Pencarian

Minggu, 23 Februari 2025

Washilah untuk Mengenal Amr Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan yang tepat mengikuti langkah Rasulullah SAW dapat ditemukan dalam bentuk kehendak Allah terhadap penciptaan diri setiap manusia. Orang yang mengenal kehendak Allah dalam penciptaan dirinya sebenarnya menemukan jalan untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan benar. Itu merupakan hal yang mudah bagi orang-orang yang dimudahkan, dan hal yang sangat sulit bagi orang yang tidak dimudahkan. Sekian banyak manusia yang beriman atau merasa beriman tidak berhasil mengenal pohon thayibah diri dengan usaha keras yang mereka lakukan, sedangkan sebagian orang yang tidak tampak berusaha keras dapat mengenal urusan penciptaan dirinya. Kemudahan orang-orang yang mengenal kehendak Allah terjadi karena Allah memudahkan baginya untuk mengetahui kehendak-Nya.

Allah menjelaskan kepada orang-orang demikian sebagian perintah dari perintah-perintah-Nya, maka orang-orang tersebut kemudian mempunyai kemudahan untuk mengenal sebagian dari perintah Allah.

﴾۸۸﴿وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang baik (al-husna), dan akan kami katakan kepadanya (suatu perintah) dari perintah-perintah kami secara mudah (QS Al-kahfi : 88).

Amr Allah menunjuk pada kehendak Allah yang diturunkan kepada makhluk-Nya, berupa pokok urusan maupun urusan-urusan rincian untuk setiap ruang dan jaman. Kemudahan mengenal amr Allah itu diberikan Allah kepada seseorang di atas pahala-pahala al-husna yang terkumpul pada diri mereka, sedangkan al-husna itu merupakan pahala yang diberikan karena keimanan dan amal shalih. Keimanan dalam hal ini bukan hanya terbatas pada keimanan terhadap pokok-pokok keimanan, tetapi juga terhadap kebenaran-kebenaran yang disampaikan oleh pengenal kebenaran yang hidup pada jaman mereka. Ayat di atas merupakan cuplikan perkataan Iskandar Dzulqarnain tentang kaum yang ditemuinya. Iskandar Dzulqarnain membawa suatu amr Allah, dan banyak orang yang bisa memperoleh amr Allah melalui Iskandar Dzulqarnain khususnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih dengan amr Allah yang disampaikan oleh Iskandar Dzulqarnain.

Hal ini berlaku umum, bahwa pada jaman ini-pun amr demikian dapat diperoleh oleh orang-orang yang beriman dan beramal shalih terhadap suatu amr Allah melalui seseorang di antara mereka, bukan hanya berlaku terhadap nabi-nabi jaman dahulu. Hanya saja amr jaman ini terbatas hanya pada amr-amr yang mempunyai sumber dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tidak bertentangan dengannya. Bila suatu kaum berusaha memahami firman Allah tentang amr yang diturunkan kepada seseorang di antara mereka, kemudian beriman dan beramal shalih setelah beriman dengan kebenaran amr tersebut, maka kaum tersebut termasuk sebagai kaum yang beriman dan beramal shalih dengan amr tersebut. Bila berbuat demikian, maka mereka akan memperoleh al-husna. Alhusna tersebut bersumber dari firman Allah, bukan dari amr yang diturunkan. Apabila suatu kaum hanya mengikuti amr tanpa berusaha memahami firman Allah, mereka akan menghadapi distraksi yang sangat banyak hingga mengganggu kebenaran al-husna pada diri mereka. Kadangkala suatu kaum justru menjadi lemah akalnya karena mengikuti suatu amr tanpa mengetahui persoalan amr tersebut, hanya membebek pada seseorang tanpa memahami firman Allah.

Setiap amr Allah pada jaman Rasulullah SAW dan setelahnya telah disebutkan dalam tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Suatu amr Allah yang tidak mempunyai dasar dalam kitabullah Alquran merupakan suatu bid’ah sekalipun manusia memandang baik amr tersebut. Orang-orang yang beramal atau ingin beramal dengan amal-amal baik tanpa menganggap diri mereka sebagai pemangku amr Allah atau mengikutinya tidak termasuk dalam golongan ahlul bid’ah. Apabila mereka meyakini diri mereka sebagai pemangku amr Allah atau pengikut mereka, hendaknya mereka menimbang amal-amal yang terwujud dari diri mereka dengan tuntunan kitabullah. Apabila tidak menemukan tuntunannya, mungkin mereka adalah ahlul bid’ah. Ada orang-orang yang mengikuti suatu amr tanpa suatu landasan penjelasan dari kitabullah sedangkan amr tersebut bertentangan dengan tuntunan kitabullah, maka mereka merupakan ahlul bid’ah. Amr Allah tanpa suatu landasan kitabullah itu sendiri merupakan bid’ah, apalagi bila dilakukan dengan cara yang bertentangan dengan tuntunan Allah.

Sekalipun amr Allah diturunkan dalam banyak bentuk, amr tersebut sebenarnya merupakan kesatuan yang menyatukan umat Allah dalam satu amr Allah. Penyatuan tersebut membentuk al-jamaah. Setiap orang yang memangku amr adalah orang-orang yang berjamaah. Mereka mengetahui bahwa mereka melaksanakan suatu amal untuk membantu seseorang yang lain sebagai imam mereka, sekalipun mereka bisa saja tidak bertemu. Para wali Allah di tanah jawa menjadi contoh bahwa mereka datang ke tanah jawa untuk suatu urusan yang dinubuwahkan Rasulullah SAW, dan mereka mengetahui amr Allah tentang hal tersebut. Di tingkat lebih rendah, ada orang-orang yang ditakdirkan untuk membantu orang-orang tertentu, sedangkan mereka bisa merasakan urusan lebih besar dari Allah terkait amal yang mereka lakukan. Ada pula orang yang mengetahui urusan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW. Apabila seseorang memperoleh suatu urusan Allah sebagai pemimpin urusan tanpa mengetahui jalan menyatukan diri dalam al-jamaah atau tidak mengetahui imam untuk amr-nya dalam amr Allah, hendaknya ia berhati-hati dengan bid’ah. Demikian pula manakala seseorang mengikuti orang lain tanpa mengetahui penyatuan langkah mereka kepada Al-Jamaah, hendaknya mereka berhati-hati dengan bid’ah yang mungkin mereka ikuti.

Setiap orang yang ingin mengenal kehendak Allah hendaknya berusaha untuk mengenal induk dari urusan mereka, karena hal itu akan memudahkan untuk mengenal urusan yang diperintahkan Allah kepada masing-masing. Itu adalah kemudahan yang diberikan Allah kepada umat manusia. Kemudahan dalam cara demikian mencakup keselamatan dalam memahami kehendak Allah. Usaha seseorang untuk mengenal kehendak Allah bagi masing-masing sebenarnya merupakan jalan yang penuh tipuan dan marabahaya apabila dilakukan dengan mengandalkan diri sendiri. Syaitan akan sangat senang membantu manusia untuk mengenal pohon khuldi masing-masing sedangkan mungkin saja manusia dalam keadaan lemah akalnya. Suatu usaha mengenal kehendak Allah sebenarnya bisa menjadi tipuan yang besar apabila dilakukan dengan suatu sikap yang salah atau tanpa disertai suatu keikhlasan yang mencukupi. Manakala seseorang berusaha untuk mengenal induk urusannya, mereka akan memperoleh sandaran yang akan mengingatkan manakala kurang tepat dalam memahami. Kebersandaran itu setidaknya harus dilakukan terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan apabila diperlukan, seseorang harus memutus kebersandaran terhadap yang lain yang memisahkan dirinya terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Ayat Allah Sebagai Cerminan Amr

Mengenal amr Allah harus dilakukan dengan memahami ayat-ayat Allah, baik berupa kitabullah ataupun ayat-ayat kauniyah. Keduanya merupakan kesatuan ayat Allah yang harus dipahami secara sinergis sebagai satu kesatuan. Dengan memahami ayat-ayat Allah, maka seseorang akan bisa membina diri untuk bersikap selaras dengan kehendak Allah sehingga dapat membenarkan petunjuk-petunjuk Allah terkait dengan alam kauniyah mereka. Tanpa membangun pemahaman terhadap ayat-ayat Allah, manusia akan tersesat dalam bersikap. Kadangkala seseorang membenarkan sesuatu yang salah karena tidak memahammi tuntunan Allah. Tidak jarang seseorang bersikap menentang tuntunan Allah sedangkan ia merasa sebagai orang yang mengikuti petunjuk-Nya karena tidak memahami dengan tepat ayat-ayat Allah. Kesesatan demikian sangat menghambat manusia untuk memahami amr Allah.

﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A,raaf : 179)

Memahami ayat-ayat Allah dengan tepat dapat dilakukan dengan qalb dan indera-indera bathiniah. Pemahaman terhadap ayat-ayat Allah mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada adanya indera-indera bathiniah baik telinga bathin, mata bathin ataupun qalb. Manakala telinga bathin, mata bathin ataupun qalb tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, indera-indera tersebut dapat menyesatkan manusia apabila diikuti (tanpa menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah). Indera-indera demikian sering menjadi suatu jebakan bagi manusia dalam mencari kebenaran. Kebanyakan manusia akan memandang hebat orang-orang yang mempunyai indera yang kuat dan mengira bahwa segala sesuatu yang dapat mereka persepsi merupakan kebenaran. Kiraan demikian tidaklah benar. Indera-indera bathin manusia dapat menyimpang dari jalan yang benar manakala tidak berpegang pada tuntunan ayat-ayat Allah. Sangat banyak makhluk yang berkeinginan agar manusia menyimpang dari jalan yang benar termasuk makhluk-makhluk di alam yang lebih tinggi, bahkan makhluk yang dulu bisa hadir di sidang ilahi. Apabila manusia menyangka kebenaran itu ada pada seorang manusia tanpa ingin berpegang pada tuntunan kitabullah, mereka akan disesatkan dari jalan yang benar, bahkan hingga kesesatan yang sejauh-jauhnya.

Penyesatan demikian bisa terjadi dengan cara yang sangat halus, di mana orang-orang mungkin menyangka bahwa semua kesesatan itu merupakan kebenaran. Bisa jadi tujuan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s disimpangkan tanpa disadari oleh manusia, maka orang-orang yang melangkah akan tersesat. Bukan hanya menyimpang dari tujuan, keadaan umat sebenarnya juga akan menjadi berantakan. Orang-orang yang berkeinginan untuk benar-benar mengikuti langkah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s akan mengalami kesulitan yang besar dengan masalah-masalah yang ditimbulkan dari perbuatan yang sesat, sedangkan orang-orang yang mengikuti langkah yang sesat tidak mempunyai pemahaman yang benar terhadap ayat-ayat kauniyah yang digelar bagi mereka. Apabila dibacakan kepada mereka kesatuan ayat-ayat Allah pada kauniyah dan kitabullah, mereka mungkin menyangka bahwa bacaan itu hanya angan-angan pembacanya. Dengan terbentuknya umat yang kacau, umat manusia secara keseluruhan akan menjadi berantakan dengan masalah-masalah yang tidak dipahami dengan benar oleh orang-orang yang (merasa) beriman.

Proses yang benar dalam usaha memahami ayat Allah menjadi landasan untuk membentuk keadaan umat yang baik. Suatu pemahaman terhadap kebenaran harus dapat tumbuh pada setiap anggota masyarakat. Kadangkala suatu kebenaran diajarkan justru berefek mencegah tumbuhnya pemahaman akal manusia terhadap kebenaran, maka masyarakat tidak akan akan dapat tumbuh menjadi baik atau justru menjadi masyarakat yang jumud dalam pandangan mereka sendiri. Untuk menuju kebaikan, setiap anggota masyarakat harus dapat menumbuhkan pemahaman terhadap kebenaran, tidak dimatikan potensinya baik dengan suatu kejahatan atau dengan waham kebenaran. Suatu masyarakat yang buruk dapat berubah menjadi baik apabila proses memahami ayat Allah dapat dilakukan dengan baik. Sebaliknya suatu masyarakat pencari kebenaran akan berhenti berkembang apabila proses memahami kebenaran dihentikan.

Perkembangan masyarakat dapat diukur dari kemampuan masyarakat dalam menimbang bobot kebenaran. Masyarakat yang terbelakang akan terkungkung dalam suatu kerangka kebenaran di antara mereka sendiri tanpa kemampuan untuk mengenal kebaikan yang dapat diberikan kepada kaumnya. Masyarakat yang akalnya kuat akan mengenali kebenaran-kebenaran yang tumbuh karena pengenalan kebenaran di antara mereka dan dapat menempatkan kebenaran-kebenaran itu sesuai dengan kedudukannya. Sangat banyak gradasi perkembangan masyarakat dalam masalah kebenaran, dari masyarakat yang mengikuti langkah syaitan, masyarakat yang terkungkung kebenaran mereka sendiri, masyarakat yang bisa merasakan adanya kebenaran tanpa mengetahui bobotnya, masyarakat yang tidak mampu bertindak berdasarkan kebenaran yang mereka rasakan hingga masyarakat yang dapat mengenal bobot nilai dari suatu kebenaran dan meletakkan kebenaran itu sesuai tempatnya sehingga kebenaran itu dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi mereka.

Perkembangan masyarakat yang baik akan mendatangkan tatanan masyarakat yang baik hingga setiap orang dapat memberikan nilai manfaat terbaik diri mereka bagi masyarakat. Tatanan demikian dapat diukur pada masing-masing anggota masyarakat berdasarkan ayat-ayat Allah dan nilai yang terserap dalam diri mereka. Orang yang mempunyai bobot nilai yang besar dapat memimpin sekelompok orang lainnya hingga dapat melahirkan manfaat terbaik dari masinng-masing. Kebanyakan masyarakat merumuskan tatanan di antara mereka hanya berdasarkan nilai-nilai duniawi, maka masing-masing anggota masyarakat bermimikri dalam bentuk-bentuk yang tampak bermanfaat bagi masyarakat, sedangkan mereka sebenarnya mementingkan kedudukan dan harta bagi diri mereka sendiri. Dengan tatanan demikian masyarakat menjadi kacau. Orang-orang berbuat baik kepada orang lain dengan satu sisi wajah, dan di tempat yang tidak diketahui mereka menggarong kekayaan dari pendukung yang dapat mereka tipu dengan wajah manis. Hal demikian harus diubah agar masyarakat benar-benar menjadi baik. Orang-orang yang mengenal kebenaran harus diberi kesempatan untuk memberikan nilai kebaikan bagi masyarakat secara keseluruhan tidak justru dihalangi langkah-langkahnya. Kebaikan akan semakin berkembang apabila masyarakat dapat mengenali nilai-nilai kebenaran dalam diri seseorang berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mustahil membentuk masyarakat yang baik apabila suatu kaum menilai kebaikan hanya berdasarkan hawa nafsu mereka sendiri ataupun mengikuti pendapat syaitan.



Minggu, 16 Februari 2025

Kemudahan Membina Kalimah Thayibah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Hendaknya setiap orang memperhatikan langkah dirinya dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan membentuk diri sebagai kalimah thayibah sesuai kehendak Allah, yaitu sebagaimana pohon thayibah yang akarnya teguh ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Ini adalah keadaan yang harus terbentuk pada diri setiap muslim dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Tanpa membentuk kalimah thayibah, seseorang yang berjihad tidak dapat dikatakan sebagai pengikut Rasulullah SAW karena mungkin jihad mereka hanya mengikuti hawa nafsu sendiri.

﴾۴۲﴿أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (QS Ibrahim : 24)

Pohon thayibah merupakan pemahaman yang terbentuk pada diri seseorang terhadap cahaya Allah karena terbentuknya misykat diri. Jasmani manusia hendaknya dapat mengikhlaskan dirinya semata-mata untuk beribadah kepada Allah, tidak menginginkan banyak hal yang lain karena keinginan terhadap banyak hal akan menjadi lubang-lubang yang mengganggu terbentuknya bayangan misykat. Nafs manusia ibarat lensa yang mengatur fokus cahaya hingga terbentuk bayangan, nafs itu harus bersih dari noda-noda dan dapat bergerak mencari fokus yang sesuai untuk cahaya yang datang. Kalimah thayibah itu harus membentuk pohon thayibah diri yang akarnya teguh menghunjam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit.

Pohon thayibah tidak boleh tumbuh tanpa mempunyai akar di bumi, karena pohon yang tercerabut dari buminya adalah pohon yang buruk. Berakarnya manusia di bumi ditunjukkan dengan karya-karya dan amal shalih yang terhubung pada kauniyah bumi. Tidak semua karya yang merupakan akar pohon thayibah di bumi harus melahirkan benda fisik. Penataan umat termasuk sebagai akar pohon thayibah di bumi sekalipun tidak langsung terwujud benda fisik. Kadangkala penataan umat mendatangkan kemakmuran di tingkat fisik setelah berbagai tahapan proses. Terdapat beberapa sumber dalam diri manusia yang dapat memunculkan kekaryaan, baik berupa hawa nafsu, keinginan berkasih-sayang kepada orang lain ataupun keinginan mewujudkan kehendak Allah. Karya-karya yang bersumber dari hawa nafsu akan memberikan kepuasan bagi hawa nafsu baik diri sendiri atau orang lain atau justru kedengkian dari orang lain. Suatu keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain akan melahirkan karya yang memberikan manfaat besar bagi manusia. Kekaryaan demikian terlahir melalui suatu kesadaran tentang kebutuhan umat terhadap karya tersebut, karenanya akan memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Karya yang bersumber dari kehendak Allah akan memberikan suatu penataan yang baik di bumi dalam berbagai tingkatan alam yang terkait.

Ketercerabutan suatu pohon dari bumi ditunjukkan dengan tidak adanya manfaat pada buah-buah yang dihasilkan. Kadangkala seseorang memperoleh pemahaman-pemahaman yang menyimpang dari tuntunan Allah sedemikian orang-orang yang mengikutinya tidak bisa memperoleh manfaat dari pemahaman-pemahaman yang diterimanya. Hal demikian menunjukkan bahwa pohon itu tercerabut dari bumi. Pada fisiknya, pohon yang buruk itu berbentuk pohon, dengan akar dan cabang-cabang yang tumbuh, tetapi pengetahuan dari pohon itu tidak memberikan manfaat dalam kehidupan di bumi. Manakala seseorang menerima petunjuk, hendaknya ia berusaha menemukan manfaat dari petunjuknya dalam kehidupan termasuk kehidupan di bumi. Kadangkala seseorang menerima suatu petunjuk dan mendewakan petunjuk itu sebagai firman Allah tanpa mengetahui makna petunjuknya, baik dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun makna berdasarkan manfaatnya bagi kebaikan dalam kebaikan di alam dunia. Atau suatu kaum boleh jadi mengikuti suatu petunjuk pada seseorang di antara mereka tanpa berusaha memahami konteksnya dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW ataupun kebaikan petunjuk itu bagi kehidupan dunia. Hal demikian dapat menyebabkan tumbuhnya pohon yang buruk tercerabut dari buminya.

Kemudahan Dalam Mengenal Perintah Allah

Membentuk pemahaman terhadap kehendak Allah merupakan hal yang mudah bagi orang-orang yang dimudahkan, dan merupakan hal yang sangat sulit bagi orang yang tidak dimudahkan. Allah tidak berbuat tidak adil dalam perkara demikian. Orang-orang yang dimudahkan untuk mengenal kehendak Allah terjadi karena keadaan orang itu, sedangkan sekian banyak manusia yang beriman atau merasa beriman tidak berhasil untuk mengenal pohon thayibah diri dengan usaha keras yang mereka lakukan. Kemudahan orang-orang yang mengenal kehendak Allah terjadi karena Allah memudahkan baginya untuk mengetahui kehendak-Nya. Allah menjelaskan kepada orang-orang demikian sebagian perintah dari perintah-perintah-Nya, maka orang-orang tersebut kemudian mempunyai kemudahan untuk mengenal sebagian dari perintah Allah.

﴾۸۸﴿وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang baik (al-husna), dan akan kami katakan kepadanya perintah dari perintah-perintah kami secara mudah (QS Al-kahfi : 88).

Pengetahuan seseorang tentang perintah Allah berbentuk bagian dari perintah Allah. Manakala seseorang mengenal perintah Allah tanpa mengenal bahwa perintah itu merupakan bagian dari urusan yang lebih besar, ia telah keluar dari al-jamaah. Apabila seseorang mengenal perintah Allah sebagai keseluruhan dari perintah Allah, ia sebenarnya tidak benar-benar mengenal perintah Allah. Hanya Rasulullah SAW yang mengenal keseluruhan dari perintah Allah, sedangkan orang lain mengenal hanya bagian-bagian dari perintah Allah. Sebagian memperoleh bagian yang besar dan sebagian memperoleh bagian yang merupakan penjelasan dari bagian besarnya hingga kadangkala perintah itu berupa amal-amal yang praktis dan fisis. Setinggi-tingginya makhluk, ia mengenal perintah Allah bagi dirinya itu sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW tanpa ada suatu washilah di antaranya, sedangkan kebanyakan manusia mengenal perintah Allah itu sebagai bagian dari washilahnya kepada Rasulullah SAW. Seandainya seseorang belum mengenal washilahnya kepada Rasulullah SAW, setidaknya ia harus mengetahui bahwa perintah Allah itu merupakan bagian dari perintah-perintah Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan perintah yang menjadikan dirinya pemangku tunggal perintah Allah.

Ayat di atas merupakan cuplikan dari perkataan Iskandar Dzulqarnain tentang suatu kaum yang ditemuinya. Iskandar Dzulqarnain mengampu suatu bagian dari perintah Allah yang sebagian seharusnya diberikan kepada orang-orang yang ditemuinya, secara khusus kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Iskandar mengetahui bahwa ia membawa bagian tertentu dari perintah Allah, dan beliau membagikan dari bagiannya kepada orang-orang yang berhak di antara mereka. Bila hidup setelah zaman Rasulullah SAW, tentu beliau mengetahui bagian bagi dirinya dari tuntunan kitabullah Alquran, dan tentu menunjukkan dari kitabullah bagian yang bisa diberikan kepada orang lain, tidak hanya mengatakan urusan mengikuti pendapatnya sendiri.

Pada dasarnya, seseorang dapat memberikan suatu urusan dari Allah kepada orang lain dan sebaliknya seseorang dapat mencari urusannya Allah bagi dirinya melalui orang lain yang telah mengetahui urusan Allah yang terkait urusannya. Hubungan demikian membentuk hubungan washilah satu orang dengan orang lain. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang dapat menemukan secara benar urusan Allah untuk dirinya tanpa melalui orang lain, yaitu selama ia tetap mengetahui landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan mengetahui bahwa urusan Allah itu merupakan bagian dari urusan Allah bagi Aljamaah, bukan urusan Allah yang diberikan secara tunggal. Ia bisa mengenal kebenaran yang ada pada orang lain manakala orang itu menyampaikan kebenaran, dan merupakan keutamaan bila ia dapat mengenali kedudukan kebenaran itu.

Untuk dapat mengenali urusan diri melalui orang lain, seseorang harus beriman dan beramal shalih. Boleh jadi orang tersebut memberitahukan urusan Allah kepadanya, atau Allah menjadikan hatinya memahami urusan itu. Beriman dalam hal ini menunjukkan adanya suatu keyakinan terhadap kebenaran yang disampaikan. Keyakinan itu bukan suatu keyakinan membuta, tetapi berupa keyakinan karena terbentuknya sikap yang benar yang sama dengan berita kebenaran itu. Terdapat dua kondisi untuk hal semacam ini, yaitu (1) berita kebenarannya bernilai benar, dan (2)benarnya sikap orang yang mendengar. Seseorang yang membenarkan berita yang salah atau sebaliknya seseorang yang mendustakan berita yang benar tidak termasuk sebagai keimanan. Tidak terpenuhinya salah satu atau kedua kondisi di atas akan menjadikan seseorang terhalang dari mengenal urusan diri, sedangkan terpenuhinya kedua keadaan di atas akan menjadikan proses mengenal urusan menjadi mudah.

Syarat-syarat itu akan terlihat jelas bila seseorang berurusan dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala suatu berita yang dikatakan sebagai kebenaran bertentangan dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, berita kebenaran itu jelas bernilai salah. Manakala seseorang membenarkan berita yang salah demikian, ia telah bersikap salah. Bila ia mengikuti firman Allah daripada berita kebenaran yang salah, maka ia akan mempunyai kesempatan untuk bersikap benar. Bila ia membenarkan berita yang salah dengan meninggalkan firman Allah, ia tidak dapat dikatakan beriman. Sebaliknya, apabila suatu berita yang benar disampaikan dengan tuntunan kitabullah, hendaknya setiap orang membina dirinya untuk mampu membenarkan berita kebenaran itu hingga ia memahami kebenaran itu. Ia harus meninggalkan kabar kebenaran itu bila terbukti kesalahan logikanya atau ia boleh mengikuti kebenaran lain bila ia menemukan penjelasan yang lebih baik. Dengan jalan demikian, seseorang akan menjadi orang yang beriman hingga dimudahkan untuk mengenal urusan Allah untuk dirinya. Mustahil seseorang jaman ini dapat mengenal urusan Allah bagi dirinya dengan benar tanpa berpegang pada tuntunan Allah.

Pahala Kebaikan Al-husna

Keimanan dan amal shalih akan mendatangkan pahala kebaikan berupa al-husna. Pada bagian besarnya, al-husna berupa pengetahuan tentang kehendak Allah sehingga seseorang dapat beribadah mengikuti pengetahuannya tentang kehendak Allah. Alhusna akan mendatangkan keihsanan dalam beramal. Pengetahuan itu akan menjadi bekal baginya untuk mengenal amr dari amr Allah yang menjadi amanah baginya. Dengan terkumpulnya alhusna pada diri seseorang, Allah akan memfirmankan kepadanya amr-nya dari amr-Nya hingga orang tersebut mengenal suatu amr dari amr-amr Allah.

Tanpa al-husna, manusia akan terjebak dalam suatu waham kebenaran. Banyak orang yang berusaha untuk beramal shalih tetapi tidak keluar dari waham kebenaran mereka. Mereka beramal dengan tujuan dapat mengetahui amr Allah untuk diri mereka tetapi tidak beranjak mengenal perintah itu karena hanya mengikuti waham kebenaran. Hal ini terjadi karena sebenarnya mereka hanya mengikuti perkataan manusia, tidak bersungguh-sungguh ingin mengetahui kandungan firman Allah terkait dengan amal-amal yang mereka lakukan. Bukan berarti seseorang tidak boleh mengikuti langkah manusia lainnya, tetapi hendaknya ia melakukan dengan tetap berpegang pada tuntunan Allah. Kadangkala suatu kaum lebih mengikuti perkataan manusia daripada firman Allah hingga meninggalkan firman Allah yang disampaikan. Hal bukanlah suatu keimanan, karena itu mereka tidak memperoleh al-husna. Amal-amal shalih yang mereka lakukan bukanlah amal-amal shalih karena tidak mempunyai landasan keimanan, maka amal-amal itu tidak mendatangkan kemudahan dalam mengenal amr Allah.

Suatu kebenaran tertentu bisa menjadi penghalang bagi kebenaran yang lain karena syaitan memanfaatkan hawa nafsu manusia dan kebodohan mereka. Misalnya Rasulllah SAW menggunakan sistem kalender bulan, kemudian sebagian kaum bersikap berlebih-lebihan, membanggakan sistem kalender tunggal yang mereka ikuti hingga mencela orang-orang yang menggunakan sistem kalender matahari. Sikap demikian merupakan kebodohan dalam mengikuti kebenaran, karena matahari termasuk dalam ayat Allah dan sangat banyak manfaat dalam sistem kalender matahari. Banyak kasus lain terjadi yang menunjukkan suatu kebenaran menutup kebenaran yang lain, termasuk dalam urusan amr Allah. Karena sikap demikian, manusia tidak dapat mengenal kebenaran ayat-ayat Allah yang dihamparkan bagi mereka. Hal demikian terjadi karena manusia mengikuti kebenaran tanpa menggunakan akal untuk mengenal kebenaran hakikat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka tidaklah mengenal al-husna yang dapat mengenalkan kepada amr Allah.

Di jaman ini, tidak sah bagi seseorang mengampu suatu urusan tanpa mengetahui landasannya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak sah belum tentu salah, tetapi menunjukkan bahwa mungkin Allah tidak benar-benar menyampaikan perintah-Nya kepada sang hamba. Mungkin hamba itu harus belajar lebih banyak hingga kualifikasi tertentu sedemikian layak untuk disahkan. Bila diibaratkan dengan pekerjaan pembangunan jembatan, seorang pengawas pekerjaan beton harus mengetahui bentuk dan tempat beton dituangkan, mengetahui kualitas beton memenuhi syarat kekuatan dan kemudahan dibentuk, serta beton tidak menjadi debu ketika beban kendaraan melintas. Pengawas itu mengetahui rancangan pembuatan jembatan dan mengetahui cara pelaksanaan pekerjaan dirinya secara tepat untuk pembangunan jembatan secara keseluruhan. Ia tidak bekerja sendiri menuangkan beton dan mencetaknya secara sembarangan tanpa mengikuti rencana pembangunan. Ia tidak boleh melaksanakan pekerjaan berdasarkan perintah dari orang yang tidak berhak untuk memerintahkan. Demikian gambaran bahwa suatu ayat kitabullah harus diketahui kandungan maknanya dan implikasi teknis yang harus dipenuhi oleh seorang hamba dalam melaksanakan perintah Allah yang diperuntukkan bagi dirinya, tidak boleh digunakan atau dilaksanakan secara serampangan.





Selasa, 11 Februari 2025

Kalimah Thayibah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Hendaknya setiap orang memperhatikan langkah dirinya dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan menumbuhkan kalimah thayibah dalam diri, yaitu sebagaimana pohon thayibah yang akarnya teguh ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Ini adalah keadaan yang harus terbentuk pada diri setiap muslim dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Tanpa membentuk kalimah thayibah, seseorang yang berjihad tidak dapat dikatakan sebagai pengikut Rasulullah SAW karena mungkin jihad mereka hanya mengikuti hawa nafsu sendiri.

﴾۴۲﴿أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (QS Ibrahim : 24)

Pohon thayibah demikian merupakan pemahaman yang terbentuk pada diri seseorang terhadap cahaya Allah karena terbentuknya misykat diri. Manakala nafs manusia menjadi nafs yang dibersihkan sedangkan jasmani mereka ikhlas menghadap kepada Allah, nafs itu akan memperoleh kemampuan membentuk suatu bayangan dalam dirinya dari cahaya kehendak Allah berupa kalimah thayibah atau pohon thayibah. Jasmani manusia hendaknya dapat mengikhlaskan dirinya semata-mata untuk beribadah kepada Allah, tidak menginginkan banyak hal yang lain karena keinginan terhadap banyak hal akan menjadi lubang-lubang yang mengganggu terbentuknya bayangan kehendak Allah dalam misykat diri. Ibarat kamera yang retak badannya tidak akan membentuk bayangan yang baik, demikian pula banyaknya keinginan jasmani manusia akan menimbulkan gangguan terbentuknya bayangan cahaya Allah. Nafs manusia ibarat lensa yang mengatur fokus cahaya hingga terbentuk bayangan, nafs itu harus bersih dari noda-noda dan dapat bergerak mencari fokus yang sesuai untuk cahaya yang datang.

Hendaknya setiap orang beriman memperhatikan perintah Allah tentang permitsalan kalimah thayibah yang harus dibentuk dalam diri masing-masing. Kalimah thayibah itu harus membentuk pohon thayibah diri yang akarnya teguh menghunjam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon thayibah itu hanya akan terbentuk pada misykat cahaya yang baik, yaitu jasmani manusia yang ikhlas dalam beribadah kepada Allah sedangkan nafs mereka menjadi bola kaca jernih yang dapat membaca ayat-ayat Allah secara tepat. Manakala terbentuk bayangan dari kehendak Allah berupa pohon thayibah, pohon thayibah itu harus membentuk perakaran yang teguh kepada alam bumi mereka sedangkan cabangnya menjulang ke langit mencari cahaya Allah.

Berakar ke Bumi

Pohon thayibah tidak boleh tumbuh tanpa mempunyai akar di bumi, karena pohon yang tercerabut dari buminya adalah pohon yang buruk. Dogma-dogma agama yang tidak mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di bumi atau justru mendatangkan kerusakan di muka bumi merupakan pohon yang buruk, pohon yang tercerabut akarnya dari bumi tidak dapat tegak menunaikan kehendak Allah. Setiap orang hendaknya berusaha menumbuhkan pohon yang paling kokoh berakar ke dalam bumi dengan mengikuti perkataan-perkataan yang baik, tidak hanya mengikuti perkataan-perkataan manusia dengan mengabaikan nilai manfaat yang harus diwujudkan di muka bumi.

Hal ini hendaknya disikapi dengan penuh hati-hati karena sangat mudah menggelincirkan manusia untuk mendustakan tuntunan Allah. Manakala suatu ajaran Allah digunakan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat atau mendatangkan madlarat, maka manusia yang mengikuti itulah yang merupakan pohon yang buruk, bukan tuntunan Allah yang mereka gunakan. Manakala suatu ajaran Allah dipahami dengan hawa nafsu buruk atau justru iktikad yang tidak baik, akan terbentuk suatu bayangan yang merupakan pohon yang buruk. Kesalahan demikian bukan pada tuntunan Allah, tetapi terdapat pada manusia yang menggunakannya. Hal demikian harus diperhatikan oleh orang beriman agar tidak mudah tergelincir mendustakan tuntunan Allah.

Berakarnya manusia di bumi ditunjukkan dengan karya-karya dan amal shalih. Terdapat beberapa sumber dalam diri manusia yang dapat memunculkan kekaryaan, baik berupa hawa nafsu, keinginan berkasih-sayang kepada orang lain ataupun keinginan mewujudkan kehendak Allah. Karya-karya yang bersumber dari hawa nafsu akan memberikan kepuasan bagi hawa nafsu baik diri sendiri atau orang lain atau sebaliknya justru kedengkian dari orang lain, terlahir sebagai pewujudan ego diri yang kadangkala tidak mempunyai landasan kebutuhan yang baik dan nyata pada umat. Suatu keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain akan melahirkan karya yang memberikan manfaat besar bagi manusia. Kekaryaan demikian terlahir melalui suatu kesadaran tentang kebutuhan umat terhadap karya tersebut, karenanya akan memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Karya yang bersumber dari kehendak Allah akan memberikan suatu penataan yang baik di bumi dalam berbagai tingkatan alam yang terkait.

Tidak semua karya yang merupakan akar pohon thayibah di bumi harus melahirkan benda fisik. Penataan umat termasuk sebagai akar pohon thayibah di bumi sekalipun tidak langsung terwujud benda fisik. Kadangkala penataan umat mendatangkan kemakmuran di tingkat fisik setelah berbagai tahapan proses. Bahkan kebaikan dari produk-produk fisik hampir selalu terjadi setelah penataan umat dilakukan. Mustahil suatu kaum yang berantakan dapat mewujudkan kemakmuran fisik kecuali hanya kemakmuran yang timpang. Suatu perusahaan tidak akan produktif manakala para pemegang urusan hanya mengikuti hawa nafsu sendiri. Sekalipun pemegang urusan itu ahli pada bidangnya, mungkin anak buah dan kolega yang terkait tidak memberikan dukungan untuk pekerjaannya hingga bagian yang dipimpin tidak dapat produktif. Setiap pemegang urusan harus dipilih dari orang-orang yang mempunyai perhatian lebih baik terhadap urusan umat dan dapat menguatkan pihak yang terlibat, bukan hanya orang yang ingin menonjolkan kemampuan dirinya. Sekalipun ahli, orang yang ingin dipandang di antara masyarakat akan mendatangkan kesulitan dengan hawa nafsunya. Di tingkatan lebih tinggi, para pemimpin hendaknya dapat memahami kehendak Allah untuk urusan ruang dan jamannya, tidak semata-mata hanya memegang penataan umat tanpa suatu pemahaman terhadap kehendak Allah hanya ikut-ikutan memegang urusan saja. Penataan umat sebenarnya merupakan landasan utama dalam membuat kemakmuran di semua tingkatan termasuk dalam tingkat jasmaniah.

Ketercerabutan suatu pohon dari buminya ditunjukkan dengan tidak adanya manfaat pada buah-buah yang dihasilkan. Kadangkala seseorang memperoleh pemahaman-pemahaman yang menyimpang dari tuntunan Allah sedemikian orang-orang yang mengikutinya tidak bisa memperoleh manfaat dari pemahaman-pemahaman yang diterimanya. Hal demikian menunjukkan bahwa pohon itu tercerabut dari bumi. Pada wujudnya, pohon yang buruk itu berbentuk pohon, dengan akar dan cabang-cabang yang tumbuh, tetapi pengetahuan dari pohon itu tidak memberikan manfaat dalam kehidupan di bumi. Manakala seseorang menerima petunjuk, hendaknya ia berusaha menemukan manfaat dari petunjuknya dalam kehidupan termasuk kehidupan di bumi. Kadangkala seseorang menerima suatu petunjuk dan mendewakan petunjuk itu sebagai firman Allah tanpa mengetahui makna petunjuknya, baik dengan dasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun berdasarkan manfaatnya bagi kebaikan dalam kehidupan di alam dunia. Atau suatu kaum boleh jadi mengikuti suatu petunjuk pada seseorang di antara mereka tanpa berusaha memahami konteksnya dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW ataupun kebaikan petunjuk itu bagi kehidupan dunia. Hal demikian dapat menyebabkan tumbuhnya pohon yang buruk tercerabut dari buminya.

Di sisi lain, tidak jarang manusia memandang pohon yang baik sebagai pohon yang buruk hanya karena keterbatasan orang yang memandangnya. Seseorang mungkin memahami sesuatu yang tinggi dan akibatnya ke alam bumi, sedangkan orang lain hanya mengetahui hubungan sebab akibat yang terjadi secara langsung. Seseorang yang membentuk pohon thayibah kadangkala mempunyai pemahaman yang tinggi hingga seseorang yang lain mungkin tidak dapat melihat nilai manfaat dari pemahaman demikian. Cara pandang demikian tidak menunjukkan bahwa pohon thayibah itu tercerabut dari buminya. Orang-orang yang tidak memahami itulah yang harus meningkatkan kekuatan akalnya. Dalam keadaan ini, sangat banyak waham dan syaitan yang akan menghalangi seseorang untuk dapat memahami nilai dari kebenaran yang ada pada kalimah thayibah. Meskipun seseorang dengan pohon thayibah tertentu dapat menjelaskan dengan baik keterkaitan ilmunya terhadap kehendak Allah dengan suatu kebaikan yang akan terwujud di bumi, orang-orang yang terhalang waham mungkin akan tetap memandang bahwa ilmu itu terlalu melangit tidak membumi. Boleh jadi mereka tidak dapat memahami bahwa mungkin saja orang lain mempunyai urusan yang berbeda dengan dirinya, sehingga tidak mampu memperoleh imbasan manfaat dari pohon thayibah karena pohon itu mengeluarkan buah hanya dalam bentuk tertentu yang tidak sesuai dengan akalnya. Karena demikian  ia kemudian mengatakan bahwa pohon thayibah itu tidak berakar ke bumi.

Misalnya boleh jadi seseorang melihat kesyirikan dalam bentuk tertentu di antara orang-orang beriman dan melihat kerusakan yang akan menyertainya, hal demikian mungkin tidak disadari oleh orang lain. Dalam kasus demikian, seseorang mungkin saja melihat dengan jelas hakikat-hakikat yang terjadi di antara mereka dan mengetahui hal-hal kebumian yang terkait dengan apa-apa yang terjadi sedangkan orang lain tidak dapat memahami perkataan yang disampaikan terkait dengan hakikat-hakikat itu. Ketika seseorang dengan pohon thayibah tidak mengerjakan sesuatu yang sama dengan orang lainnya mungkin ia dikatakan tidak berakar ke bumi. Persangkaan demikian tidak tepat. Kaum muslimin hendaknya berusaha untuk memahami buah-buah kebenaran yang mungkin diberikan oleh sahabatnya walaupun dalam bentuk yang tidak sesuai gambaran yang dibayangkannya, tidak terkurung dalam waham sendiri. Manakala suatu buah dari suatu pohon thayibah terasa tidak memberikan manfaat, boleh jadi akalnya terlalu lemah untuk memanfaatkan buah dari pohon itu, bukan karena pohon itu pohon yang tercerabut dari akarnya.

Cabangnya Di Langit

Ciri lain tumbuhnya pohon thayibah pada diri seseorang adalah cabang-cabangnya merentang ke langit. Mereka adalah orang-orang yang menyukai cahaya Allah hingga cabang-cabang mereka merentang ke langit mencari cahaya Allah. Cahaya Allah itu adalah ayat-ayat Allah yang terhampar di alam kauniyah dan ayat-ayat yang diturunkan berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan cabang-cabang pohon itu adalah cara berpikir yang lurus dan akal yang lurus dalam memahami ayat-ayat-Nya. Ayat-ayat Allah itu tidak hanya dipahami sebagai suatu set aturan yang harus dipatuhi, tetapi juga dipahami sebagai petunjuk Allah untuk memperoleh jalan kehidupan yang paling baik. Manakala akal mereka belum memahami petunjuk-Nya, mereka mentaatinya. Manakala pendapat dirinya bertentangan dengan petunjuk-Nya, ia mengetahui kebodohan dirinya dalam urusan itu, tidak sedikitpun menganggap bahwa pendapatnya lebih benar daripada firman Allah, atau menganggap Allah sebenarnya tidak memberikan petunjuk firman tentang kesalahan pendapatnya.

Cabang dan akar yang terbentuk itu membuat suatu kesatuan dengan alam bumi mereka hingga seseorang yang telah menumbuhkan pohon thayibah akan mempunyai kedudukan yang kuat di muka bumi disertai dengan pengetahuan yang memadai untuk kedudukan dirinya. Cabang itu tidak tumbuh sendiri terpisah dari akarnya, dan akarnya tidak tercerabut dari buminya. Petunjuk Allah yang diterima tidaklah merupakan petunjuk yang terpisah dari kehidupan jasmaniah, dan akalnya merupakan penghubung yang mengolah petunjuk dari langit hingga terhubung dengan buminya. Petunjuk dari langit itu tidak hanya digunakan untuk kehidupan cabang-cabang yang terentang di langit, tetapi juga digunakan oleh keseluruhan entitas pohon dan juga untuk bumi tempat pertumbuhannya. Petunjuk itu bukan sesuatu petunjuk yang hanya dapat diikuti oleh nafsnya saja, tetapi suatu petunjuk yang dapat dikenali makna dan nilainya di alam bumi setelah diterima oleh daun dan cabang-cabangnya yang menjulang ke langit. Kesatuan cabang dan akar itu menjadikan suatu petunjuk mempunyai nilai dan makna bagi kehidupan bumi.

Keadaan di atas merupakan tujuan ideal yang harus dicapai oleh orang beriman dalam menumbuhkan kalimah thayibah. Dalam prakteknya, tidak jarang orang-orang yang beriman bahkan para nabi yang tersingkir dari umatnya karena penolakan umatnya. Manakala suatu kaum tidak dapat memahami kebenaran yang disampaikan oleh seseorang di antara mereka, petunjuk-petunjuk Allah itu tidak akan dapat mewujud di alam lahiriah. Keberhasilan pewujudan petunjuk Allah itu akan selaras dengan penerimaan umat manusia terhadap kebenaran yang disampaikan kepada mereka. Bila suatu kebenaran diikuti oleh umat manusia, umat manusia pasti akan memperoleh manfaat dari kebenaran yang mereka ikuti. Sebaliknya kadangkala suatu kaum mengikuti apa yang mereka katakan sebagai kebenaran tetapi tidak mendatangkan manfaat bagi kehidupan mereka. Hal demikian bisa menjadi tanda bahwa kebenaran itu hanya waham, atau kaum tersebut tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti kebenaran. Kadangkala suatu kebenaran bercampur dengan waham yang menjadikan manusia menjadi mandul. Puncak dari kegagalan seseorang dalam menyampaikan petunjuk Allah akan terjadi manakala seorang isteri menolak kebenaran Allah yang disampaikan oleh suaminya. Kadangkala seorang isteri tidak dapat memahami kebenaran yang ada pada suaminya tetapi tidak pula menolak kebenaran itu. Hal itu merupakan ketidaksuburan yang ada terjadi pada kaum perempuan yang akan menghambat terwujudnya petunjuk Allah di alam dunia. Hal ini tidak menunjukkan bahwa pohon thayibah pada diri seseorang tercerabut, tetapi kekurangan akal pada umat atau isterinya. Secara khusus, tercerabutnya seseorang dari isterinya bisa menunjukkan gejala yang sama dengan pohon yang buruk.

Ketidaksuburan seorang perempuan atau suatu kaum terhadap kebenaran sangat dipengaruhi oleh waham-waham yang tumbuh di antara mereka. Kadangkala suatu kaum tidak berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mengikuti kebenaran, maka mereka mengikuti hal-hal yang tampak dalam pandangan mereka sebagai suatu kebenaran sedangkan mungkin hal-hal itu tidak sesuai dengan firman Allah. Suatu kaum mungkin tumbuh hingga mempunyai mata, telinga dan qalb pada bathiniah mereka tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat Allah. Kebenaran yang mereka ikuti demikian hanyalah sebuah waham kebenaran, sedangkan mereka tidak mempunyai keberanian untuk mengikuti kebenaran. Kadangkala suatu kaum meletakkan kebenaran pada apa-apa yang mendatangkan keuntungan untuk diri mereka. Ada pula kaum yang meletakkan kebenaran pada apa yang dikatakan sebagai kebenaran tanpa mengetahui nilainya. Suatu nilai kebenaran harus ditimbang berdasarkan tujuan pembinaan cinta kasih di antara manusia, maka manusia akan mengetahui nilai kebenaran yang seharusnya diperjuangkan. Cinta kasih itu adalah cinta kasih yang diajarkan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang mendatangkan keberjamaahan dalam kebenaran, bukan sembarang cinta kasih yang kadangkala bersifat kotor. Dengan pembinaan pikiran dan akal yang benar, seorang perempuan atau suatu kaum akan terhindar dari ketidaksuburan terhadap kebenaran.

Rabu, 05 Februari 2025

Amanah Dan Pemakmuran Bumi

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kembali kepada Allah akan ditemukan oleh orang-orang beriman manakala mereka mengenali amanah yang diberikan kepada mereka. Allah telah menggelar amanah-amanah bagi para makhluk tetapi para makhluk itu menolak untuk mengemban amanah-amanah tersebut karena mereka khawatir akan mengkhianatinya. Manusia lah makhluk yang mau mengemban amanah-amanah Allah itu.

﴾۲۷﴿إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir memikulnya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QSAl-Ahzaab : 72)

Amanah Allah yang digelar di hadapan para makhluk tersebut adalah amanah pemakmuran bumi. Amanah itu merupakan sesuatu yang besar yang berat untuk dipikul oleh makhluk sedemikian makhluk-makhluk besar menolak untuk memikulnya. Langit menolak amanah itu, demikian pula bumi dan gunung-gunung menolaknya. Barangkali bila mereka itu sekalipun diberi amanah bersama-sama akan tetap menolak amanah itu sedangkan mereka itu mempunyai kekuatan masing-masing yang sangat besar untuk memberikan kemakmuran bagi kehidupan di bumi. Manakala Allah menggelar amanah itu, tentulah peristiwa penggelaran itu dilakukan di hadapan makhluk-makhluk yang dinilai mempunyai kemampuan untuk pemakmuran bumi. Hanya manusia saja yang mau memikul amanah Allah sedangkan makhluk-makhluk yang lain menolaknya. Sebenarnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh dalam menerima amanah Allah. Kemampuan manusia untuk melakukan pemakmuran terpendam dalam-dalam, bahkan kebanyakan manusia pada dasarnya tidak mempunyai pengetahuan tentang amanah itu dan tidak mencium aroma adanya kemampuan melakukan pemakmuran.

Langit, bumi dan gunung-gunung merupakan makhluk-makhluk yang mempunyai potensi pemakmuran yang sangat besar di bumi. Pada masa ini, mereka berbuat hanya mengikuti natur masing-masing tidak sungguh-sungguh mengerahkan suatu usaha untuk memberikan pemakmuran di bumi, tetapi dengan natur demikian itu mereka telah memberikan pemakmuran. Sebenarnya manusia dapat melakukan pemakmuran dengan mengikuti proses-proses pada makhluk-makhluk tersebut, mengukur potensi-potensi yang ada pada langit, bumi dan gunung-gunung dengan natur proses pada mereka saat ini, dan seharusnya manusia mempunyai pemahaman terhadap potensi yang dapat dilakukan oleh makhluk-makhluk tersebut. Secara umum, terlalu sedikit upaya manusia dalam memahami secara integratif potensi-potensi yang bisa dimanfaatkan manusia dari langit, gunung dan bumi, dan terlalu besar kerusakan yang diperbuat manusia terhadap mereka. Sebenarnya ada potensi besar yang tersimpan pada mereka bila mereka diperintahkan untuk memberikan pemakmuran, dan hal demikian dapat dilakukan oleh manusia atas ijin Allah apabila manusia dapat mengenal kehendak Allah yang terhampar pada makhluk-makhluk tersebut.

Manusia merupakan makhluk yang sangat dzalim dan sangat bodoh. Dzalimnya manusia dapat dilihat pada keberanian mereka menempuh langkah-langkah kehidupan tanpa suatu keterangan atau dengan mengabaikan penjelasan dan realitas yang ada. Orang-orang yang dapat bertindak tanpa suatu pengertian atau pemahaman yang benar terhadap suatu masalah, atau bahkan bertindak dengan mengabaikan realitas, mereka itu adalah makhluk yang dzalim. Kebodohan manusia dapat dilihat pada perbuatan yang dilakukan tanpa menimbang kebaikan dan keburukan yang dapat ditimbulkan bagi makhluk yang lain, yang seringkali dilakukan untuk keuntungan diri sendiri. Orang-orang yang melakukan kebodohan seringkali tidak mengetahui kebodohan diri mereka sendiri, dan akibat buruk dari apa-apa yang mereka lakukan ditanggung oleh orang lain. Dampak dari kebodohan seseorang seringkali menimpa orang lain tanpa disadari oleh yang melakukan kebodohan. Sifat-sifat demikian itu melekat pada diri manusia.

Ketakwaan Dalam Proses Pemakmuran

Sekalipun demikian, Allah benar-benar berbuat adil terhadap para makhluknya termasuk manusia yang telah berbuat bodoh dan dzalim. Ada jalan sempit yang bisa dilakukan oleh orang-orang beriman agar ia dapat mengenal amanah bagi diri masing-masing, tidak melakukan kerusakan yang banyak di muka bumi, dan dapat mengendus adanya kemampuan dalam dirinya untuk melakukan hal-hal terkait pemakmuran. Dengan proses yang panjang, para manusia dapat melaksanakan amanah yang harus ditunaikan di bumi. Manusia dapat memahami atau menyalin kemampuan-kemampuan yang ada pada langit, bumi dan gunung-gunung sehingga mereka dapat melakukan pemakmuran di bumi. Bila manusia tidak menempuh jalan yang ditentukan bagi mereka, mereka sebenarnya merupakan makhluk yang sangat bodoh dan dzalim yang banyak melakukan kerusakan di muka bumi.

Jalan sempit itu adalah ketakwaan kepada Allah dan berkata secara tepat. Dengan ketakwaan kepada Allah dan berkata secara tepat, amal-amal manusia akan menjadi tepat dan Allah mengampuni dosa-dosa yang dilakukan manusia.

﴾۰۷﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
﴾۱۷﴿يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
(70) Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (71) niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.(QS Al-Ahzaab : 70-71)

Ketakwaan menunjukkan pada terwujudnya amal berdasarkan suatu pemahaman terhadap kehendak Allah dan amal itu ditunaikan sesuai dengan kehendak-Nya. Bentuk ketakwaan itu tidak hanya berdasarkan pemahaman dalam bentuk-bentuk emosional tanpa suatu bentuk turunan yang nyata di bumi. Bentuk ketakwaan itu mempunyai bentuk-bentuk nyata setidaknya berupa ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah SAW. Dalam tingkatan praktis, ketakwaan itu berupa pemahaman terpadu terhadap ayat kauniyah dan ayat kitabullah, sedemikian seseorang itu terlihat secara nyata memahami kehendak Allah dengan tepat sesuai dengan kauniyah yang terjadi. Ketakwaan tidak bisa terwujud hanya berdasarkan suatu persepsi tertentu tanpa suatu pemahaman terhadap ayat-ayat Allah. Allah menggelar ayat-ayat yang sangat banyak bagi manusia yang akan menunjukkan manusia pada kehendak-Nya secara nyata.

Ayat-ayat itu berupa ayat-ayat kauniyah ataupun ayat-ayat kitabullah. Apabila manusia berusaha untuk memahami ayat-ayat kauniyah berdasarkan tuntunan kitabullah, ayat-ayat itu akan menunjukkannya pada kehendak-Nya. Apabila seorang hamba berusaha untuk beramal sesuai dengan kehendak-Nya, ia telah berusaha melakukan amal berdasarkan suatu ketakwaan. Barangkali tidak semua orang dapat memahami ayat Allah dengan tepat, tetapi apabila ada suatu keikhlasan dalam diri seorang hamba untuk memahami kehendak-Nya dengan benar dan melaksanakan kehendak itu, ia telah mempunyai ketakwaan. Kekurangan dalam pemahaman itu akan tertutupi bila seseorang bertakwa dan mengatakan suatu ayat Allah secara tepat.

Ada tingkatan-tingkatan dalam ketakwaan. Sebagian hamba mempunyai ketakwaan yang lebih baik daripada hamba yang lain. Tingkatan-tingkatan ketakwaan itu menunjukkan kemuliaan seorang hamba dibandingkan hamba yang lain dalam pandangan Allah. Tingkatan ketakwaan itu ditunjukkan dengan tingkat pemahaman seseorang terhadap ayat-ayat Allah dan pelaksanaan dari kehendak-Nya tersebut. Tingkatan itu tidak bisa diukur mengikuti hawa nafsu manusia. Tidak jarang manusia memandang baik apa-apa yang buruk tetapi dibungkus dengan sesuatu yang baik atau sesuatu yang dijadikan syaitan indah dalam pandangan manusia. Dan tidak sedikit manusia memandang buruk sesuatu yang baik sedangkan yang baik itu difitnah baik oleh manusia ataupun alam syaitan. Ketakwaan seseorang harus diukur berdasarkan pemahamannya terhadap ayat-ayat Allah dan tuntunan Rasulullah SAW, serta dari amal-amal yang dilahirkan dari pemahamannya tersebut.

Mengukur ketakwaan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan akal dalam memahami kehendak Allah secara tepat. Setiap orang beriman harus berusaha mengikuti perkataan yang terbaik, selain mengatakan yang terbaik secara tepat. Hal ini sangat penting dilakukan agar setiap orang dapat memperoleh tempat yang baik dalam al-jamaah. Bila manusia mengukur ketakwaan secara sembarangan, ia akan mudah tertipu oleh makhluk-makhluk. Bila manusia berusaha mengukur dengan dengan benar ketakwaan di antara manusia, ia akan memperoleh kemampuan untuk mengenal kehendak-kehendak Allah dengan benar, dengan tujuan terutama mengenal kehendak Allah untuk dirinya sendiri, ataupun kehendak Allah untuk semesta diri mereka.

Secara jamaah, manusia akan membentuk al-jamaah secara benar dengan mengukur ketakwaan orang-orang di antara mereka dan menempatkannya sesuai kedudukannya. Kedudukan dalam suatu jamaah hendaknya diberikan kepada orang-orang sesuai dengan ketakwaan masing-masing. Menempatkan orang pada urusannya hanyalah omong kosong apabila suatu jamaah tidak mengukur ketakwaan yang ada di antara mereka secara tepat. Orang yang bertakwa ditunjukkan dengan pemahaman mereka terhadap tuntunan Allah. Bila manusia tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mengukur ketakwaan, jamaah yang terbentuk akan terbalik-balik. Orang-orang yang menginginkan popularitas sangat mungkin menjadi orang-orang yang mempunyai kuasa di antara jamaah, sedangkan orang yang benar ketakwaannya mungkin harus tersingkir dari urusan mereka. Bila demikian terjadi, menempatkan orang pada urusannya hanya akan menjadi omong kosong.

Orang-orang yang bertakwa hendaknya ditempatkan pada kedudukan sesuai dengan ketakwaannya, adapun orang-orang yang kurang bertakwa mempunyai kedudukan yang lebih bebas dalam al-jamaah. Orang yang kurang bertakwa bisa saja mengejar keinginan-keinginan mereka sendiri baik secara kasat mata ataupun keinginan dalam bungkus-bungkus ruhaniah. Selama urusan orang-orang yang bertakwa diberikan dengan benar, orang-orang yang mengejar keinginan sendiri akan terkendali, tidak mudah terjatuh dalam kedzaliman dan kebodohan yang merugikan orang banyak. Bila orang-orang yang bertakwa tidak memperoleh kedudukan di antara masyarakat, orang-orang yang dzalim dan bodoh akan merajalela berbuat untuk keinginan mereka sendiri. Bila suatu jamaah terlalu disibukkan dengan mengatur orang-orang yang tidak bertakwa, urusan mereka akan menjadi sangat besar sedangkan orang yang mengatur urusan mungkin kurang cukup. Hal ini tidak berarti boleh mengabaikan orang banyak, tetapi hendaknya suatu jamaah berusaha sungguh-sungguh untuk memberikan hak dan kewajiban orang banyak sesuai dengan ketakwaan masing-masing.

Takwa dengan Berpegang Pada Tuntunan Allah

Ketakwaan yang sesungguhnya akan tercapai oleh manusia manakala seseorang memahami kehendak Allah dalam penciptaan dirinya. Allah telah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal yang menjadi sarana bagi dirinya untuk bertaubat kembali kepada Allah menempuh jalan langitnya dalam mi’raj kepada Allah. Amal-amal yang ditetapkan Allah itu adalah amanah diri setiap orang. Tidak semua orang mengetahui amanah dirinya sekalipun ia telah benar-benar telah diberi amanah itu.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Israa’ : 13)

Kelak ketetapan amal-amal itu akan dijumpai seseorang sebagai kitab yang terbuka sebagai pembanding terhadap amal-amal yang dilakukan. Amal-amal itu akan menjadi sumber bagi timbangan diri seseorang. Seseorang yang beramal secara tepat sesuai kehendak Allah akan menemukan keterbukaan hakikat dari apa yang diamalkannya, dan hakikat itu akan menjadi bobot timbangan amal-amalnya. Seseorang yang banyak beramal secara tepat akan memperoleh hakikat-hakikat dalam bobot yang besar, sedangkan orang yang beramal tanpa mengetahui atau mempertimbangkan ketetapan Allah tidak akan mengisi pengetahuan hakikat, maka timbangan mereka akan ringan di hadapan Allah.

Pelaksanaan amal yang ditentukan bagi diri seseorang tidak boleh dilakukan secara sembarang tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah Alquran. Amal-amal yang ditetapkan itu akan mendatangkan hakikat manakala sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran. Seseorang akan mengetahui bobot amalnya berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran, karena seluruh hakikat yang digelar Allah terdapat dalam kitabullah Alquran. Manakala suatu amal dilakukan tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, seseorang mungkin tidak memperoleh bobot yang layak bagi amal yang dilakukannya. Secara khusus, syaitan sangat berkepentingan terhadap amal-amal dalam jenis demikian karena dapat digunakan secara efektif untuk menipu manusia dalam jumlah besar. Mungkin tidak hanya ringan bobot timbangan hakikatnya, boleh jadi orang yang melakukan amal yang ditentukan baginya harus menanggung kesalahan dari banyak orang yang mengikuti. Secara umum, orang yang mengetahui amal yang ditentukan bagi dirinya akan mengetahui ayat-ayat kitabullah yang terkait dengan amal-amalnya, tetapi bukan tidak mungkin seseorang lalai dalam memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Amal-amal yang ditentukan ini merupakan bentuk amanah yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Setiap manusia memiliki amanah masing-masing yang harus ditunaikan, dan memperoleh bagian amanah yang harus disampaikan kepada orang-orang lain yang berhak atas amanahh itu. Amanah itu tidak bersifat individual, tetapi terkait antara satu orang dengan orang yang lain, dan keseluruhan amanah yang diberikan kepada manusia merupakan bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW. Terkait dengan hubungan demikian, setiap amanah yang diberikan kepada manusia merupakan bagian dari kitabullah Alquran, karena itu pelaksanaan amanah itu harus dilakukan sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran tidak boleh melaksanakan dengan tujuan dan cara-cara sendiri yang bertentangan dengan tuntunan. Pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dalam melaksanakan amanah ini merupakan hakikat yang menjadi bobot manusia, tidak hanya pelaksanaannya saja.







Minggu, 02 Februari 2025

Amal Shalih Sebagai Amanah dan Nafs Wahidah

Amal yang Ditetapkan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara langkah mengikuti Rasulullah SAW adalah bekerja dengan mengerjakan amal shalih yang sesuai dengan keadaan masing-masing. Allah telah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal yang menjadi sarana bagi dirinya untuk bertaubat kembali kepada Allah menempuh jalan langitnya dalam mi’raj kepada Allah. Amal-amal yang ditetapkan Allah itu adalah amanah diri setiap orang. Tidak semua orang mengetahui amanah dirinya sekalipun ia telah benar-benar telah diberi amanah itu.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Israa’ : 13)

Kelak ketetapan amal-amal itu akan dijumpai seseorang sebagai kitab yang terbuka sebagai pembanding terhadap amal-amal yang dilakukan. Amal-amal itu akan menjadi sumber bagi timbangan diri seseorang. Seseorang yang beramal secara tepat sesuai kehendak Allah akan menemukan keterbukaan hakikat dari apa yang diamalkannya, dan hakikat itu akan menjadi bobot timbangan amal-amalnya. Seseorang yang banyak beramal secara tepat akan memperoleh hakikat-hakikat dalam bobot yang besar, sedangkan orang yang beramal tanpa mengetahui atau mempertimbangkan ketetapan Allah tidak akan mengisi pengetahuan hakikat, maka timbangan mereka akan ringan di hadapan Allah.

Orang yang mengetahui jalan kehidupan yang harus ditempuh adalah orang yang memperoleh petunjuk. Boleh jadi terbina pada diri seseorang suatu pengetahuan tentang keadaan semesta berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau suatu pengetahuan tentang sosok pemimpin yang harus diikuti, atau suatu hembusan pengetahuan tentang nafs wahidah dirinya, atau suatu pengetahuan tentang jodoh bagi dirinya, dan/atau pengetahuan-pengetahuan lain yang menjadikan diri seseorang mengetahui jalan kehidupan yang seharusnya ditempuh. Dalam beberapa hal, petunjuk jalan itu berupa suatu pengetahuan yang diturunkan dari khazanah nafs wahidah, dan dalam hal lain petunjuk jalan diperoleh melalui pengamatan-pengamatan inderawi. Puncak dari petunjukakan mengarah pada suatu kesatuan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang harus ditempuh yang dikatakan sebagai shirat al-mustaqim.

Kebenaran suatu petunjuk bergantung pada kesesuaiannya dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kitab yang dijumpai seseorang terbuka di akhirat kelak merupakan penjelasan dan perincian dari ayat-ayat kitabullah Alquran yang diperuntukkan bagi seorang hamba, tidak menyimpang sedikitpun darinya. Boleh jadi seseorang yang mengetahui kitab dirinya menemukan suatu penjelasan yang tampak tidak benar-benar terhubung dengan kitabullah Alquran, maka penjelasan demikian boleh jadi berasal dari hawa nafsu dirinya atau dari syaitan. Setiap penjelasan yang terbuka kepada diri seseorang hendaknya ditimbang dengan tuntunan kitabullah Alquran, karena seluruh amal yang dikalungkan kepada diri seorang hamba benar-benar hanya merupakan bagian dari kitabullah Alquran. Kitabullah Alquran merupakan induk dari amal yang dikalungkan pada diri setiap hamba Allah.

Memahami Amanah dan Nafs Wahidah

Gambaran dari hubungan amal dan ayat kitabullah bisa ditemukan pada syaikh-syaikh yang membimbing perjalanan jiwa umat manusia. Tidak jarang seorang syaikh mengulang-ulang pembacaan suatu ayat tertentu yang harus mereka sampaikan kepada murid-muridnya karena ayat tersebut merupakan amanah yang harus ditunaikan dirinya. Misalnya boleh jadi seorang syaikh menekankan pentingnya suatu ayat tentang pembinaan diri para murid sebagaimana ayat tersebut di bawah :

﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A’raaf : 179)

Ayat tersebut merupakan pedoman yang diberikan kepada sang syaikh tentang kondisi yang terjadi atau akan terjadi pada umatnya, sebagai amanah yang harus ditunaikan kepada umatnya. Pembinaan oleh sang syaikh harus dilakukan sedemikian para muridnya menjadi orang-orang yang mempunyai mata, pendengaran dan akal dan setiap indera itu digunakan dengan sebaik-baik oleh para murid untuk memahami ayat-ayat Allah. Ayat di atas tidak berarti syaikh harus mencegah terbentuknya pendengaran dan penglihatan bathin serta qalb para muridnya, sama sekali tidak demikian dan sebaliknya harus membina terbentuknya. Tetapi pembinaan terhadap para murid tidak boleh berhenti hanya pada terbentuknya indera-indera bathiniah para murid. Para murid harus dibina agar mampu menggunakan indera-indera bathiniah itu dengan benar, yaitu dapat mendengar, melihat dan memahami ayat-ayat Allah.

Para murid hendaknya berusaha untuk mencapai tujuan yang ditentukan demikian, yaitu membina pendengaran untuk mendengar ayat Allah, mata untuk melihat ayat-ayat Allah dan qalb untuk memahami kehendak Allah. Hanya saja ada banyak hal yang mungkin tidak diketahui para murid sedemikian mereka wajib benar-benar memperhatikan apa-apa yang disampaikan oleh sang syaikh. Menggunakan qalb untuk memahami tidak sama dengan menggunakan pikiran secara bebas. Memahami harus dilakukan agar kehendak Allah dapat dimengerti dengan tepat. Untuk mencapai keadaan ini, ada kondisi-kondisi yang harus dipenuhi oleh para murid, tidak dapat diperoleh dengan cara yang bebas. Para syaikh mempunyai pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan agar para murid dapat mencapai keadaan yang harus dipenuhi. Setiap murid harus memperhatikan arahan sang syaikh dengan tujuan dapat memperoleh pemahaman tentang ayat Allah dengan tepat, bukan memperhatikan tanpa menggunakan pikiran atau akal.

Pembinaan oleh syaikh terhadap murid untuk dapat memahami kehendak Allah dengan tepat serupa dengan pembinaan terhadap perempuan untuk memperoleh suami yang tepat dan mampu memahami urusan Allah melalui suaminya. Keinginan seorang perempuan terhadap pernikahan merupakan gambaran paling sempurna tentang fitrah diri setiap manusia. Pada fitrahnya, setiap manusia mempunyai keinginan untuk menghambakan diri kepada rabb-nya dalam suatu kedudukan tertentu dalam al-jamaah, sebagaimana adanya keinginan seorang perempuan untuk memperoleh kedudukan tertentu di sisi suami yang dicintai. Warna-warna pada hubungan antara seorang perempuan dengan suami yang tepat merupakan gambaran sempurna bagi fitrah manusia dalam ibadah kepada Allah. Terbinanya manusia dalam keadaan saling mencintai demikian itulah yang menjadi sasaran para syaikh dalam membina para murid, dan pernikahan menjadi media pembinaan yang paling baik.

Keberhasilan membina perempuan yang berbakti kepada suami dengan cinta kasih merupakan gambaran terbentuknya seseorang sebagai bagian dari Al-jamaah dalam melaksanakan amr jami’ Rasulullah SAW. Dalam sehari, setiap orang islam bermohon untuk diberi petunjuk tentang shirat al-mustaqim setidaknya 17 kali karena petunjuk itu merupakan tujuan utama dari kehidupan setiap muslim. Bila diperhatikan, sebenarnya shirat al-mustaqim merupakan jalan al-jamaah, yaitu jalannya orang-orang yang memperoleh nikmat Allah yang tetap bersama-sama tidak berpaling dari al-jamaah. Bila seseorang berpaling dari keberjamaahan dalam nikmat Allah, mereka tidak benar-benar di shirat al-mustaqim. Gambaran keadaan orang yang berjamaah itu seperti perempuan yang berbakti kepada suami dengan cinta kasih, yang mungkin harus ditempuh bersama dengan isteri yang lain. Orang yang berpaling dari nikmat Allah dalam al-jamaah seperti isteri-isteri yang tidak mau mentaati suaminya.

Keberhasilan demikian hanya dapat dicapai dengan pembinaan nafs wahidah. Setiap perempuan diciptakan dari nafs wahidah laki-laki tertentu yang menjadi pemimpin dirinya untuk kembali dekat kepada Allah. Demikian pula para laki-laki sebenarnya mempunyai kedudukan tertentu di antara al-jamaah, dan mempunyai washilah yang terhubung kepada Rasulullah SAW. Pahamnya seseorang terhadap amanah dirinya akan terjadi manakala ia mengenal kedudukan dirinnya dalam al-jamaah. Pahamnya seseorang terhadap kehendak Allah tidak terjadi secara individual, tetapi setidaknya seseorang memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW untuk amalnya. Pemahaman yang lebih dalam pada seseorang akan membuka pengetahuannya tentang kedudukan diri dalam berjamaah, mengetahui para washilahnya dan shahabatnya dalam urusan Rasulullah SAW, tidak keluar dari urusan itu. Keberjamaahan dengan shahabat dan washilah tidak ditunjukkan dengan banyaknya orang yang melakukan, tetapi ditunjukkan oleh penyatuan terhadap urusan Allah dan sunnah Rasulullah SAW.

Untuk melakukan pembinaan demikian, seorang syaikh perlu mengkondisikan banyak hal dalam diri para murid. Transformasi murid tidak dapat dilakukan dengan memberikan wacana-wacana saja tanpa membina hal ihwal nafs wahidah para murid. Para laki-laki akan mengenali amanah bagi dirinya manakala ia dapat tenang dalam membaca ayat-ayat Allah dengan akalnya. Hal itu dapat digambarkan dalam diri seorang perempuan yang harus tenang dalam mengharapkan petunjuk jodohnya, tidak terhanyut dalam keinginan syahwat dan hawa nafsu maka ia akan mengenali nafs laki-laki yang menjadi asal penciptaan dirinya. Benih pengenalan seorang perempuan terhadap jodohnya tidak dapat diberikan melalui wacana-wacana tentang jodoh yang ideal saja, tetapi harus diperkenalkan melalui nafs diri perempuan itu sendiri karena pada dasarnya nafs dirinya-lah yang mengandung pengetahuan tentang nafs jodohnya. Demikian para syaikh melakukan pembinaan para murid dengan menata nafs para muridnya untuk memahami kehendak Allah.

Pembinaan Sifat Rahman dan Rahim

Keikhlasan menjadi landasan sangat penting dalam pembinaan nafs. Di alam dunia, sangat banyak pengalih perhatian manusia dari jodoh yang sebenarnya yang itu bisa menjadi pengalih perhatian yang sangat kuat manakala seseorang tidak dapat tenang dalam mencari pengetahuan tentang jodohnya. Kekayaan, ketampanan dan banyak hal duniawi lain yang dapat memalingkan manusia dari jodoh yang sebenarnya. Hal itu menjadi gambaran nyata kekuatan dunia dalam memalingkan manusia dari keikhlasan. Pengenalan seorang perempuan terhadap jodoh yang tepat sebenarnya juga merupakan indikasi dari keikhlasan dirinya. Manakala seseorang tidak kokoh dalam keikhlasannya, ia akan sangat mudah terkalahkan dari pengetahuan terhadap fitrah dirinya sebagaimana para perempuan yang mudah terombang-ambing dalam bayangan keinginan syahwatiah terhadap berbagai laki-laki yang mempunyai kelebihan-kelebihan duniawi ataupun kelebihan pada nafs yang menggoda mereka. Demikian pula laki-laki menghadapi sangat banyak hal duniawi yang bisa mengalihkan perhatiannya dari jalan ibadahnya yang sesungguhnya ditentukan bagi dirinya.

Pembinaan nafs tidak terbatas pada pengetahuan tentang jodoh atau berhenti pada benih-benih pengenalan manusia terhadap apa-apa yang diperuntukkan bagi dirinya. Pembinaan harus dilakukan agar benih-benih pengenalan itu tumbuh hingga terwujud amal shalih dari setiap diri manusia dengan rasa syukur terhadap Allah. Manakala seorang perempuan mengenal jodoh yang tepat baginya, ia harus bisa menerima jodohnya dengan lapang dada dan rasa syukur yang akan mengantarkannya dapat melaksanakan jalan ibadahnya dengan rasa syukur. Para perempuan harus dinikahkan setelah mengenal jodohnya, dan ia hendaknya dapat berbakti kepada suaminya dengan rasa cinta kasih, bukan berbakti dengan sikap buruk terhadap suaminya. Hal demikian kadangkala harus dilakukan sekalipun seorang perempuan harus seperti Asiyah binti Muzahim r.a yang bersuamikan Fir’aun. Beliau menemukan urusan Allah melalui Fir’aun dan melaksanakan urusannya dengan jalan yang baik, bukan membantu kejahatan yang dilakukan Fir’aun. Pada umumnya, pernikahan itu merupakan penyatuan diri seorang perempuan terhadap jalan ibadahnya, yaitu melalui baktinya kepada suami dengan landasan ibadah kepada Allah. Demikian pula seorang laki-laki hendaknya dibina hingga dapat mengenal jalan ibadah dirinya dalam suatu hubungan washilah kepada Rasulullah SAW, kemudian ia melakukan amal shalih untuk urusan yang harus ditunaikannya. Dengan keadaan-keadaan demikian, seorang hamba Allah akan merasa sakinah dalam menjalani kehidupan dirinya beribadah kepada Allah secara tepat sesuai dengan kehidupan dirinya.

Mewujudkan amal shalih tidak bisa dilakukan dengan bersikap buruk terhadap nikmat Allah. Semakin buruk sikap seseorang terhadap nikmat Allah, ia akan semakin jauh walaupun seandainya ia tetap melaksanakan apa yang ditentukan baginya. Kadangkala seseorang membangun bayangan indah tentang menjadi hamba Allah, tetapi ia berkata buruk terhadap nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Hal itu menunjukkan ia tidak memahami arti menjadi hamba Allah. Seseorang tidak boleh berkata buruk terhadap nikmat Allah yang diberikan. Bila ia berkata buruk tentang nikmat itu, hendaknya perkataan buruk itu tidak disampaikan kepada makhluk. Nikmat Allah kadangkala berbentuk perjodohan pada seorang manusia, maka apabila jodohnya tidak mau mendengarkan perkataan buruk tentang dirinya hendaknya ia tidak dipaksa untuk mendengar perkataan buruk itu. Memaksa seseorang untuk mendengarkan perkataan buruk yang berpangkal dari kekufuran terhadap nikmat Allah demikian itu tidak memberikan manfaat dan mendatangkan madlarat, dan perbuatan itu buruk berasal dari kufur terhadap nikmat Allah. Syaitan akan senang menggunakannya untuk membuat kekacauan di antara manusia hingga mendatangkan kesengsaraan karena kufur nikmat.

Semua sasaran ini harus dibina secara integral dengan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah, bukan suatu keadaan yang dibangun di atas hawa nafsu emosional saja. Ayat-ayat Allah menjadi media pembinaan yang disediakan Allah untuk memperkuat akal manusia, baik ayat kauniyah ataupun ayat-ayat kitabullah. Umat islam harus membina sifat rahman dan rahim berdasarkan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah, tidak boleh membinanya hanya secara emosional tanpa memahami kehendak Allah. Para murid harus memperhatikan ayat-ayat Allah agar akal mereka mampu memahami ayat-ayat yang terhampar bagi diri mereka. Kadangkala para murid hanya memperhatikan perkataan manusia tanpa melihat ayat-ayat Allah maka akal mereka tidak dapat berkembang. Bila hanya mengikuti perkataan manusia, mungkin kemampuan narasi seseorang mengikuti perkataan orang lain akan berkembang dengan baik, tetapi kemampuan untuk memahamai ayat Allah tidak tumbuh. Meniru perkataan manusia bukanlah kekuatan akal, hanya kekuatan ingatan yang tidak akan menjangkau ayat Allah bila tidak disertai penggunaan akal. Untuk menyentuh ayat-ayat Allah, setiap orang harus berusaha menggunakan akal dan pikirannya untuk memahami ayat-ayat Allah.

Terbinanya seseorang sebagai bagian al-jamaah di atas sifat rahman dan rahim merupakan sasaran yang harus dibina pada setiap hamba Allah, dan syaitan akan berusaha keras untuk menghalangi manusia untuk dapat beramal shalih sesuai kedudukan dirinya dalam al-jamaah. Kadangkala seorang perempuan yang telah mengenal jodoh asal penciptaan dirinya dihalang-halangi untuk dapat menikah dengan jodohnya dengan berbagai jalan yang menyesatkannya. Ia mungkin digoda untuk memperturutkan hawa nafsu dan syahwat daripada memilih jodohnya, mungkin ia didorong untuk lebih memperhatikan laki-laki lain, atau dimunculkan padanya rasa tidak suka terhadap jodohnya, dan berbagai cara termasuk melibatkan orang lain dalam menghalangi langkahnya menyatukan diri dengan jalan ibadahnya. Hal demikian juga akan terjadi pada kaum laki-laki manakala mengenal jalan ibadahnya. Banyak perhiasan-perhiasan duniawi berupa harta benda ataupun kedudukan di antara manusia dan lain-lain yang bisa mengalihkan perhatiannya dari ayat Allah. Manakala hal itu tidak mengalihkan, mungkin dilibatkan makhluk lain untuk menghalangi dirinya untuk menempuh jalan ibadahnya kepada Allah.