Pencarian

Selasa, 09 Juli 2024

Mewujudkan Akhlak Mulia

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kedekatan kepada Allah akan diperoleh seseorang bila melakukan Ibadah secara ikhlas kepada Allah. Keikhlasan suatu amal ibadah tidak hanya terkait dengan niat di dalam hati, akan tetapi juga terkait dengan terhubungnya amal itu terhadap kehendak Allah. Suatu amal yang dilakukan tanpa mengetahui kehendak Allah tidak dapat dikatakan sebagai amal berdasar keikhlasan. Terhubungnya amal terhadap kehendak Allah terjadi apabila seseorang memahami tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran, dan dengan keterhubungan itu maka seseorang akan memperoleh keikhlasan.

﴾۲﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّين
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-kitab (Al Quran) dengan kebenaran (al-haqq). Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. (QS Az-Zumar : 2)

Alquran merupakan puncak dari kebenaran, menghadirkan kebenaran berupa hakikat dari sisi Allah kepada manusia di alam bumi. Pemahaman hakikat dapat terjadi manakala akhlak seseorang terbina sesuai dengan tuntunan Allah berupa pemahaman dengan akal (aql), bukan pemahaman yang dibangun semata-mata dengan logika berpikir saja (nathiqah). Logika berpikir manusia akan menghasilkan pemahaman-pemahaman parsial yang seringkali tidak dapat menyatu terhadap hakikat. Penyatuan itu akan terjadi manakala akal (‘aql) terbentuk melalui terbentuknya akhlak mulia. Tanpa akhlak mulia, seseorang tidak akan mempunyai akal, hanya mempunyai kecerdasan jasmaniah saja (nathiqah), dan tidak akan memahami hakikat dari sisi Allah walaupun berpegang pada kitabullah.

Terbentuknya akhlak mulia adalah terbentuknya sifat rahman dan rahim dalam diri seorang hamba Allah. Akhlak mulia terwujud dari pencarian kebenaran untuk beramal mengikuti kehendak Ar-Rahman, dan mengasihi orang lain sebagaimana diri sendiri sebagai wujud sifat rahim. Manakala seseorang tidak bisa mengenali kebenaran dari kitabullah, sebenarnya akhlaknya bertentangan dengan sifat rahmaniah, maka dapat dikatakan bahwa akhlaknya buruk. Demikian pula manakala seseorang berbuat justru untuk menimbulkan kesulitan bagi kehidupan orang lain untuk memperoleh keuntungan syahwatiah dan hawa nafsu sendiri, maka ia mempunyai akhlak yang buruk.

Rahmaniah merupakan akhlak seseorang dalam hubungannya kepada Allah. Sifat rahmaniah manusia menunjukkan sifat kecintaan terhadap pemahaman dan ketaaatan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Membina sifat rahman dapat dikatakan secara populer sebagai mencari kebenaran, secara khusus berupa mencari kebenaran agar dapat menunaikan kehendak Allah. Kecintaan rahmaniah itu tidak hanya berlaku bagi diri sendiri, tetapi juga kesukaan memberikan kepada orang lain pemahaman dan mengajak pada ketaatan kepada Allah berdasarkan pemahaman adanya kemuliaan padanya, bukan sekadar memaksakan pemahaman. Akhlak mulia harus terbina dalam diri seseorang hingga ia dapat mengenali kebenaran walaupun dengan hanya mendengar dari orang lain. Manakala seseorang hanya dapat mengenali kebenaran dari apa yang dilihat dan ditemukannya saja, akhlaknya belum cukup mencapai derajat mulia. Tidak jarang apa yang dipersepsi seseorang dari apa yang ditemukan dan dilihat tidak benar, maka ia membutuhkan pendengaran terhadap perkataan orang lain untuk membangun pemahaman yang lebih mendekati kebenaran. Kemuliaan akhlak itu mulai terbentuk bila seseorang dapat mengenali kebenaran dengan pendengaran, penglihatan dan hatinya.

Sikap keras kepala berpegang pada ilmu yang salah merupakan manifestasi dari akhlak yang buruk, walaupun kadangkala tidak terlihat oleh orang lain. Keburukan akhlak dalam fenomena demikian merupakan keburukan akhlak dalam derajat tinggi, seringkali lebih buruk dari terlihatnya amal yang buruk dari seseorang, karena akhlak demikian terkait dengan akhlak terhadap Allah. Dalam tingkatan tertentu, sikap demikian merupakan kekufuran. Sebagian orang menjadi dzalim karena berpegang pada pengetahuan yang salah, baik dzalim terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Orang-orang yang bertaubat kepada Allah akan tersesat bila fanatik mengikuti ilmu yang salah. Sekalipun mungkin dianggap baik, ilmu yang salah akan bisa menimbulkan kerusakan yang besar lebih besar daripada amal yang jelas terlihat buruknya, terutama manakala bertentangan dengan tuntunan Allah, dan setiap urusan mempunyai derajat kerusakan tersendiri.

Sifat rahim menunjukkan cinta kasih seseorang terhadap orang lain dan makhluk lain. Sifat rahim merupakan bentuk akhlak seseorang dalam hubungannya terhadap makhluk, terutama dalam urusan-urusan di alam ciptaan. Sifat rahimiah ditunjukkan dengan terwujudnya sikap yang baik terhadap makhluk-makhluk lain berupa keinginan memberikan kepada makhluk lain kemudahan dalam kehidupan. Gambaran sifat rahimiah tergambar pada seorang ibu yang akan berusaha keras penuh rasa sayang untuk memberikan kesejahteraan bagi anak-anaknya, sedangkan sifat rahmaniah tergambar pada seorang ayah yang ingin mendidik anak-anaknya agar memiliki kecerdasan dalam kehidupan. Sifat demikian tidak hanya berlaku pada para ibu atau para ayah terhadap anaknya, tetapi sebenarnya harus ditumbuhkan pula pada setiap manusia terhadap manusia lainnya dalam intensitas yang berbeda.

Sarana Mewujudkan Akhlak Mulia

Sifat rahmaniah dan rahimiah harus ditumbuhkan pada setiap manusia agar menemukan jalan kembali masing-masing kepada Allah. Masing-masing benih sifat tersebut ada pada setiap manusia dalam porsi yang berbeda-beda. Seorang laki-laki akan mempunyai sifat rahmaniah relatif lebih dominan daripada isterinya, dan para isteri mempunyai sifat rahimiah relatif lebih dominan daripada para suami mereka. Tumbuhnya sifat-sifat itu akan menunjukkan kepada masing-masing orang jalan taubat mereka. Seorang laki-laki akan tumbuh memahami kehendak Allah bagi diri mereka bila tumbuh sifat rahmaniah, dan seorang perempuan akan menjadi perempuan subur bagi suaminya bila tumbuh dalam dirinya sifat rahimiah.

Benih-benih akhlak mulia harus ditumbuhkan dan dirawat dengan baik secara berimbang. Hal itu terkait erat dengan proses taubat. Proses taubat setiap diri manusia tidak berdiri sendiri, satu dengan yang lain memberi pengaruh. Setiap pihak harus menumbuhkan sifat mulia dirinya melalui kebersamaan. Tumbuhnya sifat mulia pada manusia akan terjadi secara intensif manakala mereka menempuh jalan taubat kembali kepada Allah mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt akan terbentuk melalui pernikahan. Seorang suami akan melihat kehendak Allah melalui kehadiran isterinya, karena isteri merupakan pembawa khazanah duniawi bagi mereka. Akal laki-laki akan tumbuh menguat manakala melihat amanah Allah melalui isteri mereka, maka sifat rahmaniah mereka akan tumbuh subur melalui pernikahan. Demikian pula seorang isteri akan memperoleh wahana yang sebenar-benarnya untuk menumbuhkan sifat rahimiah mereka melalui pernikahan, baik kepada suaminya ataupun anak-anak yang terlahir dari pernikahan itu. Tidak terbatas pada sifat demikian, seluruh sifat-sifat mulia dalam diri mereka hendaknya dapat ditumbuhkan melalui pernikahan. Seorang suami hendaknya juga menumbuhkan sifat rahimiah dalam dirinya terhadap umat mereka secara umum melalui interaksi mereka dalam pernikahan dan para isteri menumbuhkan pemahaman terhadap kehendak Allah, serta menumbuhkan sifat mulia yang lain.

Membentuk bayt merupakan sasaran akhir jalan taubat dalam kehidupan dunia. Itu adalah tujuan dari millah nabi Ibrahim a.s. Setelah terbentuknya bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah, seseorang akan diperjalankan Allah untuk mendekat kepada-Nya. Perjalanan itu adalah sunnah Rasulullah SAW. Manusia tidak dapat mengusahakan perjalanan itu sendiri, dan tidak dapat meminta apakah Allah akan memperjalankan dirinya mi’raj atau tidak, akan tetapi mensyukuri terbentuknya bayt itu telah mencukupi bagi setiap hamba Allah.

﴾۶۳﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
di dalam rumah-rumah yang telah diijinkan Allah untuk ditinggikan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, (QS An-Nuur : 36)

Membentuk bayt sebagai jalan taubat akan mengarahkan tumbuhnya sifat mulia hingga setiap orang mengenal kehendak Allah dengan benar. Sekalipun tampak baik, kadang-kadang ditemukan ada sifat mulia yang tumbuh secara menyimpang. Misalnya dengan memperhatikan pernikahannya, seorang laki-laki akan mengenal batas dirinya tidak menjadikan semua urusan dalam diri perempuan yang dapat diketahui sebagai bagian dirinya. Khazanah yang terkandung pada seorang perempuan tertentu adalah bagian yang diperuntukkan bagi suaminya yang tidak dapat diambil paksa tanpa suatu akad yang kuat di sisi Allah melalui pernikahan. Demikian pula dengan ketaatan kepada suami, sifat rahimiah pada perempuan dapat tumbuh sesuai ketentuan Allah, tidak hanya menginginkan kesejahteraan dunia secara tanpa terarah yang dapat mendatangkan ketimpangan kepada orang-orang lain. Tanpa pernikahan sesuai tuntunan Allah, sifat rahimiah perempuan dapat tumbuh secara liar dan/atau keji tanpa mengetahui arah menuju tatanan sesuai kehendak Allah.

Membentuk bayt membutuhkan perjuangan, bukan suatu tujuan yang dapat diperoleh dengan mudah. Setiap orang harus berusaha membina keikhlasan dirinya menjalani garis kehidupan sesuai dengan kehendak Allah dengan penuh rasa syukur, tidak berpaling mengikuti hawa nafsu dan syahwat dirinya. Siti Hajar r.a harus tinggal di lembah sunyi Bakkah bersama putera bayinya untuk menempuh kehidupan sesuai dengan kehendak Allah mewujudkan bayt. Barangkali umat tidak harus menempuh kehidupan seberat siti Hajar r.a, akan tetapi membentuk bayt bukan sesuatu yang dapat dilakukan dengan memperturutkan kesenangan-kesenangan hawa nafsu dan syahwat. Dalam kehidupan modern, seseorang dengan suatu keikhlasan berupa menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak Allah sangat jarang ditemukan. Jauh lebih banyak orang yang sungguh-sungguh dalam mengupayakan apa-apa yang diinginkan hawa nafsu dan syahwat mereka daripada orang yang berusaha membina keikhlasan.

Hanya sedikit orang yang benar-benar hidup menuju keikhlasan. Sebagian orang ingin mengikuti kehendak Allah akan tetapi tidak memperoleh pengetahuan untuk itu, atau mereka kemudian tersimpangkan dari jalan itu. Ujung bentuk keikhlasan yang harus dijadikan sasaran kehidupan dunia adalah terbentuknya bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Sebelum terbentuknya bayt demikian, ada tahapan yang menandai bahwa arah taubat yang mereka tempuh benar. Disucikannya diri dari dosa-dosa, pengenalan penciptaan diri dan keadaan lain menjadi contoh tahapan pendahuluan menuju terbentuknya bayt, yang dapat dijadikan tanda bahwa arah kehidupannya benar. Sekalipun telah memperoleh tahapan pendahuluan, setiap orang hendaknya bertakwa tidak menyimpang dari jalan Allah. Langkah seseorang dapat terhenti atau tersimpangkan sebelum terbentuk bayt mengikuti millah nabi Ibrahim a.s

Banyak hal dapat menghalangi langkah seseorang membina keikhlasan. Sebagian orang yang menginginkan keikhlasan bersifat cengeng tidak mempunyai keberanian untuk melaksanakan petunjuk Allah. Tidak jarang suatu pasangan menolak petunjuk tentang bentuk bayt yang harus dibentuk, baik oleh satu pihak, dua pihak atau seluruh pihak, atau menganggap petunjuk itu hanya luapan hawa nafsu. Hal demikian terjadi karena tidak terbinanya akal dalam memahami kehendak Allah dengan benar, baik tidak tumbuh atau tumbuh secara salah. Dalam urusan nafs wahidah misalnya, seseorang mungkin saja menolak ketika memperoleh petunjuk tentang pasangannya, sedangkan petunjuk itu merupakan bekal dasar untuk membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tanpa menerima dan menikah dengan pasangan itu, seseorang tidak akan bisa mencapai tujuan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Mungkin ia bisa mencapai pengenalan diri dengan susah payah atau menjadi hamba yang disucikan, tetapi tidak mencapai terbentuknya bayt. Bagaimanapun keadaan akhir yang bisa dicapai, penolakan itu akan menyisakan susah payah yang sangat banyak dalam menemukan jalan untuk sampai (liqaa’) kepada Allah. Sisi buruknya, sebagian penolakan terhadap petunjuk jodoh merupakan kekufuran terhadap nikmat Allah yang dapat menyeret seseorang menuju neraka.

Setiap tercapainya suatu tahapan menuju terbinanya bayt menunjukkan tingkat keikhlasan tertentu yang terbentuk dalam diri seseorang. Tetapi hendaknya diperhatikan bahwa ukuran keikhlasan yang sesungguhnya ditunjukkan oleh terbentuknya sifat rahman dan rahim, bukan pencapaiannya dalam tahapan perjalanan. Sebagian salik mensikapi tahapan-tahapan perjalanan dengan hawa nafsu. Misalnya bisa saja seseorang menjadikan keadaan pengenalan diri sebagai sebuah status di antara mereka, sedangkan mereka terlalaikan karena pencapaiannya untuk berusaha memahami tuntunan kitabullah dengan tepat dan seksama sebagai wujud dari rahmaniah dirinya. Kadangkala perempuan terobsesi mewujudkan rahimiahnya mendampingi seorang laki-laki tanpa melihat dirinya, maka ia menjadi keji. Pencapaian setiap tahapan perjalanan baik laki-laki ataupun perempuan harus disertai dengan terbentuknya rahmaniah dan rahimiah, yaitu kokohnya akhlak mulia terhadap Allah dan terhadap makhluk. Berpaling dari kitabullah Alquran merupakan keburukan akhlak terhadap Allah, dan membuat kesulitan terhadap para makhluk merupakan keburukan akhlak terhadap makhluk.

Terbentuknya bayt akan menghadapkan setiap wajah pasangan dalam rumah tangga itu untuk mencintai Allah dan menyayangi makhluk lainnya. Setiap perempuan adalah manusia yang mempunyai akal untuk memahami kehendak Allah dengan mengikuti pemahaman suaminya terhadap kitabullah, dan setiap laki-laki mempunyai pula benih rahimiah untuk bekal memudahkan kehidupan bagi makhluk lainnya. Terbentuknya bayt akan menyatukan pasangan itu dalam suatu kekuatan baru untuk menghubungkan kehendak Allah hingga terwujud rahmaniah dan rahimiah Allah hingga di bumi. Kekuatan itu menjadi tanda ijin Allah. Bayt demikian hanya dapat terbentuk atas ijin Allah. Allah berkehendak mengajarkan kepada manusia ilmu-ilmu dari sisi-Nya.

Pengenalan seorang hamba terhadap kehendak Allah bernilai benar bila ada landasan dari kitabullah. Keikhlasan itu akan kembali kepada kitabullah, tidak boleh lepas tanpa terhubung pada kitabullah. Manakala tidak terhubung pada kitabullah, seseorang hendaknya berhati-hati atau merasa curiga asal muasal pengenalannya terhadap kehendak Allah. Ada fenomena-fenomena yang serupa dengan pengenalan terhadap kehendak Allah akan tetapi sebenarnya tidak benar-benar dari firman Allah. Misalnya, suatu tanduk syaitan akan terbit mengiringi terbitnya matahari pengenalan seseorag terhadap rabb, itu akan sangat serupa dengan pengenalan terhadap kehendak Allah akan tetapi tercampur dengan tangan syaitan. Hal itu hanya bisa dibersihkan manakala seseorang berpegang pada kitabullah.

Mengikuti orang-orang yang mengenal kehendak Allah akan memudahkan seseorang untuk membangun akhlak mulia, akan tetapi hendaknya benar-benar diperhatikan bahwa mereka mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Tidak boleh seseorang mengikuti langkah orang lain manakala bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran, karena pertentangan itu akan mendatangkan celaka. Tidak ada makhluk yang memperoleh petunjuk yang benar bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran. Kebenaran dari sisi Allah (hakikat) tidak ada yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran, dan kitabullah Alquran diturunkan dengan membawa kebenaran itu. Sesedikitnya akal, setiap orang harus menggunakannya untuk berpegang pada kitabullah Alquran dan tuntunan Rasulullah SAW tidak mensia-siakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar