Pencarian

Selasa, 24 Desember 2024

Taubat dengan Mengikuti Kitabullah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kembali kepada Allah adalah jawaban yang akan diperoleh oleh manusia yang bersungguh-sungguh menggunakan akalnya. Mereka adalah orang-orang yang mencari makna kehidupan diri mereka, tidak terjebak dalam makna-makna semu kehidupan dunia. Sebagian manusia memandang bahwa kehidupan diri mereka adalah untuk bersenang-senang dengan kehidupan dunia maka mereka kemudian membenarkan cara-cara kehidupan yang kotor. Sebagian manusia berusaha untuk memberikan kebaikan-kebaikan bagi sekitar mereka hingga terbentuk masyarakat yang baik. Sebagian kecil di antara manusia benar-benar berpikir tentang makna kehidupan diri mereka hingga menemukan jawaban bahwa mereka berkeinginan untuk kembali dekat kepada pemilik semua kebaikan yang ada di semesta alam, maka mereka berkeinginan untuk bertaubat.

    ﴾۶۲﴿فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

    ﴾۷۲﴿إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ

    ﴾۸۲﴿لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ

(26)maka ke manakah kalian akan pergi? (27) Sungguh (Al Quran) itu tiada lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam, (28)(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. (QSAt-Takwiir : 26-29)

Orang-orang yang berpikir tentang makna kehidupan yang sesungguhnya kadangkala terlihat aneh bagi masyarakat umum. Mungkin ia tampak seperti orang yang kebingungan dalam arah kehidupan dunia. Sebenarnya mereka adalah orang yang merasakan suatu pertanyaan dari sisi Allah : “maka ke manakah kalian akan pergi?”, dan mereka bertanya kepada diri mereka sendiri tentang apa yang mereka rasakan. Dalam banyak hal, mereka juga mungkin saja mempunyai keinginan terhadap kehidupan dunia, terhadap kebaikan-kebaikan yang dapat mereka berikan kepada orang lain dan hal-hal lain yang sama seperti orang-orang pada umumnya, tetapi manakala mereka memikirkan kembali apa yang mereka peroleh, mereka kemudian kehilangan kembali maknanya, dan hati mereka bertanya lagi : “maka ke manakah kalian akan pergi?”.

Kadangkala orang demikian tidak tampak sebagai orang yang menjauhkan diri dari dunia. Mungkin saja masih ada dalam diri mereka keinginan terhadap duniawi dan keinginan lain, tetapi terbatas pada proporsi tertentu saja sedemikian mereka tidak terdorong untuk berbuat jahat atau mengikuti hawa nafsu untuk memperoleh keinginan-keinginan mereka. Proporsi pada mereka itu mungkin sekadar hidup layak tidak mengalami kehidupan yang buruk, atau mengharapkan duniawi untuk dapat beramal shalih dengan duniawi itu. Mereka mungkin tidak terlepas dari natur alam ragawi mereka tetapi bisa mengendalikan dorongan keinginan-keinginan diri itu, dan justru ada keinginan untuk menggunakan dorongan itu untuk berbuat kebaikan kepada orang lain bukan untuk diri mereka sendiri saja. Orang-orang yang mempunyai keinginan untuk kembali kepada Allah tidak selalu tampak sebagai orang yang menjauhkan diri dari duniawi, tetapi pasti menjauhkan diri dari kejahatan duniawi.

Kesadaran untuk berjalan kembali kepada Allah pada diri seseorang boleh jadi muncul setelah melalui berbagai proses pembelajaran hingga seseorang menyadari bahwa tujuannya adalah kembali kepada Allah. Seseorang yang sukses secara duniawi mungkin saja merasakan kehidupan yang hampa, kemudian ia melangkah untuk suatu tingkat kebaikan tertentu, dan terus terjadi demikian hingga tumbuh suatu kesadaran bahwa ia hanya berkeinginan untuk kembali kepada Allah tidak menginginkan yang lain. Adapun hal yang kemudian tampak dari mereka hanya merupakan wujud manifestasi dari keinginan untuk kembali kepada Allah. Mungkin bukan manifestasi dari kehendak Allah, tetapi manifestasi keinginan mereka untuk kembali kepada Allah. Kadangkala kesadaran itu muncul setelah berbagai kegagalan, atau berbagai kesuksesan atau setelah berbagai kejenuhan tentang makna kehidupan, dan banyak kemungkinan kasus lain. Orang-orang yang menggunakan akal akan merasakan suatu pertanyaan dasar : maka ke manakah kalian akan pergi?”.

Dalam setiap tahap proses, setiap orang harus dapat melihat jawaban yang baik dari pertanyaan diri berupa kebaikan yang harus diikuti, maka ia akan mengalir secara benar dalam membina akhlak. Ia harus menyadari bahwa sangat mungkin bahwa jawaban dari pertanyaan itu hanya bersifat temporer menjawab pertanyaan hanya pada tahapan itu. Seseorang yang memperoleh kekayaan harus mengetahui kebaikan yang harus diikuti dengan kekayaannya. Seseorang yang gagal dalam mencapai sasaran harus melihat jawaban terbaik dari kegagalannya. Demikian pula orang yang bimbang tentang makna kehidupannya harus menemukan makna yang mengisi kebimbangannya. Jawaban-jawaban yang baik dalam setiap tahapan proses itu akan mengantarkan dirinya pada suatu jawaban akhir sebagaimana nabi Ibrahim a.s mengatakan : sesungguhnya aku akan pergi kepada tuhan-ku, Dia akan memberikan petunjuk kepadaku. Perkataan demikian itu merupakan iktikad bertaubat.

Pengajaran dari Alquran

Perjalanan taubat akan membukakan kepada seseorang berbagai pengajaran tentang kehidupan diri mereka. Pengajaran yang paling utama adalah pengajaran dalam memahami tuntunan kitabullah Alquran. Orang-orang yang bertaubat akan memahami pengajaran-pengajaran dari kitabullah melalui alam kauniyah yang terjadi di sekitar mereka. Taubat adalah langkah yang perlu ditempuh para hamba untuk kembali kepada Allah. Perjalanan Rasulullah SAW mi’raj ke ufuk yang tertinggi merupakan langkah taubat yang paling sempurna dan tidak ada makhluk lain yang sempurna taubatnya sebagaimana taubat Rasulullah SAW. Setiap makhluk mempunyai tujuan taubat yang telah ditentukan bagi masing-masing dan merupakan bagian dari langkah taubat Rasulullah SAW. Setiap orang mempunyai sasaran taubat yang ditentukan yang seharusnya dapat dicapai dalam kehidupan di bumi.

Pemahaman seseorang terhadap tuntunan kitabullah Alquran dapat terbentang dari alam yang rendah di bumi hingga alam tertinggi di sekitar ‘arsy. Alquran merupakan firman Allah yang memberikan pengajaran kepada semesta alam termasuk alam yang tertinggi. Mungkin seseorang tidak dapat menempuh perjalanan hingga alam tersebut, tetapi Allah bisa saja memberi pengetahuan ke dalam hatinya penjelasan-penjelasan tentang alam yang tinggi tersebut sebagai al-bayaan terhadap ayat dalam kitabullah Alquran. Tidak hanya tentang alam yang tinggi, kitabullah Alquran juga menjelaskan tentang kejadian di alam mulkiyah terkait dengan lapisan-lapisan alam termasuk tipuan-tipuan yang muncul dari alam yang lebih tinggi.

Dengan kitabullah, seseorang dapat memahami alam semesta dengan baik sesuai dengan kehendak Allah dalam menggelar alam semesta. Yang penting bagi setiap orang adalah memahami ajaran kitabullah dengan benar walaupun sedikit, karena kesesatan terhadap tuntunan kitabullah itu akan mendatangkan madlarat yang besar. Semakin besar pemahaman yang diperoleh, semakin besar pula cahaya yang menerangi yang akan menambahkan derajat bagi mereka di hadapan Allah. Manakala seseorang mengikuti suatu kesesatan, ia bisa memandang perbuatannya sebagai kebaikan sedangkan Allah memandangnya sebagai sumber kerusakan bagi umat manusia. Semakin sewenang-wenang dengan pandangan kebaikannya, orang sesat akan mendatangkan kerusakan yang semakin besar. Setiap orang harus berusaha memahami tuntunan kitabullah dengan benar.

Ada dasar-dasar yang harus diketahui setiap manusia agar mereka dapat memperoleh atau memahami pengajaran dari kitabullah Alquran. Setiap orang harus mengimani apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam rukun-rukun iman, dan melaksanakan setiap syariat yang dituntut sebagaimana rukun-rukun islam. Rukun-rukun demikian merupakan kerangka dasar yang harus terbentuk agar manusia dapat memahami pengajaran dari kitabullah Alquran. Semakin tinggi rasa kebutuhan seseorang dalam melaksanakan rukun-rukun tersebut dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, semakin mudah baginya untuk memahami pengajaran. Kebutuhan terhadap rukun-rukun demikian muncul karena proses yang terjadi pada diri seorang hamba, bukan hanya rasa membutuhkan yang dimuncul-munculkan. Ketaatan terhadap tuntunan itu sendiri seringkali dapat membukakan pengajaran-pengajaran dari kitabullah Alquran, dan rasa membutuhkan akan semakin membukakan pengajaran-pengajaran itu.

Keinginan seseorang untuk dapat menempuh jalan yang lurus menjadi pembuka utama pengajaran-pengajaran kitabullah. Jalan yang lurus adalah jalan kehidupan yang ditetapkan Allah bagi seseorang sebelum kelahirannya di dunia. Terkait dengan proses-proses taubat, hanya orang-orang yang ingin bertaubat kembali kepada Allah yang bisa mengetahui jalan yang lurus bagi dirinya, dan tidak semua orang yang ingin bertaubat kepada Allah mengetahuinya. Manakala seseorang tidak mempunyai keinginan untuk kembali kepada Allah, ia sebenarnya tidak mengetahui kebuutuhan terhadap shirat al-mustaqim. Kebutuhan seseorang untuk menunaikan jalan yang ditetapkan bagi dirinya itulah yang akan menjadi pembuka bagi seseorang terhadap pengajaran-pengajaran dari kitabullah Alquran.

Keinginan menempuh jalan yang lurus juga berarti berusaha menegakkan diri sebagai hamba Allah. Mungkin seseorang belum mengetahui shirat al-mustaqim bagi dirinya tetapi ada keinginan dalam dirinya untuk dapat tegak sebagai hamba Allah yang benar dan sebenarnya dan ia menempuh jalan untuk menjadi demikian. Orang-orang demikian juga termasuk sebagai orang-orang yang ingin menempuh jalan yang lurus, maka Alquran dapat memberikan kepada mereka pengajaran-pengajaran yang benar tentang kehendak Allah. Mungkin ia membaca tuntunan kitabullah kemudian mengetahui kehendak Allah bagi dirinya untuk saat itu. Atau orang lain menyampaikan firman Allah kemudian ia memperoleh pengajaran tentang kehendak Allah.

Lurus Dalam Menerima Pengajaran

Setiap orang harus berpegang pada tuntunan kitabullah dengan penghayatan sesuai kehendak Allah untuk menegakkan diri sebagai hamba Allah. Banyak manusia tersesat dalam menegakkan diri sebagai hamba Allah. Setiap orang harus berusaha memahami kehendak Allah dengan benar dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan melaksanakan kehendak-Nya itu dengan sebaik-baiknya. Keinginan menjadikan diri sebagai hamba Allah tidak boleh ditegakkan dengan hawa nafsu saja. Bila mengikuti hawa nafsu saja, seseorang akan menjadi hamba yang tersesat. Allah sangat mungkin tidak menerima taubat orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsu sekalipun berprasangka pasti Allah akan menerima taubatnya, karena boleh jadi mereka adalah orang-orang yang tersesat. Orang yang tersesat adalah orang yang ingin berjalan kepada Allah tetapi melalui jalan yang salah. Kitabullah Alquran mendudukkan orang yang tersesat berseberangan dengan orang yang berada di atas shirat al-mustaqim. Sebagian kaum sangat tekun membaca tuntunan kitabullah dan membahas perkataan orang-orang terbaik, tetapi bacaan mereka tidak melampaui kerongkongan karena hanya mengikuti hawa nafsu, maka mereka keluar dari islam sebagaimana terlemparnya anak panah dari busurnya. Mereka berjuang keras menegakkan syariat mengikuti semangat dan langkah Dzul Khuwaisirah dan keturunannya dari Najd. Setiap orang harus berpegang pada tuntunan kitabullah sesuai dengan kehendak Allah tidak mengikuti hawa nafsu sendiri.

Landasan dalam mengikuti kehendak Allah itu adalah sifat rahman dan rahim. Sifat rahman menunjukkan pada suatu keinginan pada seseorang untuk memberitakan kebenaran kepada orang lain, sedangkan sifat rahim menunjuk pada sifat menyayangi orang lain sebagaimana menyayangi diri sendiri. Terbinanya sifat demikian akan terjadi dalam tahapan-tahapan tertentu. Langkah awal pembinaan sifat-sifat demikian adalah tazkiyatun nafs, kemudian berhijrah menuju pengenalan terhadap penciptaan diri berupa pegenalan terhadap nafs wahidah, dan kemudian melangkah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pembinaan demikian akan subur manakala dilakukan dengan menempuh pernikahan. Bila seseorang melupakan pembinaan sifat rahman dan rahim dalam dirinya dalam menegakkan diri sebagai hamba Allah, ia akan mudah terjatuh pada kesesatan.

Langkah-langkah pembinaan itu tidak boleh dilakukan secara menyimpang dari pembinaan sifat rahman dan rahim. Misalnya ketika seseorang beradu keunggulan dengan orang lain berdasarkan pengenalan terhadap jati diri, maka hal demikian akan memisahkan dirinya dari pembinaan sifat rahman dan rahim. Karena adanya keinginan untuk dipandang sebagai ahli pada bidangnya, mungkin saja seseorang kemudian menghalangi orang lain mengembangkan keahlian pada bidang yang sama, tidak memunculkan langkah sinergi. Sikap demikian itu juga akan mengurung seseorang dalam waham, baik waham tentang dirinya ataupun waham dalam cara pandang terhadap semesta. Keadaan demikian itu menunjukkan bahwa hijrah menuju pengenalan penciptaan diri telah terpisah dari pembinaan sifat rahman dan rahim, dan itu akan merusak perkembangan umat dalam mewujudkan pemakmuran bumi. Setiap orang harus membina sifat rahman dan rahim dirinya dalam menempuh setiap langkah bertaubat kepada Allah. Dalam wujud praktis, sifat demikian akan tampak sebagai perbuatan mencerdaskan umat dalam penghambaan kepada Allah serta tumbuhnya sifat kasih sayang di antara umat manusia.

Kaum muslimin tidak boleh kehilangan arah dalam pembinaan sifat demikian. Kadangkala syaitan menyimpangkan langkah pembinaan dengan kekejian. Suatu pernikahan yang dilakukan untuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW tidak jarang dihembusi syaitan dengan dorongan kekejian di dalamnya maka langkah mereka kemudian menyimpang. Demikian pula langkah yang lain harus diperhatikan agar tidak menyimpang. Suatu langkah tazkiyatun nafs harus menumbuhkan akal dalam memahami tuntunan kitabullah, tidak boleh menjadikan seseorang menjadi lemah dalam menggunakan akal atau tidak mau berpegang pada tuntunan kitabullah. Kemampuan menyentuh ayat kitabullah merupakan sasaran yang harus dicapai dalam tahap tazkiyatun-nafs. Tahap pengenalan nafs wahidah harus disertai dengan suatu kesadaran bahwa amal yang dilakukannya adalah bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Menjadi bagian dari al-jamaah merupakan sasaran yang harus dicapai dalam tahap pengenalan nafs wahidah. Bila seseorang merasa menjadi jagoan karena pengenalan nafs wahidah, ia telah kehilangan arah dalam pembinaan dirinya.

Kaidah-kaidah demikian harus ditanamkan kuat dalam diri setiap muslimin. Shirat al-mustaqim merupakan jalan yang mempunyai nilai luhur yang akan mengantarkan setiap orang untuk layak hadir di hadirat Allah. Jalan itu bukan hanya pengenalan bentuk-bentuk amal bagi seseorang. Orang-orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah harus menghayati nilai-nilai luhur yang bisa terwujud dari kehendak Allah dalam shirat al-mustaqim, tidak bercampur dengan kotoran-kotoran dari hawa nafsu ataupun dari syaitan. Di akhirat, orang-orang yang mempunyai keikhlasan besar akan berkedudukan lebih dekat kepada Allah dan yang tercampur dengan hawa nafsu akan berkedudukan lebih jauh. Orang-orang yang mengikuti pikiran—pikiran dan langkah-langkah syaitan akan dibersihkan di neraka sebelum diijinkan masuk ke surga. Keadaan-keadaan demikian dapat diukur dari ketepatan langkah seseorang dalam mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Kitabullah Alquran akan memberikan pengajaran-pengajaran kepada orang-orang yang ingin menempuh shirat al-mustaqim.

Orang-orang beriman harus dibina untuk memahami kebaikan yang harus disumbangkan bagi masyarakat mereka. Kekayaan bagi alam dunia ini telah disediakan dalam gudang-gudang, baik kekayaan berupa kebaikan ataupun kekayaan yang mendatangkan keburukan. Syaitan dan para pengikutnya membuka kekayaan dari pintu-pintu keburukan bagi manusia. Kebanyakan manusia tidak mengetahui bentuk kekayaan yang sampai kepada mereka karena tidak mempunyai pengetahuan dari pintu mana kekayaan itu muncul. Sebagian orang beriman dapat melihat kekayaan yang tersimpan bagi mereka dan umatnya, tetapi boleh jadi orang-orang sesat justru menutup pintu-pintu kekayaan yang baik dan membuka kekayaan yang buruk, menghalangi orang-orang yang berusaha membukakan pintu kekayaan yang baik dan menutup pintu kekayaan yang buruk. Pintu pertama kekayaan yang baik adalah akal yang memahami kehendak Allah, penutupnya adalah terbinanya sikap taklid pada umat karena berkurangnya kemampuan mengenali kebenaran yang datang dari selain kelompok mereka. Bila orang beriman dibina secara salah, mereka dapat menjadi orang-orang yang membuka pintu-pintu keburukan dan menutup pintu kebaikan, dan syaitan menginginkan demikian.

Selasa, 17 Desember 2024

Taubat dengan Mengikuti Nasihat

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Langkah mengikuti Rasulullah SAW di antaranya adalah melakukan pemakmuran di bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikan manusia sebagai pemakmurnya. Pemakmuran yang sebenarnya akan terjadi manakala seseorang bertaubat kepada Allah.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh, ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat lagi memperkenankan". (QS Huud : 61)

Pemakmuran bumi oleh seseorang pada sisi tertentu merupakan penanda bahwa seseorang telah bertaubat kepada Allah. Manakala seseorang melangkah bertaubat kepada Allah, akalnya akan berproses memahami urusan-urusan yang diperintahkan Allah, dan pelaksanaan urusan-urusan itu akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Manakala seseorang bertaubat tetapi tidak tumbuh pengetahuannya terhadap kehendak Allah atas diri mereka, hal itu menunjukkan bahwa proses taubat mereka itu belum berjalan dengan baik. Proses taubat yang benar akan memperkuat akal dalam memahami kehendak Allah, karenanya tidak bertambahnya akal dalam memahami kehendak Allah bisa menjadi tanda proses taubat tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Taubat adalah langkah yang perlu ditempuh para hamba untuk kembali kepada Allah. Perjalanan Rasulullah SAW mi’raj ke ufuk yang tertinggi merupakan langkah taubat yang paling sempurna dan tidak ada makhluk lain yang sempurna taubatnya sebagaimana taubat Rasulullah SAW. Setiap makhluk mempunyai tujuan taubat yang telah ditentukan bagi masing-masing dan merupakan bagian dari langkah taubat Rasulullah SAW. Nabi Ibrahim a.s mempunyai kedudukan paling dekat dengan Rasulullah SAW. Langkah nabi Musa a.s berhijrah menuju tanah yang dijanjikan menjadi representasi langkah taubat yang harus ditempuh setiap manusia di bumi. Demikian setiap nabi, rasul dan para ahlus-sunnah mempunyai kedudukan masing-masing sebagai sasaran langkah mengikuti Rasulullah SAW. Setiap orang mempunyai sasaran taubat yang ditentukan yang seharusnya dapat dicapai dalam kehidupan di bumi.

Sekalipun banyak sasaran, seluruh langkah taubat setiap manusia pada dasarnya mengikuti satu tujuan yaitu mengikuti langkah Rasulullah SAW. Langkah taubat itu akan meningkatkann kemampuan akal untuk memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kedekatan yang diperoleh seseorang dalam taubat selalu disertai dengan bertambahnya kemampuan akal dalam memahami kehendak Allah, dan hal itu ditunjukkan dengan pemahaman terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Satu orang mungkin saja berbeda pemahaman dengan orang lain, tetapi tidak boleh menyimpang dari tuntunan Rasulullah SAW. Manakala seseorang melangkah menyimpang dari sunnah Rasulullah SAW, taubatnya telah menyimpang.

Dengan kesatuan tujuan demikian, seseorang bisa diikuti langkahnya oleh orang lain dan sebaliknya seseorang bisa menyeru orang lain untuk mengikuti langkahnya. Para rasul merupakan orang-orang yang diberi tugas untuk menyeru umat manusia untuk beribadah kepada Allah tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu-pun. Tidak hanya demikian, mereka menyeru dan membimbing manusia untuk bertaubat kepada Allah. Langkah taubat manusia merupakan langkah lebih lanjut dalam beribadah kepada Allah, hanya dapat dilakukan setelah seseorang mempunyai iktikad beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu-pun. Orang-orang yang kafir kepada Allah, menyembah sesuatu selain Allah atau menyembah Allah dan menyembah pula sesuatu selain Allah tidak akan bertaubat dengan benar kepada Allah.

Nasihat dan Risalah

Allah mengutus kepada manusia rasul dari kalangan mereka sendiri agar menyampaikan risalah-risalah Allah dan memberikan nasihat kepada manusia sehingga manusia dapat beramal sesuai dengan kehendak Allah. Mereka adalah orang-orang yang memperoleh pengetahuan dari Allah berupa pengetahuan-pengetahuan yang tidak diketahui manusia pada umumnya. Sekalipun memperoleh pengetahuan-pengetahuan yang tidak diberikan kepada orang lain, mereka mungkin ditampakkan layaknya orang-orang biasa. Atau sebaliknya, sekalipun tampak seperti orang biasa, seorang rasul sebenarnya mempunyai pengetahuan-pengetahuan yang tidak diberikan kepada orang kebanyakan. Setiap manusia hendaknya memperhatikan seruan para rasul, sekalipun para rasul itu tampak seperti manusia biasa.

۲۶﴿أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
﴾۳۶﴿أَوَعَجِبْتُمْ أَن جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنكُمْ لِيُنذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
(62)"Aku sampaikan kepadamu risalah-risalah Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui". (63)Dan apakah kamu heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat? (QS Al-A’raaf : 62-63)

Hal terpenting dari diutusnya seorang rasul kepada umat manusia adalah penyampaian risalah-risalah Allah kepada manusia dan nasihat-nasihat yang tepat agar umat manusia dapat beramal sesuai dengan kehendak Allah. Para rasul mempunyai suatu pengetahuan dari sisi Allah yang tidak diberikan kepada orang-orang kebanyakan. Dengan pengetahuan itu setiap rasul menyampaikan risalah kepada umatnya dan memberikan nasihat. Risalah dan nasihat para rasul bertujuan agar setiap manusia dapat beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Risalah dan nasihat itu para rasul akan menjadikan akal manusia menguat sehingga seseorang dapat memahami kehendak Allah dengan benar. Risalah merupakan ajaran-ajaran pokok dalam ibadah kepada Allah agar manusia mengetahui arah kehidupannya, sedangkan nasihat-nasihat merupakan penjelasan terperinci bagi manusia sedemikian seseorang dapat memahami jalan kehidupan yang harus ditempuh. Seruan untuk beribadah kepada Allah, memohon ampunan dan bertaubat bisa menjadi contoh-contoh bentuk risalah yang disampaikan kepada manusia, sedangkan arahan bentuk-bentuk amal yang perlu dilakukan manusia bisa menjadi contoh nasihat-nasihat yang harus disampaikan para rasul.

Bagi umat Rasulullah SAW, risalah dan nasihat itu akan menjadikan mereka memahami ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pemahaman seseorang terhadap jalan ibadah akan bernilai benar bila disertai pemahaman yang tepat terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan bernilai salah bila bertentangan dengan keduanya. Suatu pemahaman di kalangan umat Rasulullah SAW terhadap jalan ibadah yang tidak disertai dengan keterbukaan makna tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bukan suatu pemahaman yang kokoh dan mungkin saja sebenarnya suatu jalan yang sesat. Dengan kelemahan yang ada, walaupun tidak memahami dalam mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, itu lebih baik daripada tampak memahami jalan ibadah tapi tidak mau berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak boleh ada jalan ibadah bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Risalah dan nasihat rasul akan menjadikan para hamba memahami jalan ibadahnya. Jalan ibadah yang harus terbentuk itu mempunyai keserupaan bentuk dengan bentuk ketaatan kepada Allah dalam suatu hubungan pernikahan. Kedua hubungan tersebut merupakan bentuk dari mitsaqan ghalidza. Ada suatu keluhuran nilai pada hubungan yang harus dibentuk dan diwujudkan dalam amal setiap manusia. Pernikahan menekankan ajaran membentuk kelurusan hubungan kepada Allah. Hal itu terlihat dalam larangan kekejian dalam pernikahan. Hubungan rasul dan umat lebih memunculkan pengajaran tentang kandungan kehendak Allah yang diturunkan melalui manusia. Kedua bentuk mitsaq demikian mengajarkan kepada manusia bentuk-bentuk hubungan yang harus dibentuk di antara makhluk sebagai pengantar pengenalan terhadap hubungan kepada Allah. Bentuk amal-amal ibadah yang harus dilaksanakan setiap hamba itu pada pokoknya harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang digariskan Allah tidak boleh menyimpang atau bengkok. Mungkin saja ada kesalahan-kesalahan terjadi pada hubungan mitsaqan ghalidza yang dapat diampuni, tetapi tidak boleh terbentuk penyimpangan pada garis hubungan sebagaimana pengkhianatan.

Bentuk dari amal yang harus diwujudkan manusia sebagai jalan ibadah pada dasarnya harus diusahakan serupa dengan amal ketaatan seorang isteri terhadap suaminya yang dicintainya yang berjihad di jalan Allah, atau amal seorang laki-laki yang mencintai keluarganya. Amal-amal shalih seharusnya dilakukan dengan suatu kecintaan yang menyertai, tidak dilakukan dengan hati yang datar ataupun permusuhan. Pada prakteknya kadang amal shalih harus dilakukan dalam bentuk yang sangat kompleks dan rumit. Bukan tidak mungkin bentuk amal shalih seseorang harus serupa dengan bentuk amal Asiyah binti Muzahim r.a yang bersuami Fir’aun. Asiyah binti Muzahim r.a harus beramal shalih bersama dengan sepak terjang Fir’aun yang ingin membunuh anak-anak laki-laki dari Bani Israel. Amal shalih itu dilakukan dengan bersih tanpa suatu pengkhianatan, suatu amal shalih yang berlandaskan keinginan memberikan qurrata ‘ain bagi suaminya sedangkan Allah berkehendak agar urusan-Nya terlaksana di bumi dengan amal shalihnya.

Nasihat berdasar Hakikat

Pengetahuan seorang rasul yang menjadi landasan penyampaian risalah dan memberi nasihat adalah pengetahuan hakikat dari sisi Allah, bukan pengetahuan yang diberitahukan oleh orang lain. Pengetahuan demikian itu bersifat pembenar, di mana seseorang telah mengetahui suatu nilai kebenaran tertentu dan kemudian manakala suatu ayat dari kitabullah yang terkait dibacakan ia bisa membenarkan dengan pengetahuannya, dan ia mengetahui bahwa ayat kitab Allah itu lebih sempurna daripada apa yang telah ia ketahui. Pengetahuan hakikat lebih utama dari pengetahuan yang diunduh dengan metode tertentu. Sifat pengetahuan hakikat demikian merupakan suatu keutamaan yang diberikan Allah kepada manusia dibandingkan kepada para malaikat. Pengetahuan demikian dapat diperoleh manusia melalui terbentuknya akhlak mulia. Hal ini tidak menunjukkan bahwa proses mengunduh adalah sesuatu yang salah, hanya menunjukkan adanya keutamaan pada pengetahuan hakikat. Walau tidak salah, setiap orang hendaknya berhati-hati dalam mengunduh pengetahuan dari alam yang tinggi karena ia tinggal di alam bawah, sedangkan di alam yang lebih tinggi banyak makhluk yang jahat berkeinginan untuk menjadikan manusia celaka dengan cara yang mungkin saja tampak baik.

Di jaman ini, suatu hakikat dapat diketahui kebenarannya dan tingkat kepentingannya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada hakikat yang bersifat penting yang tidak dicantumkan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan tidak ada hakikat yang tersingkap kepada seorang hamba Allah dari suatu ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang tidak bersifat penting. Tidak ada hakikat yang benar yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Umat islam hendaknya bersikap benar dalam berurusan dengan hakikat dengan berpegang dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala manusia tidak memandang penting atau meninggalkan pengetahuan dari kitabullah karena menilai lebih penting mengikuti waham kebenarannya sendiri. Dalam beberapa kasus, manusia lebih suka mengikuti potongan kebenaran tanpa berusaha memahami potongan itu secara lebih sempurna sedemikian ia meninggalkan kebenaran yang merupakan hakikat dari sisi Allah. Hal ini sangat disukai oleh syaitan karena mereka akan menjadi orang-orang yang mudah disesatkan. Menilai kebenaran suatu pengetahuan yang terbuka kepada manusia hendaknya dilakukan berdasarkan timbangan tuntunan kitabullah tidak hanya mengikuti keyakinan diri sendiri.

Umat harus memperhatikan sikap mereka terhadap orang yang memperoleh pengetahuan dari sisi Allah. Sebagian manusia kufur terhadap kebenaran, dan sebaliknya sebagian manusia bersikap berlebihan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah dengan mengikuti sikap menghalalkan apa yang diharamkan atau mengharamkan apa yang dihalalkan. Sikap demikian tidak dapat dibenarkan. Sebenarnya manakala seseorang benar-benar mamahami suatu hakikat, mereka tidak akan bersikap buruk demikian. Tetapi kadangkala seseorang diberi pengetahuan berupa (hanya) potongan dari suatu hakikat. Keadaan demikian bukan sesuatu yang tercela selama tidak menimbulkan sikap yang buruk, tetapi syaitan akan menjadikannya sasaran utama penipuan mereka. Sekalipun seseorang mengenal dengan benar suatu hakikat, sebenarnya mereka hanya mengenal hakikat yang merupakan bagian bagi mereka saja. Seringkali ada bagian lain dari hakikat yang tidak terbuka kepada dirinya, dan terbuka kepada orang lain. Hanya Rasulullah SAW yang mengenal seluruh hakikat yang diperkenalkan Allah kepada seluruh makhluk. Setiap orang harus berusaha dengan akalnya untuk dapat memahami hakikat secara lebih sempurna dengan membentuk hubungan yang baik kepada Allah.

Sikap pertengahan terhadap orang yang mengenal hakikat tidak boleh dilakukan dengan menganggap remeh nasihat dari orang yang diberi pengetahuan hakikat. Seringkali orang demikian mempunyai pengetahuan yang banyak tetapi tidak dapat menceritakan pengetahuan yang diberikan Allah kepadanya kepada orang banyak, dan yang dapat mereka ceritakan seringkali dibatasi pula oleh akal para pendengarnya atau oleh kemampuannya untuk bercerita. Nasihat dari mereka itu akan sangat membantu bagi seseorang yang ingin mengetahui jalan ibadahnya. Bahwa mungkin ada bagian hakikat lain yang dapat diketahui, hal itu tidak boleh menjadi bahan memandang buruk kekurangan pada pengetahuan ahli hakikat. Hakikat bukanlah pengetahuan yang dapat diperoleh dengan menggunakan olah pikir jasmaniah. Seringkali orang yang menganggap remeh nasihat dari mereka tidak dapat menemukan jalan ibadah yang sebenarnya. Kalaupun seseorang menemukan kebenaran disertai sikap menyorot kekurangan pemberi nasihat, ia hanya akan bisa menemukan potongan kebenaran saja bukan suatu kebenaran yang utuh untuk dirinya dari sisi Allah. 

Kurangnya ketaatan terhadap nasihat yang muncul dari pengetahuan hakikat bukan tidak mungkin menimbulkan madlarat yang besar. Tidak jarang manusia berusaha keras untuk membangun kemakmuran dengan pengetahuan mereka sendiri tetapi tidak muncul kemakmuran yang diinginkan. Orang-orang demikian tidak jarang terkalahkan oleh orang-orang yang mengikuti syaitan, dan bahkan justru tertipu oleh syaitan hingga menimbulkan madlarat yang besar. Kadangkala ada kelompok orang yang mengikuti nasihat tetapi mereka justru terhalang oleh orang-orang yang tidak mengikuti nasihat sehingga tidak dapat berusaha mewujudkan pemakmuran. Dalam kasus demikian, seringkali keduanya merasa berbuat kebaikan sedangkan ada yang melangkah keliru tidak mengikuti petunjuk Allah.

 

Rabu, 11 Desember 2024

Taubat dan Pemakmuran Bumi

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Langkah mengikuti Rasulullah SAW di antaranya adalah melakukan pemakmuran di bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikan manusia sebagai pemakmurnya. Pemakmuran yang sebenarnya akan terjadi manakala seseorang bertaubat kepada Allah.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh, ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat lagi memperkenankan". (QS Huud : 61)

Pemakmuran bumi oleh seseorang pada sisi tertentu merupakan penanda bahwa seseorang telah berjalan bertaubat kepada Allah. Manakala seseorang melangkah bertaubat kepada Allah, akalnya akan berproses memahami urusan-urusan yang diperintahkan Allah, dan pelaksanaan urusan-urusan itu akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Manakala seseorang bertaubat tetapi tidak tumbuh pengetahuannya terhadap kehendak Allah atas diri mereka, hal itu menunjukkan bahwa proses taubat mereka itu belum berjalan dengan baik. Proses taubat yang benar akan memperkuat akal dalam memahami kehendak Allah, karenanya tidak bertambahnya akal dalam memahami kehendak Allah bisa menjadi tanda proses taubat tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Proses taubat harus dilaksanakan dengan hati yang ikhlas. Kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang mudah untuk makhluk bumi yang berakal. Manusia sangat sering terjatuh dalam dosa-dosa yang membuat diri mereka celaka dalam menempuh kehidupan. Ada orang-orang yang menyadari beratnya kehidupan dunia bagi akal mereka karena dosa-dosa yang muncul dari diri mereka, dan kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa mereka mempunyai akal untuk memahami kehendak Allah, maka mereka terjun sepenuhnya untuk memperoleh bagian dari dunia. Dosa-dosa manusia akan menutup akal untuk memahami kehendak Allah, dan tidak jarang membuat akal keliru dalam memahami kehendak Allah. Untuk menempuh langkah taubat, setiap orang harus memohon kepada Allah ampunan agar dosa-dosa mereka tidak menutupi atau menyimpangkan akal dalam memahami kehendak Allah.

Akal Untuk Memahami Tuntunan Allah

Proses taubat akan mendatangkan pertumbuhan akal, dan akal akan menjadi tunas pemakmuran bumi. Proses pemakmuran itu akan berjalan dengan baik bila akal tumbuh dengan bertaubat, dan tumbuhnya akal itu diikuti dengan pertumbuhan pikiran dan amal-amal. Bila perkembangan akal tidak disertai dengan perkembangan pikiran dalam menurunkan pemahaman akal menuju tataran praktis, proses pemakmuran itu akan terhambat. Di tingkatan masyarakat, pertumbuhan akal seseorang seharusnya diikuti dengan pertumbuhan akal orang-orang di sekitarnya maka pertumbuhan akal itu akan memunculkan pemakmuran bumi secara luas. Apabila pertumbuhan akal seseorang di antara masyarakat tidak diikuti dengan pertumbuhan akal pada masyarakat itu, pemakmuran akan sulit tumbuh di antara mereka.

Manusia diciptakan dengan akal yang bermacam-macam, dan akal pada suatu masyarakat membentuk kesatuan yang saling mendukung dan melengkapi satu dengan yang lain. Hanya Rasulullah SAW yang mengenali seluruh kebenaran di alam semesta, dan makhluk yang lain mengambil bagian-bagian dari ilmu Rasulullah SAW. Akal di antara manusia tidak boleh dipaksakan untuk seragam serupa satu dengan yang lain karena penciptaan seseorang dan lainnya berbeda-beda. Ada orang-orang yang diciptakan untuk mempunyai pengetahuan yang bersifat fundamental bagi yang lain maka mungkin saja kemampuannya hanya terbatas memberikan fundamen tidak dapat melahirkan tindakan praktis. Sebagian lain diciptakan untuk mempunyai ilmu yang bersifat praktis hingga ia dapat melahirkan karya-karya yang menakjubkan. Dengan keadaan demikian, pertumbuhan akal pada setiap orang tidak boleh dipaksakan untuk seragam. Orang yang memperoleh pengetahuan fundamen hendaknya melahirkan fundamen-fundamen yang diketahuinya tidak boleh dipaksa untuk melahirkan amal secara praktis tanpa berdasarkan pengetahuan. Demikian pula orang yang memperoleh pengetahuan praktis hendaknya melahirkan karya-karya fisis sesuai keadaan dirinya.

Hendaknya pengetahuan seseorang ditempatkan secara tepat di antara umat berdasarkan kitabullah, tidak ditempatkan berdasarkan hawa nafsu umat manusia. Kadangkala Allah meletakkan ilmu-Nya kepada orang yang dipandang tidak layak oleh manusia. Hal demikian tidak menunjukkan bahwa Allah salah meletakkan ilmu-Nya, tetapi menunjukkan bahwa hawa nafsu mereka tidak sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Umat tidak boleh memaksakan orang yang diberi ilmu tertentu untuk mengerjakan bidang yang lain karena kehendak Allah tidak mengikuti hawa nafsu manusia. Kadangkala umat manusia memandang indah amal-amal yang bertentangan dengan firman Allah dan sebaliknya memandang rendah apa-apa yang merupakan al-bayaan dari kitabullah karena hawa nafsu mereka. Masalah demikian seringkali terletak pada cara hawa nafsu umat memandang kebenaran, bukan pada orang yang diberi pengetahuan dari kitabullah. Dalam banyak kasus, akal umat akan tumbuh bila mereka merombak waham tentang kebenaran pada diri mereka, dan mereka akan tetap terkurung dalam waham yang salah manakala tidak berusaha memahami cara Allah menurunkan penjelasan tentang kandungan kitab-Nya Alquran.

Persoalan demikian itu tidak hanya berlaku atas orang-orang yang jahat. Banyak orang-orang yang ingin memberikan kebaikan tetapi tidak memperhatikan petunjuk-petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka mereka kemudian menyimpang. Banyak orang memandang baik apa-apa yang buruk dan sebaliknya memandang buruk penjelasan dari sisi Allah tanpa menimbangnya dengan tuntunan kitabullah. Setiap orang harus berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, sedemikian hingga ia memandang bahwa tidak ada kebaikan beramal tanpa mengikuti tuntunan kitabullah. Sebenarnya setiap kebaikan akan bermanfaat bagi manusia, tetapi hendaknya orang beriman berusaha sungguh-sungguh untuk menemukan bahwa amalnya benar-benar dilakukan berdasarkan kitabullah, bahwa amalnya merupakan bagian dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Boleh saja amal baik dilakukan secara spontan tanpa terlebih dahulu meneliti tuntunan, tetapi bobot nilai tidak benar-benar diketahui. Orang yang baik akan melahirkan hal-hal baik secara spontan. Tetapi orang beriman perlu mengetahui urusan jamannya melalui kitabullah sebagai landasan beramal. Amal tanpa suatu kaitan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mempunyai bobot timbangan yang ringan walaupun mungkin tampak hebat, sedangkan amal dengan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mempunyai bobot timbangan yang besar sekalipun manusia mungkin memandangnya ringan.

Amal demikian harus dilakukan dengan seksama memperhatikan ayat Allah baik ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah secara sinergis, tidak terburu merasa yakin bahwa ia telah mengikuti benar-benar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan hanya sekilas membaca ayat Allah. Kadangkala seseorang merasa bahwa ia telah mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya dengan mengikuti langkah orang lain tanpa berusaha menemukan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah secara mandiri, maka hal demikian merupakan sikap terburu-buru merasa yakin mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa mengetahui kebenaran langkah mereka. Mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan memahami kesatuan ayat Allah baik ayat kitabullah maupun ayat kauniyah. Orang beriman harus beramal dengan memperhatikan dengan seksama tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Amal baik boleh dilakukan sebelum memahami tuntunan, tetapi harus dengan berhati-hati terhadap sikap memandang baik diri sendiri. Kadangkala suatu kaum memandang baik diri mereka sekalipun mereka telah berbuat menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka mendatangkan madlarat yang besar bagi umat manusia.

Pemakmuran Bersama Al-jamaah

Tumbuhnya akal seseorang di antara masyarakat seharusnya akan menumbuhkan kekuatan akal secara jamaah. Manakala seseorang mulai mengenal kehendak Allah secara benar, ia dapat menceritakan pengenalannya terhadap ayat Allah kepada orang lain hingga mereka menjadi mudah untuk mengenal kehendak Allah. Akan tetapi hal demikian seringkali terhalang oleh berbagai rintangan. Hawa nafsu umat manusia seringkali menjadi penghalang besar bagi umat untuk memahami pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah. Juga tidak jarang waham kebenaran umat menjadi penghalang mereka dalam mengenali kehendak Allah. Syaitan menggunakan segala cara untuk menghalangi manusia untuk memahami kehendak Allah. Kadangkala pertumbuhan akal seseorang berjalan menyimpang, dan hal demikian seringkali diikuti dengan melemahnya akal pada masyarakat.

Tumbuhnya akal pada umat manusia akan menjadi benih terbentuknya umat sebagai bagian dari al-jamaah. Suatu komunitas yang tumbuh akalnya akan memahami keberadaan orang-orang yang dapat menghubungkan mereka pada amr jami’ Rasulullah SAW, dan dapat mengenali amal-amal yang harus dilaksanakan untuk mendukung amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman masing-masing. Al-jamaah tidaklah mengikuti perintah-perintah tanpa kejelasan urusan yang harus dikerjakan, tetapi mengikuti urusan-urusan yang merupakan bagian dari perintah Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mengetahui hal itu berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan hanya persangkaan bahwa mereka mengikuti perintah Allah. Al-jamaah mengerjakan suatu amal yang mempunyai nilai besar karena pengetahuan yang benar terhadap kehendak Allah, sedangkan kebanyakan manusia mengerjakan sesuatu yang kadang sia-sia karena hanya mengikuti prasangka sendiri. Orang-orang yang meninggalkan perintah Allah untuk beramal dengan prasangka mereka sendiri termasuk dalam golongan orang-orang yang bodoh.

Orang yang akalnya tumbuh harus berusaha mengajak orang lain untuk tumbuh bersama. Pemakmuran bumi hanya dapat terjadi bila umat manusia bersama-sama memahami kehendak Allah. Manakala hanya satu orang yang akalnya tumbuh, ia tidak akan mendapatkan dukungan sehingga akan mengalami kesulitan yang banyak untuk mewujudkan langkah memakmurkan bumi. Bahkan mungkin ia tidak dapat sekadar memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Manakala orang lain di sekitarnya mengerti nilai pemahaman dari dirinya, mereka akan dapat mendukung terwujudnya pemahaman itu hingga terwujud pemakmuran bumi karena pemahaman akal yang tumbuh. Pertumbuhan akal orang-orang yang ada di sekitarnya harus diperhatikan agar proses pemakmuran dapat berjalan dengan baik. Kunci pertama yang harus diperhatikan adalah memperkuat akal pasangannya, dan akal yang lain akan mengikuti. Setiap pasangan harus dapat berjalan bersama dalam mewujudkan pemakmuran bumi mengikuti kehendak Allah.

Kelancaran proses dalam pemakmuran bumi sangat dipengaruhi oleh akhlak para perempuan di antara masyarakat. Bila akhlak para perempuan rusak, seorang laki-laki yang tumbuh akalnya dalam memahami kehendak Allah akan menghadapi kesulitan dalam menurunkan pemahamannya  agar terwujud dalam tingkatan praktis. Selain karena persoalan-persoalan yang mungkin harus dihadapi yang muncul dari isterinya, buruknya hubungan suami isteri sebenarnya akan melemahkan kekuatan memakmurkan bumi. Demikian pula akal masyarakat untuk memahami kebenaran dari akal seseorang di antara mereka akan tertutup sehingga akal masyarakat tidak ikut tumbuh bersama. Kesuburan para perempuan pada suatu kaum menjadi kunci kelancaran proses pemakmuran bumi. Proses pemakmuran bumi hanya akan terjadi dengan baik bila pembinaan akhlak dilakukan terhadap kaum laki-laki dan kaum perempuan. Pembinaan kaum perempuan tidak sama dengan pembinaan kaum laki-laki. Pembinaan kaum laki-laki dilakukan dengan membina kemampuan membentuk diri sebagai misykat cahaya dalam memahami ayat Allah, dan pembinaan kaum perempuan dilakukan dengan membina kesuburan kaum perempuan dalam mendampingi suaminya.

Penekanan poin-poin pembinaan antara laki-laki dan perempuan sebenarnya merupakan penjelasan bagi manusia tentang hal-hal yang harus diperhatikan. Setiap orang baik laki-laki ataupun perempuan pada dasarnya mempunyai aspek yang sama yang harus dibentuk melalui pembinaan yang benar, tetapi mungkin bersifat lebih halus. Misalnya ketaatan yang dituntut dari seorang isteri kepada suami sebenarnya juga merupakan tuntutan ketaatan atas suami terhadap washilahnya, tetapi mungkin seorang laki-laki belum mengetahui siapa washilahnya yang menghubungkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Demikian pula tuntutan atas diri laki-laki untuk membina pemahaman terhadap kehendak Allah sesuai dengan tuntunan Allah sebenarnya juga merupakan tuntutan atas kaum perempuan untuk memahami urusan Allah melalui suaminya tanpa menyimpang. Perbedaan bentuk pembinaan antara kaum laki-laki dan perempuan merupakan pengurai yang menjelaskan makna kualitas diri orang beriman yang harus terbina.

Pembinaan akhlak harus membentuk hubungan ubudiyah yang lurus kepada Allah. Setiap perempuan harus membentuk kesuburan untuk suaminya saja, tidak berbelok membentuk kesuburan terhadap laki-laki lain. Berbeloknya seorang perempuan dalam membentuk kesuburan merupakan kekejian. Hal itu serupa dengan laki-laki yang membina pemahaman terhadap kehendak Allah mengikuti kesesatan, dalam hal ini seringkali berbentuk tipuan syaitan. Hal-hal demikian harus sangat diperhatikan karena merupakan kekejian. Lurusnya pemahaman seorang laki-laki harus diukur dengan petunjuk dari tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam membina pemahaman terhadap kehendak Allah benar-benar sangat merusak bagi umat manusia. Orang-orang yang melakukan kerusakan dengan merasa sebagai orang yang melakukan kebaikan seringkali akan mendatangkan kerusakan yang lebih banyak daripada orang yang mengetahui bahwa perbuatannya merusak.

Mengikuti kehendak Allah secara berjamaah harus dilakukan dengan meningkatkan akal setiap orang yang ikut bersama. Seseorang yang lebih berakal tidak boleh memaksa orang lain untuk mengikuti dirinya tanpa memperkuat akal orang lain tersebut dalam memahami apa yang harus dilakukan. Memperkuat akal dalam hal ini adalah memperkenalkan sandaran dalam ayat Allah kepada umat sehingga umat dapat mengikuti langkah yang ditempuh dengan pemahaman yang lebih kokoh terhadap kehendak Allah berdasarkan tuntunan kitabullah. Pemahaman yang timbul di antara umat tidak harus sama dengan penjelasan yang disampaikan karena mereka mempunyai bentuk akal tersendiri, tetapi harus dijaga tetap merupakan pemahaman yang tepat terhadap ayat Allah tidak menyimpang. Dalam hal tertentu, suatu keputusan langkah mungkin saja dapat diambil sendiri tanpa kesertaan umat secara menyeluruh, tetapi harus disertai dengan langkah memperkuat akal orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Memaksa orang bertaklid akan mendatangkan akibat yang buruk, dan bukan tidak mungkin akal umat justru akan mengalami kemunduran. Orang-orang yang bertaklid tidak akan bisa memberikan peringatan manakala penyeru mereka terancam bahaya, dan seringkali mereka akan mengikuti saja seandainya penyeru mereka terjatuh. Manakala berada pada kerendahan, mereka mungkin akan tetap menyanjung diri mereka sendiri tidak mengetahui kerusakan yang telah ditimbulkan amal perbuatan mereka. Hal ini dapat dihindari apabila setiap orang diperkenalkan pada kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai landasan amal yang mereka lakukan. Dengan cara demikian, setiap orang mempunyai keyakinan yang benar bahwa mereka beramal sebagai bagian dari perintah Allah dan amr jami’ Rasulullah SAW.

Dalam proses pemakmuran, keadaan kauniyah yang terjadi bisa menjadi tanda untuk menimbang kebenaran langkah dalam bertaubat kepada Allah. Apabila keadaan kauniyah memburuk, boleh jadi langkah seseorang dalam bertaubat tidak tepat. Secara umum alam syaitan akan berusaha menghalangi manusia dalam bertaubat kepada Allah hingga keadaan masyarakat mungkin kemudian menjadi memburuk. Orang-orang bertaubat hendaknya mencari pengetahuan tentang hal demikian. Kadangkala memburuknya keadaan masyarakat terjadi bukan karena langkah syaitan tetapi karena kesalahan langkah dalam bertaubat. Apabila hal demikian terjadi, hendaknya orang-orang yang bertaubat mengarahkan kembali langkah mereka mengikuti tuntunan Allah. Apabila orang bertaubat tidak mau kembali atau justru menentang tuntunan Allah, kerusakan yang terjadi di antara manusia sebenarnya sangatlah besar. Kerusakan yang terjadi di masyarakat mungkin disebabkan sebagian besar karena langkah mereka sendiri bukan karena langkah syaitan, atau karena syaitan menggunakan mereka. Hal demikian sangat mungkin terjadi. Bila orang-orang yang bertaubat tidak memperhatikan keadaan kauniyah yang mengiringi mereka, mereka tidak memperoleh tanda tentang langkah yang benar dalam taubat mereka.

Kamis, 05 Desember 2024

Rasa Mawaddah dengan Iman dan Amal Shalih

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara langkah mengikuti Rasulullah SAW adalah beramal shalih berupa amal-amal yang ditetapkan Allah bagi dirinya. Allah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal tertentu secara khusus yang harus dilaksanakan setiap manusia untuk dapat mendekat kepada Allah, karena amal-amal itu menjadi sarananya untuk dapat menempuh jalan langit. Ketetapan amal itu tertulis pada suatu buku yang akan dijumpainya terbuka pada hari kiamat. Buku itu pada dasarnya merupakan bagian dari kitabullah Alquran yang berbicara lebih khusus tentang masing-masing diri. Kitab itu bukan kitab tentang amal-amal yang telah dilakukan, tetapi amal-amal yang seharusnya dilakukan.

Allah akan memberikan rasa kasih sayang kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih dalam bentuk amal-amal demikian.

﴾۶۹﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمٰنُ وُدًّا
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (QS Maryam : 96)

Ayat tersebut berbicara tentang pemberian rasa kasih sayang kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih secara khusus kelak dalam kehidupan di akhirat, dan juga secara umum dalam kehidupan di bumi. Setiap orang yang beriman dan beramal shalih sebenarnya telah menanamkan dalam diri mereka benih rasa mawaddah, baik benih itu tumbuh di alam dunia ini ataupun tumbuh kelak di alam akhirat. Ada orang-orang yang ditumbuhkan dalam diri mereka dalam kehidupan dunia ini rasa mawaddah, yaitu orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Seandainya tidak memperolehnya dalam kehidupan dunia ini, mereka pasti akan memperoleh tumbuhnya dalam kehidupan akhirat yang lebih panjang.

Kasih sayang dalam ayat di atas diistilahkan dengan mawaddah. Mawaddah merupakan suatu bentuk khusus dari rasa kasih sayang, sebagaimana dapat dilihat pada rasa mawaddah di antara suami dan isteri. Kasih sayang dalam bentuk mawaddah mempunyai ciri berupa tumbuhnya keinginan dalam diri seseorang untuk memberikan dukungan kepada pihak lainnya. Seorang perempuan yang mencintai suaminya akan menunjukkan bentuk rasa mawaddah yang sangat jelas, lebih jelas daripada seorang laki-laki yang mencintai isterinya karena pada dasarnya wajah seorang laki-laki akan lebih banyak menghadap kepada rabb-nya. Hal ini tidak menunjukkan seorang laki-laki tidak mempunyai rasa mawaddah terhadap perempuan, tetapi wujud yang keluar dari rasa mawaddah itu tidak sama dengan wujud mawaddah seorang perempuan terhadap laki-laki. Rasa mawaddah dari kaum laki-laki terwujud dalam bentuk komitmen untuk mewujudkan perintah Allah dengan rasa cinta dalam bentuk pelaksanaan amr jami’ Rasulullah SAW bersama dengan al-jamaah.

Yang menumbuhkan rasa mawaddah dalam diri orang-orang beriman adalah Ar-Rahmaan. Ar-Rahman menunjuk pada asma Allah yang paling tinggi, asma yang mengajarkan kepada manusia kandungan Alquran dan penjelasan-penjelasan (al-bayaan) tentangnya. Penumbuhan rasa mawaddah oleh Ar-Rahman itu terkait dengan pelaksanaan amal-amal yang merupakan perintah Allah kepada setiap diri orang beriman, dan perintah-perintah itu merupakan bagian dari kitabullah Alquran. Perintah itu merupakan perintah yang jelas bagi orang-orang yang memahami kandungan kitabullah Alquran dan memahami penjelasan-penjelasan darinya terkait kauniyah yang terjadi, bukan hanya orang-orang yang memahami redaksinya saja dengan menduga-duga kandungannya.

Rasa mawaddah terkait dengan Ar-Rahman, menunjukkan ketinggian derajat rasa mawaddah. Rasa mawaddah yang berderajat tinggi demikian itu adalah rasa mawaddah yang tumbuh pada nafs wahidah, yang akan tumbuh manakala seseorang beriman dan beramal shalih. Ada berbagai tempat tumbuh bagi rasa mawaddah, dari tingkatan syahwatiah, tingkatan berbagai lapis hawa nafsu-hawa nafsu hingga pada tingkatan nafs wahidah. Rasa mawaddah yang ditumbuhkan oleh Ar-Rahman adalah rasa mawaddah pada nafs wahidah, adapun rasa mawaddah pada tingkatan selainnya dapat tumbuh sesuai dengan keadaan hawa nafsu masing-masing. Syaitan dapat menumbuhkan rasa mawaddah tiruan pada diri seseorang dengan sihirnya pada lokus syahwat dan hawa nafsu. Di antara laki-laki dan perempuan, hanya rasa mawaddah antara seorang isteri terhadap suaminya dan sebaliknya yang mungkin termasuk dalam rasa mawaddah demikian, dan tidak semua demikian walaupun selalu ada kebaikan yang banyak pada setiap mawaddah yang tumbuh. Pada kaum laki-laki, hanya komitmen terhadap orang lain yang terhubung kepada tuntunan kitabullah Alquran yang termasuk dalam rasa mawaddah demikian. Komitmen membuta terhadap suatu urusan tanpa mengetahui landasan dari kitabullah tidak termasuk dalam rasa mawaddah yang demikian. Kadangkala suatu rasa mawaddah pada tingkat tertentu kaum laki-laki justru menghalangi mereka dari mawaddah mereka pada tingkatan nafs wahidah.

Ada bentuk mawaddah yang dibenarkan dan ada pula yang keliru. Seorang perempuan lajang yang mencintai seorang laki-laki berada pada bentuk mawaddah yang bersifat netral, dan seharusnya diikuti dengan suatu pernikahan karena mawaddah itu akan menjadi kekuatan yang besar untuk mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Bentuk-bentuk mawaddah di antara kaum mukminin dalam menjalankan perintah Allah merupakan bentuk mawaddah yang dibenarkan. Dalam hubungan mawaddah antara perempuan dan laki-laki, setiap orang harus menimbang mawaddah berdasarkan kelurusan dalam perjalanan taubat kepada Allah. Tidak boleh ada kekejian dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan karena akan menyimpangkan manusia dari jalan taubatnya. Demikian pula di antara orang-orang beriman, rasa mawaddah itu harus ditumbuhkan secara lurus. Ada bentuk-bentuk palsu dari mawaddah yang dapat menyimpangkan manusia dari jihad di jalan Allah. Setiap orang harus berpegang teguh pada tuntunan kitabullah Alquran agar dapat terhindar dari rasa mawaddah yang menyimpang ataupun mawaddah yang palsu.

Ada hubungan sangat erat antara mawaddah antar suami isteri mukmin dengan mawaddah antar mukminin. Allah-lah yang menumbuhkan mawaddah di antara kaum mukminin, dan penumbuhan mawaddah itu sebenarnya terkait dengan tumbuhnya mawaddah di antara suami isteri. Perkembangan taubat seseorang ditentukan dari jarak langkah yang telah ditempuh dalam membentuk bayt meninggikan asma Allah, dan bayt demikian itu dibentuk di antaranya berdasarkan rasa mawaddah di antara suami isteri. Manakala tidak tumbuh mawaddah di antara suami dan isteri, langkah taubat mereka sebenarnya terhenti pada suatu tahap tertentu karena tidak terbentuk bayt untuk meninggikan asma Allah. Terhentinya langkah taubat seseorang itu boleh jadi akan menghambat penumbuhan mawaddahnya terhadap kaum mukminin, karena Allah mungkin tidak menumbuhkannya.

Sangat penting bagi mukminin memperhatikan pertumbuhan mawaddah dalam pernikahannya. Suami hendaknya memperhatikan perintah Allah dan mengajak isterinya untuk memahami perintah Allah tersebut. Setiap isteri hendaknya memperhatikan perintah Allah melalui suaminya, tidak memperhatikan perintah Allah yang turun melalui orang lain. Perintah Allah melalui suaminya itulah yang merupakan urusan Allah bagi diri perempuan. Tidak selayaknya seorang isteri meminta suaminya untuk tunduk kepada laki-laki lain karena tidak ada urusan Allah bagi perempuan yang turun melalui laki-laki lain. Masalah kedudukan di antara kaum mukminin itu akan diketahui oleh masing-masing mukmin manakala mereka mengenal amal-amal yang ditentukan Allah bagi masing-masing, sedangkan bagi perempuan kedudukan itu telah ditentukan ketika terjadi pernikahan.

Kadangkala tidak ada rasa mawaddah di antara laki-laki dan perempuan ketika awal menikah. Hal itu tidak menjadi masalah besar bila keduanya siap untuk beriman dan beramal shalih sesuai perintah Allah. Mawaddah pada masa awal menikah sebenarnya merupakan mawaddah yang tumbuh di atas hawa nafsu, sedangkan mawaddah yang tumbuh di atas nafs wahidah hanya ditumbuhkan Allah bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Masih ada kesempatan besar untuk menumbuhkan rasa mawaddah bagi mereka yang ingin mengikuti perintah Allah. Kesempatan ini akan terbuka bila terbina kesepahaman dalam langkah taubat. Bila selalu berselisih dalam langkah taubat, kesempatan itu akan menyempit. Bila pasangan itu tidak mempunyai keinginan untuk beriman dan beramal shalih sesuai perintah Allah, pernikahan itu bisa menjadi siksaan karena sulit untuk mencari celah menumbuhkan mawaddah di antara mereka.

Tidak ada orang beriman yang merasa tidak ingin beriman atau tidak ingin beramal shalih. Tidak adanya keinginan demikian pada orang beriman ditunjukkan dengan sikap kufur terhadap nikmat Allah bukan hanya kufur kepada Allah, misalnya ketidaksukaan terhadap pasangan atau memandang rendah pasangan yang dipertahankan atau tidak mau dihilangkan tanpa suatu alasan yang benar. Bila seseorang bisa ridla menerima pasangannya setelah memahami masalah, hal itu tidak sepenuhnya menunjukkan kekufuran terhadap nikmat Allah. Kadangkala seseorang bersikap tidak baik karena tidak memahami masalah atau tertipu dengan fitnah, maka hal itu tidak sepenuhnya kufur terhadap nikmat Allah. Pernikahan antara orang-orang yang demikian masih bisa mendatangkan kebaikan bila masing-masing berkeinginan bersikap baik, dan sebenarnya justru pasangan yang sangat baik akan ditimpa secara natur fitnah yang paling berat. Masalah menjalarnya fitnah di antara orang-orang beriman merupakan masalah serius yang harus diperhatikan, dan orang beriman tidak boleh ikut mengobarkan fitnah di antara mereka sendiri karena perbuatan demikian itu merupakan langkah mengikuti langkah syaitan.

Mengharapkan Kecintaan Allah

Dalam hubungan kepada Allah, rasa kasih sayang itu ditumbuhkan Allah pada seorang hamba mengikuti keimanan dan amal shalih yang dilakukan orang beriman. Manakala seorang beriman berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh ridha Allah, Allah akan mencintai hamba tersebut, dan Allah akan memerintahkan kepada para makhluk langit untuk mencintainya. Apabila makhluk langit telah mencintainya, maka diletakkan baginya rasa mawaddah sebagai penerimaan (qabul) atas usaha orang beriman tersebut, maka orang beriman tersebut kemudian diterima oleh makhluk bumi. Mawaddah umat terhadap seseorang itu akan mengikuti amalnya mencari ridha Allah, bukan suatu keterbukaan kesempatan yang dapat dimanfaatkan.

Hadits berikut adalah penjelasan Rasulullah SAW tentang makna ayat ditanamkannya rasa kasih sayang pada orang yang beriman dan beramal shalih tersebut di atas. Rasulullah SAW bersabda :

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ : إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَناً فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، فَيُنَادِى جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ : إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَناً فَأَحِبُّوهُ . فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى الأَرْضِ
Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril, “Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia!” Maka Jibril mencintainya, lalu Jibril memanggil penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia!” lalu penduduk langit mencintainya, kemudian diletakkanlah baginya qabul (ia pun diterima) di bumi.” (HR. Bukhari)

Hadits tersebut menyebutkan kecintaan dalam terminologi mahabbah sedikit berbeda dengan mawaddah, tetapi disebutkan pada hadits lain bahwa hadits tersebut merupakan penjelasan Rasulullah SAW tentang makna ayat di atas. Kecintaan dalam bentuk mawaddah lebih melekat pada kecintaan antara makhluk dengan makhluk, dan hal itu merupakan buah dari kecintaan Allah kepada makhluk yang akan tampak setelah terjadinya suatu qabul atas makhluk yang dicintai.

Qabul atas usaha mencari ridha Allah itu ditandai dengan tumbuhnya mawaddah dalam diri seorang hamba, dan penerimaan makhluk bumi mengikuti qabul tersebut. Untuk mengusahakan ridha Allah, setiap orang harus bersungguh-sungguh memperhatikan kehendak Allah tidak memperturutkan keinginannya sendiri. Ada jalan taubat yang harus ditempuh dengan membina bayt untuk meninggikan asma Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan hal itu harus dibina dengan membina diri sebagai makluk pengasih dan penyayang untuk membentuk bayt. Kasih sayang yang harus dibina itu bukan hanya kasih sayang dalam rumah tangga saja, tetapi harus diwujudkan pula hingga semesta yang terbentuk bagi pernikahan mereka. Mewujudkan kasih sayang bagi semesta itulah usaha yang tepat untuk mencari ridha Allah, setelah harapan yang sungguh-sungguh terhadap rahmat Allah.

Manakala seseorang mengabaikan jalan demikian, keinginan terhadap ridha Allah itu barangkali hanya angan-angan saja. Kaum khawarij mengharapkan ridha Allah dengan berlebihan mengurus syariat, kemudian mereka terlempar dari islam. Ahlul bid’ah mengharap ridha Allah dengan melaksanakan urusan-urusan yang mereka pandang baik tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka mereka tertolak. Usaha untuk mencari ridha Allah itu harus dilakukan dengan membina kasih sayang secara nyata dengan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s dan sunnah Rasulullah SAW membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Penerimaan demikian terjadi melalui proses berdasarkan keikhlasan. Setiap orang beriman hendaknya mengikhlaskan dirinya dalam menghambakan diri kepada Allah hingga Allah mencintainya. Bila Allah mencintai dirinya, para penghuni langit akan ikut mencintainya dan akan diletakkan suatu penerimaan atas keinginannya terhadap ridha Allah. Hal itu tidak boleh dipintas. Seseorang tidak boleh mengharapkan ridha dari makhluk dengan mengabaikan ridha Allah karena tidak akan mendatangkan ridha yang sebenarnya. Rasa kasih sayang itu berasal dari Allah, dan kekuatan penyampaian seseorang terjadi karena dukungan dari langit.

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ
Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan kemurkaan manusia, maka Allah meridhainya dan akan menjadikan manusia ridha kepadanya, dan barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban dalam As-shahih).

Apabila seseorang mencari ridha manusia dengan jalan yang dimurkai Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya sekalipun ia mencari ridha manusia. Orang-orang yang mengharapkan ridha manusia dengan mengabaikan ridha Allah tidak akan memperoleh ridha yang sebenarnya, baik ridha Allah ataupun ridha manusia. Kalaupun manusia tampak ridha kepada mereka, mereka mungkin akan berbalik mencela mereka, atau sebenarnya mereka tidak ridha dengan upaya yang mereka lakukan dengan menyimpan celaan-celaan. Apabila manusia mengharapkan ridha Allah maka Allah akan memberikan ridha-Nya jika ia bersungguh-sungguh dalam usahanya dan menjadikan umat manusia ridha kepadanya sekalipun bila sebelumnya mereka marah dengan usaha yang dilakukannya.

Selasa, 03 Desember 2024

Akal dan Amal Shalih

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Salah satu tahapan yang menjadi tanda bahwa seseorang mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah pengenalan diri terhadap amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Allah menetapkan bagi setiap manusia amal perbuatan pada leher mereka, dan amal-amal itu merupakan kandungan dari suatu kitab yang akan dijumpai terbuka di akhirat kelak.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Israa : 13)

Allah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal tertentu secara khusus yang harus dilaksanakan setiap manusia untuk dapat mendekat kepada Allah, karena amal-amal itu menjadi sarananya untuk dapat menempuh jalan langit. Orang-orang yang beramal tidak selalu mengerjakan amal-amal yang ditetapkan bagi diri mereka, dan kebanyakan manusia beramal hanya dengan amal-amal yang mereka inginkan sendiri. Hanya orang-orang yang ingin mengenal kehendak Allah yang dapat mendekati hingga mengenali amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Ketetapan amal itu tertulis pada suatu buku yang akan dijumpainya terbuka pada hari kiamat. Buku itu pada dasarnya merupakan bagian dari kitabullah Alquran yang berbicara lebih khusus tentang masing-masing diri. Pengetahuan seseorang terhadap kitabullah Alquran akan sangat dipengaruhi pengetahuannya tentang kandungan kitab amal-amalnya, dan sebaliknya pengetahuan seseorang terhadap amal-amal yang ditentukan bagi dirinya bergantung pada kebutuhannya terhadap tuntunan kitabullah Alquran.

Allah telah menyediakan banyak sarana bagi setiap manusia untuk mengenali amal-amal yang ditentukan bagi diri mereka masing-masing. Allah telah menurunkan kitabullah Alquran dan mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia agar manusia dapat mengenal amal-amal yang ditentukan bagi mereka. Sebenarnya Rasulullah SAW tidaklah sendiri, karena para ahlus-sunnah wal jamaah berdiri bersama beliau SAW untuk mengajak manusia mengenal amr jami’ untuk ruang dan jaman masing-masing. Ahlus-sunnah wal jamaah adalah orang-orang yang mengenal amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman kehidupan mereka, dan mereka melaksanakan amr jami’ itu. Kaum muslimin secara umum dapat berusaha mengenal amal-amal yang ditentukan Allah bagi masing-masing dengan mengikuti langkah para ahlus-sunnah wal jamaah yang ada di antara mereka. Para ahlus-sunnah itu benar-benar menginginkan agar umat manusia dapat mengenal amr jami’ Rasulullah SAW bersama dengan diri mereka. Hanya saja kadangkala keinginan mereka tidak dapat dipahami oleh umatnya. Atau kadangkala mereka tidak dapat menyampaikan sebagian dari ilmu yang diberikan kepada mereka.

Akal merupakan kelengkapan pada diri manusia yang berfungsi memahami kehendak Allah. Setiap orang harus menggunakan akal untuk dapat memahami amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, dan kemudian mengenali amal-amal yang ditentukan secara khusus bagi diri masing-masing. Akal merupakan kekuatan memahami yang terdapat di balik pikiran. Orang yang menggunakan pikiran dengan benar akan memperoleh peluang untuk memahami suatu kebenaran yang ada dibalik apa yang dapat mereka lihat. Pemahaman kebenaran itu adalah kekuatan akal. Bila seseorang tidak bisa menggunakan pikirannya dengan benar, mereka akan terombang-ambing oleh dorongan hawa nafsu mereka sendiri, dan akal tidak akan memperoleh tempat tumbuh dan berkembang. Penggunaan pikiran yang benar merupakan dasar untuk dapat menumbuhkan akal.

Dalam kehidupan dunia, menggunakan pikiran dan akal secara tepat kadangkala sulit dilakukan, di mana kebenaran dan kebathilan bercampur-baur tanpa batas yang jelas. Ibaratnya seseorang harus berusaha memilih perkataan yang benar dari orang yang mabuk. Bila pemabuk bercerita, cerita itu bisa benar dan bisa salah. Bila ia bercerita kepada khalayak tentang adanya pencuri yang akan mengambil harta melalui lorong tersembunyi, orang yang menggunakan pikiran mungkin harus berusaha memperoleh informasi yang benar dengan mencari informasi yang terkait hal itu agar mereka selamat. Orang yang tidak berpikir mungkin akan sibuk mencegah pemabuk itu agar diam tidak bercerita, maka mereka bisa celaka bersama-sama. Manusia harus menggunakan pikirannya untuk mengenali dan menggunakan informasi yang benar dan berguna bagi diri sendiri atau masyarakatnya.

Proses berpikir yang benar kadangkala tidak dapat sepenuhnya dinilai dari benar dan salahnya hasil pikiran dalam jangka pendek. Yang lebih penting diperhatikan adalah proses berpikir yang benar. Seseorang yang berpikir benar mungkin perlu melakukan langkah yang dipandang tidak perlu untuk memastikan cara berpikirnya benar. Sebaliknya orang yang tidak berpikir kadangkala tidak terkena dampak buruk dari langkah cepatnya secara langsung, atau dalam kasus lain ia bertindak bodoh selalu melakukan langkah yang tidak perlu dalam waktu yang terlalu lama mengikuti informasi yang tidak berguna, ghibah atau fitnah. Dalam jangka panjang, baru akan tampak perbedaan orang yang berpikir dan yang tidak berpikir. Misalnya orang yang menggunakan pikiran akan cukup cerdas untuk mengenali kesalahan lanngkahnya secara cepat, atau mengenali para penjahat yang mungkin berwajah baik, atau sebaliknya mengenali orang yang baik dalam tampilan yang tersembunyi. Demikian gambaran menggunakan pikiran dalam kehidupan di bumi.

Akal mempunyai derajat lebih tinggi dari pikiran karena terkait dengan kebenaran. Suatu kebenaran menjadikan nafs manusia tumbuh menguat dalam mengenali kehendak Allah dengan akalnya, dan mereka menjadi orang yang ingat kepada Allah dan waspada atau eling lan waspodo. Orang yang berusaha untuk mengenali kehendak Allah akan menjadi orang yang kuat akalnya dalam memahami kehendak Allah. Dalam derajat tertinggi, kebenaran itu berwujud firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kebenaran yang dikenali seseorang dalam wujud demikian merupakan bentuk nyata dari hakikat (al-haqq). Hanya saja tidak semua orang yang berusaha mengenali kebenaran dapat mengenali hakikat, karena sebenarnya banyak pula kebenaran-kebenaran tingkat rendah yang menyibukkan manusia mengurusinya hingga mereka tidak mengenali kebenaran yang mengantarkan menuju hakikat. Kadangkala manusia lebih mementingkan mengurusi kebenaran yang lemah dengan membuang kebenaran-kebenaran dalam tingkat hakikat yang disampaikan kepada mereka. Sebagian orang tersesat dalam menempuh jalan kebenaran karena berusaha mencari kebenaran tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Berpegang Teguh Pada Tuntunan Allah

Mengenal amal-amal yang ditetapkan Allah akan terjadi bila seseorang mengenal suatu hakikat dalam kehidupan mereka, dan berusaha mewujudkan amal-amal sesuai dengan hakikat yang mereka kenali. Mungkin saja ia menemukan kitab amal yang dijumpainya terbuka sebelum hari kiamat yang dikalungkan kepada mereka sebagai bagian dari kitabullah Alquran. Kitab itu bukan kitab tentang amal-amal yang telah dilakukan, tetapi amal-amal yang seharusnya dilakukan. Amal-amal itu harus dilakukan sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran tidak berdasarkan keinginan sendiri tanpa berpegang pada kitabullah Alquran. Akal harus digunakan untuk memahami tuntunan Alquran tentang amal-amalnya, dan ia kemudian beramal berdasarkan apa yang dipahami akalnya dari tuntunan kitabullah. Ia tidak boleh beramal tanpa menggunakan akalnya untuk memahami kitabullah. Mungkin seseorang memahami secara salah atau berbuat secara salah dalam mengikuti kitabullah, maka hendaknya ia kembali kepada tuntunan kitabullah Alquran tentang amal-amalnya. Kadangkala seseorang berbuat mengikuti indera sendiri tanpa disertai usaha memahami tuntunan Allah maka ia mengerjakan amalnya secara salah. Bila ia memandang amal-amalnya lebih baik daripada tuntunan kitabullah, ia akan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.

Hal demikian juga berlaku bagi setiap orang yang berusaha menemukan amal-amal yang ditentukan bagi dirinya. Apa yang sampai kepada dirinya dari kitabullah itu adalah urusan terbesar yang harus diamalkan, dan ia harus menghindari setiap amal yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah. Kebenaran dari kitabullah harus digenggam erat sekalipun seseorang belum bisa mengikuti. Meninggalkan tuntunan kitabullah yang pernah dipahami akan mendatangkan kebutaan di alam akhirat. Langkah selanjutnya ia harus berusaha memahami dan mengikuti orang yang mengajarkan kebenaran dari kitabullah, karena boleh jadi orang tersebut akan mengantarkannya menuju ahlus-sunnah wal jamaah. Bila mengikuti seseorang, ia tidak boleh mengikuti orang itu bila bertentangan dengan kitabullah. Apa yang sesuai dengan kitabullah hendaknya ia ikuti, apa yang ia belum jelas mengetahui hubungannya dengan kitabullah boleh diikuti selama tidak bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mengikuti langkah orang lain menuju al-jamaah akan memudahkan langkah seseorang untuk mengenali amal-amal mereka.

Memahami tuntunan kitabullah merupakan inti dari pencarian kebenaran. Akal seseorang harus tegak untuk memahami tuntunan kitabullah. Kitabullah sebenarnya bukanlah sekadar benda duniawi yang dapat dipegang oleh para makhluk. Kitab bendawi itu merupakan salinan/turunan dari firman Allah terkait penciptaan alam semesta. Ada pengetahuan yang sangat besar dan sangat tinggi di balik redaksi-redaksi dalam kitabullah yang dapat diperoleh manusia yang dapat menyentuh makna di balik redaksi-redaksi itu, dan pengetahuan yang tinggi itu merupakan Alquran yang sebenarnya. Kebanyakan manusia yang dapat menyentuh pengetahuan itu bahkan tidaklah menyentuh seluruh maknanya, hanya menyentuh sebagian dari makna yang diperuntukkan baginya. Hanya Rasulullah SAW yang dapat menyentuh seluruh makna dari firman Allah dalam Alquran. Seseorang boleh jadi memperoleh makna yang berbeda dengan orang lain yang juga menerima pengetahuan dari satu ayat itu tanpa keliru pada salah satu satu atau keduanya hingga menyimpang dari kehendak Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّ هذَا الْقُرآنَ طَرَفَهُ بِيَداللَّهِ وَطَرَفَهُ بَأَيْدِيْكُمْ فَتَمَسَّكُوْا بِهِ فَإِنَّكُمْ لَنْ تَضِلُّوْا وَلَنْ تَهْلِكُوْا بَعْدَهُ أَبَدًا

“‘Sesungguhnya Al-Qur’an ini ujungnya ada di tangan Allah dan ujung satunya lagi ada di tangan kalian. Maka berpegang teguhlah kalian dengan Al-Qur’an, sebab kalian tidak akan sesat dan tidak akan binasa selama-lamanya selama kalian berpegang teguh dengannya“( HR. Ibnu Hibban di dalam As-Shohih no. 122)

Memahami ayat Allah dengan benar hanya dapat dilakukan dengan jalan tazkiyatun-nafs. Tanpa melakukan tazkiyatun-nafs, manusia pada dasarnya hanya mempunyai pikiran saja tidak dapat menumbuhkan akal. Hawa nafsu juga akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pemahaman yang terbentuk pada manusia yang tidak menempuh tazkiyatun-nafs. Pemahaman dari pikiran hanya akan menyentuh alam duniawi saja tidak menyentuh pemahaman alam langit. Bukan berarti pikiran tidak penting, tetapi memahami kehendak Allah dalam Alquran membutuhkan akal di tingkatan nafs tidak dapat disentuh hanya dengan pikiran saja. Setiap orang harus berpegang teguh pada kitabullah hingga tingkatan pikiran, tidak boleh melepaskan diri dari pemahaman tingkat pikiran karena itu menunjukkan tertipu dalam mengikuti pemahaman dari alam langit.

Syaitan akan berusaha mencegah manusia memahami ayat Allah dengan benar. Sangat banyak cara syaitan merobohkan akal seseorang dalam memahami kehendak Allah termasuk penggunaan ajaran-ajaran yang menyesatkan. Segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah adalah kesesatan yang harus dihindari. Banyak golongan yang tersesat dalam mengikuti kebenaran dalam berbagai tingkatan langkahnya. Orang-orang khawarij tersesat pada penggunaan syariat yang berlebihan tanpa memahami maknanya hingga menimbulkan kerusakan di muka bumi sedangkan mereka melihat diri mereka mujahid yang memperjuangkan agama. Sebagian dari para ahli bid’ah mungkin akan bisa berjalan selamat hingga hadir di Haudh Rasulullah SAW di surga, tetapi di sana mereka ditangkap oleh para malaikat untuk dimasukkan ke neraka. Bahkan Rasulullah SAW akan berusaha membela mereka sebelum para malaikat menjelaskan apa-apa yang telah mereka lakukan. Pencapaian langkah hingga haudh menunjukkan terlaksananya kebaikan yang banyak dalam pandangan manusia, tetapi dalam pandangan Allah ada sesuatu yang akan menjatuhkannya ke neraka. Tentulah apa yang mereka pandang baik itu sesuatu yang tidak selaras atau bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang beriman hendaknya berhati-hati dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena kebenaran itu terdapat pada keduanya. Segala sesuatu yang bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan menyesatkan langkah manusia dari kebenaran, sekalipun mereka atau seluruh makhluk memandang indah amal itu.