Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Jalan yang tepat mengikuti langkah Rasulullah SAW dapat ditemukan dalam bentuk kehendak Allah terhadap penciptaan diri setiap manusia. Orang yang mengenal kehendak Allah dalam penciptaan dirinya sebenarnya menemukan jalan untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan benar. Itu merupakan hal yang mudah bagi orang-orang yang dimudahkan, dan hal yang sangat sulit bagi orang yang tidak dimudahkan. Sekian banyak manusia yang beriman atau merasa beriman tidak berhasil mengenal pohon thayibah diri dengan usaha keras yang mereka lakukan, sedangkan sebagian orang yang tidak tampak berusaha keras dapat mengenal urusan penciptaan dirinya. Kemudahan orang-orang yang mengenal kehendak Allah terjadi karena Allah memudahkan baginya untuk mengetahui kehendak-Nya.
Allah menjelaskan kepada orang-orang demikian sebagian perintah dari perintah-perintah-Nya, maka orang-orang tersebut kemudian mempunyai kemudahan untuk mengenal sebagian dari perintah Allah.
﴾۸۸﴿وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang baik (al-husna), dan akan kami katakan kepadanya (suatu perintah) dari perintah-perintah kami secara mudah (QS Al-kahfi : 88).
Amr Allah menunjuk pada kehendak Allah yang diturunkan kepada makhluk-Nya, berupa pokok urusan maupun urusan-urusan rincian untuk setiap ruang dan jaman. Kemudahan mengenal amr Allah itu diberikan Allah kepada seseorang di atas pahala-pahala al-husna yang terkumpul pada diri mereka, sedangkan al-husna itu merupakan pahala yang diberikan karena keimanan dan amal shalih. Keimanan dalam hal ini bukan hanya terbatas pada keimanan terhadap pokok-pokok keimanan, tetapi juga terhadap kebenaran-kebenaran yang disampaikan oleh pengenal kebenaran yang hidup pada jaman mereka. Ayat di atas merupakan cuplikan perkataan Iskandar Dzulqarnain tentang kaum yang ditemuinya. Iskandar Dzulqarnain membawa suatu amr Allah, dan banyak orang yang bisa memperoleh amr Allah melalui Iskandar Dzulqarnain khususnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih dengan amr Allah yang disampaikan oleh Iskandar Dzulqarnain.
Hal ini berlaku umum, bahwa pada jaman ini-pun amr demikian dapat diperoleh oleh orang-orang yang beriman dan beramal shalih terhadap suatu amr Allah melalui seseorang di antara mereka, bukan hanya berlaku terhadap nabi-nabi jaman dahulu. Hanya saja amr jaman ini terbatas hanya pada amr-amr yang mempunyai sumber dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tidak bertentangan dengannya. Bila suatu kaum berusaha memahami firman Allah tentang amr yang diturunkan kepada seseorang di antara mereka, kemudian beriman dan beramal shalih setelah beriman dengan kebenaran amr tersebut, maka kaum tersebut termasuk sebagai kaum yang beriman dan beramal shalih dengan amr tersebut. Bila berbuat demikian, maka mereka akan memperoleh al-husna. Alhusna tersebut bersumber dari firman Allah, bukan dari amr yang diturunkan. Apabila suatu kaum hanya mengikuti amr tanpa berusaha memahami firman Allah, mereka akan menghadapi distraksi yang sangat banyak hingga mengganggu kebenaran al-husna pada diri mereka. Kadangkala suatu kaum justru menjadi lemah akalnya karena mengikuti suatu amr tanpa mengetahui persoalan amr tersebut, hanya membebek pada seseorang tanpa memahami firman Allah.
Setiap amr Allah pada jaman Rasulullah SAW dan setelahnya telah disebutkan dalam tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Suatu amr Allah yang tidak mempunyai dasar dalam kitabullah Alquran merupakan suatu bid’ah sekalipun manusia memandang baik amr tersebut. Orang-orang yang beramal atau ingin beramal dengan amal-amal baik tanpa menganggap diri mereka sebagai pemangku amr Allah atau mengikutinya tidak termasuk dalam golongan ahlul bid’ah. Apabila mereka meyakini diri mereka sebagai pemangku amr Allah atau pengikut mereka, hendaknya mereka menimbang amal-amal yang terwujud dari diri mereka dengan tuntunan kitabullah. Apabila tidak menemukan tuntunannya, mungkin mereka adalah ahlul bid’ah. Ada orang-orang yang mengikuti suatu amr tanpa suatu landasan penjelasan dari kitabullah sedangkan amr tersebut bertentangan dengan tuntunan kitabullah, maka mereka merupakan ahlul bid’ah. Amr Allah tanpa suatu landasan kitabullah itu sendiri merupakan bid’ah, apalagi bila dilakukan dengan cara yang bertentangan dengan tuntunan Allah.
Sekalipun amr Allah diturunkan dalam banyak bentuk, amr tersebut sebenarnya merupakan kesatuan yang menyatukan umat Allah dalam satu amr Allah. Penyatuan tersebut membentuk al-jamaah. Setiap orang yang memangku amr adalah orang-orang yang berjamaah. Mereka mengetahui bahwa mereka melaksanakan suatu amal untuk membantu seseorang yang lain sebagai imam mereka, sekalipun mereka bisa saja tidak bertemu. Para wali Allah di tanah jawa menjadi contoh bahwa mereka datang ke tanah jawa untuk suatu urusan yang dinubuwahkan Rasulullah SAW, dan mereka mengetahui amr Allah tentang hal tersebut. Di tingkat lebih rendah, ada orang-orang yang ditakdirkan untuk membantu orang-orang tertentu, sedangkan mereka bisa merasakan urusan lebih besar dari Allah terkait amal yang mereka lakukan. Ada pula orang yang mengetahui urusan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW. Apabila seseorang memperoleh suatu urusan Allah sebagai pemimpin urusan tanpa mengetahui jalan menyatukan diri dalam al-jamaah atau tidak mengetahui imam untuk amr-nya dalam amr Allah, hendaknya ia berhati-hati dengan bid’ah. Demikian pula manakala seseorang mengikuti orang lain tanpa mengetahui penyatuan langkah mereka kepada Al-Jamaah, hendaknya mereka berhati-hati dengan bid’ah yang mungkin mereka ikuti.
Setiap orang yang ingin mengenal kehendak Allah hendaknya berusaha untuk mengenal induk dari urusan mereka, karena hal itu akan memudahkan untuk mengenal urusan yang diperintahkan Allah kepada masing-masing. Itu adalah kemudahan yang diberikan Allah kepada umat manusia. Kemudahan dalam cara demikian mencakup keselamatan dalam memahami kehendak Allah. Usaha seseorang untuk mengenal kehendak Allah bagi masing-masing sebenarnya merupakan jalan yang penuh tipuan dan marabahaya apabila dilakukan dengan mengandalkan diri sendiri. Syaitan akan sangat senang membantu manusia untuk mengenal pohon khuldi masing-masing sedangkan mungkin saja manusia dalam keadaan lemah akalnya. Suatu usaha mengenal kehendak Allah sebenarnya bisa menjadi tipuan yang besar apabila dilakukan dengan suatu sikap yang salah atau tanpa disertai suatu keikhlasan yang mencukupi. Manakala seseorang berusaha untuk mengenal induk urusannya, mereka akan memperoleh sandaran yang akan mengingatkan manakala kurang tepat dalam memahami. Kebersandaran itu setidaknya harus dilakukan terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan apabila diperlukan, seseorang harus memutus kebersandaran terhadap yang lain yang memisahkan dirinya terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Ayat Allah Sebagai Cerminan Amr
Mengenal amr Allah harus dilakukan dengan memahami ayat-ayat Allah, baik berupa kitabullah ataupun ayat-ayat kauniyah. Keduanya merupakan kesatuan ayat Allah yang harus dipahami secara sinergis sebagai satu kesatuan. Dengan memahami ayat-ayat Allah, maka seseorang akan bisa membina diri untuk bersikap selaras dengan kehendak Allah sehingga dapat membenarkan petunjuk-petunjuk Allah terkait dengan alam kauniyah mereka. Tanpa membangun pemahaman terhadap ayat-ayat Allah, manusia akan tersesat dalam bersikap. Kadangkala seseorang membenarkan sesuatu yang salah karena tidak memahammi tuntunan Allah. Tidak jarang seseorang bersikap menentang tuntunan Allah sedangkan ia merasa sebagai orang yang mengikuti petunjuk-Nya karena tidak memahami dengan tepat ayat-ayat Allah. Kesesatan demikian sangat menghambat manusia untuk memahami amr Allah.
﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A,raaf : 179)
Memahami ayat-ayat Allah dengan tepat dapat dilakukan dengan qalb dan indera-indera bathiniah. Pemahaman terhadap ayat-ayat Allah mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada adanya indera-indera bathiniah baik telinga bathin, mata bathin ataupun qalb. Manakala telinga bathin, mata bathin ataupun qalb tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, indera-indera tersebut dapat menyesatkan manusia apabila diikuti (tanpa menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah). Indera-indera demikian sering menjadi suatu jebakan bagi manusia dalam mencari kebenaran. Kebanyakan manusia akan memandang hebat orang-orang yang mempunyai indera yang kuat dan mengira bahwa segala sesuatu yang dapat mereka persepsi merupakan kebenaran. Kiraan demikian tidaklah benar. Indera-indera bathin manusia dapat menyimpang dari jalan yang benar manakala tidak berpegang pada tuntunan ayat-ayat Allah. Sangat banyak makhluk yang berkeinginan agar manusia menyimpang dari jalan yang benar termasuk makhluk-makhluk di alam yang lebih tinggi, bahkan makhluk yang dulu bisa hadir di sidang ilahi. Apabila manusia menyangka kebenaran itu ada pada seorang manusia tanpa ingin berpegang pada tuntunan kitabullah, mereka akan disesatkan dari jalan yang benar, bahkan hingga kesesatan yang sejauh-jauhnya.
Penyesatan demikian bisa terjadi dengan cara yang sangat halus, di mana orang-orang mungkin menyangka bahwa semua kesesatan itu merupakan kebenaran. Bisa jadi tujuan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s disimpangkan tanpa disadari oleh manusia, maka orang-orang yang melangkah akan tersesat. Bukan hanya menyimpang dari tujuan, keadaan umat sebenarnya juga akan menjadi berantakan. Orang-orang yang berkeinginan untuk benar-benar mengikuti langkah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s akan mengalami kesulitan yang besar dengan masalah-masalah yang ditimbulkan dari perbuatan yang sesat, sedangkan orang-orang yang mengikuti langkah yang sesat tidak mempunyai pemahaman yang benar terhadap ayat-ayat kauniyah yang digelar bagi mereka. Apabila dibacakan kepada mereka kesatuan ayat-ayat Allah pada kauniyah dan kitabullah, mereka mungkin menyangka bahwa bacaan itu hanya angan-angan pembacanya. Dengan terbentuknya umat yang kacau, umat manusia secara keseluruhan akan menjadi berantakan dengan masalah-masalah yang tidak dipahami dengan benar oleh orang-orang yang (merasa) beriman.
Proses yang benar dalam usaha memahami ayat Allah menjadi landasan untuk membentuk keadaan umat yang baik. Suatu pemahaman terhadap kebenaran harus dapat tumbuh pada setiap anggota masyarakat. Kadangkala suatu kebenaran diajarkan justru berefek mencegah tumbuhnya pemahaman akal manusia terhadap kebenaran, maka masyarakat tidak akan akan dapat tumbuh menjadi baik atau justru menjadi masyarakat yang jumud dalam pandangan mereka sendiri. Untuk menuju kebaikan, setiap anggota masyarakat harus dapat menumbuhkan pemahaman terhadap kebenaran, tidak dimatikan potensinya baik dengan suatu kejahatan atau dengan waham kebenaran. Suatu masyarakat yang buruk dapat berubah menjadi baik apabila proses memahami ayat Allah dapat dilakukan dengan baik. Sebaliknya suatu masyarakat pencari kebenaran akan berhenti berkembang apabila proses memahami kebenaran dihentikan.
Perkembangan masyarakat dapat diukur dari kemampuan masyarakat dalam menimbang bobot kebenaran. Masyarakat yang terbelakang akan terkungkung dalam suatu kerangka kebenaran di antara mereka sendiri tanpa kemampuan untuk mengenal kebaikan yang dapat diberikan kepada kaumnya. Masyarakat yang akalnya kuat akan mengenali kebenaran-kebenaran yang tumbuh karena pengenalan kebenaran di antara mereka dan dapat menempatkan kebenaran-kebenaran itu sesuai dengan kedudukannya. Sangat banyak gradasi perkembangan masyarakat dalam masalah kebenaran, dari masyarakat yang mengikuti langkah syaitan, masyarakat yang terkungkung kebenaran mereka sendiri, masyarakat yang bisa merasakan adanya kebenaran tanpa mengetahui bobotnya, masyarakat yang tidak mampu bertindak berdasarkan kebenaran yang mereka rasakan hingga masyarakat yang dapat mengenal bobot nilai dari suatu kebenaran dan meletakkan kebenaran itu sesuai tempatnya sehingga kebenaran itu dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi mereka.
Perkembangan masyarakat yang baik akan mendatangkan tatanan masyarakat yang baik hingga setiap orang dapat memberikan nilai manfaat terbaik diri mereka bagi masyarakat. Tatanan demikian dapat diukur pada masing-masing anggota masyarakat berdasarkan ayat-ayat Allah dan nilai yang terserap dalam diri mereka. Orang yang mempunyai bobot nilai yang besar dapat memimpin sekelompok orang lainnya hingga dapat melahirkan manfaat terbaik dari masinng-masing. Kebanyakan masyarakat merumuskan tatanan di antara mereka hanya berdasarkan nilai-nilai duniawi, maka masing-masing anggota masyarakat bermimikri dalam bentuk-bentuk yang tampak bermanfaat bagi masyarakat, sedangkan mereka sebenarnya mementingkan kedudukan dan harta bagi diri mereka sendiri. Dengan tatanan demikian masyarakat menjadi kacau. Orang-orang berbuat baik kepada orang lain dengan satu sisi wajah, dan di tempat yang tidak diketahui mereka menggarong kekayaan dari pendukung yang dapat mereka tipu dengan wajah manis. Hal demikian harus diubah agar masyarakat benar-benar menjadi baik. Orang-orang yang mengenal kebenaran harus diberi kesempatan untuk memberikan nilai kebaikan bagi masyarakat secara keseluruhan tidak justru dihalangi langkah-langkahnya. Kebaikan akan semakin berkembang apabila masyarakat dapat mengenali nilai-nilai kebenaran dalam diri seseorang berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mustahil membentuk masyarakat yang baik apabila suatu kaum menilai kebaikan hanya berdasarkan hawa nafsu mereka sendiri ataupun mengikuti pendapat syaitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar