Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW di antaranya adalah berusaha melaksanakan dzikir kepada Allah. Dzikir menunjuk pada usaha membentuk dan mengartikulasikan pemahaman terhadap kehendak Allah hingga terlihat pada wujud-wujud dzahir. Manakala seseorang menyebutkan asma Allah, ia telah berdzikir. Manakala ia berusaha memahami kitabullah, ia juga berdzikir. Dzikir mempunyai tingkatan-tingkatan kualitas. Kualitas tertinggi suatu dzikir kepada Allah adalah terbentuknya bayt seseorang untuk mengartikulasikan pemahaman terhadap kehendak Allah, yaitu meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.
Dzikir merupakan penyempurna ibadah. Ibadah kepada Allah tidaklah sempurna dengan semata-mata melakukan ibadah dalam bentuk-bentuk transenden. Kesempurnaan ibadah dari para hamba Allah harus disempurnakan dengan mengartikulasikan pemahaman terhadap kehendak Allah hingga terwujud di alam dzahir. Hal itu akan menyempurnakan manusia sebagai makhluk pemakmur bumi.
﴾۴۱﴿إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Sesungguhnya Aku ini adalah Aku, Allah, tidak ada ilah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk berdzikir kepada Aku. (QS Thaahaa : 14)
Allah memerintahkan kepada nabi Musa a.s untuk menegakkan shalat sebagai media untuk melakukan dzikir kepada Allah. Perintah ini merupakan perintah penyempurnaan bentuk ibadah, bahwa manakala seorang manusia telah diberi sarana untuk terhubung kepada Allah maka hendaknya mereka mewujudkan kehendak Allah di alam bumi dengan dzikir. Hubungan seorang hamba kepada Allah tidak boleh berhenti pada terbentuknya hubungan personal saja, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk kecintaan terhadap makhluk lain.
Perintah tersebut terjadi pada saat nabi Musa a.s berada di lembah kudus Thuwa. Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa a.s sebagai ilah dalam wujud pohon berapi sebagai wujud tajalli Allah yang diperkenalkan kepada Musa a.s. Pohon berapi tersebut memperkenalkan dirinya kepada Musa dengan redaksi : “sesungguhnya Aku ini adalah Aku, Allah”. Redaksi itu menunjukkan adanya lapisan-lapisan penurunan pengenalan ilahiyah hingga wujud yang sanggup dikenal oleh nabi Musa a.s. “Aku ini adalah Aku” menunjukkan dua entitas “Aku” yang sebenarnya ada perbedaan. “Aku” yang pertama menunjuk pada entitas yang dapat dikenal nabi Musa a.s, dan “Aku” yang kedua menunjuk pada entitas yang tersembunyi. Allah merupakan entitas yang ada di balik semua “Aku” tersebut. Bentuk redaksi tersebut mengungkapkan adanya penurunan bentuk-bentuk tajalli Allah. Nabi Musa a.s mengenal Allah dalam bentuk tajalli penurunan yang sesuai dengan keadaan nabi Musa a.s. Dengan pengenalan terhadap tajali demikian, telah cukuplah bagi nabi Musa a.s pengenalan terhadap Allah, maka hendaknya ia beribadah kepada Allah dalam bentuk penghambaan terhadap tajalli Allah bagi dirinya tersebut.
Jalan ibadah tersebut merupakan adab yang harus dipenuhi oleh setiap hamba Allah. Iblis laknatullah dahulu merasa senang menghambakan diri kepada Allah melalui tajalliat Allah yang diketahuinya, dan selalu merindukan untuk kembali menghambakan diri kepada-Nya selama tidak diperintahkan untuk bersujud kepada Adam. Akan tetapi iblis berubah sikap manakala mengetahui bahwa ilah yang dahulu dikenalnya merupakan bentuk tajalli Allah bagi manusia, dan ia ingin menghambakan diri kepada Dia (Allah) yang tidak terbatas dan tidak akan mampu dikenal makhluk, meskipun masih merindukan tajalli Allah yang telah diketahuinya. Itu merupakan adab yang buruk kepada Allah, karena Allah telah menurunkan berbagai wujud tajalli agar makhluk dapat mengenal Allah sesuai dengan keadaan masing-masing. Setiap makhluk tidak boleh mengarahkan pandangannya melampaui apa yang diperkenalkan Allah kepada dirinya, dan tidak pula berpaling darinya. Setiap makhluk hendaknya menghambakan diri kepada Allah dengan yang telah ditentukan bagi dirinya masing-masing.
Bagi Iblis, jalan ibadah yang ditentukan adalah bersujud kepada khalifatullah, tetapi ia tidak ingin menempati tempat yang ditentukan tersebut. Demikian pula para malaikat muqarrabun harus menempati kedudukan yang ditentukan. Kedekatan para malaikat kepada Allah sebenarnya mempunyai jarak-jarak yang harus disambungkan, dan washilah bagi mereka adalah melalui khalifatullah dari kalangan manusia. Rasulullah SAW yang berkedudukan lebih dekat kepada Allah merupakan washilah bagi khalifatullah. Demikian bagi setiap makhluk mempunyai kedudukan tertentu yang harus ditepati agar terhubung kepada Allah. Bagi manusia, ada bentuk-bentuk asma Allah yang hendak diperkenalkan kepada dirinya secara langsung, mengajarkan jalan ibadah yang harus dilaksanakan, dan dengan melaksanakan dzikirnya mereka dapat melakukan pemakmuran. Walaupun demikian, tetap saja manusia saling terhubung melalui washilah-washilah dalam suatu al-jamaah tidak terhubung kepada Allah sendirian. Hal demikian hendaknya dipahami manusia dan tidak mengharapkan suatu rahmat sendirian atau secara eksklusif tanpa suatu washilah di antara al-jamaah.
Ibadah seseorang dalam bentuk dzikirnya terkait secara langsung dengan bentuk hubungannya dengan rabb yang dikenalnya. Apa yang diperintahkan oleh rabb-nya harus ditunaikan di alam dunianya, maka ia dapat berdzikir kepada Allah dengan perintah-Nya. Shalat merupakan sarana bagi orang-orang yang mengenal rabb-nya untuk mengetahui perintah Allah. Shalat dan dzikir merupakan penyempurnaan bentuk ibadah yang ditentukan bagi hamba-Nya. Tanpa suatu shalat, seseorang tidak dapat mengenal perintah Allah untuk berdzikir. Tidaklah sempurna agama seseorang tanpa suatu dzikir berdasar perintah dari rabb yang dikenal.
Mengikuti Pembaca Ayat Allah
Untuk mengenal bentuk dzikir yang khusus bagi diri, setiap orang harus mencari kebenaran berdasarkan ayat-ayat Allah. Mengenal rububiyah Allah harus dilakukan dengan berusaha memahami ayat-ayat Allah dengan akhlak mulia. Keikhlasan harus terbentuk hingga tingkatan jasmaniah hingga terbentuk jasmani yang semata-mata menghadap kepada Allah tanpa suatu kebocoran menginginkan kemegahan dan hal-hal lain dalam kehidupannya. Kebocoran misykat cahaya itu akan mengganggu terbentuknya bayangan cahaya Allah yang seharusnya. Demikian pula nafs harus dibersihkan dan dibentuk hingga dapat mengarahkan cahaya Allah membentuk bayangannya. Berusaha memahami ayat-ayat Allah dengan benar tidak kalah pentingnya dengan tazkiyatun-nafs, karena tujuan dari tazkiyatun-nafs adalah memahami ayat-ayat Allah.
Dzikir tidak dapat dilakukan tanpa memperhatikan ayat-ayat Allah. Sebagian hamba Allah berusaha beramal shalih dengan amal-amal yang mereka pandang baik tanpa memperhatikan ayat-ayat Allah atau bahkan meremehkan ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka. Amal-amal demikian tidak mendatangkan kemakmuran yang sebenarnya karena tidak terhubung dengan kehendak Allah. Manakala tidak terhubung, amal-amal yang tampak baik itu sebenarnya tidak menghasilkan kebaikan bagi umat. Umat akan terjaring dalam suatu lingkupan sistem yang menjebak umat dalam madlarat.
Setiap orang harus berusaha melahirkan amal shalih berdasar suatu penjelasan dari ayat-ayat Allah. Manakala tidak berusaha menemukan suatu landasan berupa pemahaman berdasar ayat Allah maka keshalihan itu hanya prasangka. Setiap amal yang bermanfaat bagi orang lain hendaknya diniatkan untuk mengikuti tuntunan Allah, setidaknya dilakukan dengan mengingat perintah Allah maka amal itu menjadi amal shalih. Bila mengabaikan tuntunan Allah yang disampaikan atau mengunggulkan diri dengan amalnya, boleh jadi mereka adalah orang-orang yang melupakan ayat-ayat Allah.
﴾۶۲۱﴿قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS Thaahaa : 126)
Kehidupan dunia pada dasarnya menyerupai sebuah labirin yang berlapis-lapis. Setiap manusia harus keluar dari labirin tersebut, dan jalan keluar labirin itu hanyalah tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Ada banyak hal yang memanjangkan jalan keluar itu tetapi tidak ada jaminan bahwa perpanjangan-perpanjangan itu benar. Penuntun selain kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW mungkin dapat membantu manusia keluar dari suatu sekat menuju sekat lain yang mungkin lebih luas, tetapi tidak keluar dari labirin. Seorang penuntun terbaik akan menunjukkan manusia pada penjelasan kitabullah Alquran yang membuat mereka melihat jalan keluar dari labirin. Manakala seseorang memahami kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan pemahaman yang benar, mereka akan dapat melihat jalan keluar dari labirin itu setidaknya untuk dirinya sendiri.
Penuntun selain kitabullah mungkin akan membantu seseorang untuk melangkah keluar dari suatu sekat labirin pada sekat labirin lain hingga mendekati jalan keluar. Dekatnya pada jalan keluar terletak pada jarak pemahaman dirinya terhadap kitabullah, bukan pada kesertaan dirinya kepada penuntun tersebut, dan jalan keluar itu adalah pemahaman terhadap kitabullah. Kadangkala suatu kaum bersikap salah dalam mengikuti orang lain dengan mengabaikan kitabullah, bahkan kadangkala hingga mempertuhankan orang lain dengan ikut menghalalkan apa yang diharamkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan. Hal tersebut merupakan sikap yang salah, yang sebenarnya mereka hanya mengikuti orang yang tidak melihat jalan. Seringkali langkah yang harus mereka tempuh untuk menemukan jalan keluar akan semakin berbelit-belit sekalipun tampak semakin lapang.
Umat manusia hendaknya memperhatikan seruan orang yang membacakan ayat-ayat Allah, karena ada cahaya yang menunjukkan jalan keluar labirin kehidupan pada bacaan mereka. Manakala pembaca itu ditinggalkan, mereka sebenarnya telah melupakan ayat-ayat Allah. Perbuatan meninggalkan ayat Allah akan membuat kerusakan. Manakala amal yang berdasar dari kitabullah diabaikan untuk melaksanakan amal-amal yang disangka baik, mereka telah melupakan ayat-ayat Allah. Ditinggalkannya amal-amal berdasar tuntunan kitabullah akan menghilangkan kebaikan yang seharusnya diperoleh umat melalui amal mereka mengikuti kitabullah, dan bukan tidak mungkin ditinggalkannya amal shalih mendatangkan kerusakan yang besar. Hal demikian tidak jarang disertai dengan terjadinya amal-amal yang mendatangkan madlarat yang besar, hingga kerusakan yang terjadi semakin besar sedangkan umat memandang baik apa-apa yang mereka lakukan.
Keadaan umat bisa menjadi cermin tentang perhatian mereka terhadap ayat-ayat Allah. Manakala suatu kaum hidup dalam kehidupan yang sulit, mereka barangkali tidak memperhatikan ayat-ayat Allah hingga mereka tidak mengetahui jalan keluar dari kesulitan mereka. Manakala ada orang-orang di antara mereka yang mengetahui tuntunan kitabullah, maka kehidupan mereka akan berubah. Umat yang mengikuti ayat-ayat Allah akan memperoleh kehidupan menuju kebaikan, sedangkan umat yang melupakan ayat-ayat Allah akan berada dalam kehidupan yang semakin buruk. Memburuknya kehidupan mereka disebabkan upaya syaitan untuk menghalangi manusia memperhatikan ayat-ayat Allah.
Perubahan demikian seringkali terjadi secara cepat tetapi tidak disadari oleh kebanyakan manusia hingga mereka terlambat menyadari kerusakan yang terjadi. Bagi kebanyakan orang, keburukan kehidupan mereka tampak datang secara tiba-tiba padahal sebenarnya mereka telah mengarah pada kehidupan yang buruk jauh sebelum keburukan itu tampak. Orang yang mengetahui ayat Allah akan mengetahui lebih awal kerusakan yang akan terjadi berdasar ayat-ayat Allah. Keburukan orang-orang yang jahat akan menjadikan madlarat itu tidak tampak jelas, sedangkan kunci yang membobol ada pada orang-orang yang tertipu oleh syaitan. Pengetahuan demikian seringkali tidak dapat dipahami oleh masyarakat umum.
Perbaikan dari kerusakan demikian hanya dapat dilakukan dengan melakukan amal-amal shalih berdasarkan ayat-ayat Allah. Setiap orang hendaknya berusaha memperoleh dan memahami landasan amalnya dari kitabullah dan melakukan amal itu hingga tepat sasaran sebagaimana firman Allah. Seringkali upaya demikian dibuat kabur dengan amal-amal yang dilakukan seolah-olah mengikuti tuntunan kitabullah tanpa benar-benar memahami tuntunan kitabullah. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dalam urusan mengikuti kitabullah, memastikan bahwa dirinya telah berusaha sungguh-sungguh untuk mengikuti kitabullah.
Seorangpun tidak boleh menyangka telah mengikuti kitabullah dengan mengikuti orang lain yang mereka sangka mengikuti kitabullah, sedangkan ia tidak membaca kitabullah. Menyangka orang lain telah mengikuti kitabullah dan ia mengikuti orang itu tidaklah terlarang, akan tetapi hendaknya ia memahami secara tepat ayat kitabullah yang diikuti itu tidak bertaklid mengikuti orang lain. Apa yang menjadi keshalihan diri mereka adalah apa yang mereka ketahui dari kitabullah, bukan pada ittiba’ terhadap seseorang. Kadangkala apa yang disangka seseorang sebagai ittiba’ sebenarnya merupakan taklid yang menjerumuskan manakala seseorang tidak berusaha memahami ayat Allah dari apa yang diikutinya.
Melupakan ayat Allah terjadi manakala suatu bacaan yang benar telah sampai kepada umat atau seseorang, kemudian mereka lebih memilih mengikuti langkah berdasar prasangka kebaikan yang tidak benar-benar berlandaskan kitabullah. Hal ini berlaku atas orang yang ingin mengikuti tuntunan Allah. Orang kafir tidak dalam kategori melupakan ayat Allah karena mereka kafir. Bacaan yang benar itu merupakan pembacaan yang menyatukan pemahaman terhadap ayat kitabullah, ayat kauniyah dan ayat dalam dada orang beriman. Kesatuan pemahaman demikian lebih utama daripada pemahaman dalam bentuk lain, tidak boleh diabaikan dengan pemahaman parsial. Kadangkala ada orang membantah suatu pemahaman integral dengan bacaan ayat kitabullah saja, atau bacaan ayat kauniyah saja. Mungkin pula ada orang membantahnya dengan ayat-ayat atau petunjuk yang dalam dada saja tanpa terkait dengan ayat kauniyah dan ayat kitabullah. Bantahan-bantahan demikian tidak boleh dilakukan. Seseorang yang tertuntun akan mempunyai pemahaman yang mengintegrasikan pemahaman ayat kitabullah, ayat kauniyah dan ayat dalam dada mereka sendiri secara sinergis.
Ketaatan seseorang terhadap kitabullah berdasar iktikad baik tidak membuat manusia berselisih. Perselisihan seringkali terjadi di antara orang-orang manakala mereka diberi pengetahuan kitabullah. Perselisihan itu seharusnya tidak terjadi bila setiap pihak berkeinginan baik dengan mengikuti kitabullah, dan setiap pihak tidak terjebak dalam pikiran sempitnya. Beberapa perselisihan terjadi karena pembengkokan-pembengkokan yang dilakukan terhadap kitab selain Alquran. Tidak jarang ilmu-ilmu itu membangkitkan hawa nafsu dari beberapa pihak, baik pihak yang memperolehnya ataupun pihak yang mendengar, maka timbul perselisihan. Perselisihan mungkin pula terjadi karena keharusan amar ma’ruf nahy munkar yang dilakukan tidak diterima oleh pihak lain. Perselisihan-perselisihan karena ilmu yang diturunkan dari kitabullah sebenarnya akan membongkar berbagai permasalahan yang harus diperbaiki di antara umat. Perbaikan itu tidak boleh dilakukan terhadap tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar