Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Hendaknya setiap orang memperhatikan langkah dirinya dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan menumbuhkan kalimah thayibah dalam diri, yaitu sebagaimana pohon thayibah yang akarnya teguh ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Ini adalah keadaan yang harus terbentuk pada diri setiap muslim dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Tanpa membentuk kalimah thayibah, seseorang yang berjihad tidak dapat dikatakan sebagai pengikut Rasulullah SAW karena mungkin jihad mereka hanya mengikuti hawa nafsu sendiri.
﴾۴۲﴿أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (QS Ibrahim : 24)
Pohon thayibah demikian merupakan pemahaman yang terbentuk pada diri seseorang terhadap cahaya Allah karena terbentuknya misykat diri. Manakala nafs manusia menjadi nafs yang dibersihkan sedangkan jasmani mereka ikhlas menghadap kepada Allah, nafs itu akan memperoleh kemampuan membentuk suatu bayangan dalam dirinya dari cahaya kehendak Allah berupa kalimah thayibah atau pohon thayibah. Jasmani manusia hendaknya dapat mengikhlaskan dirinya semata-mata untuk beribadah kepada Allah, tidak menginginkan banyak hal yang lain karena keinginan terhadap banyak hal akan menjadi lubang-lubang yang mengganggu terbentuknya bayangan kehendak Allah dalam misykat diri. Ibarat kamera yang retak badannya tidak akan membentuk bayangan yang baik, demikian pula banyaknya keinginan jasmani manusia akan menimbulkan gangguan terbentuknya bayangan cahaya Allah. Nafs manusia ibarat lensa yang mengatur fokus cahaya hingga terbentuk bayangan, nafs itu harus bersih dari noda-noda dan dapat bergerak mencari fokus yang sesuai untuk cahaya yang datang.
Hendaknya setiap orang beriman memperhatikan perintah Allah tentang permitsalan kalimah thayibah yang harus dibentuk dalam diri masing-masing. Kalimah thayibah itu harus membentuk pohon thayibah diri yang akarnya teguh menghunjam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon thayibah itu hanya akan terbentuk pada misykat cahaya yang baik, yaitu jasmani manusia yang ikhlas dalam beribadah kepada Allah sedangkan nafs mereka menjadi bola kaca jernih yang dapat membaca ayat-ayat Allah secara tepat. Manakala terbentuk bayangan dari kehendak Allah berupa pohon thayibah, pohon thayibah itu harus membentuk perakaran yang teguh kepada alam bumi mereka sedangkan cabangnya menjulang ke langit mencari cahaya Allah.
Berakar ke Bumi
Pohon thayibah tidak boleh tumbuh tanpa mempunyai akar di bumi, karena pohon yang tercerabut dari buminya adalah pohon yang buruk. Dogma-dogma agama yang tidak mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di bumi atau justru mendatangkan kerusakan di muka bumi merupakan pohon yang buruk, pohon yang tercerabut akarnya dari bumi tidak dapat tegak menunaikan kehendak Allah. Setiap orang hendaknya berusaha menumbuhkan pohon yang paling kokoh berakar ke dalam bumi dengan mengikuti perkataan-perkataan yang baik, tidak hanya mengikuti perkataan-perkataan manusia dengan mengabaikan nilai manfaat yang harus diwujudkan di muka bumi.
Hal ini hendaknya disikapi dengan penuh hati-hati karena sangat mudah menggelincirkan manusia untuk mendustakan tuntunan Allah. Manakala suatu ajaran Allah digunakan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat atau mendatangkan madlarat, maka manusia yang mengikuti itulah yang merupakan pohon yang buruk, bukan tuntunan Allah yang mereka gunakan. Manakala suatu ajaran Allah dipahami dengan hawa nafsu buruk atau justru iktikad yang tidak baik, akan terbentuk suatu bayangan yang merupakan pohon yang buruk. Kesalahan demikian bukan pada tuntunan Allah, tetapi terdapat pada manusia yang menggunakannya. Hal demikian harus diperhatikan oleh orang beriman agar tidak mudah tergelincir mendustakan tuntunan Allah.
Berakarnya manusia di bumi ditunjukkan dengan karya-karya dan amal shalih. Terdapat beberapa sumber dalam diri manusia yang dapat memunculkan kekaryaan, baik berupa hawa nafsu, keinginan berkasih-sayang kepada orang lain ataupun keinginan mewujudkan kehendak Allah. Karya-karya yang bersumber dari hawa nafsu akan memberikan kepuasan bagi hawa nafsu baik diri sendiri atau orang lain atau sebaliknya justru kedengkian dari orang lain, terlahir sebagai pewujudan ego diri yang kadangkala tidak mempunyai landasan kebutuhan yang baik dan nyata pada umat. Suatu keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain akan melahirkan karya yang memberikan manfaat besar bagi manusia. Kekaryaan demikian terlahir melalui suatu kesadaran tentang kebutuhan umat terhadap karya tersebut, karenanya akan memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Karya yang bersumber dari kehendak Allah akan memberikan suatu penataan yang baik di bumi dalam berbagai tingkatan alam yang terkait.
Tidak semua karya yang merupakan akar pohon thayibah di bumi harus melahirkan benda fisik. Penataan umat termasuk sebagai akar pohon thayibah di bumi sekalipun tidak langsung terwujud benda fisik. Kadangkala penataan umat mendatangkan kemakmuran di tingkat fisik setelah berbagai tahapan proses. Bahkan kebaikan dari produk-produk fisik hampir selalu terjadi setelah penataan umat dilakukan. Mustahil suatu kaum yang berantakan dapat mewujudkan kemakmuran fisik kecuali hanya kemakmuran yang timpang. Suatu perusahaan tidak akan produktif manakala para pemegang urusan hanya mengikuti hawa nafsu sendiri. Sekalipun pemegang urusan itu ahli pada bidangnya, mungkin anak buah dan kolega yang terkait tidak memberikan dukungan untuk pekerjaannya hingga bagian yang dipimpin tidak dapat produktif. Setiap pemegang urusan harus dipilih dari orang-orang yang mempunyai perhatian lebih baik terhadap urusan umat dan dapat menguatkan pihak yang terlibat, bukan hanya orang yang ingin menonjolkan kemampuan dirinya. Sekalipun ahli, orang yang ingin dipandang di antara masyarakat akan mendatangkan kesulitan dengan hawa nafsunya. Di tingkatan lebih tinggi, para pemimpin hendaknya dapat memahami kehendak Allah untuk urusan ruang dan jamannya, tidak semata-mata hanya memegang penataan umat tanpa suatu pemahaman terhadap kehendak Allah hanya ikut-ikutan memegang urusan saja. Penataan umat sebenarnya merupakan landasan utama dalam membuat kemakmuran di semua tingkatan termasuk dalam tingkat jasmaniah.
Ketercerabutan suatu pohon dari buminya ditunjukkan dengan tidak adanya manfaat pada buah-buah yang dihasilkan. Kadangkala seseorang memperoleh pemahaman-pemahaman yang menyimpang dari tuntunan Allah sedemikian orang-orang yang mengikutinya tidak bisa memperoleh manfaat dari pemahaman-pemahaman yang diterimanya. Hal demikian menunjukkan bahwa pohon itu tercerabut dari bumi. Pada wujudnya, pohon yang buruk itu berbentuk pohon, dengan akar dan cabang-cabang yang tumbuh, tetapi pengetahuan dari pohon itu tidak memberikan manfaat dalam kehidupan di bumi. Manakala seseorang menerima petunjuk, hendaknya ia berusaha menemukan manfaat dari petunjuknya dalam kehidupan termasuk kehidupan di bumi. Kadangkala seseorang menerima suatu petunjuk dan mendewakan petunjuk itu sebagai firman Allah tanpa mengetahui makna petunjuknya, baik dengan dasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun berdasarkan manfaatnya bagi kebaikan dalam kehidupan di alam dunia. Atau suatu kaum boleh jadi mengikuti suatu petunjuk pada seseorang di antara mereka tanpa berusaha memahami konteksnya dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW ataupun kebaikan petunjuk itu bagi kehidupan dunia. Hal demikian dapat menyebabkan tumbuhnya pohon yang buruk tercerabut dari buminya.
Di sisi lain, tidak jarang manusia memandang pohon yang baik sebagai pohon yang buruk hanya karena keterbatasan orang yang memandangnya. Seseorang mungkin memahami sesuatu yang tinggi dan akibatnya ke alam bumi, sedangkan orang lain hanya mengetahui hubungan sebab akibat yang terjadi secara langsung. Seseorang yang membentuk pohon thayibah kadangkala mempunyai pemahaman yang tinggi hingga seseorang yang lain mungkin tidak dapat melihat nilai manfaat dari pemahaman demikian. Cara pandang demikian tidak menunjukkan bahwa pohon thayibah itu tercerabut dari buminya. Orang-orang yang tidak memahami itulah yang harus meningkatkan kekuatan akalnya. Dalam keadaan ini, sangat banyak waham dan syaitan yang akan menghalangi seseorang untuk dapat memahami nilai dari kebenaran yang ada pada kalimah thayibah. Meskipun seseorang dengan pohon thayibah tertentu dapat menjelaskan dengan baik keterkaitan ilmunya terhadap kehendak Allah dengan suatu kebaikan yang akan terwujud di bumi, orang-orang yang terhalang waham mungkin akan tetap memandang bahwa ilmu itu terlalu melangit tidak membumi. Boleh jadi mereka tidak dapat memahami bahwa mungkin saja orang lain mempunyai urusan yang berbeda dengan dirinya, sehingga tidak mampu memperoleh imbasan manfaat dari pohon thayibah karena pohon itu mengeluarkan buah hanya dalam bentuk tertentu yang tidak sesuai dengan akalnya. Karena demikian ia kemudian mengatakan bahwa pohon thayibah itu tidak berakar ke bumi.
Misalnya boleh jadi seseorang melihat kesyirikan dalam bentuk tertentu di antara orang-orang beriman dan melihat kerusakan yang akan menyertainya, hal demikian mungkin tidak disadari oleh orang lain. Dalam kasus demikian, seseorang mungkin saja melihat dengan jelas hakikat-hakikat yang terjadi di antara mereka dan mengetahui hal-hal kebumian yang terkait dengan apa-apa yang terjadi sedangkan orang lain tidak dapat memahami perkataan yang disampaikan terkait dengan hakikat-hakikat itu. Ketika seseorang dengan pohon thayibah tidak mengerjakan sesuatu yang sama dengan orang lainnya mungkin ia dikatakan tidak berakar ke bumi. Persangkaan demikian tidak tepat. Kaum muslimin hendaknya berusaha untuk memahami buah-buah kebenaran yang mungkin diberikan oleh sahabatnya walaupun dalam bentuk yang tidak sesuai gambaran yang dibayangkannya, tidak terkurung dalam waham sendiri. Manakala suatu buah dari suatu pohon thayibah terasa tidak memberikan manfaat, boleh jadi akalnya terlalu lemah untuk memanfaatkan buah dari pohon itu, bukan karena pohon itu pohon yang tercerabut dari akarnya.
Cabangnya Di Langit
Ciri lain tumbuhnya pohon thayibah pada diri seseorang adalah cabang-cabangnya merentang ke langit. Mereka adalah orang-orang yang menyukai cahaya Allah hingga cabang-cabang mereka merentang ke langit mencari cahaya Allah. Cahaya Allah itu adalah ayat-ayat Allah yang terhampar di alam kauniyah dan ayat-ayat yang diturunkan berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan cabang-cabang pohon itu adalah cara berpikir yang lurus dan akal yang lurus dalam memahami ayat-ayat-Nya. Ayat-ayat Allah itu tidak hanya dipahami sebagai suatu set aturan yang harus dipatuhi, tetapi juga dipahami sebagai petunjuk Allah untuk memperoleh jalan kehidupan yang paling baik. Manakala akal mereka belum memahami petunjuk-Nya, mereka mentaatinya. Manakala pendapat dirinya bertentangan dengan petunjuk-Nya, ia mengetahui kebodohan dirinya dalam urusan itu, tidak sedikitpun menganggap bahwa pendapatnya lebih benar daripada firman Allah, atau menganggap Allah sebenarnya tidak memberikan petunjuk firman tentang kesalahan pendapatnya.
Cabang dan
akar yang terbentuk itu membuat suatu kesatuan dengan alam bumi
mereka hingga seseorang yang telah menumbuhkan pohon thayibah akan
mempunyai kedudukan yang kuat di muka bumi disertai dengan
pengetahuan yang memadai untuk kedudukan dirinya. Cabang itu tidak
tumbuh sendiri terpisah dari akarnya, dan akarnya tidak tercerabut
dari buminya. Petunjuk Allah yang diterima tidaklah merupakan
petunjuk yang terpisah dari kehidupan jasmaniah, dan akalnya
merupakan penghubung yang mengolah petunjuk dari langit hingga
terhubung dengan buminya. Petunjuk dari langit itu tidak hanya
digunakan untuk kehidupan cabang-cabang yang terentang di langit,
tetapi juga digunakan oleh keseluruhan entitas pohon dan juga untuk bumi
tempat pertumbuhannya. Petunjuk itu bukan sesuatu petunjuk yang hanya dapat diikuti oleh nafsnya saja, tetapi suatu petunjuk yang dapat dikenali makna dan nilainya di alam bumi setelah diterima oleh daun dan cabang-cabangnya yang menjulang ke langit. Kesatuan cabang dan akar itu menjadikan suatu petunjuk mempunyai nilai dan makna bagi kehidupan bumi.
Keadaan di atas merupakan tujuan ideal yang harus dicapai oleh orang beriman dalam menumbuhkan kalimah thayibah. Dalam prakteknya, tidak jarang orang-orang yang beriman bahkan para nabi yang tersingkir dari umatnya karena penolakan umatnya. Manakala suatu kaum tidak dapat memahami kebenaran yang disampaikan oleh seseorang di antara mereka, petunjuk-petunjuk Allah itu tidak akan dapat mewujud di alam lahiriah. Keberhasilan pewujudan petunjuk Allah itu akan selaras dengan penerimaan umat manusia terhadap kebenaran yang disampaikan kepada mereka. Bila suatu kebenaran diikuti oleh umat manusia, umat manusia pasti akan memperoleh manfaat dari kebenaran yang mereka ikuti. Sebaliknya kadangkala suatu kaum mengikuti apa yang mereka katakan sebagai kebenaran tetapi tidak mendatangkan manfaat bagi kehidupan mereka. Hal demikian bisa menjadi tanda bahwa kebenaran itu hanya waham, atau kaum tersebut tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti kebenaran. Kadangkala suatu kebenaran bercampur dengan waham yang menjadikan manusia menjadi mandul. Puncak dari kegagalan seseorang dalam menyampaikan petunjuk Allah akan terjadi manakala seorang isteri menolak kebenaran Allah yang disampaikan oleh suaminya. Kadangkala seorang isteri tidak dapat memahami kebenaran yang ada pada suaminya tetapi tidak pula menolak kebenaran itu. Hal itu merupakan ketidaksuburan yang ada terjadi pada kaum perempuan yang akan menghambat terwujudnya petunjuk Allah di alam dunia. Hal ini tidak menunjukkan bahwa pohon thayibah pada diri seseorang tercerabut, tetapi kekurangan akal pada umat atau isterinya. Secara khusus, tercerabutnya seseorang dari isterinya bisa menunjukkan gejala yang sama dengan pohon yang buruk.
Ketidaksuburan seorang perempuan atau suatu kaum terhadap kebenaran sangat dipengaruhi oleh waham-waham yang tumbuh di antara mereka. Kadangkala suatu kaum tidak berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mengikuti kebenaran, maka mereka mengikuti hal-hal yang tampak dalam pandangan mereka sebagai suatu kebenaran sedangkan mungkin hal-hal itu tidak sesuai dengan firman Allah. Suatu kaum mungkin tumbuh hingga mempunyai mata, telinga dan qalb pada bathiniah mereka tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat Allah. Kebenaran yang mereka ikuti demikian hanyalah sebuah waham kebenaran, sedangkan mereka tidak mempunyai keberanian untuk mengikuti kebenaran. Kadangkala suatu kaum meletakkan kebenaran pada apa-apa yang mendatangkan keuntungan untuk diri mereka. Ada pula kaum yang meletakkan kebenaran pada apa yang dikatakan sebagai kebenaran tanpa mengetahui nilainya. Suatu nilai kebenaran harus ditimbang berdasarkan tujuan pembinaan cinta kasih di antara manusia, maka manusia akan mengetahui nilai kebenaran yang seharusnya diperjuangkan. Cinta kasih itu adalah cinta kasih yang diajarkan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang mendatangkan keberjamaahan dalam kebenaran, bukan sembarang cinta kasih yang kadangkala bersifat kotor. Dengan pembinaan pikiran dan akal yang benar, seorang perempuan atau suatu kaum akan terhindar dari ketidaksuburan terhadap kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar