Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan beramal untuk pemakmuran bumi. Setiap muslim hendaknya menjalin hubungan baik dengan muslim lain sesuai keadaan masing-masing. Di antara orang beriman, shilaturrahmi hendaknya dibentuk untuk mewujudkan kehendak Allah, membentuk suatu jamaah dengan hubungan tertentu antara satu orang dengan yang lain. Menjalin hubungan shilaturrahmi dengan jamaah yang lain harus dilakukan untuk mewujudkan khazanah-khazanah yang dikenal di antara orang beriman. orang-orang yang mengenal suatu kandungan kitabullah Alquran harus berusaha mengenal sahabat yang mengenal suatu kandungan lain kitabullah, dan memimpin mukminin lain untuk merumuskan amal-amal yang perlu dilakukan.
Di antara wahana untuk menjalin shilaturrahmi orang-orang beriman adalah bermajelis.
﴾۱۱﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS Al-Mujaadilah : 11)
Ayat di atas memberikan petunjuk tentang prinsip-prinsip bermajlis. Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Mereka itu hendaknya dijadikan pemimpin-pemimpin dalam majelis musyawarah karena sebenarnya Allah meninggikan orang-orang demikian di antara kaum muslimin dan mukminin. Iman dan ilmu adalah nilai-nilai yang harus diangkat melalui majelis-majelis orang beriman. Dengan keimanan dan keilmuan di antara orang-orang beriman, Allah hendak meninggikan derajat kaum beriman seluruhnya melalui majelis musyawarah yang mereka selenggarakan.
Keilmuan yang ada di antara orang beriman ada banyak macamnya dan banyak pula bentuk hubungan keilmuan antara satu orang dengan orang lain. Sebagian hubungan keilmuan di antara mereka berbentuk fundamen dan cabang, ada keilmuan seseorang yang menjadi fundamen bagi keilmuan orang lain yang merupakan cabang-cabang dari fundamen itu, dan ada hubungan sejajar antar keilmuan, di mana keilmuan sebagian orang dengan sebagian yang lain merupakan sahabat yang sejajar dan harus bekerja sama.
Untuk terwujudnya pemakmuran, diperintahkan kepada sebagian orang beriman untuk melapangkan diri dalam majelis. Perintah ini terutama ditujukan kepada orang beriman untuk menerima sahabatnya yang berkedudukan sejajar dengan dengan dirinya, sedemikian sahabatnya itu dapat bekerjasama dengan baik dalam menyelenggarakan urusan yang harus ditunaikan. orang beriman tidak perlu merasa takut urusan mereka akan menjadi sempit karena bertambahnya sahabat yang melaksanakan urusan yang sama bersama mereka. Urusan yang harus mereka kerjakan akan menjadi meluas karena Allah akan meluaskan urusan mereka. Setiap orang beriman pada dasarnya mempunyai ilmu yang unik untuk ditambahkan bagi majelis mereka, sedemikian urusan mereka tidak berdesak-desakan satu dengan lainnya.
Peluasan ini berlaku apabila orang beriman dapat melapangkan diri untuk menerima sumbangan dari sahabat yang diberi tempat. Manakala orang beriman merasa terganggu dalam hal kepakaran diri atau senioritas diri di antara majelis yang telah ada, majelis itu akan menjadi sempit bukan karena menyempitnya majelis, tetapi karena mereka tidak melapangkan majelis. Selain itu, meluasnya majelis juga dipengaruhi dengan penempatan yang tepat. Mungkin suatu keputusan menempatkan seseorang pada suatu kedudukan di antara majelis tidak tepat sedemikian orang yang tempatkan tidak meluaskan majelis. Menempatkan seseorang harus diukur berdasarkan keimanan dan keilmuan yang ada pada orang yang ditempatkan, tidak boleh menempatkan mengikuti keinginan yang menempatkan saja. Menempatkan seseorang berilmu tidak perlu menunggu seseorang meninggikan diri dengan iman dan ilmunya. Kadangkala suatu kaum mengabaikan keimanan dan keilmuan yang tumbuh pada diri seseorang dan ia tidak diberi kedudukan untuk ilmunya, maka sikap demikian sebenarnya merusak tatanan. Tidak jarang banyak ilmuwan menjadi sia-sia karena penempatan yang berantakan. Hal demikian mempengaruhi luasnya/sempitnya majelis yang dibentuk orang-orang beriman. Setiap orang harus ditempatkan dengan tepat berdasarkan keimanan dan keilmuan yang tampak pada diri masing-masing. orang yang lebih beriman dan lebih berilmu ditempatkan lebih tinggi karena Allah meninggikan derajat mereka.
Diperintahkan pula bagi sebagian orang beriman untuk berdiri. orang-orang yang beriman dan berilmu adalah orang-orang yang diperintahkan untuk berdiri, maka hendaknya mereka berdiri untuk memberikan sumbangan pandangan atau bahkan pengarahan kepada majelis orang beriman. Kata انشُزُوا menunjukkan perintah meninggikan diri layaknya kata nusyuz. Hal ini pada dasarnya tidak boleh dilakukan seseorang dalam suatu majelis kecuali hanya untuk menunjukkan kepada majelis tentang keimanan dan keilmuan sehingga dapat diikuti oleh majelis. orang beriman tidak boleh melakukan nusyuz dengan dasar perkataan : “saya akan lawan” karena harga diri dan hal bathil lainnya. Keimanan dan keilmuan yang harus ditinggikan merupakan materi yang akan menjadikan derajat orang-orang beriman dalam majelis itu menjadi teorangkat, karena Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan diberi ilmu. Sekiranya ia tidak mengetahui tingginya nilai kebenaran dalam apa yang ia angkat, hendaknya ia tidak meninggikan diri di antara majlis. Ia hendaknya memberikan pandangan dirinya tanpa berusaha meninggikan dirinya.
Tidak mudah bagi seseorang untuk mengukur diri apakah ia harus meninggikan diri atau tidak, dan seberapa tinggi ia harus meninggikan diri. Ia harus benar-benar memahami makna keimanan dan ilmunya, dan ia harus mengukur pula apakah majlis bisa menerima keimanan dan keilmuannya. Tidak sedikit masyarakat yang tidak benar-benar menghargai keimanan dan keilmuan, bahkan manakala suatu kaum mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mencari kebenaran. Ketika dibacakan dengan benar kepada mereka ayat-ayat Allah yang harus diperhatikan untuk menemukan amal shalih, mereka mungkin tidak memperhatikan nilai dari bacaan itu. Ini sebenarnya merupakan sikap pengabaian terhadap kebenaran. Manakala ayat-ayat kitabullah dan maknanya yang telah jelas tidak diperhatikan, mereka sebenarnya tidak mencari kebenaran. Ayat kitabullah merupakan kebenaran hakiki dari sisi Allah yang Maha Tinggi, tidak ada yang lebih penting nilai kebenarannya dari ayat kitabullah. Ayat ini seharusnya dapat dipahami oleh setiap orang beriman yang mencari kebenaran. Manakala seseorang menyangka mencari kebenaran tetapi mengabaikan kebenaran dari kitabullah, persangkaan mereka itu hanya persangkaan kosong. Keadaan demikian akan mempersulit mukmin dalam meninggikan keimanan dan keilmuan di hadapan majelis.
Sebagai pertimbangan meninggikan diri, hendaknya diperhatikan hirarki keilmuan dan keimanan secara tepat. Fundamen ilmu agama berupa pembinaan pengetahuan tentang kehendak Allah harus ditempatkan sebagai hal yang paling penting. Berikutnya kaum mukminin harus memperhatikan pembinaan shilaturrahmi di antara mereka. Pemberdayaan potensi orang-orang beriman menjadi perhatian berikutnya sebelum memperhatikan pengolahan sumber daya alam. Demikian pula hal-hal terkait jihad yang perlu dilakukan oleh jamaah mukminin harus diperhatikan bersamaan. Setiap aspek keimanan dan keilmuan mempunyai hierarki yang harus ditempatkan dengan tepat sebagai bahan untuk mempertimbangkan apakah seseorang harus meninggikan diri atau harus mengikuti arus majelis.
Kedekatan dengan Ulama
Allah meninggikan orang beriman dan orang berilmu beberapa derajat, akan tetapi mungkin bukan usaha yang mudah bagi seseorang yang beriman dan diberi ilmu untuk meninggikan diri manakala diperintahkan untuk meninggikan diri. Hal ini bisa terjadi karena mungkin saja suatu kaum meninggalkan orang-orang berilmu yang ada di antara mereka.
Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :
ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
“Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dhalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia dengan tanpa iman HR Abu Nuaim)
Akan dijumpai suatu masa di mana umat Rasulullah SAW akan lari menjauh dari orang-orang yang diberi ilmu dan dari para fuqaha di antara mereka. Para ulama dan fuqaha yang dimaksudkan secara khusus adalah ulama yang diberi pengetahuan tentang hakikat dari sisi Allah, berupa pengetahuan realitas kauniyah selaras ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Para fuqaha adalah orang-orang yang dapat menerapkan pengetahuan hakikat dari sisi Allah ke aspek-aspek kehidupan manusia. Pengetahuan hakikat pada umumnya bersifat keterbukaan bukan pengetahuan yang disusun-susun. Walaupun dari keterbukaan, hakikat dapat diverifikasi kebenarannya dengan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadang suatu kaum mengalami keterbukaan pengetahuan tetapi tidak mengetahui bagaimana kebenaran pengetahuan itu harus dibuktikan, maka pengetahuan demikian belum merupakan pengetahuan hakikat. Sebaliknya kadang bukti kebenaran harus berjenjang. Pengetahuan hakikat selalu berakar pada suatu tuntunan tertentu dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. orang yang lari menjauh dari ulama dan fuqaha adalah orang yang menjauhkan diri dari orang yang mempunyai pengetahuan hakikat dan penerapan hakikat dalam kehidupan.
Umat Rasulullah SAW akan mengalami suatu jaman dimana mereka sebenarnya meninggalkan para ulama dan fuqaha. Boleh jadi sebagian dari mereka tidak merasa meninggalkannya, di mana mereka itu adalah orang-orang beriman akan tetapi sebenarnya keimanan mereka itu akan terlepas ketika kematiannya datang. Hal demikian terjadi karena mereka meninggalkan kebenaran dari hakikat yang disampaikan kepada mereka, tidak ingin menerapkan pengetahuan hakikat dalam kehidupan dunia. Mereka beriman tetapi tidak mau memahami hakikat yang disampaikan kepada mereka. Boleh jadi mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat realitas yang digelar, mereka mempunyai telinga akan tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan penjelasan yang disampaikan, dan mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat kitabullah yang disampaikan kepada mereka. Perbuatan demikian termasuk dalam kategori berlari menjauh dari para ulama dan fuqaha.
Mestinya orang-orang beriman juga menjalin kedekatan dan menyatu dengan ulama dan fuqaha, bukan hanya mengikuti ilmunya. Untuk menjalin kesatuan demikian, hendaknya mereka berusaha untuk memahami ilmu dan fiqh yang disampaikan oleh ulama dan fuqaha. Ketersambungan upaya orang beriman pada kehendak Allah harus dibentuk juga melalui wujud-wujud manusia yang memperoleh ilmu, bukan hanya melalui keilmuan saja. Para ulama dan fuqaha itu adalah wujud manusia yang dapat menghubungkan upaya manusia terhadap kehendak Allah. orang yang mengikuti ilmunya saja mungkin memperoleh kekuatan untuk terhubung pada kehendak Allah secara terbatas, tetapi mereka akan terlepas manakala mendustakan atau durhaka kepada orang yang diberi ilmu itu. Ibarat tali, ilmu seseorang itu tali yang ia ulurkan kepada orang lain hingga mereka dapat berpegang. Ketika mendustakan, tali itu bisa terlepas dari orang yang mengulurkan sedangkan orang lain memegang talinya. Keterhubungan terhadap kehendak Allah itu harus dibina dengan penyatuan langkah bersama orang-orang yang diberi ilmu, tidak sekadar menggunakan ilmunya saja.
Penyatuan dengan ulama dan fuqaha harus dilakukan dengan berusaha memahami ilmunya. Tanpa keinginan terhadap ilmu yang bermanfaat, akan sulit menjalin kesatuan dengan ulama. Para ulama dan fuqaha itu benar-benar menginginkan manusia untuk berakal memahami ilmu hingga dapat memahami kehendak Allah, sama sekali tidak ingin memperoleh pengikut yang mengikuti pendapat mereka secara membuta. Orang yang mengikuti dengan membuta akan menjadi tanggungan yang berat bagi ulama kelak di hadapan Allah, sehingga tidak mungkin ulama dan fuqaha melangkah membodohkan manusia dengan taklid. Orang yang membodohkan manusia agar bertaklid tidak termasuk dalam golongan ulama dan fuqaha. Mungkin seorang ulama atau fuqaha memaksakan seseorang pada suatu ilmu tertentu karena adanya keterbatasan untuk menjelaskan ilmu, tetapi sebenarnya tidak menginginkan pengikutnya untuk tetap bodoh dalam mengikuti. Para ulama dan fuqaha itu pasti ingin menjadikan akal pengikutnya lebih kuat, walaupun mungkin langkah itu tidak dipahami oleh pengikutnya.
Kaum muslimin harus berhati-hati dengan proses pembodohan dengan sesuatu yang ditampakkan sebagai ilmu. Banyak muslimin terjebak pada definisi ulama hanya mengikuti hawa nafsu. Pada jaman umat lari dari ulama dan fuqaha, mungkin akan banyak dijumpai pula ulama palsu. Mungkin ulama yang mereka ikuti berasal dari kalangan ashaghir yang sebenarnya hanya mencari dunia dengan ilmu mereka. Mungkin pula dijumpai orang-orang yang tersesat berdasarkan ilmu mereka. Banyak kasus lain bisa terjadi terkait dengan status keulamaan dan kefuqahaan. Ulama dan fuqaha yang benar adalah ulama yang dan fuqaha yang menginginkan manusia seluruhnya untuk memahami kehendak Allah, tidak menginginkan memperoleh pengikut dari kalangan umat manusia. Ulama dan fuqaha yang palsu akan menjadikan umat manusia bodoh agar mau menjadi pengikut bagi mereka, baik karena ulama itu menginginkannya ataupun karena mereka mengikuti tipuan syaitan. Umat Rasulullah SAW hendaknnya bersikap tepat dalam perkara ini. Keinginan untuk mengabdi kepada Allah dengan memahami kehendak-Nya secara benar harus ditumbuhkan dengan kuat, tidak sekadar mengikuti apa yang mereka anggap sebagai ulama dan fuqaha. Ini adalah bagian dari keikhlasan. Keikhlasan ini akan mencegah umat Rasulullah SAW lari menjauh dari ulama dan fuqaha yang benar.
Dampak Karena Jauh Dari Ulama
Perbuatan lari menjauh orang beriman juga akan diikuti oleh muslimin yang lainnya. Mungkin mereka mengikuti dalam bentuk yang lain bukan durhaka, mendustakan atau menjauhi ulama dan fuqaha secara langsung karena mungkin kurang dekatnya mereka. Dampak dari larinya mukminin dan muslimin dari ulama dan fuqaha akan membuat keadaan masyarakat menjadi sulit. Jalan kehidupan untuk memperoleh rejeki (kasab) akan menjadi sulit dan akan diangkat pemimpin-pemimpin yang dzalim bagi mereka, serta kematian tanpa iman.
Dewasa ini dapat disaksikan bahwa kesulitan dalam berusaha mencari penghidupan ditimpakan atas kaum muslimin secara luas, dan diangkat bagi mereka penguasa yang dzalim. Penguasa dapat berbuat semena-mena menjual kekayaan bangsa kepada pihak asing untuk mengambil keuntungan diri sendiri secara berlebih, tidak memberdayakan anak bangsa untuk mengolah kekayaan mereka sendiri. Banyak fasilitas diberikan kepada parasit masyarakat sebagai sarana mempertahankan kekuasaan. Hukum ditegakkan ketika mengganggu kepentingan penguasa, dan dimanfaatkan untuk mencari tambahan penghasilan yang buruk untuk penegak hukum. Menjadi ulama ditinggalkan umat hingga sulit mengusahakan dakwah dan syiar untuk membentuk kehidupan yang baik. Menjadi orang berilmu sulit menerapkan ilmu dengan benar karena kepentingan tersembunyi yang dipaksakan. orang yang setia dengan ilmunya sulit memperoleh tempat secara layak dalam kasabnya. Masyarakat kecil sulit memperoleh pekerjaan. Tidak bekerja tidak memperoleh uang, ketika mendapat pekerjaan justru terlibat hutang. Kadangkala masyarakat bertanya, kehidupan macam apakah yang digelar bagi mereka hingga kasab mereka menjadi sulit?. Sangat banyak macam kesulitan yang menimpa penghidupan umat jaman ini hanya karena umat lari meninggalkan ulama dan fuqaha di antara mereka. Bukan tidak ada ulama dan fuqaha, tetapi mereka meninggalkan ulama dan fuqaha yang ada di antara mereka. Mungkin mereka tidak menyadari, tetapi mereka meninggalkan ulama dalam bentuk tidak pedulinya mukminin terhadap hakikat-hakikat yang harus diperjuangkan.
Keilmuan orang beriman harus dikembangkan mencakup keilmuan yang menimbulkan pengaruh baik terhadap keadaan kasab umat, tidak hanya sikap personal dalam hubungan kepada Allah. Hal ini bisa tercapai apabila mereka mengikuti ulama dan fuqaha yang benar, tidak mudah terjebak dalam kurungan kebodohan dalam bertuhan. Untuk mewujudkan keadaan yang baik dalam penghidupan umat, kaum mukminin harus membentuk majelis dengan benar. orang-orang yang diberi ilmu diberi kedudukan yang semestinya, setiap orang diberi kedudukan dengan tepat diukur berdasarkan ilmu, tidak diabaikan keilmuan yang benar pada masing-masing hanya karena mengikuti pendapat atau pandangan sendiri. Setiap orang harus dapat meluaskan tempat duduk mereka manakala diperlukan, dan orang yang diperintahkan untuk meninggikan diri hendaknya meninggikan diri mereka dalam majelis tidak berdiam diri, hingga kaum mukminin mengetahui ilmu yang harus diikuti dan diterapkan dalam kehidupan untuk memperbaiki keadaan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar