Pencarian

Senin, 13 Januari 2025

Membangun Keikhlasan dalam Penghambaan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dapat dilakukan setiap muslim dengan membina diri sebagai seorang yang adil dalam melakukan amal-amal, yaitu beriman dan tidak mencampurkan kedzaliman dengan iman mereka. Keadaan ini merupakan bagian dari akhlak mulia yang harus diinginkan oleh orang-orang beriman.

﴾۳۱﴿وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar". (QS Luqman : 13)

Ayat di atas menjelaskan tentang sasaran pengajaran Luqman kepada anaknya, yaitu agar anaknya tidak mensekutukan apapun dengan Allah, karena suatu kesyirikan merupakan kedzaliman yang sangat besar. Pengajaran menunjukkan suatu perbuatan membina akhlak menuju kebaikan. Luqman menginginkan agar terbentuk akhlak yang baik pada anak-anaknya maka ia memberikan pengajaran, dan sasaran utama pengajaran yang diberikan Luqman adalah agar anak-anaknya dapat beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya bersih dari kesyirikan kepada Allah. Bersihnya seseorang dari penyembahan kepada selain Allah merupakan sasaran pokok dari pengajaran yang harus ditegakkan bagi generasi penerus.

Pangkal dari kedzaliman yang paling besar adalah kemusyrikan, yaitu penyembahan manusia terhadap selain Allah. Penyembahan menunjukkan suatu dedikasi seseorang terhadap sesuatu melalui apa yang dilakukan, dan kesyirikan menunjukkan dedikasi seseorang dalam bertuhan secara keliru. Kesyirikan harus dilihat secara teliti tidak serampangan. Tidak semua orang yang berbicara tentang jin adalah orang musyrik. Setiap kemusyrikan akan menimbulkan kedzaliman di antara manusia, karena kemusyrikan merupakan kedzaliman yang besar. Pada kesyirikan yang besar, tidaklah seseorang menyembah sesuatu selain Allah kecuali karena ada suatu keinginan dalam dirinya terhadap sesuatu hingga ia bersembah kepada selain Allah. Selain kesyirikan yang besar, ada kesyirikan-kesyirikan yang dapat menghinggapi orang-orang yang beribadah kepada Allah hingga ada bentuk-bentuk kesyirikan yang tidak terlihat oleh pandangan manusia sebagaimana semut hitam yang berjalan di atas batu hitam pada malam yang gelap gulita. Semua bentuk-bentuk kesyirikan kepada Allah menimbulkan kedzaliman di antara umat manusia.

Banyak bentuk-bentuk kesyirikan yang mungkin terjadi bahkan di antara orang-orang yang beribadah kepada Allah, dan setiap orang beriman harus berusaha memperhatikan kesyirikan yang mungkin ada dalam dirinya untuk mendapatkan keimanan yang bersih dari kesyirikan. Ada orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu sendiri maka ia tidak bersih dari kesyirikan yang kecil. Ada orang yang riya atau takjub pada diri sendiri maka ia telah melakukan kesyirikan kecil. Demikian pula orang yang melakukan shalat atau ibadah-ibadah lain dengan tujuan agar dilihat oleh orang lain, maka hal itu merupakan kesyirikan-kesyirikan kecil yang harus dibersihkan dari diri seorang hamba Allah.

Kesyirikan yang tersamar di antara para hamba Allah ini tidak bisa dijadikan alasan satu pihak untuk menyerang pihak lain karena pada dasarnya orang-orang yang beribadah kepada Allah adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk berbuat baik kepada orang lain tidak mempertuhankan keinginan sendiri. Hanya saja, setiap orang hendaknya berusaha untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Kelompok-kelompok yang harus diperangi dari kalangan muslimin telah diterangkan dengan jelas dalam penjelasan-penjelasan Rasulullah SAW maka hendaknya kaum muslimin tidak menambahi alasan-alasan untuk mempermudah berperang terhadap kaum muslimin. Kelompok-kelompk yang menyimpang atau menyimpan kesyirikan-kesyirikan halus dalam dirinya hendaknya diseru menuju al-ma’ruf dengan sebaik-baiknya tanpa bermudah-mudah untuk memerangi mereka.

Dampak Kesyirikan

Bila tidak melakukan amar ma’ruf nahy munkar, kesyirikan halus yang ada pada kaum muslimin akan menghalangi kemakmuran yang dapat mereka capai. Orang-orang yang tidak memperhatikan dan membersihkan kesyirikan halus yang ada pada diri mereka sebenarnya akan cenderung menghambat atau menyimpangkan kemajuan langkah umat. Pemakmuran tidak akan dapat diperoleh oleh muslimin yang memperturutkan kesyirikan halus dalam dirinya. Manakala mereka memimpin karena keinginan mereka, orang-orang yang mereka pimpin akan terdzalimi oleh hawa nafsu yang diperturutkan hingga orang-orang yang dipimpin sulit untuk memberikan sumbangsih yang terbaik. Untuk memperoleh kemajuan yang terbaik, orang-orang yang dijadikan pemimpin adalah yang paling menundukkan hawa nafsu mereka serta paling bersih dari kesyirikan yang halus. Keikhlasan atau bersihnya ibadah seseorang kepada Allah dari kesyirikan yang samar membutuhkan pertumbuhan akal pada umat. Pemimpin urusan hendaknya dipilih dari kalangan orang yang akalnya kuat dan paling bersih dari kesyirikan yang halus, bukan sekadar berdasar kemampuan lahiriah saja.

Bila suatu kaum tidak menggunakan akalnya, akan sulit menunjukkan adanya kesyirikan yang tersamar pada ibadah mereka. Misalnya kadangkala suatu kaum melakukan syirik tersamar berupa penyembahan kepada panutan-panutan mereka tanpa menyadari atau justru memandang bahwa perbuatan mereka adalah perbuatan yang baik. Manakala suatu kaum ikut menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka mereka sebenarnya telah menjadikan panutan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Itu merupakan kesyirikan yang jelas yang mungkin terjadi di antara kaum muslimin. Sebelum hal demikian terjadi, mungkin saja sebenarnya telah terjadi kesyirikan-kesyirikan yang halus tidak terlihat oleh manusia. Cara berpikir kaum demikian itu sulit untuk diperbaiki sebelum akal pada kaum tersebut menjadi baik hingga mampu memahami kebaikan-kebaikan yang ada dalam tuntunan Allah. Bersihnya kesyirikan yang halus dan tidak terlihat hanya akan diperoleh umat bila akal mereka tumbuh dengan baik dalam memahami kebaikan dari sisi Allah.

Setiap kesyirikan memunculkan kedzaliman di antara manusia, baik kesyirikan yang besar atau kesyirikan yang halus. Kedzaliman yang ada di masyarakat akan berkurang apabila kesyirikan semakin hilang bersih dari masyarakat termasuk kesyirikan-kesyirikan yang halus. Kesyirikan yang besar merupakan kedzaliman yang besar dan kedzaliman itu akan berkurang intensitasnya bila kesyirikan yang terjadi adalah kesyirikan yang halus. Sekalipun halus, kesyirikan itu akan menimbulkan kedzaliman di antara masyarakat. Semakin besar nilai kesyirikan semakin besar kedzaliman yang muncul di masyarakat. Suatu kaum tidak boleh mengabaikan kesyirikan dan kedzaliman terjadi di antara mereka, dan mengurangi keadaan demikian dapat dilakukan dengan menghindari kesyirikan dengan akal yang semakin memahami petunjuk Allah.

Kedzaliman dalam banyak kasus merupakan bentuk dzahir dari kesyirikan. Dalam kesyirikan yang jelas, seringkali ada orang-orang yang menjadi tumbal bagi kesyirikan orang lain ataupun keluarga sendiri. Dalam kesyirikan yang halus, kedzaliman-kedzaliman tetaplah muncul di antara masyarakat. Orang-orang yang bertindak benar bisa tersingkirkan dari kalangan masyarakat manakala kesyirikan yang halus marak terjadi di antara mereka, maka masyarakat kemudian berbuat kedzaliman-kedzaliman terhadap sesama. Karena kedzaliman-kedzaliman yang terjadi, umat manusia akan mengalami kesulitan dalam kehidupan. Orang-orang yang benar akan sulit memperoleh kesempatan untuk memberikan sumbangsih yang bisa mereka berikan kepada masyarakat karena waham masyarakat tidak bisa menerima kebaikan mereka, sedangkan orang-orang yang jahat lebih mudah dalam melakukan kejahatan mereka karena penerimaan masyarakat terhadap mereka.

Terjadinya keadaan yang buruk pada masyarakat muslimin boleh jadi disebabkan oleh maraknya kesyirikan yang halus di antara mereka. Jalan mengatasi keburukan demikian harus dilakukan dengan meningkatkan akal dalam memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala jalan yang ditempuh untuk mengatasi keburukan tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, kaum muslimin hanya akan berpindah dari satu masalah kepada masalah yang lain. Kadangkala suatu kaum berselisih dengan kaum yang lain berdasarkan apa yang mereka pandang sebagai tuntunan Allah. Hal demikian menunjukkan bahwa mereka tidak memahami kandungan yang ada dalam tuntunan itu. Boleh jadi ada syirik-syirik halus yang tidak dipahami yang menyebabkan buruknya keadaan. Kadangkala suatu kaum merasa sebagai suatu kaum yang berbuat kebaikan-kebaikan tanpa menyadari kebodohan-kebodohan yang mereka lakukan hingga menyebabkan kerusakan, sedangkan kebaikan dari orang yang mengikuti kehendak Allah tidak dapat tumbuh karena sikap mereka. Hal demikian mungkin terjadi karena adanya kesyirikan-kesyirikan halus.

Menghindari Kesyirikan Halus

Kaum muslimin tidak boleh bersikap lengah terhadap kesyirikan, baik kesyirikan yang jelas maupun kesyirikan yang halus. Kesyirikan halus akan menyebabkan tenggelamnya kebenaran di antara suatu kaum. Kesyirikan yang halus di antara kaum muslimin itu bisa saja terjadi bersamaan dengan memandang baik keadaan diri sendiri, tidak menyadari bahwa sebenarnya Allah berkehendak lain dari apa yang mereka pandang baik. Misalnya manakala suatu kaum mentaati arahan panutan mereka, boleh jadi mereka tergelincir pada kesyirikan yang halus apabila mereka melakukan ketaatan dengan mengabaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala ada orang lain memberitakan kebenaran dari sisi Allah dan mereka mengabaikan kebenarannya karena mengira kebaikan ada pada diri mereka sendiri. Mereka mungkin saja sebenarnya telah menjadikan seseorang sebagai tuhan selain Allah manakala tidak mempedulikan tuntunan Allah dalam perkara yang mereka pandang baik.

Kaum muslimin pada masa Rasulullah SAW adalah sebaik-baik umat dalam ibadah kepada Allah. Mereka memandang diri mereka bukan sebagai orang-orang suci yang terbebas dari kedzaliman, sedangkan mereka benar-benar menjaga diri mereka dari kedzaliman. Kedzaliman merupakan hal yang lumrah terjadi pada manusia sekalipun mereka berusaha menjaga diri dari kedzaliman. Yang berbahaya adalah manakala seseorang merasa sebagai orang suci yang terbebas dari kedzaliman karena mereka adalah orang yang tidak mengetahui kedzaliman diri mereka. Dalam beberapa hal, orang-orang demikian adalah orang-orang yang terjatuh pada suatu kesyirikan hingga kadang-kadang merupakan kesyirikan yang jelas. Boleh jadi mereka menjadikan seseorang di antara mereka sebagai tuhan selain Allah.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata : ”Ketika turun ayat (Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman) [Surah Al-An'am: 82], hal itu membuat para sahabat Rasulullah SAW susah dan mereka bertanya, ”Siapakah di antara kita yang tidak mencampuradukkan keimanan dengan kezaliman?” Maka Rasulullah SAW bersabda, ”Ini bukan tentang itu, apakah kalian tidak mendengar perkataan Luqman: ("Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.") (HR Bukhari 8/144 no. 4629)

Dari kisah di atas, tergambar bahwa para sahabat merasa gundah dengan keadaan diri mereka karena masih mencampurkan keimanan mereka dengan kedzaliman-kedzaliman. Perasaan demikian merupakan sikap jujur dari para sahabat. Mereka bertanya kepada diri sendiri, dan tentang para sahabat lain adakah seseorang di antara mereka yang tidak berbuat kedzaliman sedangkan mereka menyangka setiap orang tentu tidaklah bersih dari kedzaliman. Kedzaliman yang tidak boleh terjadi di antara kaum muslimin adalah kedzaliman karena kesyirikan. Penjelasan Rasulullah SAW dengan cara demikian itu menunjukkan bahwa kedzaliman yang tidak boleh ada di antara kaum muslimin adalah kedzaliman karena kesyirikan.

Menghindari kesyirikan dapat dilakukan dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik dengan memahami ataupun tidak memahami. Manakala seseorang belum memahami, ia harus berpegang secara dzahir pada nash kitabullah, tanpa bersikap berlebihan menolak penjelasan kebenaran yang lebih luas. Hanya saja manakala suatu penjelasan bertentangan dengan suatu petunjuk ayat dalam kitabullah, hendaknya ia berpegang pada kitabullah. Pada tingkat lebih lanjut, manakala mendengar suatu kebenaran yang sampai kepadanya seseorang hendaknya bertanya dan memikirkan bagaimana firman Allah tentang kebenaran tersebut, tidak hanya menerima sebagai kebenaran final. Apabila ia bisa memahami kandungan dalam suatu ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka hal itu akan mendatangkan kebaikan yang lebih besar.

Kesyirikan bisa terjadi manakala seorang muslim memandang perkataan seseorang lebih penting dan benar daripada firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Kesaksian dalam kalimah syahadat harus diwujudkan dalam usaha memperhatikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai perhatian utama, adapun mengikuti perkataan orang lain adalah untuk membantu diri agar lebih memahami firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang membalikkaan prioritas dalam usaha di atas, ia terjebak dalam suatu kesyirikan menjadikan manusia sebagai tuhan selain Allah. Keadaan demikian akan menyebabkan munculnya kedzaliman di antara masyarakat. Hal demikian hanya terjadi pada umat yang tersesat. Apabila seseorang yang diikuti adalah orang yang benar, niscaya ia akan menolak keras sikap masyarakat terhadap dirinya karena sulit untuk mempertanggungjawabkan di hadapan Allah, sebagaimana nabi Isa a.s menolak pendapat orang-orang yang menjadikan dirinya sebagai anak tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar