Pencarian

Rabu, 05 Februari 2025

Amanah Dan Pemakmuran Bumi

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kembali kepada Allah akan ditemukan oleh orang-orang beriman manakala mereka mengenali amanah yang diberikan kepada mereka. Allah telah menggelar amanah-amanah bagi para makhluk tetapi para makhluk itu menolak untuk mengemban amanah-amanah tersebut karena mereka khawatir akan mengkhianatinya. Manusia lah makhluk yang mau mengemban amanah-amanah Allah itu.

﴾۲۷﴿إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir memikulnya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QSAl-Ahzaab : 72)

Amanah Allah yang digelar di hadapan para makhluk tersebut adalah amanah pemakmuran bumi. Amanah itu merupakan sesuatu yang besar yang berat untuk dipikul oleh makhluk sedemikian makhluk-makhluk besar menolak untuk memikulnya. Langit menolak amanah itu, demikian pula bumi dan gunung-gunung menolaknya. Barangkali bila mereka itu sekalipun diberi amanah bersama-sama akan tetap menolak amanah itu sedangkan mereka itu mempunyai kekuatan masing-masing yang sangat besar untuk memberikan kemakmuran bagi kehidupan di bumi. Manakala Allah menggelar amanah itu, tentulah peristiwa penggelaran itu dilakukan di hadapan makhluk-makhluk yang dinilai mempunyai kemampuan untuk pemakmuran bumi. Hanya manusia saja yang mau memikul amanah Allah sedangkan makhluk-makhluk yang lain menolaknya. Sebenarnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh dalam menerima amanah Allah. Kemampuan manusia untuk melakukan pemakmuran terpendam dalam-dalam, bahkan kebanyakan manusia pada dasarnya tidak mempunyai pengetahuan tentang amanah itu dan tidak mencium aroma adanya kemampuan melakukan pemakmuran.

Langit, bumi dan gunung-gunung merupakan makhluk-makhluk yang mempunyai potensi pemakmuran yang sangat besar di bumi. Pada masa ini, mereka berbuat hanya mengikuti natur masing-masing tidak sungguh-sungguh mengerahkan suatu usaha untuk memberikan pemakmuran di bumi, tetapi dengan natur demikian itu mereka telah memberikan pemakmuran. Sebenarnya manusia dapat melakukan pemakmuran dengan mengikuti proses-proses pada makhluk-makhluk tersebut, mengukur potensi-potensi yang ada pada langit, bumi dan gunung-gunung dengan natur proses pada mereka saat ini, dan seharusnya manusia mempunyai pemahaman terhadap potensi yang dapat dilakukan oleh makhluk-makhluk tersebut. Secara umum, terlalu sedikit upaya manusia dalam memahami secara integratif potensi-potensi yang bisa dimanfaatkan manusia dari langit, gunung dan bumi, dan terlalu besar kerusakan yang diperbuat manusia terhadap mereka. Sebenarnya ada potensi besar yang tersimpan pada mereka bila mereka diperintahkan untuk memberikan pemakmuran, dan hal demikian dapat dilakukan oleh manusia atas ijin Allah apabila manusia dapat mengenal kehendak Allah yang terhampar pada makhluk-makhluk tersebut.

Manusia merupakan makhluk yang sangat dzalim dan sangat bodoh. Dzalimnya manusia dapat dilihat pada keberanian mereka menempuh langkah-langkah kehidupan tanpa suatu keterangan atau dengan mengabaikan penjelasan dan realitas yang ada. Orang-orang yang dapat bertindak tanpa suatu pengertian atau pemahaman yang benar terhadap suatu masalah, atau bahkan bertindak dengan mengabaikan realitas, mereka itu adalah makhluk yang dzalim. Kebodohan manusia dapat dilihat pada perbuatan yang dilakukan tanpa menimbang kebaikan dan keburukan yang dapat ditimbulkan bagi makhluk yang lain, yang seringkali dilakukan untuk keuntungan diri sendiri. Orang-orang yang melakukan kebodohan seringkali tidak mengetahui kebodohan diri mereka sendiri, dan akibat buruk dari apa-apa yang mereka lakukan ditanggung oleh orang lain. Dampak dari kebodohan seseorang seringkali menimpa orang lain tanpa disadari oleh yang melakukan kebodohan. Sifat-sifat demikian itu melekat pada diri manusia.

Ketakwaan Dalam Proses Pemakmuran

Sekalipun demikian, Allah benar-benar berbuat adil terhadap para makhluknya termasuk manusia yang telah berbuat bodoh dan dzalim. Ada jalan sempit yang bisa dilakukan oleh orang-orang beriman agar ia dapat mengenal amanah bagi diri masing-masing, tidak melakukan kerusakan yang banyak di muka bumi, dan dapat mengendus adanya kemampuan dalam dirinya untuk melakukan hal-hal terkait pemakmuran. Dengan proses yang panjang, para manusia dapat melaksanakan amanah yang harus ditunaikan di bumi. Manusia dapat memahami atau menyalin kemampuan-kemampuan yang ada pada langit, bumi dan gunung-gunung sehingga mereka dapat melakukan pemakmuran di bumi. Bila manusia tidak menempuh jalan yang ditentukan bagi mereka, mereka sebenarnya merupakan makhluk yang sangat bodoh dan dzalim yang banyak melakukan kerusakan di muka bumi.

Jalan sempit itu adalah ketakwaan kepada Allah dan berkata secara tepat. Dengan ketakwaan kepada Allah dan berkata secara tepat, amal-amal manusia akan menjadi tepat dan Allah mengampuni dosa-dosa yang dilakukan manusia.

﴾۰۷﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
﴾۱۷﴿يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
(70) Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (71) niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.(QS Al-Ahzaab : 70-71)

Ketakwaan menunjukkan pada terwujudnya amal berdasarkan suatu pemahaman terhadap kehendak Allah dan amal itu ditunaikan sesuai dengan kehendak-Nya. Bentuk ketakwaan itu tidak hanya berdasarkan pemahaman dalam bentuk-bentuk emosional tanpa suatu bentuk turunan yang nyata di bumi. Bentuk ketakwaan itu mempunyai bentuk-bentuk nyata setidaknya berupa ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah SAW. Dalam tingkatan praktis, ketakwaan itu berupa pemahaman terpadu terhadap ayat kauniyah dan ayat kitabullah, sedemikian seseorang itu terlihat secara nyata memahami kehendak Allah dengan tepat sesuai dengan kauniyah yang terjadi. Ketakwaan tidak bisa terwujud hanya berdasarkan suatu persepsi tertentu tanpa suatu pemahaman terhadap ayat-ayat Allah. Allah menggelar ayat-ayat yang sangat banyak bagi manusia yang akan menunjukkan manusia pada kehendak-Nya secara nyata.

Ayat-ayat itu berupa ayat-ayat kauniyah ataupun ayat-ayat kitabullah. Apabila manusia berusaha untuk memahami ayat-ayat kauniyah berdasarkan tuntunan kitabullah, ayat-ayat itu akan menunjukkannya pada kehendak-Nya. Apabila seorang hamba berusaha untuk beramal sesuai dengan kehendak-Nya, ia telah berusaha melakukan amal berdasarkan suatu ketakwaan. Barangkali tidak semua orang dapat memahami ayat Allah dengan tepat, tetapi apabila ada suatu keikhlasan dalam diri seorang hamba untuk memahami kehendak-Nya dengan benar dan melaksanakan kehendak itu, ia telah mempunyai ketakwaan. Kekurangan dalam pemahaman itu akan tertutupi bila seseorang bertakwa dan mengatakan suatu ayat Allah secara tepat.

Ada tingkatan-tingkatan dalam ketakwaan. Sebagian hamba mempunyai ketakwaan yang lebih baik daripada hamba yang lain. Tingkatan-tingkatan ketakwaan itu menunjukkan kemuliaan seorang hamba dibandingkan hamba yang lain dalam pandangan Allah. Tingkatan ketakwaan itu ditunjukkan dengan tingkat pemahaman seseorang terhadap ayat-ayat Allah dan pelaksanaan dari kehendak-Nya tersebut. Tingkatan itu tidak bisa diukur mengikuti hawa nafsu manusia. Tidak jarang manusia memandang baik apa-apa yang buruk tetapi dibungkus dengan sesuatu yang baik atau sesuatu yang dijadikan syaitan indah dalam pandangan manusia. Dan tidak sedikit manusia memandang buruk sesuatu yang baik sedangkan yang baik itu difitnah baik oleh manusia ataupun alam syaitan. Ketakwaan seseorang harus diukur berdasarkan pemahamannya terhadap ayat-ayat Allah dan tuntunan Rasulullah SAW, serta dari amal-amal yang dilahirkan dari pemahamannya tersebut.

Mengukur ketakwaan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan akal dalam memahami kehendak Allah secara tepat. Setiap orang beriman harus berusaha mengikuti perkataan yang terbaik, selain mengatakan yang terbaik secara tepat. Hal ini sangat penting dilakukan agar setiap orang dapat memperoleh tempat yang baik dalam al-jamaah. Bila manusia mengukur ketakwaan secara sembarangan, ia akan mudah tertipu oleh makhluk-makhluk. Bila manusia berusaha mengukur dengan dengan benar ketakwaan di antara manusia, ia akan memperoleh kemampuan untuk mengenal kehendak-kehendak Allah dengan benar, dengan tujuan terutama mengenal kehendak Allah untuk dirinya sendiri, ataupun kehendak Allah untuk semesta diri mereka.

Secara jamaah, manusia akan membentuk al-jamaah secara benar dengan mengukur ketakwaan orang-orang di antara mereka dan menempatkannya sesuai kedudukannya. Kedudukan dalam suatu jamaah hendaknya diberikan kepada orang-orang sesuai dengan ketakwaan masing-masing. Menempatkan orang pada urusannya hanyalah omong kosong apabila suatu jamaah tidak mengukur ketakwaan yang ada di antara mereka secara tepat. Orang yang bertakwa ditunjukkan dengan pemahaman mereka terhadap tuntunan Allah. Bila manusia tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mengukur ketakwaan, jamaah yang terbentuk akan terbalik-balik. Orang-orang yang menginginkan popularitas sangat mungkin menjadi orang-orang yang mempunyai kuasa di antara jamaah, sedangkan orang yang benar ketakwaannya mungkin harus tersingkir dari urusan mereka. Bila demikian terjadi, menempatkan orang pada urusannya hanya akan menjadi omong kosong.

Orang-orang yang bertakwa hendaknya ditempatkan pada kedudukan sesuai dengan ketakwaannya, adapun orang-orang yang kurang bertakwa mempunyai kedudukan yang lebih bebas dalam al-jamaah. Orang yang kurang bertakwa bisa saja mengejar keinginan-keinginan mereka sendiri baik secara kasat mata ataupun keinginan dalam bungkus-bungkus ruhaniah. Selama urusan orang-orang yang bertakwa diberikan dengan benar, orang-orang yang mengejar keinginan sendiri akan terkendali, tidak mudah terjatuh dalam kedzaliman dan kebodohan yang merugikan orang banyak. Bila orang-orang yang bertakwa tidak memperoleh kedudukan di antara masyarakat, orang-orang yang dzalim dan bodoh akan merajalela berbuat untuk keinginan mereka sendiri. Bila suatu jamaah terlalu disibukkan dengan mengatur orang-orang yang tidak bertakwa, urusan mereka akan menjadi sangat besar sedangkan orang yang mengatur urusan mungkin kurang cukup. Hal ini tidak berarti boleh mengabaikan orang banyak, tetapi hendaknya suatu jamaah berusaha sungguh-sungguh untuk memberikan hak dan kewajiban orang banyak sesuai dengan ketakwaan masing-masing.

Takwa dengan Berpegang Pada Tuntunan Allah

Ketakwaan yang sesungguhnya akan tercapai oleh manusia manakala seseorang memahami kehendak Allah dalam penciptaan dirinya. Allah telah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal yang menjadi sarana bagi dirinya untuk bertaubat kembali kepada Allah menempuh jalan langitnya dalam mi’raj kepada Allah. Amal-amal yang ditetapkan Allah itu adalah amanah diri setiap orang. Tidak semua orang mengetahui amanah dirinya sekalipun ia telah benar-benar telah diberi amanah itu.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Israa’ : 13)

Kelak ketetapan amal-amal itu akan dijumpai seseorang sebagai kitab yang terbuka sebagai pembanding terhadap amal-amal yang dilakukan. Amal-amal itu akan menjadi sumber bagi timbangan diri seseorang. Seseorang yang beramal secara tepat sesuai kehendak Allah akan menemukan keterbukaan hakikat dari apa yang diamalkannya, dan hakikat itu akan menjadi bobot timbangan amal-amalnya. Seseorang yang banyak beramal secara tepat akan memperoleh hakikat-hakikat dalam bobot yang besar, sedangkan orang yang beramal tanpa mengetahui atau mempertimbangkan ketetapan Allah tidak akan mengisi pengetahuan hakikat, maka timbangan mereka akan ringan di hadapan Allah.

Pelaksanaan amal yang ditentukan bagi diri seseorang tidak boleh dilakukan secara sembarang tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah Alquran. Amal-amal yang ditetapkan itu akan mendatangkan hakikat manakala sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran. Seseorang akan mengetahui bobot amalnya berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran, karena seluruh hakikat yang digelar Allah terdapat dalam kitabullah Alquran. Manakala suatu amal dilakukan tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, seseorang mungkin tidak memperoleh bobot yang layak bagi amal yang dilakukannya. Secara khusus, syaitan sangat berkepentingan terhadap amal-amal dalam jenis demikian karena dapat digunakan secara efektif untuk menipu manusia dalam jumlah besar. Mungkin tidak hanya ringan bobot timbangan hakikatnya, boleh jadi orang yang melakukan amal yang ditentukan baginya harus menanggung kesalahan dari banyak orang yang mengikuti. Secara umum, orang yang mengetahui amal yang ditentukan bagi dirinya akan mengetahui ayat-ayat kitabullah yang terkait dengan amal-amalnya, tetapi bukan tidak mungkin seseorang lalai dalam memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Amal-amal yang ditentukan ini merupakan bentuk amanah yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Setiap manusia memiliki amanah masing-masing yang harus ditunaikan, dan memperoleh bagian amanah yang harus disampaikan kepada orang-orang lain yang berhak atas amanahh itu. Amanah itu tidak bersifat individual, tetapi terkait antara satu orang dengan orang yang lain, dan keseluruhan amanah yang diberikan kepada manusia merupakan bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW. Terkait dengan hubungan demikian, setiap amanah yang diberikan kepada manusia merupakan bagian dari kitabullah Alquran, karena itu pelaksanaan amanah itu harus dilakukan sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran tidak boleh melaksanakan dengan tujuan dan cara-cara sendiri yang bertentangan dengan tuntunan. Pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dalam melaksanakan amanah ini merupakan hakikat yang menjadi bobot manusia, tidak hanya pelaksanaannya saja.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar