Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Di antara langkah mengikuti Rasulullah SAW adalah beramal shalih berupa amal-amal yang ditetapkan Allah bagi dirinya. Allah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal tertentu secara khusus yang harus dilaksanakan setiap manusia untuk dapat mendekat kepada Allah, karena amal-amal itu menjadi sarananya untuk dapat menempuh jalan langit. Ketetapan amal itu tertulis pada suatu buku yang akan dijumpainya terbuka pada hari kiamat. Buku itu pada dasarnya merupakan bagian dari kitabullah Alquran yang berbicara lebih khusus tentang masing-masing diri. Kitab itu bukan kitab tentang amal-amal yang telah dilakukan, tetapi amal-amal yang seharusnya dilakukan.
Allah akan memberikan rasa kasih sayang kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih dalam bentuk amal-amal demikian.
﴾۶۹﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمٰنُ وُدًّا
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (QS Maryam : 96)
Ayat tersebut berbicara tentang pemberian rasa kasih sayang kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih secara khusus kelak dalam kehidupan di akhirat, dan juga secara umum dalam kehidupan di bumi. Setiap orang yang beriman dan beramal shalih sebenarnya telah menanamkan dalam diri mereka benih rasa mawaddah, baik benih itu tumbuh di alam dunia ini ataupun tumbuh kelak di alam akhirat. Ada orang-orang yang ditumbuhkan dalam diri mereka dalam kehidupan dunia ini rasa mawaddah, yaitu orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Seandainya tidak memperolehnya dalam kehidupan dunia ini, mereka pasti akan memperoleh tumbuhnya dalam kehidupan akhirat yang lebih panjang.
Kasih sayang dalam ayat di atas diistilahkan dengan mawaddah. Mawaddah merupakan suatu bentuk khusus dari rasa kasih sayang, sebagaimana dapat dilihat pada rasa mawaddah di antara suami dan isteri. Kasih sayang dalam bentuk mawaddah mempunyai ciri berupa tumbuhnya keinginan dalam diri seseorang untuk memberikan dukungan kepada pihak lainnya. Seorang perempuan yang mencintai suaminya akan menunjukkan bentuk rasa mawaddah yang sangat jelas, lebih jelas daripada seorang laki-laki yang mencintai isterinya karena pada dasarnya wajah seorang laki-laki akan lebih banyak menghadap kepada rabb-nya. Hal ini tidak menunjukkan seorang laki-laki tidak mempunyai rasa mawaddah terhadap perempuan, tetapi wujud yang keluar dari rasa mawaddah itu tidak sama dengan wujud mawaddah seorang perempuan terhadap laki-laki. Rasa mawaddah dari kaum laki-laki terwujud dalam bentuk komitmen untuk mewujudkan perintah Allah dengan rasa cinta dalam bentuk pelaksanaan amr jami’ Rasulullah SAW bersama dengan al-jamaah.
Yang menumbuhkan rasa mawaddah dalam diri orang-orang beriman adalah Ar-Rahmaan. Ar-Rahman menunjuk pada asma Allah yang paling tinggi, asma yang mengajarkan kepada manusia kandungan Alquran dan penjelasan-penjelasan (al-bayaan) tentangnya. Penumbuhan rasa mawaddah oleh Ar-Rahman itu terkait dengan pelaksanaan amal-amal yang merupakan perintah Allah kepada setiap diri orang beriman, dan perintah-perintah itu merupakan bagian dari kitabullah Alquran. Perintah itu merupakan perintah yang jelas bagi orang-orang yang memahami kandungan kitabullah Alquran dan memahami penjelasan-penjelasan darinya terkait kauniyah yang terjadi, bukan hanya orang-orang yang memahami redaksinya saja dengan menduga-duga kandungannya.
Rasa mawaddah terkait dengan Ar-Rahman, menunjukkan ketinggian derajat rasa mawaddah. Rasa mawaddah yang berderajat tinggi demikian itu adalah rasa mawaddah yang tumbuh pada nafs wahidah, yang akan tumbuh manakala seseorang beriman dan beramal shalih. Ada berbagai tempat tumbuh bagi rasa mawaddah, dari tingkatan syahwatiah, tingkatan berbagai lapis hawa nafsu-hawa nafsu hingga pada tingkatan nafs wahidah. Rasa mawaddah yang ditumbuhkan oleh Ar-Rahman adalah rasa mawaddah pada nafs wahidah, adapun rasa mawaddah pada tingkatan selainnya dapat tumbuh sesuai dengan keadaan hawa nafsu masing-masing. Syaitan dapat menumbuhkan rasa mawaddah tiruan pada diri seseorang dengan sihirnya pada lokus syahwat dan hawa nafsu. Di antara laki-laki dan perempuan, hanya rasa mawaddah antara seorang isteri terhadap suaminya dan sebaliknya yang mungkin termasuk dalam rasa mawaddah demikian, dan tidak semua demikian walaupun selalu ada kebaikan yang banyak pada setiap mawaddah yang tumbuh. Pada kaum laki-laki, hanya komitmen terhadap orang lain yang terhubung kepada tuntunan kitabullah Alquran yang termasuk dalam rasa mawaddah demikian. Komitmen membuta terhadap suatu urusan tanpa mengetahui landasan dari kitabullah tidak termasuk dalam rasa mawaddah yang demikian. Kadangkala suatu rasa mawaddah pada tingkat tertentu kaum laki-laki justru menghalangi mereka dari mawaddah mereka pada tingkatan nafs wahidah.
Ada bentuk mawaddah yang dibenarkan dan ada pula yang keliru. Seorang perempuan lajang yang mencintai seorang laki-laki berada pada bentuk mawaddah yang bersifat netral, dan seharusnya diikuti dengan suatu pernikahan karena mawaddah itu akan menjadi kekuatan yang besar untuk mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Bentuk-bentuk mawaddah di antara kaum mukminin dalam menjalankan perintah Allah merupakan bentuk mawaddah yang dibenarkan. Dalam hubungan mawaddah antara perempuan dan laki-laki, setiap orang harus menimbang mawaddah berdasarkan kelurusan dalam perjalanan taubat kepada Allah. Tidak boleh ada kekejian dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan karena akan menyimpangkan manusia dari jalan taubatnya. Demikian pula di antara orang-orang beriman, rasa mawaddah itu harus ditumbuhkan secara lurus. Ada bentuk-bentuk palsu dari mawaddah yang dapat menyimpangkan manusia dari jihad di jalan Allah. Setiap orang harus berpegang teguh pada tuntunan kitabullah Alquran agar dapat terhindar dari rasa mawaddah yang menyimpang ataupun mawaddah yang palsu.
Ada hubungan sangat erat antara mawaddah antar suami isteri mukmin dengan mawaddah antar mukminin. Allah-lah yang menumbuhkan mawaddah di antara kaum mukminin, dan penumbuhan mawaddah itu sebenarnya terkait dengan tumbuhnya mawaddah di antara suami isteri. Perkembangan taubat seseorang ditentukan dari jarak langkah yang telah ditempuh dalam membentuk bayt meninggikan asma Allah, dan bayt demikian itu dibentuk di antaranya berdasarkan rasa mawaddah di antara suami isteri. Manakala tidak tumbuh mawaddah di antara suami dan isteri, langkah taubat mereka sebenarnya terhenti pada suatu tahap tertentu karena tidak terbentuk bayt untuk meninggikan asma Allah. Terhentinya langkah taubat seseorang itu boleh jadi akan menghambat penumbuhan mawaddahnya terhadap kaum mukminin, karena Allah mungkin tidak menumbuhkannya.
Sangat penting bagi mukminin memperhatikan pertumbuhan mawaddah dalam pernikahannya. Suami hendaknya memperhatikan perintah Allah dan mengajak isterinya untuk memahami perintah Allah tersebut. Setiap isteri hendaknya memperhatikan perintah Allah melalui suaminya, tidak memperhatikan perintah Allah yang turun melalui orang lain. Perintah Allah melalui suaminya itulah yang merupakan urusan Allah bagi diri perempuan. Tidak selayaknya seorang isteri meminta suaminya untuk tunduk kepada laki-laki lain karena tidak ada urusan Allah bagi perempuan yang turun melalui laki-laki lain. Masalah kedudukan di antara kaum mukminin itu akan diketahui oleh masing-masing mukmin manakala mereka mengenal amal-amal yang ditentukan Allah bagi masing-masing, sedangkan bagi perempuan kedudukan itu telah ditentukan ketika terjadi pernikahan.
Kadangkala tidak ada rasa mawaddah di antara laki-laki dan perempuan ketika awal menikah. Hal itu tidak menjadi masalah besar bila keduanya siap untuk beriman dan beramal shalih sesuai perintah Allah. Mawaddah pada masa awal menikah sebenarnya merupakan mawaddah yang tumbuh di atas hawa nafsu, sedangkan mawaddah yang tumbuh di atas nafs wahidah hanya ditumbuhkan Allah bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Masih ada kesempatan besar untuk menumbuhkan rasa mawaddah bagi mereka yang ingin mengikuti perintah Allah. Kesempatan ini akan terbuka bila terbina kesepahaman dalam langkah taubat. Bila selalu berselisih dalam langkah taubat, kesempatan itu akan menyempit. Bila pasangan itu tidak mempunyai keinginan untuk beriman dan beramal shalih sesuai perintah Allah, pernikahan itu bisa menjadi siksaan karena sulit untuk mencari celah menumbuhkan mawaddah di antara mereka.
Tidak ada orang beriman yang merasa tidak ingin beriman atau tidak ingin beramal shalih. Tidak adanya keinginan demikian pada orang beriman ditunjukkan dengan sikap kufur terhadap nikmat Allah bukan hanya kufur kepada Allah, misalnya ketidaksukaan terhadap pasangan atau memandang rendah pasangan yang dipertahankan atau tidak mau dihilangkan tanpa suatu alasan yang benar. Bila seseorang bisa ridla menerima pasangannya setelah memahami masalah, hal itu tidak sepenuhnya menunjukkan kekufuran terhadap nikmat Allah. Kadangkala seseorang bersikap tidak baik karena tidak memahami masalah atau tertipu dengan fitnah, maka hal itu tidak sepenuhnya kufur terhadap nikmat Allah. Pernikahan antara orang-orang yang demikian masih bisa mendatangkan kebaikan bila masing-masing berkeinginan bersikap baik, dan sebenarnya justru pasangan yang sangat baik akan ditimpa secara natur fitnah yang paling berat. Masalah menjalarnya fitnah di antara orang-orang beriman merupakan masalah serius yang harus diperhatikan, dan orang beriman tidak boleh ikut mengobarkan fitnah di antara mereka sendiri karena perbuatan demikian itu merupakan langkah mengikuti langkah syaitan.
Mengharapkan Kecintaan Allah
Dalam hubungan kepada Allah, rasa kasih sayang itu ditumbuhkan Allah pada seorang hamba mengikuti keimanan dan amal shalih yang dilakukan orang beriman. Manakala seorang beriman berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh ridha Allah, Allah akan mencintai hamba tersebut, dan Allah akan memerintahkan kepada para makhluk langit untuk mencintainya. Apabila makhluk langit telah mencintainya, maka diletakkan baginya rasa mawaddah sebagai penerimaan (qabul) atas usaha orang beriman tersebut, maka orang beriman tersebut kemudian diterima oleh makhluk bumi. Mawaddah umat terhadap seseorang itu akan mengikuti amalnya mencari ridha Allah, bukan suatu keterbukaan kesempatan yang dapat dimanfaatkan.
Hadits berikut adalah penjelasan Rasulullah SAW tentang makna ayat ditanamkannya rasa kasih sayang pada orang yang beriman dan beramal shalih tersebut di atas. Rasulullah SAW bersabda :
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ : إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَناً فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، فَيُنَادِى جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ : إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَناً فَأَحِبُّوهُ . فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى الأَرْضِ
“Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril, “Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia!” Maka Jibril mencintainya, lalu Jibril memanggil penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia!” lalu penduduk langit mencintainya, kemudian diletakkanlah baginya qabul (ia pun diterima) di bumi.” (HR. Bukhari)
Hadits tersebut menyebutkan kecintaan dalam terminologi mahabbah sedikit berbeda dengan mawaddah, tetapi disebutkan pada hadits lain bahwa hadits tersebut merupakan penjelasan Rasulullah SAW tentang makna ayat di atas. Kecintaan dalam bentuk mawaddah lebih melekat pada kecintaan antara makhluk dengan makhluk, dan hal itu merupakan buah dari kecintaan Allah kepada makhluk yang akan tampak setelah terjadinya suatu qabul atas makhluk yang dicintai.
Qabul atas usaha mencari ridha Allah itu ditandai dengan tumbuhnya mawaddah dalam diri seorang hamba, dan penerimaan makhluk bumi mengikuti qabul tersebut. Untuk mengusahakan ridha Allah, setiap orang harus bersungguh-sungguh memperhatikan kehendak Allah tidak memperturutkan keinginannya sendiri. Ada jalan taubat yang harus ditempuh dengan membina bayt untuk meninggikan asma Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan hal itu harus dibina dengan membina diri sebagai makluk pengasih dan penyayang untuk membentuk bayt. Kasih sayang yang harus dibina itu bukan hanya kasih sayang dalam rumah tangga saja, tetapi harus diwujudkan pula hingga semesta yang terbentuk bagi pernikahan mereka. Mewujudkan kasih sayang bagi semesta itulah usaha yang tepat untuk mencari ridha Allah, setelah harapan yang sungguh-sungguh terhadap rahmat Allah.
Manakala seseorang mengabaikan jalan demikian, keinginan terhadap ridha Allah itu barangkali hanya angan-angan saja. Kaum khawarij mengharapkan ridha Allah dengan berlebihan mengurus syariat, kemudian mereka terlempar dari islam. Ahlul bid’ah mengharap ridha Allah dengan melaksanakan urusan-urusan yang mereka pandang baik tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka mereka tertolak. Usaha untuk mencari ridha Allah itu harus dilakukan dengan membina kasih sayang secara nyata dengan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s dan sunnah Rasulullah SAW membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.
Penerimaan demikian terjadi melalui proses berdasarkan keikhlasan. Setiap orang beriman hendaknya mengikhlaskan dirinya dalam menghambakan diri kepada Allah hingga Allah mencintainya. Bila Allah mencintai dirinya, para penghuni langit akan ikut mencintainya dan akan diletakkan suatu penerimaan atas keinginannya terhadap ridha Allah. Hal itu tidak boleh dipintas. Seseorang tidak boleh mengharapkan ridha dari makhluk dengan mengabaikan ridha Allah karena tidak akan mendatangkan ridha yang sebenarnya. Rasa kasih sayang itu berasal dari Allah, dan kekuatan penyampaian seseorang terjadi karena dukungan dari langit.
مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ
“Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan kemurkaan manusia, maka Allah meridhainya dan akan menjadikan manusia ridha kepadanya, dan barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban dalam As-shahih).
Apabila seseorang mencari ridha manusia dengan jalan yang dimurkai Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya sekalipun ia mencari ridha manusia. Orang-orang yang mengharapkan ridha manusia dengan mengabaikan ridha Allah tidak akan memperoleh ridha yang sebenarnya, baik ridha Allah ataupun ridha manusia. Kalaupun manusia tampak ridha kepada mereka, mereka mungkin akan berbalik mencela mereka, atau sebenarnya mereka tidak ridha dengan upaya yang mereka lakukan dengan menyimpan celaan-celaan. Apabila manusia mengharapkan ridha Allah maka Allah akan memberikan ridha-Nya jika ia bersungguh-sungguh dalam usahanya dan menjadikan umat manusia ridha kepadanya sekalipun bila sebelumnya mereka marah dengan usaha yang dilakukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar