Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Di antara langkah mengikuti Rasulullah SAW adalah bekerja dengan mengerjakan amal shalih yang sesuai dengan keadaan masing-masing. Setiap orang harus bekerja sesuai dengan keadaan masing-masing untuk menyumbangkan kemakmuran bagi masyarakat.
﴾۴۸﴿قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih mengikuti petunjuk tentang jalannya. (QS Al-Israa’ : 84)
Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan untuk amal shalih akan mengarahkan orang yang beramal untuk mengenal amanah yang ditentukan bagi dirinya, yaitu amal-amal yang ditetapkan layaknya tetapnya kalung pada lehernya. Amal-amal berdasarkan pada keinginan beramal shalih akan menjadikan seseorang memperoleh petunjuk. Seandainya amal-amalnya belum mengarah pada amanah itu, akalnya akan mengarah kepadanya. Hal ini akan terjadi manakala seseorang mempunyai keikhlasan dalam beramal, yaitu keinginan untuk mengenal Allah dengan mengetahui kehendak Allah atas dirinya. Apabila seseorang hanya mengikuti perkataan-perkataan manusia tanpa memperhatikan tuntunan Allah dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, ia tidak akan mengetahui adanya petunjuk yang diberikan kepadanya.
Petunjuk jalan itu akan menunjukkan kepada seseorang jalan kehidupan yang seharusnya ditempuh. Boleh jadi terbina pada diri seseorang suatu pengetahuan tentang keadaan semesta dirinya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau suatu pengetahuan tentang sosok pemimpin yang harus diikuti, atau suatu hembusan pengetahuan tentang nafs wahidah dirinya, atau suatu pengetahuan tentang jodoh bagi dirinya, dan/atau pengetahuan-pengetahuan lain yang menjadikan diri seseorang mengetahui jalan kehidupan yang seharusnya ditempuh. Dalam beberapa hal, petunjuk jalan itu berupa suatu pengetahuan yang diturunkan dari khazanah nafs wahidah, dan dalam hal lain petunjuk jalan diperoleh melalui pengamatan-pengamatan inderawi. Pengetahuan-pengetahuan itu akan mengarah pada suatu kesatuan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang harus ditempuh. Itu adalah petunjuk-petunjuk dengan jalan kehidupan yang diberikann kepada orang-orang yang beramal shalih.
Allah lebih mengetahui orang-orang yang lebih mengikuti petunjuk jalannya. Orang yang lebih mengikuti petunjuk adalah orang yang mengarahkan kehidupannya sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW secara lebih tepat. Orang demikian tidak bisa ditentukan berdasarkan dikotomi pengetahuan lahiriah atau bathiniah. Seseorang yang mempunyai indera bathin lebih kuat belum tentu lebih mengikuti petunjuk. Demikian pula orang-orang yang kuat pikirannya belum tentu lebih mengikuti petunjuk. Orang yang lebih mengikuti petunjuk jalannya adalah orang yang memahami arah kehidupan dan berusaha menjalankan kehidupan dirinya sesuai dengan suatu tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Ia mengarahkah kehidupan dirinya untuk menunaikan suatu petunjuk yang dipahaminya dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan hanya melaksanakan saja tanpa memahami tuntunannya, dan bukan memahami petunjuk saja tanpa melaksanakan petunjuknya. Itu adalah orang-orang yang lebih mengikuti petunjuk jalannya.
Setiap orang hendaknya beramal sesuai dengan keadaannya. Dari satu tuntunan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akan banyak jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh banyak orang sesuai dengan keadaan masing-masing maka hendaknya setiap orang memikirkan amal yang dapat dikerjakan untuk membantu terwujudnya suatu tuntunan Allah. Boleh jadi seseorang harus mewujudkan akalnya sendiri, atau boleh jadi harus memfasilitasi terwujudnya pemikiran orang lain yang merupakan imam bagi dirinya. Yang penting diperhatikan oleh setiap orang adalah dasar pemahamannya terhadap tuntunan Allah sesuai dengan keadaan masing-masing, karena perhatian terhadap perintah Allah itu merupakan ketakwaan dirinya. Manakala ia membantu pihak lain yang berusaha mewujudkan tuntunan Allah, hendaknya ia lebih memperhatikan tuntunan Allah dibandingkan perintah manusia untuk amalnya, dan menjadikan perintah manusia sebagai penjelas bagi tuntunan Allah. Bila seseorang tidak memperhatikan tuntunan Allah terkait amal shalih yang dilakukannya, ia mungkin tidak beramal shalih dengan amalnya.
Bekerja Produktif
Seseorang yang mengikuti petunjuk jalannya akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan duniawi. Tetapi hasil duniawi yang bisa diperoleh seseorang tidak menunjukkan seseorang lebih mengikuti petunjuk. Hasil duniawi dari diri seseorang sangat banyak dipengaruhi bentuk shilaturahmi dengan umat mereka. Seseorang yang dapat membentuk shilaturrahmi yang baik dengan umat mereka akan mendatangkan hasil duniawi yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tidak dapat membentuk shilaturrahmi. Kunci dalam membentuk shilaturrahmi ditentukan oleh hubungan yang terbentuk di antara suami dan isteri. Seorang shalih yang tidak bisa membentuk hubungan yang baik dengan isterinya akan kesulitan membentuk shilaturrahmi dengan orang lain dan mewujudkan khazanah mereka ke bentuk-bentuk dzahiriah. Hal ini terutama dalam urusan amal shalih, dan bisa berlaku surut bagi amal-amal duniawi yang semakin jauh dari amal shalih. Sekalipun tidak terwujud ke alam duniawi, usaha dari orang-orang yang berusaha mengikuti petunjuk jalannya merupakan kebaikan walaupun mungkin tidak disadari oleh umatnya.
Dalam urusan amal shalih, hubungan antara suami dan isteri digambarkan layaknya tanaman dan ladang tempat tumbuhnya. Seorang laki-laki adalah pohon thayibah yang harus berbuah, dan para isteri merupakan bumi tempat tumbuhnya tanaman yang mengandung khazanah kebumian sebagai bahan pertumbuhan pohon dan berbuahnya. Pertumbuhan pohon dan berbuahnya sangat dipengaruhi oleh hubungan yang terbentuk antara pohon dengan tanahnya. Di dalam diri para isteri terdapat suatu hal ghaib yang seharusnya dijadikan media tumbuh bersama dengan suaminya. Hal ghaib itu merupakan kandungan khazanah diri perempuan yang harus dijaga agar dapat tumbuh untuk mendukung terwujudnya amal shalih bersama suaminya. Seorang suami harus berusaha memahami apa yang dikandung isterinya, dan setiap isteri harus belajar untuk memberikan khazanah dirinya untuk suaminya saja tidak menyimpang secara keji kepada pihak lain. Usaha isteri demikian dapat dilakukan dengan memahami amal shalih suaminya. Hal itu akan menentukan kesuburan suaminya untuk menghasilkan buah.
Pada dasarnya laki-laki dan perempuan merupakan makhluk yang sama, tetapi harus menemukan bentuk amal yang berbeda. Bentuk-bentuk itu pada satu sisi berguna untuk memperjelas nilai amal yang harus dilaksanakan. Misalnya ketaatan seorang isteri kepada suami sebenarnya merupakan gambaran penjelas bahwa laki-laki pun sebenarnya juga mempunyai induk bagi ketaatan dirinya. Induk ketaatan itu berupa seorang washilah bagi dirinya, atau setidaknya berupa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang hendaknya memperhatikan keadaan dirinya manakala muncul tuntutan terhadap pasangannya karena tuntutan dirinya itu berguna agar ia memperhatikan keadaan dirinya dalam urusan yang sama. Hal demikian akan mengantarkan suatu pasangan untuk dapat saling memahami dan bekerjasama hingga terbentuk sinergi dalam menunaikan amal shalih, dan mengantarkan mereka memperoleh tempat atau kedudukan bersama-sama yang layak dalam al-jamaah, tidak hanya berdasar prasangka sendiri. Hal ini merupakan bagian dari mengikuti petunjuk. Orang yang lebih mengikuti petunjuk akan mengikuti prinsip-prinsip dalam pernikahan karena pernikahan merupakan gambaran turunan dalam beragama.
Bila sinergi tidak terbentuk, akan sulit bagi seseorang untuk melahirkan hasil amal shalih pada tingkat duniawi. gambarannya kadangkala suatu pohon dapat berbuah secara terbatas dalam keadaan dibonsai atau di dalam pot, tetapi perlu usaha yang besar untuk menjaga agar tetap dapat berbuah secara terus menerus. Setiap orang harus memperhatikan pernikahan mereka karena merupakan setengah bagian dari agamanya, terutama untuk bagian yang harus ditunaikan. Mengenai hasil yang seharusnya terlahir, kadangkala seseorang tidak dapat membuahkan hasil karena pihak lain yang tidak bisa mendukung maka hal demikian tidak termasuk dalam tanggung jawab agama dirinya. Walaupun demikian, ia harus berusaha sungguh-sungguh agar setiap pihak yang terhubung dengan dirinya dapat menunaikan amanah bersama agar terwujud khazanah dari Allah di alam bumi, tidak membiarkan orang lain melakukan kelalaian dalam amal mereka. Lebih utamanya, sebenarnya orang yang terhubung dirinya membutuhkan kebaikan dari amannah mereka, dan usaha itu merupakan kebaikan yang sangat besar bagi bersama dalam upaya mewujudkan khazanah Allah.
Amal Shalih dan Al-Jamaah
Puncak dari amal shalih yang dapat dilakukan oleh manusia adalah amal-amal yang ditentukan Allah sebelum kelahirannya. Amal demikian itu merupakan amal-amal yang dijadikan sebagai sayap agar seseorang dapat menempuh jalan langit. Allah telah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal yang menjadi sarana bagi dirinya untuk bertaubat kembali kepada Allah menempuh jalan langitnya dalam mi’raj kepada Allah. Amal-amal yang ditetapkan Allah itu adalah amanah diri setiap orang. Tidak semua orang mengetahui amanah dirinya sekalipun ia telah benar-benar telah diberi amanah itu.
﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Israa’ : 13)
Suatu pelaksanaaan amanah akan dapat mengantarkan terbentuknya al-jamaah. Al-jamaah akan terbentuk melalui mekanisme berantai, manakala seseorang berbagi amanah yang diketahuinya, orang lain akan mengetahui pula amanah yang harus ditunaikan dan diberikan kepada orang lain hingga masing-masing orang bisa mengetahui atau meraba amanahnya. Pada dasarnya suatu amanah merupakan kesatuan urusan dari Allah, dan satu urusan itu dibagi kepada masing-masing manusia, maka satu amanah yang diketahui seorang hamba Allah sebenarnya merupakan amanah bagi hamba Allah yang lain juga, walaupun mungkin berbeda bentuknya. Al-jamaah akan terbentuk manakala banyak orang mengetahui amanah-amanah yang harus ditunaikan dan harus disampaikan kepada orang lain, dan terbentuk kerjasama yang baik dalam pelaksanaan amanah-amanah itu. Al-jamaah tidak akan terbentuk tanpa ada orang yang mengetahui urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka.
Terbentuknya al-jamaah akan terjadi apabila para hamba Allah mengenal kehendak Allah untuk ruang dan jaman mereka masing-masing. Ini merupakan pokok yang mengawali tumbuhnya al-jamaah. Tanpa pengetahuan terhadap kehendak Allah untuk ruang dan jamannya, suatu kaum mungkin hanya berpikir bebas dalam melakukan amal shalih, maka amal shalih yang mereka lakukan sangat mungkin hanya merupakan prasangka sendiri saja tidak menyatu pada suatu petunjuk tertentu dari ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pengenalan seseorang terhadap amal shalih yang ditentukan Allah bagi diri sendiri merupakan tanda bahwa seseorang sungguh-sungguh mengenal kehendak Allah. Tetapi setiap orang harus berhati-hati bahwa syaitan juga membuat tiruan-tiruan keadaan yang menunjukkan pengenalan diri dengan keping-keping kebenaran yang tidak utuh. Kisah Adam dan pohon khuldi di surga bisa menjadi contoh kasus demikian.
Suatu kaum akan tumbuh sebagai jamaah apabila mereka memperhatikan amanah yang diturunkan Allah untuk ruang dan jamannya, dan mereka berusaha untuk mewujudkan amanah itu. Bila seseorang tidak berkeinginan atau tidak berusaha untuk mewujudkan amanah itu, mereka tidak akan menyatu dalam al-jamaah. Keinginan tetap berjamaah akan menjadikan seseorang semakin mudah memahami kehendak Allah. Kadangkala hawa nafsu seseorang melambung berlebihan dalam mensikapi amanah yang harus ditunaikan hingga bisa saja seseorang keluar dari al-jamaah karena obsesi terhadap amanah. Keinginan tetap berjamaah itu harus terwujud dalam bentuk ketaatan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak bertentangan dengan keduanya. Manakala terjadi pertentangan di antara umat, adanya pihak yang menentang kedua tuntunan itu adalah kelompok yang pasti keliru baik satu pihak atau seluruh pihak, sedangkan pihak lain mungkin benar walaupun belum tentu benar.
Kadangkala suatu kaum tidak tumbuh dalam al-jamaah sedangkan mereka mengharapkannya. Hal demikian terjadi karena kurangnya perhatian mereka terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin mereka memperhatikan tuntunan tetapi yang mereka perhatikan tidak tepat sedangkan mereka mengabaikan tuntunan ayat yang lain. Hal demikian tidak boleh terjadi. Seseorang atau suatu kaum tidak boleh beriman dengan sebagian ayat Allah dan mendustakan sebagian ayat Allah yang lain. Hal demikian akan menjadi penghalang terbitnya kebenaran kepada mereka dan menghalangi manusia untuk mengenal kebenaran secara lebih sempurna. Manakala pemahaman suatu ayat bertentangan terhadap ayat yang lain, seseorang sebenarnya belum mengenal kehendak Allah. Mungkin seorang hamba keliru dalam memahami kehendak Allah tetapi tidak mau menentang suatu ayat manakala disampaikan, maka ia bisa tetap dalam al-jamaah dan bisa tumbuh dalam al-jamaah. Manakala melakukan penentangan, ia telah keluar dari al-jamaah. Apabila seseorang atau suatu kaum ingin tumbuh sebagai al-jamaah, mereka tidak akan bisa tumbuh di atas pemahaman terhadap kehendak Allah dengan cara demikian. Pertumbuhan sebagai al-jamaah hanya akan terjadi apabila suatu kaum mengenal amanah yang diturunkan Allah untuk ruang dan jamannya secara benar.
Terkait dengan amanah seorang hamba, setiap pengenalan amanah bisa menjadi informasi bagi orang lain untuk menemukan amanah mereka selama pengenalan amanah itu benar. Hanya saja syaitan masih sangat menguasai medan pengenalan amanah manusia. Suatu kaum tidak boleh berpegang pada amanah yang dikenali seseorang tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap informasi yang muncul dari seorang pemegang amanah hendaknya diperiksa dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan mendudukkan informasi itu untuk memperjelas pemahaman dirinya terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak terbalik menggunakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk pembenaran langkah diri dan kelompok secara serampangan. Itu merupakan salah satu cara mengenal amanah Allah dengan benar. Dengan cara demikian, akan terbentuk suatu al-jamaah dalam mewujudkan kehendak Allah di alam dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar