Pencarian

Senin, 06 Oktober 2025

Mengenal Batas Diri dengan Sunnah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Setelah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim, hendaknya seseorang tegak melaksanakan amannah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Orang yang memperoleh keterbukaan terhadap ayat kitabullah yang merupakan amanah bagi dirinya diperintahkan untuk melaksanakan amanah sebagaimana diperintahkan ayat kitabullah yang dibukakan. Pelaksanaan amanah itu harus dilakukan secara berjamaah dengan orang-orang yang bertaubat bersama dirinya, dan hendaknya tidak melampaui batas. Ada pagar-pagar yang merupakan batasan urusan Allah dan setiap orang harus berada pada pagar-pagar urusan itu. Ada pula pintu jalan yang diharamkan yang tidak boleh dilalui, manakala seseorang melalui pintu keharaman itu maka ia akan celaka. Seseorang yang tidak mengenal batas diri kadang-kadang tidak mengerti manakala dirinya merusak sunnah Rasulullah SAW dan bahkan ketika menentang firman Allah.

Batas-batas diri dalam pelaksanaan amanah dapat diibaratkan suatu pemerintahan negara. Seorang presiden melaksanakan pemerintahan untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran di negerinya. Ia dibantu dengan menteri-menteri, panglima, para gubernur, bupati dan seluruh jajaran dalam pemerintahannya. Masing-masing mempunyai lingkup tugas dan wewenang membantu presiden mewujudkan cita-cita berbangsa. Tidak boleh ada seorangpun menteri atau seseorang dalam jajaran pemerintahan yang membangun loyalitas kepada begal negara, dan atau membuat kebijakan yang merugikan pihak lain baik sejawatnya anak buahnya ataupun masyarakat luas. Seluruh jajaran, gubernur dan komponen masyarakat lainnya harus berusaha bekerja secara sinergis, tidak boleh saling merugikan antara warganya ataupun warga propinsi lainnya dengan kebijakan yang buruk.

Arah Langkah Rasulullah SAW dan Batas Diri

Dalam agama, setiap orang hendaknya berusaha memahami cita-cita Rasulullah SAW bagi umatnya dan membantu terwujudnya cita-cita tersebut dengan memahami jati diri dan memahami batas-batas dirinya di antara al-jamaah. Ia tidak melanggar batas itu terhadap washilahnya, terhadap sahabat sejawatnya ataupun terhadap orang-orang yang mengikuti dirinya dan yang mengikuti orang lain. Setiap orang mempunyai amal shalih berupa amal dari bagian urusan Rasulullah SAW yang dapat diketahui dari kitabullah Alquran dan ayat kauniyah yang terhampar pada ruang dan jamannya. Mengetahui batas-batas urusan Rasulullah SAW yang dijadikan bagian untuk dirinya akan menjadikan seseorang dapat berjalan tanpa melampaui batas.

Tingkat pemahaman seseorang terhadap cita-cita Rasulullah SAW di antara manusia mempunyai perbedaan-perbedaan intensitas yang menunjukkan kedekatan seseorang kepada Allah. Kedekatan itu ditentukan dengan tingkat kemuliaan akhlak. Setiap orang harus membina akhlak mulia dalam dirinya. Kemuliaan akhlak itu ditunjukkan dengan tingkat pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik intensitas pengetahuan maupun penghayatan yang benar terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Iblis mempunyai pengetahuan yang sangat banyak tetapi tidak menghayati tuntunan Allah dengan benar, maka ia tidak dapat dikatakan berakhlak mulia. Ada manusia-manusia yang mempunyai ilmu sangat banyak tetapi mungkin saja ia tersesat jalannya karena tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada pula orang-orang yang berpakaian dan bergaya layaknya alim ulama tetapi tidak mengetahui penghayatan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka ia sebenarnya belum cukup membina akhlak mulia. Setiap orang harus terus berusaha meningkatkan pemahaman terhadap tuntunan Rasulullah SAW dengan membina akhlak mulia.

Tingkat paling tinggi yang dapat dicapai seseorang dalam memahami kehendak Allah adalah terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Membentuk bayt demikian menunjukkan keberhasilan pembinaan akhlak hingga mampu berperan sosial dengan landasan pemahaman terhadap kehendak Allah. Dalam perspektif langkah taubat, hal itu menunjukkan keberhasilan mengikuti langkah kedua uswatun hasanah. Rasulullah SAW merupakan uswatun hasanah dalam penyempurnaan kemuliaan akhlak, yaitu membentuk akhlak Alquran. Nabi Ibrahim a.s merupakan uswatun hasanah dalam membentuk akhlak mulia terutama dalam peran sebagai makhluk sosial dengan membentuk bayt. Kedua uswatun hasanah tersebut merupakan utusan paling sempurna dalam memperkenalkan asma Allah kepada makhluk di alam ciptaan, dan setiap manusia harus berusaha membentuk akhlak mulia dengan mengikuti kedua uswatun hasanah baik sebagai hamba Allah ataupun sebagai makhluk sosial tanpa terpisahkan.

Arah langkah Rasulullah SAW akan dipahami oleh orang-orang yang berusaha untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Demikian pula batas-batas diri akan dikenali orang-orang yang berusaha membentuk bayt mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Jalan demikian merupakan tuntunan kedua uswatun hasanah sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s yang bersifat haqq hingga seseorang dapat mengenal jati diri penciptaannya dan batas-batas diri yang harus ditaati tidak dilampaui.

Dalam perspektif sosial, membentuk bayt menunjuk pada usaha pemuliaan umat manusia dengan pengetahuan kebenaran (ma’rifah) dan menghindari kebodohan (munkar), menegakkan amar ma’ruf nahy munkar. Landasan pemuliaan itu adalah pembentukan akhlak mulia terutama akal dalam membina ma’rifat kepada Allah dan menghindari kemunkaran-kemunkaran. Artinya, proses pemuliaan umat itu sebenarnya hanya dikatakan berhasil apabila umat manusia mampu mentaati perintah-perintah Allah dengan landasan pemahaman (ma’rifat) terhadap kebaikan-kebaikan dalam perintah-perintah Allah dan menghindari kebodohan dengan mengetahui keburukan dalam kebodohan-kebodohan itu. Kadangkala ditemukan suatu kaum mentaati perintah dan larangan tetapi memotong akal mereka untuk memahami (ma’rifat) kebaikan dalam perintah dan keburukan dalam larangan. Hal itu tidak menunjukkan keberhasilan pemuliaan karena memotong akal sebenarnya hanya menjaga kebodohan umat. Kegagalan pemuliaan umat dalam kasus itu terjadi dalam hal pemotongan akal untuk memahami ma’rifat dan keburukan kemunkaran, bukan karena ketaatan yang dilakukan. Di antara tandanya, kadangkala umat terjerumus dalam kebodohan dengan ketaatan mereka tidak mengerti tujuan dari perbuatan yang mereka lakukan. Pijakan utama dan pijakan awal proses pemuliaan umat manusia itu adalah pembentukan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sesuai dengan tuntunan Allah.

Keberhasilan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah merupakan puncak kemampuan manusia dalam memahami kehendak Allah sedemikian seseorang bisa dianggap layak untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah (muqarrabun). Kedekatan itu merupakan anugerah, tidak dapat diupayakan oleh manusia. Puncak kemampuan itu tidak diberikan secara tiba-tiba, tetapi harus dimulai dengan upaya membentuk shilaturrahmi terutama dalam bentuk pernikahan. Pernikahan menjadi role model yang memberikan arah kepada manusia dalam membentuk shilaturrahmi dengan masyarakat lebih luas. Upaya memahami kehendak Allah tidak bisa dilakukan hanya dengan membangun hubungan personal kepada Allah, tetapi juga harus disertai membangun hubungan antar makhluk berupa shilaturrahmi. Dalam membangun shilaturrahmi, pernikahan merupakan inti dari pembentukan shilaturrahmi yang akan menentukan keberhasilan proses secara keseluruhan dalam melakukan upaya pemuliaan umat dengan amar ma’ruf nahy munkar.

Pernikahan memberikan suatu contoh ideal shilaturrahmi yang seharusnya dibentuk setiap manusia, di mana seorang laki-laki memperoleh umat yang harus dimuliakan dalam wujud isteri dan anak-anaknya, dan seorang isteri memperoleh washilah pengabdiannya kepada Allah dalam wujud suaminya. Demikian shilaturrahmi yang seharusnya dibentuk oleh setiap orang kepada umatnya, ia memperoleh umat yang harus dimuliakan dalam wujud umatnya dan memperoleh washilah dalam bentuk rijal yang merupakan induk urusannya sebagai jalan turunnya urusan Rasulullah SAW. Adab-adab pergaulan harus dibina di antara umat agar shilaturrahmi di antara mereka dapat terbentuk dengan baik. Keikhlasan untuk mengenal kehendak Allah harus dibina pada diri setiap orang disertai dengan pembinaan kemampuan bersikap menghargai orang lain secara layak untuk menjalin shilaturrahmi. Dalam proses pembinaan akal lebih lanjut, tingkat penghargaan seseorang terhadap orang lain seharusnya disusun sesuai kedudukan objek di sisi Allah, tanpa meninggalkan sedikitpun sikap menghargai makhluk sembarang. Seandainya menemukan orang yang menjadikan hina dirinya sendiri, ia tidak menghinakan mereka lebih dari penghinaan mereka terhadap diri mereka sendiri. Orang yang tidak mampu memberikan penghargaan sesuai kedudukan objek di sisi Allah menunjukkan kekurangsempurnaan dalam membina akhlak, dan ketidakmampuan menghargai makhluk sembarang menunjukkan kegagalan membina akhlak.

Peran keikhlasan dan adab terhadap orang lain dalam menjalin shilaturrahmi ini terlihat menonjol pada proses pernikahan. Seseorang yang thayib hendaknya menemukan pasangan yang thayib dalam tingkat yang setimbang, tidak mencari pasangan yang mempunyai orientasi keikhlasan yang jauh berbeda. Bila seorang laki-laki yang ikhlas menikah dengan perempuan yang menuntut harta dalam jumlah berlebihan, ia akan kesulitan dalam mengurus keluarganya banyak kehilangan kesempatan untuk memahami kehendak Allah. Harta yang baik dalam keberpasangan terletak pada pelaksanaan amr Allah dalam kebersamaan suami isteri, tidak dituntut dan tidak dicari oleh salah satu pihak kepada pihak lain secara berlebihan. Untuk memperkirakan tingkat ekonomi yang bisa diusahakan, kedua pihak hendaknya berusaha memahami bersama potensi amr Allah yang dapat menjadi jalan usaha bagi mereka melalui kesetaraan kufu tidak dilakukan dengan menekan satu pihak menyediakan harta dalam jumlah yang berlebihan. Sikap-sikap demikian akan menentukan keberhasilan shilaturrahmi. Ini adalah contoh peran keikhlasan dalam membina shilaturrahmi.

Adab pergaulan juga akan menentukan keberhasilan shilaturrahmi. Seseorang yang tidak menghargai pasangannya secara layak akan sulit mewujudkan keluarga sebagai bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Menghargai pasangan ini tidaklah berfungsi mensahkan kehausan seseorang terhadap penghargaan pihak lain, tetapi syarat dasar atas setiap pihak untuk dapat menjalin shilaturrahmi sesuai kehendak Allah dalam keluarga. Seseorang mungkin tidak perlu meminta penghormatan pasangannya tetapi pasangannya harus menghormatinya karena ada urusan Allah di antara mereka yang harus ditunaikan dengan menjalin shilaturrahmi. Manakala seseorang memandang hina pasangannya, akan sulit terbentuk landasan shilaturrahmi yang baik dalam keluarga itu dan mereka akan mengalami kesulitan dalam kehidupan dunia. Landasan shilaturrahmi yang buruk itu pada ujungnya akan menimbulkan akibat memutus shilaturrahmi keluarga itu dari umat mereka dan sangat sulit untuk berjuang sendirian dalam kehidupan terputus dari kebersamaan dengan masyarakat besar. Kesulitan ini akan semakin bertambah manakala seorang laki-laki mengemban amanah Allah karena batasan-batasan bagi laki-laki itu dalam mensikapi dunia.

Ketaatan Terhadap Sunnah

Arah langkah Rasulullah SAW akan dipahami oleh orang-orang yang berusaha untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Demikian pula batas-batas diri akan dikenali orang-orang yang berusaha membentuk bayt mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Jalan membina bayt demikian merupakan tuntunan kedua uswatun hasanah sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s yang bersifat haqq. Sebagian manusia meletakkan kebenaran arah langkah mereka mengikuti hawa nafsu tanpa mengikuti tuntunan uswatun hasanah. Mereka akan salah dalam menempuh jalan. Boleh jadi sebagian arah langkah mereka benar tetapi menemukan kesalahan atau kesesatan pada ujungnya, atau boleh jadi mereka menempuh jalan yang sesat sejak awal langkah mereka. Mereka tidak akan mengenal jati diri atau batas-batas diri yang harus dipatuhi.

Syaitan juga sangat berkeinginan menyesatkan langkah manusia dengan kekejian dan kemunkaran. Mereka mungkin mendatangi orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan pakaian yang tampak indah tetapi sebenarnya bertujuan membajak pengabdian mereka untuk mentaati syaitan. Ini adalah bentuk kekejian. Kekejian itu bisa pula menimpa para perempuan, di mana pengabdian mereka kepada Allah melalui suami dibajak syaitan dibelokkan pengabdiannya melalui laki-laki lain. Mereka bisa saja memandang apa-apa yang mereka lakukan merupakan ibadah yang tulus kepada Allah tetapi sebenarnya telah terbelokkan dalam pengabdian mewujudkan tatanan syaitan ke alam dunia. Syaitan berusaha menyesatkan manusia dengan kekejian.

Demikian pula para syaitan berusaha menahan manusia pada kemunkaran. Manusia dicegah syaitan untuk berkembang akalnya dalam memahami tuntunan Allah. Kadangkala syaitan menampakkan hal menakjubkan untuk mencegah akal manusia berkembang, atau mengajarkan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa suatu pengetahuan. Mungkin manusia dijebak dengan gimik-gimik kebenaran tanpa memahami kebaikan dan keburukan dalam ibadah kepada Allah. Mungkin bentuk kemunkaran itu berupa ketaatan melaksanakan perintah dan menghindari larangan tetapi dilakukan dengan meninggalkan penggunaan akal untuk memahami dengan benar kehendak Allah. Manusia harus mentaati perintah Allah dan larangannya, dan tidak akan bisa memahami keseluruhan perintah Allah, akan tetapi setiap manusia harus berusaha memahami sebaik-baiknya kehendak Allah untuk dirinya dengan ketaatan terhadap perintah dan larangan-Nya, tidak boleh tetap berada dalam kemunkaran.

Manakala tidak dapat memerintahkan kekejian dan kemunkaran kepada seorang hamba Allah, kadangkala syaitan berbuat kasar kepada hamba itu untuk mencegah seseorang dan umat manusia membentuk akhlak mulia. Para syaitan membuat fitnah-fitnah atas hamba-hamba Allah terutama terkait dengan upaya mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seandainya seseorang tidak terjebak dalam kekejian, syaitan mungkin akan berusaha membuat para isteri terpisah dari suaminya. Syaitan bisa saja menancapkan kekejian pada diri seseorang sekalipun tidak menginginkannya, (yaitu) apabila syaitan itu menemukan sarana untuk itu dari manusia. Suami mungkin akan ditimpa oleh syaitan dengan berita-berita buruk tentang isterinya agar tidak tumbuh jalinan shilaturrahmi dalam pernikahan dan di antara umat secara umum. Masyarakat yang keji dan bodoh akan menjadi media yang sangat baik bagi syaitan dalam memisahkan para isteri dari suaminya, baik dengan kekejian ataupun berita-berita yang tidak benar dan mencegah seseorang memperoleh berita yang benar tentang pasangannya. Dengan cara itu, seseorang mungkin tidak bisa dijadikan syaitan sebagai sarana mewujudkan tatanan syaitan pada umat manusia, tetapi ia juga tidak bisa mewujudkan tatanan di bumi sesuai dengan kehendak Allah.

Rabu, 01 Oktober 2025

Mengenal Batas Diri di Shirat Al-Mustaqim

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Setelah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim, hendaknya seseorang tegak melaksanakan amanah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Manakala seseorang mengetahui seruan dari suatu hakikat ayat kitabullah yang dibukakan kepada dirinya, ia mendapatkan perintah untuk tegak di atas shirat al-mustaqim. Perintah (amr) Allah pada ayat di atas merujuk pada kandungan ayat kitabullah yang dibukakan kepada diri seorang hamba sebagai amanah yang harus ditunaikan. Boleh jadi amanah itu juga mempunyai bentuk perintah yang tercerap indera sang hamba Allah, sedangkan perintah itu disertai keterbukaan pemahaman atas ayat kitabullah. Bisa juga amanah itu hanya berbentuk keterbukaan hakikat ayat kitabullah saja yang mengandung perintah-perintah Allah. Penanda penting dari perintah Allah adalah adanya keterbukaan kandungan hakikat dari ayat kitabullah. Terkait pengenalan diri (ma’rifatun-nafs), keterbukaan shirat al-mustaqim terjadi pada orang yang mengenal diri. Tetapi ada batasan khusus yang harus terpenuhi orang yang mengenal diri yang mengenal shirat al-mustaqim. Syaitan pada dasarnya juga mendorong manusia yang dipandangnya potensial dimanfaatkan untuk mendekati pohon khuldi. Ma’rifatun-nafs yang menunjukkan keterbukaan shirat al-mustaqim adalah pengenalan diri yang disertai tanda berupa keterbukaan suatu ayat kitabullah sebagai amanah yang harus ditunaikan.

Perintah tegak di atas shirat al-mustaqim itu tidak hanya berlaku kepada dirinya saja, tetapi juga berlaku bagi orang-orang yang telah menempuh jalan taubat bersama dirinya. Orang-orang yang telah menempuh jalan taubat kepada Allah bersama dirinya hendaknya diseru untuk tegak di atas perintah Allah, dan orang-orang yang bertaubat hendaknya menyambut seruan seseorang yang telah mengetahui gerbang shirat al-mustaqim bagi mereka. Akan banyak yang memahami shirat al-mustaqim dari kalangan orang-orang yang bertaubat manakala mereka mau mengikuti seruan orang yang mengenali gerbang shirat al-mustaqim. Orang yang perlu diseru menuju shirat al-mustaqim adalah orang-orang yang bertaubat bersamanya agar nilai-nilai kebaikan yang diserukan tumbuh subur di antara masyarakat. Kedekatan penyeru dan orang yang diseru dalam kebersamaan akan memudahkan pelaksanaan amanah Allah.

Memahami dengan lurus urusan di shirat al-mustaqim harus dilakukan dengan nafs yang bersih dan akal yang kuat tidak tercampuri dengan dorongan hawa nafsu yang buruk. Orang-orang yang tidak menempuh jalan taubat akan berguncang dan menyimpang manakala kitabullah Alquran dilimpahkan kepadanya karena kebodohan dan kedzaliman nafs mereka. Hanya orang-orang yang telah diberi akal yang kuat di atas akhlak mulia yang mampu menerima limpahan kitabullah Alquran. Orang demikian berasal dari orang-orang yang telah menempuh jalan taubat hingga tahap tertentu yang dekat-dekat dengan orang yang berada di shirat al-mustaqim. Sekalipun Allah belum memberikan keterbukaan ayat kitabullah kepada mereka, akal mereka bisa memahami suatu kebenaran dari sisi Allah dan kebersamaan dengan orang yang diberi keterbukaan diharapkan akan dapat menjaga mereka dari penyimpangan.

Proses taubat harus dilakukan sebelum manusia diseru ke shirat al-mustaqim sedemikian akal mereka mampu dan cukup kuat dalam berpegang pada tuntunan kitabullah alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak menggantikan kedudukan keduanya dengan hal-hal yang lain. Setiap orang yang diseru hendaknya mempunyai kemampuan untuk merasakan bahwa kebenaran tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW berada pada tingkatan yang tertinggi. Kebenaran petunjuk-petunjuk yang lain hanya berfungsi untuk menunjukkan manusia pada kebenaran yang tertinggi tersebut. Tidak jarang apa yang dianggap manusia sebagai kebenaran kadangkala sebenarnya merupakan penyimpangan. Proses taubat harus dilakukan sedemikian seseorang dapat membenarkan suatu bacaan kebenaran yang dekat dengan tuntunan kitabullah Alquran dibandingkan kebenaran yang hanya merupakan gimik.

Kitabullah dan Batas Diri

Proses taubat harus dilakukan benar-benar untuk menjadikan manusia yang bertaubat dapat memahami penjelasan-penjelasan (al-bayaan) dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena sikap demikian akan mengantarkan mereka mendekat pada shirat al-mustaqim. Seandainya belum dibukakan kepada mereka kandungan kitabullah, setidaknya mereka dapat memahami kebenaran yang dibacakan kepada mereka dari kitabullah sehingga dapat melangkah di shirat al-mustaqim bersama orang-orang yang telah sampai pada gerbang shirat al-mustaqim. Tidak sedikit orang yang menempuh jalan taubat tetapi tidak berproses dengan benar untuk dapat mengenali penjelasan-penjelasan yang benar dan dekat dengan hakikat dari kitabullah. Manakala dibacakan penjelasan kitabullah mereka tidak mengenali kebenaran penjelasan itu dan lebih memilih mengikuti waham mereka sendiri.

Penyimpangan demikian mungkin terjadi pada proses taubat atau pada orang-orang yang bertaubat. Bila orang-orang yang bertaubat mendustakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti waham mereka sendiri, proses taubat yang demikian merupakan proses taubat yang gagal. Penyimpangan pada orang tertentu bisa terjadi karena kelemahan nafs. Selain masalah kelemahan nafs, penyimpangan dalam proses memahami amanah Allah juga bisa timbul dari faktor luar seperti syaitan atau ilmu-ilmu setengah benar dan setengah merusak. Syaitan akan menjadikan manusia memandang indah diri mereka sendiri hingga tidak menyadari manakala mereka tersesat dari tuntunan Allah. Seringkali seseorang kemudian memisahkan diri dari al-jamaah.

Ada ilmu-ilmu yang bersifat fitnah yang menyimpangkan langkah taubat. Ilmu itu menampakkan tanda-tanda perkembangan taubat yang baik tetapi sebagian dari ilmu itu mendatangkan kerusakan yang besar. Ilmu Harut Marut misalnya, ilmu demikian itu mungkin akan memunculkan suatu tanda perkembangan taubat yang baik tetapi sebenarnya mengandung potensi kerusakan yang sangat besar. Ikhtisar dari tanda perjalanan taubat manusia mungkin akan tampak pada seseorang yang menggunakan ilmu Harut dan Marut, tetapi penjabaran dari ikhtisar tersebut menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya mungkin seseorang memperoleh suatu pengetahuan tentang penataan umat, tetapi justru pada pelaksanaannya merusak rumah tangga sebagai inti dari penataan umat manusia.

Ilmu-ilmu demikian harus dihindari oleh orang-orang yang bertaubat. Kerusakan yang ditimbulkan oleh ilmu demikian sebenarnya bisa sangat luas, bukan sekadar seseorang yang tertipu. Orang-orang mungkin akan merasa berkembang sebagai orang-orang yang bertaubat tetapi sebenarnya tidak menempuh arah taubat yang benar. Tanda-tanda yang tumbuh pada diri mereka sebagian menunjukkan perkembangan taubat yang baik tetapi justru pada bagian inti terjadi kerusakan. Sangat sulit mendeteksi penyimpangan yang terjadi akibat ilmu demikian kecuali apabila seseorang berpegang teguh kepada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang lebih mempercayai pendapat dirinya, ia akan tertipu dengan ilmu tersebut. Hanya kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang dapat mengungkap kelemahan pada ilmu Harut dan Marut.

Pemahaman terhadap tuntunan ayat kitabullah yang merupakan pengantar menuju shirat al mustaqim yang harus dibina dengan sebaik-baiknya sedemikian hingga setiap orang yang mengikuti langkah di shirat al-mustaqim mengerti tentang batas diri mereka dalam melaksanakan amr Allah tidak melampauinya. Manakala tidak disertai pemahaman terhadap ayat kitabullah, seseorang yang berusaha beramal shalih dengan mengenal diri bisa saja tidak mengerti batas-batas diri. Objek dari perintah ayat kitabullah harus dipahami dengan benar oleh setiap orang, dan masing mengetahui batas-batas yang harus dipatuhi. Ada pagar-pagar terluar berupa batasan urusan Allah dan setiap orang harus berada di dalam batas pagar-pagar urusan itu. Ada pula pintu jalan yang diharamkan yang tidak boleh dilalui, manakala seseorang melalui pintu keharaman itu maka ia akan celaka. Seseorang yang tidak mengenal batas diri seringkali tidak mengerti bahwa dirinya telah merusak sunnah Rasulullah SAW dan bahkan ketika menentang firman Allah.

Dalam agama, setiap orang hendaknya berusaha memahami cita-cita Rasulullah SAW bagi umatnya dan membantu terwujudnya cita-cita tersebut dengan memahami jati diri dan memahami batas-batas dirinya di antara al-jamaah. Batas-batas diri itu dapat diibaratkan suatu pemerintahan negara. Seorang presiden melaksanakan pemerintahan untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran di negerinya. Ia dibantu dengan menteri-menteri, panglima, para gubernur, bupati dan seluruh jajaran dalam pemerintahannya. Masing-masing mempunyai lingkup tugas dan wewenang membantu presiden mewujudkan cita-cita berbangsa. Tidak boleh ada seorangpun menteri atau seseorang dalam jajaran pemerintahan yang membangun loyalitas kepada begal negara, dan atau membuat kebijakan yang merugikan pihak lain baik sejawatnya anak buahnya ataupun masyarakat luas. Seluruh jajaran, gubernur dan komponen masyarakat lainnya harus berusaha bekerja secara sinergis, tidak boleh saling merugikan antara warganya ataupun warga propinsi lainnya dengan kebijakan yang buruk. Demikian itu gambaran tentang batas-batas yang tidak boleh dilampaui. Setiap orang hendaknya berusaha memahami cita-cita Rasulullah SAW bagi umatnya dan membantu terwujudnya cita-cita tersebut dengan memahami jati diri dan memahami batas-batas dirinya di antara al-jamaah. Ia tidak melanggar batas itu terhadap atasannya, terhadap rekan sejawatnya ataupun terhadap orang-orang yang mengikuti dirinya.

Mendengarkan Pengajaran

Mengenal batas-batas diri di antara al-jamaah dapat dilakukan dengan berusaha memahami amanah dari kitabullah Alquran hingga mengenal bentuk amanah yang diberikan kepada dirinya, dan juga mengenal shahabatnya atau washilahnya. Mengenal orang-orang dekatnya akan sangat membantu pengenalan batas-batas diri. Hal demikian dimulai dari mengikuti seruan orang lain ke gerbang shirat al-mustaqim. Apabila orang-orang bertaubat mengabaikan seruan untuk menuju gerbang shirat al-mustaqim, mereka akan sulit menemukan jati diri dan batas-batas dirinya. Gerbang shirat al-mustaqim itu sebenarnya merupakan gerbang bersama orang yang dibukakan amanahnya dan orang-orang yang bertaubat bersamanya.

Sikap mengabaikan seruan menuju gerbang shirat al-mustaqim menjadikan manusia terjerat sebagai orang-orang yang musuh Allah, orang dzalim atau setidaknya mereka menjadi golongan orang-orang yang mengabaikan Alquran.

﴾۲۲﴿وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang benar-benar telah diberi pengajaran ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan menjadi musuh bagi para pendosa (QS As-Sajdah : 22)

Ayat di atas berbicara tentang sikap manusia terhadap pengajaran tentang ayat Allah. Secara tersirat, ayat ini terkait dengan orang-orang yang sebenarnya layak untuk diberi pengajaran ayat-ayat Allah akan tetapi mereka bersikap berpaling dari pengajaran tersebut. Secara umum, pengajaran ayat Allah harus dilakukan dengan cara-cara tertentu disesuaikan dengan orang-orang yang mendengarnya. Pentaubat yang diseru untuk melangkah di shirat al-mustaqim termasuk dalam kategori demikian, mereka benar-benar diberi pengajaran tentang ayat-ayat Allah tentang shirat al-mustaqim untuk ruang dan jamannya. Manakala seseorang mengajarkan ayat-ayat Allah kepada orang lain, orang-orang yang diajar itu sebenarnya dinilai telah layak menerima pengajaran itu. Bila orang yang diajar berpaling dari pengajaran itu, maka mereka yang berpaling itu adalah orang-orang yang paling dzalim.

Berpaling adalah mengarahkan wajah menuju sesuatu yang lain. Berpaling dari pengajaran ayat-ayat Allah menunjukkan bahwa seseorang memilih mengikuti pengajaran selain dari ayat-ayat Allah. Banyak tingkatan kebenaran yang datang pada setiap diri manusia, dari kebenaran hakikat dari sisi Allah berupa albayaan yang diajarkan Arrahman kepada seorang hamba, kebenaran tafsir mengikuti firman Allah, kebenaran-kebenaran gimmik menggunakan firman Allah hingga dosa-dosa yang diubah menjadi kebenaran-kebenaran subjektif orang-orang tertentu. Pengajaran kebenaran yang paling benar bagi manusia pada umumnya berbentuk al-bayaan. Firman Allah dalam Alquran berada di atas tingkatan pengajaran karena berfungsi sebagai parameter kebenaran, dan tidak setiap orang dapat memahami firman tersebut secara langsung. Manakala seseorang memperoleh pengajaran dalam bentuk al-bayaan kemudian berpaling mengikuti kebenaran yang tidak jelas, ia termasuk dalam golongan orang-orang yang paling dzalim.

Faktor utama keberpalingan adalah kurangnya keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Seringkali seseorang berusaha mencari kebenaran tetapi tidak benar-benar ikhlas untuk ibadah kepada Allah sehingga mereka hanya mengikuti perkataan-perkataan orang, baik diri sendiri ataupun orang lain, kurang iktikad untuk mengikuti firman Allah. Kadangkala seseorang mempunyai keikhlasan tetapi kembali menjadi pupus dengan pengetahuan yang salah. Kurang ikhlas atau pupusnya keikhlasan itu akan menjadikan seseorang tidak mengikuti firman Allah. Ketika hakikat dari firman Allah yang disampaikan kepadanya dapat terpahami, mereka memilih mengikuti perkataan makhluk daripada firman Allah. Sama saja keadaan orang demikian baik ia memahami atau tidak memahami. Pahamnya terhadap firman Allah tidak lebih baik daripada tidak pahamnya karena ia berpaling dari pengajaran ayat-ayat Allah ketika dapat memahami.

Keberpalingan seseorang dari pengajaran ayat Allah akan menjadikannya sebagai golongan pendosa dan mendatangkan sikap permusuhan Allah. Allah menjadikan diri-Nya musuh bagi orang-orang yang berpaling dari pengajaran ayat-ayat Allah karena dosa-dosa mereka. Langkah yang akan mereka lakukan setelah itu sebenarnya akan mendatangkan kesulitan bagi umat manusia berupa dosa-dosa, dan langkah-langkah itu menjadi lawan bagi orang-orang yang berkeinginan untuk mewujudkan kehendak Allah. Banyak di antara pikiran orang-orang berpaling dari pengajaran ayat Allah itu bertentangan dengan kehendak Allah, dan juga langkah mereka berlawanan dengan langkah yang perlu dilakukan orang-orang yang menghambakan diri kepada Allah, maka Allah menyatakan diri-Nya sebagai musuh bagi mereka. Pembalasan permusuhan itu mungkin dilakukan saat itu juga, atau ditunda di dunia hingga waktu yang ditentukan, atau dibalaskan di akhirat.

Minggu, 28 September 2025

Memasuki Gerbang Shirat Al-Mustaqim

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan itu adalah shirat al-mustaqim (jalan yang lurus). Shirat al-mustaqim merupakan jalan terpendek yang dapat ditempuh setiap hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Penyeru manusia di gerbang shirat al-mustaqim itu adalah kitabullah Alquran. Ini adalah ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kepada seorang hamba Allah, maka ayat itu menjadi penyeru kepada hamba itu untuk memasuki shirat al-mustaqim. Keterbukaan itu berupa pengetahuan hakikat suatu ayat kitabullah, bukan sekadar pengetahuan dalam tingkatan tafsir ayat kitabullah. Seseorang yang mengalami keterbukaan makna hakikat dari suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya berarti telah tiba pada gerbang agamanya. Orang-orang yang lain bisa mengikuti langkah orang tersebut agar ia lebih mudah mengalami keterbukaan makna hakikat suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya, maka ia akan lebih mudah mengenali gerbang agamanya.

Perintah Istiqamah

Setelah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim, hendaknya seseorang tegak melaksanakan amannah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Perintah (amr) Allah pada ayat di atas merujuk pada kandungan ayat kitabullah yang dibukakan kepada diri seorang hamba sebagai amanah yang harus ditunaikan. Amr Allah itu berbentuk ayat-ayat kitabullah Alquran yang harus ditunaikan dengan meninggalkan segala hal yang lain apabila diperlukan. Boleh jadi amanah itu juga mempunyai bentuk perintah yang tercerap indera sang hamba Allah, sedangkan perintah itu disertai keterbukaan pemahaman atas ayat kitabullah. Bisa juga amanah itu hanya berbentuk keterbukaan hakikat ayat kitabullah saja yang mengandung perintah-perintah Allah. Penanda penting dari perintah Allah adalah adanya keterbukaan kandungan hakikat dari ayat kitabullah. Penanda gerbang shirat al-mustaqim itu adalah seruan ayat kitabullah Alquran untuk menegakkan amanah.

Gerbang shirat al-mustaqim itu adalah ayat kitabullah, bukan bentuk-bentuk perjuangan yang dibuat-buatkan bagi umat. Perintah Allah itu seluruhnya tercakup alam suatu ayat tertentu tidak keluar darinya. Intinya, perintah Allah itu berupa keterbukaan makna hakikat dari suatu ayat Allah. Manakala seseorang mencerap suatu perintah Allah yang tidak tercakup dalam suatu ayat kitabullah, maka hal itu tidak termasuk dalam perintah Allah. Mungkin benar merupakan perintah Allah tetapi hanya berlaku manakala ia telah memahami ayat kitabullah tentang perintah itu. Demikian pula orang-orang yang mencerap perintah Allah tetapi bertentangan dengan tuntunan kitabullah, maka dipastikan perintah itu bukanlah perintah Allah. Sangat mungkin perintah demikian merupakan perintah syaitan yang berusaha menyesatkan manusia dan merusak tatanan umat manusia.

Ada beberapa ciri pembenar shirat al-mustaqim. Seruan kepada shirat al-mustaqim itu hanya benar bila seseorang dapat menunjukkan ayat kitabullah yang terbuka kepada dirinya. Bukan hanya kandungan maknanya, gerbang shirat al-mustaqim itu seringkali dapat dilihat secara nyata kesesuaiannya dengan kauniyah yang terjadi. Ciri lain gerbang shirat al-mustaqim adalah seseorang akan mengenal kedudukan dirinya dalam perjuangan Rasulullah SAW sebagai bagian al-jamaah. Kadangkala seseorang memperoleh landasan perjuangan dari ayat kitabullah tetapi boleh jadi sebenarnya ia belum termasuk dalam golongan al-jamaah karena sifat pemahamannya masih berupa tafsir. Ia harus berusaha memahami kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW. Bila seseorang merasa sebagai pembawa kebenaran secara mandiri tidak membutuhkan sandaran kebenaran dari Rasulullah SAW, mereka adalah orang yang tersesat. Manakala seseorang tidak dapat menunjukkan ayat kitabullah yang menjadi landasan perjuangannya, pasti amanahnya itu bukan suatu perintah Allah yang telah ditetapkan bagi manusia. Mungkin urusan itu bisa mendatangkan manfaat bagi manusia tetapi bukan benar-benar shirat al-mustaqim, atau boleh jadi urusan itu sebenarnya mendatangkan kerusakan yang besar.

Ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah indikator yang nyata bahwa suatu urusan merupakan shirat al-mustaqim. Banyak tipuan yang datang kepada orang-orang yang mengharapkan shirat al-mustaqim. Banyak orang yang tertipu untuk menempati kedudukan tertentu dalam urusan Allah tanpa memahami urusannya dari tuntunan kitabullah Alquran. Ia tidak mengetahui langkah yang benar atau kesalahan langkah yang mungkin terjadi berdasarkan tuntunan kitabullah tetapi mau menerima urusan Allah. Bukan berarti seseorang tidak boleh mengalami kesalahan dalam melaksanakan urusan Allah, tetapi setiap orang harus mempunyai bekal pengetahuan urusannya dari tuntunan kitabullah dan harus berusaha untuk berbuat benar dan menghindari kesalahan dengan pengetahuannya, sedangkan ia meminta ampunan Allah untuk kesalahan yang mungkin terjadi. Kadangkala manusia tertipu dengan kata-kata makhluk lain atau hawa nafsu dirinya sendiri tentang kedudukan dirinya dalam urusan Allah sedangkan keadaannya jauh dari yang disampaikan. Sebagian orang tertipu memperoleh ilmu yang sebagiannya benar dan sebagian lain merusak manusia. Hal-hal demikian dapat terjadi apabila seseorang tidak berusaha memeriksa keadaan dirinya dengan indikator kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Banyak potensi tipuan-tipuan lain yang mungkin mendatangi orang yang mengharapkan shirat al-mustaqim.

Bagi orang-orang berakal, sekalipun ribuan makhluk yang tinggi datang memintanya menjadi pemangku urusan Allah, mereka tidak akan bersedia memenuhi permintaan itu selama tidak melihat urusannya dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dan ia dapat memahami tuntunan itu dengan benar. Ia tidak akan menganggap dirinya pemangku urusan Allah tanpa suatu pengetahuan yang benar dari ayat kitabullah dalam urusan itu. Ia mungkin beramal tertentu sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, tetapi tidak menuntut pengakuan sebagai pemangku urusan Allah. Dijadikan pemangku urusan Allah hanya bisa diterima oleh orang berakal berdasar kandungan kitabullah yang terbuka kepada dirinya, tidak berdasarkan prasangka diri tentang dirinya ataupun perkataan orang lain tentang dirinya.

Tegak Sebagaimana Diperintahkan

Manakala seseorang mengetahui seruan hakikat dari suatu ayat kitabullah yang dibukakan kepada dirinya, ia mendapatkan perintah untuk tegak di atas shirat al-mustaqim. Perintah tegak di atas shirat al-mustaqim itu tidak hanya berlaku kepada dirinya saja, tetapi juga berlaku bagi orang-orang yang telah menempuh jalan taubat bersama dirinya. Orang-orang yang telah menempuh jalan taubat kepada Allah bersama dirinya hendaknya diseru untuk tegak di atas perintah Allah, dan hendaknya orang-orang yang bertaubat menyambut seruan seseorang yang telah mengetahui gerbang shirat al-mustaqim bagi mereka. Akan banyak yang memahami shirat al-mustaqim dari kalangan orang-orang yang bertaubat manakala mereka mau mengikuti seruan orang yang mengenali gerbang shirat al-mustaqim. Apabila orang-orang bertaubat mengabaikan seruan untuk menuju gerbang shirat al-mustaqim, mereka akan sulit menemukan shirat al-mustaqim karena boleh jadi mereka terjerat sebagai orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, atau setidaknya mereka menjadi golongan orang-orang yang mengabaikan Alquran.

Allah memerintahkan untuk melaksanakan amanah secara fokus dengan perintah : فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ. Menyeru sahabat atau pengikut jalan taubat menuju shirat al-mustaqim mungkin tampak mudah tetapi sebenarnya cukup rumit. Kadangkala sekelompok orang bertaubat selama puluhan tahun dan usia menua tetapi tidak ada yang melihat shirat al-mustaqim bagi mereka. Hal ini terkait dengan kejelasan fokus obyek shirat al-mustaqim yang ditunjukkan. “Sebagaimana kamu diperintahkan” merupakan perintah untuk fokus memperhatikan ayat-ayat dalam kitabullah yang menjadi amanahnya. Boleh jadi seseorang tidak terlalu jelas atau kurang fokus menunjukkan ayat dan maknanya kepada para sahabat atau para pengikutnya. Atau boleh jadi para para pengikut atau shahabat yang tidak mampu fokus menangkap penjelasan yang disampaikan. Kadangkala terlalu banyak kembangan atau variasi kebenaran yang bersifat gimik diajarkan hingga para pentaubat itu menjadi tidak fokus terhadap perintah Allah. Hal-hal demikian itu bisa muncul bersamaan pada satu jamaah taubat.

Masalah fokus perhatian dapat dilihat pada contoh kasus metode seorang syaikh yang mempunyai ilmu tentang keadaan jamannya dan tertulis secara jelas dalam kitab-kitabnya. Manakala mengajar para murid, beliau mungkin hanya membacakan ayat-ayat kitabullah yang diamanahkan saja tanpa suatu penjelasan apapun terkait ilmu yang ada padanya. Hal ini bertujuan agar para murid mengarahkan fokus pada ayat kitabullah Alquran yang merupakan amanah bagi mereka. Cara demikian menggambarkan keadaan yang mempengaruhi cara menyeru. Para murid harus dipersiapkan terlebih dahulu untuk dapat memahami kandungan ayat-ayat kitabullah dengan kesucian jiwa yang mencukupi agar pemahaman yang terbentuk tidak menyimpang. Manakala para murid belum siap, ia tidak membuka seruan menuju shirat al-mustaqim secara jelas. Sebenarnya apabila para murid siap, mereka akan mengetahui dengan sendirinya apa yang tertulis dalam kitab syaikhnya sebagai penjelasan dari ayat-ayat kitabullah yang menjadi amanahnya.

Fokus terhadap amanah dalam ayat kitabullah demikian harus selalu dijaga agar para pengikut atau sahabat perjalanan dapat mengerti amr Allah yang diserukan. Seseorang tidak harus bersikap persis seperti sang syaikh karena boleh jadi keadaan sahabatnya telah berkembang. Tetap saja setiap orang harus menjaga fokus penjelasan amr Allah berdasarkan ayat kitabullah yang menjadi amanah untuk ditunaikan. Memfokuskan perhatian ini bisa disampaikan dengan cara menyampaikan ayat yang menjadi amanah, dan memberikan penjelasan terkait dengan ayat tersebut seperlunya sesuai dengan keadaan pendengarnya. Penjelasan yang menyimpang, kembangan dan variasi penjelasan yang bersifat gimik mungkin mengganggu fokus orang yang diseru, maka hendaknya hal demikian dihindari. Penjelasan ayat-ayat dengan cara atau redaksi yang jauh dari redaksi ayat hendaknya dihindari karena perhatian pendengar akan menyimpang. Pendengar mungkin terganggu fokus perhatiannya dari perintah Allah dengan gimik-gimik kebenaran yang tidak terkait dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Orang yang diseru pada shirat al-mustaqim adalah orang-orang yang bertaubat bersamanya. Menyeru orang-orang yang tidak bertaubat akan mendatangkan masalah yang relatif banyak. Hawa nafsu orang-orang yang tidak tertata boleh jadi akan membentuk suatu pemikiran baru yang tidak mengarah pada langkah mendekat kepada Allah hingga suatu kebaikan yang diserukan boleh jadi menjadi keburukan karena hawa nafsu. Bila yang diseru adalah orang-orang yang bertaubat, nilai-nilai kebaikan yang diserukan kemungkinan besar akan tumbuh pada orang-orang yang diseru menjadi kebaikan pula sedemikian kebaikan itu akan menjadi subur di antara masyarakat. Kedekatan penyeru dan orang yang diseru dalam kebersamaan akan memudahkan metode penyampaian amanah Allah, karenanya yang diseru adalah orang-orang yang bertaubat bersama dengan diri penyeru.

Kandungan ayat kitabullah yang dapat dipahami seseorang bisa sangat luas walaupun misalnya hanya hanya berasal dari satu ayat saja. Misalnya seseorang dapat memahami peristiwa dunia dari perang-perang dunia yang terjadi, terbentuknya negara-negara sekutu dengan kuasa yang tidak adil, pengaruh mereka dalam kehidupan berbangsa dalam negeri sendiri, pengaruhnya terhadap ulah-ulah oknum para pejabat negara yang mengambil kebijakan menyengsarakan masyarakat hingga perilaku rumah tangga diri mereka sendiri, seluruhnya bisa diperoleh dari kandungan satu ayat kitabullah saja. Lebih dari itu, bisa jadi mereka mempunyai ilmu tentang ekonomi negara, pengetahuan tentang lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan sumber daya manusia dan lain sebagainya dari satu ayat kitabullah yang sama. Orang-orang yang diseru hendaknya berusaha memahami apa-apa yang terhubung dengan ayat kitabullah yang ditunjukkan, dan penyeru hendaknya menyampaikan apa-apa yang sesuai dengan pendengarnya, yaitu pendengarnya mengetahui bahwa yang disampaikan merupakan bagian dari seruan shirat al-mustaqim. Yang penting, orang yang bertaubat bersama dirinya dapat mengenal shirat al-mustaqim, walaupun harus memulai dari sedikit pengetahuan. Seseorang hendaknya tidak dituntut beramal tanpa suatu pengetahuan hubungan amalnya dengan ayat kitabullah. Tuntutan beramal dengan cara demikian seringkali menjadikan seseorang bertindak berlebihan.

Orang-orang yang diseru hendaknya memperhatikan pokok seruan berupa ayat-ayat Allah. Ayat-ayat kitabullah itulah yang menjadi seruan shirat al-mustaqim, sedangkan penjelasan orang-orang yang menyeru hanya bersifat membantu memahami shirat al-mustaqim. Bila seseorang tidak memahami ayat kitabullah yang diserukan, ia tidak akan melihat shirat al-mustaqim sekalipun memahami pekerjaan yang harus dilakukan. Shirat al-mustaqim itu hanya apa-apa yang diserukan oleh ayat kitabullah Alquran, tidak ada di luar yang diserukan. Hal demikian harus benar-benar disadari oleh orang yang mengharapkan shirat al-mustaqim, tidak mengambil urusan Allah tanpa landasan firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala suatu kaum justru mempertuhankan orang-orang yang menyeru kepada shirat al-mustaqim, melaksanakan semua perintah-perintahnya tetapi mengabaikan ayat kitabullah yang diserukan tidak berusaha mengetahui perintah Allah melalui ayat kitabullah yang diserukan. Mempertuhankan manusia merupakan satu tanda suatu kaum melampaui batas.

Setiap usaha menyeru hendaknya dilakukan tanpa melampaui batas. Ilmu-ilmu diajarkan agar para pentaubat dapat memahami amal yang dapat dilakukan untuk menegakkan shirat al-mustaqim, dan kemudian ia dapat beramal tanpa melampaui batas. Manakala seseorang bertindak tanpa suatu ilmu misalnya, ia akan sangat mudah bertindak melampaui batas. Bila seseorang dituntut mentaati suatu urusan tanpa didukung dengan pengetahuan tentang urusannya, mereka mungkin akan terjatuh pada ketaatan buta hingga kadangkala bersikap mempertuhankan manusia. Ketaatan buta merupakan tanda melampaui batas. Setiap rantai dari kelahiran amal shalih hendaknya dibina dengan sebaik-baiknya agar manusia tidak terjatuh pada sikap berlebihan.

Upaya mewujudkan amal shalih hendaknya dimulai dengan membuka pemahaman para pentaubat terhadap kehendak Allah, tidak digegas mewujudkan amal tanpa suatu landasan pemahaman. Shirat al-mustaqim benar-benar dimulai dari keterbukaan pemahaman terhadap masalah kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah, bukan dalam bentuk perintah amal tertentu. Amal yang harus dilaksanakan di shirat al-mustaqim secara umum lebih banyak terbit dari akal manusia, dan hanya beberapa di antara amal itu berbentuk perintah amal tertentu. Boleh jadi keumuman itu berbeda dengan orang-orang khusus. Hendaknya amal shalih sebagai turunan shirat al-mustaqim diwujudkan dengan cara yang sama yaitu memberikan wawasan tentang keadaan kauniyah kemudian diikuti amal shalih yang sesuai dengan wawasan itu. Suatu perintah amal tidak akan bisa dilaksanakan dengan efektif tanpa landasan pemahaman masalah. Perintah tanpa memberikan pengetahuan kepada yang diberi perintah hendaknya dihindari. Produktifitas amal seseorang akan sangat dipengaruhi oleh landasan pemahamannya terhadap persoalan. Seseorang yang memahami masalah akan melahirkan amal-amal yang produktif sesuai dengan masalahnya, sedangkan orang-orang yang tidak memahami masalah akan sulit mewujudkan produktifitas.



Selasa, 23 September 2025

Menemukan Gerbang Shirat Al-Mustaqim

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan itu adalah shirat al-mustaqim (jalan yang lurus). Jalan yang lurus menunjuk pada jarak terpendek yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan, dan shirat al-mustaqim merupakan jalan terpendek yang dapat ditempuh setiap hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Setiap hamba Allah tentulah menginginkan suatu kedekatan kepada sumber kebaikan mutlaq bagi diri mereka, dan mereka mengenal Allah sebagai sumber kebaikan tersebut. Untuk itu, mereka selalu berdoa kepada Allah untuk memberikan petunjuk shirat al-mustaqim.

﴾۶﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS Al-Fatihah : 6)

Jalan itu adalah jalan yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya. Seorang hamba tidak akan mengetahui shirat al-mustaqim tanpa ijin Allah. Walaupun demikian, setiap hamba bisa berusaha untuk mengetahui shirat al-mustaqim dan memohon kepada Allah untuk menunjukkan kepada dirinya shirat al-mustaqim. Allah akan memberikan petunjuk shirat al-mustaqim kepada hamba-hamba yang benar-benar mencari jalan untuk kembali kepada-Nya.

Pengenalan terhadap shirat al-mustaqim merupakan sesuatu dari puncak tujuan kehidupan manusia. Artinya, sebenarnya shirat al-mustaqim merupakan sesuatu yang berjarak dari kebanyakan umat manusia bahkan umat islam, karena shirat al-mustaqim merupakan sesuatu yang harus dituju. Secara umum, manusia berada pada common ground yang berjarak dari shirat al-mustaqim, dan berjarak pula dari golongan yang dimurkai dan golongan yang tersesat. Langkah yang mereka tempuh mendekatkan diri mereka pada salah satu dari tiga keadaan yaitu sesat, dimurkai atau diberi nikmat Allah. Ada orang-orang islam yang telah mengenal shirat al-mustaqim, dan mereka itu adalah orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Orang-orang islam kebanyakan seharusnya berharap dengan sungguh-sungguh agar Allah memberikan kepada dirinya petunjuk untuk mengenal shirat al-mustaqim, bukan mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang berada di atas shirat al-mustaqim.

Turunnya petunjuk itu membutuhkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi sang hamba., utamanya adalah terbentuknya akhlak mulia pada sang hamba. Akhlak mulia seorang hamba merupakan cerapan akhlak makhluk terhadap kehendak Allah terutama cerapan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seorang makhluk yang dapat memahami dengan tepat kehendak Allah atas dirinya dengan memahami kebaikan-kebaikan dalam kehendak tersebut dan pemahaman itu dapat diukur berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, makhluk demikian merupakan makhluk yang mempunyai akhlak mulia. Dengan akhlak mulia, seseorang dapat merespon kauniyah yang terjadi sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Iblis mempunyi kecerdasan yang tinggi tetapi tidak mampu memahami perintah Allah dengan tepat. Sekalipun cerdas, tetapi akhlak Iblis bukanlah akhlak yang mulia karena tidak mencerap kehendak Allah dengan benar.

Akhlak mulia dibina dengan mengikuti tuntunan Alquran. Ada suatu tahapan yang bisa menjadi bukti terbentuknya akhlak mulia berupa pengenalan seseorang terhadap penciptaan diri. Itu adalah bukti pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah secara khusus kehendak-Nya atas penciptaan dirinya. Akan terbuka kepada seseorang pengetahuan tentang keadaan kauniyah yang dihadapinya selaras dengan penjelasan-penjelasan kitabullah dan ia mengetahui peran yang harus dilaksanakan terkait dengan keadaan kauniyahnya. Pengetahuan itu mungkin bersifat khusus, tetapi sangat luas dan mendalam walaupun tetap saja sangat banyak hal yang tidak diketahuinya. Bagi beberapa orang, pengetahuan itu berupa pengetahuan hakikat bukan pengetahuan dalam tingkatan praktis. Pengenalan itu merupakan gerbang seseorang memasuki agama (addiin), yaitu pengetahuan seseorang terhadap fitrah untuk apa dirinya diciptakan.

Pengenalan diri dimulai dari pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah, bukan dari pengenalan terhadap potensi-potensi diri. Sebenarnya kedua metode pencarian jati diri tersebut akan saling bersinergi, tetapi setiap orang harus menempatkan keikhlasan sebagai metode utama. Seringkali hamba Allah melupakan keikhlasan dirinya dan berusaha mencari jati diri tanpa disertai keinginan mengetahui kehendak Allah. Apabila kedua metode itu dipisah, seseorang yang ingin mengenal kehendak Allah hingga mengenal bentuk amal yang harus ditunaikan dirinya mempunyai peluang jauh lebih besar untuk mengenal diri daripada orang-orang yang mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dirinya. Keinginan mengenal kehendak Allah ini merupakan bentuk keikhlasan dalam ibadah yang tidak dicampuri hawa nafsu. Pencarian jati diri melalui potensi diri seringkali menimbulkan berkas kebanggaan diri yang mungkin bisa menimbulkan potensi bahaya bagi pencarinya, sedangkan keikhlasan ibadah akan menjaga seseorang dari hawa nafsu. Dalam perjalanan pencarian, keikhlasan akan membantu terbentuknya pengetahuan secara integral hingga seseorang tetap berada pada al-jamaah tidak menyimpang. Kebutuhan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan menyertai orang-orang yang ikhlash beribadah kepada Allah hingga kedua tuntunan itu dapat membantu menjaga dirinya dari penyimpangan.

Gerbang agama berupa pengenalan diri itu berbentuk pengetahuan hakikat dari suatu ayat dari kitabullah Alquran. Orang yang ingin mengenal kehendak Allah tentulah mencari pengetahuan dari kitabullah Alquran dan dari ayat-ayat kauniyah yang dihadapinya, tidak mengandalkan pengetahuan diri tentang dirinya. Gerbang agamanya akan ditemukan dari kitabullah Alquran. Orang yang bertanya tentang jadi dirinya barangkali akan mencari pengetahuan dari diri sendiri sehingga akan mengalami kesulitan menemukan gerbang agamanya. Boleh jadi seseorang berkutat pada suatu bidang pemikiran tertentu yang sebenarnya telah sesuai dengan urusan yang harus ditunaikan dalam kehidupannya tetapi ia tidak mengetahui bahwa amr Allah untuk dirinya adalah bidang yang digelutinya selama ini. Hal ini tidak membuat dirinya mengenal diri hingga ia menemukan suatu ayat kitabullah Alquran tertentu yang menjelaskan bidang yang digelutinya. Selama ia belum mengalami keterbukaan makna hakiki dari tuntunan kitabullah yang terkait urusannya, ia tidak dapat dikatakan mengenal dirinya walaupun telah menjalankan urusannya dengan baik.

Al-Jamaah Sebagai Sarana Kemudahan

Ada suatu kemudahan yang disediakan bagi manusia untuk mengenal gerbang agamanya, yaitu keberjamaahan. Suatu kaum akan menghadapi persoalan jaman yang relatif mempunyai kesamaan antara satu orang dengan orang lain sedemikian satu orang yang mengenal gerbang agamanya dapat menolong orang lain yang ingin mengenal gerbang agamanya. Ayat kitabullah yang menuntun mereka menghadapi persoalan jaman seringkali sama, satu ayat menjadi gerbang untuk banyak manusia. Dengan karakter demikian, suatu kaum akan memperoleh kemudahan untuk mengenal gerbang agamanya melalui kebersamaan di antara mereka. Hal ini akan terjadi apabila setiap orang pada kaum tersebut mempunyai keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Sayangnya kebanyakan manusia tidak membangun cukup keikhlasan dalam mencari agamanya, maka pandangan mereka tertutup dari kemudahan yang disediakan Allah. Apabila mereka mau mendengarkan pemahaman salah satu orang di antara mereka terhadap kehendak Allah, mereka akan lebih mudah memahami gerbang agama bagi mereka.

Kemudahan ini harus disikapi dengan tepat oleh setiap hamba Allah. Sebagian hamba Allah bersikap terlalu mengagungkan orang-orang yang dianggap telah mengenal shirat al-mustaqim hingga tidak mengetahui batas-batas uluhiyah. Uluhiyah dalam hal ini menunjuk pada sumber mutlak dari kebenaran yang harus diperjuangkan oleh para hamba Allah, dan tidaklah ada Ilah bagi seluruh makhluk kecuali Allah. Kadang-kadang hamba-hamba Allah bersikap berlebihan terhadap orang-orang yang dianggap mengenal shirat al-mustaqim dengan menganggap semua hal yang disampaikan sebagai kebenaran yang harus diperjuangkan tanpa memeriksa dari sumber asli berupa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pada kasus berat, bahkan apa-apa yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dianggap pula layak diperjuangkan. Pada tingkat ringannya, sikap berlebihan itu terjadi dengan menganggap semua yang disampaikan seseorang sebagai kebenaran yang harus diperjuangkan tanpa memeriksa duduk kebenarannya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini mencederai prinsip syahadat bahwa tiada Ilah selain Allah.

Kelayakan mukminin memperjuangkan suatu kebenaran harus dimulai dari kepastian sumber kebenaran dari sisi Allah, tidak berhenti memeriksa asal-usul kebenaran itu pada sumber yang lain. Bagi hamba Allah, kebenaran yang paling penting untuk diperjuangkan hanyalah kebenaran yang dapat diverifikasi sebagai kebenaran dari sisi Allah. Setiap orang harus berjuang untuk menegakkan kebenaran sejauh yang dapat dikenali dan dapat diupayakan, dan selalu berusaha memperhatikan bertambahnya tingkat pengenalan terhadap kebenaran yang diperjuangkan. Untuk hamba Allah, tingkat kebenaran itu akan meningkat selaras dengan tingkat pemahaman terhadap ayat Allah, baik kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun kauniyah. Kaum mukminin harus berusaha menemukan kebenaran dan memperjuangkan kebenaran yang dapat ditemukan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh terhenti pada suatu kebenaran dari sumber yang lain. Itu merupakan suatu bentuk dari tauhid uluhiyah. Banyak mukminin yang memperjuangkan kebenaran tetapi sebenarnya hanya merupakan sesuatu yang dikatakan sebagai kebenaran, bukan kebenaran yang dikenalinya sendiri.

Keadaan Shirat Al-Mustaqim

Rasulullah SAW menggambarkan keadaan shirat al-mustaqim sebagaimana berikut :

ضَرَبَ اللهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللهِ، وَالدَّاعِي مِنِ فَوْقَ الصِّرَاطِ: وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

An-Nawwās bin Sam'ān Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah SAW, beliau bersabda,Allah telah membuat sebuah perumpamaan jalan yang lurus. Di dua sisi jalan terdapat dua pagar. Di pagar tersebut terdapat pintu-pintu yang terbuka. Dan di pintu-pintu itu terdapat tirai-tirai yang terurai. Di depan jalan itu terdapat seseorang yang berseru: ‘Wahai manusia, masuklah kalian semua ke jalan ini dan jangan lah berbelok.’ Di atas itu juga terdapat penyeru yang akan memanggil. Apabila ada seseorang yang ingin membuka pintu-pintu tersebut,penyeru di atas jalan berkata: ’Celaka kamu, janganlah engkau membukanya. Jika engkau membukanya, niscaya engkau akan terperosok masuk ke dalamnya.’ Jalan itu adalah Islam. Pagar-pagar itu adalah batasan-batasan Allah. Pintu-pintu yang terbuka itu adalah perkara-perkara yang diharamkan Allah. Penyeru di depan pintu jalan adalah Kitabullah. Penyeru di atas jalan adalah pemberi peringatan dari Allah yang ada di dalam hati setiap muslim.” [HR. Tirmizi dan Ahmad] - [Musnad Ahmad - 17634]

Penyeru manusia di gerbang shirat al-mustaqim itu adalah kitabullah Alquran. Ini adalah ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kepada seorang hamba Allah, maka ayat itu menjadi penyeru kepada hamba itu untuk memasuki shirat al-mustaqim. Keterbukaan itu berupa pengetahuan hakikat suatu ayat kitabullah, bukan sekadar pengetahuan dalam tingkatan tafsir ayat kitabullah. Tidak ada salahnya umat manusia mengikuti tuntunan kitabullah dalam tingkatan tafsir ayat kitabullah apabila tafsir itu dilakukan dengan cara yang benar, tetapi yang menjadi penyeru untuk memasuki shirat al-mustaqim adalah keterbukaan pengetahuan ayat kitabullah pada tingkatan hakikat. Seseorang yang mengalami keterbukaan makna hakikat dari suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya berarti telah tiba pada gerbang agamanya. Orang-orang yang lain bisa mengikuti langkah orang tersebut agar ia lebih mudah mengalami keterbukaan makna hakikat suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya, maka ia akan lebih mudah mengenali gerbang agamanya.

Shirat al-mustaqim itu merupakan agama, dan gerbang agama itu adalah keterbukaan pengetahuan hakikat dari suatu ayat Alquran. Dalam terminologi lain, gerbang agama itu disebut sebagai pengenalan diri (ma’rifatun-nafs). Sebenarnya terminologi ini mengungkapkan keadaan yang sama. Yang terjadi pada diri seseorang saat pengenalan diri (ma’rifatun-nafs) adalah keterbukaan pengetahuan hakikat dari suatu ayat kitabullah tertentu yang merupakan amanah yang harus ditunaikan dirinya. Peristiwa ini merupakan penanda utama pengenalan diri yang benar. Ada beberapa bentuk pengenalan diri yang mungkin terjadi pada seorang hamba Allah, dan pengenalan diri yang sebenarnya adalah keterbukaan pengetahuan hakikat dari suatu ayat kitabullah yang merupakan amanah bagi sang hamba tersebut. Pengenalan diri yang demikian itulah yang merupakan gerbang dari shirat al-mustaqim.

Penjelasan demikian tidaklah menganggap kafir atau mengkafirkan orang-orang yang belum mengalami keterbukaan terhadap ayat-ayat Allah yang harus mereka perjuangkan. Hanya saja harus disadari bahwa orang-orang yang benar-benar telah menempuh shirat al-mustaqim hanyalah dalam kriteria demikian. Orang yang belum mengenal shirat al-mustaqim tidaklah hanya dari kalangan orang-orang kafir. Secara umum, manusia berada pada common ground yang berjarak dari shirat al-mustaqim, dan berjarak pula dari golongan yang dimurkai dan golongan yang tersesat. Langkah yang mereka tempuh mendekatkan diri mereka pada salah satu dari tiga keadaan yaitu sesat, dimurkai atau diberi nikmat Allah. Shirat al-mustaqim merupakan jalan yang diberikan kepada hamba Allah yang benar-benar menginginkan kedekatan kepada Allah. Boleh jadi sangat banyak orang yang tidak mengenal shirat al-mustaqim kelak akan memperoleh surga Allah dalam tingkatan rendah setelah perjalanan berat yang ditempuhnya mungkin melalui neraka. Kaum muslimin diperintahkan untuk berharap shirat al-mustaqim tidak terlena dari berharap demikian, dan tidak boleh menantang perjalanan yang berat tersebut.

Pengenalan diri adalah gerbang memasuki agama. Sangat banyak perjuangan yang harus dilakukan seseorang manakala memasuki shirat al-mustaqim dan setiap mukmin tidak boleh berpaling dari shirat tersebut. Sangat banyak jalan-jalan lain yang akan menggoda orang beriman yang meniti shirat al-mustaqim, sedangkan bisa saja perjuangan di shirat al-mustaqim itu berat untuk dilaksanakan. Kadangkala seorang mukmin harus berhenti tidak bisa melakukan amal apapun yang mendatangkan hasil di shirat al-mustaqim, atau semua amal yang dapat dilakukannya di shirat al-mustaqim tampak tidak mendatangkan hasil apapun baik bagi dirinya ataupun bagi umatnya. Ia tampak menjadi orang yang sia-sia. Hal-hal demikian tidak boleh menjadikan dirinya berpaling dari shirat al-mustaqim untuk menempuh pintu-pintu yang lain. Ia harus tetap berada di shirat al-mustaqim apapun keadaan yang terjadi.

Keadaan sia-sia demikian bukan sifat dari amal seseorang di shirat al-mustaqim. Seseorang tidak boleh beramal hanya karena merasa mengetahui perintah Allah tanpa mengetahui nilai kebaikan di dalamnya. Semua amal yang dilakukan seseorang di shirat al-mustaqim mempunyai bobot nilai kebaikan yang sangat besar baik bagi dirinya ataupun umat manusia seluruhnya. Tetapi kadangkala umat manusia tidak bisa menerima apa-apa yang dilakukannya maka amal yang dilakukan seseorang di shirat al-mustaqim bisa menjadi mandul atau bahkan mendatangkan adzab sebagaimana beberapa nabi tampak dalam pandangan manusia mendatangkan adzab. Seseorang di shirat al-mustaqim harus mengetahui nilai kebaikan dari amal yang dilakukannya, dan tetap melakukannya tidak meninggalkannya sekalipun mandul sia-sia. Apabila ia memasuki pintu-pintu lain yang terbuka selain dari shirat al-mustaqim, ia akan celaka.

Menapaki shirat al-mustaqim membutuhkan suatu tekad yang kuat (‘adzimah) dalam pengabdian kepada Allah. Shirat al-mustaqim tidak boleh ditinggalkan orang-orang yang telah diseru kepadanya untuk mencari kemudahan kecuali seseorang akan celaka. Dengan keadaan semacam ini, tidak semua orang islam ditempatkan di shirat al-mustaqim. Hendaknya seseorang tidak terburu-buru mengharapkan tiba di gerbang shirat al-mustaqim kecuali ia telah mempunyai tekad yang kuat dalam pengabdian kepada Allah. Orang-orang yang telah mempunyai ‘adzimah pengabdian itu yang akan selamat menempuh shirat al-mustaqim.

Minggu, 21 September 2025

Mendengarkan dan Pendidikan Hawa Nafsu

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Setiap orang beriman harus menumbuhkan sikap mau mendengarkan perkataan-perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.

﴾۸۱﴿الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولٰئِكَ هُمْ أُولُوا الْأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az-Zumar : 18)

Mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang paling baik akan mendatangkan petunjuk dan menumbuhkan akal. Hal ini berlaku apabila seseorang senang mendengarkan perkataan kebenaran dan ingin memahaminya. Perkataan yang dibutuhkan orang-orang demikian adalah perkataan yang baik, yaitu perkataan yang mendatangkan kebaikan bagi makhluk. Sebenarnya seluruh kebaikan datang dari sisi Allah, dan perkataan yang lebih baik itu adalah perkataan yang dinyatakan oleh orang-orang yang lebih mengenal Allah. Kebutuhan terhadap perkataan yang baik dan kebutuhan mengikuti perkataan terbaik merupakan sifat penanda orang yang memperoleh petunjuk dan berakal (أُولُوا الْأَلْبَابِ).

Sikap demikian merupakan hasil dari suatu proses berupa kemauan mendengarkan dan menggunakan akal. Kemauan mendengarkan merupakan bentuk dasar dari kebutuhan mendengarkan. Kebutuhan untuk mendengarkan perkataan yang baik akan tumbuh apabila seseorang mau mendengarkan perkataan yang baik dan menggunakan akalnya untuk menimbang nilai-nilai kebaikan yang ada pada suatu perkataan. Kemampuan menilai bobot kebaikan suatu perkataan ditentukan dengan kelurusan akal yang terbina sesuai dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak berusaha membina akhlak Alquran dalam dirinya, manusia tidak akan bisa menimbang kebaikan suatu perkataan dengan benar. Boleh jadi mereka menganggap sesuatu yang buruk sebagai kebaikan, dan menganggap suatu perkataan yang baik sebagai suatu perkataan hawa nafsu.

Keterampilan mendengarkan akan menjadi mudah diasah apabila disertai dengan usaha memperkuat akal untuk memahami kehendak Allah. Orang-orang yang berusaha menggunakan akal untuk memahami ayat Allah akan menjadi mudah membina keterampilan mendengarkan. Salah satu jebakan dalam langkah agama yang menjadikan orang tidak mendengarkan adalah sikap tidak menggunakan akal. Mungkin seseorang atau suatu kaum menjadi orang-orang yang mempunyai pendengaran bathin, mata bathin hingga qalb karena keimanannya, tetapi mereka memperturutkan persepsi indera-indera bathin mereka untuk melangkah tanpa menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Ini bisa menjadikan mereka orang yang tidak mendengar dan menjadi celaka sebagai orang-orang yang paling tersesat. Mereka mengabaikan tuntunan ayat-ayat Allah karena mengikuti persepsi indera-indera bathin sendiri.

Mendidik Hawa Nafsu

Banyak orang yang dipandang manusia mendengar atau memahami tetapi sebenarnya mereka tidak mendengar atau memahami. Ketika seseorang melakukan tugas hanya berdasarkan doktrin-doktrin dari pihak-pihak yang berkepentingan tanpa mengetahui manfaat dari doktrin yang dijalankannya, maka sebenarnya orang tersebut tidaklah mendengar atau memahami tugasnya sekalipun orang banyak melihatnya pandai melaksanakan urusannya. Sebaliknya, misalnya seorang menteri keuangan melihat masalah kesenjangan di negerinya dan membuat kebijakan-kebijakan keuangan yang benar untuk mengatasi kesenjangan, itu menunjukkan adanya kemampuan memahami masalah. Mendengar dan memahami dalam hal ini ditunjukkan dengan pengetahuan terhadap kebenaran. Orang-orang beriman hendaknya beramal dengan landasan suatu pemahaman terhadap masalahnya.

﴾۴۴﴿أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (QS Al-Furqaan : 44).

Ayat di atas terkait dengan orang-orang yang menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tuhan bagi diri mereka. Mempertuhankan hawa nafsu adalah menganggap hawa nafsu sebagai sumber kebenaran mutlak yang harus diperjuangkan. Mungkin mereka melupakan bahwa Allah telah menurunkan pokok kebenaran dalam bentuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan memandang keilmuan mereka sebagai pokok kebenaran. Mungkin seseorang bersemangat untuk menolong Allah tetapi ia menenggelamkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka sebenarnya ia mempertuhankan hawa nafsunya.

Melarang dua orang mukmin yang ingin melakukan ishlah setelah berselisih bisa menjadi contoh perbuatan mempertuhankan hawa nafsu manakala mereka meyakini kebenaran urusan itu, melupakan perintah Allah mengishlahkan dua mukmin yang berselisih. Hawa nafsu dalam perkara itu kadangkala tampak gejalanya misalnya dalam bentuk menyepelekan pihak yang menginginkan ishlah mempertanyakan kedudukan para pelaku ishlah itu di antara manusia. Pertanyaan demikian sangat tidak diperlukan. Tidak ada ishlah di antara mukminin yang menimbulkan madlarat baik mereka hina ataupun mulia dalam pandangan manusia. Sebenarnya tidak ada mukmin yang patut dipandang hina, dan memandang sepele orang mukmin itu sikap yang salah. Ishlah demikian sifatnya berbeda dengan kesepakatan muslim dengan orang-orang musyrik yang mungkin membahayakan hingga boleh jadi perlu dilakukan penyelidikan. Pengabaian terhadap tuntunan Allah untuk mengikuti dorongan hawa nafsu seperti di atas bisa menjadi contoh perbuatan mempertuhankan hawa nafsu.

Kadangkala mempertuhankan hawa nafsu tampak sebagai perbuatan yang baik. Mungkin segolongan muslim berusaha mewujudkan kemakmuran di bumi, tetapi mengingkari millah membentuk rumah tangga sebagai bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Aturan dan norma dibuat untuk dapat mengakomodasi penyimpangan dari tuntunan pernikahan menurut agama. Orang miskin mungkin dibuat kehilangan haknya untuk menikah sekalipun kedua pihak telah bisa saling menerima, atau mungkin orang-orang yang telah menemukan jodohnya sesuai tuntunan agama dengan mudah dicerai-beraikan, atau bahkan suami isteri yang telah menikah dibuat untuk bisa saling mengkhianati secara wajar. Biasanya keadaan demikian dibuat dengan mengakomodasi aturan-aturan dan norma-norma jahiliyah dan hal-hal lain yang dapat merusak proses terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Hal demikian merupakan contoh sikap mempertuhankan hawa nafsu.

Kadangkala pemikiran orang demikian dihiasi pandangan baik tanpa menyadari akibat yang ditimbulkan. Mereka bisa jadi memandang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah kebenaran mutlak, tetapi manakala berbicara tuntunan Allah secara terinci mereka menolak tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang paling tepat untuk menjadikan baik keadaan diri mereka. Mereka mungkin menganggap tafsiran orang lain terhadap tuntunan itu tidak dilakukan dengan benar, sedangkan sebenarnya ia sendiri lah yang mempertuhankan hawa nafsu. Seandainya ia berusaha untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang disampaikan kepadanya, niscaya ia akan menemukan makna yang penting bagi dirinya pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tersebut. Hal itu terjadi karena mereka tidak mau mendengarkan perkataan orang lain dan tidak berusaha untuk memahami masalah dengan benar.

Hawa nafsu merupakan entitas semu dalam diri manusia yang bersifat bodoh tidak mau memahami nilai-nilai kebaikan, dan ia berkebutuhan terhadap penghormatan makhluk. Mungkin ia mengatakan tidak membutuhkan penghormatan, tetapi manakala terlihat keburukannya ia menjadi sakit atau takut hingga tidak mampu mengikuti kebenaran atau bahkan berusaha menutupi kebenaran daripada mengikutinya. Hal demikian menunjukkan kebutuhan terhadap penghormatan. Tentu tidak perlu membongkar keburukan, tetapi keburukan hawa nafsu akan melemahkan jihad menolong Allah. Hawa nafsu mungkin membangun suatu struktur pengetahuan yang rigid dan kompleks, tetapi struktur pengetahuan itu boleh jadi tidak mendatangkan manfaat bagi umat. Manakala seseorang memperturutkan pengetahuan diri tanpa berusaha mempertimbangkan kebaikan bagi umat, ia boleh jadi telah terjatuh pada memperturutkan hawa nafsu. Bila seseorang mengagungkan struktur pengetahuan dirinya tanpa ingin mendengarkan atau memahami nilai-nilai kebaikan yang harus dicapai dengan ilmunya, boleh jadi ia sebenarnya mempertuhankan hawa nafsu.

Hawa nafsu sangat dibutuhkan oleh setiap manusia sebagai kendaraan untuk memperoleh pengetahuan. Setiap orang harus merawat hawa nafsu masing-masing dengan baik agar dapat digunakan untuk memahami keadaan dunia yang harus dimakmurkan. Tanpa hawa nafsu, manusia akan kesulitan untuk memahami keadaan duniawi dirinya atau untuk melakukan amal-amal shalih. Merawat artinya mendidik dan memberikan pengetahuan kepada hawa nafsu agar tumbuh dengan baik sekaligus tidak tumbuh secara liar atau keliru, dan hawa nafsu itu dapat digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Bila hawa nafsu tumbuh liar, ia akan menguasai manusia dan bisa saja justru menjadi tuhan bagi diri mereka. Harus diperhatikan bahwa setinggi-tingginya keterdidikan hawa nafsu, seseorang tidak boleh menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan yang menjadi sumber kebenaran. Sumber kebenaran Allah terdapat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang tidak boleh menempatkan diri lebih tinggi daripada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sekalipun hawa nafsunya telah terdidik dengan sangat baik. Hawa nafsu bisa mengalirkan kebenaran, tetapi bukan sumber kebenaran.

Buruknya Mempertuhankan Hawa Nafsu

Mempertuhankan hawa nafsu merupakan kesesatan yang lebih jauh dari dari memperturutkan hawa nafsu dimana seseorang benar-benar menganggap hawa nafsunya sebagai sumber kebenaran. Mereka tidak ingat bahwa Allah telah menurunkan pokok kebenaran dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan memandang keilmuan mereka sebagai pokok kebenaran. Setiap bentuk pengetahuan yang tidak dilandasi suatu penghayatan nilai kebaikan dapat menjadi bentuk pengetahuan hawa nafsu, dan manusia dapat terjatuh hingga memperturutkan atau bahkan mempertuhankan hawa nafsu itu.

Allah bertanya kepada orang beriman, “apakah kalian bisa menjadi wakil (bagi orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu mereka)?”. Pertanyaan ini tampaknya lebih ditujukan kepada orang-orang yang berkewajiban mengurus atau berurusan dengan orang demikian, menggambarkan tingginya tingkat kesulitan dalam berhadapan dengan orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu. Orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu akan menjadi makhluk yang mendatangkan masalah dalam tingkat yang mungkin tidak teratasi sedemikian Allah bertanya dengan pertanyaan demikian. Sangat sulit bagi seseorang untuk menjadi wakil yang ikut menanggung masalah dari orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu. Kebenaran mereka ditentukan berdasarkan hawa nafsu sedemikian orang-orang shalih tidak dapat meraba kebenaran versi orang yang dihadapi. Dengan keadaan demikian, orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu tidak akan bisa diwakili oleh orang lain, dan keilmuan mereka justru bisa mendatangkan kesulitan bagi orang lain.

Pada sisi tertentu, barangkali orang beriman tidak perlu memaksakan diri menyatukan langkah bersama. Apabila tampak sikap mempertuhankan hawa nafsu di antara orang-orang, orang beriman tidak harus berusaha menyatukan diri bersama-sama karena mereka tidak akan dapat menanggung kerusakan yang ditimbulkan. Sekalipun bisa menasihati, mereka mungkin tetap akan mengikuti kebenaran tuhannya sendiri menyimpang dari ketentuan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala mereka menerapkan aturan-aturan dari hawa nafsu mereka terhadap orang lain sedangkan aturan-aturan itu tidak mempunyai landasan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang beriman hendaknya tetap berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengikuti aturan yang mereka terapkan.

Sikap demikian seringkali tidak mudah dilakukan. Seringkali manusia memandang orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu adalah orang-orang yang mendengar dan memahami. Hawa nafsu yang mereka pertuhankan mungkin akan menjadi entitas cerdas yang bisa dibantu oleh syaitan sedemikian hawa nafsu itu bisa bercerita dengan pengetahuan yang banyak bagi orang lain, termasuk pengetahuan-pengetahuan yang merupakan rahasia bagi manusia. Dengan cara demikian, boleh jadi umat manusia akan memandang orang demikian sebagai orang-orang yang mendengar dan memahami. Sebenarnya pandangan itu tidaklah benar. Mereka bukanlah orang-orang yang mendengar dan bukan orang-orang yang memahami. Mereka itu sebenarnya orang yang tersesat dengan kesesatan yang jauh.

Masalah berikutnya, Allah bertanya kepada orang-orang beriman : ”atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami?. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya”. Pertanyaan itu tampaknya ditujukan kepada masyarakat yang lebih umum daripada pertanyaan ayat di atasnya. Umumnya persangkaan orang-orang kebanyakan terhadap orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu itu adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang mendengar dan memahami. Persangkaan demikian sebenarnya keliru. Dalam pandangan Allah, mereka itu hanya seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya.

Kesesatan itu akan dapat diketahui manakala diukur dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang yang benar dalam menempuh langkah akan dapat mendengarkan dan memahami pengajaran tentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ia dapat mendengarkan pengajaran kebenaran dari orang lain, tidak hanya mengikuti dorongan dalam diri sendiri dalam mengikuti kebenaran. Demikian pula ia akan bisa memahami kebenaran dari orang lain tidak hanya meyakini kebenaran dalam dirinya sendiri. Bila seseorang hanya meyakini kebenaran hanya terdapat pada diri sendiri dan menganggap tidak ada kebenaran dari perkataan orang lain, mereka sebenarnya tidak dapat mendengarkan dan tidak dapat memahami.

Pada pokoknya, mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di bumi karena pemahaman terhadap kehendak Allah secara benar. Seandainya hanya memahami sepotong kebenaran, mereka mengetahui titik kelanjutan yang benar dari potongan yang dikenalinya tidak kemudian tiba pada titik menyimpang mengikuti kesesatan. Orang-orang yang disangka mendengar dan memahami kadang tidak mengetahui arah yang harus dituju untuk mewujudkan kebaikan di alam bumi, baik arah untuk diri sendiri ataupun arah untuk umatnya, maka mereka mendatangkan kerusakan. Keadaan umat akan menjadi kacau balau. Mereka tidak membina diri untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tetapi bisa saja justru merusaknya dengan kerusakan yang besar. Manusia dididik untuk menyimpang dari ajaran Allah, para perempuan menjadi para perempuan tanpa ketaatan terhadap suaminya, shilaturahmi antara suami isteri dan antara manusia dipotong-potong dibuat saling bermusuh-musuhan dan lain-lain. Sulitnya, ada orang-orang yang melakukan hal demikian atas nama Allah. Itu bisa terjadi karena mereka mempertuhankan hawa nafsu hingga sebenarnya mereka tidak mendengar dan tidak memahami kehendak Allah.

Melaksanakan kehendak Allah hendaknya dilakukan dengan menggunakan akal yang memahami kehendak-Nya. Setiap orang hendaknya berusaha melaksanakan perintah-perintah Allah dengan berusaha memahami kandungan kebaikannya. Terkait dengan urusan Allah yang harus ditunaikan, hendaknya ia tidak mengatakan dirinya membawa perintah Allah kepada orang lain tanpa memahami kandungan kebaikan pada perintah itu. Suatu pemahaman yang benar berbentuk pemahaman terhadap nilai-nilai kebaikan yang akan terwujud manakala kehendak Allah itu dilaksanakan, hingga pikiran tingkat hawa nafsunya memahami. Pernyataan seseorang dalam menunaikan perintah Allah harus disampaikan dengan membacakan tuntunan ayat kitabullah yang harus ditunaikan, tidak mengaku-aku saja menunaikan perintah Allah.