Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Kembali kepada Allah adalah jawaban yang akan diperoleh oleh manusia yang bersungguh-sungguh menggunakan akalnya. Mereka adalah orang-orang yang mencari makna kehidupan diri mereka, tidak terjebak dalam makna-makna semu kehidupan dunia. Sebagian manusia memandang bahwa kehidupan diri mereka adalah untuk bersenang-senang dengan kehidupan dunia maka mereka kemudian membenarkan cara-cara kehidupan yang kotor. Sebagian manusia berusaha untuk memberikan kebaikan-kebaikan bagi sekitar mereka hingga terbentuk masyarakat yang baik. Sebagian kecil di antara manusia benar-benar berpikir tentang makna kehidupan diri mereka hingga menemukan jawaban bahwa mereka berkeinginan untuk kembali dekat kepada pemilik semua kebaikan yang ada di semesta alam, maka mereka berkeinginan untuk bertaubat.
﴾۶۲﴿فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ
﴾۷۲﴿إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ
﴾۸۲﴿لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ
(26)maka ke manakah kalian akan pergi? (27) Sungguh (Al Quran) itu tiada lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam, (28)(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. (QSAt-Takwiir : 26-29)
Orang-orang yang berpikir tentang makna kehidupan yang sesungguhnya kadangkala terlihat aneh bagi masyarakat umum. Mungkin ia tampak seperti orang yang kebingungan dalam arah kehidupan dunia. Sebenarnya mereka adalah orang yang merasakan suatu pertanyaan dari sisi Allah : “maka ke manakah kalian akan pergi?”, dan mereka bertanya kepada diri mereka sendiri tentang apa yang mereka rasakan. Dalam banyak hal, mereka juga mungkin saja mempunyai keinginan terhadap kehidupan dunia, terhadap kebaikan-kebaikan yang dapat mereka berikan kepada orang lain dan hal-hal lain yang sama seperti orang-orang pada umumnya, tetapi manakala mereka memikirkan kembali apa yang mereka peroleh, mereka kemudian kehilangan kembali maknanya, dan hati mereka bertanya lagi : “maka ke manakah kalian akan pergi?”.
Kadangkala orang demikian tidak tampak sebagai orang yang menjauhkan diri dari dunia. Mungkin saja masih ada dalam diri mereka keinginan terhadap duniawi dan keinginan lain, tetapi terbatas pada proporsi tertentu saja sedemikian mereka tidak terdorong untuk berbuat jahat atau mengikuti hawa nafsu untuk memperoleh keinginan-keinginan mereka. Proporsi pada mereka itu mungkin sekadar hidup layak tidak mengalami kehidupan yang buruk, atau mengharapkan duniawi untuk dapat beramal shalih dengan duniawi itu. Mereka mungkin tidak terlepas dari natur alam ragawi mereka tetapi bisa mengendalikan dorongan keinginan-keinginan diri itu, dan justru ada keinginan untuk menggunakan dorongan itu untuk berbuat kebaikan kepada orang lain bukan untuk diri mereka sendiri saja. Orang-orang yang mempunyai keinginan untuk kembali kepada Allah tidak selalu tampak sebagai orang yang menjauhkan diri dari duniawi, tetapi pasti menjauhkan diri dari kejahatan duniawi.
Kesadaran untuk berjalan kembali kepada Allah pada diri seseorang boleh jadi muncul setelah melalui berbagai proses pembelajaran hingga seseorang menyadari bahwa tujuannya adalah kembali kepada Allah. Seseorang yang sukses secara duniawi mungkin saja merasakan kehidupan yang hampa, kemudian ia melangkah untuk suatu tingkat kebaikan tertentu, dan terus terjadi demikian hingga tumbuh suatu kesadaran bahwa ia hanya berkeinginan untuk kembali kepada Allah tidak menginginkan yang lain. Adapun hal yang kemudian tampak dari mereka hanya merupakan wujud manifestasi dari keinginan untuk kembali kepada Allah. Mungkin bukan manifestasi dari kehendak Allah, tetapi manifestasi keinginan mereka untuk kembali kepada Allah. Kadangkala kesadaran itu muncul setelah berbagai kegagalan, atau berbagai kesuksesan atau setelah berbagai kejenuhan tentang makna kehidupan, dan banyak kemungkinan kasus lain. Orang-orang yang menggunakan akal akan merasakan suatu pertanyaan dasar : “maka ke manakah kalian akan pergi?”.
Dalam setiap tahap proses, setiap orang harus dapat melihat jawaban yang baik dari pertanyaan diri berupa kebaikan yang harus diikuti, maka ia akan mengalir secara benar dalam membina akhlak. Ia harus menyadari bahwa sangat mungkin bahwa jawaban dari pertanyaan itu hanya bersifat temporer menjawab pertanyaan hanya pada tahapan itu. Seseorang yang memperoleh kekayaan harus mengetahui kebaikan yang harus diikuti dengan kekayaannya. Seseorang yang gagal dalam mencapai sasaran harus melihat jawaban terbaik dari kegagalannya. Demikian pula orang yang bimbang tentang makna kehidupannya harus menemukan makna yang mengisi kebimbangannya. Jawaban-jawaban yang baik dalam setiap tahapan proses itu akan mengantarkan dirinya pada suatu jawaban akhir sebagaimana nabi Ibrahim a.s mengatakan : sesungguhnya aku akan pergi kepada tuhan-ku, Dia akan memberikan petunjuk kepadaku. Perkataan demikian itu merupakan iktikad bertaubat.
Pengajaran dari Alquran
Perjalanan taubat akan membukakan kepada seseorang berbagai pengajaran tentang kehidupan diri mereka. Pengajaran yang paling utama adalah pengajaran dalam memahami tuntunan kitabullah Alquran. Orang-orang yang bertaubat akan memahami pengajaran-pengajaran dari kitabullah melalui alam kauniyah yang terjadi di sekitar mereka. Taubat adalah langkah yang perlu ditempuh para hamba untuk kembali kepada Allah. Perjalanan Rasulullah SAW mi’raj ke ufuk yang tertinggi merupakan langkah taubat yang paling sempurna dan tidak ada makhluk lain yang sempurna taubatnya sebagaimana taubat Rasulullah SAW. Setiap makhluk mempunyai tujuan taubat yang telah ditentukan bagi masing-masing dan merupakan bagian dari langkah taubat Rasulullah SAW. Setiap orang mempunyai sasaran taubat yang ditentukan yang seharusnya dapat dicapai dalam kehidupan di bumi.
Pemahaman seseorang terhadap tuntunan kitabullah Alquran dapat terbentang dari alam yang rendah di bumi hingga alam tertinggi di sekitar ‘arsy. Alquran merupakan firman Allah yang memberikan pengajaran kepada semesta alam termasuk alam yang tertinggi. Mungkin seseorang tidak dapat menempuh perjalanan hingga alam tersebut, tetapi Allah bisa saja memberi pengetahuan ke dalam hatinya penjelasan-penjelasan tentang alam yang tinggi tersebut sebagai al-bayaan terhadap ayat dalam kitabullah Alquran. Tidak hanya tentang alam yang tinggi, kitabullah Alquran juga menjelaskan tentang kejadian di alam mulkiyah terkait dengan lapisan-lapisan alam termasuk tipuan-tipuan yang muncul dari alam yang lebih tinggi.
Dengan kitabullah, seseorang dapat memahami alam semesta dengan baik sesuai dengan kehendak Allah dalam menggelar alam semesta. Yang penting bagi setiap orang adalah memahami ajaran kitabullah dengan benar walaupun sedikit, karena kesesatan terhadap tuntunan kitabullah itu akan mendatangkan madlarat yang besar. Semakin besar pemahaman yang diperoleh, semakin besar pula cahaya yang menerangi yang akan menambahkan derajat bagi mereka di hadapan Allah. Manakala seseorang mengikuti suatu kesesatan, ia bisa memandang perbuatannya sebagai kebaikan sedangkan Allah memandangnya sebagai sumber kerusakan bagi umat manusia. Semakin sewenang-wenang dengan pandangan kebaikannya, orang sesat akan mendatangkan kerusakan yang semakin besar. Setiap orang harus berusaha memahami tuntunan kitabullah dengan benar.
Ada dasar-dasar yang harus diketahui setiap manusia agar mereka dapat memperoleh atau memahami pengajaran dari kitabullah Alquran. Setiap orang harus mengimani apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam rukun-rukun iman, dan melaksanakan setiap syariat yang dituntut sebagaimana rukun-rukun islam. Rukun-rukun demikian merupakan kerangka dasar yang harus terbentuk agar manusia dapat memahami pengajaran dari kitabullah Alquran. Semakin tinggi rasa kebutuhan seseorang dalam melaksanakan rukun-rukun tersebut dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, semakin mudah baginya untuk memahami pengajaran. Kebutuhan terhadap rukun-rukun demikian muncul karena proses yang terjadi pada diri seorang hamba, bukan hanya rasa membutuhkan yang dimuncul-munculkan. Ketaatan terhadap tuntunan itu sendiri seringkali dapat membukakan pengajaran-pengajaran dari kitabullah Alquran, dan rasa membutuhkan akan semakin membukakan pengajaran-pengajaran itu.
Keinginan seseorang untuk dapat menempuh jalan yang lurus menjadi pembuka utama pengajaran-pengajaran kitabullah. Jalan yang lurus adalah jalan kehidupan yang ditetapkan Allah bagi seseorang sebelum kelahirannya di dunia. Terkait dengan proses-proses taubat, hanya orang-orang yang ingin bertaubat kembali kepada Allah yang bisa mengetahui jalan yang lurus bagi dirinya, dan tidak semua orang yang ingin bertaubat kepada Allah mengetahuinya. Manakala seseorang tidak mempunyai keinginan untuk kembali kepada Allah, ia sebenarnya tidak mengetahui kebuutuhan terhadap shirat al-mustaqim. Kebutuhan seseorang untuk menunaikan jalan yang ditetapkan bagi dirinya itulah yang akan menjadi pembuka bagi seseorang terhadap pengajaran-pengajaran dari kitabullah Alquran.
Keinginan menempuh jalan yang lurus juga berarti berusaha menegakkan diri sebagai hamba Allah. Mungkin seseorang belum mengetahui shirat al-mustaqim bagi dirinya tetapi ada keinginan dalam dirinya untuk dapat tegak sebagai hamba Allah yang benar dan sebenarnya dan ia menempuh jalan untuk menjadi demikian. Orang-orang demikian juga termasuk sebagai orang-orang yang ingin menempuh jalan yang lurus, maka Alquran dapat memberikan kepada mereka pengajaran-pengajaran yang benar tentang kehendak Allah. Mungkin ia membaca tuntunan kitabullah kemudian mengetahui kehendak Allah bagi dirinya untuk saat itu. Atau orang lain menyampaikan firman Allah kemudian ia memperoleh pengajaran tentang kehendak Allah.
Lurus Dalam Menerima Pengajaran
Setiap orang harus berpegang pada tuntunan kitabullah dengan penghayatan sesuai kehendak Allah untuk menegakkan diri sebagai hamba Allah. Banyak manusia tersesat dalam menegakkan diri sebagai hamba Allah. Setiap orang harus berusaha memahami kehendak Allah dengan benar dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan melaksanakan kehendak-Nya itu dengan sebaik-baiknya. Keinginan menjadikan diri sebagai hamba Allah tidak boleh ditegakkan dengan hawa nafsu saja. Bila mengikuti hawa nafsu saja, seseorang akan menjadi hamba yang tersesat. Allah sangat mungkin tidak menerima taubat orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsu sekalipun berprasangka pasti Allah akan menerima taubatnya, karena boleh jadi mereka adalah orang-orang yang tersesat. Orang yang tersesat adalah orang yang ingin berjalan kepada Allah tetapi melalui jalan yang salah. Kitabullah Alquran mendudukkan orang yang tersesat berseberangan dengan orang yang berada di atas shirat al-mustaqim. Sebagian kaum sangat tekun membaca tuntunan kitabullah dan membahas perkataan orang-orang terbaik, tetapi bacaan mereka tidak melampaui kerongkongan karena hanya mengikuti hawa nafsu, maka mereka keluar dari islam sebagaimana terlemparnya anak panah dari busurnya. Mereka berjuang keras menegakkan syariat mengikuti semangat dan langkah Dzul Khuwaisirah dan keturunannya dari Najd. Setiap orang harus berpegang pada tuntunan kitabullah sesuai dengan kehendak Allah tidak mengikuti hawa nafsu sendiri.
Landasan dalam mengikuti kehendak Allah itu adalah sifat rahman dan rahim. Sifat rahman menunjukkan pada suatu keinginan pada seseorang untuk memberitakan kebenaran kepada orang lain, sedangkan sifat rahim menunjuk pada sifat menyayangi orang lain sebagaimana menyayangi diri sendiri. Terbinanya sifat demikian akan terjadi dalam tahapan-tahapan tertentu. Langkah awal pembinaan sifat-sifat demikian adalah tazkiyatun nafs, kemudian berhijrah menuju pengenalan terhadap penciptaan diri berupa pegenalan terhadap nafs wahidah, dan kemudian melangkah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pembinaan demikian akan subur manakala dilakukan dengan menempuh pernikahan. Bila seseorang melupakan pembinaan sifat rahman dan rahim dalam dirinya dalam menegakkan diri sebagai hamba Allah, ia akan mudah terjatuh pada kesesatan.
Langkah-langkah pembinaan itu tidak boleh dilakukan secara menyimpang dari pembinaan sifat rahman dan rahim. Misalnya ketika seseorang beradu keunggulan dengan orang lain berdasarkan pengenalan terhadap jati diri, maka hal demikian akan memisahkan dirinya dari pembinaan sifat rahman dan rahim. Karena adanya keinginan untuk dipandang sebagai ahli pada bidangnya, mungkin saja seseorang kemudian menghalangi orang lain mengembangkan keahlian pada bidang yang sama, tidak memunculkan langkah sinergi. Sikap demikian itu juga akan mengurung seseorang dalam waham, baik waham tentang dirinya ataupun waham dalam cara pandang terhadap semesta. Keadaan demikian itu menunjukkan bahwa hijrah menuju pengenalan penciptaan diri telah terpisah dari pembinaan sifat rahman dan rahim, dan itu akan merusak perkembangan umat dalam mewujudkan pemakmuran bumi. Setiap orang harus membina sifat rahman dan rahim dirinya dalam menempuh setiap langkah bertaubat kepada Allah. Dalam wujud praktis, sifat demikian akan tampak sebagai perbuatan mencerdaskan umat dalam penghambaan kepada Allah serta tumbuhnya sifat kasih sayang di antara umat manusia.
Kaum muslimin tidak boleh kehilangan arah dalam pembinaan sifat demikian. Kadangkala syaitan menyimpangkan langkah pembinaan dengan kekejian. Suatu pernikahan yang dilakukan untuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW tidak jarang dihembusi syaitan dengan dorongan kekejian di dalamnya maka langkah mereka kemudian menyimpang. Demikian pula langkah yang lain harus diperhatikan agar tidak menyimpang. Suatu langkah tazkiyatun nafs harus menumbuhkan akal dalam memahami tuntunan kitabullah, tidak boleh menjadikan seseorang menjadi lemah dalam menggunakan akal atau tidak mau berpegang pada tuntunan kitabullah. Kemampuan menyentuh ayat kitabullah merupakan sasaran yang harus dicapai dalam tahap tazkiyatun-nafs. Tahap pengenalan nafs wahidah harus disertai dengan suatu kesadaran bahwa amal yang dilakukannya adalah bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Menjadi bagian dari al-jamaah merupakan sasaran yang harus dicapai dalam tahap pengenalan nafs wahidah. Bila seseorang merasa menjadi jagoan karena pengenalan nafs wahidah, ia telah kehilangan arah dalam pembinaan dirinya.
Kaidah-kaidah demikian harus ditanamkan kuat dalam diri setiap muslimin. Shirat al-mustaqim merupakan jalan yang mempunyai nilai luhur yang akan mengantarkan setiap orang untuk layak hadir di hadirat Allah. Jalan itu bukan hanya pengenalan bentuk-bentuk amal bagi seseorang. Orang-orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah harus menghayati nilai-nilai luhur yang bisa terwujud dari kehendak Allah dalam shirat al-mustaqim, tidak bercampur dengan kotoran-kotoran dari hawa nafsu ataupun dari syaitan. Di akhirat, orang-orang yang mempunyai keikhlasan besar akan berkedudukan lebih dekat kepada Allah dan yang tercampur dengan hawa nafsu akan berkedudukan lebih jauh. Orang-orang yang mengikuti pikiran—pikiran dan langkah-langkah syaitan akan dibersihkan di neraka sebelum diijinkan masuk ke surga. Keadaan-keadaan demikian dapat diukur dari ketepatan langkah seseorang dalam mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Kitabullah Alquran akan memberikan pengajaran-pengajaran kepada orang-orang yang ingin menempuh shirat al-mustaqim.
Orang-orang beriman harus dibina untuk memahami kebaikan yang harus disumbangkan bagi masyarakat mereka. Kekayaan bagi alam dunia ini telah disediakan dalam gudang-gudang, baik kekayaan berupa kebaikan ataupun kekayaan yang mendatangkan keburukan. Syaitan dan para pengikutnya membuka kekayaan dari pintu-pintu keburukan bagi manusia. Kebanyakan manusia tidak mengetahui bentuk kekayaan yang sampai kepada mereka karena tidak mempunyai pengetahuan dari pintu mana kekayaan itu muncul. Sebagian orang beriman dapat melihat kekayaan yang tersimpan bagi mereka dan umatnya, tetapi boleh jadi orang-orang sesat justru menutup pintu-pintu kekayaan yang baik dan membuka kekayaan yang buruk, menghalangi orang-orang yang berusaha membukakan pintu kekayaan yang baik dan menutup pintu kekayaan yang buruk. Pintu pertama kekayaan yang baik adalah akal yang memahami kehendak Allah, penutupnya adalah terbinanya sikap taklid pada umat karena berkurangnya kemampuan mengenali kebenaran yang datang dari selain kelompok mereka. Bila orang beriman dibina secara salah, mereka dapat menjadi orang-orang yang membuka pintu-pintu keburukan dan menutup pintu kebaikan, dan syaitan menginginkan demikian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar