Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Yang diajarkan secara khusus oleh Rasulullah SAW kepada umat yang mengikuti beliau adalah hakikat dari kitabullah Alquran. Hakikat dari suatu ayat kitabullah akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia. Bila manusia mengikuti pengetahuan terhadap suatu hakikat, mereka akan memperoleh kebaikan yang sangat besar. Bahkan keping-keping kebenaran yang digelar Allah di alam semesta bagi makhluk akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia, akan tetapi tidak semua orang berbuat kebaikan dari keping-keping itu. Tidak sedikit manusia yang menimbulkan kerusakan yang besar di muka bumi karena keping-keping kebenaran yang mereka kenali. Syaitan sangat ahli dalam menggunakan keping-keping kebenaran untuk berbuat kerusakan yang besar di muka bumi. Suatu hakikat hanya akan dikenali bila terbentuk akhlak mulia.
Kemajuan yang bisa diperoleh manusia dari keping-keping kebenaran kadangkala menjadi suatu hijab bagi manusia untuk mengenal kebenaran dalam tingkatan hakikat. Bukti kemajuan yang diperoleh manusia dengan keping-keping kebenaran itu dijadikan bukti bahwa mereka adalah orang-orang yang benar dan memperoleh petunjuk, dan menjadikan mereka sebagai orang yang tidak berkeinginan untuk memahami hakikat dari sisi Allah.
﴾۲۲﴿بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّهْتَدُونَ
Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak berada pada suatu umat, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka". (QS Az-Zukhruf : 22)
Allah selalu memberikan petunjuk kepada manusia. Sebagaimana alam semesta dibuat berlapis-lapis, petunjuk Allah yang diturunkan bagi makhluk juga berlapis-lapis. Petunjuk dalam tingkatan tertinggi adalah firman Allah dalam kitabullah Alquran yang menjelaskan semua bentuk hakikat dari sisi Allah. Tidak hanya dari kitabullah, seorang manusia dapat pula memperoleh bentuk-bentuk petunjuk dalam tingkatan yang lain. Petunjuk dari alam langit dapat diperoleh oleh orang-orang yang bisa memperolehnya. Allah mengutus langit untuk menurunkan hujan pengetahuan kepada hamba-hamba-Nya karena suatu usaha mereka. Petunjuk dari alam bumi pun tidak kalah banyak diperoleh oleh orang-orang yang berdedikasi untuk mencari petunjuk di alam bumi. Dalam beberapa peristiwa, Umar bin Khattab r.a bisa memberikan saran kepada Rasulullah SAW berdasarkan petunjuk Allah yang diterimanya. Para nabi dan rasul banyak yang memperoleh kitab suci. Rasulullah SAW sendiri juga menerima firman Allah selain Alquran berupa hadits qudsi. Seluruhnya merupakan bentuk-bentuk petunjuk dan seluruh petunjuk itu berkedudukan subordinat terhadap kitabullah Alquran.
Seluruh bentuk petunjuk akan memberikan manfaat bagi umat manusia, yaitu apabila petunjuk tersebut benar dan manusia menyadari kedudukan petunjuknya. Bila suatu petunjuk tidak diuji kebenarannya, petunjuk itu dapat memecah belah umat manusia. Sekalipun suatu umat mempunyai arah perjalanan yang sama, tetapi petunjuk yang salah dapat menjadikan mereka berselisih satu dengan yang lain. Suatu petunjuk dapat menjadi hijab bagi manusia. Manakala manusia membanggakan petunjuk yang diperolehnya, ia akan terjebak pada parsialitas, baik di alam bumi ataupun di alam langit. Tanpa menyadari kedudukan petunjuk yang diterima, seseorang dapat berlaku sewenang-wenang terhadap orang lain atau menentang kebenaran. Penentangan itu terjadi karena petunjuk yang salah atau karena seseorang tidak mengetahui dan memahami kedudukan petunjuknya.
Dasar Tatanan Masyarakat
Sangat banyak kekurangan yang bisa ditimbulkan oleh usaha yang dilakukan tanpa mengikuti kitabullah. Di suatu berita dari suatu daerah di negeri ini, seorang suami mempersilakan isterinya untuk mencari suami yang lain karena isterinya mengadu tentang uang belanja yang sangat kecil dari suaminya melalui media sosial. Hal itu bisa menjadi contoh tentang kemajuan negeri yang tidak mempunyai arah. Banyaknya kekayaan suatu negara tidak memberikan manfaat kepada rakyatnya hingga menyebabkan seorang suami hanya mampu memberi uang belanja yang terlalu kecil untuk keadaan ekonomi masyarakat yang menuntut nilai pembelanjaan minimal yang lebih besar. Penyebab dari hal demikian sebenarnya terkait pula dengan keadaan rumah tangga di antara bangsa itu. Manakala kaum perempuan suatu bangsa tidak dibina untuk menegakkan bangsa mereka, maka bangsa mereka akan runtuh. Akan banyak mekanisme keruntuhan yang mungkin terjadi, tetapi intinya berupa tidak terdidiknya kaum perempuan dengan benar.
Kualitas sumber daya manusia saja tidaklah menjadi jaminan bahwa suatu bangsa akan memperoleh kemajuan peradaban. Tidak sedikit orang-orang yang berpikiran cemerlang dan memiliki keterampilan sangat baik tidak mampu memberikan sumbangsih bagi negerinya secara proporsional sesuai keadaan diri mereka karena keadaan negeri yang amburadul dikuasai oleh orang-orang yang jahat daripada orang-orang yang berkeinginan baik. Boleh jadi orang-orang yang baik itu justru dijadikan musuh bagi masyarakat untuk mempertahankan kekuasaan orang-orang yang jahat. Tenggelamnya orang-orang baik dan berkuasanya orang-orang jahat dipengaruhi oleh pembinaan rumah tangga di suatu negeri, di mana rumah tangga merupakan antar muka sosial tingkat pertama yang harus dibentuk pada setiap manusia. Bila pembinaan pernikahan di suatu bangsa buruk maka bangsa itu akan runtuh. Semakin buruk keadaannya, semakin rendah kesempatan bagi orang baik untuk memberikan sumbangsih bagi negeri mereka. Syaitan membuat fitnah yang terbesar bagi manusia melalui pemisahan seorang isteri dari suaminya.
Masalah rumah tangga menjadi faktor utama suatu bangsa menjadikan orang yang buruk di antara mereka sebagai pemimpin. Masyarakat mungkin saja lebih memilih pemimpin orang yang bisa memberi makan siang dengan menjual kekayaan mereka kepada orang asing daripada orang yang berusaha mengolah bersama potensi mereka dengan sebaik-baiknya, dari itu maka kehidupan akan menjadi semakin sulit. Tatanan yang buruk dalam rumah tangga akan menyebabkan terbentuknya tatanan yang buruk di masyarakat, dan tatanan yang buruk demikian merupakan tanda dari kemurkaan Allah kepada suatu kaum. Tatanan diri, tatanan rumah tangga dan tatanan masyarakat di antara mereka menjadi tanda murka Allah. Barangkali ada orang-orang yang tidak mengikuti tatanan yang buruk, tetapi keadaan mereka secara keseluruhan tetap mendatangkan murka Allah terhadap kaumnya.
Seseorang di suatu kaum tidak dapat berlepas diri bahwa mereka tidak menyebabkan murka Allah terhadap kaum mereka. Seseorang hanya bisa mengadu kepada Allah tentang ketidakmampuan diri mereka untuk menghindari murka-Nya atau ketidakmampuan mereka memberikan yang terbaik kepada kaumnya. Sebagian besar orang tidak menyadari bahwa Allah murka terhadap keadaan mereka karena tidak mempunyai perhatian yang baik terhadap tuntunan Allah. Bila seseorang mengetahui tuntunan Allah dengan benar, mereka akan ikut bersedih dengan keadaan kaumnya. Bersedihnya seseorang dengan keadaan mendapat murka bisa meringankan tanggung jawab mereka. Bila seseorang berlepas diri dari penyebab murka Allah, sebenarnya mereka tidak mengetahui tuntunan Allah tentang keadaan mereka, atau sebenarnya pengetahuan mereka tentang tuntunan Allah salah. Ada orang-orang yang bergembira karena keadaan mereka karena memperoleh keuntungan, maka mereka itu orang yang jahat. Mungkin ada orang-orang yang berbangga dengan peran diri mereka terhadap kemajuan peradaban mereka sedangkan sebenarnya Allah murka, maka mereka itu adalah orang-orang yang paling bertanggungjawab atas murka itu.
Kasus isteri mengadukan suaminya ke media sosial karena uang belanja yang diberikan terlalu kecil menunjukkan rendahnya tingkatnya pembinaan rumah tangga. Tidak ada manfaat sedikitpun mengadukan keburukan suami ke media sosial, dan perbuatan itu telah melanggar dasar dari kebersamaan mereka. Setiap orang seharusnya menyadari bahwa masing-masing pihak mempunyai peran dalam pernikahan, tidak hanya menuntut haknya kepada pihak lain tanpa mau memahami keadaan. Sesedikitnya pahamnya seseorang terhadap keadaan pernikahan, mereka tidak akan mengadukan keadaannya pada media sosial. Adapun suami, ia harus menyadari bahwa ia bertanggung jawab memberikan uang belanja secara layak kepada isterinya. Tentang kesulitan untuk memperoleh nafkah hendaknya dibicarakan dengan isterinya agar dapat memahami atau membantu setidaknya dengan doanya. Baiknya hubungan pernikahan akan mempengaruhi kemudahan munculnya rezeki-rezeki yang baik, karena pernikahan yang thayyib merupakan salah satu jalan rezeki yang thayyib. Isteri tidak selayaknya diusir dengan semena-mena karena mereka telah mengikat perjanjian yang sangat kuat sebelumnya. Bila memang harus bercerai, hendaknya perceraian dilakukan dengan baik. Kedudukan sebagai suami isteri tidak sama dengan kebersamaan antara laki-laki dan perempuan dalam bentuk yang lain.
Rasulullah SAW sangat menekankan pembinaan pernikahan. Pembinaan pernikahan merupakan setengah bagian dari pembinaan agama, karenanya pembinaan pernikahan harus dilakukan dengan mengikuti tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pembinaan pernikahan tidak boleh dilakukan dengan merumuskan cara sendiri. Bila pembinaan rumah tangga di suatu bangsa dibuat dengan melanggar ketentuan-ketentuan dan tuntunan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka pembinaan demikian justru akan merusak pembinaan rumah tangga bangsa itu, dan akan mempercepat runtuhnya bangsa. Pembinaan yang keliru terhadap rumah tangga justru merupakan perusakan terhadap rumah tangga, bukan pembinaan rumah tangga.
Membentuk Tatanan Masyarakat Dengan Sunnah
Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s memberikan tuntunan terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sebagai tujuan dari pembinaan rumah tangga. Itu adalah tujuan puncak pembinaan rumah tangga. Ada banyak tahapan perjalanan dalam menuju tujuan puncak tersebut, dan setiap tahap itu akan memberikan kebaikan bagi manusia yang menempuhnya. Untuk mencapai tujuan itu, kedua uswatun hasanah telah memberikan tuntunan-tuntunan untuk setiap tahapan perjalanan baik berupa ketentuan-ketentuan ataupun pengetahuan yang menjadi dasar bagi setiap tahapan yang dicapai oleh manusia. Hendaknya umat mengikuti tuntunan-tuntunan yang telah diberikan agar terbentuk rumah tangga yang terbina dengan benar.
Pernikahan menunjukkan terhubungnya suatu washilah bagi seseorang, yang menghubungkannya hingga kepada Allah. Pernikahan menjadi suatu sunnah muakkadah yang sangat utama karena menyatukan seseorang atau pasangan terhadap langkah Rasulullah SAW. Seorang perempuan telah menemukan tempat baktinya kepada Allah melalui suaminya, dan seorang laki-laki akan memperoleh media menumbuhkan jati diri bagi semesta mereka. Hal-hal demikian hendaknya disyukuri oleh setiap pihak dengan benar-benar mengikuti tuntunan Allah agar dapat tumbuh sebagai hamba yang diridhai. Apabila seseorang tumbuh dengan baik, ia akan memberikan sumbangsih yang besar bagi umat mereka dalam bentuk yang tidak menimbulkan madlarat bagi umatnya. Bila mereka menumbuhkan diri tanpa mengikuti tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, pertumbuhan yang akan mereka peroleh akan disertai dengan celah-celah yang menimbulkan kerugian bagi umat manusia. Barangkali mereka dapat tumbuh besar dengan pernikahan mereka, tetapi besarnya pertumbuhan mereka mendatangkan pula madlarat bagi manusia.
Untuk dapat tumbuh dengan baik, setiap pihak hendaknya berusaha memahami peran diri masing-masing dalam ide tentang bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Suami harus berusaha memahami isteri sebagai wahana untuk mengenal perintah Allah yang harus dilakukan bagi umatnya. Perintah Allah terkandung dalam diri isterinya, karena isterinya yang berperan membawakan khazanah Allah bagi dirinya. Terhadap suami, seorang isteri harus berusaha mengikuti dan membantu agar amanah Allah dapat terlaksana. Seandainya seorang isteri yang beriman tidak bisa memahami langkah suaminya dalam mengabdi kepada Allah, atau suaminya orang yang tidak mengabdi kepada Allah, maka cukuplah baginya ibadah kepada Allah dengan membantu suaminya untuk memperoleh kehidupan bersama-sama yang baik, tidak perlu berkeinginan melampaui batas terhadap suaminya dan pernikahannya agar dapat beribadah kepada Allah. Langkah demikian akan menegakkan dirinya sebagai tiang negara dalam mewujudkan kemakmuran bagi negeri, dan sebaliknya keinginan melewati batas itu akan meruntuhkan negerinya.
Tegaknya rumah tangga untuk pemakmuran bangsa akan terjadi bila setiap pihak membina diri mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pembinaan ini harus dilakukan oleh setiap bangsa, karena kebanyakan manusia akan cenderung mengikuti keinginan sendiri. Tidak sedikit seseorang memilih pasangannya berdasar kecantikan atau ketampanan tanpa landasan yang mantap, maka pernikahan itu kemudian hanya berumur pendek ketika menyadari sedikitnya manfaat kecantikan pasangannya. Tidak sedikit pula orang yang berharap memperoleh kekayaan melalui pasangannya hingga ketika tidak memperoleh harta itu, mereka mengumpat pasangannya. Kadang seseorang begitu emosional hingga merendahkan orang yang mencoba membina hubungan dengannya karena tidak sesuai keinginan syahwat dan hawa nafsunya. Sangat banyak kecenderungan manusia yang akan merusak bangsanya dan hal itu bisa diperbaiki melalui pernikahan yang baik. Karena itu setiap bangsa hendaknya melakukan pembinaan terhadap pernikahan mengikuti tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila pembinaan itu tidak mengikuti tuntunan Allah, kerusakan yang akan ditimbulkan bisa lebih besar daripada manusia mengikuti kecenderungan syahwat dan hawa nafsu mereka.
Dalam perkara pembinaan yang salah, setiap orang hendaknya berpegang sendiri terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sekalipun mereka dapat membina peradaban dan memperoleh petunjuk dengan mengikuti pembinaan yang salah, sebenarnya banyak celah kerusakan yang mungkin terdapat dalam pembinaan itu. Misalnya kaum muda dibina untuk mengejar kecintaan mereka terhadap pasangan yang disukai hawa nafsu dan syahwat dengan meninggalkan petunjuk, mereka mungkin akan tumbuh besar di dunia dengan hidup bersama pasangan yang dicintainya, tetapi tidak mengantarkan diri mereka untuk dekat kepada Allah. Bila mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan tumbuh besar dan berjalan mendekat kepada Allah dengan terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Manakala bangsanya harus runtuh karena pembinaan yang salah, setidaknya ia dapat mengemukakan suatu hujjah kelak di hadapan Allah perkara apa yang diperbuat bagi bangsanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar