Pencarian

Rabu, 01 Juli 2026

Membangun Kesejahteraan Bangsa

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia. Dengan taubat seseorang dibentuk untuk dapat mempersepsi dengan benar fenomena yang terjadi di alam dunia, mampu memahami makna yang terkandung pada apa yang terjadi dan mampu memikirkan langkah untuk membentuk keadaan yang lebih baik. Keadaan demikian merupakan bentuk keimanan yang harus diwujudkan umat Rasulullah SAW dengan memperbaiki kemuliaan akhlak melalui taubat. Kebanyakan manusia hanya mengikuti hawa nafsu dan keinginan duniawi dalam mensikapi kehidupan dunia, dan hal demikian itulah yang dikendalikan dari manusia dengan taubat. Lebih lanjut, taubat harus menjadikan manusia memahami fenomena kauniyah yang terjadi dan memikirkan langkah untuk menuju keadaan yang lebih baik.

﴾۶۹﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raaf : 96)

Setiap manusia hendaknya beriman dan bertakwa agar Allah membukakan barakah dari langit dan bumi. Keimanan adalah cahaya Allah yang menerangi kehidupan, bukan sekadar suatu kepercayaan tentang benarnya sesuatu. Misalnya ayat kitabullah apabila dipahami dengan benar kandungan kebaikan yang ada padanya, maka itu merupakan keimanan berupa cahaya. Itu berlaku baik manakala seseorang mampu memahami sendiri ataupun manakala ia mendengarnya dari orang lain. Bila sekadar percaya bahwa ayat itu merupakan firman Allah, maka kepercayaan demikian belum menjadi suatu cahaya iman yang menerangi. Mungkin seseorang bukan tergolong kafir terhadap suatu ayat, akan tetapi bisa saja ia belum menjadi beriman dengan ayat tersebut. Mungkin saja seseorang baru mencapai keislaman belum keimanan. Seseorang menjadi beriman apabila ayat yang disampaikan kepada mereka menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.

Keimanan diperoleh melalui pembentukan akhlak mulia, bukan melalui pemikiran logika. Suatu akhlak tertentu akan mendatangkan suatu pemahaman terhadap kebaikan setara dengan akhlaknya. Akhlak yang mulia akan memahami kebaikan dari tuntunan Allah secara lebih baik, dan akhlak yang buruk akan sulit memahami kebaikan dari tuntunan yang disampaikan. Seseorang dengan akhlak yang buruk mungkin bisa memahami perkataan dengan baik akan tetapi dorongan yang muncul dari pemahaman itu akan buruk. Hal itu sebenarnya merupakan pemahaman yang buruk. Pemahaman terhadap kebaikan harus dilakukan melalui pembinaan akhlak mulia.

Pembinaan akhlak mulia itu harus dilakukan melalui proses taubat kepada Allah dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang yang kafir hendaknya melangkah untuk berserah diri (islam). Kaum muslimin harus melangkah untuk melakukan tazkiyatun-nafs. Orang yang disucikan harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah baik yang dijumpai pada ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah bagi mereka. Orang yang bisa memahami ayat Allah hendaknya berusaha untuk mengenal untuk peran apa dirinya diciptakan. Orang yang mengenal untuk apa dirinya diciptakan harus berusaha membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah agar ia menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Seluruh proses itu hendaknya dilakukan dengan berpegang erat pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sesuai dengan keadaan masing-masing. Ada yang harus membina pemahaman dengan mengikuti pengajaran orang lain, ada yang harus beramal shalih dengan menemukan sahabat, dan ada yang harus bergantung sepenuhnya kepada Allah saja, dan lain-lain yang seluruhnya harus dilakukan dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa melepaskannya. Manakala menyimpang, ia harus melepaskan selain kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak boleh terbalik. Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu merupakan pembentuk akhlak mulia dan keimanan yang paling benar.

Iman dan Takwa Sebagai Pilar Kesejahteraan

Dengan pembinaan akhlak mulia, keimanan akan terbentuk pada suatu bangsa, dan Allah membukakan keberkahan dari langit dan bumi kepada mereka apabila mereka bertakwa. Keimanan yang terbentuk itu harus ditindaklanjuti dengan amal-amal shalih yang dilakukan berdasarkan keimanan yang benar. Amal-amal shalih demikian itu merupakan wujud ketakwaan yang harus dilakukan agar keberkahan dari langit dan bumi dibukakan. Apabila keimanan dibiarkan hanya berupa keyakinan tanpa suatu amal shalih, keberkahan itu tidak akan terbuka. Kadangkala suatu kaum hanya berwacana dengan keimanan-keimanan tanpa amal shalih yang nyata. Kadangkala suatu kaum justru mencegah upaya pewujudan amal shalih dari keimanan yang benar di antara mereka, maka mereka itu sebenarnya menutup pintu-pintu keberkahan yang hendak dibukakan Allah. Mereka mencegah orang-orang yang beriman di antara mereka untuk bertakwa, dan itu menutup pintu keberkahan.

Keimanan yang salah bisa melahirkan tindakan menutup pintu berkah. Misalnya ada orang-orang yang diberi kekuatan indera bathiniah berupa pendengaran, penglihatan dan qalb akan tetapi mereka tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Kadangkala kaum demikian lebih mengikuti persepsi indera-indera bathiniah mereka daripada memahami dan melaksanakan tuntunan-tuntunan Allah. Itu adalah keimanan yang salah. Penghambaan demikian tidak jarang berbenturan dengan penghambaan orang-orang yang ingin mengikuti tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW, sedemikian langkah mereka untuk mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah SAW tertutup. Jalan ketakwaan itu menjadi tertutup dan pintu-pintu berkah menjadi tertutup. Itu merupakan salah satu contoh keimanan yang keliru. Mungkin banyak kasus lain yang dapat menutup pintu berkah bagi suatu bangsa.

Keimanan harus dibangun dengan benar. Setiap orang harus berusaha membangun keinginan menempuh shirat al-mustaqim dengan memahami makna shirat al-mustaqim, bahwa sebenarnya shirat itu berfungsi mengantarkan orang beriman bertemu dengan rabb-nya di ujung shirat tersebut. Shirat al-mustaqim itu ditandai dengan suatu seruan ayat kitabullah yang menjadi amanah. Setiap muslimin hendaknya berusaha menemukan ayat kitabullah yang menyeru mereka untuk beramal, dan itu harus dilakukan dengan menempuh jalan taubat. Banyak orang merasa berada di shirat al-mustaqim tanpa suatu pemahaman terhadap ayat kitabullah yang harus diperjuangkan, maka itu belum shirat al-mustaqim yang sebenarnya. Orang yang berada di shirat al-mustaqim benar-benar terbangkitkan motivasi mereka berjuang karena suatu ayat tertentu dari kitabullah yang terbuka kepada mereka, atau yang mereka pahami dengan benar. Membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu merupakan keimanan yang benar.

Memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan indikator yang lebih baik tentang benarnya keimanan daripada terminologi yang lain, misalnya terminologi mengenal Allah. Tidak jarang manusia keliru memahami terminologi mengenal Allah. Misalnya mungkin suatu kaum bersemangat untuk mengenal diri, tetapi tidak mau memahami urusan yang diperintahkan Allah melalui ayat-ayat-Nya. Keinginan demikian merupakan angan-angan. Seseorang akan mengenal diri apabila ia mempunyai keinginan menghamba kepada Allah menunaikan urusan-Nya, tidak akan mengenal melalui hasrat diri sendiri saja. Kadang terjadi perselisihan tentang kebenaran di antara umat. Sebagian bersandar pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah dan sebagian bersandar pada pendapat orang yang dianggap mengenal Allah tanpa mau memahami masalah berdasar ayat Allah. Lebih penting bagi umat untuk membina pemahaman terhadap ayat-ayat Allah mengikuti kitabullah, bukan taat hanya berdasarkan keyakinan pengenalan kepada Allah. Pemahaman terhadap tuntunan menjadi indikator yang lebih baik tentang keimanan yang benar, yang memunculkan keberkahan bagi suatu bangsa.

Keimanan kaum harus disusun dengan benar mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak boleh menyimpangkan umat. Setiap orang harus dibina untuk bisa memahami kebenaran dengan baik. Pemahaman terhadap ayat kitabullah itu harus diperoleh dengan tepat dan terinci selaras dengan segala yang tercantum dalam kitabullah, tidak berselisih berdasarkan ide besar ayatnya saja dengan pemahaman ala kadarnya. Bila berpendapat dengan berusaha memahami ayat kitabullah secara tepat dan terinci, perbincangan orang beriman akan tersusun dalam suatu pengetahuan besar keimanan, bukan perselisihan. Manakala seseorang yang mengenal shirat al-mustaqim membacakan ayat-ayat Allah yang sedang digelar, hendaknya setiap orang dapat memahami nilai kepentingannya, tidak mengabaikan kebenaran dalam pembacaannya. Mereka harus bisa mengerti kebaikan dari ayat yang dibacakan dan harus diperjuangkan. Suatu kaum akan lemah bila mengikuti kebenaran dalam pikiran sendiri tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, menganggap persepsi indera dan pikirannya sendiri sebagai shirat al-mustaqim. Hal demikian merupakan bentuk keimanan yang lemah yang mungkin akan tanggal ketika kematian tiba. Memahami dan berbuat mengikuti ayat Allah baik kitabullah maupun kauniyah akan menanamkan keimanan yang tidak akan tanggal ketika kematian tiba.

Merintis Kemakmuran

Pemakmuran suatu negeri harus dimulai dari ilmu para ulama, yaitu ulama yang mengenal Allah. Mengenal Allah dalam hal ini berupa terbinanya misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan cahaya Allah. Misykat ini akan menjadikan mereka mengenal bagaimana rabb-nya akan mengenalkan diri-Nya. Mungkin mereka belum bertemu (liqaa’) dengan rabb-nya, tetapi telah mengenal bagaimana rabb-nya akan memperkenalkan diri-Nya kepadanya. Mereka juga mengetahui jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan, jalan berupa amal yang ditentukan baginya dan amal itu ia ketahui disebutkan dalam kitabullah Alquran. Jalan itu adalah shirat al-mustaqim yang ditandai adanya suatu seruan dari ayat Alquran. Jalan itu bukan rekaan atau tebakan tanpa ada penyerunya dari kitabullah Alquran. Mereka mengetahui bahwa mereka akan bertemu rabb-nya apabila ia melaksanakan amal-amal itu. Mereka itu adalah ulama yang dapat mengusahakan pemakmuran bangsanya. Dalam perjalanan mereka akan menjumpai banyak keterbukaan ayat-ayat lain Alquran yang menjelaskan upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan seruan yang tertulis pada gerbang shirat al-mustaqim.

Ulama yang demikian itulah orang yang bisa membukakan keberkahan dari langit dan bumi hingga terwujud pemakmuran alam dunia. Bentuk dari pengetahuan mereka bukan hanya dalil-dalil saja, tetapi berupa pengetahuan integral antara hakikat di sisi Allah dengan keadaan alam kauniyah, sedemikian ilmu itu dapat mendatangkan perbaikan bagi kasab penghidupan bangsa, menentukan pemimpin yang baik bagi bangsa tersebut, dan menunjukkan keimanan sesungguhnya yang tidak akan tanggal dengan datangnya kematian. Banyak orang yang menggunakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk merumuskan kehidupan yang lebih baik akan tetapi sebenarnya tidak menyentuh kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya menyentuh redaksinya saja. Hal demikian merupakan suatu kebaikan selama dilakukan dengan ikhlas tidak ada iktikad tersembunyi pada perumusannya. Sebenarnya keikhlasan itu sendiri akan mendorong manusia untuk bisa menyentuh kandungan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW manakala hati mereka bersih. Tetapi harus diperhatikan bahwa banyak pula orang munafik bahkan musyrik menggunakan ayat kitabullah untuk membuat-buat pengetahuan yang bathil bagi umat islam. Setiap muslim hendaknya berusaha menemukan ulama yang mengerti kandungan dalam kitabullah selaras dengan keadan kauniyah, sebagai sarana mendekati ulama yang sesungguhnya.

Sayangnya banyak umat islam tidak mengenali para ulama. Hal itu menyebabkan kehidupan di alam dunia menjadi sulit.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia dengan tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Dewasa ini, keadaan umat islam di nusantara tampak sangat tidak baik-baik saja. Penghidupan kasab di antara kaum muslimin tampak sangat sulit. Harga-harga bergerak tidak terkendali karena para penguasa yang melakukan krupsi besar-besaran. Para ahli tersingkirkan dari kedudukannya oleh orang bodoh yang dekat dengan penguasa. Negara diurus oleh orang tanpa keahlian. Di masyarakat umum, menjalankan usaha menjadi sangat sulit karena umumnya penggunaan cara-cara yang tidak dihalalkan, dan rakyat harus menanggung beban penghidupan yang berat karena keadaan demikian. Sangat banyak fenomena kesulitan dalam kehidupan muslimin dewasa ini.

Keadaan ini terjadi karena ditinggalkannya para ulama oleh umat. Umat Islam hendaknya berusaha untuk tidak meninggalkan ulama dan fuqaha di antara mereka, khususnya ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Apabila mereka tidak mengenalnya, hendaknya mereka berusaha mencari dengan berusaha mengenali ilmu yang bisa dinilai sebagai penjelasan hakikat-hakikat dari sisi Allah dengan sepenuh kemampuan akalnya tidak hanya mengikuti perkataan orang. Melangkah bersama ulama dan fuqaha yang mengenal Allah akan mendatangkan kemakmuran bagi negeri mereka. Kasab kehidupan mereka akan menjadi lebih baik atau mudah dan pemimpin mereka akan diangkat dari orang yang baik tidak dzalim, dan mereka akan mengenal keimanan yang sebenarnya, keimanan yang tidak terlepas ketika kematian menghampiri. Sangat rugi manusia yang keimanan mereka tanggal ketika kematian tiba. Hal demikian biasanya terjadi karena mereka mengikuti keimanan tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau mensia-siakan pengajaran tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti sistem keimanan mereka sendiri.

Ini adalah jalan agar berkah Allah dibukakan kepada suatu negeri. Jalan yang lain akan menjebak manusia menuju keadaan-keadaan yang lebih buruk. Allah akan menurunkan keburukan melalui upaya-upaya yang dilakukan orang-orang yang tidak mengikuti ayat-ayat Allah ataupun mendustakan ayat-ayat Allah. Mungkin mereka mengira usaha mereka akan mendatangkan kebaikan sedangkan Allah menetapkan keburukan karena kurangnya iman terhadap ayat-ayat Allah. Sebagai gambaran, dahulu seorang pemimpin tampak sangat buruk. Ketika pemimpin berganti, masyarakat negeri berharap kehidupan yang lebih baik karena sosok yang dipandang lebih baik. Kenyataannya, sosok yang dipandang lebih baik itu justru mendatangkan banyak kekonyolan. Itu merupakan ketetapan Allah karena umat atau masyarakat tidak memperhatikan tuntunan Allah. Untuk membukakan berkah dari langit dan bumi, umat manusia hendaknya beriman dan bertakwa. Iman dan takwa yang benar itu hendaknya dilakukan dengan mengikuti ulama dan fuqaha yang bertakwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar