Pencarian

Minggu, 21 September 2025

Mendengarkan dan Pendidikan Hawa Nafsu

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Setiap orang beriman harus menumbuhkan sikap mau mendengarkan perkataan-perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.

﴾۸۱﴿الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولٰئِكَ هُمْ أُولُوا الْأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az-Zumar : 18)

Mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang paling baik akan mendatangkan petunjuk dan menumbuhkan akal. Hal ini berlaku apabila seseorang senang mendengarkan perkataan kebenaran dan ingin memahaminya. Perkataan yang dibutuhkan orang-orang demikian adalah perkataan yang baik, yaitu perkataan yang mendatangkan kebaikan bagi makhluk. Sebenarnya seluruh kebaikan datang dari sisi Allah, dan perkataan yang lebih baik itu adalah perkataan yang dinyatakan oleh orang-orang yang lebih mengenal Allah. Kebutuhan terhadap perkataan yang baik dan kebutuhan mengikuti perkataan terbaik merupakan sifat penanda orang yang memperoleh petunjuk dan berakal (أُولُوا الْأَلْبَابِ).

Sikap demikian merupakan hasil dari suatu proses berupa kemauan mendengarkan dan menggunakan akal. Kemauan mendengarkan merupakan bentuk dasar dari kebutuhan mendengarkan. Kebutuhan untuk mendengarkan perkataan yang baik akan tumbuh apabila seseorang mau mendengarkan perkataan yang baik dan menggunakan akalnya untuk menimbang nilai-nilai kebaikan yang ada pada suatu perkataan. Kemampuan menilai bobot kebaikan suatu perkataan ditentukan dengan kelurusan akal yang terbina sesuai dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak berusaha membina akhlak Alquran dalam dirinya, manusia tidak akan bisa menimbang kebaikan suatu perkataan dengan benar. Boleh jadi mereka menganggap sesuatu yang buruk sebagai kebaikan, dan menganggap suatu perkataan yang baik sebagai suatu perkataan hawa nafsu.

Keterampilan mendengarkan akan menjadi mudah diasah apabila disertai dengan usaha memperkuat akal untuk memahami kehendak Allah. Orang-orang yang berusaha menggunakan akal untuk memahami ayat Allah akan menjadi mudah membina keterampilan mendengarkan. Salah satu jebakan dalam langkah agama yang menjadikan orang tidak mendengarkan adalah sikap tidak menggunakan akal. Mungkin seseorang atau suatu kaum menjadi orang-orang yang mempunyai pendengaran bathin, mata bathin hingga qalb karena keimanannya, tetapi mereka memperturutkan persepsi indera-indera bathin mereka untuk melangkah tanpa menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Ini bisa menjadikan mereka orang yang tidak mendengar dan menjadi celaka sebagai orang-orang yang paling tersesat. Mereka mengabaikan tuntunan ayat-ayat Allah karena mengikuti persepsi indera-indera bathin sendiri.

Mendidik Hawa Nafsu

Banyak orang yang dipandang manusia mendengar atau memahami tetapi sebenarnya mereka tidak mendengar atau memahami. Ketika seseorang melakukan tugas hanya berdasarkan doktrin-doktrin dari pihak-pihak yang berkepentingan tanpa mengetahui manfaat dari doktrin yang dijalankannya, maka sebenarnya orang tersebut tidaklah mendengar atau memahami tugasnya sekalipun orang banyak melihatnya pandai melaksanakan urusannya. Sebaliknya, misalnya seorang menteri keuangan melihat masalah kesenjangan di negerinya dan membuat kebijakan-kebijakan keuangan yang benar untuk mengatasi kesenjangan, itu menunjukkan adanya kemampuan memahami masalah. Mendengar dan memahami dalam hal ini ditunjukkan dengan pengetahuan terhadap kebenaran. Orang-orang beriman hendaknya beramal dengan landasan suatu pemahaman terhadap masalahnya.

﴾۴۴﴿أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (QS Al-Furqaan : 44).

Ayat di atas terkait dengan orang-orang yang menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tuhan bagi diri mereka. Mempertuhankan hawa nafsu adalah menganggap hawa nafsu sebagai sumber kebenaran mutlak yang harus diperjuangkan. Mungkin mereka melupakan bahwa Allah telah menurunkan pokok kebenaran dalam bentuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan memandang keilmuan mereka sebagai pokok kebenaran. Mungkin seseorang bersemangat untuk menolong Allah tetapi ia menenggelamkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka sebenarnya ia mempertuhankan hawa nafsunya.

Melarang dua orang mukmin yang ingin melakukan ishlah setelah berselisih bisa menjadi contoh perbuatan mempertuhankan hawa nafsu manakala mereka meyakini kebenaran urusan itu, melupakan perintah Allah mengishlahkan dua mukmin yang berselisih. Hawa nafsu dalam perkara itu kadangkala tampak gejalanya misalnya dalam bentuk menyepelekan pihak yang menginginkan ishlah mempertanyakan kedudukan para pelaku ishlah itu di antara manusia. Pertanyaan demikian sangat tidak diperlukan. Tidak ada ishlah di antara mukminin yang menimbulkan madlarat baik mereka hina ataupun mulia dalam pandangan manusia. Sebenarnya tidak ada mukmin yang patut dipandang hina, dan memandang sepele orang mukmin itu sikap yang salah. Ishlah demikian sifatnya berbeda dengan kesepakatan muslim dengan orang-orang musyrik yang mungkin membahayakan hingga boleh jadi perlu dilakukan penyelidikan. Pengabaian terhadap tuntunan Allah untuk mengikuti dorongan hawa nafsu seperti di atas bisa menjadi contoh perbuatan mempertuhankan hawa nafsu.

Kadangkala mempertuhankan hawa nafsu tampak sebagai perbuatan yang baik. Mungkin segolongan muslim berusaha mewujudkan kemakmuran di bumi, tetapi mengingkari millah membentuk rumah tangga sebagai bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Aturan dan norma dibuat untuk dapat mengakomodasi penyimpangan dari tuntunan pernikahan menurut agama. Orang miskin mungkin dibuat kehilangan haknya untuk menikah sekalipun kedua pihak telah bisa saling menerima, atau mungkin orang-orang yang telah menemukan jodohnya sesuai tuntunan agama dengan mudah dicerai-beraikan, atau bahkan suami isteri yang telah menikah dibuat untuk bisa saling mengkhianati secara wajar. Biasanya keadaan demikian dibuat dengan mengakomodasi aturan-aturan dan norma-norma jahiliyah dan hal-hal lain yang dapat merusak proses terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Hal demikian merupakan contoh sikap mempertuhankan hawa nafsu.

Kadangkala pemikiran orang demikian dihiasi pandangan baik tanpa menyadari akibat yang ditimbulkan. Mereka bisa jadi memandang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah kebenaran mutlak, tetapi manakala berbicara tuntunan Allah secara terinci mereka menolak tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang paling tepat untuk menjadikan baik keadaan diri mereka. Mereka mungkin menganggap tafsiran orang lain terhadap tuntunan itu tidak dilakukan dengan benar, sedangkan sebenarnya ia sendiri lah yang mempertuhankan hawa nafsu. Seandainya ia berusaha untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang disampaikan kepadanya, niscaya ia akan menemukan makna yang penting bagi dirinya pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tersebut. Hal itu terjadi karena mereka tidak mau mendengarkan perkataan orang lain dan tidak berusaha untuk memahami masalah dengan benar.

Hawa nafsu merupakan entitas semu dalam diri manusia yang bersifat bodoh tidak mau memahami nilai-nilai kebaikan, dan ia berkebutuhan terhadap penghormatan makhluk. Mungkin ia mengatakan tidak membutuhkan penghormatan, tetapi manakala terlihat keburukannya ia menjadi sakit atau takut hingga tidak mampu mengikuti kebenaran atau bahkan berusaha menutupi kebenaran daripada mengikutinya. Hal demikian menunjukkan kebutuhan terhadap penghormatan. Tentu tidak perlu membongkar keburukan, tetapi keburukan hawa nafsu akan melemahkan jihad menolong Allah. Hawa nafsu mungkin membangun suatu struktur pengetahuan yang rigid dan kompleks, tetapi struktur pengetahuan itu boleh jadi tidak mendatangkan manfaat bagi umat. Manakala seseorang memperturutkan pengetahuan diri tanpa berusaha mempertimbangkan kebaikan bagi umat, ia boleh jadi telah terjatuh pada memperturutkan hawa nafsu. Bila seseorang mengagungkan struktur pengetahuan dirinya tanpa ingin mendengarkan atau memahami nilai-nilai kebaikan yang harus dicapai dengan ilmunya, boleh jadi ia sebenarnya mempertuhankan hawa nafsu.

Hawa nafsu sangat dibutuhkan oleh setiap manusia sebagai kendaraan untuk memperoleh pengetahuan. Setiap orang harus merawat hawa nafsu masing-masing dengan baik agar dapat digunakan untuk memahami keadaan dunia yang harus dimakmurkan. Tanpa hawa nafsu, manusia akan kesulitan untuk memahami keadaan duniawi dirinya atau untuk melakukan amal-amal shalih. Merawat artinya mendidik dan memberikan pengetahuan kepada hawa nafsu agar tumbuh dengan baik sekaligus tidak tumbuh secara liar atau keliru, dan hawa nafsu itu dapat digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Bila hawa nafsu tumbuh liar, ia akan menguasai manusia dan bisa saja justru menjadi tuhan bagi diri mereka. Harus diperhatikan bahwa setinggi-tingginya keterdidikan hawa nafsu, seseorang tidak boleh menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan yang menjadi sumber kebenaran. Sumber kebenaran Allah terdapat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang tidak boleh menempatkan diri lebih tinggi daripada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sekalipun hawa nafsunya telah terdidik dengan sangat baik. Hawa nafsu bisa mengalirkan kebenaran, tetapi bukan sumber kebenaran.

Buruknya Mempertuhankan Hawa Nafsu

Mempertuhankan hawa nafsu merupakan kesesatan yang lebih jauh dari dari memperturutkan hawa nafsu dimana seseorang benar-benar menganggap hawa nafsunya sebagai sumber kebenaran. Mereka tidak ingat bahwa Allah telah menurunkan pokok kebenaran dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan memandang keilmuan mereka sebagai pokok kebenaran. Setiap bentuk pengetahuan yang tidak dilandasi suatu penghayatan nilai kebaikan dapat menjadi bentuk pengetahuan hawa nafsu, dan manusia dapat terjatuh hingga memperturutkan atau bahkan mempertuhankan hawa nafsu itu.

Allah bertanya kepada orang beriman, “apakah kalian bisa menjadi wakil (bagi orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu mereka)?”. Pertanyaan ini tampaknya lebih ditujukan kepada orang-orang yang berkewajiban mengurus atau berurusan dengan orang demikian, menggambarkan tingginya tingkat kesulitan dalam berhadapan dengan orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu. Orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu akan menjadi makhluk yang mendatangkan masalah dalam tingkat yang mungkin tidak teratasi sedemikian Allah bertanya dengan pertanyaan demikian. Sangat sulit bagi seseorang untuk menjadi wakil yang ikut menanggung masalah dari orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu. Kebenaran mereka ditentukan berdasarkan hawa nafsu sedemikian orang-orang shalih tidak dapat meraba kebenaran versi orang yang dihadapi. Dengan keadaan demikian, orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu tidak akan bisa diwakili oleh orang lain, dan keilmuan mereka justru bisa mendatangkan kesulitan bagi orang lain.

Pada sisi tertentu, barangkali orang beriman tidak perlu memaksakan diri menyatukan langkah bersama. Apabila tampak sikap mempertuhankan hawa nafsu di antara orang-orang, orang beriman tidak harus berusaha menyatukan diri bersama-sama karena mereka tidak akan dapat menanggung kerusakan yang ditimbulkan. Sekalipun bisa menasihati, mereka mungkin tetap akan mengikuti kebenaran tuhannya sendiri menyimpang dari ketentuan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala mereka menerapkan aturan-aturan dari hawa nafsu mereka terhadap orang lain sedangkan aturan-aturan itu tidak mempunyai landasan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang beriman hendaknya tetap berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengikuti aturan yang mereka terapkan.

Sikap demikian seringkali tidak mudah dilakukan. Seringkali manusia memandang orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu adalah orang-orang yang mendengar dan memahami. Hawa nafsu yang mereka pertuhankan mungkin akan menjadi entitas cerdas yang bisa dibantu oleh syaitan sedemikian hawa nafsu itu bisa bercerita dengan pengetahuan yang banyak bagi orang lain, termasuk pengetahuan-pengetahuan yang merupakan rahasia bagi manusia. Dengan cara demikian, boleh jadi umat manusia akan memandang orang demikian sebagai orang-orang yang mendengar dan memahami. Sebenarnya pandangan itu tidaklah benar. Mereka bukanlah orang-orang yang mendengar dan bukan orang-orang yang memahami. Mereka itu sebenarnya orang yang tersesat dengan kesesatan yang jauh.

Masalah berikutnya, Allah bertanya kepada orang-orang beriman : ”atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami?. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya”. Pertanyaan itu tampaknya ditujukan kepada masyarakat yang lebih umum daripada pertanyaan ayat di atasnya. Umumnya persangkaan orang-orang kebanyakan terhadap orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu itu adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang mendengar dan memahami. Persangkaan demikian sebenarnya keliru. Dalam pandangan Allah, mereka itu hanya seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya.

Kesesatan itu akan dapat diketahui manakala diukur dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang yang benar dalam menempuh langkah akan dapat mendengarkan dan memahami pengajaran tentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ia dapat mendengarkan pengajaran kebenaran dari orang lain, tidak hanya mengikuti dorongan dalam diri sendiri dalam mengikuti kebenaran. Demikian pula ia akan bisa memahami kebenaran dari orang lain tidak hanya meyakini kebenaran dalam dirinya sendiri. Bila seseorang hanya meyakini kebenaran hanya terdapat pada diri sendiri dan menganggap tidak ada kebenaran dari perkataan orang lain, mereka sebenarnya tidak dapat mendengarkan dan tidak dapat memahami.

Pada pokoknya, mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di bumi karena pemahaman terhadap kehendak Allah secara benar. Seandainya hanya memahami sepotong kebenaran, mereka mengetahui titik kelanjutan yang benar dari potongan yang dikenalinya tidak kemudian tiba pada titik menyimpang mengikuti kesesatan. Orang-orang yang disangka mendengar dan memahami kadang tidak mengetahui arah yang harus dituju untuk mewujudkan kebaikan di alam bumi, baik arah untuk diri sendiri ataupun arah untuk umatnya, maka mereka mendatangkan kerusakan. Keadaan umat akan menjadi kacau balau. Mereka tidak membina diri untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tetapi bisa saja justru merusaknya dengan kerusakan yang besar. Manusia dididik untuk menyimpang dari ajaran Allah, para perempuan menjadi para perempuan tanpa ketaatan terhadap suaminya, shilaturahmi antara suami isteri dan antara manusia dipotong-potong dibuat saling bermusuh-musuhan dan lain-lain. Sulitnya, ada orang-orang yang melakukan hal demikian atas nama Allah. Itu bisa terjadi karena mereka mempertuhankan hawa nafsu hingga sebenarnya mereka tidak mendengar dan tidak memahami kehendak Allah.

Melaksanakan kehendak Allah hendaknya dilakukan dengan menggunakan akal yang memahami kehendak-Nya. Setiap orang hendaknya berusaha melaksanakan perintah-perintah Allah dengan berusaha memahami kandungan kebaikannya. Terkait dengan urusan Allah yang harus ditunaikan, hendaknya ia tidak mengatakan dirinya membawa perintah Allah kepada orang lain tanpa memahami kandungan kebaikan pada perintah itu. Suatu pemahaman yang benar berbentuk pemahaman terhadap nilai-nilai kebaikan yang akan terwujud manakala kehendak Allah itu dilaksanakan, hingga pikiran tingkat hawa nafsunya memahami. Pernyataan seseorang dalam menunaikan perintah Allah harus disampaikan dengan membacakan tuntunan ayat kitabullah yang harus ditunaikan, tidak mengaku-aku saja menunaikan perintah Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar