Pencarian

Kamis, 04 Juli 2024

Tutupan Pada Hati

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kedekatan kepada Allah akan diperoleh seseorang bila melakukan Ibadah secara ikhlas kepada Allah. Keikhlasan suatu amal ibadah tidak hanya terkait dengan niat di dalam hati, akan tetapi juga terkait dengan terhubungnya amal itu terhadap kehendak Allah. Suatu amal yang dilakukan tanpa mengetahui kehendak Allah tidak dapat dikatakan sebagai amal berdasar keikhlasan, apalagi bila amal itu justru membantu musuh Allah. Terhubungnya amal terhadap kehendak Allah terjadi apabila seseorang memahami tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran, dan dengan keterhubungan itu maka seseorang akan memperoleh keikhlasan.

﴾۲﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّين
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-kitab (Al Quran) dengan kebenaran (al-haqq). Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. (QS Az-Zumar : 2)

Alquran merupakan puncak dari kebenaran, menghadirkan kebenaran berupa hakikat sebagai firman Allah. Suatu ayat Allah tidak boleh diperdebatkan dengan petunjuk-petunjuk dan pengetahuan manusia dalam bentuk lain. Sebaliknya, suatu ayat Alquran hendaknya tidak dipergunakan secara paksa untuk membenarkan petunjuk dan pengetahuan manusia. Hubungan pengetahuan-pengetahuan kebenaran terhadap kitabullah Alquran bersifat subordinatif, bukan dalam derajat yang sama. Suatu hakikat sangat berguna dalam ibadah kepada Allah dan mencerdaskan manusia untuk memberikan manfaat kepada semesta mereka, sedangkan pengetahuan umum bernilai netral yang kadangkala bersifat menghancurkan kehidupan manusia.

Allah selalu memberikan petunjuk kepada manusia. Sebagaimana alam semesta dibuat berlapis-lapis, petunjuk Allah yang diturunkan bagi makhluk juga berlapis-lapis. Petunjuk dalam tingkatan tertinggi adalah firman Allah dalam kitabullah Alquran yang menjelaskan semua bentuk hakikat dari sisi Allah. Tidak hanya dari kitabullah, seorang manusia dapat pula memperoleh bentuk-bentuk petunjuk dalam tingkatan yang lain. Petunjuk dari alam langit dapat diperoleh oleh orang-orang yang bisa memperolehnya. Allah mengutus langit untuk menurunkan hujan pengetahuan kepada hamba-hamba-Nya karena suatu usaha mereka. Petunjuk dari alam bumi pun tidak kalah banyak diperoleh oleh orang-orang yang berdedikasi untuk mencari petunjuk di alam bumi. Dalam beberapa peristiwa, Umar bin Khattab r.a bisa memberikan saran kepada Rasulullah SAW berdasarkan petunjuk Allah yang diterimanya. Para nabi dan rasul banyak yang memperoleh kitab suci. Rasulullah SAW sendiri juga menerima firman Allah selain Alquran berupa hadits qudsi. Seluruhnya merupakan bentuk-bentuk petunjuk dan seluruh petunjuk itu berkedudukan subordinat terhadap kitabullah Alquran.

Kitabullah akan menarik manusia untuk membentuk pemahaman secara integral terhadap ayat-ayat Allah baik ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah. Petunjuk kitabullah itulah yang akan mengintegasikan petunjuk-petunjuk yang dapat diperoleh oleh manusia, hingga seorang manusia dapat memurnikan agamanya semata-mata bagi Allah. Manakala seseorang atau suatu kaum membanggakan petunjuk-petunjuk yang ada pada dirinya tanpa suatu integrasi terhadap kehendak Allah, mereka akan terkurung dalam waham merasa cukup dengan mengikuti bapak-bapak mereka. Orang-orang yang memperoleh petunjuk dari alam langit akan terkurung dalam petunjuk alam langitnya tidak terintegrasi dengan petunjuk Allah, dan orang yang berdedikasi pada petunjuk bumi akan terkurung pada alam bumi mereka. Kaum yang berdedikasi pada keduanya pun tidak terluput dari kemungkinan terkurung pada alam mereka. Hanya keinginan untuk memahami tuntunan kitabullah yang akan mengintegrasikan diri mereka terhadap kehendak Allah.

Allah Meletakkan Tutupan

Dalam beberapa kasus, Allah meletakkan tutupan atas hati manusia sehingga tidak dapat memahami kebenaran, dan meletakkan sumbatan pada telinga hingga tidak dapat mendengar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendengarkan pembacaan dari kitabullah Alquran. Di antara yang menyebabkan demikian adalah karena seseorang merasa telah memperoleh petunjuk tanpa mengetahui hubungan petunjuk yang mereka ikuti terhadap tuntunan kitabullah Alquran. Orang-orang demikian terkurung dalam petunjuknya sendiri, tidak mengikuti kitabullah Alquran.

﴾۵۲﴿وَمِنْهُم مَّن يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِن يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا بِهَا حَتَّىٰ إِذَا جَاؤُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, sedangkan Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka untuk memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga mereka datang kepadamu mereka membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Sesungguhnya (bacaan) ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu". (QS Al-An’aam : 25)

Keinginan mengikuti Alquran harus lebih diutamakan bahkan daripada menerima petunjuk, karena Alquran merupakan petunjuk yang terbaik. Petunjuk pada dasarnya bertingkat-tingkat dan tidak sedikit di antara petunjuk yang diturunkan merupakan petunjuk yang tidak benar atau dipahami tidak benar. Seandainya seorang malaikat mulia datang kepada seseorang, boleh jadi kedatangannya bertujuan untuk menguji keikhlasan seorang hamba Allah. Syaitan sangat menyukai untuk datang kepada seseorang dalam bentuk makhluk mulia seperti malaikat. Dari semua bentuk-bentuk petunjuk, petunjuk kitabullah Alquran adalah petunjuk yang terbaik, petunjuk yang datang dari hadirat Allah secara langsung.

Bentuk-bentuk petunjuk kepada seseorang selain Alquran dapat menjadi hijab bagi dirinya, yaitu manakala tidak digunakan untuk memahami kitabullah Alquran. Boleh jadi Allah menjadikan petunjuk yang mereka terima justru sebagai penutup terhadap hati sehingga tidak dapat memahami kebenaran kitabullah yang dibacakan. Kadangkala seseorang menjadi sombong dengan petunjuk yang diterima, mengabaikan kebenaran yang datang dari orang lain dan meremehkan orang lain sekalipun membacakan kebenaran dari kitabullah. Kebanggaan terhadap petunjuk mereka menjadikan hati mereka tertutup untuk memahami kitabullah.

Ayat di atas menyebutkan kata mendengarkan dalam istilah يَسْتَمِعُ. Hal ini menunjukkan makna mendengarkan dengan sungguh-sungguh karena adanya suatu harapan pemahaman, atau lebih dikenal dengan terminologi menyimak. Orang yang mendengarkan perkataan orang lain untuk memperoleh pemahaman dikatakan sebagai orang yang menyimak perkataan. Orang-orang yang menyimak perkataan orang lain akan mudah memperoleh pemahaman terhadap perkataan-perkataan orang yang disimak. Dalam kasus ayat di atas, kausalitas di atas tidak berlaku. Sekalipun seseorang menyimak dari suatu pembacaan kitabullah, mereka tidak dapat memahami ayat kitabullah tersebut. Suatu tutupan telah diletakkan atas hati. Tutupan dalam ayat di atas dikatakan sebagai أَكِنَّةً . Ini menunjukkan tutupan dalam bentuk pengisian yang mempunyai keserupaan atau tampak serupa dengan aslinya. Suatu pengetahuan yang kurang tepat kadangkala bisa menjadi penutup terhadap ilmu yang benar. Seseorang yang mempunyai pengetahuan keliru seringkali menjadi orang yang paling sulit untuk menerima ilmu karena pengetahuan yang keliru tersebut menjadi penutup yang menghalangi pemahaman terhadap pengetahuan yang benar.

Hal demikian hendaknya tidak mencegah seseorang berpegang pada ilmu atau petunjuk yang belum sempurna, dan tidak mencegah beramal dengan dasar ilmu yang sedikit. Bukan ketidaksempurnaan ilmu atau petunjuk yang menjadi penutup terhadap hati, tetapi penutup hati itu adalah kelalaian manusia untuk mencari kebenaran yang lebih baik dengan berusaha memperkuat akal untuk memahami kehendak Allah. Kesempurnaan ilmu makhluk tentang kebenaran hanya dilimpahkan kepada Rasulullah SAW, sedangkan semua makhluk lain hanya memperoleh bagian dari ilmu beliau SAW, karenanya tidak ada makhluk yang beramal dengan ilmu yang sempurna. Sekalipun demikian, Rasulullah SAW mengatakan kepada orang yang sibuk dengan duniawinya suatu perkataan : “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian”. Ada bagian pengetahuan di mana Rasulullah SAW tidak lebih mengetahui daripada orang kebanyakan.

Yang perlu diperhatikan adalah hendaknya seseorang beramal dengan dasar ilmu yang benar, banyak atau sedikitnya. Banyak ilmu akan lebih baik daripada sedikit ilmu manakala benar. Manakala menjadi dasar amal adalah ilmu yang salah, Allah Maha Pengampun bagi makhluk selama mereka mengetahui kesalahannya dan memohon ampunan-Nya. Bila mengabaikan ilmu yang benar dan bersikeras berpegang pada ilmu yang salah, maka ilmu itu akan menjadi penutup bagi hati mereka hingga tidak dapat memahami ayat Allah.

Sikap berpegang kuat dengan ilmu yang salah merupakan manifestasi dari akhlak yang buruk, walaupun kadangkala tidak terlihat oleh orang lain. Keburukan akhlak dalam fenomena demikian merupakan keburukan akhlak dalam derajat tinggi, lebih buruk dari terlihatnya amal yang buruk dari seseorang. Akhlak mulia terwujud dari pencarian kebenaran untuk beramal mengikuti kehendak Ar-Rahman, dan mengasihi orang lain sebagaimana diri sendiri. Manakala seseorang tidak bisa mengenali kebenaran dari kitabullah, sebenarnya akhlaknya bertentangan dengan sifat rahmaniah, maka dapat dikatakan bahwa akhlaknya buruk. Akhlak mulia harus terbina dalam diri seseorang hingga ia dapat mengenali kebenaran walaupun dengan hanya mendengar dari orang lain. Manakala seseorang hanya dapat mengenali kebenaran dari apa yang dilihat dan ditemukannya saja, akhlaknya belum cukup mencapai derajat mulia. Tidak jarang apa yang dipersepsi seseorang dari apa yang ditemukan dan dilihat tidak benar, maka ia membutuhkan pendengaran terhadap perkataan orang lain untuk membangun pemahaman yang lebih mendekati kebenaran. Kemuliaan akhlak itu mulai terbentuk bila seseorang dapat mengenali kebenaran dengan pendengaran, penglihatan dan hatinya.

Pemahaman itu akan terbentuk di hati berdasar pengenalan terhadap kebenaran melalui penglihatan dan pendengaran, tidak dibatasi kemampuan inderanya dan keduanya saling bersinergi. Suatu keyakinan salah akan mengganggu terbinanya pemahaman terhadap kebenaran. Ilustrasi berikut dapat menggambarkan terbentuknya suatu pemahaman. Akan sulit memberikan penjelasan kepada seseorang yang berkeyakinan berdasar penglihatannya saja bahwa bumi datar. Di sisi lain, seorang anak kecil mungkin akan kebingungan ketika bermain di suatu bukit di tepi samudera, karena melihat cakrawala di laut yang sejajar dengan matanya. Ia akan merasa kasihan kepada orang-orang yang di pantai bahwa ada air yang setinggi matanya sedangkan ia berada di atas bukit, maka orang-orang di pantai itu mungkin akan tersapu air laut. Ketika ia berlari ke tepi pantai, ia melihat bahwa cakrawala di laut itu mengikuti ketinggian matanya hingga disadari bahwa air laut yang di samudera itu hanya datar saja. Akan lebih mudah menerangkan keadaan bumi kepada anak kecil yang demikian daripada kepada orang yang terkurung dalam penglihatan parsialnya. Suatu pemahaman akan dapat terbentuk di hati melampaui batas-batas pencerapan indera yang bersifat parsial. Sekalipun tidak dapat melihat bulatnya bumi, seseorang dapat memahami bulatnya bumi dengan pikirannya berdasar indera-inderanya

Sedikitnya ilmu dan petunjuk dan sedikitnya amal tidak mendatangkan bahaya selama seseorang masih ada keinginan mencari ilmu dengan akalnya. Ketertutupan akal untuk berkembang lebih menjadi penyebab masalah, baik karena keadaan diri sendiri ataupun karena mengikuti panutan atau bapak-bapak mereka. Orang-orang yang merasa paling benar akan tertutup oleh pengetahuan dirinya. Demikian pula orang-orang yang sekadar mengikuti orang lain tanpa berusaha menggunakan akal untuk memahami kehendak Allah dengan tuntunan kitabullah terancam bahaya tertimpa tutupan dari Allah. Manakala panutan mereka berbangga dengan pengetahuan dan petunjuk mereka hingga tidak mencari petunjuk kitabullah, maka mereka mengikuti kebanggaan panutannya. Kebanggaan itu akan menjadi penutup atas diri mereka untuk memahami ayat Allah, sama seperti orang yang mereka ikuti. Kadangkala orang yang mengikuti lebih tertutup waham daripada orang yang mereka ikuti karena lemahnya penggunaan pikiran dan akal mereka daripada orang yang diikuti.

Manakala Allah telah meletakkan suatu tutupan terhadap hati seseorang, mereka tidak dapat memahami pembacaan ayat kitabullah dari yang lain karena tertutupnya hati dengan pengetahuan yang palsu sekalipun orang tersebut benar-benar menyimak penjelasan dari orang lain. Hal ini tidak terjadi tanpa suatu keadaan tertentu dari orang tersebut. Di antara penutup yang diletakkan Allah atas seseorang demikian adalah merasa telah menjadi orang yang paling benar dan keadaan-keadaan semacamnya, termasuk merasa sebagai orang yang paling memperoleh petunjuk. Kebanyakan yang diharapkan seseorang demikian ketika menyimak bukanlah memperoleh kebenaran, akan tetapi berharap melihat celah kekurangan dan kesalahan yang ada pada pembacaan kitabullah tersebut, maka mereka tidak dapat memahami kebenaran dari pembacaan ayat kitabullah.

Yang salah dari sikap demikian bukan melihat kekurangan atau kesalahan, tetapi keinginan mencari kesalahan dan keinginan menyanggah itulah yang menjadi penutup hati mereka. Manakala akal tumbuh menguat, boleh jadi seseorang juga akan melihat kelemahan, kekurangan atau kesalahan dari ajaran yang diikuti atau yang disampaikan kepada dirinya, walaupun ia tidak mencari-cari kekurangan-kekurangan tersebut. Ia akan mengikuti hal yang baik dan meninggalkan yang tidak baik dari apa yang diperoleh dari orang lain, tanpa mencari-cari kesalahannya. Ia tetap bisa memahami kebenaran yang disampaikan kepadanya sekalipun apabila ia juga melihat kekurangannya, berbeda dengan orang yang Allah letakkan tutup pada hatinya. Bila Allah meletakkan tutupan pada hati seseorang, ia tidak melihat kebenaran yang disampaikan orang lain sekalipun kebenaran itu terang benderang bagi orang lain yang menggunakan akalnya. Apalagi pemahaman kebenaran, ia tidak akan memperoleh pemahaman karena bahkan tidak melihat dan mendengar kebenaran, maka tidak ada bahan untuk membentuk pemahaman berdasar pembacaan yang dilakukan.

Tutupan itu sebenarnya tidak hanya diletakkan pada hati. Allah juga meletakkan sumbatan pada telinga mereka sehingga tidak dapat mendengar penjelasan-penjelasan yang mereka butuhkan dari orang lain. Bahkan bukan hanya dari orang lain, apabila mereka menemukan seluruh tanda-tanda kebenaran ayat kitabullah yang dibacakan itu di dalam diri mereka sendiri, mereka tidak percaya kebenaran bacaan itu. Mereka menyangka bacaan itu keliru, sedangkan kebenaran itu adalah apa yang ada dalam persepsi mereka sendiri sekalipun berlawanan dengan firman Allah. Dengan keadaan seperti itu, mereka akan membantah orang-orang yang membacakan kitabullah dengan benar.

Keikhlasan terkait dengan pemahaman terhadap kitabullah Alquran. Ilmu Allah sangatlah luas tidak akan terjangkau makhluk-Nya, tetapi manusia dapat mengenal kebenaran dari sisi Allah dengan mengikuti kitabullah Alquran. Itu adalah jalan untuk mengenal Allah. Keikhlasan adalah keinginan untuk mengenal Allah melalui pemahaman terhadap ayat-ayat dalam kitabullah, tidak boleh dilakukan secara bebas tanpa tuntunan karena akal manusia sangat terbatas. Usaha bebas demikian dapat menimbulkan perselisihan di antara para pencari kebenaran. Manakala terjadi perselisihan di jalan Allah, maka orang yang berpegang pada tuntunan kitabullah berada pada jalan yang lebih dekat dengan keikhlasan. Tidak jarang manusia mengandalkan kekuatan indera-indera bathiniah sedangkan ia menyimpang, maka indera bathiniah itu tidak boleh digunakan untuk menganulir firman dalam kitabullah Alquran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar