Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Langkah mengikuti Rasulullah SAW di antaranya adalah melakukan pemakmuran di bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikan manusia sebagai pemakmurnya. Pemakmuran yang sebenarnya akan terjadi manakala seseorang bertaubat kepada Allah.
﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh, ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat lagi memperkenankan". (QS Huud : 61)
Pemakmuran bumi oleh seseorang pada sisi tertentu merupakan penanda bahwa seseorang telah berjalan bertaubat kepada Allah. Manakala seseorang melangkah bertaubat kepada Allah, akalnya akan berproses memahami urusan-urusan yang diperintahkan Allah, dan pelaksanaan urusan-urusan itu akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Manakala seseorang bertaubat tetapi tidak tumbuh pengetahuannya terhadap kehendak Allah atas diri mereka, hal itu menunjukkan bahwa proses taubat mereka itu belum berjalan dengan baik. Proses taubat yang benar akan memperkuat akal dalam memahami kehendak Allah, karenanya tidak bertambahnya akal dalam memahami kehendak Allah bisa menjadi tanda proses taubat tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Proses taubat harus dilaksanakan dengan hati yang ikhlas. Kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang mudah untuk makhluk bumi yang berakal. Manusia sangat sering terjatuh dalam dosa-dosa yang membuat diri mereka celaka dalam menempuh kehidupan. Ada orang-orang yang menyadari beratnya kehidupan dunia bagi akal mereka karena dosa-dosa yang muncul dari diri mereka, dan kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa mereka mempunyai akal untuk memahami kehendak Allah, maka mereka terjun sepenuhnya untuk memperoleh bagian dari dunia. Dosa-dosa manusia akan menutup akal untuk memahami kehendak Allah, dan tidak jarang membuat akal keliru dalam memahami kehendak Allah. Untuk menempuh langkah taubat, setiap orang harus memohon kepada Allah ampunan agar dosa-dosa mereka tidak menutupi atau menyimpangkan akal dalam memahami kehendak Allah.
Akal Untuk Memahami Tuntunan Allah
Proses taubat akan mendatangkan pertumbuhan akal, dan akal akan menjadi tunas pemakmuran bumi. Proses pemakmuran itu akan berjalan dengan baik bila akal tumbuh dengan bertaubat, dan tumbuhnya akal itu diikuti dengan pertumbuhan pikiran dan amal-amal. Bila perkembangan akal tidak disertai dengan perkembangan pikiran dalam menurunkan pemahaman akal menuju tataran praktis, proses pemakmuran itu akan terhambat. Di tingkatan masyarakat, pertumbuhan akal seseorang seharusnya diikuti dengan pertumbuhan akal orang-orang di sekitarnya maka pertumbuhan akal itu akan memunculkan pemakmuran bumi secara luas. Apabila pertumbuhan akal seseorang di antara masyarakat tidak diikuti dengan pertumbuhan akal pada masyarakat itu, pemakmuran akan sulit tumbuh di antara mereka.
Manusia diciptakan dengan akal yang bermacam-macam, dan akal pada suatu masyarakat membentuk kesatuan yang saling mendukung dan melengkapi satu dengan yang lain. Hanya Rasulullah SAW yang mengenali seluruh kebenaran di alam semesta, dan makhluk yang lain mengambil bagian-bagian dari ilmu Rasulullah SAW. Akal di antara manusia tidak boleh dipaksakan untuk seragam serupa satu dengan yang lain karena penciptaan seseorang dan lainnya berbeda-beda. Ada orang-orang yang diciptakan untuk mempunyai pengetahuan yang bersifat fundamental bagi yang lain maka mungkin saja kemampuannya hanya terbatas memberikan fundamen tidak dapat melahirkan tindakan praktis. Sebagian lain diciptakan untuk mempunyai ilmu yang bersifat praktis hingga ia dapat melahirkan karya-karya yang menakjubkan. Dengan keadaan demikian, pertumbuhan akal pada setiap orang tidak boleh dipaksakan untuk seragam. Orang yang memperoleh pengetahuan fundamen hendaknya melahirkan fundamen-fundamen yang diketahuinya tidak boleh dipaksa untuk melahirkan amal secara praktis tanpa berdasarkan pengetahuan. Demikian pula orang yang memperoleh pengetahuan praktis hendaknya melahirkan karya-karya fisis sesuai keadaan dirinya.
Hendaknya pengetahuan seseorang ditempatkan secara tepat di antara umat berdasarkan kitabullah, tidak ditempatkan berdasarkan hawa nafsu umat manusia. Kadangkala Allah meletakkan ilmu-Nya kepada orang yang dipandang tidak layak oleh manusia. Hal demikian tidak menunjukkan bahwa Allah salah meletakkan ilmu-Nya, tetapi menunjukkan bahwa hawa nafsu mereka tidak sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Umat tidak boleh memaksakan orang yang diberi ilmu tertentu untuk mengerjakan bidang yang lain karena kehendak Allah tidak mengikuti hawa nafsu manusia. Kadangkala umat manusia memandang indah amal-amal yang bertentangan dengan firman Allah dan sebaliknya memandang rendah apa-apa yang merupakan al-bayaan dari kitabullah karena hawa nafsu mereka. Masalah demikian seringkali terletak pada cara hawa nafsu umat memandang kebenaran, bukan pada orang yang diberi pengetahuan dari kitabullah. Dalam banyak kasus, akal umat akan tumbuh bila mereka merombak waham tentang kebenaran pada diri mereka, dan mereka akan tetap terkurung dalam waham yang salah manakala tidak berusaha memahami cara Allah menurunkan penjelasan tentang kandungan kitab-Nya Alquran.
Persoalan demikian itu tidak hanya berlaku atas orang-orang yang jahat. Banyak orang-orang yang ingin memberikan kebaikan tetapi tidak memperhatikan petunjuk-petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka mereka kemudian menyimpang. Banyak orang memandang baik apa-apa yang buruk dan sebaliknya memandang buruk penjelasan dari sisi Allah tanpa menimbangnya dengan tuntunan kitabullah. Setiap orang harus berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, sedemikian hingga ia memandang bahwa tidak ada kebaikan beramal tanpa mengikuti tuntunan kitabullah. Sebenarnya setiap kebaikan akan bermanfaat bagi manusia, tetapi hendaknya orang beriman berusaha sungguh-sungguh untuk menemukan bahwa amalnya benar-benar dilakukan berdasarkan kitabullah, bahwa amalnya merupakan bagian dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Boleh saja amal baik dilakukan secara spontan tanpa terlebih dahulu meneliti tuntunan, tetapi bobot nilai tidak benar-benar diketahui. Orang yang baik akan melahirkan hal-hal baik secara spontan. Tetapi orang beriman perlu mengetahui urusan jamannya melalui kitabullah sebagai landasan beramal. Amal tanpa suatu kaitan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mempunyai bobot timbangan yang ringan walaupun mungkin tampak hebat, sedangkan amal dengan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mempunyai bobot timbangan yang besar sekalipun manusia mungkin memandangnya ringan.
Amal demikian harus dilakukan dengan seksama memperhatikan ayat Allah baik ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah secara sinergis, tidak terburu merasa yakin bahwa ia telah mengikuti benar-benar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan hanya sekilas membaca ayat Allah. Kadangkala seseorang merasa bahwa ia telah mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya dengan mengikuti langkah orang lain tanpa berusaha menemukan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah secara mandiri, maka hal demikian merupakan sikap terburu-buru merasa yakin mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa mengetahui kebenaran langkah mereka. Mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan memahami kesatuan ayat Allah baik ayat kitabullah maupun ayat kauniyah. Orang beriman harus beramal dengan memperhatikan dengan seksama tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Amal baik boleh dilakukan sebelum memahami tuntunan, tetapi harus dengan berhati-hati terhadap sikap memandang baik diri sendiri. Kadangkala suatu kaum memandang baik diri mereka sekalipun mereka telah berbuat menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka mendatangkan madlarat yang besar bagi umat manusia.
Pemakmuran Bersama Al-jamaah
Tumbuhnya akal seseorang di antara masyarakat seharusnya akan menumbuhkan kekuatan akal secara jamaah. Manakala seseorang mulai mengenal kehendak Allah secara benar, ia dapat menceritakan pengenalannya terhadap ayat Allah kepada orang lain hingga mereka menjadi mudah untuk mengenal kehendak Allah. Akan tetapi hal demikian seringkali terhalang oleh berbagai rintangan. Hawa nafsu umat manusia seringkali menjadi penghalang besar bagi umat untuk memahami pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah. Juga tidak jarang waham kebenaran umat menjadi penghalang mereka dalam mengenali kehendak Allah. Syaitan menggunakan segala cara untuk menghalangi manusia untuk memahami kehendak Allah. Kadangkala pertumbuhan akal seseorang berjalan menyimpang, dan hal demikian seringkali diikuti dengan melemahnya akal pada masyarakat.
Tumbuhnya akal pada umat manusia akan menjadi benih terbentuknya umat sebagai bagian dari al-jamaah. Suatu komunitas yang tumbuh akalnya akan memahami keberadaan orang-orang yang dapat menghubungkan mereka pada amr jami’ Rasulullah SAW, dan dapat mengenali amal-amal yang harus dilaksanakan untuk mendukung amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman masing-masing. Al-jamaah tidaklah mengikuti perintah-perintah tanpa kejelasan urusan yang harus dikerjakan, tetapi mengikuti urusan-urusan yang merupakan bagian dari perintah Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mengetahui hal itu berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan hanya persangkaan bahwa mereka mengikuti perintah Allah. Al-jamaah mengerjakan suatu amal yang mempunyai nilai besar karena pengetahuan yang benar terhadap kehendak Allah, sedangkan kebanyakan manusia mengerjakan sesuatu yang kadang sia-sia karena hanya mengikuti prasangka sendiri. Orang-orang yang meninggalkan perintah Allah untuk beramal dengan prasangka mereka sendiri termasuk dalam golongan orang-orang yang bodoh.
Orang yang akalnya tumbuh harus berusaha mengajak orang lain untuk tumbuh bersama. Pemakmuran bumi hanya dapat terjadi bila umat manusia bersama-sama memahami kehendak Allah. Manakala hanya satu orang yang akalnya tumbuh, ia tidak akan mendapatkan dukungan sehingga akan mengalami kesulitan yang banyak untuk mewujudkan langkah memakmurkan bumi. Bahkan mungkin ia tidak dapat sekadar memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Manakala orang lain di sekitarnya mengerti nilai pemahaman dari dirinya, mereka akan dapat mendukung terwujudnya pemahaman itu hingga terwujud pemakmuran bumi karena pemahaman akal yang tumbuh. Pertumbuhan akal orang-orang yang ada di sekitarnya harus diperhatikan agar proses pemakmuran dapat berjalan dengan baik. Kunci pertama yang harus diperhatikan adalah memperkuat akal pasangannya, dan akal yang lain akan mengikuti. Setiap pasangan harus dapat berjalan bersama dalam mewujudkan pemakmuran bumi mengikuti kehendak Allah.
Kelancaran proses dalam pemakmuran bumi sangat dipengaruhi oleh akhlak para perempuan di antara masyarakat. Bila akhlak para perempuan rusak, seorang laki-laki yang tumbuh akalnya dalam memahami kehendak Allah akan menghadapi kesulitan dalam menurunkan pemahamannya agar terwujud dalam tingkatan praktis. Selain karena persoalan-persoalan yang mungkin harus dihadapi yang muncul dari isterinya, buruknya hubungan suami isteri sebenarnya akan melemahkan kekuatan memakmurkan bumi. Demikian pula akal masyarakat untuk memahami kebenaran dari akal seseorang di antara mereka akan tertutup sehingga akal masyarakat tidak ikut tumbuh bersama. Kesuburan para perempuan pada suatu kaum menjadi kunci kelancaran proses pemakmuran bumi. Proses pemakmuran bumi hanya akan terjadi dengan baik bila pembinaan akhlak dilakukan terhadap kaum laki-laki dan kaum perempuan. Pembinaan kaum perempuan tidak sama dengan pembinaan kaum laki-laki. Pembinaan kaum laki-laki dilakukan dengan membina kemampuan membentuk diri sebagai misykat cahaya dalam memahami ayat Allah, dan pembinaan kaum perempuan dilakukan dengan membina kesuburan kaum perempuan dalam mendampingi suaminya.
Penekanan poin-poin pembinaan antara laki-laki dan perempuan sebenarnya merupakan penjelasan bagi manusia tentang hal-hal yang harus diperhatikan. Setiap orang baik laki-laki ataupun perempuan pada dasarnya mempunyai aspek yang sama yang harus dibentuk melalui pembinaan yang benar, tetapi mungkin bersifat lebih halus. Misalnya ketaatan yang dituntut dari seorang isteri kepada suami sebenarnya juga merupakan tuntutan ketaatan atas suami terhadap washilahnya, tetapi mungkin seorang laki-laki belum mengetahui siapa washilahnya yang menghubungkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Demikian pula tuntutan atas diri laki-laki untuk membina pemahaman terhadap kehendak Allah sesuai dengan tuntunan Allah sebenarnya juga merupakan tuntutan atas kaum perempuan untuk memahami urusan Allah melalui suaminya tanpa menyimpang. Perbedaan bentuk pembinaan antara kaum laki-laki dan perempuan merupakan pengurai yang menjelaskan makna kualitas diri orang beriman yang harus terbina.
Pembinaan akhlak harus membentuk hubungan ubudiyah yang lurus kepada Allah. Setiap perempuan harus membentuk kesuburan untuk suaminya saja, tidak berbelok membentuk kesuburan terhadap laki-laki lain. Berbeloknya seorang perempuan dalam membentuk kesuburan merupakan kekejian. Hal itu serupa dengan laki-laki yang membina pemahaman terhadap kehendak Allah mengikuti kesesatan, dalam hal ini seringkali berbentuk tipuan syaitan. Hal-hal demikian harus sangat diperhatikan karena merupakan kekejian. Lurusnya pemahaman seorang laki-laki harus diukur dengan petunjuk dari tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam membina pemahaman terhadap kehendak Allah benar-benar sangat merusak bagi umat manusia. Orang-orang yang melakukan kerusakan dengan merasa sebagai orang yang melakukan kebaikan seringkali akan mendatangkan kerusakan yang lebih banyak daripada orang yang mengetahui bahwa perbuatannya merusak.
Mengikuti kehendak Allah secara berjamaah harus dilakukan dengan meningkatkan akal setiap orang yang ikut bersama. Seseorang yang lebih berakal tidak boleh memaksa orang lain untuk mengikuti dirinya tanpa memperkuat akal orang lain tersebut dalam memahami apa yang harus dilakukan. Memperkuat akal dalam hal ini adalah memperkenalkan sandaran dalam ayat Allah kepada umat sehingga umat dapat mengikuti langkah yang ditempuh dengan pemahaman yang lebih kokoh terhadap kehendak Allah berdasarkan tuntunan kitabullah. Pemahaman yang timbul di antara umat tidak harus sama dengan penjelasan yang disampaikan karena mereka mempunyai bentuk akal tersendiri, tetapi harus dijaga tetap merupakan pemahaman yang tepat terhadap ayat Allah tidak menyimpang. Dalam hal tertentu, suatu keputusan langkah mungkin saja dapat diambil sendiri tanpa kesertaan umat secara menyeluruh, tetapi harus disertai dengan langkah memperkuat akal orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Memaksa orang bertaklid akan mendatangkan akibat yang buruk, dan bukan tidak mungkin akal umat justru akan mengalami kemunduran. Orang-orang yang bertaklid tidak akan bisa memberikan peringatan manakala penyeru mereka terancam bahaya, dan seringkali mereka akan mengikuti saja seandainya penyeru mereka terjatuh. Manakala berada pada kerendahan, mereka mungkin akan tetap menyanjung diri mereka sendiri tidak mengetahui kerusakan yang telah ditimbulkan amal perbuatan mereka. Hal ini dapat dihindari apabila setiap orang diperkenalkan pada kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai landasan amal yang mereka lakukan. Dengan cara demikian, setiap orang mempunyai keyakinan yang benar bahwa mereka beramal sebagai bagian dari perintah Allah dan amr jami’ Rasulullah SAW.
Dalam proses pemakmuran, keadaan kauniyah yang terjadi bisa menjadi tanda untuk menimbang kebenaran langkah dalam bertaubat kepada Allah. Apabila keadaan kauniyah memburuk, boleh jadi langkah seseorang dalam bertaubat tidak tepat. Secara umum alam syaitan akan berusaha menghalangi manusia dalam bertaubat kepada Allah hingga keadaan masyarakat mungkin kemudian menjadi memburuk. Orang-orang bertaubat hendaknya mencari pengetahuan tentang hal demikian. Kadangkala memburuknya keadaan masyarakat terjadi bukan karena langkah syaitan tetapi karena kesalahan langkah dalam bertaubat. Apabila hal demikian terjadi, hendaknya orang-orang yang bertaubat mengarahkan kembali langkah mereka mengikuti tuntunan Allah. Apabila orang bertaubat tidak mau kembali atau justru menentang tuntunan Allah, kerusakan yang terjadi di antara manusia sebenarnya sangatlah besar. Kerusakan yang terjadi di masyarakat mungkin disebabkan sebagian besar karena langkah mereka sendiri bukan karena langkah syaitan, atau karena syaitan menggunakan mereka. Hal demikian sangat mungkin terjadi. Bila orang-orang yang bertaubat tidak memperhatikan keadaan kauniyah yang mengiringi mereka, mereka tidak memperoleh tanda tentang langkah yang benar dalam taubat mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar