Pencarian

Selasa, 09 Juli 2024

Mewujudkan Akhlak Mulia

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kedekatan kepada Allah akan diperoleh seseorang bila melakukan Ibadah secara ikhlas kepada Allah. Keikhlasan suatu amal ibadah tidak hanya terkait dengan niat di dalam hati, akan tetapi juga terkait dengan terhubungnya amal itu terhadap kehendak Allah. Suatu amal yang dilakukan tanpa mengetahui kehendak Allah tidak dapat dikatakan sebagai amal berdasar keikhlasan. Terhubungnya amal terhadap kehendak Allah terjadi apabila seseorang memahami tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran, dan dengan keterhubungan itu maka seseorang akan memperoleh keikhlasan.

﴾۲﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّين
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-kitab (Al Quran) dengan kebenaran (al-haqq). Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. (QS Az-Zumar : 2)

Alquran merupakan puncak dari kebenaran, menghadirkan kebenaran berupa hakikat dari sisi Allah kepada manusia di alam bumi. Pemahaman hakikat dapat terjadi manakala akhlak seseorang terbina sesuai dengan tuntunan Allah berupa pemahaman dengan akal (aql), bukan pemahaman yang dibangun semata-mata dengan logika berpikir saja (nathiqah). Logika berpikir manusia akan menghasilkan pemahaman-pemahaman parsial yang seringkali tidak dapat menyatu terhadap hakikat. Penyatuan itu akan terjadi manakala akal (‘aql) terbentuk melalui terbentuknya akhlak mulia. Tanpa akhlak mulia, seseorang tidak akan mempunyai akal, hanya mempunyai kecerdasan jasmaniah saja (nathiqah), dan tidak akan memahami hakikat dari sisi Allah walaupun berpegang pada kitabullah.

Terbentuknya akhlak mulia adalah terbentuknya sifat rahman dan rahim dalam diri seorang hamba Allah. Akhlak mulia terwujud dari pencarian kebenaran untuk beramal mengikuti kehendak Ar-Rahman, dan mengasihi orang lain sebagaimana diri sendiri sebagai wujud sifat rahim. Manakala seseorang tidak bisa mengenali kebenaran dari kitabullah, sebenarnya akhlaknya bertentangan dengan sifat rahmaniah, maka dapat dikatakan bahwa akhlaknya buruk. Demikian pula manakala seseorang berbuat justru untuk menimbulkan kesulitan bagi kehidupan orang lain untuk memperoleh keuntungan syahwatiah dan hawa nafsu sendiri, maka ia mempunyai akhlak yang buruk.

Rahmaniah merupakan akhlak seseorang dalam hubungannya kepada Allah. Sifat rahmaniah manusia menunjukkan sifat kecintaan terhadap pemahaman dan ketaaatan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Membina sifat rahman dapat dikatakan secara populer sebagai mencari kebenaran, secara khusus berupa mencari kebenaran agar dapat menunaikan kehendak Allah. Kecintaan rahmaniah itu tidak hanya berlaku bagi diri sendiri, tetapi juga kesukaan memberikan kepada orang lain pemahaman dan mengajak pada ketaatan kepada Allah berdasarkan pemahaman adanya kemuliaan padanya, bukan sekadar memaksakan pemahaman. Akhlak mulia harus terbina dalam diri seseorang hingga ia dapat mengenali kebenaran walaupun dengan hanya mendengar dari orang lain. Manakala seseorang hanya dapat mengenali kebenaran dari apa yang dilihat dan ditemukannya saja, akhlaknya belum cukup mencapai derajat mulia. Tidak jarang apa yang dipersepsi seseorang dari apa yang ditemukan dan dilihat tidak benar, maka ia membutuhkan pendengaran terhadap perkataan orang lain untuk membangun pemahaman yang lebih mendekati kebenaran. Kemuliaan akhlak itu mulai terbentuk bila seseorang dapat mengenali kebenaran dengan pendengaran, penglihatan dan hatinya.

Sikap keras kepala berpegang pada ilmu yang salah merupakan manifestasi dari akhlak yang buruk, walaupun kadangkala tidak terlihat oleh orang lain. Keburukan akhlak dalam fenomena demikian merupakan keburukan akhlak dalam derajat tinggi, seringkali lebih buruk dari terlihatnya amal yang buruk dari seseorang, karena akhlak demikian terkait dengan akhlak terhadap Allah. Dalam tingkatan tertentu, sikap demikian merupakan kekufuran. Sebagian orang menjadi dzalim karena berpegang pada pengetahuan yang salah, baik dzalim terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Orang-orang yang bertaubat kepada Allah akan tersesat bila fanatik mengikuti ilmu yang salah. Sekalipun mungkin dianggap baik, ilmu yang salah akan bisa menimbulkan kerusakan yang besar lebih besar daripada amal yang jelas terlihat buruknya, terutama manakala bertentangan dengan tuntunan Allah, dan setiap urusan mempunyai derajat kerusakan tersendiri.

Sifat rahim menunjukkan cinta kasih seseorang terhadap orang lain dan makhluk lain. Sifat rahim merupakan bentuk akhlak seseorang dalam hubungannya terhadap makhluk, terutama dalam urusan-urusan di alam ciptaan. Sifat rahimiah ditunjukkan dengan terwujudnya sikap yang baik terhadap makhluk-makhluk lain berupa keinginan memberikan kepada makhluk lain kemudahan dalam kehidupan. Gambaran sifat rahimiah tergambar pada seorang ibu yang akan berusaha keras penuh rasa sayang untuk memberikan kesejahteraan bagi anak-anaknya, sedangkan sifat rahmaniah tergambar pada seorang ayah yang ingin mendidik anak-anaknya agar memiliki kecerdasan dalam kehidupan. Sifat demikian tidak hanya berlaku pada para ibu atau para ayah terhadap anaknya, tetapi sebenarnya harus ditumbuhkan pula pada setiap manusia terhadap manusia lainnya dalam intensitas yang berbeda.

Sarana Mewujudkan Akhlak Mulia

Sifat rahmaniah dan rahimiah harus ditumbuhkan pada setiap manusia agar menemukan jalan kembali masing-masing kepada Allah. Masing-masing benih sifat tersebut ada pada setiap manusia dalam porsi yang berbeda-beda. Seorang laki-laki akan mempunyai sifat rahmaniah relatif lebih dominan daripada isterinya, dan para isteri mempunyai sifat rahimiah relatif lebih dominan daripada para suami mereka. Tumbuhnya sifat-sifat itu akan menunjukkan kepada masing-masing orang jalan taubat mereka. Seorang laki-laki akan tumbuh memahami kehendak Allah bagi diri mereka bila tumbuh sifat rahmaniah, dan seorang perempuan akan menjadi perempuan subur bagi suaminya bila tumbuh dalam dirinya sifat rahimiah.

Benih-benih akhlak mulia harus ditumbuhkan dan dirawat dengan baik secara berimbang. Hal itu terkait erat dengan proses taubat. Proses taubat setiap diri manusia tidak berdiri sendiri, satu dengan yang lain memberi pengaruh. Setiap pihak harus menumbuhkan sifat mulia dirinya melalui kebersamaan. Tumbuhnya sifat mulia pada manusia akan terjadi secara intensif manakala mereka menempuh jalan taubat kembali kepada Allah mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt akan terbentuk melalui pernikahan. Seorang suami akan melihat kehendak Allah melalui kehadiran isterinya, karena isteri merupakan pembawa khazanah duniawi bagi mereka. Akal laki-laki akan tumbuh menguat manakala melihat amanah Allah melalui isteri mereka, maka sifat rahmaniah mereka akan tumbuh subur melalui pernikahan. Demikian pula seorang isteri akan memperoleh wahana yang sebenar-benarnya untuk menumbuhkan sifat rahimiah mereka melalui pernikahan, baik kepada suaminya ataupun anak-anak yang terlahir dari pernikahan itu. Tidak terbatas pada sifat demikian, seluruh sifat-sifat mulia dalam diri mereka hendaknya dapat ditumbuhkan melalui pernikahan. Seorang suami hendaknya juga menumbuhkan sifat rahimiah dalam dirinya terhadap umat mereka secara umum melalui interaksi mereka dalam pernikahan dan para isteri menumbuhkan pemahaman terhadap kehendak Allah, serta menumbuhkan sifat mulia yang lain.

Membentuk bayt merupakan sasaran akhir jalan taubat dalam kehidupan dunia. Itu adalah tujuan dari millah nabi Ibrahim a.s. Setelah terbentuknya bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah, seseorang akan diperjalankan Allah untuk mendekat kepada-Nya. Perjalanan itu adalah sunnah Rasulullah SAW. Manusia tidak dapat mengusahakan perjalanan itu sendiri, dan tidak dapat meminta apakah Allah akan memperjalankan dirinya mi’raj atau tidak, akan tetapi mensyukuri terbentuknya bayt itu telah mencukupi bagi setiap hamba Allah.

﴾۶۳﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
di dalam rumah-rumah yang telah diijinkan Allah untuk ditinggikan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, (QS An-Nuur : 36)

Membentuk bayt sebagai jalan taubat akan mengarahkan tumbuhnya sifat mulia hingga setiap orang mengenal kehendak Allah dengan benar. Sekalipun tampak baik, kadang-kadang ditemukan ada sifat mulia yang tumbuh secara menyimpang. Misalnya dengan memperhatikan pernikahannya, seorang laki-laki akan mengenal batas dirinya tidak menjadikan semua urusan dalam diri perempuan yang dapat diketahui sebagai bagian dirinya. Khazanah yang terkandung pada seorang perempuan tertentu adalah bagian yang diperuntukkan bagi suaminya yang tidak dapat diambil paksa tanpa suatu akad yang kuat di sisi Allah melalui pernikahan. Demikian pula dengan ketaatan kepada suami, sifat rahimiah pada perempuan dapat tumbuh sesuai ketentuan Allah, tidak hanya menginginkan kesejahteraan dunia secara tanpa terarah yang dapat mendatangkan ketimpangan kepada orang-orang lain. Tanpa pernikahan sesuai tuntunan Allah, sifat rahimiah perempuan dapat tumbuh secara liar dan/atau keji tanpa mengetahui arah menuju tatanan sesuai kehendak Allah.

Membentuk bayt membutuhkan perjuangan, bukan suatu tujuan yang dapat diperoleh dengan mudah. Setiap orang harus berusaha membina keikhlasan dirinya menjalani garis kehidupan sesuai dengan kehendak Allah dengan penuh rasa syukur, tidak berpaling mengikuti hawa nafsu dan syahwat dirinya. Siti Hajar r.a harus tinggal di lembah sunyi Bakkah bersama putera bayinya untuk menempuh kehidupan sesuai dengan kehendak Allah mewujudkan bayt. Barangkali umat tidak harus menempuh kehidupan seberat siti Hajar r.a, akan tetapi membentuk bayt bukan sesuatu yang dapat dilakukan dengan memperturutkan kesenangan-kesenangan hawa nafsu dan syahwat. Dalam kehidupan modern, seseorang dengan suatu keikhlasan berupa menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak Allah sangat jarang ditemukan. Jauh lebih banyak orang yang sungguh-sungguh dalam mengupayakan apa-apa yang diinginkan hawa nafsu dan syahwat mereka daripada orang yang berusaha membina keikhlasan.

Hanya sedikit orang yang benar-benar hidup menuju keikhlasan. Sebagian orang ingin mengikuti kehendak Allah akan tetapi tidak memperoleh pengetahuan untuk itu, atau mereka kemudian tersimpangkan dari jalan itu. Ujung bentuk keikhlasan yang harus dijadikan sasaran kehidupan dunia adalah terbentuknya bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Sebelum terbentuknya bayt demikian, ada tahapan yang menandai bahwa arah taubat yang mereka tempuh benar. Disucikannya diri dari dosa-dosa, pengenalan penciptaan diri dan keadaan lain menjadi contoh tahapan pendahuluan menuju terbentuknya bayt, yang dapat dijadikan tanda bahwa arah kehidupannya benar. Sekalipun telah memperoleh tahapan pendahuluan, setiap orang hendaknya bertakwa tidak menyimpang dari jalan Allah. Langkah seseorang dapat terhenti atau tersimpangkan sebelum terbentuk bayt mengikuti millah nabi Ibrahim a.s

Banyak hal dapat menghalangi langkah seseorang membina keikhlasan. Sebagian orang yang menginginkan keikhlasan bersifat cengeng tidak mempunyai keberanian untuk melaksanakan petunjuk Allah. Tidak jarang suatu pasangan menolak petunjuk tentang bentuk bayt yang harus dibentuk, baik oleh satu pihak, dua pihak atau seluruh pihak, atau menganggap petunjuk itu hanya luapan hawa nafsu. Hal demikian terjadi karena tidak terbinanya akal dalam memahami kehendak Allah dengan benar, baik tidak tumbuh atau tumbuh secara salah. Dalam urusan nafs wahidah misalnya, seseorang mungkin saja menolak ketika memperoleh petunjuk tentang pasangannya, sedangkan petunjuk itu merupakan bekal dasar untuk membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tanpa menerima dan menikah dengan pasangan itu, seseorang tidak akan bisa mencapai tujuan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Mungkin ia bisa mencapai pengenalan diri dengan susah payah atau menjadi hamba yang disucikan, tetapi tidak mencapai terbentuknya bayt. Bagaimanapun keadaan akhir yang bisa dicapai, penolakan itu akan menyisakan susah payah yang sangat banyak dalam menemukan jalan untuk sampai (liqaa’) kepada Allah. Sisi buruknya, sebagian penolakan terhadap petunjuk jodoh merupakan kekufuran terhadap nikmat Allah yang dapat menyeret seseorang menuju neraka.

Setiap tercapainya suatu tahapan menuju terbinanya bayt menunjukkan tingkat keikhlasan tertentu yang terbentuk dalam diri seseorang. Tetapi hendaknya diperhatikan bahwa ukuran keikhlasan yang sesungguhnya ditunjukkan oleh terbentuknya sifat rahman dan rahim, bukan pencapaiannya dalam tahapan perjalanan. Sebagian salik mensikapi tahapan-tahapan perjalanan dengan hawa nafsu. Misalnya bisa saja seseorang menjadikan keadaan pengenalan diri sebagai sebuah status di antara mereka, sedangkan mereka terlalaikan karena pencapaiannya untuk berusaha memahami tuntunan kitabullah dengan tepat dan seksama sebagai wujud dari rahmaniah dirinya. Kadangkala perempuan terobsesi mewujudkan rahimiahnya mendampingi seorang laki-laki tanpa melihat dirinya, maka ia menjadi keji. Pencapaian setiap tahapan perjalanan baik laki-laki ataupun perempuan harus disertai dengan terbentuknya rahmaniah dan rahimiah, yaitu kokohnya akhlak mulia terhadap Allah dan terhadap makhluk. Berpaling dari kitabullah Alquran merupakan keburukan akhlak terhadap Allah, dan membuat kesulitan terhadap para makhluk merupakan keburukan akhlak terhadap makhluk.

Terbentuknya bayt akan menghadapkan setiap wajah pasangan dalam rumah tangga itu untuk mencintai Allah dan menyayangi makhluk lainnya. Setiap perempuan adalah manusia yang mempunyai akal untuk memahami kehendak Allah dengan mengikuti pemahaman suaminya terhadap kitabullah, dan setiap laki-laki mempunyai pula benih rahimiah untuk bekal memudahkan kehidupan bagi makhluk lainnya. Terbentuknya bayt akan menyatukan pasangan itu dalam suatu kekuatan baru untuk menghubungkan kehendak Allah hingga terwujud rahmaniah dan rahimiah Allah hingga di bumi. Kekuatan itu menjadi tanda ijin Allah. Bayt demikian hanya dapat terbentuk atas ijin Allah. Allah berkehendak mengajarkan kepada manusia ilmu-ilmu dari sisi-Nya.

Pengenalan seorang hamba terhadap kehendak Allah bernilai benar bila ada landasan dari kitabullah. Keikhlasan itu akan kembali kepada kitabullah, tidak boleh lepas tanpa terhubung pada kitabullah. Manakala tidak terhubung pada kitabullah, seseorang hendaknya berhati-hati atau merasa curiga asal muasal pengenalannya terhadap kehendak Allah. Ada fenomena-fenomena yang serupa dengan pengenalan terhadap kehendak Allah akan tetapi sebenarnya tidak benar-benar dari firman Allah. Misalnya, suatu tanduk syaitan akan terbit mengiringi terbitnya matahari pengenalan seseorag terhadap rabb, itu akan sangat serupa dengan pengenalan terhadap kehendak Allah akan tetapi tercampur dengan tangan syaitan. Hal itu hanya bisa dibersihkan manakala seseorang berpegang pada kitabullah.

Mengikuti orang-orang yang mengenal kehendak Allah akan memudahkan seseorang untuk membangun akhlak mulia, akan tetapi hendaknya benar-benar diperhatikan bahwa mereka mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Tidak boleh seseorang mengikuti langkah orang lain manakala bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran, karena pertentangan itu akan mendatangkan celaka. Tidak ada makhluk yang memperoleh petunjuk yang benar bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran. Kebenaran dari sisi Allah (hakikat) tidak ada yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran, dan kitabullah Alquran diturunkan dengan membawa kebenaran itu. Sesedikitnya akal, setiap orang harus menggunakannya untuk berpegang pada kitabullah Alquran dan tuntunan Rasulullah SAW tidak mensia-siakannya.

Kamis, 04 Juli 2024

Tutupan Pada Hati

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kedekatan kepada Allah akan diperoleh seseorang bila melakukan Ibadah secara ikhlas kepada Allah. Keikhlasan suatu amal ibadah tidak hanya terkait dengan niat di dalam hati, akan tetapi juga terkait dengan terhubungnya amal itu terhadap kehendak Allah. Suatu amal yang dilakukan tanpa mengetahui kehendak Allah tidak dapat dikatakan sebagai amal berdasar keikhlasan, apalagi bila amal itu justru membantu musuh Allah. Terhubungnya amal terhadap kehendak Allah terjadi apabila seseorang memahami tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran, dan dengan keterhubungan itu maka seseorang akan memperoleh keikhlasan.

﴾۲﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّين
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-kitab (Al Quran) dengan kebenaran (al-haqq). Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. (QS Az-Zumar : 2)

Alquran merupakan puncak dari kebenaran, menghadirkan kebenaran berupa hakikat sebagai firman Allah. Suatu ayat Allah tidak boleh diperdebatkan dengan petunjuk-petunjuk dan pengetahuan manusia dalam bentuk lain. Sebaliknya, suatu ayat Alquran hendaknya tidak dipergunakan secara paksa untuk membenarkan petunjuk dan pengetahuan manusia. Hubungan pengetahuan-pengetahuan kebenaran terhadap kitabullah Alquran bersifat subordinatif, bukan dalam derajat yang sama. Suatu hakikat sangat berguna dalam ibadah kepada Allah dan mencerdaskan manusia untuk memberikan manfaat kepada semesta mereka, sedangkan pengetahuan umum bernilai netral yang kadangkala bersifat menghancurkan kehidupan manusia.

Allah selalu memberikan petunjuk kepada manusia. Sebagaimana alam semesta dibuat berlapis-lapis, petunjuk Allah yang diturunkan bagi makhluk juga berlapis-lapis. Petunjuk dalam tingkatan tertinggi adalah firman Allah dalam kitabullah Alquran yang menjelaskan semua bentuk hakikat dari sisi Allah. Tidak hanya dari kitabullah, seorang manusia dapat pula memperoleh bentuk-bentuk petunjuk dalam tingkatan yang lain. Petunjuk dari alam langit dapat diperoleh oleh orang-orang yang bisa memperolehnya. Allah mengutus langit untuk menurunkan hujan pengetahuan kepada hamba-hamba-Nya karena suatu usaha mereka. Petunjuk dari alam bumi pun tidak kalah banyak diperoleh oleh orang-orang yang berdedikasi untuk mencari petunjuk di alam bumi. Dalam beberapa peristiwa, Umar bin Khattab r.a bisa memberikan saran kepada Rasulullah SAW berdasarkan petunjuk Allah yang diterimanya. Para nabi dan rasul banyak yang memperoleh kitab suci. Rasulullah SAW sendiri juga menerima firman Allah selain Alquran berupa hadits qudsi. Seluruhnya merupakan bentuk-bentuk petunjuk dan seluruh petunjuk itu berkedudukan subordinat terhadap kitabullah Alquran.

Kitabullah akan menarik manusia untuk membentuk pemahaman secara integral terhadap ayat-ayat Allah baik ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah. Petunjuk kitabullah itulah yang akan mengintegasikan petunjuk-petunjuk yang dapat diperoleh oleh manusia, hingga seorang manusia dapat memurnikan agamanya semata-mata bagi Allah. Manakala seseorang atau suatu kaum membanggakan petunjuk-petunjuk yang ada pada dirinya tanpa suatu integrasi terhadap kehendak Allah, mereka akan terkurung dalam waham merasa cukup dengan mengikuti bapak-bapak mereka. Orang-orang yang memperoleh petunjuk dari alam langit akan terkurung dalam petunjuk alam langitnya tidak terintegrasi dengan petunjuk Allah, dan orang yang berdedikasi pada petunjuk bumi akan terkurung pada alam bumi mereka. Kaum yang berdedikasi pada keduanya pun tidak terluput dari kemungkinan terkurung pada alam mereka. Hanya keinginan untuk memahami tuntunan kitabullah yang akan mengintegrasikan diri mereka terhadap kehendak Allah.

Allah Meletakkan Tutupan

Dalam beberapa kasus, Allah meletakkan tutupan atas hati manusia sehingga tidak dapat memahami kebenaran, dan meletakkan sumbatan pada telinga hingga tidak dapat mendengar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendengarkan pembacaan dari kitabullah Alquran. Di antara yang menyebabkan demikian adalah karena seseorang merasa telah memperoleh petunjuk tanpa mengetahui hubungan petunjuk yang mereka ikuti terhadap tuntunan kitabullah Alquran. Orang-orang demikian terkurung dalam petunjuknya sendiri, tidak mengikuti kitabullah Alquran.

﴾۵۲﴿وَمِنْهُم مَّن يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِن يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا بِهَا حَتَّىٰ إِذَا جَاؤُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, sedangkan Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka untuk memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga mereka datang kepadamu mereka membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Sesungguhnya (bacaan) ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu". (QS Al-An’aam : 25)

Keinginan mengikuti Alquran harus lebih diutamakan bahkan daripada menerima petunjuk, karena Alquran merupakan petunjuk yang terbaik. Petunjuk pada dasarnya bertingkat-tingkat dan tidak sedikit di antara petunjuk yang diturunkan merupakan petunjuk yang tidak benar atau dipahami tidak benar. Seandainya seorang malaikat mulia datang kepada seseorang, boleh jadi kedatangannya bertujuan untuk menguji keikhlasan seorang hamba Allah. Syaitan sangat menyukai untuk datang kepada seseorang dalam bentuk makhluk mulia seperti malaikat. Dari semua bentuk-bentuk petunjuk, petunjuk kitabullah Alquran adalah petunjuk yang terbaik, petunjuk yang datang dari hadirat Allah secara langsung.

Bentuk-bentuk petunjuk kepada seseorang selain Alquran dapat menjadi hijab bagi dirinya, yaitu manakala tidak digunakan untuk memahami kitabullah Alquran. Boleh jadi Allah menjadikan petunjuk yang mereka terima justru sebagai penutup terhadap hati sehingga tidak dapat memahami kebenaran kitabullah yang dibacakan. Kadangkala seseorang menjadi sombong dengan petunjuk yang diterima, mengabaikan kebenaran yang datang dari orang lain dan meremehkan orang lain sekalipun membacakan kebenaran dari kitabullah. Kebanggaan terhadap petunjuk mereka menjadikan hati mereka tertutup untuk memahami kitabullah.

Ayat di atas menyebutkan kata mendengarkan dalam istilah يَسْتَمِعُ. Hal ini menunjukkan makna mendengarkan dengan sungguh-sungguh karena adanya suatu harapan pemahaman, atau lebih dikenal dengan terminologi menyimak. Orang yang mendengarkan perkataan orang lain untuk memperoleh pemahaman dikatakan sebagai orang yang menyimak perkataan. Orang-orang yang menyimak perkataan orang lain akan mudah memperoleh pemahaman terhadap perkataan-perkataan orang yang disimak. Dalam kasus ayat di atas, kausalitas di atas tidak berlaku. Sekalipun seseorang menyimak dari suatu pembacaan kitabullah, mereka tidak dapat memahami ayat kitabullah tersebut. Suatu tutupan telah diletakkan atas hati. Tutupan dalam ayat di atas dikatakan sebagai أَكِنَّةً . Ini menunjukkan tutupan dalam bentuk pengisian yang mempunyai keserupaan atau tampak serupa dengan aslinya. Suatu pengetahuan yang kurang tepat kadangkala bisa menjadi penutup terhadap ilmu yang benar. Seseorang yang mempunyai pengetahuan keliru seringkali menjadi orang yang paling sulit untuk menerima ilmu karena pengetahuan yang keliru tersebut menjadi penutup yang menghalangi pemahaman terhadap pengetahuan yang benar.

Hal demikian hendaknya tidak mencegah seseorang berpegang pada ilmu atau petunjuk yang belum sempurna, dan tidak mencegah beramal dengan dasar ilmu yang sedikit. Bukan ketidaksempurnaan ilmu atau petunjuk yang menjadi penutup terhadap hati, tetapi penutup hati itu adalah kelalaian manusia untuk mencari kebenaran yang lebih baik dengan berusaha memperkuat akal untuk memahami kehendak Allah. Kesempurnaan ilmu makhluk tentang kebenaran hanya dilimpahkan kepada Rasulullah SAW, sedangkan semua makhluk lain hanya memperoleh bagian dari ilmu beliau SAW, karenanya tidak ada makhluk yang beramal dengan ilmu yang sempurna. Sekalipun demikian, Rasulullah SAW mengatakan kepada orang yang sibuk dengan duniawinya suatu perkataan : “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian”. Ada bagian pengetahuan di mana Rasulullah SAW tidak lebih mengetahui daripada orang kebanyakan.

Yang perlu diperhatikan adalah hendaknya seseorang beramal dengan dasar ilmu yang benar, banyak atau sedikitnya. Banyak ilmu akan lebih baik daripada sedikit ilmu manakala benar. Manakala menjadi dasar amal adalah ilmu yang salah, Allah Maha Pengampun bagi makhluk selama mereka mengetahui kesalahannya dan memohon ampunan-Nya. Bila mengabaikan ilmu yang benar dan bersikeras berpegang pada ilmu yang salah, maka ilmu itu akan menjadi penutup bagi hati mereka hingga tidak dapat memahami ayat Allah.

Sikap berpegang kuat dengan ilmu yang salah merupakan manifestasi dari akhlak yang buruk, walaupun kadangkala tidak terlihat oleh orang lain. Keburukan akhlak dalam fenomena demikian merupakan keburukan akhlak dalam derajat tinggi, lebih buruk dari terlihatnya amal yang buruk dari seseorang. Akhlak mulia terwujud dari pencarian kebenaran untuk beramal mengikuti kehendak Ar-Rahman, dan mengasihi orang lain sebagaimana diri sendiri. Manakala seseorang tidak bisa mengenali kebenaran dari kitabullah, sebenarnya akhlaknya bertentangan dengan sifat rahmaniah, maka dapat dikatakan bahwa akhlaknya buruk. Akhlak mulia harus terbina dalam diri seseorang hingga ia dapat mengenali kebenaran walaupun dengan hanya mendengar dari orang lain. Manakala seseorang hanya dapat mengenali kebenaran dari apa yang dilihat dan ditemukannya saja, akhlaknya belum cukup mencapai derajat mulia. Tidak jarang apa yang dipersepsi seseorang dari apa yang ditemukan dan dilihat tidak benar, maka ia membutuhkan pendengaran terhadap perkataan orang lain untuk membangun pemahaman yang lebih mendekati kebenaran. Kemuliaan akhlak itu mulai terbentuk bila seseorang dapat mengenali kebenaran dengan pendengaran, penglihatan dan hatinya.

Pemahaman itu akan terbentuk di hati berdasar pengenalan terhadap kebenaran melalui penglihatan dan pendengaran, tidak dibatasi kemampuan inderanya dan keduanya saling bersinergi. Suatu keyakinan salah akan mengganggu terbinanya pemahaman terhadap kebenaran. Ilustrasi berikut dapat menggambarkan terbentuknya suatu pemahaman. Akan sulit memberikan penjelasan kepada seseorang yang berkeyakinan berdasar penglihatannya saja bahwa bumi datar. Di sisi lain, seorang anak kecil mungkin akan kebingungan ketika bermain di suatu bukit di tepi samudera, karena melihat cakrawala di laut yang sejajar dengan matanya. Ia akan merasa kasihan kepada orang-orang yang di pantai bahwa ada air yang setinggi matanya sedangkan ia berada di atas bukit, maka orang-orang di pantai itu mungkin akan tersapu air laut. Ketika ia berlari ke tepi pantai, ia melihat bahwa cakrawala di laut itu mengikuti ketinggian matanya hingga disadari bahwa air laut yang di samudera itu hanya datar saja. Akan lebih mudah menerangkan keadaan bumi kepada anak kecil yang demikian daripada kepada orang yang terkurung dalam penglihatan parsialnya. Suatu pemahaman akan dapat terbentuk di hati melampaui batas-batas pencerapan indera yang bersifat parsial. Sekalipun tidak dapat melihat bulatnya bumi, seseorang dapat memahami bulatnya bumi dengan pikirannya berdasar indera-inderanya

Sedikitnya ilmu dan petunjuk dan sedikitnya amal tidak mendatangkan bahaya selama seseorang masih ada keinginan mencari ilmu dengan akalnya. Ketertutupan akal untuk berkembang lebih menjadi penyebab masalah, baik karena keadaan diri sendiri ataupun karena mengikuti panutan atau bapak-bapak mereka. Orang-orang yang merasa paling benar akan tertutup oleh pengetahuan dirinya. Demikian pula orang-orang yang sekadar mengikuti orang lain tanpa berusaha menggunakan akal untuk memahami kehendak Allah dengan tuntunan kitabullah terancam bahaya tertimpa tutupan dari Allah. Manakala panutan mereka berbangga dengan pengetahuan dan petunjuk mereka hingga tidak mencari petunjuk kitabullah, maka mereka mengikuti kebanggaan panutannya. Kebanggaan itu akan menjadi penutup atas diri mereka untuk memahami ayat Allah, sama seperti orang yang mereka ikuti. Kadangkala orang yang mengikuti lebih tertutup waham daripada orang yang mereka ikuti karena lemahnya penggunaan pikiran dan akal mereka daripada orang yang diikuti.

Manakala Allah telah meletakkan suatu tutupan terhadap hati seseorang, mereka tidak dapat memahami pembacaan ayat kitabullah dari yang lain karena tertutupnya hati dengan pengetahuan yang palsu sekalipun orang tersebut benar-benar menyimak penjelasan dari orang lain. Hal ini tidak terjadi tanpa suatu keadaan tertentu dari orang tersebut. Di antara penutup yang diletakkan Allah atas seseorang demikian adalah merasa telah menjadi orang yang paling benar dan keadaan-keadaan semacamnya, termasuk merasa sebagai orang yang paling memperoleh petunjuk. Kebanyakan yang diharapkan seseorang demikian ketika menyimak bukanlah memperoleh kebenaran, akan tetapi berharap melihat celah kekurangan dan kesalahan yang ada pada pembacaan kitabullah tersebut, maka mereka tidak dapat memahami kebenaran dari pembacaan ayat kitabullah.

Yang salah dari sikap demikian bukan melihat kekurangan atau kesalahan, tetapi keinginan mencari kesalahan dan keinginan menyanggah itulah yang menjadi penutup hati mereka. Manakala akal tumbuh menguat, boleh jadi seseorang juga akan melihat kelemahan, kekurangan atau kesalahan dari ajaran yang diikuti atau yang disampaikan kepada dirinya, walaupun ia tidak mencari-cari kekurangan-kekurangan tersebut. Ia akan mengikuti hal yang baik dan meninggalkan yang tidak baik dari apa yang diperoleh dari orang lain, tanpa mencari-cari kesalahannya. Ia tetap bisa memahami kebenaran yang disampaikan kepadanya sekalipun apabila ia juga melihat kekurangannya, berbeda dengan orang yang Allah letakkan tutup pada hatinya. Bila Allah meletakkan tutupan pada hati seseorang, ia tidak melihat kebenaran yang disampaikan orang lain sekalipun kebenaran itu terang benderang bagi orang lain yang menggunakan akalnya. Apalagi pemahaman kebenaran, ia tidak akan memperoleh pemahaman karena bahkan tidak melihat dan mendengar kebenaran, maka tidak ada bahan untuk membentuk pemahaman berdasar pembacaan yang dilakukan.

Tutupan itu sebenarnya tidak hanya diletakkan pada hati. Allah juga meletakkan sumbatan pada telinga mereka sehingga tidak dapat mendengar penjelasan-penjelasan yang mereka butuhkan dari orang lain. Bahkan bukan hanya dari orang lain, apabila mereka menemukan seluruh tanda-tanda kebenaran ayat kitabullah yang dibacakan itu di dalam diri mereka sendiri, mereka tidak percaya kebenaran bacaan itu. Mereka menyangka bacaan itu keliru, sedangkan kebenaran itu adalah apa yang ada dalam persepsi mereka sendiri sekalipun berlawanan dengan firman Allah. Dengan keadaan seperti itu, mereka akan membantah orang-orang yang membacakan kitabullah dengan benar.

Keikhlasan terkait dengan pemahaman terhadap kitabullah Alquran. Ilmu Allah sangatlah luas tidak akan terjangkau makhluk-Nya, tetapi manusia dapat mengenal kebenaran dari sisi Allah dengan mengikuti kitabullah Alquran. Itu adalah jalan untuk mengenal Allah. Keikhlasan adalah keinginan untuk mengenal Allah melalui pemahaman terhadap ayat-ayat dalam kitabullah, tidak boleh dilakukan secara bebas tanpa tuntunan karena akal manusia sangat terbatas. Usaha bebas demikian dapat menimbulkan perselisihan di antara para pencari kebenaran. Manakala terjadi perselisihan di jalan Allah, maka orang yang berpegang pada tuntunan kitabullah berada pada jalan yang lebih dekat dengan keikhlasan. Tidak jarang manusia mengandalkan kekuatan indera-indera bathiniah sedangkan ia menyimpang, maka indera bathiniah itu tidak boleh digunakan untuk menganulir firman dalam kitabullah Alquran.

Selasa, 02 Juli 2024

Membina Peradaban dengan Sunnah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Yang diajarkan secara khusus oleh Rasulullah SAW kepada umat yang mengikuti beliau adalah hakikat dari kitabullah Alquran. Hakikat dari suatu ayat kitabullah akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia. Bila manusia mengikuti pengetahuan terhadap suatu hakikat, mereka akan memperoleh kebaikan yang sangat besar. Bahkan keping-keping kebenaran yang digelar Allah di alam semesta bagi makhluk akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia, akan tetapi tidak semua orang berbuat kebaikan dari keping-keping itu. Tidak sedikit manusia yang menimbulkan kerusakan yang besar di muka bumi karena keping-keping kebenaran yang mereka kenali. Syaitan sangat ahli dalam menggunakan keping-keping kebenaran untuk berbuat kerusakan yang besar di muka bumi. Suatu hakikat hanya akan dikenali bila terbentuk akhlak mulia.

Kemajuan yang bisa diperoleh manusia dari keping-keping kebenaran kadangkala menjadi suatu hijab bagi manusia untuk mengenal kebenaran dalam tingkatan hakikat. Bukti kemajuan yang diperoleh manusia dengan keping-keping kebenaran itu dijadikan bukti bahwa mereka adalah orang-orang yang benar dan memperoleh petunjuk, dan menjadikan mereka sebagai orang yang tidak berkeinginan untuk memahami hakikat dari sisi Allah.

﴾۲۲﴿بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّهْتَدُونَ
Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak berada pada suatu umat, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka". (QS Az-Zukhruf : 22)

Allah selalu memberikan petunjuk kepada manusia. Sebagaimana alam semesta dibuat berlapis-lapis, petunjuk Allah yang diturunkan bagi makhluk juga berlapis-lapis. Petunjuk dalam tingkatan tertinggi adalah firman Allah dalam kitabullah Alquran yang menjelaskan semua bentuk hakikat dari sisi Allah. Tidak hanya dari kitabullah, seorang manusia dapat pula memperoleh bentuk-bentuk petunjuk dalam tingkatan yang lain. Petunjuk dari alam langit dapat diperoleh oleh orang-orang yang bisa memperolehnya. Allah mengutus langit untuk menurunkan hujan pengetahuan kepada hamba-hamba-Nya karena suatu usaha mereka. Petunjuk dari alam bumi pun tidak kalah banyak diperoleh oleh orang-orang yang berdedikasi untuk mencari petunjuk di alam bumi. Dalam beberapa peristiwa, Umar bin Khattab r.a bisa memberikan saran kepada Rasulullah SAW berdasarkan petunjuk Allah yang diterimanya. Para nabi dan rasul banyak yang memperoleh kitab suci. Rasulullah SAW sendiri juga menerima firman Allah selain Alquran berupa hadits qudsi. Seluruhnya merupakan bentuk-bentuk petunjuk dan seluruh petunjuk itu berkedudukan subordinat terhadap kitabullah Alquran.

Seluruh bentuk petunjuk akan memberikan manfaat bagi umat manusia, yaitu apabila petunjuk tersebut benar dan manusia menyadari kedudukan petunjuknya. Bila suatu petunjuk tidak diuji kebenarannya, petunjuk itu dapat memecah belah umat manusia. Sekalipun suatu umat mempunyai arah perjalanan yang sama, tetapi petunjuk yang salah dapat menjadikan mereka berselisih satu dengan yang lain. Suatu petunjuk dapat menjadi hijab bagi manusia. Manakala manusia membanggakan petunjuk yang diperolehnya, ia akan terjebak pada parsialitas, baik di alam bumi ataupun di alam langit. Tanpa menyadari kedudukan petunjuk yang diterima, seseorang dapat berlaku sewenang-wenang terhadap orang lain atau menentang kebenaran. Penentangan itu terjadi karena petunjuk yang salah atau karena seseorang tidak mengetahui dan memahami kedudukan petunjuknya.

Dasar Tatanan Masyarakat

Sangat banyak kekurangan yang bisa ditimbulkan oleh usaha yang dilakukan tanpa mengikuti kitabullah. Di suatu berita dari suatu daerah di negeri ini, seorang suami mempersilakan isterinya untuk mencari suami yang lain karena isterinya mengadu tentang uang belanja yang sangat kecil dari suaminya melalui media sosial. Hal itu bisa menjadi contoh tentang kemajuan negeri yang tidak mempunyai arah. Banyaknya kekayaan suatu negara tidak memberikan manfaat kepada rakyatnya hingga menyebabkan seorang suami hanya mampu memberi uang belanja yang terlalu kecil untuk keadaan ekonomi masyarakat yang menuntut nilai pembelanjaan minimal yang lebih besar. Penyebab dari hal demikian sebenarnya terkait pula dengan keadaan rumah tangga di antara bangsa itu. Manakala kaum perempuan suatu bangsa tidak dibina untuk menegakkan bangsa mereka, maka bangsa mereka akan runtuh. Akan banyak mekanisme keruntuhan yang mungkin terjadi, tetapi intinya berupa tidak terdidiknya  kaum perempuan dengan benar.

Kualitas sumber daya manusia saja tidaklah menjadi jaminan bahwa suatu bangsa akan memperoleh kemajuan peradaban. Tidak sedikit orang-orang yang berpikiran cemerlang dan memiliki keterampilan sangat baik tidak mampu memberikan sumbangsih bagi negerinya secara proporsional sesuai keadaan diri mereka karena keadaan negeri yang amburadul dikuasai oleh orang-orang yang jahat daripada orang-orang yang berkeinginan baik. Boleh jadi orang-orang yang baik itu justru dijadikan musuh bagi masyarakat untuk mempertahankan kekuasaan orang-orang yang jahat. Tenggelamnya orang-orang baik dan berkuasanya orang-orang jahat dipengaruhi oleh pembinaan rumah tangga di suatu negeri, di mana rumah tangga merupakan antar muka sosial tingkat pertama yang harus dibentuk pada setiap manusia. Bila pembinaan pernikahan di suatu bangsa buruk maka bangsa itu akan runtuh. Semakin buruk keadaannya, semakin rendah kesempatan bagi orang baik untuk memberikan sumbangsih bagi negeri mereka. Syaitan membuat fitnah yang terbesar bagi manusia melalui pemisahan seorang isteri dari suaminya.

Masalah rumah tangga menjadi faktor utama suatu bangsa menjadikan orang yang buruk di antara mereka sebagai pemimpin. Masyarakat mungkin saja lebih memilih pemimpin orang yang bisa memberi makan siang dengan menjual kekayaan mereka kepada orang asing daripada orang yang berusaha mengolah bersama potensi mereka dengan sebaik-baiknya, dari itu maka kehidupan akan menjadi semakin sulit. Tatanan yang buruk dalam rumah tangga akan menyebabkan terbentuknya tatanan yang buruk di masyarakat, dan tatanan yang buruk demikian merupakan tanda dari kemurkaan Allah kepada suatu kaum. Tatanan diri, tatanan rumah tangga dan tatanan masyarakat di antara mereka menjadi tanda murka Allah. Barangkali ada orang-orang yang tidak mengikuti tatanan yang buruk, tetapi keadaan mereka secara keseluruhan tetap mendatangkan murka Allah terhadap kaumnya.

Seseorang di suatu kaum tidak dapat berlepas diri bahwa mereka tidak menyebabkan murka Allah terhadap kaum mereka. Seseorang hanya bisa mengadu kepada Allah tentang ketidakmampuan diri mereka untuk menghindari murka-Nya atau ketidakmampuan mereka memberikan yang terbaik kepada kaumnya. Sebagian besar orang tidak menyadari bahwa Allah murka terhadap keadaan mereka karena tidak mempunyai perhatian yang baik terhadap tuntunan Allah. Bila seseorang mengetahui tuntunan Allah dengan benar, mereka akan ikut bersedih dengan keadaan kaumnya. Bersedihnya seseorang dengan keadaan mendapat murka bisa meringankan tanggung jawab mereka. Bila seseorang berlepas diri dari penyebab murka Allah, sebenarnya mereka tidak mengetahui tuntunan Allah tentang keadaan mereka, atau sebenarnya pengetahuan mereka tentang tuntunan Allah salah. Ada orang-orang yang bergembira karena keadaan mereka karena memperoleh keuntungan, maka mereka itu orang yang jahat. Mungkin ada orang-orang yang berbangga dengan peran diri mereka terhadap kemajuan peradaban mereka sedangkan sebenarnya Allah murka, maka mereka itu adalah orang-orang yang paling bertanggungjawab atas murka itu.

Kasus isteri mengadukan suaminya ke media sosial karena uang belanja yang diberikan terlalu kecil menunjukkan rendahnya tingkatnya pembinaan rumah tangga. Tidak ada manfaat sedikitpun mengadukan keburukan suami ke media sosial, dan perbuatan itu telah melanggar dasar dari kebersamaan mereka. Setiap orang seharusnya menyadari bahwa masing-masing pihak mempunyai peran dalam pernikahan, tidak hanya menuntut haknya kepada pihak lain tanpa mau memahami keadaan. Sesedikitnya pahamnya seseorang terhadap keadaan pernikahan, mereka tidak akan mengadukan keadaannya pada media sosial. Adapun suami, ia harus menyadari bahwa ia bertanggung jawab memberikan uang belanja secara layak kepada isterinya. Tentang kesulitan untuk memperoleh nafkah hendaknya dibicarakan dengan isterinya agar dapat memahami atau membantu setidaknya dengan doanya. Baiknya hubungan pernikahan akan mempengaruhi kemudahan munculnya rezeki-rezeki yang baik, karena pernikahan yang thayyib merupakan salah satu jalan rezeki yang thayyib. Isteri tidak selayaknya diusir dengan semena-mena karena mereka telah mengikat perjanjian yang sangat kuat sebelumnya. Bila memang harus bercerai, hendaknya perceraian dilakukan dengan baik. Kedudukan sebagai suami isteri tidak sama dengan kebersamaan antara laki-laki dan perempuan dalam bentuk yang lain.

Rasulullah SAW sangat menekankan pembinaan pernikahan. Pembinaan pernikahan merupakan setengah bagian dari pembinaan agama, karenanya pembinaan pernikahan harus dilakukan dengan mengikuti tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pembinaan pernikahan tidak boleh dilakukan dengan merumuskan cara sendiri. Bila pembinaan rumah tangga di suatu bangsa dibuat dengan melanggar ketentuan-ketentuan dan tuntunan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka pembinaan demikian justru akan merusak pembinaan rumah tangga bangsa itu, dan akan mempercepat runtuhnya bangsa. Pembinaan yang keliru terhadap rumah tangga justru merupakan perusakan terhadap rumah tangga, bukan pembinaan rumah tangga.

Membentuk Tatanan Masyarakat Dengan Sunnah

Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s memberikan tuntunan terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sebagai tujuan dari pembinaan rumah tangga. Itu adalah tujuan puncak pembinaan rumah tangga. Ada banyak tahapan perjalanan dalam menuju tujuan puncak tersebut, dan setiap tahap itu akan memberikan kebaikan bagi manusia yang menempuhnya. Untuk mencapai tujuan itu, kedua uswatun hasanah telah memberikan tuntunan-tuntunan untuk setiap tahapan perjalanan baik berupa ketentuan-ketentuan ataupun pengetahuan yang menjadi dasar bagi setiap tahapan yang dicapai oleh manusia. Hendaknya umat mengikuti tuntunan-tuntunan yang telah diberikan agar terbentuk rumah tangga yang terbina dengan benar.

Pernikahan menunjukkan terhubungnya suatu washilah bagi seseorang, yang menghubungkannya hingga kepada Allah. Pernikahan menjadi suatu sunnah muakkadah yang sangat utama karena menyatukan seseorang atau pasangan terhadap langkah Rasulullah SAW. Seorang perempuan telah menemukan tempat baktinya kepada Allah melalui suaminya, dan seorang laki-laki akan memperoleh media menumbuhkan jati diri bagi semesta mereka. Hal-hal demikian hendaknya disyukuri oleh setiap pihak dengan benar-benar mengikuti tuntunan Allah agar dapat tumbuh sebagai hamba yang diridhai. Apabila seseorang tumbuh dengan baik, ia akan memberikan sumbangsih yang besar bagi umat mereka dalam bentuk yang tidak menimbulkan madlarat bagi umatnya. Bila mereka menumbuhkan diri tanpa mengikuti tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, pertumbuhan yang akan mereka peroleh akan disertai dengan celah-celah yang menimbulkan kerugian bagi umat manusia. Barangkali mereka dapat tumbuh besar dengan pernikahan mereka, tetapi besarnya pertumbuhan mereka mendatangkan pula madlarat bagi manusia.

Untuk dapat tumbuh dengan baik, setiap pihak hendaknya berusaha memahami peran diri masing-masing dalam ide tentang bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Suami harus berusaha memahami isteri sebagai wahana untuk mengenal perintah Allah yang harus dilakukan bagi umatnya. Perintah Allah terkandung dalam diri isterinya, karena isterinya yang berperan membawakan khazanah Allah bagi dirinya. Terhadap suami, seorang isteri harus berusaha mengikuti dan membantu agar amanah Allah dapat terlaksana. Seandainya seorang isteri yang beriman tidak bisa memahami langkah suaminya dalam mengabdi kepada Allah, atau suaminya orang yang tidak mengabdi kepada Allah, maka cukuplah baginya ibadah kepada Allah dengan membantu suaminya untuk memperoleh kehidupan bersama-sama yang baik, tidak perlu berkeinginan melampaui batas terhadap suaminya dan pernikahannya agar dapat beribadah kepada Allah. Langkah demikian akan menegakkan dirinya sebagai tiang negara dalam mewujudkan kemakmuran bagi negeri, dan sebaliknya keinginan melewati batas itu akan meruntuhkan negerinya.

Tegaknya rumah tangga untuk pemakmuran bangsa akan terjadi bila setiap pihak membina diri mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pembinaan ini harus dilakukan oleh setiap bangsa, karena kebanyakan manusia akan cenderung mengikuti keinginan sendiri. Tidak sedikit seseorang memilih pasangannya berdasar kecantikan atau ketampanan tanpa landasan yang mantap, maka pernikahan itu kemudian hanya berumur pendek ketika menyadari sedikitnya manfaat kecantikan pasangannya. Tidak sedikit pula orang yang berharap memperoleh kekayaan melalui pasangannya hingga ketika tidak memperoleh harta itu, mereka mengumpat pasangannya. Kadang seseorang begitu emosional hingga merendahkan orang yang mencoba membina hubungan dengannya karena tidak sesuai keinginan syahwat dan hawa nafsunya. Sangat banyak kecenderungan manusia yang akan merusak bangsanya dan hal itu bisa diperbaiki melalui pernikahan yang baik. Karena itu setiap bangsa hendaknya melakukan pembinaan terhadap pernikahan mengikuti tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila pembinaan itu tidak mengikuti tuntunan Allah, kerusakan yang akan ditimbulkan bisa lebih besar daripada manusia mengikuti kecenderungan syahwat dan hawa nafsu mereka.

Dalam perkara pembinaan yang salah, setiap orang hendaknya berpegang sendiri terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sekalipun mereka dapat membina peradaban dan memperoleh petunjuk dengan mengikuti pembinaan yang salah, sebenarnya banyak celah kerusakan yang mungkin terdapat dalam pembinaan itu. Misalnya kaum muda dibina untuk mengejar kecintaan mereka terhadap pasangan yang disukai hawa nafsu dan syahwat dengan meninggalkan petunjuk, mereka mungkin akan tumbuh besar di dunia dengan hidup bersama pasangan yang dicintainya, tetapi tidak mengantarkan diri mereka untuk dekat kepada Allah. Bila mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan tumbuh besar dan berjalan mendekat kepada Allah dengan terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Manakala bangsanya harus runtuh karena pembinaan yang salah, setidaknya ia dapat mengemukakan suatu hujjah kelak di hadapan Allah perkara apa yang diperbuat bagi bangsanya.

Kamis, 27 Juni 2024

Ikhlas dan Pembinaan Peradaban

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kedekatan kepada Allah akan diperoleh seseorang bila melakukan Ibadah secara ikhlas kepada Allah. Keikhlasan suatu amal ibadah tidak hanya terkait dengan niat di dalam hati, akan tetapi juga terkait dengan terhubungnya amal itu terhadap kehendak Allah. Suatu amal yang dilakukan tanpa mengetahui kehendak Allah tidak dapat dikatakan sebagai amal berdasar keikhlasan, apalagi bila amal itu justru membantu musuh Allah. Terhubungnya amal terhadap kehendak Allah terjadi apabila seseorang memahami tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran, dan dengan keterhubungan itu maka seseorang akan memperoleh keikhlasan.

﴾۲﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّين
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-kitab (Al Quran) dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. (QS Az-Zumar : 2)

Pemahaman yang menjadi landasan keikhlasan adalah pemahaman terhadap sesuatu berdasar hakikat dari sisi Allah, dan semua hakikat itu tercantum dalam kitabullah Alquran. Alquran merupakan puncak dari semua kebenaran yang digelar Allah pada semesta alam bagi seluruh makhluk-Nya. Seseorang dapat menemukan kebenaran-kebenaran parsial di alam semesta, tetapi seringkali tidak membentuk suatu pemahaman terhadap kehidupan dirinya secara terintegrasi. Suatu fenomena dipahami secara terpisah dengan fenomena lainnya, dan kadang-kadang pemahaman mereka salah. Manakala seseorang memahami hakikat dari suatu ayat dalam kitabullah Alquran yang diperuntukkan bagi dirinya, ia akan dapat memahami kehidupan dirinya, walaupun mungkin tidak memahami keseluruhan ayat Allah. Kebenaran-kebenaran parsial yang ditemukan akan membentuk pemahaman yang integral terhadap kehidupan dirinya.

Alquran merupakan puncak dari kebenaran yang dapat dipahami manusia, menghadirkan kebenaran berupa hakikat sebagai firman Allah. Sebagai puncak kebenaran, pengetahuan tentang hakikat dari suatu ayat Alquran harus menjadi tujuan pencarian kebenaran. Suatu ayat Allah tidak boleh diperdebatkan dengan pengetahuan temporer manusia. Pengetahuan demikian tidak akan menjadi bagian dari pengetahuan hakikat, kecuali telah tersusun bersama dengan pengetahuan yang lain hingga kompatibel dengan ayat Alquran. Sebaliknya, suatu ayat Alquran hendaknya tidak dipergunakan secara paksa untuk membenarkan pengetahuan temporer manusia. Hubungan pengetahuan itu bersifat subordinatif, bukan dalam derajat yang sama. Suatu hakikat sangat berguna dalam ibadah kepada Allah dan mencerdaskan manusia untuk memberikan manfaat kepada semesta mereka, sedangkan pengetahuan umum bernilai netral yang kadangkala mungkin bersifat menghancurkan kehidupan manusia.

Puncak kebenaran itu disusun berdasarkan kebenaran-kebenaran yang lain. Ketika seseorang mempunyai suatu waham yang salah, waham itu akan mengganggu terbentuknya integrasi kebenaran untuk memahami kitabullah Alquran. Pengenalan seseorang terhadap ayat kitabullah akan berproses secara bertahap, akan menyusun keping pengetahuan yang benar sebagai bagian konstruk pengetahuan diri, menyimpan apa yang belum dapat tersusun dalam konstruk pengetahuan, dan membuang pengetahuan yang bathil dan sia-sia. Setiap hal yang terjadi mempunyai makna, tetapi tidak semua pengetahuan seseorang merupakan pengetahuan yang benar yang bisa masuk dalam konstruk pengetahuan hakikat, tetapi harus diganti dengan pengetahuan yang benar. Manakala telah tersusun, ayat kitabullah Alquran akan menjadikan pengetahuan-pengetahuan yang benar menjadi bercahaya hingga seseorang mengenali fungsi dari pengetahuannya yang sebelumnya bersifat umum.

Sebagian kaum mencabut makna kebenaran menjadi hanya bentuk-bentuk dalil dari ayat dan sunnah, terlepas dari penyatuan pemahaman terhadap kebenaran ayat kauniyah. Kaum khawarij mencabut makna agama menjadi ritual-ritual yang pada dasarnya Allah tidak membutuhkan ritual yang mereka lakukan. Kadangkala mereka mengatakan bahwa diri mereka-lah, dan umat manusia, yang membutuhkan ibadah-ibadah syar’ie yang mereka lakukan, tetapi sikap itu tidak disertai dengan menjadikan ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai puncak dari kebenaran yang harus dicapai, tetapi dijadikan sebagai kebenaran satu-satunya tanpa terintegrasi dengan ayat Allah yang digelar pada kauniyah mereka. Hal ini tidak mencerminkan kebutuhan kepada ibadah, tidak akan menjadikan manusia mampu beribadah secara ikhlas mengikuti tuntunan Allah. Keikhlasan yang mereka bangun hanyalah waham keikhlasan bersembah tanpa mengerti apa yang harus mereka lakukan untuk memurnikan ibadah kepada Allah. Yang mereka perjuangkan sebenarnya hanyalah pemurnian syariat seperti bapak mereka Dzulkhuwaisirah, bukan keikhlasan beribadah kepada Allah. Mengikhlaskan ibadah kepada Allah harus dilakukan dengan melaksanakan amal bagi alam kauniyah sesuai tuntunan kitabullah berdasarkan pemahaman hakikatnya. Hal ini tidak bisa dilakukan tanpa menjadikan ibadah-ibadah syar’ie yang dicontohkan Rasulullah SAW sebagai kebutuhan.

Manakala pencari kebenaran memperhatikan pembacaan ayat kitabullah dari orang yang mengenal hakikatnya, pembacaan itu akan sangat membantu untuk mengenali ayat kitabullah yang seharusnya menjadi amanah bagi dirinya. Yang membantu itu adalah pemahaman ayat kitabullah yang tersusun dalam dirinya, bukan bentuk mujarobat dari pembacaan orang lain. Bila ia tidak berusaha memahami ayat kitabullah, pembacaan tersebut akan sia-sia tidak memberikan manfaat kepada dirinya. Pemahaman yang terbentuk dari pembacaan ayat kitabullah terssebut merupakan akal seseorang dalam berpegang pada tuntunan Allah. Bukan perkataan orang itu yang menjadi benih dari akalnya, tetapi firman Allah dalam kitabullah, sedangkan pembacaan itu hanya merupakan cara seseorang menghidangkan ayat Allah. Manakala pendengar mengabaikan makna ayat itu, ia kehilangan bagian akalnya, dan manakala ia mendustakan maka ia telah mendustakan kitabullah. Allah akan memperhitungkan sikap-sikap manusia dalam memperhatikan tuntunan kitabullah.

Pemahaman hakikat dapat terjadi manakala akhlak seseorang terbina sesuai dengan tuntunan Allah berupa pemahaman dengan akal (aql), bukan pemahaman yang dibangun semata-mata dengan logika berpikir saja (nathiqah). Logika berpikir manusia akan menghasilkan pemahaman-pemahaman parsial yang seringkali tidak dapat menyatu terhadap hakikat. Penyatuan itu akan terjadi manakala akal (‘aql) terbentuk melalui terbentuknya akhlak mulia. Tanpa akhlak mulia, seseorang tidak akan mempunyai akal, hanya mempunyai kecerdasan jasmaniah saja (nathiqah), dan tidak akan memahami hakikat dari sisi Allah walaupun berpegang pada kitabullah.

Terbentuknya akhlak mulia adalah terbentuknya sifat rahman dan rahim dalam diri seorang hamba Allah. Sifat rahmaniah manusia menunjukkan sifat kecintaan terhadap pemahaman dan ketaaatan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan sifat rahim menunjukkan cinta kasih seseorang terhadap orang lain dan makhluk lain. Membina sifat rahman dapat dikatakan secara populer sebagai mencari kebenaran, secara khusus berupa mencari kebenaran agar dapat menunaikan kehendak Allah.

Membina Peradaban

Hakikat dari suatu ayat kitabullah akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia. Bahkan keping-keping kebenaran yang digelar Allah di alam semesta bagi makhluk akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia. Sebagian makhluk melakukan perkembangan kemanusiaan yang sangat besar dengan keping-keping kebenaran yang mereka susun sendiri, tetapi tidak sedikit manusia yang menimbulkan kerusakan yang besar di muka bumi karena keping-keping kebenaran yang mereka gunakan. Syaitan sangat ahli dalam menggunakan keping-keping kebenaran untuk berbuat kerusakan yang besar di muka bumi. Orang yang memberikan manfaat paling besar adalah orang-orang yang mengenal hakikat yang terkandung dalam suatu ayat kitabullah.

Allah selalu memberikan petunjuk kepada manusia. Sebagaimana alam semesta dibuat berlapis-lapis, petunjuk Allah yang diturunkan bagi makhluk juga berlapis-lapis. Petunjuk dalam tingkatan tertinggi adalah firman Allah dalam kitabullah Alquran yang menjelaskan semua bentuk hakikat dari sisi Allah. Tidak hanya dari kitabullah, seorang manusia dapat pula memperoleh bentuk-bentuk petunjuk dalam tingkatan yang lain. Petunjuk dari alam langit dapat diperoleh oleh orang-orang yang bisa memperolehnya. Allah mengutus langit untuk menurunkan hujan pengetahuan kepada hamba-hamba-Nya karena suatu usaha mereka. Petunjuk dari alam bumi pun tidak kalah banyak diperoleh oleh orang-orang yang berdedikasi untuk mencari petunjuk di alam bumi. Dalam beberapa peristiwa, Umar bin Khattab r.a bisa memberikan saran kepada Rasulullah SAW berdasarkan petunjuk Allah yang diterimanya. Para nabi dan rasul banyak yang memperoleh kitab suci. Rasulullah SAW sendiri juga menerima firman Allah selain Alquran berupa hadits qudsi. Seluruhnya merupakan bentuk-bentuk petunjuk dan seluruh petunjuk itu berkedudukan subordinat terhadap kitabullah Alquran.

Seluruh bentuk petunjuk akan memberikan manfaat bagi umat manusia, yaitu apabila petunjuk tersebut benar dan manusia menyadari kedudukan petunjuknya. Bila suatu petunjuk tidak diuji kebenarannya, petunjuk itu dapat memecah belah umat manusia. Sekalipun suatu umat mempunyai arah perjalanan yang sama, tetapi petunjuk yang salah dapat menjadikan mereka berselisih satu dengan yang lain. Suatu petunjuk dapat menjadi hijab bagi manusia. Manakala manusia membanggakan petunjuk yang diperolehnya, ia akan terjebak pada parsialitas kaun, baik di alam bumi ataupun di alam langit. Tanpa menyadari kedudukan petunjuk yang diterima, seseorang dapat berlaku sewenang-wenang terhadap orang lain. Suatu petunjuk dari tingkat tertentu tidak boleh digunakan untuk membantah bentuk petunjuk yang lebih tinggi. Petunjuk dari langit tidak boleh digunakan untuk membatalkan petunjuk dari Rasulullah SAW dan Alquran. Bila benar, petunjuk itu harus digunakan untuk diterapkan pada tingkatan bumi, dan digunakan untuk memahami petunjuk dari Rasulullah SAW dan kitabullah Alquran. Petunjuk yang benar tidak boleh digunakan untuk membantah washilahnya atau menentang petunjuk dari Rasulullah SAW dan kitabullah Alquran, karena keduanya merupakan bentuk petunjuk yang tertinggi. Penentangan itu terjadi karena petunjuk yang salah atau karena seseorang tidak mengetahui dan memahami kedudukan petunjuknya. 

Kemajuan yang bisa diperoleh manusia dari keping-keping kebenaran kadangkala menjadi suatu hijab bagi manusia untuk mengenal kebenaran dalam tingkatan hakikat. Bukti kemajuan yang diperoleh manusia dengan keping-keping kebenaran itu dijadikan bukti bahwa mereka adalah orang-orang yang benar dan memperoleh petunjuk, dan menjadikan mereka sebagai orang yang tidak berkeinginan untuk memahami hakikat dari sisi Allah.

﴾۲۲﴿بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّهْتَدُونَ
Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak berada pada suatu umat, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka". (QS Az-Zukhruf : 22)

Manusia dapat membentuk peradaban umat mereka berdasar keping-keping kebenaran. Hal itu dapat dilihat pada peradaban-peradaban yang telah ada. Suatu keping kebenaran dapat berkembang menjadi dasar pengembangan peradaban. Sebenarnya pengenalan terhadap hakikat berdasarkan firman Allah dalam kitabullah Alquran mempunyai nilai yang jauh lebih besar daripada keping-keping kebenaran yang diperoleh manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak menyadari atau tidak mau menyadari. Manusia terlalu tergesa-gesa memandang bahwa telah cukuplah pengetahuan diri mereka tentang keping-keping kebenaran itu untuk kehidupan mereka dan mereka tidak perlu memahami ayat-ayat dalam kitabullah. Begitu pula tentang petunjuk, telah cukuplah bagi mereka mendapatkan petunjuk dengan mengikuti jalan kehidupan bapak-bapak mereka.

Hal demikian tidaklah tepat. Setiap manusia pada dasarnya diciptakan untuk suatu tujuan yang sangat tinggi untuk memanifestasikan kehendak Allah di alam yang paling jauh dari sumber cahaya. Hal itu dapat terwujud apabila manusia berusaha memahami hakikat dalam ayat-ayat kitabullah dan memanifestasikannya di alam dunia. Manusia yang terbuat dari materi paling gelap dan hina di alam raya itu bisa menjadi makhluk yang mencapai hadirat Allah dengan berpegang pada kitabullah Alquran. Manakala seseorang atau suatu kaum beranggapan bahwa telah cukuplah bagi diri mereka keping-keping kebenaran, mereka belumlah memperoleh derajat yang diperuntukkan bagi diri mereka di sisi Allah. Mungkin telah mencukupi dalam pandangan makhluk, tetapi tidak mencukupi bagi fitrah dirinya dalam pandangan Allah. Akan sangat banyak kekurangan dalam kemajuan peradaban yang dapat ditemukan pada kaum yang tidak berpegang pada kitabullah, dan hal itu akan menjadi sebab keruntuhan peradaban mereka.

Kitabullah akan menarik manusia untuk membentuk pemahaman secara integral terhadap ayat-ayat Allah baik ayat kitabullah ataupn ayat kauniyah. Petunjuk kitabullah itulah yang akan mengintegasikan petunjuk-petunjuk yang dapat diperoleh oleh manusia, hingga seorang manusia dapat memurnikan agamanya semata-mata bagi Allah. Manakala seseorang atau suatu kaum membanggakan petunjuk-petunjuk yang ada pada dirinya tanpa suatu integrasi terhadap kehendak Allah, mereka akan terkurung dalam waham merasa cukup dengan mengikuti bapak-bapak mereka. Orang-orang yang memperoleh petunjuk dari alam langit akan terkurung dalam petunjuk alam langitnya tidak terintegrasi dengan petunjuk Allah, dan orang yang berdedikasi pada petunjuk bumi akan terkurung pada alam bumi mereka. Kaum yang berdedikasi pada keduanya pun tidak terluput dari kemungkinan terkurung pada alam mereka. Hanya keinginan untuk memahami tuntunan kitabullah yang akan mengintegrasikan diri mereka terhadap kehendak Allah.

Yang dikatakan Alquran sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk adalah orang-orang yang mempunyai pemahaman kehidupan yang menyatu dengan tuntunan kitabullah Alquran. Mereka menemukan bahwa kitabullah Alquran sebagai cahaya yang menerangi keyakinan mereka, dan mereka membenarkan firman Allah dalam Alquran berdasarkan keyakinan mereka. Keyakinan mereka dapat menembus tingkatan-tingkatan alam ghaib hingga mengenal rabb yang diperkenalkan kepada diri mereka masing-masing hingga mereka mengetahui bahwa mereka membutuhkan shalat mereka, bukan Allah yang membutuhkan shalat dari mereka. Semua keyakinan dan pemahaman itu menjadikan mereka mengetahui bahwa mereka harus menginfakkan apa-apa yang diberikan kepada mereka sebagi rizki kepada orang lain untuk mewujudkan rasa cinta kasih sebagai jalan ibadah kepada Allah. Umat manusia dapat mengikuti langkah-langkah mereka dan meniru selama sesuai dengan keadaan diri sendiri, tetapi hendaknya tidak tergesa-gesa menyematkan gelar bagi diri sendiri sebagai orang yang mendapat petunjuk karena mengikuti.

Selasa, 25 Juni 2024

Ikhlas dengan Mengikuti Kitabullah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kedekatan kepada Allah akan diperoleh seseorang bila melakukan Ibadah secara ikhlas kepada Allah. Keikhlasan suatu amal ibadah tidak hanya terkait dengan niat di dalam hati, akan tetapi juga terkait dengan terhubungnya amal itu terhadap kehendak Allah. Suatu amal yang dilakukan tanpa mengetahui kehendak Allah tidak dapat dikatakan sebagai amal berdasar keikhlasan, apalagi bila amal itu justru membantu musuh Allah walaupun seseorang tidak meniatkannya dalam beramal atau justru berniat sebagai ibadah. Terhubungnya amal terhadap kehendak Allah terjadi apabila seseorang memahami tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran, dan dengan keterhubungan itu maka seseorang akan memperoleh keikhlasan.

﴾۲﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّين
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-kitab (Al Quran) dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. (QS Az-Zumar : 2)

Ibadah yang ikhlas semata-mata kepada Allah akan diperoleh seseorang yang benar-benar memperhatikan ibadahnya berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang tidak akan bisa memperoleh kedekatan kepada Allah tanpa suatu keikhlasan berlandaskan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena pemahaman terhadap tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan dasar dari keikhlasan. Setiap orang harus membangun pemahaman terhadap kehendak Allah berdasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar memperoleh keikhlasan.

Akhlak Mulia Untuk Memahami Hakikat

Pemahaman yang menjadi landasan keikhlasan adalah pemahaman terhadap sesuatu berdasar hakikat dari sisi Allah. Pemahaman hakikat dapat terjadi manakala akhlak seseorang terbina sesuai dengan tuntunan Allah berupa pemahaman dengan akal (aql), bukan pemahaman yang dibangun semata-mata dengan logika berpikir saja (nathiqah). Logika berpikir manusia akan menghasilkan pemahaman-pemahaman parsial yang seringkali tidak dapat menyatu terhadap hakikat. Penyatuan itu akan terjadi manakala akal (‘aql) terbentuk melalui terbentuknya akhlak mulia. Tanpa akhlak mulia, seseorang tidak akan mempunyai akal, hanya mempunyai kecerdasan jasmaniah saja (nathiqah), dan tidak akan memahami hakikat dari sisi Allah walaupun berpegang pada kitabullah.

Terbentuknya akhlak mulia adalah terbentuknya sifat rahman dan rahim dalam diri seorang hamba Allah. Pembinaan sifat rahman dan rahim itu merupakan pembinaan akhlak mulia, dan akal akan tumbuh mengikuti terbinanya akhlak mulia. Sifat rahmaniah manusia menunjukkan sifat kecintaan terhadap  pemahaman dan ketaatan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan sifat rahim menunjukkan cinta kasih seseorang terhadap orang lain dan makhluk lain. Membina sifat rahman dapat dikatakan secara populer sebagai mencari kebenaran, secara khusus berupa mencari kebenaran agar dapat menunaikan kehendak Allah. Sifat-sifat demikian seringkali dinilai kurang tepat menggunakan hawa nafsu. Sifat yang tampak keras boleh jadi merupakan perwujudan sifat rahman dan rahim karena adanya pemahaman terhadap tuntunan Allah dan kecintaan terhadap orang lain. Sifat yang tampak mulia dari seseorang kadangkala bukan merupakan manifestasi akhlak mulia karena tidak disertai dengan pemahaman terhadap kehendak Allah atau tidak merupakan bentuk kecintaan terhadap orang lain tetapi karena adanya kepentingan diri yang harus dijaga.

Di antara umat islam akan terbentuk suatu kaum yang membina pemahaman terhadap tuntunan kitabullah tanpa menggunakan akal, di antaranya kaum khawarij dan para ahli bid’ah. Kaum khawarij menekankan berpegang pada Alquran tetapi hanya dengan kecerdasan jasmaniah saja, sedangkan para ahli bid’ah bersifat mengabaikan kecerdasan dalam berpegang pada kitabullah Alquran. Keduanya bersifat melemahkan akal untuk berpegang pada kitabullah Alquran, walaupun yang tampak dari keduanya berseberangan. Kaum khawarij akan tampak ketat dalam berpegang pada kitabullah dengan logikanya saja dan para ahli bid’ah akan tampak religius dan longgar dalam berpegang pada kitabullah, sedangkan keduanya melemahkan peran akal dalam memahami kitabullah. Kaum demikian akan menemukan perselisihan-perselisihan dalam upaya memahami kitabullah. Banyak ayat yang tidak dapat dipahami berdasar landasan pemahaman yang terbentuk berdasarkan metode mereka. Kedua kutub ini akan memberikan pengaruh warna yang signifikan terhadap umat islam.

Penghambat Sifat Mulia

Lawan utama dari sifat rahman dan rahim adalah sifat sombong, yaitu mengabaikan kebenaran dan memandang sepele orang lain. Mengabaikan kebenaran merupakan lawan dari sifat rahmaniah, sedangkan memandang sepele orang lain merupakan lawan dari sifat rahimiah. Sifat sombong tidak boleh ada dalam diri manusia, apalagi tumbuh menjadi besar. Mustahil menjadi pencari kebenaran manakala kebenaran diabaikan. Demikian pula mustahil menjadi pengasih manakala orang lain diremehkan. Manakala kesombongan tumbuh, seseorang akan merasa menjadi orang besar di antara yang lain hingga ia tidak memahami kebenaran yang datang dari orang lain dan menganggap sepele orang lain. Bahkan Alquran dapat pula dibantah dan orang yang menyampaikan dihujat tanpa suatu nalar yang benar. Sifat sombong akan mendatangkan kerusakan yang besar di bumi sekalipun mungkin saja tampak hebat dalam pandangan manusia.

Akhlak mulia akan membersihkan kesombongan dalam diri manusia hingga ia akan dapat memahami suatu kebenaran dan menyayangi orang lain dengan benar. Kesombongan kadangkala tampak baik di mata manusia yang bodoh. Seseorang mungkin menganggap dirinya atau kelompoknya sebagai orang-orang yang baik, sedangkan sebenarnya mereka mengabaikan kebenaran dan menganggap sepele orang lain. Mereka memuja apa yang mereka anggap baik tanpa berusaha mengukur berdasar tuntunan yang benar. Kebenaran mutlak terdapat pada Alquran dan kebenaran adalah apa yang mengikuti Alquran. Apa yang bertentangan dengan Alquran adalah kebathilan. Mengabaikan kebenaran-kebenaran merupakan bentuk dari kesombongan, baik kebenaran pada turunan terendahnya ataupun kebenaran berupa hakikat dari kitabullah Alquran.

Manakala terbiasa untuk mengabaikan kebenaran pada tingkat rendah, seseorang tidak akan memahami kebenaran pada tingkat yang tinggi. Sikap demikian termasuk dalam kesombongan yang menghalangi manusia untuk mengenal kebenaran. Keterhalangan seseorang tidak hanya terjadi pada tingkat rendah. Kadangkala seseorang telah berjalan menuju suatu kedekatan kepada Allah kemudian terhinggapi suatu kesombongan hingga mengabaikan kebenaran pada tingkat yang lebih tinggi dan menganggap sepele orang lainnya. Mereka akan memandang bahwa kebenaran adalah sesuatu yang datang dari diri mereka, dan orang lain hanyalah makhluk yang bisa dianggap sepele pengenalan kebenarannya. Bukan tidak mungkin mereka akan mengabaikan atau mendustakan peringatan kitabullah yang dibacakan orang lain dan menganggap bacaan itu salah tanpa mengetahui kesalahannya.

Mengikuti tuntunan kitabullah harus dilakukan secara totalitas. Seseorang tidak dikatakan mengikuti tuntunan kitabullah Alquran manakala hanya mengikuti apa-apa yang disukai. Mungkin seseorang baru mengetahui suatu perkara berdasarkan Alquran maka hendaknya ia bersegera untuk mengikuti penjelasan yang baru diketahui bila benar, tidak membantahnya manakala bertentangan dengan pendapat dirinya. Bila ia belum bisa benar-benar memahami kebenaran yang baru diperoleh, maka ia harus berusaha memahami dengan sebaik-baiknya hingga dapat mengikutinya. Hal-hal demikian menjadikan seseorang telah berusaha mengikuti secara total, tidak perlu menunggu memahami semua masalah berdasarkan tuntunan Alquran untuk dikatakan sebagai mengikuti kitabullah secara total. Ia hendaknya berusaha selalu menambah pemahaman terhadap tuntunan Alquran tetapi tidak tergesa-gesa memperoleh yang banyak. Apabila tidak melakukan hal-hal demikian, seseorang atau suatu kaum tidaklah mengikuti tuntunan kitabullah dengan sepenuhnya, hanya mengikuti apa yang disukainya. Boleh jadi sebenarnya ia telah mengabaikan kebenaran atau ia mendustakan kebenaran kitabullah Alquran, tidak mengikutinya kecuali hanya dengan hawa nafsu.

Mengabaikan kebenaran hampir selalu diikuti dengan sikap menganggap sepele orang lain. Kedua sifat itu berjalan bersama pada orang yang sombong. Mengabaikan kebenaran akan menjadikan seseorang menganggap sepele orang lain, dan menganggap sepele orang lain akan menyebabkannya mengabaikan kebenaran. Hal buruk yang bisa timbul dari hal itu, kadang suatu kaum merendahkan orang lain hanya karena mengikuti pendapat orang yang sombong, dan mengabaikan kebenaran dari orang yang direndahkan. Bahkan mungkin pula terjadi seorang isteri menghakimi suaminya berdasarkan perkataan orang lain berdasar kesombongan, sedangkan semestinya ia bisa berbicara secara langsung kepada suaminya dan memikirkan duduk kesalahan dan kebenaran dari suaminya. Hal demikian merupakan dampak dari penyakit kesombongan yang menjangkiti umat. Manakala terjadi keadaan demikian, kesombongan itu telah mendatangkan kerusakan yang besar bagi umat manusia. Kaum perempuan sebagai pilar bangsa mungkin berada dalam bahaya, tidak memperoleh pembinaan yang benar atau justru dibina dengan salah. Umat pada dasarnya telah terbungkus oleh suatu waham kebenaran menurut diri mereka sendiri hingga merendahkan manusia.

Efek kesombongan seringkali menyebabkan timbulnya perasaan yang tidak baik bagi orang lain. Manakala berhadapan dengan seseorang yang sombong, hendaknya seseorang berusaha untuk bersikap sabar tidak mengumbar kemarahan. Sebagian ulama menyarankan agar menghadapi orang yang sombong dengan sikap sombong. Imam Abu Hanifah menyarankan sikap demikian agar kesombongan pada diri seseorang padam. Dalam beberapa riwayat (walaupun diperdebatkan), bersikap sombong terhadap orang yang sombong merupakan sedekah. Menampakkan kesombongan demikian tidak boleh terlahir dari akhlak yang sombong dan tidak boleh menjadikan seseorang berakhlak sombong, dan hendaknya ia selalu waspada barangkali terjadi perubahan sikap dan akhlak dari orang yang disikapinya. Dalam prakteknya hal demikian seringkali tidak terkendali. Manakala seseorang dapat menyadarkan sahabatnya dari kesombogannya, maka sikap sombongnya itu merupakan sedekah bagi sahabatnya. Mungkin sedekah demikian termasuk sedekah yang berat. Seseorang boleh bersedekah atau tidak bersedekah dalam urusan itu. Kalau orang sombong celaka karena tidak memperoleh shadaqah dalam bentuk itu, yang tidak bershadaqah tidak mendapatkan dosa.

Untuk mewujudkan masyarakat yang ikhlas dalam menjalankan agama berdasar pengetahuan kebenaran hakiki sebagaimana tercantum dalam kitabullah Alquran, akhlak mulia harus dibina menggantikan akhlak buruk terutama bentuk-bentuk kesombongan. Setiap manusia hendaknya dibina untuk tidak merendahkan sahabatnya atau orang lain, dapat memandang sahabatnya setara dengan dirinya atau lebih baik, dan mengasihi sahabatnya agar dapat tumbuh sesuai kebaikan yang ada pada diri mereka, tidak menghalangi langkah mereka untuk memberikan kebaikan pada diri mereka bagi orang lain. Lebih khusus lagi, setiap isteri atau suami hendaknya memelihara pertumbuhan kasih sayang dengan cara demikian, tidak memandang rendah pasangannya. Manakala ada kesombongan dibiarkan tumbuh atau justru disuburkan, maka kasih sayang itu tidak dapat tumbuh di antara manusia. Suatu keburukan akan menghambat tumbuhnya kebaikan. Sangat sulit suatu kebaikan akan berbuah manakala kesombongan melandasi usaha manusia. Ketika suatu kesombongan menyertai usaha untuk menuju kebaikan, usaha itu akan porak-poranda dan justru menimbulkan keburukan. Hal demikian terjadi manakala seseorang tidak menyadari tumbuhnya keburukan dalam usaha yang dilakukannya.

Mewujudkan Keikhlasan

Kebaikan akan terwujud dari terbentuknya akhlak mulia. Dalam tampilan yang manapun akhlak mulia itu muncul, akhlak itu akan mendatangkan kebaikan. Manakala akhlak mulia muncul dalam tampilan yang keras ataupun sebaliknya menarik, hasil yang akan tercapai oleh perbuatan akhlak itu akan baik kecuali karena adanya campuran hawa nafsu yang menyertai atau yang dihadapi. Sebaliknya tanpa akhlak mulia, manusia akan berputar-putar dalam usahanya tanpa ada hasil berupa barakah Allah. Perjalanan seseorang bertaubat kepada Allah pun akan berhenti tanpa langkah mendekat yang jelas atau hanya berputar-putar dalam waham mendekat kepada Allah. Langkah mendekat kepada Allah akan terjadi manakala terbentuk akhlak mulia, berupa terbinanya sifat rahman dan rahim dalam diri seorang hamba.

Lahirnya kebaikan dari sifat rahman dan rahim akan terwujud manakala sifat itu terbentuk hingga tingkatan jasmaniah, tidak hanya berupa persangkaan. Suatu konsep akan menjadi sempurna manakala diwujudkan dalam bentuk jasmaniah. Gambarannya, kebaikan dan keburukan suatu desain tertentu akan terlihat manakala telah terwujud bentuknya. Suatu perangkat tertentu mungkin akan terlihat indah tetapi kinerjanya buruk, maka kinerja perangkat itu dapat ditingkatkan setelah dilakukan perbaikan desainnya. Suatu perangkat akan berantakan bila tidak dibuat berdasar desain tertentu. Demikian akhlak mulia akan terbentuk pada diri seorang manusia berdasar pengetahuan tertentu tentang kemuliaan, dan harus diwujudkan di alam jasmani dalam amal-amal berdasar pengetahuannya tersebut. Apa yang kurang dari pengetahuannya akan dapat diperbaiki berdasar amal jasmani yang terlahir darinya. Bila tanpa landasan pengetahuan tentang kemuliaan, akan sulit melahirkan amal sebagai bentuk akhlak mulia kecuali hanya dalam wahamnya saja. Manakala hasil dari amal yang diwujudkan buruk, seseorang tidak akan mengetahui keburukannya karena tidak mempunyai tolok ukur kebaikan yang seharusnya dicapai.

Waham demikian tidak jarang membahayakan umat manusia. Seseorang mungkin menyangka ia berbuat kebaikan sedangkan ia telah menimbulkan kerusakan yang besar. Hal demikian akan dapat dihindari bila manusia menyadari fungsi kitabullah sebagai pembawa kebenaran (hakikat). Amal yang berdasar kebenaran kitabullah akan memberi manfaat kepada manusia, dan amal yang menentang kebenaran kitabullah akan memberikan madlarat yang sangat besar kepada manusia. Amal-amal yang merupakan turunan dari keduanya akan mengikuti induknya. Suatu amal yang terkait dengan kitabullah akan memberikan manfaat, dan amal yang terkait penentangan kitabullah secara lemah akan memberikan madlarat lebih sedikit daripada yang menentang secara langsung. Manakala seseorang tidak berpegang pada kitabullah, mereka tidak dapat mengukur kebenaran perbuatan diri mereka, dan seringkali akan memandang baik perbuatan mereka walaupun buruk dalam timbangan kitabullah.

Keikhlasan dalam beribadah kepada Allah akan terwujud dari orang-orang yang berpegang teguh pada kitabullah dan memahami kebenaran yang terkandung di dalamnya. Pemahaman itu akan terbentuk hanya berdasarkan akhlak mulia. Keikhlasan tidak akan terwujud dari prasangka manusia tentang keikhlasan mereka manakala mereka tidak memahami kebenaran dari kitabullah Alquran. Keikhlasan tidak akan terbentuk manakala tidak terbentuk akhlak mulia pada manusia.