Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Kedekatan kepada Allah akan diperoleh seseorang bila melakukan Ibadah secara ikhlas kepada Allah. Keikhlasan suatu amal ibadah tidak hanya terkait dengan niat di dalam hati, akan tetapi juga terkait dengan terhubungnya amal itu terhadap kehendak Allah. Suatu amal yang dilakukan tanpa mengetahui kehendak Allah tidak dapat dikatakan sebagai amal berdasar keikhlasan, apalagi bila amal itu justru membantu musuh Allah walaupun seseorang tidak meniatkannya dalam beramal atau justru berniat sebagai ibadah. Terhubungnya amal terhadap kehendak Allah terjadi apabila seseorang memahami tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran, dan dengan keterhubungan itu maka seseorang akan memperoleh keikhlasan.
﴾۲﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّين
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-kitab (Al Quran) dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. (QS Az-Zumar : 2)
Ibadah yang ikhlas semata-mata kepada Allah akan diperoleh seseorang yang benar-benar memperhatikan ibadahnya berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang tidak akan bisa memperoleh kedekatan kepada Allah tanpa suatu keikhlasan berlandaskan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena pemahaman terhadap tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan dasar dari keikhlasan. Setiap orang harus membangun pemahaman terhadap kehendak Allah berdasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar memperoleh keikhlasan.
Akhlak Mulia Untuk Memahami Hakikat
Pemahaman yang menjadi landasan keikhlasan adalah pemahaman terhadap sesuatu berdasar hakikat dari sisi Allah. Pemahaman hakikat dapat terjadi manakala akhlak seseorang terbina sesuai dengan tuntunan Allah berupa pemahaman dengan akal (aql), bukan pemahaman yang dibangun semata-mata dengan logika berpikir saja (nathiqah). Logika berpikir manusia akan menghasilkan pemahaman-pemahaman parsial yang seringkali tidak dapat menyatu terhadap hakikat. Penyatuan itu akan terjadi manakala akal (‘aql) terbentuk melalui terbentuknya akhlak mulia. Tanpa akhlak mulia, seseorang tidak akan mempunyai akal, hanya mempunyai kecerdasan jasmaniah saja (nathiqah), dan tidak akan memahami hakikat dari sisi Allah walaupun berpegang pada kitabullah.
Terbentuknya akhlak mulia adalah terbentuknya sifat rahman dan rahim dalam diri seorang hamba Allah. Pembinaan sifat rahman dan rahim itu merupakan pembinaan akhlak mulia, dan akal akan tumbuh mengikuti terbinanya akhlak mulia. Sifat rahmaniah manusia menunjukkan sifat kecintaan terhadap pemahaman dan ketaatan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan sifat rahim menunjukkan cinta kasih seseorang terhadap orang lain dan makhluk lain. Membina sifat rahman dapat dikatakan secara populer sebagai mencari kebenaran, secara khusus berupa mencari kebenaran agar dapat menunaikan kehendak Allah. Sifat-sifat demikian seringkali dinilai kurang tepat menggunakan hawa nafsu. Sifat yang tampak keras boleh jadi merupakan perwujudan sifat rahman dan rahim karena adanya pemahaman terhadap tuntunan Allah dan kecintaan terhadap orang lain. Sifat yang tampak mulia dari seseorang kadangkala bukan merupakan manifestasi akhlak mulia karena tidak disertai dengan pemahaman terhadap kehendak Allah atau tidak merupakan bentuk kecintaan terhadap orang lain tetapi karena adanya kepentingan diri yang harus dijaga.
Di antara umat islam akan terbentuk suatu kaum yang membina pemahaman terhadap tuntunan kitabullah tanpa menggunakan akal, di antaranya kaum khawarij dan para ahli bid’ah. Kaum khawarij menekankan berpegang pada Alquran tetapi hanya dengan kecerdasan jasmaniah saja, sedangkan para ahli bid’ah bersifat mengabaikan kecerdasan dalam berpegang pada kitabullah Alquran. Keduanya bersifat melemahkan akal untuk berpegang pada kitabullah Alquran, walaupun yang tampak dari keduanya berseberangan. Kaum khawarij akan tampak ketat dalam berpegang pada kitabullah dengan logikanya saja dan para ahli bid’ah akan tampak religius dan longgar dalam berpegang pada kitabullah, sedangkan keduanya melemahkan peran akal dalam memahami kitabullah. Kaum demikian akan menemukan perselisihan-perselisihan dalam upaya memahami kitabullah. Banyak ayat yang tidak dapat dipahami berdasar landasan pemahaman yang terbentuk berdasarkan metode mereka. Kedua kutub ini akan memberikan pengaruh warna yang signifikan terhadap umat islam.
Penghambat Sifat Mulia
Lawan utama dari sifat rahman dan rahim adalah sifat sombong, yaitu mengabaikan kebenaran dan memandang sepele orang lain. Mengabaikan kebenaran merupakan lawan dari sifat rahmaniah, sedangkan memandang sepele orang lain merupakan lawan dari sifat rahimiah. Sifat sombong tidak boleh ada dalam diri manusia, apalagi tumbuh menjadi besar. Mustahil menjadi pencari kebenaran manakala kebenaran diabaikan. Demikian pula mustahil menjadi pengasih manakala orang lain diremehkan. Manakala kesombongan tumbuh, seseorang akan merasa menjadi orang besar di antara yang lain hingga ia tidak memahami kebenaran yang datang dari orang lain dan menganggap sepele orang lain. Bahkan Alquran dapat pula dibantah dan orang yang menyampaikan dihujat tanpa suatu nalar yang benar. Sifat sombong akan mendatangkan kerusakan yang besar di bumi sekalipun mungkin saja tampak hebat dalam pandangan manusia.
Akhlak mulia akan membersihkan kesombongan dalam diri manusia hingga ia akan dapat memahami suatu kebenaran dan menyayangi orang lain dengan benar. Kesombongan kadangkala tampak baik di mata manusia yang bodoh. Seseorang mungkin menganggap dirinya atau kelompoknya sebagai orang-orang yang baik, sedangkan sebenarnya mereka mengabaikan kebenaran dan menganggap sepele orang lain. Mereka memuja apa yang mereka anggap baik tanpa berusaha mengukur berdasar tuntunan yang benar. Kebenaran mutlak terdapat pada Alquran dan kebenaran adalah apa yang mengikuti Alquran. Apa yang bertentangan dengan Alquran adalah kebathilan. Mengabaikan kebenaran-kebenaran merupakan bentuk dari kesombongan, baik kebenaran pada turunan terendahnya ataupun kebenaran berupa hakikat dari kitabullah Alquran.
Manakala terbiasa untuk mengabaikan kebenaran pada tingkat rendah, seseorang tidak akan memahami kebenaran pada tingkat yang tinggi. Sikap demikian termasuk dalam kesombongan yang menghalangi manusia untuk mengenal kebenaran. Keterhalangan seseorang tidak hanya terjadi pada tingkat rendah. Kadangkala seseorang telah berjalan menuju suatu kedekatan kepada Allah kemudian terhinggapi suatu kesombongan hingga mengabaikan kebenaran pada tingkat yang lebih tinggi dan menganggap sepele orang lainnya. Mereka akan memandang bahwa kebenaran adalah sesuatu yang datang dari diri mereka, dan orang lain hanyalah makhluk yang bisa dianggap sepele pengenalan kebenarannya. Bukan tidak mungkin mereka akan mengabaikan atau mendustakan peringatan kitabullah yang dibacakan orang lain dan menganggap bacaan itu salah tanpa mengetahui kesalahannya.
Mengikuti tuntunan kitabullah harus dilakukan secara totalitas. Seseorang tidak dikatakan mengikuti tuntunan kitabullah Alquran manakala hanya mengikuti apa-apa yang disukai. Mungkin seseorang baru mengetahui suatu perkara berdasarkan Alquran maka hendaknya ia bersegera untuk mengikuti penjelasan yang baru diketahui bila benar, tidak membantahnya manakala bertentangan dengan pendapat dirinya. Bila ia belum bisa benar-benar memahami kebenaran yang baru diperoleh, maka ia harus berusaha memahami dengan sebaik-baiknya hingga dapat mengikutinya. Hal-hal demikian menjadikan seseorang telah berusaha mengikuti secara total, tidak perlu menunggu memahami semua masalah berdasarkan tuntunan Alquran untuk dikatakan sebagai mengikuti kitabullah secara total. Ia hendaknya berusaha selalu menambah pemahaman terhadap tuntunan Alquran tetapi tidak tergesa-gesa memperoleh yang banyak. Apabila tidak melakukan hal-hal demikian, seseorang atau suatu kaum tidaklah mengikuti tuntunan kitabullah dengan sepenuhnya, hanya mengikuti apa yang disukainya. Boleh jadi sebenarnya ia telah mengabaikan kebenaran atau ia mendustakan kebenaran kitabullah Alquran, tidak mengikutinya kecuali hanya dengan hawa nafsu.
Mengabaikan kebenaran hampir selalu diikuti dengan sikap menganggap sepele orang lain. Kedua sifat itu berjalan bersama pada orang yang sombong. Mengabaikan kebenaran akan menjadikan seseorang menganggap sepele orang lain, dan menganggap sepele orang lain akan menyebabkannya mengabaikan kebenaran. Hal buruk yang bisa timbul dari hal itu, kadang suatu kaum merendahkan orang lain hanya karena mengikuti pendapat orang yang sombong, dan mengabaikan kebenaran dari orang yang direndahkan. Bahkan mungkin pula terjadi seorang isteri menghakimi suaminya berdasarkan perkataan orang lain berdasar kesombongan, sedangkan semestinya ia bisa berbicara secara langsung kepada suaminya dan memikirkan duduk kesalahan dan kebenaran dari suaminya. Hal demikian merupakan dampak dari penyakit kesombongan yang menjangkiti umat. Manakala terjadi keadaan demikian, kesombongan itu telah mendatangkan kerusakan yang besar bagi umat manusia. Kaum perempuan sebagai pilar bangsa mungkin berada dalam bahaya, tidak memperoleh pembinaan yang benar atau justru dibina dengan salah. Umat pada dasarnya telah terbungkus oleh suatu waham kebenaran menurut diri mereka sendiri hingga merendahkan manusia.
Efek kesombongan seringkali menyebabkan timbulnya perasaan yang tidak baik bagi orang lain. Manakala berhadapan dengan seseorang yang sombong, hendaknya seseorang berusaha untuk bersikap sabar tidak mengumbar kemarahan. Sebagian ulama menyarankan agar menghadapi orang yang sombong dengan sikap sombong. Imam Abu Hanifah menyarankan sikap demikian agar kesombongan pada diri seseorang padam. Dalam beberapa riwayat (walaupun diperdebatkan), bersikap sombong terhadap orang yang sombong merupakan sedekah. Menampakkan kesombongan demikian tidak boleh terlahir dari akhlak yang sombong dan tidak boleh menjadikan seseorang berakhlak sombong, dan hendaknya ia selalu waspada barangkali terjadi perubahan sikap dan akhlak dari orang yang disikapinya. Dalam prakteknya hal demikian seringkali tidak terkendali. Manakala seseorang dapat menyadarkan sahabatnya dari kesombogannya, maka sikap sombongnya itu merupakan sedekah bagi sahabatnya. Mungkin sedekah demikian termasuk sedekah yang berat. Seseorang boleh bersedekah atau tidak bersedekah dalam urusan itu. Kalau orang sombong celaka karena tidak memperoleh shadaqah dalam bentuk itu, yang tidak bershadaqah tidak mendapatkan dosa.
Untuk mewujudkan masyarakat yang ikhlas dalam menjalankan agama berdasar pengetahuan kebenaran hakiki sebagaimana tercantum dalam kitabullah Alquran, akhlak mulia harus dibina menggantikan akhlak buruk terutama bentuk-bentuk kesombongan. Setiap manusia hendaknya dibina untuk tidak merendahkan sahabatnya atau orang lain, dapat memandang sahabatnya setara dengan dirinya atau lebih baik, dan mengasihi sahabatnya agar dapat tumbuh sesuai kebaikan yang ada pada diri mereka, tidak menghalangi langkah mereka untuk memberikan kebaikan pada diri mereka bagi orang lain. Lebih khusus lagi, setiap isteri atau suami hendaknya memelihara pertumbuhan kasih sayang dengan cara demikian, tidak memandang rendah pasangannya. Manakala ada kesombongan dibiarkan tumbuh atau justru disuburkan, maka kasih sayang itu tidak dapat tumbuh di antara manusia. Suatu keburukan akan menghambat tumbuhnya kebaikan. Sangat sulit suatu kebaikan akan berbuah manakala kesombongan melandasi usaha manusia. Ketika suatu kesombongan menyertai usaha untuk menuju kebaikan, usaha itu akan porak-poranda dan justru menimbulkan keburukan. Hal demikian terjadi manakala seseorang tidak menyadari tumbuhnya keburukan dalam usaha yang dilakukannya.
Mewujudkan Keikhlasan
Kebaikan akan terwujud dari terbentuknya akhlak mulia. Dalam tampilan yang manapun akhlak mulia itu muncul, akhlak itu akan mendatangkan kebaikan. Manakala akhlak mulia muncul dalam tampilan yang keras ataupun sebaliknya menarik, hasil yang akan tercapai oleh perbuatan akhlak itu akan baik kecuali karena adanya campuran hawa nafsu yang menyertai atau yang dihadapi. Sebaliknya tanpa akhlak mulia, manusia akan berputar-putar dalam usahanya tanpa ada hasil berupa barakah Allah. Perjalanan seseorang bertaubat kepada Allah pun akan berhenti tanpa langkah mendekat yang jelas atau hanya berputar-putar dalam waham mendekat kepada Allah. Langkah mendekat kepada Allah akan terjadi manakala terbentuk akhlak mulia, berupa terbinanya sifat rahman dan rahim dalam diri seorang hamba.
Lahirnya kebaikan dari sifat rahman dan rahim akan terwujud manakala sifat itu terbentuk hingga tingkatan jasmaniah, tidak hanya berupa persangkaan. Suatu konsep akan menjadi sempurna manakala diwujudkan dalam bentuk jasmaniah. Gambarannya, kebaikan dan keburukan suatu desain tertentu akan terlihat manakala telah terwujud bentuknya. Suatu perangkat tertentu mungkin akan terlihat indah tetapi kinerjanya buruk, maka kinerja perangkat itu dapat ditingkatkan setelah dilakukan perbaikan desainnya. Suatu perangkat akan berantakan bila tidak dibuat berdasar desain tertentu. Demikian akhlak mulia akan terbentuk pada diri seorang manusia berdasar pengetahuan tertentu tentang kemuliaan, dan harus diwujudkan di alam jasmani dalam amal-amal berdasar pengetahuannya tersebut. Apa yang kurang dari pengetahuannya akan dapat diperbaiki berdasar amal jasmani yang terlahir darinya. Bila tanpa landasan pengetahuan tentang kemuliaan, akan sulit melahirkan amal sebagai bentuk akhlak mulia kecuali hanya dalam wahamnya saja. Manakala hasil dari amal yang diwujudkan buruk, seseorang tidak akan mengetahui keburukannya karena tidak mempunyai tolok ukur kebaikan yang seharusnya dicapai.
Waham demikian tidak jarang membahayakan umat manusia. Seseorang mungkin menyangka ia berbuat kebaikan sedangkan ia telah menimbulkan kerusakan yang besar. Hal demikian akan dapat dihindari bila manusia menyadari fungsi kitabullah sebagai pembawa kebenaran (hakikat). Amal yang berdasar kebenaran kitabullah akan memberi manfaat kepada manusia, dan amal yang menentang kebenaran kitabullah akan memberikan madlarat yang sangat besar kepada manusia. Amal-amal yang merupakan turunan dari keduanya akan mengikuti induknya. Suatu amal yang terkait dengan kitabullah akan memberikan manfaat, dan amal yang terkait penentangan kitabullah secara lemah akan memberikan madlarat lebih sedikit daripada yang menentang secara langsung. Manakala seseorang tidak berpegang pada kitabullah, mereka tidak dapat mengukur kebenaran perbuatan diri mereka, dan seringkali akan memandang baik perbuatan mereka walaupun buruk dalam timbangan kitabullah.
Keikhlasan dalam beribadah kepada Allah akan terwujud dari orang-orang yang berpegang teguh pada kitabullah dan memahami kebenaran yang terkandung di dalamnya. Pemahaman itu akan terbentuk hanya berdasarkan akhlak mulia. Keikhlasan tidak akan terwujud dari prasangka manusia tentang keikhlasan mereka manakala mereka tidak memahami kebenaran dari kitabullah Alquran. Keikhlasan tidak akan terbentuk manakala tidak terbentuk akhlak mulia pada manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar