Pencarian

Minggu, 02 Februari 2025

Amal Shalih Sebagai Amanah dan Nafs Wahidah

Amal yang Ditetapkan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara langkah mengikuti Rasulullah SAW adalah bekerja dengan mengerjakan amal shalih yang sesuai dengan keadaan masing-masing. Allah telah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal yang menjadi sarana bagi dirinya untuk bertaubat kembali kepada Allah menempuh jalan langitnya dalam mi’raj kepada Allah. Amal-amal yang ditetapkan Allah itu adalah amanah diri setiap orang. Tidak semua orang mengetahui amanah dirinya sekalipun ia telah benar-benar telah diberi amanah itu.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Israa’ : 13)

Kelak ketetapan amal-amal itu akan dijumpai seseorang sebagai kitab yang terbuka sebagai pembanding terhadap amal-amal yang dilakukan. Amal-amal itu akan menjadi sumber bagi timbangan diri seseorang. Seseorang yang beramal secara tepat sesuai kehendak Allah akan menemukan keterbukaan hakikat dari apa yang diamalkannya, dan hakikat itu akan menjadi bobot timbangan amal-amalnya. Seseorang yang banyak beramal secara tepat akan memperoleh hakikat-hakikat dalam bobot yang besar, sedangkan orang yang beramal tanpa mengetahui atau mempertimbangkan ketetapan Allah tidak akan mengisi pengetahuan hakikat, maka timbangan mereka akan ringan di hadapan Allah.

Orang yang mengetahui jalan kehidupan yang harus ditempuh adalah orang yang memperoleh petunjuk. Boleh jadi terbina pada diri seseorang suatu pengetahuan tentang keadaan semesta berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau suatu pengetahuan tentang sosok pemimpin yang harus diikuti, atau suatu hembusan pengetahuan tentang nafs wahidah dirinya, atau suatu pengetahuan tentang jodoh bagi dirinya, dan/atau pengetahuan-pengetahuan lain yang menjadikan diri seseorang mengetahui jalan kehidupan yang seharusnya ditempuh. Dalam beberapa hal, petunjuk jalan itu berupa suatu pengetahuan yang diturunkan dari khazanah nafs wahidah, dan dalam hal lain petunjuk jalan diperoleh melalui pengamatan-pengamatan inderawi. Puncak dari petunjukakan mengarah pada suatu kesatuan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang harus ditempuh yang dikatakan sebagai shirat al-mustaqim.

Kebenaran suatu petunjuk bergantung pada kesesuaiannya dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kitab yang dijumpai seseorang terbuka di akhirat kelak merupakan penjelasan dan perincian dari ayat-ayat kitabullah Alquran yang diperuntukkan bagi seorang hamba, tidak menyimpang sedikitpun darinya. Boleh jadi seseorang yang mengetahui kitab dirinya menemukan suatu penjelasan yang tampak tidak benar-benar terhubung dengan kitabullah Alquran, maka penjelasan demikian boleh jadi berasal dari hawa nafsu dirinya atau dari syaitan. Setiap penjelasan yang terbuka kepada diri seseorang hendaknya ditimbang dengan tuntunan kitabullah Alquran, karena seluruh amal yang dikalungkan kepada diri seorang hamba benar-benar hanya merupakan bagian dari kitabullah Alquran. Kitabullah Alquran merupakan induk dari amal yang dikalungkan pada diri setiap hamba Allah.

Memahami Amanah dan Nafs Wahidah

Gambaran dari hubungan amal dan ayat kitabullah bisa ditemukan pada syaikh-syaikh yang membimbing perjalanan jiwa umat manusia. Tidak jarang seorang syaikh mengulang-ulang pembacaan suatu ayat tertentu yang harus mereka sampaikan kepada murid-muridnya karena ayat tersebut merupakan amanah yang harus ditunaikan dirinya. Misalnya boleh jadi seorang syaikh menekankan pentingnya suatu ayat tentang pembinaan diri para murid sebagaimana ayat tersebut di bawah :

﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A’raaf : 179)

Ayat tersebut merupakan pedoman yang diberikan kepada sang syaikh tentang kondisi yang terjadi atau akan terjadi pada umatnya, sebagai amanah yang harus ditunaikan kepada umatnya. Pembinaan oleh sang syaikh harus dilakukan sedemikian para muridnya menjadi orang-orang yang mempunyai mata, pendengaran dan akal dan setiap indera itu digunakan dengan sebaik-baik oleh para murid untuk memahami ayat-ayat Allah. Ayat di atas tidak berarti syaikh harus mencegah terbentuknya pendengaran dan penglihatan bathin serta qalb para muridnya, sama sekali tidak demikian dan sebaliknya harus membina terbentuknya. Tetapi pembinaan terhadap para murid tidak boleh berhenti hanya pada terbentuknya indera-indera bathiniah para murid. Para murid harus dibina agar mampu menggunakan indera-indera bathiniah itu dengan benar, yaitu dapat mendengar, melihat dan memahami ayat-ayat Allah.

Para murid hendaknya berusaha untuk mencapai tujuan yang ditentukan demikian, yaitu membina pendengaran untuk mendengar ayat Allah, mata untuk melihat ayat-ayat Allah dan qalb untuk memahami kehendak Allah. Hanya saja ada banyak hal yang mungkin tidak diketahui para murid sedemikian mereka wajib benar-benar memperhatikan apa-apa yang disampaikan oleh sang syaikh. Menggunakan qalb untuk memahami tidak sama dengan menggunakan pikiran secara bebas. Memahami harus dilakukan agar kehendak Allah dapat dimengerti dengan tepat. Untuk mencapai keadaan ini, ada kondisi-kondisi yang harus dipenuhi oleh para murid, tidak dapat diperoleh dengan cara yang bebas. Para syaikh mempunyai pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan agar para murid dapat mencapai keadaan yang harus dipenuhi. Setiap murid harus memperhatikan arahan sang syaikh dengan tujuan dapat memperoleh pemahaman tentang ayat Allah dengan tepat, bukan memperhatikan tanpa menggunakan pikiran atau akal.

Pembinaan oleh syaikh terhadap murid untuk dapat memahami kehendak Allah dengan tepat serupa dengan pembinaan terhadap perempuan untuk memperoleh suami yang tepat dan mampu memahami urusan Allah melalui suaminya. Keinginan seorang perempuan terhadap pernikahan merupakan gambaran paling sempurna tentang fitrah diri setiap manusia. Pada fitrahnya, setiap manusia mempunyai keinginan untuk menghambakan diri kepada rabb-nya dalam suatu kedudukan tertentu dalam al-jamaah, sebagaimana adanya keinginan seorang perempuan untuk memperoleh kedudukan tertentu di sisi suami yang dicintai. Warna-warna pada hubungan antara seorang perempuan dengan suami yang tepat merupakan gambaran sempurna bagi fitrah manusia dalam ibadah kepada Allah. Terbinanya manusia dalam keadaan saling mencintai demikian itulah yang menjadi sasaran para syaikh dalam membina para murid, dan pernikahan menjadi media pembinaan yang paling baik.

Keberhasilan membina perempuan yang berbakti kepada suami dengan cinta kasih merupakan gambaran terbentuknya seseorang sebagai bagian dari Al-jamaah dalam melaksanakan amr jami’ Rasulullah SAW. Dalam sehari, setiap orang islam bermohon untuk diberi petunjuk tentang shirat al-mustaqim setidaknya 17 kali karena petunjuk itu merupakan tujuan utama dari kehidupan setiap muslim. Bila diperhatikan, sebenarnya shirat al-mustaqim merupakan jalan al-jamaah, yaitu jalannya orang-orang yang memperoleh nikmat Allah yang tetap bersama-sama tidak berpaling dari al-jamaah. Bila seseorang berpaling dari keberjamaahan dalam nikmat Allah, mereka tidak benar-benar di shirat al-mustaqim. Gambaran keadaan orang yang berjamaah itu seperti perempuan yang berbakti kepada suami dengan cinta kasih, yang mungkin harus ditempuh bersama dengan isteri yang lain. Orang yang berpaling dari nikmat Allah dalam al-jamaah seperti isteri-isteri yang tidak mau mentaati suaminya.

Keberhasilan demikian hanya dapat dicapai dengan pembinaan nafs wahidah. Setiap perempuan diciptakan dari nafs wahidah laki-laki tertentu yang menjadi pemimpin dirinya untuk kembali dekat kepada Allah. Demikian pula para laki-laki sebenarnya mempunyai kedudukan tertentu di antara al-jamaah, dan mempunyai washilah yang terhubung kepada Rasulullah SAW. Pahamnya seseorang terhadap amanah dirinya akan terjadi manakala ia mengenal kedudukan dirinnya dalam al-jamaah. Pahamnya seseorang terhadap kehendak Allah tidak terjadi secara individual, tetapi setidaknya seseorang memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW untuk amalnya. Pemahaman yang lebih dalam pada seseorang akan membuka pengetahuannya tentang kedudukan diri dalam berjamaah, mengetahui para washilahnya dan shahabatnya dalam urusan Rasulullah SAW, tidak keluar dari urusan itu. Keberjamaahan dengan shahabat dan washilah tidak ditunjukkan dengan banyaknya orang yang melakukan, tetapi ditunjukkan oleh penyatuan terhadap urusan Allah dan sunnah Rasulullah SAW.

Untuk melakukan pembinaan demikian, seorang syaikh perlu mengkondisikan banyak hal dalam diri para murid. Transformasi murid tidak dapat dilakukan dengan memberikan wacana-wacana saja tanpa membina hal ihwal nafs wahidah para murid. Para laki-laki akan mengenali amanah bagi dirinya manakala ia dapat tenang dalam membaca ayat-ayat Allah dengan akalnya. Hal itu dapat digambarkan dalam diri seorang perempuan yang harus tenang dalam mengharapkan petunjuk jodohnya, tidak terhanyut dalam keinginan syahwat dan hawa nafsu maka ia akan mengenali nafs laki-laki yang menjadi asal penciptaan dirinya. Benih pengenalan seorang perempuan terhadap jodohnya tidak dapat diberikan melalui wacana-wacana tentang jodoh yang ideal saja, tetapi harus diperkenalkan melalui nafs diri perempuan itu sendiri karena pada dasarnya nafs dirinya-lah yang mengandung pengetahuan tentang nafs jodohnya. Demikian para syaikh melakukan pembinaan para murid dengan menata nafs para muridnya untuk memahami kehendak Allah.

Pembinaan Sifat Rahman dan Rahim

Keikhlasan menjadi landasan sangat penting dalam pembinaan nafs. Di alam dunia, sangat banyak pengalih perhatian manusia dari jodoh yang sebenarnya yang itu bisa menjadi pengalih perhatian yang sangat kuat manakala seseorang tidak dapat tenang dalam mencari pengetahuan tentang jodohnya. Kekayaan, ketampanan dan banyak hal duniawi lain yang dapat memalingkan manusia dari jodoh yang sebenarnya. Hal itu menjadi gambaran nyata kekuatan dunia dalam memalingkan manusia dari keikhlasan. Pengenalan seorang perempuan terhadap jodoh yang tepat sebenarnya juga merupakan indikasi dari keikhlasan dirinya. Manakala seseorang tidak kokoh dalam keikhlasannya, ia akan sangat mudah terkalahkan dari pengetahuan terhadap fitrah dirinya sebagaimana para perempuan yang mudah terombang-ambing dalam bayangan keinginan syahwatiah terhadap berbagai laki-laki yang mempunyai kelebihan-kelebihan duniawi ataupun kelebihan pada nafs yang menggoda mereka. Demikian pula laki-laki menghadapi sangat banyak hal duniawi yang bisa mengalihkan perhatiannya dari jalan ibadahnya yang sesungguhnya ditentukan bagi dirinya.

Pembinaan nafs tidak terbatas pada pengetahuan tentang jodoh atau berhenti pada benih-benih pengenalan manusia terhadap apa-apa yang diperuntukkan bagi dirinya. Pembinaan harus dilakukan agar benih-benih pengenalan itu tumbuh hingga terwujud amal shalih dari setiap diri manusia dengan rasa syukur terhadap Allah. Manakala seorang perempuan mengenal jodoh yang tepat baginya, ia harus bisa menerima jodohnya dengan lapang dada dan rasa syukur yang akan mengantarkannya dapat melaksanakan jalan ibadahnya dengan rasa syukur. Para perempuan harus dinikahkan setelah mengenal jodohnya, dan ia hendaknya dapat berbakti kepada suaminya dengan rasa cinta kasih, bukan berbakti dengan sikap buruk terhadap suaminya. Hal demikian kadangkala harus dilakukan sekalipun seorang perempuan harus seperti Asiyah binti Muzahim r.a yang bersuamikan Fir’aun. Beliau menemukan urusan Allah melalui Fir’aun dan melaksanakan urusannya dengan jalan yang baik, bukan membantu kejahatan yang dilakukan Fir’aun. Pada umumnya, pernikahan itu merupakan penyatuan diri seorang perempuan terhadap jalan ibadahnya, yaitu melalui baktinya kepada suami dengan landasan ibadah kepada Allah. Demikian pula seorang laki-laki hendaknya dibina hingga dapat mengenal jalan ibadah dirinya dalam suatu hubungan washilah kepada Rasulullah SAW, kemudian ia melakukan amal shalih untuk urusan yang harus ditunaikannya. Dengan keadaan-keadaan demikian, seorang hamba Allah akan merasa sakinah dalam menjalani kehidupan dirinya beribadah kepada Allah secara tepat sesuai dengan kehidupan dirinya.

Mewujudkan amal shalih tidak bisa dilakukan dengan bersikap buruk terhadap nikmat Allah. Semakin buruk sikap seseorang terhadap nikmat Allah, ia akan semakin jauh walaupun seandainya ia tetap melaksanakan apa yang ditentukan baginya. Kadangkala seseorang membangun bayangan indah tentang menjadi hamba Allah, tetapi ia berkata buruk terhadap nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Hal itu menunjukkan ia tidak memahami arti menjadi hamba Allah. Seseorang tidak boleh berkata buruk terhadap nikmat Allah yang diberikan. Bila ia berkata buruk tentang nikmat itu, hendaknya perkataan buruk itu tidak disampaikan kepada makhluk. Nikmat Allah kadangkala berbentuk perjodohan pada seorang manusia, maka apabila jodohnya tidak mau mendengarkan perkataan buruk tentang dirinya hendaknya ia tidak dipaksa untuk mendengar perkataan buruk itu. Memaksa seseorang untuk mendengarkan perkataan buruk yang berpangkal dari kekufuran terhadap nikmat Allah demikian itu tidak memberikan manfaat dan mendatangkan madlarat, dan perbuatan itu buruk berasal dari kufur terhadap nikmat Allah. Syaitan akan senang menggunakannya untuk membuat kekacauan di antara manusia hingga mendatangkan kesengsaraan karena kufur nikmat.

Semua sasaran ini harus dibina secara integral dengan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah, bukan suatu keadaan yang dibangun di atas hawa nafsu emosional saja. Ayat-ayat Allah menjadi media pembinaan yang disediakan Allah untuk memperkuat akal manusia, baik ayat kauniyah ataupun ayat-ayat kitabullah. Umat islam harus membina sifat rahman dan rahim berdasarkan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah, tidak boleh membinanya hanya secara emosional tanpa memahami kehendak Allah. Para murid harus memperhatikan ayat-ayat Allah agar akal mereka mampu memahami ayat-ayat yang terhampar bagi diri mereka. Kadangkala para murid hanya memperhatikan perkataan manusia tanpa melihat ayat-ayat Allah maka akal mereka tidak dapat berkembang. Bila hanya mengikuti perkataan manusia, mungkin kemampuan narasi seseorang mengikuti perkataan orang lain akan berkembang dengan baik, tetapi kemampuan untuk memahamai ayat Allah tidak tumbuh. Meniru perkataan manusia bukanlah kekuatan akal, hanya kekuatan ingatan yang tidak akan menjangkau ayat Allah bila tidak disertai penggunaan akal. Untuk menyentuh ayat-ayat Allah, setiap orang harus berusaha menggunakan akal dan pikirannya untuk memahami ayat-ayat Allah.

Terbinanya seseorang sebagai bagian al-jamaah di atas sifat rahman dan rahim merupakan sasaran yang harus dibina pada setiap hamba Allah, dan syaitan akan berusaha keras untuk menghalangi manusia untuk dapat beramal shalih sesuai kedudukan dirinya dalam al-jamaah. Kadangkala seorang perempuan yang telah mengenal jodoh asal penciptaan dirinya dihalang-halangi untuk dapat menikah dengan jodohnya dengan berbagai jalan yang menyesatkannya. Ia mungkin digoda untuk memperturutkan hawa nafsu dan syahwat daripada memilih jodohnya, mungkin ia didorong untuk lebih memperhatikan laki-laki lain, atau dimunculkan padanya rasa tidak suka terhadap jodohnya, dan berbagai cara termasuk melibatkan orang lain dalam menghalangi langkahnya menyatukan diri dengan jalan ibadahnya. Hal demikian juga akan terjadi pada kaum laki-laki manakala mengenal jalan ibadahnya. Banyak perhiasan-perhiasan duniawi berupa harta benda ataupun kedudukan di antara manusia dan lain-lain yang bisa mengalihkan perhatiannya dari ayat Allah. Manakala hal itu tidak mengalihkan, mungkin dilibatkan makhluk lain untuk menghalangi dirinya untuk menempuh jalan ibadahnya kepada Allah.

Senin, 27 Januari 2025

Tetap di atas Nikmat Allah

 Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara langkah mengikuti Rasulullah SAW adalah bekerja dengan mengerjakan amal shalih yang sesuai dengan keadaan masing-masing. Setiap orang harus bekerja sesuai dengan keadaan masing-masing untuk menyumbangkan kemakmuran bagi masyarakat. Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan untuk amal shalih akan mengarahkan orang yang beramal untuk mengenal amanah yang ditentukan bagi dirinya, yaitu amal-amal yang ditetapkan layaknya tetapnya kalung pada lehernya. Amal-amal berdasarkan pada keinginan beramal shalih akan menjadikan seseorang memperoleh petunjuk. Seandainya amal-amalnya belum mengarah pada amanah itu, akalnya akan mengarah kepadanya. Hal ini akan terjadi manakala seseorang mempunyai keikhlasan dalam beramal, yaitu keinginan untuk mengenal Allah dengan mengetahui kehendak Allah atas dirinya. Apabila seseorang hanya mengikuti perkataan-perkataan manusia tanpa memperhatikan tuntunan Allah dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, ia tidak akan mengetahui adanya petunjuk yang diberikan kepadanya.

Pengetahuan tentang amal-amal yang ditetapkan bagi diri seseorang merupakan nikmat Allah. Allah melimpahkan nikmatnya kepada hamba-hamba-Nya hingga mereka mengetahui amal-amal yang harus dilakukan. Pengetahuan tentang amal-amal itu sepenuhnya merupakan bagian dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada bagian pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pokok berupa pengetahuan hakikat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan ada pengetahuan yang bersifat cabang dan ranting dari pokok tersebut tetapi terkait kuat dengan pokoknya yang berfungsi dalam tataran praktis operasional amal shalih. Dalam peristiwa pelimpahan nikmat Allah, boleh jadi ada sebagian pengetahuan merupakan kotoran yang yang dilemparkan oleh syaitan atau hawa nafsu, maka setiap orang hendaknya tetap berpegang teguh terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apa yang dari syaitan jelas merupakan hal yang bathil, sedangkan apa yang dari hawa nafsu mungkin ada kebaikan di dalamnya dan mungkin ada keburukan yang menyertainya. Karena hal itu, hendaknya setiap orang berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Manakala seseorang memperoleh keterbukaan terhadap nikmat Allah bagi dirinya, hendaknya mereka tidak berpaling dan/atau mengerjakan sesuatu yang lain. Tetapnya seseorang dalam nikmat-Nya diukur dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seluruh nikmat Allah benar-benar terkait dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang dari keduanya. Tidak jarang seorang mukmin berpaling manakala Allah melimpahkan nikmat-Nya. Apabila seorang mukmin tidak lagi berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam melaksanakan amal-amal yang diketahuinya berdasarkan nikmat Allah, ia telah berpaling dari nikmat Allah. Sikap itu akan diikuti dengan memilih mengerjakan amal-amal yang tidak bersumber dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian akan menyebabkan seseorang berpaling dari nikmat Allah dan memilih mengerjakan amal selain dari nikmat Allah.

﴾۳۸﴿وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَؤُوسًا
Dan apabila Kami berikan kenikmatan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan mereka menginginkan mengerjakan yang lain; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (QS Al-Israa’ : 83)

Sebagian orang berpaling dari nikmat Allah dan memilih mengerjakan amal-amal yang mereka sukai setelah Allah memberikan kenikmatan kepada mereka. نَأَىٰ بِجَانِبِهِ bermakna menginginkan sesuatu yang ada selain yang ditentukan. Ketika Allah melimpahkan nikmat kepada seorang hamba, Dia memberitahukan kepada hamba tersebut suatu amanah yang sebenarnya telah disampaikan dalam kitabullah Alquran, maka hamba tersebut mengetahui amanahnya berbentuk firman Allah dalam Alquran. Hanya saja hawa nafsu manusia mempunyai kecerdasan lain yang menyebabkan seseorang mungkin mempunyai pemahaman lebih atau berbeda dari batasan ketat firman yang tercantum dalam Alquran. Bila hamba tersebut mengikuti kecerdasan lainnya tanpa berpegang pada firman yang ditentukan baginya, ia telah menginginkan sesuatu yang lain selain yang ditentukan Allah. Tidak jarang sesuatu yang lain itu merupakan hal yang (tampak) baik dan dekat dengan firman yang menjadi amanahnya, tetapi kemudian melalaikan hamba tersebut dari firman-Nya.

Pada prinsipnya, berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bertujuan untuk mewujudkan rahmaniah dan rahimiah dari sisi Allah, tidak menyimpang darinya. Orang yang benar-benar berpegang pada kedua tuntunan itu adalah orang yang berusaha mewujudkan rahmaniah dan rahimiah-Nya dengan berpegang pada kedua tuntunan. Ada orang-orang yang berpegang dengan kuat pada kedua tuntunan itu tanpa mengetahui tujuannya, maka mereka memperoleh kebaikan dari apa yang mereka lakukan. Ada orang-orang yang mengikuti kaum musyrikin, mereka berpegang pada kedua tuntunan itu untuk menyerang muslimin (selain mereka), maka mereka itu adalah kaum khawarij. Sebagian orang melakukan amal-amal tanpa mempedulikan kedua tuntunan tersebut karena kekufuran mereka. Ayat di atas berbicara tentang suatu kaum tertentu, yaitu orang-orang yang beramal mengikuti petunjuk tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka adalah orang-orang yang berpaling dari nikmat Allah dan mengikuti jalan lain yang bukan petunjuk Allah sedangkan mereka menyangka itu petunjuk. Mereka tidak mengetahui arah dari petunjuk yang mereka ikuti.

Tidak Berpaling dari Nikmat Allah

Allah memerintahkan orang beriman untuk beramal dan membiarkan orang-orang yang berpaling untuk beramal. Ayat berikutnya terkait erat dengan keadaan orang yang memperoleh nikmat Allah baik mengikuti petunjuk maupun orang yang berpaling dari nikmat Allah dan menempuh langkah yang lain selain petunjuk Allah. Hendaknya masing-masing orang yang memperoleh nikmat Allah (baik yang mengikuti petunjuk atau orang yang berpaling dari nikmat Allah) beramal sesuai dengan keadaan masing-masing.

﴾۴۸﴿قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih mengikuti petunjuk tentang jalannya. (QS Al-Israa’ : 84)

Langkah yang perlu dilakukan oleh setiap orang beriman adalah beramal sesuai dengan keadaan masing-masing, baik orang tetap dalam nikmat Allah ataupun orang berpaling dari nikmat Allah. Sedikit banyak perintah tersebut menggambarkan alotnya persoalan bagi orang beriman untuk dapat berjalan bersama orang yang berpaling dari nikmat Allah, bahwa langkah terbaik adalah membiarkan mereka beramal dengan keadaan masing-masing. Bila seseorang berpaling dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, barangkali sebagian amalnya termasuk sebagai amal yang mengikuti tuntunan Allah. Apa-apa yang mengikuti tuntunan Allah akan mendatangkan kebaikan, sedangkan amal-amal dari keberpalingannya akan mendatangkan madlarat. Hendaknya mereka memperhatikan apakah amal mereka mendatangkan madlarat bagi umat manusia agar ia bisa menghentikan perbuatannya demikian. Orang-orang yang beramal tetap dalam nikmat Allah pada dasarnya akan beramal dengan cara yang paling baik karena mereka mengetahui sasaran yang ditentukan Allah dah harus dicapai. dan mengetahui cara mengerjakannya, tetapi hal itu dapat dirusak pihak lain dengan berbagai cara.

Allah lebih mengetahui orang-orang di antara mereka yang lebih mengikuti petunjuk. Masing-masing mungkin akan mengatakan bahwa diri mereka melakukan amal dengan mengikuti petunjuk dan mungkin mengatakan bahwa pihak lain berbuat tidak mengikuti petunjuk. Allah-lah yang mengetahui siapa di antara mereka yang lebih mengikuti petunjuk, bukan masing-masing pihak di antara mereka. Bagi dua pihak, lebih penting untuk memperhatikan langkah diri masing-masing dalam mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW daripada mempertahankan kebenaran sendiri, sedangkan ia hendaknya berkata “silahkan masing-masing beramal sesuai dengan keadaannya”. Akan sangat membantu bila satu pihak mau memperhatikan perkataan atau peringatan pihak lain yang mungkin mengandung kebenaran karena sama-sama telah memperoleh nikmat Allah, tidak hanya meyakini bahwa kebenaran hanyalah pendapat diri mereka sendiri.

Bagi muslimin kebanyakan, sangat penting bagi mereka untuk berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mengikuti petunjuk tidak menggantungkan kebenaran pada seseorang karena mungkin Allah membiarkan seseorang yang berpaling tampak melakukan amal-amal sesuai petunjuk. Perselisihan pendapat masing-masing pihak akan sulit dibedakan oleh orang-orang kebanyakan karena mereka masing-masing adalah orang yang telah menerima nikmat Allah. Bila umat menggantungkan kebenaran pada satu pihak di antara yang berselisih tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akan sangat banyak kerusakan yang terjadi di antara masyarakat. Allah lebih mengetahui pihak-pihak yang lebih mengikuti petunjuk, sedangkan kebanyakan manusia tidak mempunyai kemampuan untuk melihat kebenaran dan kebathilan yang ada di antara mereka tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Hendaknya masing-masing pihak tetap beramal. Salah satu pihak di antara mereka akan menyesal bahwa apa yang mereka lakukan tidaklah mengikuti petunjuk Allah dan akan berputus asa dengan apa yang mereka lakukan. Mereka akan mengetahui bahwa mereka telah berpayah-payah beramal tanpa hasil yang memadai karena amal mereka tidak berbeda dengan amal yang dapat dilakukan orang kebanyakan atau bahkan orang kafir. Rasa putus asa itu akan terjadi manakala mereka ditimpa suatu keburukan karena tidak mengikuti petunjuk Allah, dan sebagian karena perbuatan-perbuatan mereka. Bagi akal yang lebih kuat, keburukan ini akan disadari kedatangannya sebelum terjadi, tetapi akal yang lemah akan merasakannya setelah keburukan itu menimpa mereka. Bila seseorang beriman pada sebagian dan tidak mau beriman dengan sebagian lain dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akal mereka akan dalam keadaan terus menerus lemah. Kekuatan akal itu akan diperoleh manakala orang beriman mau beriman mengikuti tuntunan Allah sepenuhnya.

Bagi orang yang mengikuti petunjuk, hendaknya mereka tetap beramal berdasarkan nikmat Allah yang diberikan kepada mereka dengan mengikuti petunjuk yang terbuka kepada mereka. Mungkin hal ini akan berat dilakukan dengan keadaan berselisih dengan orang beriman yang lain. Sebagian orang beriman yang lain akan beramal tanpa tujuan yang sama dengan dirinya hingga mungkin saja ia tidak mempunyai sahabat dalam beramal. Demikian pula ia akan diguncang dengan momok keburukan yang akan menimpa diri mereka bersama kaumnya. Dalam keadaan yang berat demikian, hendaknya ia tetap beramal dengan nikmat Allah yang diberikan kepada mereka tidak berpaling dan menempuh jalan yang lain. Tidak masalah di hadapan Allah bahwa ia berbeda dalam amal dengan orang lain, hendaknya ia tetap beramal dengan keadaan dirinya. Hendaknya ia memperhatikan nikmat yang diberikan kepada dirinya dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak terlalu terikat dengan perbedaan dirinya dengan orang beriman yang lain.

Beramal Sesuai Keadaan

Orang-orang yang telah memperoleh nikmat Allah hendaknya beramal sesuai dengan keadaan masing-masing. شَاكِلَتِهِ menunjuk pada bentuk ciptaan berdasarkan susunan-susunannya. Seseorang yang memperoleh nikmat Allah akan mengetahui susunan entitas penciptaan dirinya, yaitu nafs wahidah dan jasmani yang terbentuk berdasarkan nafs wahidah itu. Keadaan diri seseorang seringkali tidak bersifat statis, tetapi bisa berkembang. Pengenalan susunan itu bisa meluas hingga seseorang mengetahui nafs pasangan yang tercipta dari nafs wahidah dirinya, dan mungkin juga terus meluas hingga mengenali bagian-bagian dirinya di alam bumi. Hendaknya seseorang yang memperoleh nikmat Allah beramal sesuai dengan keadaan dirinya.

Keadaan diri yang dimaksud juga mencakup hubungan-hubungan yang terbentuk pada dirinya terhadap entitas-entitas bagian diri yang dikenalnya. Seseorang tidak bisa memaksakan diri untuk mengerjakan sesuatu manakala hubungan yang terbentuk antara dirinya dengan objek amalnya dalam keadaan buruk. Hendaknya mereka mengerjakan amalnya dengan cara yang sesuai dengan keadaan dirinya. Kadangkala seseorang harus beramal secara aktif terbatas atau bahkan pasif terhadap objeknya karena sempitnya pintu untuk beramal. Misalnya ketika seseorang dalam keadaan telanjang, ia mungkin tidak bisa diterima oleh umatnya manakala menyampaikan kebenaran, maka ia bisa memaksakan diri secara terbatas dengan menyampaikannya dari belakang hijab tanpa harus berhadapan dengan umatnya. Alangkah baik bila ia berpakaian terlebih dahulu, akan tetapi bila pakaiannya rusak, ia akan sulit berpakaian secara baik. Hal-hal demikian hendaknya diperhatikan oleh seseorang manakala ia hendak beramal.

Ada keadaan-keadaan tertentu orang yang memperoleh nikmat Allah yang mungkin sulit dipahami oleh masyarakat umum. Misalnya boleh jadi ia tampak tidak mau dipaksa beramal untuk memperbaiki keadaan tetapi hanya beramal untuk beribadah. Hal itu bukan karena tidak mau memperbaiki keadaan, tetapi ia melihat bahwa amal mengikuti kehendak Allah lah yang akan memperbaiki keadaan. Kadangkala keadaan semacam itu disertai pandangan bahwa orang lain tidak mau memahami kehendak Allah hingga mereka terlilit kesulitan, sedangkan bila kesulitan itu ada pada dirinya, dipandang bahwa kesulitan itu terjadi karena pihak lain menghalangi langkahnya. Selama seseorang bisa menjelaskan pendapatnya berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan baik tanpa dipaksakan, mungkin ia adalah orang benar yang berada di atas nikmat Allah. Kaum muslimin boleh jadi bisa memperoleh pemahaman yang baik dengan berusaha memahami pendapatnya dan membongkar cara pandang mereka sendiri yang mungkin kurang tepat hingga bisa lebih memahami kehendak Allah. Bila sikap demikian hanya berdasarkan ra’yu, mungkin ia hanya orang yang terlalu memandang besar dirinya sendiri.

Perselisihan demikian bisa terjadi hingga di rumah tangga. Di tingkat rumah tangga, perselisihan dalam mensikapi nikmat Allah bisa menjadi masalah besar. Sebagaimana laki-laki bisa berpaling dari nikmat Allah, perempuan dapat pula berpaling ketika memperoleh nikmat Allah, dalam bentuk yang berbeda. Seorang laki-laki berpaling dari nikmat Allah manakala ia mengenal dirinya dan meletakkan  dedikasi penghambaannya terhadap suatu urusan selain bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang tidak benar-benar mengetahui kedudukan pengenalan dirinya dalam Alquran atau dalam jamaah Rasulullah SAW maka kemudian berpaling. Seorang perempuan berpaling dari nikmat Allah manakala ia mengenali urusan Allah bagi dirinya terdapat pada diri laki-laki selain suaminya hingga meletakkan dedikasinya untuk melayani laki-laki itu. Keduanya merupakan hal yang sama dalam perkara berpaling dari nikmat Allah walaupun berbeda bentuknya. Seorang isteri yang berpaling mungkin akan melakukan pemaksaan terhadap suaminya untuk tunduk kepada orang lain dalam urusan yang tidak jelas sumbernya, sedangkan suaminya sedang berjuang untuk menunaikan bagian dari urusan Rasulullah SAW.

Orang yang memperoleh nikmat Allah tidak boleh melanggar batasan dirinya. Bila orang lain bisa memahami, ia boleh menjelaskan keadaan dirinya. Bila ia melanggar batasan, ia mungkin tergiring atau terjatuh pada keadaan berpaling dari nikmat Allah dan menginginkan hal yang tidak ditentukan bagi dirinya, atau menyebabkan dirinya lalai dalam mengerjakan amanah yang dikalungkan pada dirinya. Bagi orang umum, hendaknya mereka tidak memaksakan pendapat diri terhadap orang-orang yang memperoleh nikmat Allah yang berusaha untuk bekerja sesuai dengan keadaan diri mereka.

Amal orang-orang yang memperoleh nikmat Allah akan memberikan sangat banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat. Bila masyarakat dapat menerima amal-amal mereka, manfaat itu akan muncul dan bila mendustakannya maka manfaat itu akan tenggelam atau berubah menjadi adzab. Nabi dan rasul yang didustakan umatnya akan mendatangkan adzab bagi umat mereka karena pendustaan umatnya. Adzab tersebut terjadi karena adanya bencana atas akal umat yang telah terjadi, bukan masalah dendam atau kebencian para nabi terhadap umatnya. Pada masyarakat yang mencari kebaikan tanpa berpegang pada tuntunan Allah, manfaat dari amal orang yang memperoleh nikmat mungkin akan tenggelam tidak dapat terbit. Tetapi syaitan akan berusaha agar manusia tertimpa bencana walaupun mungkin (hanya) pada akalnya. Bencana demikian akan menjadi bencana besar yang tertunda.





Rabu, 22 Januari 2025

Bekerja dan Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara langkah mengikuti Rasulullah SAW adalah bekerja dengan mengerjakan amal shalih yang sesuai dengan keadaan masing-masing. Setiap orang harus bekerja sesuai dengan keadaan masing-masing untuk menyumbangkan kemakmuran bagi masyarakat.

﴾۴۸﴿قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih mengikuti petunjuk tentang jalannya. (QS Al-Israa’ : 84)

Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan untuk amal shalih akan mengarahkan orang yang beramal untuk mengenal amanah yang ditentukan bagi dirinya, yaitu amal-amal yang ditetapkan layaknya tetapnya kalung pada lehernya. Amal-amal berdasarkan pada keinginan beramal shalih akan menjadikan seseorang memperoleh petunjuk. Seandainya amal-amalnya belum mengarah pada amanah itu, akalnya akan mengarah kepadanya. Hal ini akan terjadi manakala seseorang mempunyai keikhlasan dalam beramal, yaitu keinginan untuk mengenal Allah dengan mengetahui kehendak Allah atas dirinya. Apabila seseorang hanya mengikuti perkataan-perkataan manusia tanpa memperhatikan tuntunan Allah dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, ia tidak akan mengetahui adanya petunjuk yang diberikan kepadanya.

Petunjuk jalan itu akan menunjukkan kepada seseorang jalan kehidupan yang seharusnya ditempuh. Boleh jadi terbina pada diri seseorang suatu pengetahuan tentang keadaan semesta dirinya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau suatu pengetahuan tentang sosok pemimpin yang harus diikuti, atau suatu hembusan pengetahuan tentang nafs wahidah dirinya, atau suatu pengetahuan tentang jodoh bagi dirinya, dan/atau pengetahuan-pengetahuan lain yang menjadikan diri seseorang mengetahui jalan kehidupan yang seharusnya ditempuh. Dalam beberapa hal, petunjuk jalan itu berupa suatu pengetahuan yang diturunkan dari khazanah nafs wahidah, dan dalam hal lain petunjuk jalan diperoleh melalui pengamatan-pengamatan inderawi. Pengetahuan-pengetahuan itu akan mengarah pada suatu kesatuan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang harus ditempuh. Itu adalah petunjuk-petunjuk dengan jalan kehidupan yang diberikann kepada orang-orang yang beramal shalih.

Allah lebih mengetahui orang-orang yang lebih mengikuti petunjuk jalannya. Orang yang lebih mengikuti petunjuk adalah orang yang mengarahkan kehidupannya sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW secara lebih tepat. Orang demikian tidak bisa ditentukan berdasarkan dikotomi pengetahuan lahiriah atau bathiniah. Seseorang yang mempunyai indera bathin lebih kuat belum tentu lebih mengikuti petunjuk. Demikian pula orang-orang yang kuat pikirannya belum tentu lebih mengikuti petunjuk. Orang yang lebih mengikuti petunjuk jalannya adalah orang yang memahami arah kehidupan dan berusaha menjalankan kehidupan dirinya sesuai dengan suatu tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Ia mengarahkah kehidupan dirinya untuk menunaikan suatu petunjuk yang dipahaminya dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan hanya melaksanakan saja tanpa memahami tuntunannya, dan bukan memahami petunjuk saja tanpa melaksanakan petunjuknya. Itu adalah orang-orang yang lebih mengikuti petunjuk jalannya.

Setiap orang hendaknya beramal sesuai dengan keadaannya. Dari satu tuntunan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akan banyak jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh banyak orang sesuai dengan keadaan masing-masing maka hendaknya setiap orang memikirkan amal yang dapat dikerjakan untuk membantu terwujudnya suatu tuntunan Allah. Boleh jadi seseorang harus mewujudkan akalnya sendiri, atau boleh jadi harus memfasilitasi terwujudnya pemikiran orang lain yang merupakan imam bagi dirinya. Yang penting diperhatikan oleh setiap orang adalah dasar pemahamannya terhadap tuntunan Allah sesuai dengan keadaan masing-masing, karena perhatian terhadap perintah Allah itu merupakan ketakwaan dirinya. Manakala ia membantu pihak lain yang berusaha mewujudkan tuntunan Allah, hendaknya ia lebih memperhatikan tuntunan Allah dibandingkan perintah manusia untuk amalnya, dan menjadikan perintah manusia sebagai penjelas bagi tuntunan Allah. Bila seseorang tidak memperhatikan tuntunan Allah terkait amal shalih yang dilakukannya, ia mungkin tidak beramal shalih dengan amalnya.

Bekerja Produktif

Seseorang yang mengikuti petunjuk jalannya akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan duniawi. Tetapi hasil duniawi yang bisa diperoleh seseorang tidak menunjukkan seseorang lebih mengikuti petunjuk. Hasil duniawi dari diri seseorang sangat banyak dipengaruhi bentuk shilaturahmi dengan umat mereka. Seseorang yang dapat membentuk shilaturrahmi yang baik dengan umat mereka akan mendatangkan hasil duniawi yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tidak dapat membentuk shilaturrahmi. Kunci dalam membentuk shilaturrahmi ditentukan oleh hubungan yang terbentuk di antara suami dan isteri. Seorang shalih yang tidak bisa membentuk hubungan yang baik dengan isterinya akan kesulitan membentuk shilaturrahmi dengan orang lain dan mewujudkan khazanah mereka ke bentuk-bentuk dzahiriah. Hal ini terutama dalam urusan amal shalih, dan bisa berlaku surut bagi amal-amal duniawi yang semakin jauh dari amal shalih. Sekalipun tidak terwujud ke alam duniawi, usaha dari orang-orang yang berusaha mengikuti petunjuk jalannya merupakan kebaikan walaupun mungkin  tidak disadari oleh umatnya.

Dalam urusan amal shalih, hubungan antara suami dan isteri digambarkan layaknya tanaman dan ladang tempat tumbuhnya. Seorang laki-laki adalah pohon thayibah yang harus berbuah, dan para isteri merupakan bumi tempat tumbuhnya tanaman yang mengandung khazanah kebumian sebagai bahan pertumbuhan pohon dan berbuahnya. Pertumbuhan pohon dan berbuahnya sangat dipengaruhi oleh hubungan yang terbentuk antara pohon dengan tanahnya. Di dalam diri para isteri terdapat suatu hal ghaib yang seharusnya dijadikan media tumbuh bersama dengan suaminya. Hal ghaib itu merupakan kandungan khazanah diri perempuan yang harus dijaga agar dapat tumbuh untuk mendukung terwujudnya amal shalih bersama suaminya. Seorang suami harus berusaha memahami apa yang dikandung isterinya, dan setiap isteri harus belajar untuk memberikan khazanah dirinya untuk suaminya saja tidak menyimpang secara keji kepada pihak lain. Usaha isteri demikian dapat dilakukan dengan memahami amal shalih suaminya. Hal itu akan menentukan kesuburan suaminya untuk menghasilkan buah.

Pada dasarnya laki-laki dan perempuan merupakan makhluk yang sama, tetapi harus menemukan bentuk amal yang berbeda. Bentuk-bentuk itu pada satu sisi berguna untuk memperjelas nilai amal yang harus dilaksanakan. Misalnya ketaatan seorang isteri kepada suami sebenarnya merupakan gambaran penjelas bahwa laki-laki pun sebenarnya juga mempunyai induk bagi ketaatan dirinya. Induk ketaatan itu berupa seorang washilah bagi dirinya, atau setidaknya berupa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang hendaknya memperhatikan keadaan dirinya manakala muncul tuntutan terhadap pasangannya karena tuntutan dirinya itu berguna agar ia memperhatikan keadaan dirinya dalam urusan yang sama. Hal demikian akan mengantarkan suatu pasangan untuk dapat saling memahami dan bekerjasama hingga terbentuk sinergi dalam menunaikan amal shalih, dan mengantarkan mereka memperoleh tempat atau kedudukan bersama-sama yang layak dalam al-jamaah, tidak hanya berdasar prasangka sendiri. Hal ini merupakan bagian dari mengikuti petunjuk. Orang yang lebih mengikuti petunjuk akan mengikuti prinsip-prinsip dalam pernikahan karena pernikahan merupakan gambaran turunan dalam beragama.

Bila sinergi tidak terbentuk, akan sulit bagi seseorang untuk melahirkan hasil amal shalih pada tingkat duniawi. gambarannya kadangkala suatu pohon dapat berbuah secara terbatas dalam keadaan dibonsai atau di dalam pot, tetapi perlu usaha yang besar untuk menjaga agar tetap dapat berbuah secara terus menerus. Setiap orang harus memperhatikan pernikahan mereka karena merupakan setengah bagian dari agamanya, terutama untuk bagian yang harus ditunaikan. Mengenai hasil yang seharusnya terlahir, kadangkala seseorang tidak dapat membuahkan hasil karena pihak lain yang tidak bisa mendukung maka hal demikian tidak termasuk dalam tanggung jawab agama dirinya. Walaupun demikian, ia harus berusaha sungguh-sungguh agar setiap pihak yang terhubung dengan dirinya dapat menunaikan amanah bersama agar terwujud khazanah dari Allah di alam bumi, tidak membiarkan orang lain melakukan kelalaian dalam amal mereka. Lebih utamanya, sebenarnya orang yang terhubung dirinya membutuhkan kebaikan dari amannah mereka, dan usaha itu merupakan kebaikan yang sangat besar bagi bersama dalam upaya mewujudkan khazanah Allah.

Amal Shalih dan Al-Jamaah

Puncak dari amal shalih yang dapat dilakukan oleh manusia adalah amal-amal yang ditentukan Allah sebelum kelahirannya. Amal demikian itu merupakan amal-amal yang dijadikan sebagai sayap agar seseorang dapat menempuh jalan langit. Allah telah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal yang menjadi sarana bagi dirinya untuk bertaubat kembali kepada Allah menempuh jalan langitnya dalam mi’raj kepada Allah. Amal-amal yang ditetapkan Allah itu adalah amanah diri setiap orang. Tidak semua orang mengetahui amanah dirinya sekalipun ia telah benar-benar telah diberi amanah itu.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Israa’ : 13)

Suatu pelaksanaaan amanah akan dapat mengantarkan terbentuknya al-jamaah. Al-jamaah akan terbentuk melalui mekanisme berantai, manakala seseorang berbagi amanah yang diketahuinya, orang lain akan mengetahui pula amanah yang harus ditunaikan dan diberikan kepada orang lain hingga masing-masing orang bisa mengetahui atau meraba amanahnya. Pada dasarnya suatu amanah merupakan kesatuan urusan dari Allah, dan satu urusan itu dibagi kepada masing-masing manusia, maka satu amanah yang diketahui seorang hamba Allah sebenarnya merupakan amanah bagi hamba Allah yang lain juga, walaupun mungkin berbeda bentuknya. Al-jamaah akan terbentuk manakala banyak orang mengetahui amanah-amanah yang harus ditunaikan dan harus disampaikan kepada orang lain, dan terbentuk kerjasama yang baik dalam pelaksanaan amanah-amanah itu. Al-jamaah tidak akan terbentuk tanpa ada orang yang mengetahui urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka.

Terbentuknya al-jamaah akan terjadi apabila para hamba Allah mengenal kehendak Allah untuk ruang dan jaman mereka masing-masing. Ini merupakan pokok yang mengawali tumbuhnya al-jamaah. Tanpa pengetahuan terhadap kehendak Allah untuk ruang dan jamannya, suatu kaum mungkin hanya berpikir bebas dalam melakukan amal shalih, maka amal shalih yang mereka lakukan sangat mungkin hanya merupakan prasangka sendiri saja tidak menyatu pada suatu petunjuk tertentu dari ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pengenalan seseorang terhadap amal shalih yang ditentukan Allah bagi diri sendiri merupakan tanda bahwa seseorang sungguh-sungguh mengenal kehendak Allah. Tetapi setiap orang harus berhati-hati bahwa syaitan juga membuat tiruan-tiruan keadaan yang menunjukkan pengenalan diri dengan keping-keping kebenaran yang tidak utuh. Kisah Adam dan pohon khuldi di surga bisa menjadi contoh kasus demikian.

Suatu kaum akan tumbuh sebagai jamaah apabila mereka memperhatikan amanah yang diturunkan Allah untuk ruang dan jamannya, dan mereka berusaha untuk mewujudkan amanah itu. Bila seseorang tidak berkeinginan atau tidak berusaha untuk mewujudkan amanah itu, mereka tidak akan menyatu dalam al-jamaah. Keinginan tetap berjamaah akan menjadikan seseorang semakin mudah memahami kehendak Allah. Kadangkala hawa nafsu seseorang melambung berlebihan dalam mensikapi amanah yang harus ditunaikan hingga bisa saja seseorang keluar dari al-jamaah karena obsesi terhadap amanah. Keinginan tetap berjamaah itu harus terwujud dalam bentuk ketaatan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak bertentangan dengan keduanya. Manakala terjadi pertentangan di antara umat, adanya pihak yang menentang kedua tuntunan itu adalah kelompok yang pasti keliru baik satu pihak atau seluruh pihak, sedangkan pihak lain mungkin benar walaupun belum tentu benar.

Kadangkala suatu kaum tidak tumbuh dalam al-jamaah sedangkan mereka mengharapkannya. Hal demikian terjadi karena kurangnya perhatian mereka terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin mereka memperhatikan tuntunan tetapi yang mereka perhatikan tidak tepat sedangkan mereka mengabaikan tuntunan ayat yang lain. Hal demikian tidak boleh terjadi. Seseorang atau suatu kaum tidak boleh beriman dengan sebagian ayat Allah dan mendustakan sebagian ayat Allah yang lain. Hal demikian akan menjadi penghalang terbitnya kebenaran kepada mereka dan menghalangi manusia untuk mengenal kebenaran secara lebih sempurna. Manakala pemahaman suatu ayat bertentangan terhadap ayat yang lain, seseorang sebenarnya belum mengenal kehendak Allah. Mungkin seorang hamba keliru dalam memahami kehendak Allah tetapi tidak mau menentang suatu ayat manakala disampaikan, maka ia bisa tetap dalam al-jamaah dan bisa tumbuh dalam al-jamaah. Manakala melakukan penentangan, ia telah keluar dari al-jamaah. Apabila seseorang atau suatu kaum ingin tumbuh sebagai al-jamaah, mereka tidak akan bisa tumbuh di atas pemahaman terhadap kehendak Allah dengan cara demikian. Pertumbuhan sebagai al-jamaah hanya akan terjadi apabila suatu kaum mengenal amanah yang diturunkan Allah untuk ruang dan jamannya secara benar.

Terkait dengan amanah seorang hamba, setiap pengenalan amanah bisa menjadi informasi bagi orang lain untuk menemukan amanah mereka selama pengenalan amanah itu benar. Hanya saja syaitan masih sangat menguasai medan pengenalan amanah manusia. Suatu kaum tidak boleh berpegang pada amanah yang dikenali seseorang tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap informasi yang muncul dari seorang pemegang amanah hendaknya diperiksa dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan mendudukkan informasi itu untuk memperjelas pemahaman dirinya terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak terbalik menggunakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk pembenaran langkah diri dan kelompok secara serampangan. Itu merupakan salah satu cara mengenal amanah Allah dengan benar. Dengan cara demikian, akan terbentuk suatu al-jamaah dalam mewujudkan kehendak Allah di alam dunia.



Kamis, 16 Januari 2025

Penataan Umat Dengan Amanah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara langkah mengikuti Rasulullah SAW adalah melakukan pengaturan dalam bermasyarakat, atau di jaman modern disebut sebagai politik. Sayangnya kata politik mengalami banyak degradasi pengertian dalam pandangan masyarakat diantaranya berupa perebutan kekuasaan dalam suatu negara. Manakala seseorang terjun berpolitik, maknanya adalah ia berusaha untuk memperoleh bagian dari kekuasaan dalam mengatur negara. Karena degradasi makna yang telah terjadi, sebagian dari kalangan umat islam menjadikan politik sebagai pengesah kekuasaan pihak-pihak tertentu dengan menekankan hal-hal tertentu saja seperti larangan untuk memberontak kepada pemimpin. Seharusnya politik tidak dilakukan dengan jalan demikian.

Politik seharusnya dilakukan dengan menyampaikan amanah kepada masing-masing orang. Menyampaikan amanah hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mengetahui amanah-amanah yang diturunkan Allah bagi umat manusia untuk ruang dan jaman masing-masing.

﴾۸۵﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS An-Nisaa : 58)

Ayat di atas menjelaskan kandungan berpolitik di antara umat manusia, diletakkan mendahului ayat tentang ketaatan-ketaatan yang perlu dilakukan oleh setiap orang untuk terhubung pada ketaatan kepada Allah. Berpolitik dalam islam adalah menyampaikan amanah Allah kepada para ahli-nya dan menegakkan hukum di antara manusia dengan keadilan. Kedua hal itu adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang-orang yang diberi mandat kekuasaan untuk mengatur kehidupan masyarakat.

Sayangnya kekuasaan berpolitik itu tampak indah dalam pandangan manusia, sedangkan mungkin saja mereka tidak mengetahui apa amanah yang harus disampaikan kepada para ahlinya. Sebagian orang sangat menikmati kekuasaan berpolitik hingga menggunakan ayat-ayat Allah untuk mendukung kekuasaan mereka, dan menggunakan kekuasaan itu untuk kepentingan diri mereka sendiri tanpa mengetahui sama sekali amanah-amanah yang harus disampaikan. Masyarakat tidak diberi amanah yang seharusnya mereka peroleh, dan kekuasaan itu digunakan untuk kepentingan diri dan kelompoknya bersama orang-orang yang mau bekerja sama tanpa mempedulikan penegakan hukum dan justru mempermainkan hukum, sedangkan masyarakat luas dibebani ketaatan tanpa memperoleh hak-hak mereka. Contohnya ada orang-orang yang menjual sekian luasan pantai lautan yang bukan hak mereka karena mereka sedang mempunyai kuasa, tidak mempertimbangkan bahwa sekian banyak masyarakat yang berkepentingan dengan luasan pantai yang mereka jual.

Menyampaikan Amanah

Amanah yang harus disampaikan kepada para ahlinya adalah amal-amal yang sesuai dengan keadaan masing-masing ahlinya. Pada dasarnya setiap orang membutuhkan pekerjaan, dan setiap orang harus bekerja sesuai dengan keadaan masing-masing. Seorang tukang yang mahir harus dipekerjakan sebagai tukang memimpin para pekerja yang membantunya. Seorang pemikir yang brilian harus dihormati kepakarannya dalam berpikir yang bermanfaat bagi masyarakat dengan memberikan kedudukan yang sesuai di antara masyarakat. Para ahli penegakan hukum harus diarahkan untuk menegakkan hukum sesuai dengan keahlian mereka sehingga hukum menjadi tegak, dan demikian setiap orang yang mempunyai kemampuan tertentu diberi amal yang sesuai dengan keadaan masing-masing, dan mereka harus diberi imbalan yang layak untuk pekerjaan mereka.

﴾۴۸﴿قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih mengikuti petunjuk tentang jalannya. (QS Al-Israa’ : 84)

Setiap orang harus beramal sesuai dengan keadaan masing-masing. Sebagian orang terbina dalam hal-hal terkait warna duniawi maka mereka hendaknya diberikan amal-amal duniawi yang sesuai. Sebagian orang terbina dalam hal-hal terkait warna pembinaan akhlak mulia, maka hendaknya mereka diberikan amal yang sesuai dengan keadaannya. Di masyarakat, setiap orang tumbuh berkembang dalam kombinasi warna jasmaniah dan ruhaniah yang sangat bermacam-macam porsinya dan tidak terdikotomi dalam dua bidang khusus itu saja. Setiap orang hendaknya diberi kesempatan beramal yang sesuai dengan keadaan dirinya selama amal-amal itu mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Setiap orang dalam setiap keadaan hendaknya bisa memperoleh kesempatan untuk mengerjakan amal yang mendatangkan manfaat bagi masyarakat.

Hal demikian tampak sulit dijumpai pada jaman ini, dan kebanyakan manusia tidak mengetahui persoalan yang terjadi atas mereka hingga keadaan menjadi demikian. Hal ini terkait dengan amanah Allah. Amanah di antara masyarakat mungkin dikuasai oleh orang-orang yang tidak mengetahui amanah Allah, atau bahkan justru mungkin dikuasai oleh para pengkhianat yang menjual sumber daya bagi masyarakat untuk keuntungan sendiri. Tentu persoalan ini tidak berdiri sendiri. Orang-orang beriman mempunyai andil tanggung jawab atas kesemrawutan persoalan hingga masyarakat tidak mempunyai jalan keluar dari masalah pekerjaan yang seharusnya dapat mereka peroleh. Bila orang-orang beriman mengetahui amanah Allah yang harus mereka tunaikan, dan/atau berikan kepada para ahlinya, maka persoalan bangsa akan sedikit membaik atau akan menjadi sangat baik. Manakala orang beriman tidak mengetahui amanah yang harus mereka tunaikan atau bagikan kepada para ahlinya, maka keadaan masyarakat akan tetap dalam keadaan buruk.

Memberikan amanah kepada ahlinya harus diberikan oleh setiap orang yang mengetahui amanah. Seseorang dengan pengetahuan amanah mungkin tidak mempunyai cukup pengetahuan tentang amanah bagi setiap orang, maka kewajiban yang harus ditunaikan terbatas dalam amanah-amanah yang telah diketahuinya. Di sisi lain, tidak semua orang yang menjadi pemilik amanah telah layak menjadi ahlinya, maka kewajiban memberikan amanah itu berlaku terhadap seseorang yang telah menjadi ahlinya. Manakala seseorang telah mengetahui tetapi kemudian menahan amanah yang harus diberikan kepada ahlinya tanpa suatu alasan yang benar, ia telah mengkhianati amanah Allah kepada dirinya. Dalam kasus khusus, ada orang yang terhalang untuk menunaikan dan menyampaikan amanah. Hal-hal demikian akan mendatangkan kerusakan bagi tatanan bermasyarakat.

Seseorang dengan pengetahuan amanah pada awalnya mungkin hanya mengetahui amanahnya tanpa mengetahui siapa ahlinya. Ia tidak boleh membagi amanah yang diketahuinya mengikuti hawa nafsunya. Ia harus berusaha untuk mengenali siapa para ahli untuk amanah-amanah yang telah diketahuinya. Hal itu dapat dikenali bila ia menjalin komunikasi dengan orang-orang yang sesuai dengan amanahnya. Apabila seseorang tidak mempunyai perhatian memadai terhadap amanah-amanah yang ada pada seseorang lainnya, ia bukanlah ahli bagi amanah itu, baik karena orang itu tidak diciptakan untuk amanah itu ataupun karena akalnya belum cukup kuat untuk menerima amanah itu. Selama seseorang belum memandang amanah itu sebagai suatu jalan ibadah, seseorang bukanlah ahli dari amanah itu atau belum menjadi ahli bagi amanah itu. Seseorang menjadi ahli amanah manakala ia mempunyai perhatian terhadap amanah itu sebagai sarana bagi dirinya dalam beribadah kepada Allah. Di sisi lain, ada orang-orang yang membangun perhatian terhadap amanah secara dipaksakan karena waham tidak mengikuti natur dirinya, maka orang demikian bukan pula ahli bagi amanah itu. Ia akan merasa kelelahan dan tidak tumbuh baik dengan amanah yang disampaikan.

Sekalipun pengetahuan seseorang tentang amanah mungkin terbatas, tetapi penyampaian amanah itu akan dapat mengantarkan terbentuknya al-jamaah. Al-jamaah akan terbentuk melalui mekanisme berantai, manakala seseorang berbagi amanah yang diketahuinya, orang lain akan mengetahui pula amanah yang harus ditunaikan dan diberikan kepada orang lain hingga masing-masing orang bisa mengetahui atau meraba amanahnya. Al-jamaah akan terbentuk manakala banyak orang mengetahui amanah-amanah yang harus ditunaikan dan harus disampaikan kepada orang lain, dan terbentuk kerjasama yang baik dalam pelaksanaan amanah-amanah itu. Al-jamaah tidak akan terbentuk tanpa ada orang yang mengetahui urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka. Apabila hanya ada satu orang yang mengetahui urusan Allah itu sedangkan yang lain tidak mau memahaminya dan hanya mau mengambil urusan selain urusan Allah, hanya satu orang itu yang merupakan al-jamaah, sedangkan yang lain mungkin hanya orang-orang yang sibuk beramal.

Kadangkala syaitan menghijab akal manusia untuk dapat mempersepsi amanah yang harus dilaksanakan dirinya manakala ia tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang bisa terhijab waham dalam melakukan pencarian amanah dirinya. Mungkin ia menyangka bahwa amanah ada di suatu tempat tertentu yang perlu dicari-cari tanpa menyadari ayat-ayat Allah yang digelar di hadapan dirinya. Ia lebih memperhatikan penemuan amanah daripada keinginan memahami perintah Allah untuk menjadi hamba Allah yang benar. Manakala seseorang berkeinginan untuk menjadi hamba Allah, ia akan berusaha memahami ayat-ayat Allah baik berupa kitabullah, sunnah Rasulullah SAW dan ayat-ayat kauniyah yang terjadi pada semesta dirinya agar dapat memahami perintah Allah. Hal demikian akan dilakukannya baik manakala disampaikan orang lain ataupun yang dipersepsi langsung oleh indera dirinya, maka akalnya akan menjadi cukup kuat untuk menjadi ahli bagi amanah Allah. Manakala seseorang lebih memperhatikan penemuan amanahnya daripada penghambaan dirinya, maka amanah itu akan menjadi beban dan mungkin akalnya tidak mampu memahami ayat Allah.

Dalam keadaan demikian, seseorang yang mengetahui amanah harus membina umatnya untuk dapat menjadi hamba Allah yang benar. Ia harus menunjukkan kepada umatnya cara untuk memahami perintah Allah agar layak menjadi hamba yang benar, tidak mengumbar iming-iming kepada umatnya dengan amanah-amanah yang harus ditunaikan. Umat manusia dapat tumbuh sebagai para megaloman pemikul amanah tanpa memahami perintah Allah kepadanya. Mereka tidak dapat berbagi amanah dalam mekanisme jamaah, tidak mengetahui kelemahan dalam dirinya dan tidak bisa mengetahui fadhilah orang lain yang seharusnya berjalan bersama. Setiap penolakan terhadap penjelasan (bayaan) ayat Allah merupakan tanda yang buruk adanya kesombongan atau imbas dari kesombongan. Memahami perintah Allah harus lebih diprioritaskan daripada membangun status sebagai pemikul amanah, karena pemikul amanah yang tidak memahami perintah Allah akan mendatangkan kerusakan. Ini sama dengan kasus Adam dengan Iblis yang menunjukkannya pohon khuldi sejak di surga. Pahamnya umat terhadap perintah Allah bernilai benar apabila mereka dapat memahami ayat-ayat kauniyah berdasarkan ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak dapat dinilai hanya dengan pengetahuan umum atau keterampilan dalam melakukan pekerjaan saja.

Penataan Umat Berdasarkan Amanah dan Amal

Membuka pekerjaan dan memberikan amanah dalam derajat tertentu merupakan hal yang berbeda. Amanah merupakan urusan Allah yang harus dikerjakan seseorang. Setiap amanah harus terwujud dalam amal, tetapi tidak setiap amal merupakan amanah Allah. Setiap orang harus diberi kesempatan untuk bekerja untuk mendatangkan manfaat yang baik bagi masyarakat, sedangkan amanah Allah harus diberikan kepada para ahlinya. Setiap orang harus berusaha bekerja memberikan manfaat kepada masyarakat tanpa harus berangan-angan untuk memikul suatu amanah tertentu dalam tata bermasyarakat.

Amanah merupakan bagian khusus dari amal, yaitu amal-amal yang dijadikan sebagai sayap agar seseorang dapat menempuh jalan langit. Allah telah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal yang menjadi sarana bagi dirinya untuk bertaubat kembali kepada Allah menempuh jalan langitnya dalam mi’raj kepada Allah. Amal-amal yang ditetapkan Allah itu adalah amanah diri setiap orang. Tidak semua orang mengetahui amanah dirinya sekalipun ia telah benar-benar telah diberi amanah itu.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Israa’ : 13)

Kelak ketetapan amal-amal itu akan dijumpai seseorang sebagai kitab yang terbuka sebagai pembanding terhadap amal-amal yang dilakukan. Amal-amal itu akan menjadi sumber bagi timbangan diri seseorang. Seseorang yang beramal secara tepat sesuai kehendak Allah akan menemukan keterbukaan hakikat dari apa yang diamalkannya, dan hakikat itu akan menjadi bobot timbangan amal-amalnya. Seseorang yang banyak beramal secara tepat akan memperoleh hakikat-hakikat dalam bobot yang besar, sedangkan orang yang beramal tanpa mengetahui atau mempertimbangkan ketetapan Allah tidak akan mengisi pengetahuan hakikat, maka timbangan mereka akan ringan di hadapan Allah.

Amal-amal yang terwujud dari seseorang dapat menjadi penanda bahwa ia mengikuti petunjuk atau ia mengikuti hawa nafsu. Orang-orang yang ingin memperoleh jalan ibadah melalui pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan akan tertuntun mendekat pada amanah dirinya, dan amal-amalnya akan memberikan bobot pengetahuan hakikat yang besar. Kalaupun amalnya tidak sepenuhnya sesuai dengan yang ditetapkan, tetapi akalnya akan dapat meraba keberadaan amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Amalnya seringkali akan terlahir mengikuti akal yang dapat meraba ketetapan amalnya, walaupun mungkin pula amalnya terpancang pada suatu amal duniawi tertentu tanpa mengikuti akalnya. Bila akalnya berkembang baik, ia akan mengalami keterbukaan pengetahuan tentang amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya.

Allah mengetahui orang-orang yang lebih mengikuti petunjuk jalannya sekalipun manusia beramal dengan amal yang bermacam-macam. Dari satu sisi, terlaksananya amal yang ditetapkan merupakan penanda bahwa seseorang memperoleh petunjuk yang lebih baik. Bukan amalnya itu saja yang menunjukkan bahwa seseorang mendapat petunjuk yang terbaik, tetapi terpadu dengan pengenalan hakikat-hakikat yang mendasari amal-amalnya. Bila seseorang beramal dengan amal yang ditetapkan tanpa mengetahui hakikat yang diperkenalkan Allah melalui amal-amalnya, ia bukan termasuk orang yang mendapat petunjuk lebih baik. Mungkin hasilnya baik secara duniawi tetapi tidak bernilai di akhirat, atau lebih sering amal itu dilakukan tanpa suatu sasaran yang jelas mengikuti kehendak Allah. Pengetahuan tentang hakikat-hakikat yang terkandung dalam amal-amal itu akan mendatangkan pengetahuan tentang hukum-hukum yang harus ditegakkan dalam urusannya.

Politik oleh orang-orang beriman harus dilakukan agar umat manusia memperoleh amanah-amanah bagi diri mereka masing-masing atau setidaknya memperoleh kesempatan beramal sesuai dengan keadaan diri mereka masing-masing, dan agar hukum dapat ditegakkan di antara masyarakat. Proses demikian mencakup banyak aspek dalam kehidupan, dimulai dengan pengenalan masyarakat terhadap amanah Allah. Amanah itu harus diberikan kepada ahlinya. Banyak hal yang bisa merusak politik. Misalnya bila suatu sumber daya diserahkan pada pihak asing untuk keuntungan pihak tertentu, hal itu akan mengurangi kesempatan amal banyak orang di antara masyarakat. Demikian pula manakala seorang ahli amanah tidak diberi kesempatan untuk menunaikan amanahnya atau membagi amanahnya, masyarakat akan kehilangan banyak amanah dan juga kesempatan-kesempatan pekerjaan yang bisa menjadi bidang amal bagi mereka. Bila suatu amanah tidak diberikan kepada ahlinya, maka amanah itu mungkin akan disalahgunakan oleh orang jahat untuk keuntungan mereka sendiri. Demikian amanah Allah menjadi sumber urusan dalam melakukan penataan masyarakat.



Senin, 13 Januari 2025

Membangun Keikhlasan dalam Penghambaan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dapat dilakukan setiap muslim dengan membina diri sebagai seorang yang adil dalam melakukan amal-amal, yaitu beriman dan tidak mencampurkan kedzaliman dengan iman mereka. Keadaan ini merupakan bagian dari akhlak mulia yang harus diinginkan oleh orang-orang beriman.

﴾۳۱﴿وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar". (QS Luqman : 13)

Ayat di atas menjelaskan tentang sasaran pengajaran Luqman kepada anaknya, yaitu agar anaknya tidak mensekutukan apapun dengan Allah, karena suatu kesyirikan merupakan kedzaliman yang sangat besar. Pengajaran menunjukkan suatu perbuatan membina akhlak menuju kebaikan. Luqman menginginkan agar terbentuk akhlak yang baik pada anak-anaknya maka ia memberikan pengajaran, dan sasaran utama pengajaran yang diberikan Luqman adalah agar anak-anaknya dapat beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya bersih dari kesyirikan kepada Allah. Bersihnya seseorang dari penyembahan kepada selain Allah merupakan sasaran pokok dari pengajaran yang harus ditegakkan bagi generasi penerus.

Pangkal dari kedzaliman yang paling besar adalah kemusyrikan, yaitu penyembahan manusia terhadap selain Allah. Penyembahan menunjukkan suatu dedikasi seseorang terhadap sesuatu melalui apa yang dilakukan, dan kesyirikan menunjukkan dedikasi seseorang dalam bertuhan secara keliru. Kesyirikan harus dilihat secara teliti tidak serampangan. Tidak semua orang yang berbicara tentang jin adalah orang musyrik. Setiap kemusyrikan akan menimbulkan kedzaliman di antara manusia, karena kemusyrikan merupakan kedzaliman yang besar. Pada kesyirikan yang besar, tidaklah seseorang menyembah sesuatu selain Allah kecuali karena ada suatu keinginan dalam dirinya terhadap sesuatu hingga ia bersembah kepada selain Allah. Selain kesyirikan yang besar, ada kesyirikan-kesyirikan yang dapat menghinggapi orang-orang yang beribadah kepada Allah hingga ada bentuk-bentuk kesyirikan yang tidak terlihat oleh pandangan manusia sebagaimana semut hitam yang berjalan di atas batu hitam pada malam yang gelap gulita. Semua bentuk-bentuk kesyirikan kepada Allah menimbulkan kedzaliman di antara umat manusia.

Banyak bentuk-bentuk kesyirikan yang mungkin terjadi bahkan di antara orang-orang yang beribadah kepada Allah, dan setiap orang beriman harus berusaha memperhatikan kesyirikan yang mungkin ada dalam dirinya untuk mendapatkan keimanan yang bersih dari kesyirikan. Ada orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu sendiri maka ia tidak bersih dari kesyirikan yang kecil. Ada orang yang riya atau takjub pada diri sendiri maka ia telah melakukan kesyirikan kecil. Demikian pula orang yang melakukan shalat atau ibadah-ibadah lain dengan tujuan agar dilihat oleh orang lain, maka hal itu merupakan kesyirikan-kesyirikan kecil yang harus dibersihkan dari diri seorang hamba Allah.

Kesyirikan yang tersamar di antara para hamba Allah ini tidak bisa dijadikan alasan satu pihak untuk menyerang pihak lain karena pada dasarnya orang-orang yang beribadah kepada Allah adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk berbuat baik kepada orang lain tidak mempertuhankan keinginan sendiri. Hanya saja, setiap orang hendaknya berusaha untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Kelompok-kelompok yang harus diperangi dari kalangan muslimin telah diterangkan dengan jelas dalam penjelasan-penjelasan Rasulullah SAW maka hendaknya kaum muslimin tidak menambahi alasan-alasan untuk mempermudah berperang terhadap kaum muslimin. Kelompok-kelompk yang menyimpang atau menyimpan kesyirikan-kesyirikan halus dalam dirinya hendaknya diseru menuju al-ma’ruf dengan sebaik-baiknya tanpa bermudah-mudah untuk memerangi mereka.

Dampak Kesyirikan

Bila tidak melakukan amar ma’ruf nahy munkar, kesyirikan halus yang ada pada kaum muslimin akan menghalangi kemakmuran yang dapat mereka capai. Orang-orang yang tidak memperhatikan dan membersihkan kesyirikan halus yang ada pada diri mereka sebenarnya akan cenderung menghambat atau menyimpangkan kemajuan langkah umat. Pemakmuran tidak akan dapat diperoleh oleh muslimin yang memperturutkan kesyirikan halus dalam dirinya. Manakala mereka memimpin karena keinginan mereka, orang-orang yang mereka pimpin akan terdzalimi oleh hawa nafsu yang diperturutkan hingga orang-orang yang dipimpin sulit untuk memberikan sumbangsih yang terbaik. Untuk memperoleh kemajuan yang terbaik, orang-orang yang dijadikan pemimpin adalah yang paling menundukkan hawa nafsu mereka serta paling bersih dari kesyirikan yang halus. Keikhlasan atau bersihnya ibadah seseorang kepada Allah dari kesyirikan yang samar membutuhkan pertumbuhan akal pada umat. Pemimpin urusan hendaknya dipilih dari kalangan orang yang akalnya kuat dan paling bersih dari kesyirikan yang halus, bukan sekadar berdasar kemampuan lahiriah saja.

Bila suatu kaum tidak menggunakan akalnya, akan sulit menunjukkan adanya kesyirikan yang tersamar pada ibadah mereka. Misalnya kadangkala suatu kaum melakukan syirik tersamar berupa penyembahan kepada panutan-panutan mereka tanpa menyadari atau justru memandang bahwa perbuatan mereka adalah perbuatan yang baik. Manakala suatu kaum ikut menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka mereka sebenarnya telah menjadikan panutan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Itu merupakan kesyirikan yang jelas yang mungkin terjadi di antara kaum muslimin. Sebelum hal demikian terjadi, mungkin saja sebenarnya telah terjadi kesyirikan-kesyirikan yang halus tidak terlihat oleh manusia. Cara berpikir kaum demikian itu sulit untuk diperbaiki sebelum akal pada kaum tersebut menjadi baik hingga mampu memahami kebaikan-kebaikan yang ada dalam tuntunan Allah. Bersihnya kesyirikan yang halus dan tidak terlihat hanya akan diperoleh umat bila akal mereka tumbuh dengan baik dalam memahami kebaikan dari sisi Allah.

Setiap kesyirikan memunculkan kedzaliman di antara manusia, baik kesyirikan yang besar atau kesyirikan yang halus. Kedzaliman yang ada di masyarakat akan berkurang apabila kesyirikan semakin hilang bersih dari masyarakat termasuk kesyirikan-kesyirikan yang halus. Kesyirikan yang besar merupakan kedzaliman yang besar dan kedzaliman itu akan berkurang intensitasnya bila kesyirikan yang terjadi adalah kesyirikan yang halus. Sekalipun halus, kesyirikan itu akan menimbulkan kedzaliman di antara masyarakat. Semakin besar nilai kesyirikan semakin besar kedzaliman yang muncul di masyarakat. Suatu kaum tidak boleh mengabaikan kesyirikan dan kedzaliman terjadi di antara mereka, dan mengurangi keadaan demikian dapat dilakukan dengan menghindari kesyirikan dengan akal yang semakin memahami petunjuk Allah.

Kedzaliman dalam banyak kasus merupakan bentuk dzahir dari kesyirikan. Dalam kesyirikan yang jelas, seringkali ada orang-orang yang menjadi tumbal bagi kesyirikan orang lain ataupun keluarga sendiri. Dalam kesyirikan yang halus, kedzaliman-kedzaliman tetaplah muncul di antara masyarakat. Orang-orang yang bertindak benar bisa tersingkirkan dari kalangan masyarakat manakala kesyirikan yang halus marak terjadi di antara mereka, maka masyarakat kemudian berbuat kedzaliman-kedzaliman terhadap sesama. Karena kedzaliman-kedzaliman yang terjadi, umat manusia akan mengalami kesulitan dalam kehidupan. Orang-orang yang benar akan sulit memperoleh kesempatan untuk memberikan sumbangsih yang bisa mereka berikan kepada masyarakat karena waham masyarakat tidak bisa menerima kebaikan mereka, sedangkan orang-orang yang jahat lebih mudah dalam melakukan kejahatan mereka karena penerimaan masyarakat terhadap mereka.

Terjadinya keadaan yang buruk pada masyarakat muslimin boleh jadi disebabkan oleh maraknya kesyirikan yang halus di antara mereka. Jalan mengatasi keburukan demikian harus dilakukan dengan meningkatkan akal dalam memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala jalan yang ditempuh untuk mengatasi keburukan tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, kaum muslimin hanya akan berpindah dari satu masalah kepada masalah yang lain. Kadangkala suatu kaum berselisih dengan kaum yang lain berdasarkan apa yang mereka pandang sebagai tuntunan Allah. Hal demikian menunjukkan bahwa mereka tidak memahami kandungan yang ada dalam tuntunan itu. Boleh jadi ada syirik-syirik halus yang tidak dipahami yang menyebabkan buruknya keadaan. Kadangkala suatu kaum merasa sebagai suatu kaum yang berbuat kebaikan-kebaikan tanpa menyadari kebodohan-kebodohan yang mereka lakukan hingga menyebabkan kerusakan, sedangkan kebaikan dari orang yang mengikuti kehendak Allah tidak dapat tumbuh karena sikap mereka. Hal demikian mungkin terjadi karena adanya kesyirikan-kesyirikan halus.

Menghindari Kesyirikan Halus

Kaum muslimin tidak boleh bersikap lengah terhadap kesyirikan, baik kesyirikan yang jelas maupun kesyirikan yang halus. Kesyirikan halus akan menyebabkan tenggelamnya kebenaran di antara suatu kaum. Kesyirikan yang halus di antara kaum muslimin itu bisa saja terjadi bersamaan dengan memandang baik keadaan diri sendiri, tidak menyadari bahwa sebenarnya Allah berkehendak lain dari apa yang mereka pandang baik. Misalnya manakala suatu kaum mentaati arahan panutan mereka, boleh jadi mereka tergelincir pada kesyirikan yang halus apabila mereka melakukan ketaatan dengan mengabaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala ada orang lain memberitakan kebenaran dari sisi Allah dan mereka mengabaikan kebenarannya karena mengira kebaikan ada pada diri mereka sendiri. Mereka mungkin saja sebenarnya telah menjadikan seseorang sebagai tuhan selain Allah manakala tidak mempedulikan tuntunan Allah dalam perkara yang mereka pandang baik.

Kaum muslimin pada masa Rasulullah SAW adalah sebaik-baik umat dalam ibadah kepada Allah. Mereka memandang diri mereka bukan sebagai orang-orang suci yang terbebas dari kedzaliman, sedangkan mereka benar-benar menjaga diri mereka dari kedzaliman. Kedzaliman merupakan hal yang lumrah terjadi pada manusia sekalipun mereka berusaha menjaga diri dari kedzaliman. Yang berbahaya adalah manakala seseorang merasa sebagai orang suci yang terbebas dari kedzaliman karena mereka adalah orang yang tidak mengetahui kedzaliman diri mereka. Dalam beberapa hal, orang-orang demikian adalah orang-orang yang terjatuh pada suatu kesyirikan hingga kadang-kadang merupakan kesyirikan yang jelas. Boleh jadi mereka menjadikan seseorang di antara mereka sebagai tuhan selain Allah.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata : ”Ketika turun ayat (Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman) [Surah Al-An'am: 82], hal itu membuat para sahabat Rasulullah SAW susah dan mereka bertanya, ”Siapakah di antara kita yang tidak mencampuradukkan keimanan dengan kezaliman?” Maka Rasulullah SAW bersabda, ”Ini bukan tentang itu, apakah kalian tidak mendengar perkataan Luqman: ("Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.") (HR Bukhari 8/144 no. 4629)

Dari kisah di atas, tergambar bahwa para sahabat merasa gundah dengan keadaan diri mereka karena masih mencampurkan keimanan mereka dengan kedzaliman-kedzaliman. Perasaan demikian merupakan sikap jujur dari para sahabat. Mereka bertanya kepada diri sendiri, dan tentang para sahabat lain adakah seseorang di antara mereka yang tidak berbuat kedzaliman sedangkan mereka menyangka setiap orang tentu tidaklah bersih dari kedzaliman. Kedzaliman yang tidak boleh terjadi di antara kaum muslimin adalah kedzaliman karena kesyirikan. Penjelasan Rasulullah SAW dengan cara demikian itu menunjukkan bahwa kedzaliman yang tidak boleh ada di antara kaum muslimin adalah kedzaliman karena kesyirikan.

Menghindari kesyirikan dapat dilakukan dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik dengan memahami ataupun tidak memahami. Manakala seseorang belum memahami, ia harus berpegang secara dzahir pada nash kitabullah, tanpa bersikap berlebihan menolak penjelasan kebenaran yang lebih luas. Hanya saja manakala suatu penjelasan bertentangan dengan suatu petunjuk ayat dalam kitabullah, hendaknya ia berpegang pada kitabullah. Pada tingkat lebih lanjut, manakala mendengar suatu kebenaran yang sampai kepadanya seseorang hendaknya bertanya dan memikirkan bagaimana firman Allah tentang kebenaran tersebut, tidak hanya menerima sebagai kebenaran final. Apabila ia bisa memahami kandungan dalam suatu ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka hal itu akan mendatangkan kebaikan yang lebih besar.

Kesyirikan bisa terjadi manakala seorang muslim memandang perkataan seseorang lebih penting dan benar daripada firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Kesaksian dalam kalimah syahadat harus diwujudkan dalam usaha memperhatikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai perhatian utama, adapun mengikuti perkataan orang lain adalah untuk membantu diri agar lebih memahami firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang membalikkaan prioritas dalam usaha di atas, ia terjebak dalam suatu kesyirikan menjadikan manusia sebagai tuhan selain Allah. Keadaan demikian akan menyebabkan munculnya kedzaliman di antara masyarakat. Hal demikian hanya terjadi pada umat yang tersesat. Apabila seseorang yang diikuti adalah orang yang benar, niscaya ia akan menolak keras sikap masyarakat terhadap dirinya karena sulit untuk mempertanggungjawabkan di hadapan Allah, sebagaimana nabi Isa a.s menolak pendapat orang-orang yang menjadikan dirinya sebagai anak tuhan.