Pencarian

Selasa, 03 Desember 2024

Akal dan Amal Shalih

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Salah satu tahapan yang menjadi tanda bahwa seseorang mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah pengenalan diri terhadap amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Allah menetapkan bagi setiap manusia amal perbuatan pada leher mereka, dan amal-amal itu merupakan kandungan dari suatu kitab yang akan dijumpai terbuka di akhirat kelak.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Israa : 13)

Allah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal tertentu secara khusus yang harus dilaksanakan setiap manusia untuk dapat mendekat kepada Allah, karena amal-amal itu menjadi sarananya untuk dapat menempuh jalan langit. Orang-orang yang beramal tidak selalu mengerjakan amal-amal yang ditetapkan bagi diri mereka, dan kebanyakan manusia beramal hanya dengan amal-amal yang mereka inginkan sendiri. Hanya orang-orang yang ingin mengenal kehendak Allah yang dapat mendekati hingga mengenali amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Ketetapan amal itu tertulis pada suatu buku yang akan dijumpainya terbuka pada hari kiamat. Buku itu pada dasarnya merupakan bagian dari kitabullah Alquran yang berbicara lebih khusus tentang masing-masing diri. Pengetahuan seseorang terhadap kitabullah Alquran akan sangat dipengaruhi pengetahuannya tentang kandungan kitab amal-amalnya, dan sebaliknya pengetahuan seseorang terhadap amal-amal yang ditentukan bagi dirinya bergantung pada kebutuhannya terhadap tuntunan kitabullah Alquran.

Allah telah menyediakan banyak sarana bagi setiap manusia untuk mengenali amal-amal yang ditentukan bagi diri mereka masing-masing. Allah telah menurunkan kitabullah Alquran dan mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia agar manusia dapat mengenal amal-amal yang ditentukan bagi mereka. Sebenarnya Rasulullah SAW tidaklah sendiri, karena para ahlus-sunnah wal jamaah berdiri bersama beliau SAW untuk mengajak manusia mengenal amr jami’ untuk ruang dan jaman masing-masing. Ahlus-sunnah wal jamaah adalah orang-orang yang mengenal amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman kehidupan mereka, dan mereka melaksanakan amr jami’ itu. Kaum muslimin secara umum dapat berusaha mengenal amal-amal yang ditentukan Allah bagi masing-masing dengan mengikuti langkah para ahlus-sunnah wal jamaah yang ada di antara mereka. Para ahlus-sunnah itu benar-benar menginginkan agar umat manusia dapat mengenal amr jami’ Rasulullah SAW bersama dengan diri mereka. Hanya saja kadangkala keinginan mereka tidak dapat dipahami oleh umatnya. Atau kadangkala mereka tidak dapat menyampaikan sebagian dari ilmu yang diberikan kepada mereka.

Akal merupakan kelengkapan pada diri manusia yang berfungsi memahami kehendak Allah. Setiap orang harus menggunakan akal untuk dapat memahami amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, dan kemudian mengenali amal-amal yang ditentukan secara khusus bagi diri masing-masing. Akal merupakan kekuatan memahami yang terdapat di balik pikiran. Orang yang menggunakan pikiran dengan benar akan memperoleh peluang untuk memahami suatu kebenaran yang ada dibalik apa yang dapat mereka lihat. Pemahaman kebenaran itu adalah kekuatan akal. Bila seseorang tidak bisa menggunakan pikirannya dengan benar, mereka akan terombang-ambing oleh dorongan hawa nafsu mereka sendiri, dan akal tidak akan memperoleh tempat tumbuh dan berkembang. Penggunaan pikiran yang benar merupakan dasar untuk dapat menumbuhkan akal.

Dalam kehidupan dunia, menggunakan pikiran dan akal secara tepat kadangkala sulit dilakukan, di mana kebenaran dan kebathilan bercampur-baur tanpa batas yang jelas. Ibaratnya seseorang harus berusaha memilih perkataan yang benar dari orang yang mabuk. Bila pemabuk bercerita, cerita itu bisa benar dan bisa salah. Bila ia bercerita kepada khalayak tentang adanya pencuri yang akan mengambil harta melalui lorong tersembunyi, orang yang menggunakan pikiran mungkin harus berusaha memperoleh informasi yang benar dengan mencari informasi yang terkait hal itu agar mereka selamat. Orang yang tidak berpikir mungkin akan sibuk mencegah pemabuk itu agar diam tidak bercerita, maka mereka bisa celaka bersama-sama. Manusia harus menggunakan pikirannya untuk mengenali dan menggunakan informasi yang benar dan berguna bagi diri sendiri atau masyarakatnya.

Proses berpikir yang benar kadangkala tidak dapat sepenuhnya dinilai dari benar dan salahnya hasil pikiran dalam jangka pendek. Yang lebih penting diperhatikan adalah proses berpikir yang benar. Seseorang yang berpikir benar mungkin perlu melakukan langkah yang dipandang tidak perlu untuk memastikan cara berpikirnya benar. Sebaliknya orang yang tidak berpikir kadangkala tidak terkena dampak buruk dari langkah cepatnya secara langsung, atau dalam kasus lain ia bertindak bodoh selalu melakukan langkah yang tidak perlu dalam waktu yang terlalu lama mengikuti informasi yang tidak berguna, ghibah atau fitnah. Dalam jangka panjang, baru akan tampak perbedaan orang yang berpikir dan yang tidak berpikir. Misalnya orang yang menggunakan pikiran akan cukup cerdas untuk mengenali kesalahan lanngkahnya secara cepat, atau mengenali para penjahat yang mungkin berwajah baik, atau sebaliknya mengenali orang yang baik dalam tampilan yang tersembunyi. Demikian gambaran menggunakan pikiran dalam kehidupan di bumi.

Akal mempunyai derajat lebih tinggi dari pikiran karena terkait dengan kebenaran. Suatu kebenaran menjadikan nafs manusia tumbuh menguat dalam mengenali kehendak Allah dengan akalnya, dan mereka menjadi orang yang ingat kepada Allah dan waspada atau eling lan waspodo. Orang yang berusaha untuk mengenali kehendak Allah akan menjadi orang yang kuat akalnya dalam memahami kehendak Allah. Dalam derajat tertinggi, kebenaran itu berwujud firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kebenaran yang dikenali seseorang dalam wujud demikian merupakan bentuk nyata dari hakikat (al-haqq). Hanya saja tidak semua orang yang berusaha mengenali kebenaran dapat mengenali hakikat, karena sebenarnya banyak pula kebenaran-kebenaran tingkat rendah yang menyibukkan manusia mengurusinya hingga mereka tidak mengenali kebenaran yang mengantarkan menuju hakikat. Kadangkala manusia lebih mementingkan mengurusi kebenaran yang lemah dengan membuang kebenaran-kebenaran dalam tingkat hakikat yang disampaikan kepada mereka. Sebagian orang tersesat dalam menempuh jalan kebenaran karena berusaha mencari kebenaran tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Berpegang Teguh Pada Tuntunan Allah

Mengenal amal-amal yang ditetapkan Allah akan terjadi bila seseorang mengenal suatu hakikat dalam kehidupan mereka, dan berusaha mewujudkan amal-amal sesuai dengan hakikat yang mereka kenali. Mungkin saja ia menemukan kitab amal yang dijumpainya terbuka sebelum hari kiamat yang dikalungkan kepada mereka sebagai bagian dari kitabullah Alquran. Kitab itu bukan kitab tentang amal-amal yang telah dilakukan, tetapi amal-amal yang seharusnya dilakukan. Amal-amal itu harus dilakukan sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran tidak berdasarkan keinginan sendiri tanpa berpegang pada kitabullah Alquran. Akal harus digunakan untuk memahami tuntunan Alquran tentang amal-amalnya, dan ia kemudian beramal berdasarkan apa yang dipahami akalnya dari tuntunan kitabullah. Ia tidak boleh beramal tanpa menggunakan akalnya untuk memahami kitabullah. Mungkin seseorang memahami secara salah atau berbuat secara salah dalam mengikuti kitabullah, maka hendaknya ia kembali kepada tuntunan kitabullah Alquran tentang amal-amalnya. Kadangkala seseorang berbuat mengikuti indera sendiri tanpa disertai usaha memahami tuntunan Allah maka ia mengerjakan amalnya secara salah. Bila ia memandang amal-amalnya lebih baik daripada tuntunan kitabullah, ia akan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.

Hal demikian juga berlaku bagi setiap orang yang berusaha menemukan amal-amal yang ditentukan bagi dirinya. Apa yang sampai kepada dirinya dari kitabullah itu adalah urusan terbesar yang harus diamalkan, dan ia harus menghindari setiap amal yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah. Kebenaran dari kitabullah harus digenggam erat sekalipun seseorang belum bisa mengikuti. Meninggalkan tuntunan kitabullah yang pernah dipahami akan mendatangkan kebutaan di alam akhirat. Langkah selanjutnya ia harus berusaha memahami dan mengikuti orang yang mengajarkan kebenaran dari kitabullah, karena boleh jadi orang tersebut akan mengantarkannya menuju ahlus-sunnah wal jamaah. Bila mengikuti seseorang, ia tidak boleh mengikuti orang itu bila bertentangan dengan kitabullah. Apa yang sesuai dengan kitabullah hendaknya ia ikuti, apa yang ia belum jelas mengetahui hubungannya dengan kitabullah boleh diikuti selama tidak bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mengikuti langkah orang lain menuju al-jamaah akan memudahkan langkah seseorang untuk mengenali amal-amal mereka.

Memahami tuntunan kitabullah merupakan inti dari pencarian kebenaran. Akal seseorang harus tegak untuk memahami tuntunan kitabullah. Kitabullah sebenarnya bukanlah sekadar benda duniawi yang dapat dipegang oleh para makhluk. Kitab bendawi itu merupakan salinan/turunan dari firman Allah terkait penciptaan alam semesta. Ada pengetahuan yang sangat besar dan sangat tinggi di balik redaksi-redaksi dalam kitabullah yang dapat diperoleh manusia yang dapat menyentuh makna di balik redaksi-redaksi itu, dan pengetahuan yang tinggi itu merupakan Alquran yang sebenarnya. Kebanyakan manusia yang dapat menyentuh pengetahuan itu bahkan tidaklah menyentuh seluruh maknanya, hanya menyentuh sebagian dari makna yang diperuntukkan baginya. Hanya Rasulullah SAW yang dapat menyentuh seluruh makna dari firman Allah dalam Alquran. Seseorang boleh jadi memperoleh makna yang berbeda dengan orang lain yang juga menerima pengetahuan dari satu ayat itu tanpa keliru pada salah satu satu atau keduanya hingga menyimpang dari kehendak Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّ هذَا الْقُرآنَ طَرَفَهُ بِيَداللَّهِ وَطَرَفَهُ بَأَيْدِيْكُمْ فَتَمَسَّكُوْا بِهِ فَإِنَّكُمْ لَنْ تَضِلُّوْا وَلَنْ تَهْلِكُوْا بَعْدَهُ أَبَدًا

“‘Sesungguhnya Al-Qur’an ini ujungnya ada di tangan Allah dan ujung satunya lagi ada di tangan kalian. Maka berpegang teguhlah kalian dengan Al-Qur’an, sebab kalian tidak akan sesat dan tidak akan binasa selama-lamanya selama kalian berpegang teguh dengannya“( HR. Ibnu Hibban di dalam As-Shohih no. 122)

Memahami ayat Allah dengan benar hanya dapat dilakukan dengan jalan tazkiyatun-nafs. Tanpa melakukan tazkiyatun-nafs, manusia pada dasarnya hanya mempunyai pikiran saja tidak dapat menumbuhkan akal. Hawa nafsu juga akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pemahaman yang terbentuk pada manusia yang tidak menempuh tazkiyatun-nafs. Pemahaman dari pikiran hanya akan menyentuh alam duniawi saja tidak menyentuh pemahaman alam langit. Bukan berarti pikiran tidak penting, tetapi memahami kehendak Allah dalam Alquran membutuhkan akal di tingkatan nafs tidak dapat disentuh hanya dengan pikiran saja. Setiap orang harus berpegang teguh pada kitabullah hingga tingkatan pikiran, tidak boleh melepaskan diri dari pemahaman tingkat pikiran karena itu menunjukkan tertipu dalam mengikuti pemahaman dari alam langit.

Syaitan akan berusaha mencegah manusia memahami ayat Allah dengan benar. Sangat banyak cara syaitan merobohkan akal seseorang dalam memahami kehendak Allah termasuk penggunaan ajaran-ajaran yang menyesatkan. Segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah adalah kesesatan yang harus dihindari. Banyak golongan yang tersesat dalam mengikuti kebenaran dalam berbagai tingkatan langkahnya. Orang-orang khawarij tersesat pada penggunaan syariat yang berlebihan tanpa memahami maknanya hingga menimbulkan kerusakan di muka bumi sedangkan mereka melihat diri mereka mujahid yang memperjuangkan agama. Sebagian dari para ahli bid’ah mungkin akan bisa berjalan selamat hingga hadir di Haudh Rasulullah SAW di surga, tetapi di sana mereka ditangkap oleh para malaikat untuk dimasukkan ke neraka. Bahkan Rasulullah SAW akan berusaha membela mereka sebelum para malaikat menjelaskan apa-apa yang telah mereka lakukan. Pencapaian langkah hingga haudh menunjukkan terlaksananya kebaikan yang banyak dalam pandangan manusia, tetapi dalam pandangan Allah ada sesuatu yang akan menjatuhkannya ke neraka. Tentulah apa yang mereka pandang baik itu sesuatu yang tidak selaras atau bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang beriman hendaknya berhati-hati dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena kebenaran itu terdapat pada keduanya. Segala sesuatu yang bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan menyesatkan langkah manusia dari kebenaran, sekalipun mereka atau seluruh makhluk memandang indah amal itu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar