Pencarian

Kamis, 01 Agustus 2024

Dzikir dan Tazkiyatun-Nafs

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Untuk berjalan mendekat kepada Allah dan membina kemuliaan akhlak, setiap orang harus mengikuti petunjuk. Kemuliaan akhlak manusia akan selaras dengan petunjuk yang diikutinya. Allah menurunkan petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki, maka barangsiapa mengikuti petunjuk ia akan didekatkan kepada Allah tanpa tersesat dan tidak celaka.

﴾۳۲۱﴿فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
(123) Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara (QS Thaahaa : 123-124)

Petunjuk Allah adalah petunjuk yang menjadikan seseorang memahami kehendak Allah. Ada banyak jenis petunjuk baik yang benar ataupun yang salah. Allah memberikan petunjuk kepada para hamba Allah dalam berbagai tingkat. Ada keping-keping petunjuk Allah yang dituliskan di alam bumi. Ada keping-keping petunjuk yang diberikan kepada hamba melalui suatu perintah kepada langit untuk menurunkan pengetahuan. Ada petunjuk berupa kitabullah yang selalu menjadi petunjuk bagi orang yang mengharapkannya. Keping-keping petunjuk demikian seringkali disebut Ayat. Petunjuk Allah adalah bentuk petunjuk yang menjadikan manusia memahami kehendak Allah dengan benar. Seringkali petunjuk Allah terbentuk melalui penyatuan berbagai bentuk petunjuk-petunjuk, tanpa menafikan bahwa ada banyak petunjuk Allah yang tiba-tiba diturunkan. Yang pasti, dengan petunjuk Allah seseorang akan mengetahui kehendak Allah yang harus ditunaikan.

Akhlak al-karimah harus dibentuk setiap orang hingga dapat memahami kehendak Allah. Pemahaman demikian harus dibentuk dengan memahami kebenaran ayat-ayat Allah. Ayat Allah adalah keping-keping kebenaran yang akan mengantarkan seseorang memahami kehendak Allah. Bagi manusia umumnya, suatu ayat Allah mungkin tidak tampak menyatu dengan ayat yang lain tetapi tetap mempunyai nilai kebenaran. Ayat Allah dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, berupa ayat kitabullah, ayat kauniyah dan ayat dalam dada orang beriman. Penyatuan pemahaman ayat-ayat tersebut akan memunculkan petunjuk Allah.

Tazkiyatun-Nafs

Pemahaman terhadap ayat Allah tidak dapat dilakukan dengan membangun logika berpikir saja. Logika berpikir merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam upaya memahami ayat-ayat Allah. Setiap orang harus menggunakan pikirannya untuk dapat memahami kebenaran dari apa-apa yang disampaikan kepada dirinya terutama dari orang-orang yang mengajak mereka untuk kembali kepada Allah. Akan tetapi setiap hamba Allah harus waspada bahwa ada beberapa logika berpikir yang sebenarnya dibuat untuk menyesatkan cara berpikir. Logika berpikir demikian akan mudah diikuti oleh orang-orang yang menginginkan kepandaian, tetapi akan ditolak oleh orang-orang yang menginginkan kebaikan baik secara jelas ataupun sekadar tidak dapat menerima logika berpikirnya. Bila seseorang berpegang dengan kitabullah secara sungguh-sungguh, logika demikian akan mudah dikenali.

Tidak sekadar menggunakan logika, hal yang lebih penting dibina oleh setiap hamba Allah untuk memahami ayat-ayat Allah adalah pembinaan nafs dan jasmani untuk menjadi suatu misykat cahaya yang membentuk bayangan yang tepat dari cahaya Allah. Sebenarnya setiap manusia diciptakan untuk dapat menjadi suatu misykat yang membentuk bayangan dari cahaya Allah layaknya suatu kamera membentuk bayangan dari objek yang dibidik, yaitu manakala syarat-syarat untuk berfungsinya terpenuhi.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberi berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nuur : 35)

Perumpamaan cahaya Allah tidaklah menunjuk pada suatu kehadiran Allah, tetapi hanya menunjukkan terbentuknya bayangan kehendak Allah dalam diri hamba-Nya yang benar. Seorang manusia tidaklah bisa menjadi wadah dari kehadiran Allah sama sekali, tetapi ia dapat membentuk suatu bayangan dari cahaya Allah yang diterima. Manusia itu seharusnya membina akhlak dirinya sebagai suatu misykat cahaya layaknya suatu kamera membentuk bayangan dari cahaya yang datang.

Badan jasmaniah manusia merupakan suatu misykat yang tidak tembus cahaya. Misykat ini dapat diibaratkan badan kamera yang berfungsi menahan cahaya dan hanya melewatkan sedikit cahaya tertentu yang seharusnya dibentuk bayangannya. Bila suatu misykat tidak ada, lensa dan bagian dalam dari kamera tidak akan dapat membentuk bayangan yang seharusnya. Bayangan itu hanya dapat dibentuk bila lensa hanya menerima cahaya dalam jumlah tertentu yang sangat sedikit melalui lubang cahaya yang tersedia. Jasmani manusia harus dibina untuk mengarahkan wajahnya hanya kepada Allah dan menutup wajah dari keinginan-keinginan yang lain, dengan demikian nafs mereka diharapkan dapat membentuk bayangan cahaya Allah. Bila jasmani manusia menginginkan semua hal, tidak ada bayangan sama sekali yang dapat terbentuk. Bila jasmani manusia mengalami kebocoran cahaya pada beberapa tempat, kebocoran cahaya itu akan menjadi bayangan yang mengganggu bayangan yang seharusnya.

Nafs manusia merupakan bola kaca yang ada di dalam jasmaninya. Nafs dapat diibaratkan sebagai lensa yang mengarahkan cahaya-cahaya yang datang hingga membentuk bayangan objek yang dibidik. Untuk dapat membentuk cahaya, lensa perlu dibersihkan hingga mencapai kejernihan yang mencukupi. Demikian pula bentuk dari lensa harus diasah hingga sesuai dengan yang diperlukan. Untuk mencapai syarat-syarat berfungsinya, seseorang harus menempuh proses tazkiyatun-nafs. Tazkiyatun-nafs akan membersihkan nafs seseorang dan melatih membentuk bayangan cahaya kehendak Allah yang harus ditunaikan.

Tazkiyatun-nafs tidak hanya menempuh pembersihan nafs. Tazkiyatun-nafs seharusnya dilakukan untuk memahami cahaya Allah. Cahaya Allah itu adalah ayat-ayat Allah yang terhampar dalam kehidupan manusia. Ayat kauniyah, ayat kitabullah dan ayat dalam dada manusia merupakan cahaya-cahaya yang harus dibentuk bayangannya hingga seseorang mengetahui kehendak Allah bagi dirinya. Tazkiyatun-nafs yang dilakukan tanpa berusaha memahami ayat-ayat Allah dapat diibaratkan orang yang mengolah lahan akan tetapi tidak melakukan penanaman pada lahan itu.

Membaca Ayat-Ayat Allah

Membaca ayat Allah tidak hanya diajarkan melalui tazkiyatun-nafs, tetapi ada sarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat membaca kitabullah dengan benar berupa kesucian nafs. Setiap orang harus melakukan tazkiyatun-nafs untuk dapat membaca kitabullah dengan benar. Di sisi lain, banyak orang-orang yang disucikan dan diberi kemampuan menyentuh makna kitabullah tetapi amanah yang harus diemban bukan sebagai pembimbing tazkiyatun-nafs. Keberjamaahan akan membantu seseorang dalam membaca kitabullah, tetapi bila tidak melakukan tazkiyatun-nafs, pada dasarnya kitabullah tidak akan dapat disentuh. Sebenarnya umat manusia juga bisa membaca kitabullah melalui orang-orang yang mampu menyentuh kitabullah sebagai upaya menanam tanaman di ladang yang telah diolah. Bila tidak berusaha memahami ayat-ayat Allah, tazkiyatun-nafs akan tampak seperti mengolah ladang tanpa menaburkan benih tanaman. Setiap orang hendaknya memperhatikan ayat-ayat Allah agar terbentuk suatu petunjuk Allah bagi dirinya dan kemudian ia bertindak sesuai dengan petunjuk.

Ayat Allah yang paling utama adalah ayat kitabullah karena ayat kitabullah merupakan ayat yang menunjukkan kebenaran tertinggi dan tidak mungkin keliru. Tidak boleh ayat kitabullah didustakan atau dinihilkan kebenarannya. Kadangkala suatu kaum menuding bahwa seseorang yang melakukan suatu pembacaan yang benar tentang ayat kitabullah sebagai orang yang merasa benar sendiri sedangkan pikirannya salah. Tudingan demikian harus didukung bukti yang menunjukkan kesalahannya. Sekalipun misalnya dari hasil tes psikologi menunjukkan seseorang mengalami kegilaan, bila yang dikatakannya sesuai dengan kitabullah maka potongan perkataannya yang sesuai dengan kitabullah merupakan kebenaran dalam tingkat tertentu, sedangkan bagian lainnya yang merupakan kegilaan harus disingkirkan. Bila seseorang menyampaikan perkataan yang sebagian benar sesuai kitabullah dan bagian lainnya keliru, maka apa yang sesuai kitabullah harus diambil dan bagian keliru diabaikan. Bila seseorang mengatakan perkataannya hanya berdasar kitabullah, tidak ada yang harus disingkirkan dari perkataannya dan justru perkataan itu harus diikuti tidak dihakimi sebagai penyakit mental. Keterbatasan akal setiap orang harus diperluas dengan kitabullah, tidak justru menyalahkan orang yang menunjukkan makna kitabullah. Perkataan psikolog ataupun hasil tes psikologi sekalipun hendaknya tidak menghalangi seseorang untuk dapat memahami penjelasan kitabullah yang benar, tanpa mengurangi kewaspadaan terhadap adanya upaya syaitan untuk melakukan pembalikan-pembalikan akal dengan kepingan-kepingan kebenaran.

Pengetahuan kitabullah yang dibukakan bagi seseorang kadangkala terlihat baru bahwa kebanyakan manusia tidak mengetahui penjelasan ayat itu sebelumnya. Seringkali mereka yang menerimanya benar-benar mengharapkan bantuan orang lain untuk menunjukkkan kesalahan yang mungkin terjadi pada dirinya, tetapi sekaligus juga tidak bisa mendustakan kebenaran yang terbuka. Dalam kasus demikian, orang lain yang membantu menyampaikan kesalahan harus melakukannya dengan jelas berdasarkan tuntunan Allah, bukan sekadar menyalahkan tanpa mengetahui kesalahannya. Secara gejala, fenomena demikian akan tampak mirip dengan orang yang memandang indah perkataan mereka sendiri, tetapi sebenarnya sangat berbeda. Orang yang menerima pengetahuan itu hanya ingin berpegang dan menyampaikan kebenaran berdasar kitabullah, bukan orang-orang yang hanya merasa benar tanpa mau menyadari kesalahannya. Perbedaan gejalanya akan tampak bila disampaikan adanya suatu kesalahan yang jelas. Orang yang memandang indah perkataan sendiri tidak akan dapat melihat kesalahannya sekalipun disampaikan jelas berdasarkan kitabullah, sedangkan orang yang memperoleh ilmu dari kitabullah akan bisa melihat kesalahannya.

Orang yang berpengetahuan demikian bukan orang bodoh yang mau menempuh jalan menyimpang atau sesat karena ilmu mereka tanpa mau memperhatikan perkataan atau peringatan orang lain. Mereka bukan orang-orang yang merasa bebas dari kesalahan. Kadangkala mereka mengetahui mungkin ada suatu kesalahan dalam langkah dan perbuatannya tetapi tidak memperoleh jalan untuk memperbaiki kesalahannya. Kadangkala mereka ragu-ragu terhadap kebenaran dari langkah yang dilakukannya tetapi keadaan terus mendorong untuk melangkah secara salah. Mereka mengetahui demikian dalam tingkatan pikiran atau rasa mereka, tetapi tidak dapat memperbaiki pikirannya atau perbuatannya karena keadaan. Dalam hal-hal demikian mereka merasa sangat perlu dibantu. Tetapi bila bantuan itu kemudian mengganggu kebenaran yang telah kokoh mereka pahami, mereka tidak akan menerima bantuan itu.

Pengetahuan kebenaran dari kitabullah tidak bisa dibatasi oleh batasan pengetahuan suatu kaum. Semua panduan kebenaran telah diturunkan melalui kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW tidak ada yang keluar dari selain keduanya, tetapi pengetahuan kitabullah yang mengalir kepada manusia tidaklah berhenti pada jaman diturunkannya kitabullah Alquran kepada Rasulullah SAW. Sangat banyak pengetahuan baru yang mungkin terbuka kepada setiap manusia di setiap jaman melalui kitabullah Alquran. Sebenarnya Alquran merupakan kitab yang menjelaskan, bisa menjelaskan berbicara kepada orang-orang yang menginginkan penjelasan dan memenuhi keadaan yang ditentukan Allah.

Sebagian golongan tidak mengakui kemungkinan adanya pengetahuan yang baru dan membatasi bahwa pengetahuan agama itu hanyalah apa-apa yang mereka pahami saja. Kelompok yang ingin mengurung manusia dalam dogma juga akan berbuat seperti itu. Sebenarnya pengetahuan itu akan selalu mengalir melalui kitabullah dalam bentuk-bentuk yang terlihat baru. Bila suatu kaum tidak mempunyai pengetahuan tentang suatu ayat, mereka sebenarnya tidak boleh menghukumi bahwa pengetahuan yang benar yang diperoleh seseorang dari kitabullah adalah salah selama orang tersebut mempunyai landasan dari kitabullah dan tidak dapat dibuktikan kesalahannya. Manakala ada suatu pengetahuan yang baru diperoleh seseorang dari kitabullah, hendaknya mereka mempertimbangkan kebenaran dari ilmu itu, tidak justru secara membabi buta menghakimi kesalahan orang yang memperolehnya. Kemakmuran akan terwujud manakala umat manusia mengikuti kitabullah.

Membaca ayat Allah harus dilakukan agar terbina pemahaman yang menyatukan pemahaman ayat kauniyah bersama ayat kitabullah. Belajar agama tidaklah semata untuk melaksanakan syariat saja, tetapi juga agar manusia dapat memakmurkan bumi. Agama merupakan pelaksanaan fitrah diri, sedangkan syariat merupakan sarana yang disediakan bagi manusia agar dapat membina diri untuk layak terhubung dengan Allah. Allah tidaklah membutuhkan syariat dari manusia, tetapi manusia-lah yang membutuhkan syariat. Manakala seseorang tidak melaksanakan syariat, ia akan menjadi makhluk yang buruk. Pembacaan ayat Allah hendaknya dilakukan hingga seseorang dapat memahami ayat Allah baik ayat kauniyah maupun ayat kitabullah secara sinergis sehingga ia bisa beramal sesuai kehendak Allah. Keduanya merupakan ayat Allah yang harus dibaca dengan tepat. Pada orang-orang yang telah terbina akhlak mulia dengan kokoh, pembacaan demikian seringkali disertai dengan adanya suatu penjelasan di dalam hatinya, dan dikatakan mereka berada di atas petunjuk. Orang yang mempelajari ayat-ayat Allah untuk akhlak mulia akan memperoleh petunjuk walaupun petunjuk itu mungkin belum mencapai kekokohan.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar