibentuk hingga dapat mengarahkan cahaya Allah membentuk bayangannya. Berusaha memahami ayat-ayat Allah dengan benar tidak kalah pentingnya dengan tazkiyatun-nafs, karena tujuan dari tazkiyatun-nafs adalah memahami ayat-ayat Allah.

Di antara keadaan yang sangat ditakutkan oleh setiap syaikh dari para muridnya adalah terbentuknya para murid sebagai orang yang mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami, mempunyai mata tetapi tidak dimanfaatkan untuk melihat dan mempunyai telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar. Setiap syaikh akan sangat menekankan ayat tentang hal ini kepada muridnya, dan ayat ini terkait dengan para murid bukan orang-orang yang tidak membina diri mereka membentuk misykat cahaya. Penggunaan indera secara benar ini terkait dengan ayat-ayat Allah. Manakala para murid diberi indera-indera tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, maka mereka akan tersesat dari jalan Allah lebih sesat dari manusia-manusia yang hanya menginginkan kehidupan dunia.

Dalam prakteknya, seorang syaikh kadangkala mengalami kesulitan manakala ia sendirian. Barangkali ia mengetahui secara terperinci tentang pertumbuhan nafs para muridnya hingga perincian tentang berbagai tingkatan perkembangan qalb. Tetapi dalam realitas tidak semua murid membutuhkan pengetahuan rinci dirinya, tetapi hanya membutuhkan manfaatnya. Sebagian manusia hanya perlu manfaat ilmu itu untuk bisa membentuk bayangan cahaya Allah secara tepat tanpa perlu mengetahui perincian perkembangan. Orang-orang yang jati dirinya dekat dengan syaikh-lah yang mempunyai kebutuhan tinggi terhadap ilmu terinci yang sama. Barangkali relatif lebih mudah bagi syaikh untuk mendidik orang-orang yang jati dirinya dekat dengan dirinya, sedangkan untuk murid dengan urusan lain, seorang syaikh akan terbantu orang lain dalam membacakan ayat Allah bagi murid tersebut.

Masalah demikian barangkali akan membuat syaikh membatasi para murid dalam membaca ayat Allah secara sembarangan, karena boleh jadi hawa nafsu muridnya akan tumbuh subur ketika bersentuhan dengan dunianya. Bukan bersentuhan dengan dunia itu yang dicegah, tetapi pertumbuhan hawa nafsu yang akan terjadi mungkin secara liar. Dalam kasus demikian, seorang syaikh akan sangat ketat mensyaratkan para murid untuk memahami ayat-ayat kitabullah sebagai induk pemahaman yang menjadi pondasi agama sebelum bersentuhan dengan ayat kauniyah dunia mereka. Manakala ayat kitabullah belum dipahami, sang syaikh boleh jadi belum akan membiarkan para murid bersentuhan dengan dunianya.

Sikap berbeda boleh jadi muncul manakala ada sahabat yang diberi pengetahuan ayat Allah. Barangkali sang syaikh akan bersikap lebih leluasa terhadap para murid untuk membaca ayat Allah mengikuti shahabatnya, selama shabahatnya ikut menjaga pertumbuhan akal para murid. Cara itu akan memudahkan sang syaikh dalam menanamkan pemahaman para murid terhadap ayat-ayat Allah secara aman tanpa membiarkan hawa nafsu para murid tumbuh liar. Para shahabat demikian juga akan bersikap sama dengan syaikh yaitu mengajarkan orang-orang untuk membaca ayat Allah yang diketahuinya dengan tujuan agar orang lain juga kembali kepada Allah.

Sebenarnya membaca sendiri ayat kitabullah bagi setiap orang tidak akan membahayakan, tetapi seringkali ayat kitabullah tidak benar-benar tersentuh oleh seseorang karena belum disucikan, karenanya mengikuti pembacaan orang yang memahami akan sangat membantu menumbuhkan pemahaman terhadap ayat Allah. Kadangkala kebodohan hawa nafsu seseorang ketika membaca dapat membahayakan, karenanya hendaknya setiap orang membicarakan pemahamannya terhadap ayat Allah dengan syaikhnya.  Manakala ada orang yang dapat membaca kitabullah, hendaknya manusia mempelajari ayat-ayat Allah dari mereka agar tumbuh kemampuan membentuk pemahaman yang tepat terhadap kehendak Allah.

Keadaan apapun yang tersedia bagi seseorang untuk memahami ayat Allah, ia harus menyadari bahwa kitabullah harus menjadi penuntun yang tidak pernah salah. Seorang syaikh mungkin akan memotong pemahaman seorang mruidnya walaupun benar bukan karena pemahamannya, tetapi karena adanya kesalahan dalam penghayatan pemahaman itu. Manakala seseorang tidak menemukan kesalahan dalam penghayatannya terhadap ayat Allah, ia harus mengikuti kitabullah tidak mengikuti sang syaikh. Tidak jarang sang syaikh memotong pemahaman muridnya hanya karena benar-benar jelas kesalahannya tanpa perlu ditelisik masalahnya. Manakala suatu pemahaman jelas bertentangan dengan ayat kitabullah, maka pemahaman demikian pasti merupakan pemahaman yang salah tanpa perlu dicari-cari dan ditinjau titik kesalahannya. Pembicaraan dalam upaya pembenaran demikian hanya akan menjadi perbantahan, karena tidak akan ada lagi setelahnya landasan untuk menemukan kebenaran. Manakala telah jelas petunjuk dari kitabullah, sikap setiap pihak yang pantas hanyalah mengikuti perkataan yang sesuai dengan kitabullah, tidak mencari-cari pertimbangan dengan hal yang lain. Taghut dan syaitan qarin akan muncul bagi manusia manakala berbantah dengan cara demikian.

Ayat Allah sebagai Tuntunan

Jelasnya suatu ayat Allah hendaknya dijadikan tuntunan bagi setiap manusia. Kejelasan ayat ditunjukkan dengan kesatuan pemahaman ayat kitabullah dengan ayat kauniyah. Orang-orang tertentu mempunyai kejelasan lebih karena adanya ayat dalam dadanya. Tuntunan ayat itu berlaku bagi setiap orang, tidak hanya bagi orang yang mempunyai penjelasan ayat dalam dadanya. Manakala seseorang bisa memahami dengan logikanya saja kesatuan ayat kitabullah dan ayat kauniyah, hendaknya mereka segera mengikutinya. Bila mereka melupakannya, kelak di akhirat Allah juga akan melupakannya.

﴾۶۲۱﴿قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS Thaahaa : 126)

Nilai diri seseorang di mata Allah tergantung pada ketakwaannya dalam mengikuti kebenaran terutama tuntunan kitabullah. Nilai tersebut tidak dapat digantikan dengan harta, amal-amal atau hal lain, sekalipun mungkin bisa saja membuat tampak mulia di hadapan manusia. Manakala seseorang memandang rendah tuntunan dari kitabullah serta ayat Allah yang lain, maka Allah akan memandang rendah dirinya. Manakala manusia melupakan ayat-ayat Allah yang telah sampai kepada dirinya, maka kelak Allah akan melupakan diri mereka sebagaimana mereka melupakan ayat tersebut. Sekalipun seseorang memandang diri mereka terhormat di sisi Allah, bila mereka melupakan ayat Allah maka kelak Allah akan melupakannya tidak memandangnya. Penghormatan seseorang terhadap orang lain tanpa adanya landasan kesesuaian dengan kitabullah hanya merupakan penghormatan semu yang mudah hilang. Demikian pula ketaatan manusia kepada orang lain tanpa landasan kesesuaian dengan kitabullah hanya merupakan ketaatan semu yang mudah hilang. Nilai seseorang di mata Allah tergantung pada ketaatan mereka kepada ayat Allah.

Kekeliruan cara pandang seringkali terjadi di kalangan orang-orang yang mempunyai qalb, mata hati dan pendengaran tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Kadangkala kaum demikian memandang bahwa kebenaran adalah apa-apa yang mereka pandang benar. Tidak jarang mereka menentukan kebenaran berdasarkan daya pencerapan mereka sendiri tanpa berpegang pada kitabullah. Kebenaran tetaplah terletak pada ayat-ayat Allah bukan kemampuan mereka mencerap. Manakala yang dicerap bertentangan dengan ayat Allah, maka pemahaman mereka keliru. Setiap orang harus berusaha membina suatu pemahaman yang menyatukan antara ayat-ayat kauniyah dengan ayat kitabullah, tidak mengandalkan indera yang diberikan kepada diri mereka.

Setiap orang harus berusaha mengenali kebenaran, maka ia akan mengenali orang-orang yang mengikuti kebenaran. Kebenaran mempunyai landasan ayat kitabullah, tidak dapat disandarkan pada manusia. Kadang manusia menghakimi kebenaran orang lain berdasarkan perkataan seseorang, maka hal demikian samasekali tidak dapat dibenarkan. Penilaian seseorang tentang benar atau salahnya orang lain hanya dapat dilakukan dengan landasan pengetahuannya tentang kebenaran, tidak dapat dilakukan hanya dengan mengikuti perkataan orang lain. Dalam kasus tertentu, boleh saja manusia menghakimi orang lain dengan pengetahuan kebenaran, tetapi tidak benar bila dilakukan hanya mengikuti perkataan orang lain. Suatu amar ma’ruf nahy munkar hanya dapat dilakukan oleh seseorang atas dasar pengetahuan kebenaran, tidak boleh karena hanya mengikuti perkataan seseorang. Suatu kaum yang menghakimi seseorang di antara mereka berdasarkan perkataan seseorang di antara mereka akan menjadi orang-orang bodoh tidak mengenal kebenaran. Sekalipun semua orang pada suatu kaum menganggap salah seseorang yang berbuat atas landasan kitabullah, maka kaum tersebut-lah yang telah berbuat salah. Ketika terkait kebenaran suatu ayat Allah, mereka boleh jadi merupakan kaum yang melupakan ayat-ayat Allah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar