Pencarian

Senin, 27 Januari 2025

Tetap di atas Nikmat Allah

 Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara langkah mengikuti Rasulullah SAW adalah bekerja dengan mengerjakan amal shalih yang sesuai dengan keadaan masing-masing. Setiap orang harus bekerja sesuai dengan keadaan masing-masing untuk menyumbangkan kemakmuran bagi masyarakat. Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan untuk amal shalih akan mengarahkan orang yang beramal untuk mengenal amanah yang ditentukan bagi dirinya, yaitu amal-amal yang ditetapkan layaknya tetapnya kalung pada lehernya. Amal-amal berdasarkan pada keinginan beramal shalih akan menjadikan seseorang memperoleh petunjuk. Seandainya amal-amalnya belum mengarah pada amanah itu, akalnya akan mengarah kepadanya. Hal ini akan terjadi manakala seseorang mempunyai keikhlasan dalam beramal, yaitu keinginan untuk mengenal Allah dengan mengetahui kehendak Allah atas dirinya. Apabila seseorang hanya mengikuti perkataan-perkataan manusia tanpa memperhatikan tuntunan Allah dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, ia tidak akan mengetahui adanya petunjuk yang diberikan kepadanya.

Pengetahuan tentang amal-amal yang ditetapkan bagi diri seseorang merupakan nikmat Allah. Allah melimpahkan nikmatnya kepada hamba-hamba-Nya hingga mereka mengetahui amal-amal yang harus dilakukan. Pengetahuan tentang amal-amal itu sepenuhnya merupakan bagian dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada bagian pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pokok berupa pengetahuan hakikat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan ada pengetahuan yang bersifat cabang dan ranting dari pokok tersebut tetapi terkait kuat dengan pokoknya yang berfungsi dalam tataran praktis operasional amal shalih. Dalam peristiwa pelimpahan nikmat Allah, boleh jadi ada sebagian pengetahuan merupakan kotoran yang yang dilemparkan oleh syaitan atau hawa nafsu, maka setiap orang hendaknya tetap berpegang teguh terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apa yang dari syaitan jelas merupakan hal yang bathil, sedangkan apa yang dari hawa nafsu mungkin ada kebaikan di dalamnya dan mungkin ada keburukan yang menyertainya. Karena hal itu, hendaknya setiap orang berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Manakala seseorang memperoleh keterbukaan terhadap nikmat Allah bagi dirinya, hendaknya mereka tidak berpaling dan/atau mengerjakan sesuatu yang lain. Tetapnya seseorang dalam nikmat-Nya diukur dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seluruh nikmat Allah benar-benar terkait dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang dari keduanya. Tidak jarang seorang mukmin berpaling manakala Allah melimpahkan nikmat-Nya. Apabila seorang mukmin tidak lagi berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam melaksanakan amal-amal yang diketahuinya berdasarkan nikmat Allah, ia telah berpaling dari nikmat Allah. Sikap itu akan diikuti dengan memilih mengerjakan amal-amal yang tidak bersumber dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian akan menyebabkan seseorang berpaling dari nikmat Allah dan memilih mengerjakan amal selain dari nikmat Allah.

﴾۳۸﴿وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَؤُوسًا
Dan apabila Kami berikan kenikmatan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan mereka menginginkan mengerjakan yang lain; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (QS Al-Israa’ : 83)

Sebagian orang berpaling dari nikmat Allah dan memilih mengerjakan amal-amal yang mereka sukai setelah Allah memberikan kenikmatan kepada mereka. نَأَىٰ بِجَانِبِهِ bermakna menginginkan sesuatu yang ada selain yang ditentukan. Ketika Allah melimpahkan nikmat kepada seorang hamba, Dia memberitahukan kepada hamba tersebut suatu amanah yang sebenarnya telah disampaikan dalam kitabullah Alquran, maka hamba tersebut mengetahui amanahnya berbentuk firman Allah dalam Alquran. Hanya saja hawa nafsu manusia mempunyai kecerdasan lain yang menyebabkan seseorang mungkin mempunyai pemahaman lebih atau berbeda dari batasan ketat firman yang tercantum dalam Alquran. Bila hamba tersebut mengikuti kecerdasan lainnya tanpa berpegang pada firman yang ditentukan baginya, ia telah menginginkan sesuatu yang lain selain yang ditentukan Allah. Tidak jarang sesuatu yang lain itu merupakan hal yang (tampak) baik dan dekat dengan firman yang menjadi amanahnya, tetapi kemudian melalaikan hamba tersebut dari firman-Nya.

Pada prinsipnya, berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bertujuan untuk mewujudkan rahmaniah dan rahimiah dari sisi Allah, tidak menyimpang darinya. Orang yang benar-benar berpegang pada kedua tuntunan itu adalah orang yang berusaha mewujudkan rahmaniah dan rahimiah-Nya dengan berpegang pada kedua tuntunan. Ada orang-orang yang berpegang dengan kuat pada kedua tuntunan itu tanpa mengetahui tujuannya, maka mereka memperoleh kebaikan dari apa yang mereka lakukan. Ada orang-orang yang mengikuti kaum musyrikin, mereka berpegang pada kedua tuntunan itu untuk menyerang muslimin (selain mereka), maka mereka itu adalah kaum khawarij. Sebagian orang melakukan amal-amal tanpa mempedulikan kedua tuntunan tersebut karena kekufuran mereka. Ayat di atas berbicara tentang suatu kaum tertentu, yaitu orang-orang yang beramal mengikuti petunjuk tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka adalah orang-orang yang berpaling dari nikmat Allah dan mengikuti jalan lain yang bukan petunjuk Allah sedangkan mereka menyangka itu petunjuk. Mereka tidak mengetahui arah dari petunjuk yang mereka ikuti.

Tidak Berpaling dari Nikmat Allah

Allah memerintahkan orang beriman untuk beramal dan membiarkan orang-orang yang berpaling untuk beramal. Ayat berikutnya terkait erat dengan keadaan orang yang memperoleh nikmat Allah baik mengikuti petunjuk maupun orang yang berpaling dari nikmat Allah dan menempuh langkah yang lain selain petunjuk Allah. Hendaknya masing-masing orang yang memperoleh nikmat Allah (baik yang mengikuti petunjuk atau orang yang berpaling dari nikmat Allah) beramal sesuai dengan keadaan masing-masing.

﴾۴۸﴿قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih mengikuti petunjuk tentang jalannya. (QS Al-Israa’ : 84)

Langkah yang perlu dilakukan oleh setiap orang beriman adalah beramal sesuai dengan keadaan masing-masing, baik orang tetap dalam nikmat Allah ataupun orang berpaling dari nikmat Allah. Sedikit banyak perintah tersebut menggambarkan alotnya persoalan bagi orang beriman untuk dapat berjalan bersama orang yang berpaling dari nikmat Allah, bahwa langkah terbaik adalah membiarkan mereka beramal dengan keadaan masing-masing. Bila seseorang berpaling dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, barangkali sebagian amalnya termasuk sebagai amal yang mengikuti tuntunan Allah. Apa-apa yang mengikuti tuntunan Allah akan mendatangkan kebaikan, sedangkan amal-amal dari keberpalingannya akan mendatangkan madlarat. Hendaknya mereka memperhatikan apakah amal mereka mendatangkan madlarat bagi umat manusia agar ia bisa menghentikan perbuatannya demikian. Orang-orang yang beramal tetap dalam nikmat Allah pada dasarnya akan beramal dengan cara yang paling baik karena mereka mengetahui sasaran yang ditentukan Allah dah harus dicapai. dan mengetahui cara mengerjakannya, tetapi hal itu dapat dirusak pihak lain dengan berbagai cara.

Allah lebih mengetahui orang-orang di antara mereka yang lebih mengikuti petunjuk. Masing-masing mungkin akan mengatakan bahwa diri mereka melakukan amal dengan mengikuti petunjuk dan mungkin mengatakan bahwa pihak lain berbuat tidak mengikuti petunjuk. Allah-lah yang mengetahui siapa di antara mereka yang lebih mengikuti petunjuk, bukan masing-masing pihak di antara mereka. Bagi dua pihak, lebih penting untuk memperhatikan langkah diri masing-masing dalam mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW daripada mempertahankan kebenaran sendiri, sedangkan ia hendaknya berkata “silahkan masing-masing beramal sesuai dengan keadaannya”. Akan sangat membantu bila satu pihak mau memperhatikan perkataan atau peringatan pihak lain yang mungkin mengandung kebenaran karena sama-sama telah memperoleh nikmat Allah, tidak hanya meyakini bahwa kebenaran hanyalah pendapat diri mereka sendiri.

Bagi muslimin kebanyakan, sangat penting bagi mereka untuk berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mengikuti petunjuk tidak menggantungkan kebenaran pada seseorang karena mungkin Allah membiarkan seseorang yang berpaling tampak melakukan amal-amal sesuai petunjuk. Perselisihan pendapat masing-masing pihak akan sulit dibedakan oleh orang-orang kebanyakan karena mereka masing-masing adalah orang yang telah menerima nikmat Allah. Bila umat menggantungkan kebenaran pada satu pihak di antara yang berselisih tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akan sangat banyak kerusakan yang terjadi di antara masyarakat. Allah lebih mengetahui pihak-pihak yang lebih mengikuti petunjuk, sedangkan kebanyakan manusia tidak mempunyai kemampuan untuk melihat kebenaran dan kebathilan yang ada di antara mereka tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Hendaknya masing-masing pihak tetap beramal. Salah satu pihak di antara mereka akan menyesal bahwa apa yang mereka lakukan tidaklah mengikuti petunjuk Allah dan akan berputus asa dengan apa yang mereka lakukan. Mereka akan mengetahui bahwa mereka telah berpayah-payah beramal tanpa hasil yang memadai karena amal mereka tidak berbeda dengan amal yang dapat dilakukan orang kebanyakan atau bahkan orang kafir. Rasa putus asa itu akan terjadi manakala mereka ditimpa suatu keburukan karena tidak mengikuti petunjuk Allah, dan sebagian karena perbuatan-perbuatan mereka. Bagi akal yang lebih kuat, keburukan ini akan disadari kedatangannya sebelum terjadi, tetapi akal yang lemah akan merasakannya setelah keburukan itu menimpa mereka. Bila seseorang beriman pada sebagian dan tidak mau beriman dengan sebagian lain dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akal mereka akan dalam keadaan terus menerus lemah. Kekuatan akal itu akan diperoleh manakala orang beriman mau beriman mengikuti tuntunan Allah sepenuhnya.

Bagi orang yang mengikuti petunjuk, hendaknya mereka tetap beramal berdasarkan nikmat Allah yang diberikan kepada mereka dengan mengikuti petunjuk yang terbuka kepada mereka. Mungkin hal ini akan berat dilakukan dengan keadaan berselisih dengan orang beriman yang lain. Sebagian orang beriman yang lain akan beramal tanpa tujuan yang sama dengan dirinya hingga mungkin saja ia tidak mempunyai sahabat dalam beramal. Demikian pula ia akan diguncang dengan momok keburukan yang akan menimpa diri mereka bersama kaumnya. Dalam keadaan yang berat demikian, hendaknya ia tetap beramal dengan nikmat Allah yang diberikan kepada mereka tidak berpaling dan menempuh jalan yang lain. Tidak masalah di hadapan Allah bahwa ia berbeda dalam amal dengan orang lain, hendaknya ia tetap beramal dengan keadaan dirinya. Hendaknya ia memperhatikan nikmat yang diberikan kepada dirinya dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak terlalu terikat dengan perbedaan dirinya dengan orang beriman yang lain.

Beramal Sesuai Keadaan

Orang-orang yang telah memperoleh nikmat Allah hendaknya beramal sesuai dengan keadaan masing-masing. شَاكِلَتِهِ menunjuk pada bentuk ciptaan berdasarkan susunan-susunannya. Seseorang yang memperoleh nikmat Allah akan mengetahui susunan entitas penciptaan dirinya, yaitu nafs wahidah dan jasmani yang terbentuk berdasarkan nafs wahidah itu. Keadaan diri seseorang seringkali tidak bersifat statis, tetapi bisa berkembang. Pengenalan susunan itu bisa meluas hingga seseorang mengetahui nafs pasangan yang tercipta dari nafs wahidah dirinya, dan mungkin juga terus meluas hingga mengenali bagian-bagian dirinya di alam bumi. Hendaknya seseorang yang memperoleh nikmat Allah beramal sesuai dengan keadaan dirinya.

Keadaan diri yang dimaksud juga mencakup hubungan-hubungan yang terbentuk pada dirinya terhadap entitas-entitas bagian diri yang dikenalnya. Seseorang tidak bisa memaksakan diri untuk mengerjakan sesuatu manakala hubungan yang terbentuk antara dirinya dengan objek amalnya dalam keadaan buruk. Hendaknya mereka mengerjakan amalnya dengan cara yang sesuai dengan keadaan dirinya. Kadangkala seseorang harus beramal secara aktif terbatas atau bahkan pasif terhadap objeknya karena sempitnya pintu untuk beramal. Misalnya ketika seseorang dalam keadaan telanjang, ia mungkin tidak bisa diterima oleh umatnya manakala menyampaikan kebenaran, maka ia bisa memaksakan diri secara terbatas dengan menyampaikannya dari belakang hijab tanpa harus berhadapan dengan umatnya. Alangkah baik bila ia berpakaian terlebih dahulu, akan tetapi bila pakaiannya rusak, ia akan sulit berpakaian secara baik. Hal-hal demikian hendaknya diperhatikan oleh seseorang manakala ia hendak beramal.

Ada keadaan-keadaan tertentu orang yang memperoleh nikmat Allah yang mungkin sulit dipahami oleh masyarakat umum. Misalnya boleh jadi ia tampak tidak mau dipaksa beramal untuk memperbaiki keadaan tetapi hanya beramal untuk beribadah. Hal itu bukan karena tidak mau memperbaiki keadaan, tetapi ia melihat bahwa amal mengikuti kehendak Allah lah yang akan memperbaiki keadaan. Kadangkala keadaan semacam itu disertai pandangan bahwa orang lain tidak mau memahami kehendak Allah hingga mereka terlilit kesulitan, sedangkan bila kesulitan itu ada pada dirinya, dipandang bahwa kesulitan itu terjadi karena pihak lain menghalangi langkahnya. Selama seseorang bisa menjelaskan pendapatnya berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan baik tanpa dipaksakan, mungkin ia adalah orang benar yang berada di atas nikmat Allah. Kaum muslimin boleh jadi bisa memperoleh pemahaman yang baik dengan berusaha memahami pendapatnya dan membongkar cara pandang mereka sendiri yang mungkin kurang tepat hingga bisa lebih memahami kehendak Allah. Bila sikap demikian hanya berdasarkan ra’yu, mungkin ia hanya orang yang terlalu memandang besar dirinya sendiri.

Perselisihan demikian bisa terjadi hingga di rumah tangga. Di tingkat rumah tangga, perselisihan dalam mensikapi nikmat Allah bisa menjadi masalah besar. Sebagaimana laki-laki bisa berpaling dari nikmat Allah, perempuan dapat pula berpaling ketika memperoleh nikmat Allah, dalam bentuk yang berbeda. Seorang laki-laki berpaling dari nikmat Allah manakala ia mengenal dirinya dan meletakkan  dedikasi penghambaannya terhadap suatu urusan selain bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang tidak benar-benar mengetahui kedudukan pengenalan dirinya dalam Alquran atau dalam jamaah Rasulullah SAW maka kemudian berpaling. Seorang perempuan berpaling dari nikmat Allah manakala ia mengenali urusan Allah bagi dirinya terdapat pada diri laki-laki selain suaminya hingga meletakkan dedikasinya untuk melayani laki-laki itu. Keduanya merupakan hal yang sama dalam perkara berpaling dari nikmat Allah walaupun berbeda bentuknya. Seorang isteri yang berpaling mungkin akan melakukan pemaksaan terhadap suaminya untuk tunduk kepada orang lain dalam urusan yang tidak jelas sumbernya, sedangkan suaminya sedang berjuang untuk menunaikan bagian dari urusan Rasulullah SAW.

Orang yang memperoleh nikmat Allah tidak boleh melanggar batasan dirinya. Bila orang lain bisa memahami, ia boleh menjelaskan keadaan dirinya. Bila ia melanggar batasan, ia mungkin tergiring atau terjatuh pada keadaan berpaling dari nikmat Allah dan menginginkan hal yang tidak ditentukan bagi dirinya, atau menyebabkan dirinya lalai dalam mengerjakan amanah yang dikalungkan pada dirinya. Bagi orang umum, hendaknya mereka tidak memaksakan pendapat diri terhadap orang-orang yang memperoleh nikmat Allah yang berusaha untuk bekerja sesuai dengan keadaan diri mereka.

Amal orang-orang yang memperoleh nikmat Allah akan memberikan sangat banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat. Bila masyarakat dapat menerima amal-amal mereka, manfaat itu akan muncul dan bila mendustakannya maka manfaat itu akan tenggelam atau berubah menjadi adzab. Nabi dan rasul yang didustakan umatnya akan mendatangkan adzab bagi umat mereka karena pendustaan umatnya. Adzab tersebut terjadi karena adanya bencana atas akal umat yang telah terjadi, bukan masalah dendam atau kebencian para nabi terhadap umatnya. Pada masyarakat yang mencari kebaikan tanpa berpegang pada tuntunan Allah, manfaat dari amal orang yang memperoleh nikmat mungkin akan tenggelam tidak dapat terbit. Tetapi syaitan akan berusaha agar manusia tertimpa bencana walaupun mungkin (hanya) pada akalnya. Bencana demikian akan menjadi bencana besar yang tertunda.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar