Pencarian

Minggu, 28 Juni 2026

Membentuk Masyarakat Sejahtera

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan sejak kehidupan di alam dunia. Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia. Bertaubat kepada Allah tidaklah menjauhkan manusia dari alam dunia, hanya saja harus dilakukan dengan disertai pengendalian diri agar dapat beramal dengan benar untuk alam dunia. Dengan bertaubat seseorang dibentuk untuk dapat mempersepsi dengan benar fenomena yang terjadi di alam dunia, mampu memahami makna yang terkandung pada apa yang terjadi dan mampu memikirkan langkah untuk membentuk keadaan yang lebih baik. Keadaan demikian dapat terjadi apabila seseorang memperbaiki kemuliaan akhlak dengan bertaubat. Kebanyakan manusia hanya mengikuti hawa nafsu dan keinginan duniawi dalam mensikapi kehidupan dunia, dan hal demikian itulah yang dikendalikan dari manusia dengan taubat. Pada tingkat lebih lanjut, taubat harus menjadikan manusia memahami fenomena kauniyah yang terjadi dan memikirkan langkah untuk menuju keadaan yang lebih baik.

Orang yang mengikuti langkah taubat akan menemukan suatu jamaah yang mempunyai pengetahuan yang benar, mengenal dan menjadi saksi Rasulullah SAW. Mereka itu adalah para ulama. Sayangnya banyak para ulama yang tidak dikenali oleh masyarakat karena kurangnya akal masyarakat. Hal itu menyebabkan kehidupan di alam dunia menjadi sulit.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia dengan tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Akan dijumpai suatu masa di mana umat Rasulullah SAW akan lari menjauh dari ulama dan para fuqaha. Hal ini harus dipahami secara lebih baik. Sekian banyak para ulama dengan pengikut-pengikut yang berjuang bersama tidak mampu mewujudkan pemakmuran bangsa. Bangsa ini tetap dililit dengan sulitnya penghidupan dengan pemimpin yang dzalim. Sebagian kalangan justru mengalami kesulitan karena ketaatan kepada para ulama mereka. Ulama yang sebenarnya adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan dari sisi Allah berupa hakikat-hakikat, sedemikian pengetahuan itu menjadikan mereka takut kepada Allah. Mereka berusaha melangkah mengikuti tuntunan Allah untuk hampir setiap usaha yang mereka lakukan, tidak mengabaikan tuntunan Allah. Hasil dari pengetahuan mereka mendatangkan kemakmuran bagi kehidupan alam dunia.

Dewasa ini, keadaan umat islam tampak sangat tidak baik-baik saja. Penghidupan kasab di antara kaum muslimin tampak sangat sulit. Harga-harga bergerak tidak terkendali karena para penguasa yang melakukan korupsi besar-besaran. Para ahli tersingkirkan dari kedudukannya oleh orang bodoh yang dekat dengan penguasa. Negara diurus oleh orang tanpa keahlian. Di masyarakat umum, menjalankan usaha menjadi sangat sulit karena umumnya penggunaan cara-cara yang tidak dihalalkan, dan rakyat harus menanggung beban penghidupan yang berat karena keadaan demikian. Sangat banyak fenomena kesulitan dalam kehidupan muslimin dewasa ini.

Ulama Sebagai Perintis

Pemakmuran suatu negeri harus dimulai dari ilmu para ulama, yaitu ulama yang mengenal Allah. Mengenal Allah dalam hal ini berupa terbinanya misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan cahaya Allah. Misykat ini akan menjadikan seseorang mengenal bagaimana rabb-nya akan mengenalkan diri-Nya. Mungkin mereka belum bertemu (liqaa’) dengan rabb-nya, tetapi telah mengenal bagaimana rabb-nya akan memperkenalkan diri-Nya kepadanya. Mereka juga mengetahui jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan, jalan berupa amal yang ditentukan baginya dan amal itu ia ketahui disebutkan dalam kitabullah Alquran. Jalan itu adalah shirat al-mustaqim yang ditandai adanya suatu seruan dari ayat Alquran. Jalan itu bukan rekaan atau tebakan tanpa ada penyerunya dari kitabullah Alquran. Mereka mengetahui bahwa mereka akan bertemu rabb-nya apabila ia melaksanakan amal-amal itu. Mereka itu adalah ulama yang dapat mengusahakan pemakmuran bangsanya. Dalam perjalanan mereka akan menjumpai banyak keterbukaan ayat-ayat lain Alquran yang menjelaskan upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan seruan yang tertulis pada gerbang shirat al-mustaqim.

Ulama yang demikian itulah orang yang bisa menurunkan suatu hakikat dari sisi Allah hingga mewujud di alam dunia hingga terwujud pemakmuran alam dunia. Bentuk dari pengetahuan mereka bukan hanya dalil-dalil saja, tetapi berupa pengetahuan integral antara hakikat di sisi Allah dengan keadaan alam kauniyah, sedemikian ilmu itu dapat mendatangkan perbaikan bagi kasab penghidupan bangsa, menentukan pemimpin yang baik bagi bangsa tersebut, dan menunjukkan keimanan sesungguhnya yang tidak akan tanggal dengan datangnya kematian. Banyak orang yang menggunakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk merumuskan kehidupan yang lebih baik akan tetapi sebenarnya tidak menyentuh kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya menyentuh redaksinya saja. Hal demikian merupakan suatu kebaikan selama dilakukan dengan ikhlas tidak ada iktikad tersembunyi pada perumusannya. Sebenarnya keikhlasan itu sendiri akan mendorong manusia untuk bisa menyentuh kandungan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW manakala hati mereka bersih. Tetapi harus diperhatikan bahwa banyak pula orang munafik bahkan musyrik menggunakan ayat kitabullah untuk membuat-buat pengetahuan yang bathil bagi umat islam. Setiap muslim hendaknya berusaha menemukan ulama yang mengerti kandungan dalam kitabullah selaras dengan keadan kauniyah, sebagai sarana mendekati ulama yang sesungguhnya.

Ada banyak bentuk ilmu yang mungkin diturunkan kepada orang yang mengenal Allah, dan macam-macam ilmu itu menentukan kedudukan dalam Al-Jamaah. Sebagian mempunyai pengetahuan paling fundamental berupa pembinaan tauhid, dan ilmu demikian ini merupakan ilmu yang paling penting dalam membentuk akhlak mulia. Ilmu yang lain berupa pengetahuan yang berangsur dari fundamental hingga yang lebih aplikatif, misalnmya ilmu pembinaan shilaturrahmi, ilmu penegakan jihad, ilmu pembinaan sumber daya manusia, ilmu pengolahan sumber daya alam, dan ilmu-ilmu lainnya. Pengetahuan yang lebih fundamental harus lebih diperhatikan agar aplikasi yang mengikutinya tidak menyimpang. Setiap orang harus memperhatikan pengetahuan-pengetahuan yang lebih fundamental tidak memisahkan diri. Pembina shilaturrahmi tidak boleh mengabaikan arahan dari pembinaan tauhid karena akan pengabaian akan menjadikan mereka menyimpang. Demikian seterusnya hingga pengolahan sumber daya alam tidak boleh menyalahi semua prinsip-prinsip yang lebih fundamental.

Pengetahuan para ulama dan fuqaha demikian pada tahap awal bisa bersifat pokok-pokok saja, dan berkembang semakin terinci seiring dengan perkembangan diri. Sebagian ulama berkembang hingga bisa memperoleh pengetahuan terhadap keadaan kauniyah secara terinci, dan rincian itu berkembang dari pokok pengetahuan yang benar. Yang harus diperhatikan oleh umat adalah pokok-pokok pengetahuan terlebih dahulu, yaitu pengetahuan yang tumbuh di atas kitabullah. Pengetahuan rincian hendaknya diperhatikan dengan prioritas berikutnya tanpa mengabaikan sikap taat kepada ulama. Mengutamakan perhatian terhadap pengetahuan rinci terlebih dahulu, atau mengagungkan pengetahuan rincian tanpa memperhatikan pokoknya bisa berbahaya bagi umat. Syaitan bisa menurunkan pengetahuan-pengetahuan rinci kepada seseorang meniru pengetahuan yang benar untuk menipu umat manusia yang tidak memperhatikan pokok kebenaran. Ada orang-orang yang mudah menerima pengetahuan kauniyah tanpa pokok pengetahuan yang benar, sedemikian mereka mudah disesatkan karena tidak dapat mengukur nilai manfaat dan madlarat dari pengetahuan yang diterimanya. Hal demikian bisa dimanfaatkan syaitan untuk menyesatkan manusia.

Ulama yang mengenal Allah mungkin saja berbuat salah, akan tetapi tidak akan mau menyimpang dari jalan Allah. Manakala mereka berbuat salah, mereka akan memandang kesalahan itu adalah kesalahan dirinya tidak akan mau menjadikan perbuatannya sebagai bagian dari perintah Allah. Dengan sikap demikian, mereka bisa meminta ampunan kepada Allah, tidak terus berbuat dzalim dengan memandang agung diri sendiri hingga menyimpang dari jalan Allah. Memandang perbuatan salah sebagai bagian perintah Allah akan menjadikan manusia kehilangan kemampuan melihat jalan yang benar-benar diperintahkan Allah. Itu menyerupai cara pandang syaitan terhadap dirinya sendiri. Seorang ulama yang berbuat salah akan berusaha mengkoreksi langkahnya agar kembali berada di jalan benar untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Umat yang ingin mengikuti langkah ulama hendaknya memperhatikan sikap ulamanya ketika melakukan salah, apakah ia berusaha kembali kepada jalan Allah atau justru menjadikan amal menyimpangnya sebagai tauladan atau bagian amal shalih. Bila umat memperhatikan kesalahannya, sebenarnya setiap manusia berbuat salah. Kesalahan manusia tidak perlu dipermasalahkan kecuali karena madlarat yang mengikutinya. Manakala seseorang salah mensikapi kesalahan, madlarat yang mengikuti bisa sangat besar karena syaitan sangat menyukai kesesatan karena kesalahan bersikap tersebut.

Menjaga Kedekatan dengan Ulama

Umat Islam hendaknya berusaha untuk tidak meninggalkan ulama dan fuqaha di antara mereka, khususnya ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Apabila mereka tidak mengenalnya, hendaknya mereka berusaha mencari dengan berusaha mengenali ilmu yang bisa dinilai sebagai penjelasan hakikat-hakikat dari sisi Allah dengan sepenuh kemampuan akalnya tidak hanya mengikuti perkataan orang. Melangkah bersama ulama dan fuqaha yang mengenal Allah akan mendatangkan kemakmuran bagi negeri mereka. Kasab kehidupan mereka akan menjadi lebih baik atau mudah dan pemimpin mereka akan diangkat dari orang yang baik tidak dzalim, dan mereka akan mengenal keimanan yang sebenarnya, keimanan yang tidak terlepas ketika kematian menghampiri. Sangat rugi manusia yang keimanan mereka tanggal ketika kematian tiba. Hal demikian biasanya terjadi karena mereka mengikuti keimanan tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau mensia-siakan pengajaran tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti sistem keimanan mereka sendiri.

Gambarannya, barangkali setiap orang berharap menempuh shirat al-mustaqim. Akan tetapi sedikit orang yang memahami makna shirat al-mustaqim, bahwa sebenarnya shirat itu berfungsi mengantarkan orang beriman bertemu dengan rabb-nya di ujung shirat tersebut. Rabb manusia berada di atas shirat al-mustaqim. Sedikit pula orang yang mengerti dan waspada bahwa tanda shirat al-mustaqim itu adalah seruan ayat kitabullah yang menjadi amanah. Banyak orang merasa berada di shirat al-mustaqim tanpa suatu pemahaman terhadap ayat kitabullah yang harus diperjuangkan. Manakala seseorang yang mengenal shirat al-mustaqim membacakan ayat-ayat Allah yang sedang digelar, mereka mengabaikan kebenaran dalam pembacaannya. Mereka tidak mengerti kebaikan dari ayat yang dibacakan dan harus diperjuangkan. Kadangkala pengabaian itu disertai dengan mengikuti kebenaran dalam pikiran sendiri tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, menganggap persepsi indera dan pikirannya sebagai shirat al-mustaqim. Hal demikian merupakan bentuk keimanan yang lemah yang mungkin akan tanggal ketika kematian tiba. Memahami dan berbuat mengikuti ayat Allah baik kitabullah maupun kauniyah akan menanamkan keimanan yang tidak akan tanggal.

Barangkali sangat sedikit orang yang mengenal shirat al-mustaqim, dan mereka itu membawa berkah yang besar bagi keselamatan umat manusia. Keselamatan tidak hanya bagi orang yang mengenal shirat al-mustaqim saja, tetapi juga bagi orang yang mengharapkan dengan benar shirat al-mustaqim, bukan hanya yang berangan-angan saja. Banyak orang merasa berharap shirat al-mustaqim tetapi abai atau bahkan mendustakan pembacaaan ayat Allah yang benar tidak mau memahami arti penting makna ayat Allah yang ditunjukkan ulama, maka orang demikian itu sebenarnya hanya berangan-angan shirat al-mustaqim saja. Berharap shirat al-mustaqim harus disertai dengan berusaha memahami ayat-ayat Allah baik kitabullah ataupun keadaan kauniyah. Harapan terhadap shirat al-mustaqim itu akan menjadi mudah terwujud apabila seseorang mengenal, mengikuti dan mendekat kepada ulama dan fuqaha, yaitu ulama dan fuqaha yang mengenal Allah.

Tidak sedikit muslimin yang meninggalkan ulama dan fuqaha. Tandanya yaitu diangkatnya pemimpin yang dzalim bagi mereka dan kasab penghidupan yang sulit. Apabila umat islam tidak meninggalkan ulama dan fuqaha mereka, kasab penghidupan tidak akan menjadi sangat sulit dan pemimpin mereka akan diangkat dari orang yang baik. Keadaan demikian hendaknya diperhatikan oleh kaum muslimin. Mereka mungkin telah berjuang untuk memperbaiki keadaan tetapi mengabaikan ulama dan fuqaha sedangkan yang ditinggalkan adalah ulama dan fuqaha yang mengenal Allah dan sebenarnya berjuang di shirat al-mustaqim. Dengan demikian maka mereka berbuat meninggalkan ulama dan fuqaha yang mengakibatkan kehidupan menjadi sulit, dan pemimpin mereka diangkat dari orang yang dzalim. Iman demikian mungkin akan tanggal manakala kematian mendatangi, karena telah ditinggalkannya perjuangan di shirat al-mustaqim, berupa perjuangan melaksanakan perintah Allah dari ayat kitabullah.

Sebagian orang meninggalkan ulama dan fuqaha dengan mendustakan apa-apa yang diperjuangkan. Syaitan mungkin saja menutup penglihatan, pendengaran dan akal mereka untuk memahami apa yang diserukan oleh para ulama dan fuqaha sedemikian shirat al-mustaqim itu didustakan. Sebagian orang mungkin meninggalkan ulama dengan menganggap para ulama dan fuqaha tidak berbuat apa-apa, tidak seperti diri mereka yang telah berjuang dengan harta dan amalnya. Mereka yang demikian itu tidak mengerti nilai kebenaran hingga tidak dapat membedakan arah perjalanan yang benar dan yang sia-sia. Ilmu yang disampaikan para ulama dan fuqaha itu tentu saja sangat bernilai apabila diikuti, dan ilmu itu tidak mendatangkan hasil karena kebodohan mereka saja bukan karena ulama tidak berbuat apa-apa. Sebagian orang mungkin meninggalkan ulama dan fuqaha dengan menganggap ilmu yang diberikan para ulama dan fuqaha bukan sesuatu yang harus atau layak untuk diperjuangkan, tidak tergerak untuk memperjuangkan ilmu tersebut. Itu merupakan merupakan bentuk yang ringan tetapi tetap saja merupakan kebodohan dan merupakan perbuatan meninggalkan para ulama dan fuqaha, sedemikian keadaan masyarakat menjadi sulit memperoleh kasab yang layak dan pemimpin mereka dari kalangan orang yang dzalim. Banyak bentuk perbuatan meninggalkan para ulama dan fuqaha yang dapat mengakibatkan hal demikian.

Mendekat kepada ulama harus dilakukan dengan akal yang benar. Setiap orang harus membangun keinginan mengenal Allah yang Maha Mulia, serta membangun keinginan untuk bertemu dengan sumber segala kemuliaan tersebut, membangun pemahaman terhadap jalan-jalan yang dapat mengantarkan menjadi dekat kepada Allah. Banyak orang terjebak pada waham dalam beragama. Jalan mendekat kepada Allah adalah melaksanakan amanah yang telah disampaikan Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan itulah yang dimaksud sebagai shirat al-mustaqim. Setiap orang beriman hendaknya memperhatikan pembacaan ayat-ayat Allah dengan sebaik-baiknya hingga memahami kebaikan-kebaikan dari pengetahuan yang diperoleh dan dapat berpikir untuk menempuh langkah paling baik. Apabila seseorang mendekati ulama dan fuqaha dengan tetap dalam kebodohannya, ia sebenarnya tidak menjadi dekat dengan ulama dan fuqaha. Akal dan pikiran yang menguat berdasarkan kebenaran itulah yang menjadi sarana mendekat kepada ulama dan fuqaha, yang akan menghilangkan kesulitan kasab di masyarakat, menjadikan pemimpin dari kalangan orang yang lebih layak dan membangun keimanan yang kokoh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar