Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan itu adalah shirat al-mustaqim (jalan yang lurus). Jalan yang lurus menunjuk pada jarak terpendek yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan, dan shirat al-mustaqim merupakan jalan terpendek yang dapat ditempuh setiap hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Setiap hamba Allah tentulah menginginkan suatu kedekatan kepada sumber kebaikan mutlaq bagi diri mereka, dan mereka mengenal Allah sebagai sumber kebaikan tersebut. Untuk itu, mereka selalu berdoa kepada Allah untuk memberikan petunjuk shirat al-mustaqim.
﴾۶﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS Al-Fatihah : 6)
Jalan itu adalah jalan yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya. Seorang hamba tidak akan mengetahui shirat al-mustaqim tanpa ijin Allah. Walaupun demikian, setiap hamba bisa berusaha untuk mengetahui shirat al-mustaqim dan memohon kepada Allah untuk menunjukkan kepada dirinya shirat al-mustaqim. Allah akan memberikan petunjuk shirat al-mustaqim kepada hamba-hamba yang benar-benar mencari jalan untuk kembali kepada-Nya.
Pengenalan terhadap shirat al-mustaqim merupakan sesuatu dari puncak tujuan kehidupan manusia. Artinya, sebenarnya shirat al-mustaqim merupakan sesuatu yang berjarak dari kebanyakan umat manusia bahkan umat islam, karena shirat al-mustaqim merupakan sesuatu yang harus dituju. Secara umum, manusia berada pada common ground yang berjarak dari shirat al-mustaqim, dan berjarak pula dari golongan yang dimurkai dan golongan yang tersesat. Langkah yang mereka tempuh mendekatkan diri mereka pada salah satu dari tiga keadaan yaitu sesat, dimurkai atau diberi nikmat Allah. Ada orang-orang islam yang telah mengenal shirat al-mustaqim, dan mereka itu adalah orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Orang-orang islam kebanyakan seharusnya berharap dengan sungguh-sungguh agar Allah memberikan kepada dirinya petunjuk untuk mengenal shirat al-mustaqim, bukan mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang berada di atas shirat al-mustaqim.
Turunnya petunjuk itu membutuhkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi sang hamba., utamanya adalah terbentuknya akhlak mulia pada sang hamba. Akhlak mulia seorang hamba merupakan cerapan akhlak makhluk terhadap kehendak Allah terutama cerapan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seorang makhluk yang dapat memahami dengan tepat kehendak Allah atas dirinya dengan memahami kebaikan-kebaikan dalam kehendak tersebut dan pemahaman itu dapat diukur berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, makhluk demikian merupakan makhluk yang mempunyai akhlak mulia. Dengan akhlak mulia, seseorang dapat merespon kauniyah yang terjadi sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Iblis mempunyi kecerdasan yang tinggi tetapi tidak mampu memahami perintah Allah dengan tepat. Sekalipun cerdas, tetapi akhlak Iblis bukanlah akhlak yang mulia karena tidak mencerap kehendak Allah dengan benar.
Akhlak mulia dibina dengan mengikuti tuntunan Alquran. Ada suatu tahapan yang bisa menjadi bukti terbentuknya akhlak mulia berupa pengenalan seseorang terhadap penciptaan diri. Itu adalah bukti pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah secara khusus kehendak-Nya atas penciptaan dirinya. Akan terbuka kepada seseorang pengetahuan tentang keadaan kauniyah yang dihadapinya selaras dengan penjelasan-penjelasan kitabullah dan ia mengetahui peran yang harus dilaksanakan terkait dengan keadaan kauniyahnya. Pengetahuan itu mungkin bersifat khusus, tetapi sangat luas dan mendalam walaupun tetap saja sangat banyak hal yang tidak diketahuinya. Bagi beberapa orang, pengetahuan itu berupa pengetahuan hakikat bukan pengetahuan dalam tingkatan praktis. Pengenalan itu merupakan gerbang seseorang memasuki agama (addiin), yaitu pengetahuan seseorang terhadap fitrah untuk apa dirinya diciptakan.
Pengenalan diri dimulai dari pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah, bukan dari pengenalan terhadap potensi-potensi diri. Sebenarnya kedua metode pencarian jati diri tersebut akan saling bersinergi, tetapi setiap orang harus menempatkan keikhlasan sebagai metode utama. Seringkali hamba Allah melupakan keikhlasan dirinya dan berusaha mencari jati diri tanpa disertai keinginan mengetahui kehendak Allah. Apabila kedua metode itu dipisah, seseorang yang ingin mengenal kehendak Allah hingga mengenal bentuk amal yang harus ditunaikan dirinya mempunyai peluang jauh lebih besar untuk mengenal diri daripada orang-orang yang mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dirinya. Keinginan mengenal kehendak Allah ini merupakan bentuk keikhlasan dalam ibadah yang tidak dicampuri hawa nafsu. Pencarian jati diri melalui potensi diri seringkali menimbulkan berkas kebanggaan diri yang mungkin bisa menimbulkan potensi bahaya bagi pencarinya, sedangkan keikhlasan ibadah akan menjaga seseorang dari hawa nafsu. Dalam perjalanan pencarian, keikhlasan akan membantu terbentuknya pengetahuan secara integral hingga seseorang tetap berada pada al-jamaah tidak menyimpang. Kebutuhan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan menyertai orang-orang yang ikhlash beribadah kepada Allah hingga kedua tuntunan itu dapat membantu menjaga dirinya dari penyimpangan.
Gerbang agama berupa pengenalan diri itu berbentuk pengetahuan hakikat dari suatu ayat dari kitabullah Alquran. Orang yang ingin mengenal kehendak Allah tentulah mencari pengetahuan dari kitabullah Alquran dan dari ayat-ayat kauniyah yang dihadapinya, tidak mengandalkan pengetahuan diri tentang dirinya. Gerbang agamanya akan ditemukan dari kitabullah Alquran. Orang yang bertanya tentang jadi dirinya barangkali akan mencari pengetahuan dari diri sendiri sehingga akan mengalami kesulitan menemukan gerbang agamanya. Boleh jadi seseorang berkutat pada suatu bidang pemikiran tertentu yang sebenarnya telah sesuai dengan urusan yang harus ditunaikan dalam kehidupannya tetapi ia tidak mengetahui bahwa amr Allah untuk dirinya adalah bidang yang digelutinya selama ini. Hal ini tidak membuat dirinya mengenal diri hingga ia menemukan suatu ayat kitabullah Alquran tertentu yang menjelaskan bidang yang digelutinya. Selama ia belum mengalami keterbukaan makna hakiki dari tuntunan kitabullah yang terkait urusannya, ia tidak dapat dikatakan mengenal dirinya walaupun telah menjalankan urusannya dengan baik.
Al-Jamaah Sebagai Sarana Kemudahan
Ada suatu kemudahan yang disediakan bagi manusia untuk mengenal gerbang agamanya, yaitu keberjamaahan. Suatu kaum akan menghadapi persoalan jaman yang relatif mempunyai kesamaan antara satu orang dengan orang lain sedemikian satu orang yang mengenal gerbang agamanya dapat menolong orang lain yang ingin mengenal gerbang agamanya. Ayat kitabullah yang menuntun mereka menghadapi persoalan jaman seringkali sama, satu ayat menjadi gerbang untuk banyak manusia. Dengan karakter demikian, suatu kaum akan memperoleh kemudahan untuk mengenal gerbang agamanya melalui kebersamaan di antara mereka. Hal ini akan terjadi apabila setiap orang pada kaum tersebut mempunyai keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Sayangnya kebanyakan manusia tidak membangun cukup keikhlasan dalam mencari agamanya, maka pandangan mereka tertutup dari kemudahan yang disediakan Allah. Apabila mereka mau mendengarkan pemahaman salah satu orang di antara mereka terhadap kehendak Allah, mereka akan lebih mudah memahami gerbang agama bagi mereka.
Kemudahan ini harus disikapi dengan tepat oleh setiap hamba Allah. Sebagian hamba Allah bersikap terlalu mengagungkan orang-orang yang dianggap telah mengenal shirat al-mustaqim hingga tidak mengetahui batas-batas uluhiyah. Uluhiyah dalam hal ini menunjuk pada sumber mutlak dari kebenaran yang harus diperjuangkan oleh para hamba Allah, dan tidaklah ada Ilah bagi seluruh makhluk kecuali Allah. Kadang-kadang hamba-hamba Allah bersikap berlebihan terhadap orang-orang yang dianggap mengenal shirat al-mustaqim dengan menganggap semua hal yang disampaikan sebagai kebenaran yang harus diperjuangkan tanpa memeriksa dari sumber asli berupa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pada kasus berat, bahkan apa-apa yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dianggap pula layak diperjuangkan. Pada tingkat ringannya, sikap berlebihan itu terjadi dengan menganggap semua yang disampaikan seseorang sebagai kebenaran yang harus diperjuangkan tanpa memeriksa duduk kebenarannya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini mencederai prinsip syahadat bahwa tiada Ilah selain Allah.
Kelayakan mukminin memperjuangkan suatu kebenaran harus dimulai dari kepastian sumber kebenaran dari sisi Allah, tidak berhenti memeriksa asal-usul kebenaran itu pada sumber yang lain. Bagi hamba Allah, kebenaran yang paling penting untuk diperjuangkan hanyalah kebenaran yang dapat diverifikasi sebagai kebenaran dari sisi Allah. Setiap orang harus berjuang untuk menegakkan kebenaran sejauh yang dapat dikenali dan dapat diupayakan, dan selalu berusaha memperhatikan bertambahnya tingkat pengenalan terhadap kebenaran yang diperjuangkan. Untuk hamba Allah, tingkat kebenaran itu akan meningkat selaras dengan tingkat pemahaman terhadap ayat Allah, baik kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun kauniyah. Kaum mukminin harus berusaha menemukan kebenaran dan memperjuangkan kebenaran yang dapat ditemukan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh terhenti pada suatu kebenaran dari sumber yang lain. Itu merupakan suatu bentuk dari tauhid uluhiyah. Banyak mukminin yang memperjuangkan kebenaran tetapi sebenarnya hanya merupakan sesuatu yang dikatakan sebagai kebenaran, bukan kebenaran yang dikenalinya sendiri.
Keadaan Shirat Al-Mustaqim
Rasulullah SAW menggambarkan keadaan shirat al-mustaqim sebagaimana berikut :
ضَرَبَ اللهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللهِ، وَالدَّاعِي مِنِ فَوْقَ الصِّرَاطِ: وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ
An-Nawwās bin Sam'ān Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah SAW, beliau bersabda,“Allah telah membuat sebuah perumpamaan jalan yang lurus. Di dua sisi jalan terdapat dua pagar. Di pagar tersebut terdapat pintu-pintu yang terbuka. Dan di pintu-pintu itu terdapat tirai-tirai yang terurai. Di depan jalan itu terdapat seseorang yang berseru: ‘Wahai manusia, masuklah kalian semua ke jalan ini dan jangan lah berbelok.’ Di atas itu juga terdapat penyeru yang akan memanggil. Apabila ada seseorang yang ingin membuka pintu-pintu tersebut,penyeru di atas jalan berkata: ’Celaka kamu, janganlah engkau membukanya. Jika engkau membukanya, niscaya engkau akan terperosok masuk ke dalamnya.’ Jalan itu adalah Islam. Pagar-pagar itu adalah batasan-batasan Allah. Pintu-pintu yang terbuka itu adalah perkara-perkara yang diharamkan Allah. Penyeru di depan pintu jalan adalah Kitabullah. Penyeru di atas jalan adalah pemberi peringatan dari Allah yang ada di dalam hati setiap muslim.” [HR. Tirmizi dan Ahmad] - [Musnad Ahmad - 17634]
Penyeru manusia di gerbang shirat al-mustaqim itu adalah kitabullah Alquran. Ini adalah ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kepada seorang hamba Allah, maka ayat itu menjadi penyeru kepada hamba itu untuk memasuki shirat al-mustaqim. Keterbukaan itu berupa pengetahuan hakikat suatu ayat kitabullah, bukan sekadar pengetahuan dalam tingkatan tafsir ayat kitabullah. Tidak ada salahnya umat manusia mengikuti tuntunan kitabullah dalam tingkatan tafsir ayat kitabullah apabila tafsir itu dilakukan dengan cara yang benar, tetapi yang menjadi penyeru untuk memasuki shirat al-mustaqim adalah keterbukaan pengetahuan ayat kitabullah pada tingkatan hakikat. Seseorang yang mengalami keterbukaan makna hakikat dari suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya berarti telah tiba pada gerbang agamanya. Orang-orang yang lain bisa mengikuti langkah orang tersebut agar ia lebih mudah mengalami keterbukaan makna hakikat suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya, maka ia akan lebih mudah mengenali gerbang agamanya.
Shirat al-mustaqim itu merupakan agama, dan gerbang agama itu adalah keterbukaan pengetahuan hakikat dari suatu ayat Alquran. Dalam terminologi lain, gerbang agama itu disebut sebagai pengenalan diri (ma’rifatun-nafs). Sebenarnya terminologi ini mengungkapkan keadaan yang sama. Yang terjadi pada diri seseorang saat pengenalan diri (ma’rifatun-nafs) adalah keterbukaan pengetahuan hakikat dari suatu ayat kitabullah tertentu yang merupakan amanah yang harus ditunaikan dirinya. Peristiwa ini merupakan penanda utama pengenalan diri yang benar. Ada beberapa bentuk pengenalan diri yang mungkin terjadi pada seorang hamba Allah, dan pengenalan diri yang sebenarnya adalah keterbukaan pengetahuan hakikat dari suatu ayat kitabullah yang merupakan amanah bagi sang hamba tersebut. Pengenalan diri yang demikian itulah yang merupakan gerbang dari shirat al-mustaqim.
Penjelasan demikian tidaklah menganggap kafir atau mengkafirkan orang-orang yang belum mengalami keterbukaan terhadap ayat-ayat Allah yang harus mereka perjuangkan. Hanya saja harus disadari bahwa orang-orang yang benar-benar telah menempuh shirat al-mustaqim hanyalah dalam kriteria demikian. Orang yang belum mengenal shirat al-mustaqim tidaklah hanya dari kalangan orang-orang kafir. Secara umum, manusia berada pada common ground yang berjarak dari shirat al-mustaqim, dan berjarak pula dari golongan yang dimurkai dan golongan yang tersesat. Langkah yang mereka tempuh mendekatkan diri mereka pada salah satu dari tiga keadaan yaitu sesat, dimurkai atau diberi nikmat Allah. Shirat al-mustaqim merupakan jalan yang diberikan kepada hamba Allah yang benar-benar menginginkan kedekatan kepada Allah. Boleh jadi sangat banyak orang yang tidak mengenal shirat al-mustaqim kelak akan memperoleh surga Allah dalam tingkatan rendah setelah perjalanan berat yang ditempuhnya mungkin melalui neraka. Kaum muslimin diperintahkan untuk berharap shirat al-mustaqim tidak terlena dari berharap demikian, dan tidak boleh menantang perjalanan yang berat tersebut.
Pengenalan diri adalah gerbang memasuki agama. Sangat banyak perjuangan yang harus dilakukan seseorang manakala memasuki shirat al-mustaqim dan setiap mukmin tidak boleh berpaling dari shirat tersebut. Sangat banyak jalan-jalan lain yang akan menggoda orang beriman yang meniti shirat al-mustaqim, sedangkan bisa saja perjuangan di shirat al-mustaqim itu berat untuk dilaksanakan. Kadangkala seorang mukmin harus berhenti tidak bisa melakukan amal apapun yang mendatangkan hasil di shirat al-mustaqim, atau semua amal yang dapat dilakukannya di shirat al-mustaqim tampak tidak mendatangkan hasil apapun baik bagi dirinya ataupun bagi umatnya. Ia tampak menjadi orang yang sia-sia. Hal-hal demikian tidak boleh menjadikan dirinya berpaling dari shirat al-mustaqim untuk menempuh pintu-pintu yang lain. Ia harus tetap berada di shirat al-mustaqim apapun keadaan yang terjadi.
Keadaan sia-sia demikian bukan sifat dari amal seseorang di shirat al-mustaqim. Seseorang tidak boleh beramal hanya karena merasa mengetahui perintah Allah tanpa mengetahui nilai kebaikan di dalamnya. Semua amal yang dilakukan seseorang di shirat al-mustaqim mempunyai bobot nilai kebaikan yang sangat besar baik bagi dirinya ataupun umat manusia seluruhnya. Tetapi kadangkala umat manusia tidak bisa menerima apa-apa yang dilakukannya maka amal yang dilakukan seseorang di shirat al-mustaqim bisa menjadi mandul atau bahkan mendatangkan adzab sebagaimana beberapa nabi tampak dalam pandangan manusia mendatangkan adzab. Seseorang di shirat al-mustaqim harus mengetahui nilai kebaikan dari amal yang dilakukannya, dan tetap melakukannya tidak meninggalkannya sekalipun mandul sia-sia. Apabila ia memasuki pintu-pintu lain yang terbuka selain dari shirat al-mustaqim, ia akan celaka.
Menapaki shirat al-mustaqim membutuhkan suatu tekad yang kuat (‘adzimah) dalam pengabdian kepada Allah. Shirat al-mustaqim tidak boleh ditinggalkan orang-orang yang telah diseru kepadanya untuk mencari kemudahan kecuali seseorang akan celaka. Dengan keadaan semacam ini, tidak semua orang islam ditempatkan di shirat al-mustaqim. Hendaknya seseorang tidak terburu-buru mengharapkan tiba di gerbang shirat al-mustaqim kecuali ia telah mempunyai tekad yang kuat dalam pengabdian kepada Allah. Orang-orang yang telah mempunyai ‘adzimah pengabdian itu yang akan selamat menempuh shirat al-mustaqim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar