Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Perjalanan taubat kepada Allah yang benar akan mendatangkan keselamatan bagi manusia dari kekejaman perilaku duniawi para makhluk. Keselamatan demikian merupakan suatu wujud dari nikmat Allah kepada umat manusia yang mengikuti tuntunan Allah. Orang-orang yang tidak mengikuti tuntunan Allah akan selalu berada pada kungkungan kekejaman duniawi, sedangkan orang-orang yang mengikuti tuntunan Allah dengan benar akan terlepas dari kungkungan duniawi. Barangkali kungkungan kejamnya dunia itu akan mengejar, akan tetapi orang yang tetap mengikuti tuntunan Allah akan terlepas dari kejaran kungkungan kekejaman dunia. Keterlepasan dari kungkungan kekejaman dunia itu merupakan bagian dari nikmat Allah.
﴾۶﴿وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ أَنجَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari Fir'aun dan pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu".(QS Ibrahim : 6)
Fir’aun adalah para raja di negeri mesir, merupakan sosok yang menggambarkan kekuatan duniawi atas manusia, dan dengan rekayasa perilaku duniawi mereka berkuasa. Mereka para penyembah dewa-dewa kesesatan dengan mengharapkan diberi kekuasaan duniawi. Perilaku duniawi sendiri pada umumnya berada dalam kekuasaan syaitan hingga hari yang ditentukan. Apabila manusia mempertuhankan kehidupan duniawi, sebenarnya mereka secara tidak langsung menjadikan diri mereka sebagai budak bagi syaitan. Sebagian orang-orang beriman diberi kekuasaan atas harta tertentu hingga dapat menguasai harta mereka, tetapi sebagian terjatuh diperbudak harta. Setiap manusia akan terikat pada suatu kungkungan dunia apabila mereka tidak mengikuti tuntunan Allah terkait alam dunia mereka.
Keterlepasan manusia dari kungkungan kekejaman alam dunia karena mengikuti tuntunan Allah merupakan suatu bentuk nikmat Allah yang berlaku bagi masyarakat luas. Nikmat Allah secara khusus berbentuk pengetahuan tentang jalan kembali kepada Allah yang ditentukan bagi diri seseorang dan kemampuan melangkah mengikuti pengetahuan itu. Nikmat demikian itu merupakan tujuan puncak dari kehidupan manusia di dunia. Selain nikmat khusus demikian, Allah juga memberikan nikmat-nikmat yang menjadi pengantar manusia untuk mencapai nikmat Allah yang khusus. Di antara bentuk nikmat pengantar demikian adalah keterlepasan manusia dari kungkungan kekejaman alam duniawi dengan mengikuti tuntunan Allah.
Ciri utama kekejaman alam duniawi adalah pembunuhan anak-anak laki-laki dan dibiarkannya hidup anak-anak perempuan. Para laki-laki adalah para pemilik akal yang mampu memahami ayat-ayat Allah, sedangkan para perempuan adalah kesuburan dalam mewujudkan bentuk-bentuk duniawi. Kekejaman alam duniawi dapat ditandai dengan kecenderungan penghilangan calon-calon pemilik akal, penghilangan akal ketika masih dalam bentuk belum terlihat, hingga hanya menyisakan potensi-potensi duniawi bagi diri seorang manusia. Apabila manusia hanya berusaha untuk kehidupan alam duniawi saja tanpa keinginan memikirkan kebenaran, mereka sebenarnya dalam pengaruh kekejaman duniawi. Orang yang terlepas dari kekejaman duniawi akan terlihat mampu memahami dan memikirkan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia banyak. Mereka tidak membunuh anak perempuan dan membiarkan anak laki-laki, tetapi mengasuh seluruh bentuk anak-anak agar terbentuk kehidupan dunia yang makmur dan sejahtera.
Tumbuhnya akal manusia dan masyarakat merupakan bagian dari nikmat Allah, dan kematian akal dalam memahami kehendak Allah merupakan bagian keingkaran. Mengikuti para ulama merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum. Dalam hal ini mengikuti ulama dan fuqaha tidak boleh dilakukan dengan sikap membuta, tetapi disertai dengan berusaha memahami nilai-nilai kebaikan dari apa yang mereka serukan. Inti dari nikmat Allah itu adalah akal yang memahami, bukan pada kepatuhannya. Manakala kepatuhan dilakukan dengan mematikan akal untuk memahami ayat Allah, hal itu merupakan pengingkaran terhadap nikmat Allah. Langkah yang terbaik adalah mematuhi ulama dengan menumbuhkan akal untuk memahami ajaran ulama. Mematuhi ajaran orang yang dipandang sebagai ulama dengan mematikan akal merupakan kepatuhan yang salah dan hal itu akan mendatangkan bala bencana bagi orang-orang yang melakukannya. Kematian akal akan mendatangkan bala bencana dari sisi Allah. Kesalahan dalam mensikapi keilmuan akan mengundang tiga bencana atas suatu kaum bahkan manakala mereka beriman, yaitu : 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman
Mengikuti para ulama merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum. Orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim harus bersyukur atas nikmat yang dilimpahkan kepada mereka dengan melaksanakan perintah-perintah Allah yang mereka pahami sebagai jalan untuk kembali kepada Allah, sedangkan masyarakat umum harus mensyukuri nikmat Allah dengan berusaha memahami tuntunan-tuntunan Allah terkait dengan kehidupan mereka dengan menggunakan akal dan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta apa yang mereka pahami dari para ulama dan fuqaha. Melangkah bersama ulama dan fuqaha yang mengenal Allah akan mendatangkan kemakmuran bagi negeri.
Tumbuhnya Akal dan Kedekatan dengan Ulama
Dewasa ini, keadaan umat islam di nusantara tampak sangat tidak baik-baik saja. Penghidupan kasab di antara kaum muslimin tampak sangat sulit. Harga-harga bergerak tidak terkendali karena para penguasa yang melakukan korupsi besar-besaran. Para ahli tersingkirkan dari kedudukannya oleh orang bodoh yang dekat dengan penguasa. Negara diurus oleh orang tanpa keahlian. Di masyarakat umum, menjalankan usaha menjadi sangat sulit karena umumnya penggunaan cara-cara yang tidak dihalalkan, dan rakyat harus menanggung beban penghidupan yang berat karena keadaan demikian. Sangat banyak fenomena kesulitan dalam kehidupan muslimin dewasa ini. Keadaan demikian menunjukkan bahwa sebenarnya umat islam nusantara masih terkungkung dalam kekejaman dunia karena tidak mengikuti tuntunan Allah.
Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :
ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman (HR Abu Nuaim)
Keadaan ini terjadi karena ditinggalkannya para ulama oleh umat. Umat Islam hendaknya berusaha untuk tidak meninggalkan ulama dan fuqaha di antara mereka, khususnya ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Apabila mereka tidak mengenalnya, hendaknya mereka berusaha mencari dengan berusaha mengenali ilmu yang bisa dinilai sebagai penjelasan hakikat-hakikat dari sisi Allah dengan sepenuh kemampuan akalnya tidak hanya mengikuti perkataan orang. Anak-anak laki-laki mereka tidak boleh terbunuh hingga menjadi sebab mereka terkungkung dalam kekejaman dunia. Manakala akal tidak digunakan untuk mengenali kebenaran, mereka sebenarnya ikut membunuh anak-anak laki-laki mereka sendiri. Mungkin bukan kekejaman dunia yang membunuh anak-anak laki-laki mereka, tetapi mereka sendiri yang membunuhnya. Dalam perjalanan manusia menumbuhkan akal, masih banyak bahaya lain yang dapat membunuh anak-anak laki-laki karena hal demikian sebenarnya merupakan upaya syaitan, bukan hanya natur duniawi saja. Setiap upaya pembunuhan akal manusia, ada keinginan syaitan yang mungkin tersembunyi dari pandangan manusia.
Menyeru pemakmuran kehidupan alam dunia dengan akal yang memahami merupakan tugas para ulama. Ulama tidak boleh terlalai memperhatikan hal ini, dan masyarakat hendaknya memperhatikan. Ulama harus memikirkan agar kasab kehidupan bangsa menjadi lebih baik, menunjukkan pemimpin dari orang yang baik tidak dzalim, dan mengenalkan keimanan yang sebenarnya, keimanan yang tidak terlepas ketika kematian menghampiri. Hal-hal itu dapat dirumuskan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat rugi manusia yang keimanan mereka tanggal ketika kematian tiba. Hal demikian biasanya terjadi karena mereka mengikuti keimanan tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau mensia-siakan pengajaran tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti sistem keimanan mereka sendiri. Apabila ulama dan fuqaha tidak mengusahakan demikian, mereka akan menanggung tanggung jawab yang sangat berat di alam akhirat.
Keulamaan dan kefaqihan bukanlah berbentuk hafalan-hafalan terhadap bunyi dalil-dalil, tetapi pengetahuan terhadap kandungan yang ada pada lafadz-lafadz petunjuk dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk diterapkan dalam kehidupan. Pengetahuan itu tidak hanya bermanfaat untuk masa depan, tetapi juga terkait dengan kehidupan sejak di alam dunia. Kadangkala seseorang meninggalkan pemahaman terkait kehidupan hari ini karena mengharapkan kehidupan yang akan datang. Ini merupakan bentuk kurangnya pengetahuan terhadap kandungan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Para ulama dan fuqaha adalah orang yang mempunyai pengetahuan bentuk kehidupan yang seharusnya diusahakan manusia saat ini berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sehingga dapat memperoleh kebaikan yang abadi, baik untuk masa depan ataupun masa yang dekat dan hari ini.
Keberhasilan dan kegagalan pemakmuran tentu bukan hanya tanggung jawab ulama dan fuqaha. Ulama dan fuqaha hanya bertanggung jawab menyeru manusia untuk memahami urusan Allah yang harus ditunaikan, sedangkan menjaga pertumbuhan akal dan melangkah mengikuti kehendak Allah merupakan tanggung jawab masing-masing manusia di masyarakat. Pada umat nabi Muhammad SAW, banyak orang di antara umat yang meninggalkan para ulama. Bila tidak ada seruan tentang urusan Allah di masyarakat, itu adalah kesalahan ulama dan fuqaha. Bila seruan terkait nikmat Allah itu salah maka itu kesalahan ulama dan fuqaha. Bila seruan itu tidak efektif, mungkin itu kesalahan ulama dan fuqaha bersama dengan lemahnya akal masyarakat. Bila seruan itu tidak diikuti oleh masyarakat, kegagalan dalam pemakmuran negeri merupakan kegagalan masyarakat. Kadangkala tanggung jawab kesalahan itu terletak pada para pemimpin masyarakat yang tidak menyiarkan secara memadai seruan yang benar. Tidak jarang masyarakat justru terjebak dalam kesibukan menyiarkan sesuatu yang kurang mendatangkan manfaat bagi umat manusia dan meninggalkan yang penting dilakukan. Nusantara saat ini terasa berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, hendaknya setiap pihak menghisab diri masing-masing.
Kadangkala
suatu masyarakat bertanya-tanya mengapa mereka tetap mengalami
kesulitan kehidupan sedangkan mereka telah hidup dekat dengan ulama
dan fuqaha mereka. Tumbuhnya kehidupan yang baik itu mengikuti
tumbuhnya akal pada diri mereka. Barangkali mereka belum cukup
menumbuhkan akal untuk memahami ayat-ayat Allah ketika mengikuti para
ulama mereka, maka kedekatan ataupun kepatuhan itu pada dasarnya
belum benar-benar terjadi. Bila suatu masyarakat hidup
dekat dengan ulama mereka dengan akal yang ditumbuhkan, maka
kehidupan mereka akan menjadi baik. Hendaknya dipahami bahwa para
ulama itu sungguh-sungguh ingin dengan pengajarannya menumbuhkan akal
manusia untuk memahami ayat Allah, bukan untuk patuh pada para ulama
dan fuqaha. Mestinya tumbuhnya akal itu juga akan menumbuhkan
kepatuhan. Jika seandainya tidak tumbuh kepatuhan, pertumbuhan
akal masyarakat mungkin menyimpang. Bukan mustahil ajaran yang diikuti keliru maka kekeliruan itu
menghambat tumbuhnya akal. Ajaran yang benar-benar keliru akan
menumbuhkan fitnah di antara masyarakat yang justru menimbulkan
kesengsaraan bagi umat. Setiap orang hendaknya berusaha untuk
menumbuhkan akal sebagai sarana untuk dekat kepada para ulama dan
fuqaha di antara mereka, tidak hanya dekat dengan membuta terhadap
kehendak Allah. Tanda ajaran yang benar adalah meningkatnya pemahaman umat terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk urusan yang seharusnya mereka kerjakan.
Penting
diperhatikan bahwa ulama dan fuqaha yang harus mereka ikuti adalah ulama
dan fuqaha yang mengerti dengan benar kehendak Allah untuk ruang dan
jaman mereka. Para
ulama
dan fuqaha adalah
orang yang mempunyai pengetahuan
bentuk kehidupan yang diusahakan manusia saat ini berdasarkan
tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW
sehingga
dapat memenuhi
harapan
manusia
terhadap kebaikan yang abadi, baik masa depan ataupun masa yang dekat
dan hari ini. Kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW meliputi
hal demikian. Mungkin
seorang
ulama tidak memperoleh
seluruh pengetahuan tentang
berbagai aspek kehidupan, tetapi pasti mempunyai pengetahuan terhadap
aspek tertentu dari kehidupan. Pada aspek yang tidak diketahui, seseorang berilmu tidak akan berpegang dengan pengetahuan yang bertentangan dengan tuntunan
kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada orang yang berpengetahuan
benar
dalam sebagian
urusan,
tetapi memperoleh
pula
bagian pengetahuan yang lain mendatangkan kerusakan. Hal demikian
merupakan bagian dari tipu daya syaitan kepada
orang yang tidak benar-benar membina kemuliaan akhlak sehingga tidak
dapat merasakan keburukan dari suatu ajaran yang sampai kepada diri
mereka. Seorang ulama tidak akan berpendapat atau berbuat menyalahi tuntunan
kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW kecuali ia merasakan suatu kesalahan dalam perkara itu baik samar-samar ataupun secara jelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar