Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia. Ada bentuk-bentuk keimanan yang harus ditumbuhkan umat dengan memperbaiki kemuliaan akhlak. Keimanan yang ditumbuhkan oleh umat manusia merupakan benih yang akan tumbuh sebagai kesejahteraan dunia melalui perbuatan syukur hamba Allah. Kemakmuran tidak akan tumbuh di suatu masyarakat manakala tidak ada keilmuan yang harus mereka usahakan terwujud di dunia. Keilmuan yang menjadi dasar pemakmuran itu adalah keilmuan yang terlahir dari keimanan. Ilmu demikian ini akan menjadikan masyarakat dapat bersinergi untuk mewujudkan pemakmuran tidak selalu berselisih satu dengan yang lain, dan menjadi landasan tumbuhnya keilmuan yang lain hingga dapat tumbuh dengan subur karena dasar yang baik.
﴾۶۹﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raaf : 96)
Keimanan adalah terlihatnya cahaya Allah oleh manusia. Iman bukan sekadar suatu kepercayaan terhadap suatu konsep yang diperkenalkan. Misalnya ayat kitabullah apabila dipahami dengan benar kandungan kebaikan yang ada padanya, maka itu merupakan keimanan. Keimanan itu bisa mempunyai bentuk yang berbeda pada masing-masing manusia sekalipun berupa pemahaman yang tumbuh dari ayat yang sama, tetapi mempunyai keselarasan karena saling melengkapi. Ibaratnya manakala mengamati suatu bintang tertentu yang sama seorang astronom mungkin akan mempunyai pemahaman yang berbeda dengan pelaut, akan tetapi pemahaman itu tidak berselisih sama sekali. Astronom dan pelaut yang melihat bintang itu ibarat orang yang beriman karena mereka mempunyai pemahaman terhadap ayat Allah, sedangkan orang gila yang melihat bintang tidak mempunyai pemahaman terhadap bintang tersebut. Pengetahuan yang tumbuh dari suatu ayat Allah pada masing-masing orang itu merupakan keimanan.
Keimanan tidak terbatas pada orang yang dapat memahami secara langsung suatu ayat Allah. Orang yang memperoleh pemahaman dari perkataan orang lain yang menjelaskan suatu ayat Allah juga merupakan keimanan. Sebaliknya orang yang percaya secara membuta terhadap suatu perkataan bukanlah orang yang beriman, sekalipun mereka patuh dalam mengikuti. Mereka orang yang taklid saja. Hal ini akan menentukan hasil perkembangan kemakmuran komunitas yang terbentuk, dimulai dari kultur keilmuan yang tumbuh dari keimanan. Orang-orang yang beriman akan tumbuh kemampuan dan kultur keilmuan mereka dalam merumuskan keilmuan, sedangkan orang-orang yang dibina untuk bertaklid akan menjadi kaum terbelakang dan bodoh. KeiIlmuan mereka akan terkungkung pada satu atau beberapa orang yang menentukan langkah tanpa mampu mengenali permasalahan yang digelar Allah bagi masing-masing. Keimanan akan menumbuhkan kemampuan masing-masing untuk mengenali ayat Allah sesuai keadaan mereka dan dapat melangkah secara sinergis bersama pemimpin mereka untuk menjadi hamba Allah.
Allah memancarkan cahaya-Nya di langit dan bumi. Cahaya Allah paling nyata berupa kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW, tidak ada kebathilan pada keduanya hingga dapat dijadikan pedoman mutlak bagi setiap manusia untuk memahami cahaya Allah. Selain itu, terdapat cahaya Allah pada setiap segala sesuatu baik yang ada di langit dan di bumi dalam bentuk dzahir ataupun bathiniah dan yang ada di antaranya yang dapat membina keimanan pada hamba Allah. Keimanan yang tumbuh dari ayat-ayat di alam kauniyah itu hendaknya digunakan untuk dapat memahami ayat Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena induk dari cahaya Allah adalah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Keimanan itu hendaknya diwujudkan oleh kaum mukminin untuk bertauhid dengan keimanan yang mencakup cahaya Allah di langit dan di bumi.
Cahaya Allah di langit dan di bumi itu akan dikenali oleh orang-orang yang membina akhlak mulia utamanya berupa sifat rahman dan rahim, tidak akan dikenali oleh logika manusia. Sangat banyak orang pandai secara logika yang tidak dapat mengenali cahaya Allah bahkan menjadi penjahat-penjahat yang merampas hak-hak orang lain. Manakala seseorang membina akhlak mulia dengan keinginan memberikan kebaikan kepada setiap makhluk dan keinginan memahami tuntunan Allah, kemampuan logika dan perhatian mereka terhadap fenomena alam langit ataupun bumi akan mengantarkan mereka untuk mengenal cahaya Allah baik yang terpancar di langit ataupun di bumi. Keimanan mereka bukan suatu keimanan berupa doktrin, tetapi berupa cahaya yang dilimpahkan Allah. Banyak orang yang merasa atau berusaha berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi sebenarnya tidak menyentuh tuntunan karena kurang terbinanya akhlak mulia berdasarkan sifat rahman dan rahim. Ini tidak efektif dalam proses pemakmuran, tetapi perkara balasan bagi kaum demikian adalah dari sisi Allah yang Maha Mengetahui.
Sebagian muslimin menempuh jalan yang keliru dalam berusaha memahami tuntunan Allah. Yang dikabarkan Rasulullah SAW, pokok dari kekeliruan demikian berupa sikap khawarij dan bid’ah. Dewasa ini, banyak tuduhan kepada muslimin dilancarkan oleh sesamanya tanpa suatu alasan yang jelas misalnya tuduhan Syiah bukan Islam, dan karena itu menjadi khawarij lebih baik daripada syiah. Ini tidak betul karena Rasulullah SAW tidak memperingatkan umatnya tentang syiah. Yang diperingatkan Rasulullah SAW terhadap umatnya utamanya adalah perkara Khawarij dan bid’ah. Khawarij adalah kelompok yang bersikap mengikuti Dzulkhuwaisirah, mempertuhankan bentuk-bentuk syariat hingga berbangga-bangga dengan syariat itu terhadap muslimin lain lain tanpa keinginan untuk membentuk akhlak mulia. Kadangkala mereka mengajarkan adab bergaul yang kemudian dijadikan sebagai ajaran membina akhlak mulia, akan tetapi sebenarnya tidak sedikitpun menyentuh pembinaan sifat rahman dan rahim. Bid’ah adalah sikap merasa menjadi wakil Allah dalam mengerjakan sesuatu yang sebenarnya tidak termasuk dalam urusan yang diperintahkan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Seringkali sikap ini mengalihkan perhatian kaum beriman dari urusan yang benar-benar diperintahkan Allah sedemikian keadaan umat menjadi berantakan. Seringkali umat memandang baik bid’ah yang mereka kerjakan, tetapi sebenarnya perintah Allah terkait keadaan mereka justru ditinggalkan.
Kekeliruan dalam membangun keimanan akan menjadikan umat menjadi bodoh. Kaum khawarij bahkan menjadi manusia yang berakhlak buruk, pelaknat dan pencela umat muslim lain sedangkan muslim lain menginginkan kebaikan. Dalam setiap keadaan, mereka mendatangkan kerugian bagi kaum muslim sendiri, bahkan manakala muslimin berperang melawan musyrikin mereka menjadi pembela-pembela musyrikin dan munafikin yang bersekutu. Sumber masalah itu berasal dari akal mereka yang terbalik. Demikian pula perbuatan bid’ah menjadikan mukminin berakhlak buruk karena tidak mau memahami tuntunan kitabullah dengan benar. Seringkali mereka menjadi orang yang lebih membenarkan pendapat mereka sendiri daripada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Atau kadangkala mereka sedemikian mengagungkan suatu kebodohan yang tidak mereka pahami, sedangkan mereka memandang indah keburukan yang menimpa mereka menyangka itu kehendak Allah. Kehendak Allah yang diajarkan Rasulullah SAW melalui kitabullah tidak mereka pahami dengan benar, dan mereka memahami kehendak Allah mengikuti caranya sendiri.
Kultur keilmuan harus tumbuh dengan benar di antara orang-orang yang beriman, karena itu merupakan tunas bagi terbentuknya pemakmuran masyarakat. Setiap orang beriman hendaknya dibina untuk berakhlak mulia dan berusaha mengenali cahaya-cahaya Allah yang terpancar baik di langit ataupun di bumi, dihindarkan dari terbentuknya sikap yang keliru meniru khawarij dan ahli bid’ah. Dengan pengenalan terhadap cahaya-cahaya Allah, hendaknya mereka bertakwa dengan melakukan perbuatan yang terbaik. Dengan demikian akan terbentuk berkah melalui langit dan bumi. Manakala keadaan masyarakat menjadi semakin buruk, hendaknya mereka kembali memeriksa akhlak mulia dalam diri mereka yang menjadi penyebab keadaan buruk tersebut. Manakala orang beriman meninggalkan pokok dari cahaya Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka telah keliru dalam membentuk akhlak dan keadaan buruk itu merupakan akibat dari kekeliruan mereka. Keburukan itu akan berlipat-lipat apabila mereka meyakini kebenaran diri yang menyimpang dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Keberkahan Melalui Ilmu, Iman dan Takwa
Di antara keburukan yang timbul dari kekeliruan itu adalah hilangnya keberkahan dalam kehidupan dan diangkatnya pemimpin yang dzalim bagi kaum beriman.
Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :
ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia dengan tanpa iman (HR Abu Nuaim)
Keilmuan orang beriman hendaknya tumbuh dari para ulama dan fuqaha, yaitu ulama dan fuqaha yang mengenal kehendak Allah yang harus ditunaikan oleh kaum mukminin. Ilmu demikian akan mudah dikenali oleh orang-orang yang membina akhlak mulia. Suatu bangsa mungkin saja tidak mengenali keilmuan orang-orang yang mengenal Allah hingga mereka meninggalkan para ulama di antara mereka. Hal demikian mudah terjadi apabila manusia pada bangsa tersebut tidak membina akhlak mulia. Kadangkala mereka tidak mengenali karena kekeliruan dalam membina akhlak mulia. Keadaan ini lebih sulit dikenali oleh suatu kaum demikian karena mungkin saja mereka memandang diri mereka adalah hamba Allah yang paling baik, sedangkan sebenarnya mereka tidak dapat mengenali ilmu orang alim dan fuqaha di antara mereka.
Yang menjadi tanda kekeliruan pembinaan akhlak pada kaum demikian adalah berkurang atau hilangnya barakah pada kehidupan bermasyarakat, dan diangkatnya pemimpin-pemimpin yang berbuat dzalim. Ada tanda lain yang menunjukkan tetapi sulit diketahui oleh masyarakat luas berupa kematian orang beriman tanpa disertai iman. Ini adalah tanda-tanda yang dapat diketahui tentang kekeliruan pembinaan akhlak masyarakat. Pada dasarnya mereka telah meninggalkan para ulama dan fuqaha di antara mereka. Mungkin mereka tidak dapat mengenali ilmu dari para ulama dan fuqaha itu, atau mereka memilih tidak mengikuti keilmuan para ulama dan fuqaha untuk mengikuti waham mereka sendiri. Sekalipun mereka berusaha keras untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan amal-amal yang dipandang shalih, sebenarnya mereka itu belum cukup beriman dan bertakwa karena ketidakmampuan mengenali kebenaran yang harus diwujudkan dalam kehidupan mereka. Keberkahan dari langit dan bumi akan dibukakan kepada suatu kaum apabila mereka beriman dan bertakwa mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan berpegang hanya pada prasangka kebenaran diri sendiri.
Berkah penghidupan dan tatanan bermasyarakat mempunyai hubungan erat secara timbal balik. Ketika orang-orang bodoh ditempatkan sebagai pemimpin, orang-orang yang pandai di antara mereka akan terkungkung dalam kebodohan pemimpinnya. Misalnya suatu riset yang melibatkan orang-orang pandai selama bertahun-tahun mungkin tidak akan menghasilkan hasil riset yang memadai karena dipimpin orang bodoh. Usaha yang dilakukan seringkali tidak mendatangkan hasil. Kumpulan orang-orang pandai itu seharusnya mendatangkan manfaat yang berlipat-lipat dengan bekerja sama, atau setidaknya masing-masing menghasilkan sumbangsih sendiri dengan bekerja sendiri. Ketika dipimpin orang yang bodoh, karya-karya mereka mungkin akan terpangkas karena bodohnya pemimpin mereka. Ini merupakan contoh hilangnya berkah karena tatanan bermasyarakat yang keliru.
Kekeliruan tatanan masyarakat ini disebabkan di antaranya kesalahan pembinaan akhlak. Setiap orang harus dibina untuk dapat mengenali kebenaran, dimulai dengan proses tazkiyatun-nafs. Sangat banyak orang yang merasa benar dan tidak dapat mengetahui kesalahan dirinya sendiri sekalipun bila kesalahan itu sangat jelas bagi orang lain Mungkin saja rang lain tidak lagi mengetahui cara untuk membuat orang tersebut mengerti. Ibaratnya seperti menjelaskan bulatnya bentuk bumi kepada pengikut FE. Orang-orang FE mungkin akan meminta bukti, sedangkan seluruh bukti itu tidak pernah dipikirkan kebenarannya dengan selayaknya. Demikian pula banyak manusia yang tidak dapat memahami kebenaran karena lebih penting bagi mereka mempertahankan pendapat sendiri. Tazkiyatun-nafs merupakan proses pendahuluan yang harus dilakukan dalam membina akhlak mulia. Manakala tidak dilakukan proses tazkiyatun nafs, akal seseorang akan sulit berkembang dengan benar dalam memahami kebenaran. Pembinaan akhlak mulia hanya dilakukan dengan benar melalui tazkiyatun-nafs.
Tazkiyatun nafs bukan bertujuan akhir kesucian diri, tetapi harus diikuti dengan pembinaan akal untuk memahami kehendak Allah dengan benar, hingga setiap yang menempuh tazkiyatun nafs dapat menempuh jalan kembali kepada Allah dengan benar sesuai dengan tuntunan. Dekatnya kedudukan seseorang kepada Allah ditunjukkan dengan kemuliaan akhlaknya, yaitu ketepatan dalam memahami kehendak Allah dan bertindak sesuai dengan yang dipahaminya. Kemuliaan akhlak hanya berasal dari mengalirnya kemuliaan dari Sang Maha Mulia, bukan sesuatu yang dibuat-buat oleh makhluk. Orang yang kacau pemahamannya terhadap tuntunan Allah tidak dapat dikatakan berakhlak mulia karena pengaruh buruk kebathilan terhadap akalnya. Sangat banyak kebathilan yang bisa muncul dari makhluk sekalipun pada apa yang dipandang mulia, sedangkan kemuliaan datang dari Allah yang mungkin mengalir melalui makhluk sekalipun hanya sedikit. Kadang manusia tidak mengenali kemuliaan yang hadir kepada mereka karena keadaan akalnya.
Kemuliaan akhlak akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di bumi berupa barakah melalui keilmuan para ulama dan fuqaha. Keilmuan yang berasal dari keimanan tidak terbatas pada keilmuan asketik saja, tetapi juga mencakup keilmuan tentang duniawi. Banyak orang yang melakukan tazkiyatun nafs terjebak pada pembinaan sikap-sikap asketik saja tidak berkembang hingga memperoleh pengetahuan duniawi terkait kehidupan mereka. Kadangkala seseorang merasa tenang dengan kesempitan hidup atas diri mereka, sedangkan kesempitan itu diketahui orang yang berilmu dan fuqaha disebabkan oleh ketidaktaatan mereka terhadap petunjuk Allah. Seperti itu merupakan contoh jebakan asketisme saja dalam tazkiyatun-nafs. Keilmuan yang terlahir dari kemuliaan akhlak bukan hanya pembinaan asketik saja, akan tetapi juga mendatangkan berkah bagi kehidupan manusia di alam bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar