Pencarian

Selasa, 18 Agustus 2026

Perkataan yang Teguh dan Buruknya Waham

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kemuliaan akhlak akan mendatangkan kebaikan, baik untuk kehidupan di akhirat maupun kehidupan di bumi. Allah meneguhkan kehidupan orang-orang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia maupun untuk akhirat.

﴾۷۲﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kalimat yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki (QS Ibrahim : 27)

Seseorang yang beriman akan memperoleh pengetahuan tentang kehidupan mereka sedemikian mereka dapat melangkah dengan teguh dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat dengan baik. Perkataan yang teguh itu merupakan cahaya Allah yang terpantul dari seluruh ciptaan di lelangit dan bumi yang tercerap oleh akal makhluk. Perkataan paling teguh yang dapat diperoleh seorang mukmin berupa keterbukaan terhadap kandungan kitabullah Alquran, karena setiap ayat kitabullah Alquran merupakan paket hakikat dari sisi Allah dengan cahaya yang paling terang. Perkataan yang teguh tidak terbatas pada pemahaman terhadap tuntunan kitabullah Alquran tetapi juga dapat ditemukan melalui pemahaman ayat kauniyah lainnya. Akan tetapi keteguhan ayat yang lain itu tidak sebanding dengan pemahaman terhadap kitabullah Alquran. Sangat banyak suatu perkataan yang benar terbentuk pada seseorang tanpa landasan pemahaman terhadap kitabullah Alquran. Seseorang yang demikian akan mempunyai pengetahuan tentang suatu kebenaran tetapi juga akan merasakan kekurangan dalam pengetahuannya itu. Ayat kauniyah yang terhampar pada seluruh alam kauniyah merupakan cabang-cabang yang bisa mengantarkan seseorang memahami tuntunan kitabullah Alquran. Manakala seseorang mengenali suatu tuntunan kitabullah terkait dengan pengetahuan kauniyah yang ia kenali, ia akan merasakan suatu kepuasan mengenal kebenaran pada tingkat tertingginya.

Tidak ada perkataan yang lebih baik daripada ayat kitabullah Alquran. Sekalipun dibandingkan dengan jumlah perkataan yang sangat banyak, satu ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kandungannya lebih baik dari seluruh perkataan selain Alquran. Seandainya manusia atau makhluk di seluruh dunia bersaksi tentang kebenaran sesuatu sedangkan kitabullah Alquran mengatakan salah, atau sebaliknya, maka kesaksian makhluk itu lebih ringan daripada firman Allah. Ilmu-ilmu yang benar terkait ayat-ayat kauniyah apabila disikapi dengan benar merupakan pengantar bagi manusia dan makhluk lain untuk bisa memahami kitabullah sedemikian seseorang bisa memahami kehendak Allah dengan pengetahuan ayat kauniyah meskipun mungkin hanya sedikit. Pengetahuan yang terbuka dari tuntunan kitabullah jauh lebih besar nilainya daripada pengetahuan kauniyah saja.

Menyusun Perkataan Yang Teguh

Orang-orang beriman mudah memperoleh perkataan yang teguh bagi kehidupan dunia dan akhirat. Keterbukaan perkataan yang teguh terjadi mengikuti keterbukaan kandungan kitabullah. Kemudahan di jamaah orang beriman menyusun perkataan yang teguh terbentuk melalui susunan tertentu dalam berjamaah. Manakala seseorang beriman mengalami keterbukaan terhadap kandungan suatu ayat kitabullah Alquran bagi dirinya, ia dapat mengajak orang lain untuk mengenal perkataan yang teguh itu. Keterbukaan pengetahuan kitabullah itu ditandai keterbukaan tentang kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Setiap orang mempunyai kedudukan yang berbeda dengan orang lain akan tetapi terhubung melalui jalinan Al-jamaah. Orang-orang yang mengenal kedudukan dirinya dalam al-jamaah dapat mengajak orang lain untuk mengenal amr jami’ untuk ruang dan jaman mereka. Dengan demikian seluruh kaum mukminin akan dimudahkan untuk mengenal perkataan yang teguh bagi mereka.

Upaya mengenal perkataan yang teguh akan terjadi dengan benar manakala setiap orang beriman membina akhlak mulia. Kadangkala suatu kaum beriman keliru dalam membina akhlak mulia hingga tidak dapat memahami tuntunan kitabullah dengan benar. Suatu ayat kitabullah Alquran yang dibacakan mungkin saja tidak dianggap sebagai perkataan yang teguh di antara mereka karena akhlak keliru yang terbentuk. Ini menunjukkan akal yang salah bentuk. Akal yang benar akan menjadikan manusia mudah memahami perkataan yang teguh. Kesalahan semacam ini akan menghambat terbentuknya perkataan yang teguh sedemikian mereka tidak mengerti masalah yang terjadi dalam kehidupan. Boleh jadi mereka sibuk mengerjakan amal-amal yang dipandang baik akan tetapi tidak mendatangkan suatu kebaikan yang dibutuhkan dalam bermasyarakat. Kadangkala suatu kaum hanya melangkah di tempat tanpa mewujudkan perbaikan dalam kehidupan. Hal-hal demikian itu pada satu kasus terjadi disebabkan tidak tepatnya perkataan keimanan dalam kehidupan orang beriman.

Perkataan teguh di antara umat tidak berdiri masing-masing, tetapi berjamaah. Mungkin perkataan teguh itu berbeda-beda pada setiap manusia, akan tetapi berakar pada satu kebenaran dari Allah. Pada puncaknya, seseorang akan mengenal nafs wahidah dirinya sebagai bagian dari Rasulullah SAW. Satu orang mukmin tidak berusaha menegakkan perkataan yang teguh sendirian saja, tetapi berusaha dengan bersinergi satu dengan yang lain berdasar perkataan yang teguh. Masing-masing orang mengusahakan suatu bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW, dan usaha itu dilakukan dengan susunan tertentu menurut kedudukan masing-masing orang. Tidak ada manfaat dari suatu pengetahuan yang diperoleh apabila tidak digunakan sebagai usaha menolong bagian dari urusan Rasulullah SAW, dan pengetahuan yang kecil akan mempunyai manfaat besar manakala digunakan untuk menolong Rasulullah SAW. Orang yang ingin bertakwa akan tertolong melalui orang lain apabila menginginkan mengetahui kedudukan dirinya sebagai nafs wahidah.

Kurangnya keinginan untuk memahami perkataan yang teguh menjadikan muslimin berselisih satu sama lain, sedangkan upaya mereka tidak mendatangkan kebaikan secara layak. Keinginan memahami itu harus disertai keinginan bersikap mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, bukan waham mengikuti Rasulullah SAW. Banyak orang merasa mengikuti tetapi sebenarnya tidak memahami, maka perasaan demikian hanya dari hawa nafsu saja. Ada kaum muslimin yang merasa menjadi kelompok yang paling mengikuti sunnah tetapi sebenarnya tidak memahami sedikitpun ajaran Rasulullah SAW. Selama ratusan tahun kaum itu berpegang pada satu ajaran mengikuti Dzulkhuwaisirah yang membodohkan, dan mereka tidak mengetahui kerusakan yang mereka timbulkan dengan keyakinan bodoh mereka. Sebagian kaum merasa sebagai kelompok yang akan menjadi agen kebangkitan Islam tetapi tidak ada tanda perubahan menuju kebaikan setelah sekian waktu dan justru kehidupan masyarakat semakin berantakan. Hal demikian menunjukkan kurangnya keinginan memahami dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, hanya mengikuti hawa nafsu sendiri sekalipun berdasar tuntunan dan hawa nafsu itu menipu mereka.

Perkataan yang teguh itu diperoleh dengan berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan akhlak mulia. Sangat banyak muslimin berusaha memahami tuntunan Allah tetapi terjatuh pada sikap menyombongkan diri, tidak bersungguh-sungguh memahami kemuliaan yang harus diwujudkan dari tuntunan yang dipahaminya. Muslim demikian seringkali menganggap bahwa tuntunan itu pastilah kemuliaan, tetapi tidak mengetahui bahwa dirinya mungkin belum memahami kemuliaannya. Tentu benar bahwa tuntunan Allah itu mulia, tetapi pemahaman seseorang belum tentu benar. Ini tidak berarti mencegah upaya muslimin untuk menyampaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan pemahaman yang sedikit, tetapi mencegah muslim dan mukmin bersikap keliru atau sombong dengan pengetahuannya terhadap bunyi tuntunan. Yang penting diusahakan setiap muslim adalah berusaha memahami kemuliaan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan berusaha mewujudkan kemuliaan itu. Perkataan yang teguh itu merupakan cahaya Allah yang dapat dipersepsi kemuliaannya oleh hamba Allah sedemikian membuat mereka termasuk sebagai orang beriman.

Perkataan yang teguh itu harus disusun terus menerus hingga semakin teguh. Satu kemuliaan yang dipahami hendaknya ditambah dengan kemuliaan lain yang mungkin baru diperoleh sedemikian perkataan mereka semakin teguh. Manakala terhenti hanya pada satu perkataan saja, manusia akan mudah terjebak pada waham. Misalnya suatu perkataan “lebih baik mengikuti kehendak Allah daripada mengejar cita-cita sendiri”, hal itu merupakan suatu potongan perkataan yang teguh. Perkataan itu akan tetap merupakan perkataan yang teguh manakala diikuti dengan langkah tazkiyatun-nafs, dan bisa berubah menjadi hanya suatu waham manakala tidak diikuti dengan tazkiyatun nafs atau langkah lain yang dapat mewujudkan pengenalan terhadap kehendak Allah. Kadangkala seseorang menjadi sombong merasa orang yang paling mengenal kehendak Allah karena suatu perkataan teguh menjadi waham. Sangat banyak ditemukan contoh lain setara kasus demikian yang dapat terjadi pada semua tingkatan keadaan manusia. Perkataan teguh orang beriman hendaknya dibentuk dari bertambahnya perkataan-perkataan yang teguh sedemikian suatu perkataan tidak menjadi hanya suatu waham.

Suatu pemahaman tentang suatu kemuliaan hendaknya tidak disia-siakan dengan selalu membangun akal yang lurus. Kadangkala manusia tertutupi oleh waham dari potongan perkataan yang teguh sedemikian mereka tidak dapat mengenali perkataan teguh yang lain. Mungkin mereka tidak memahami kemuliaannya, atau mungkin menganggap ringan kemuliaan yang disampaikan orang lain secara tidak benar. Akalnya sedikit dibentuk kemudian dibiarkan menyimpang. Kaum mukminin tidak akan memperoleh perkataan yang teguh manakala mensia-siakan kemuliaan. Tidak jarang waham itu menjadikan mereka berakhlak buruk baik berupa kesombongan ataupun sikap buruk lainnya, dan ketidakmampuan mengenali bobot perkataan teguh dari orang lain menjadi tanda akhlak buruk yang tumbuh. Itu berawal dari kesalahan mengikuti perkataan. Kesalahan dalam membina perkataan yang teguh akan menyebabkan kesesatan. Allah akan menyesatkan orang-orang yang dzalim dengan perkataan-perkataan yang tidak mendatangkan kebaikan dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Kadangkala seseorang menemukan suatu kesalahan pada pemahaman yang telah ada pada dirinya manakala menemukan suatu pemahaman baru, maka kesalahan itu hendaknya diperbaiki dengan yang lebih baik. Hal demikian wajar terjadi dan Allah mudah untuk mengampuni kesalahan demikian selama seseorang berusaha memahami kemuliaan tuntunan Allah. Selama seseorang berkeingainan untuk membina akhlak mulia, Allah akan mengampuni kesalahan yang ada. Manakala suatu pemahaman menjadikan seseorang sombong, barangkali Allah tidak menghapus kesalahan yang mereka ikuti sedangkan keinginan berakhlak mulia pada mereka hanya tipis atau mungkin hanya ilusi. Perkataan yang teguh pada orang beriman itu harus selalu bertambah untuk menambahkan keteguhannya.

Kesesatan karena Perkataan Keliru

Kesalahan dalam membina perkataan yang teguh akan menyebabkan kesesatan. Allah akan menyesatkan orang-orang yang dzalim dengan perkataan-perkataan yang tidak mendatangkan kebaikan dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Mereka mungkin akan mengalami kesulitan dalam kehidupan di dunia dengan perkataan-perkataan mereka yang keliru tanpa landasan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan demikian pula boleh jadi mereka akan mengalami kehidupan yang sangat sulit dalam kehidupan setelah kematian di dunia. Apa yang mereka sangka sebagai cahaya mungkin sebenarnya hanya sesuatu yang akan hilang setelah kematian mereka. Keimanan mereka bisa saja tercabut dalam kehidupan di alam dunia, atau ketika di alam kubur, atau di alam makhsyar ataupun ketika berada di haudh Al-kautsar Rasulullah SAW. Setiap kehilangan keimanan pada setiap tahap kehidupan merupakan hasil dari kesesatan yang harus dihindari oleh orang beriman.

Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Allah memberitahukan kepada manusia bahwa Dia akan menyesatkan manusia yang dzalim. Bukan manusia atau syaitan yang menyesatkan, tetapi Allah yang akan menyesatkan. Akan sangat sulit bagi hamba Allah untuk mengenali kesesatan yang ditimpakan Allah kepada mereka. Hamba Allah hendaknya tidak membuat prasangka-prasangka tentang kehendak Allah terkait kedzaliman yang dia perbuat, bersikap tegas bahwa kedzaliman dirinya adalah kedzaliman. Kadang manusia menyangka Allah tidak akan menyesatkan diri mereka ketika berbuat salah, sedangkan Allah menyesatkan orang yang dzalim. Apabila seseorang dzalim, Allah mungkin akan menyesatkannya. Apabila seseorang berbuat dzalim, hendaknya ia takut akan perbuatan Allah, yaitu perbuatan-Nya menyesatkannya. Allah berbuat kepada orang dzalim sesuai dengan kehendak-Nya sendiri tidak berdasarkan prasangka makhluk-Nya, dan Dia telah memberitahukan kepada manusia bahwa Dia akan menyesatkan manusia yang dzalim.

Allah tidaklah berbuat semena-mena kepada makhluk, tetapi makhluk sendiri yang harus mengetahui perbuatan dzalim yang dia lakukan. Orang-orang yang berusaha berpegang pada tuntunan Allah yang diturunkan secara nyata berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dan membina akhlak mulia dalam dirinya tentu tidak akan disesatkan Allah. Orang yang mengikuti persangkaan sendiri menomorduakan tuntunan Allah akan mudah terjatuh berbuat dzalim hingga disesatkan. Manakala seseorang membangun keyakinan dengan mengutamakan persangkaan sendiri daripada tuntunan Allah, mereka akan terjatuh pada kedzaliman. Kadangkala orang dzalim tampak layaknya orang yang peduli tentang kandungan kitabullah sedangkan ia sebenarnya mengutamakan pendapatnya sendiri dan kadang bersesuaian dengan kitabullah. Kadangkala seseorang bersikap jelas tidak peduli dengan isi redaksi dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya mengikuti keyakinan sendiri. Boleh jadi seseorang membuat suatu keyakinan tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah hingga menganggap ringan perkataan orang lain yang disampaikan berdasarkan tuntunan kitabullah, maka mereka itu termasuk orang yang dzalim. Manakala seseorang telah dalam keadaan demikian, Allah sangat mungkin akan menyesatkan mereka dengan sesuatu yang dipandang benar. Keadaan ini berbeda dengan orang yang salah. Orang yang keliru dalam keyakinannya atau salah dalam usaha memahami tuntunan kitabullah mungkin saja tidak termasuk orang yang dzalim, terutama bila ada tanda ia bisa memahami perkataan yang baik apabila diberitahu. Tentu Allah tidak akan menyesatkannya, tetapi ia mungkin harus menanggung suatu akibat dari kesalahannya ataupun dihapuskan kesalahannya.

Kesesatan orang-orang yang dzalim itu akan mendatangkan kesulitan dalam kehidupan bagi umat manusia. Kesulitan ini muncul dari kekeliruan pada sumber yang mereka lakukan. Kebenaran-kebenaran yang mereka yakini boleh jadi sebenarnya merupakan kekufuran-kekufuran, dan kebathilan-kebathilan yang mereka cegah boleh jadi merupakan kebenaran yang seharusnya diwujudkan. Urusan-urusan yang dikerjakan untuk mendatangkan kebaikan seringkali justru mendatangkan kemadlaratan karena salah dalam mengidentifikasi masalah. Amal-amal yang dipandang baik seringkali sebenarnya justru merupakan amal yang buruk. Keadaan ini menjadi ciri dari suatu kesesatan yang menimpa orang atau kaum yang disesatkan. Keadaan mereka akan mendatangkan kesulitan bagi umat manusia baik kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kadangkala kesulitan itu menimbulkan dampak yang luas bukan hanya atas diri atau kaum mereka sendiri, tetapi juga atas negeri mereka.

Misalnya terkait diangkatnya pemimpin yang dzalim. Kadangkala seseorang yang tidak dzalim berubah menjadi dzalim ketika menjadi pemimpin karena kesesatan masyarakatnya. Tentu ada andil pribadi tetapi keterbukaan kesempatan itu karena kesesatan masyarakat. Apabila seseorang yang dzalim menjadi pemimpin suatu kaum, ia akan mendatangkan masalah yang sangat banyak bagi kaum itu seluruhnya. Sekalipun program yang dibuat tampak indah untuk kebaikan bersama, pada prakteknya program itu hanya menguntungkan orang-orang tertentu saja merugikan masyarakat luas. Kasus lainnya, orang-orang yang berakal kuat seringkali kehilangan makna kehidupan manakala hidup di antara kaum yang tersesat Mereka tidak bisa memberikan manfaat bagi orang lain dan menjadi tidak mengerti untuk apa dirinya harus ada di tempat demikian. Sangat banyak fenomena buruk yang dapat terjadi pada kaum yang tersesat.

Kamis, 13 Agustus 2026

Perkataan Teguh Orang Beriman di Dunia dan Akhirat

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kemuliaan akhlak akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan baik untuk kehidupan di akhirat maupun kehidupan di bumi. Allah meneguhkan kehidupan orang-orang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia maupun untuk akhirat.

﴾۷۲﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kalimah yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki (QS Ibrahim : 27)

Perkataan yang teguh itu adalah pengetahuan yang teguh terkait aspek-aspek kehidupan, baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Seseorang yang beriman akan memperoleh pengetahuan tentang kehidupan mereka sedemikian mereka dapat melangkah dengan teguh dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat tidak terombang-ambing dengan harapan yang keliru dan informasi-informasi yang semu. Sangat banyak manusia berharap terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak akan ditemukan, dan sangat banyak informasi dan pengetahuan semu yang dapat dijumpai dalam kehidupan manusia, baik berupa potongan kebenaran yang digunakan untuk tujuan yang keliru atau digunakan secara tidak tepat, ataupun berupa informasi-informasi yang salah dan mempersulit kehidupan. Seseorang yang beriman akan bisa mengetahui hakikat penciptaan dan mengusahakan apa yang ditentukan bagi diri mereka, serta memperoleh informasi dan pengetahuan yang teguh terkait kehidupan diri mereka di dunia ataupun di akhirat tidak terombang-ambing dalam informasi semu.

Perkataan yang teguh adalah perkataan yang benar dan digunakan untuk urusan yang tepat dengan suatu pemahaman terhadap konsekuensi yang mengikuti perkataan tersebut. Perkataan itu bukan suatu perkataan yang dipersepsi selintas kemudian dibenarkan tanpa mengetahui isinya. Dengan perkataan yang teguh, orang beriman pada dasarnya tidak perlu bersikap gamang terhadap permasalahan yang terkait dengan perkataan itu, dan usaha untuk mewujudkan perkataan itu dapat mengarah dengan benar bukan suatu usaha coba-coba. Selanjutnya, seorang beriman dapat menempatkan diri pada usaha mewujudkan perkataan yang teguh yang telah diketahuinya dan menghindarkan diri berkiprah pada sesuatu yang ia tidak mempunyai perkataan yang teguh pada urusan itu. Mungkin seorang mukmin menemukan hanya sedikit perkataan yang teguh tetapi telah mencukupi untuk melakukan usaha yang benar, dan mungkin pula menemukan banyak hal yang harus diupayakan bersama orang lain. Manakala seorang merasa beriman tetapi tidak menemukan perkataan yang teguh, mungkin ia belum benar-benar beriman.

Perkataan paling teguh yang dapat diperoleh seorang mukmin adalah keterbukaan terhadap kandungan kitabullah Alquran, karena setiap ayat kitabullah Alquran merupakan paket hakikat dari sisi Allah. Tidak ada perkataan yang lebih baik daripada ayat kitabullah Alquran. Sekalipun dibandingkan dengan jumlah perkataan yang sangat banyak, satu ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kandungannya lebih baik dari seluruh perkataan selain Alquran. Seandainya manusia atau makhluk di seluruh dunia bersaksi tentang kebenaran sesuatu sedangkan kitabullah Alquran mengatakan salah, atau sebaliknya, maka kesaksian makhluk itu lebih ringan daripada firman Allah. Ini nilai kebenaran Alquran yang dibukakan kepada seseorang. Tidak semua perkataan manusia tentang ayat kitabullah merupakan perkataan yang teguh. Kadangkala seseorang mencomot suatu ayat untuk kepentingannya, maka hal demikian tidak menunjukkan perkataan yang teguh. Redaksi kitabullah selalu benar, tetapi penerapannya oleh seseorang tidak selalu benar.

Manakala orang beriman telah memperoleh suatu perkataan yang teguh bagi diri mereka, hendaknya mereka mengusahakan perkataan yang teguh itu agar terwujud ke alam dunia. Itu merupakan amal shalih yang akan meneguhkan kedudukan orang beriman di kehidupan dunia. Kaum muslimin dewasa ini banyak yang tidak mengenal perkataan yang teguh yang harus mereka usahakan. Sebagian mukminin memuntahkan kembali perkataan yang teguh tidak menyusunnya dengan baik.  Sebagian kaum mukminin banyak terlihat mengabaikan perkataan-perkataan yang sebenarnya merupakan perkataan yang teguh. Hal ini dapat dilihat pada dampaknya berupa leluasanya kaum musyrikin dan para munafikin yang bersama mereka melakukan agitasi terhadap muslimin, dan orang beriman banyak yang tidak dapat mengambil sikap dalam fitnah-fitnah yang dilancarkan. Tidak pula kebanyakan kaum mukminin dapat menunjukkan keteguhan kedudukan mereka di alam dunia seperti bangsa Iran menunjukkan keteguhan kedudukan mereka. Kebanyakan mukminin tidak mengetahui perkataan teguh yang seharusnya mereka perjuangkan, hanya meraba-raba masalah tanpa memahami makna suatu tuntunan yang teguh.

Mewujudkan Perkataan yang Teguh

Perkataan yang teguh itu merupakan cahaya yang menerangi kehidupan orang beriman. Boleh jadi cahaya itu tidak terwujud di alam dunia, tetapi tetap terlihat oleh orang-orang beriman. Bisa sangat banyak penghalang yang harus dihadapi seseorang dalam mewujudkan cahaya berupa perkataan yang teguh tersebut hingga mencegah pewujudannya. Gambarannya, mukminin di Iran harus menanggung sekian fitnah dan halangan dari kaum musyrikin negeri barat. Perkataan teguh mereka baru tampak dalam pandangan manusia umum manakala perang terjadi. Halangan dan fitnah demikian hampir selalu terjadi pada setiap perkataan yang teguh yang dipahami seseorang hingga belum tentu perkataan yang teguh itu dapat terlihat di alam dunia.

Halangan dan fitnah seperti ulah kaum musyrikin terhadap mukminin Iran sebenarnya bukan halangan yang terbesar. Halangan terbesar atas mukminin itu berbentuk terpisahnya seorang isteri dari suaminya. Hal itu terkait dengan perusakan tauhid, yaitu usaha penyatuan diri seorang hamba terhadap kehendak Allah. Proses tauhid harus ditempuh hamba Allah melalui pembentukan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah dengan pembinaan pernikahan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membina bayt. Secara sosial, bayt merupakan inti dari pembentukan lingkungan sosial seorang hamba Allah. Secara individu, bayt merupakan media pertumbuhan dan media manifestasi pembinaan akhlak mulia seorang hamba. Manakala pembinaan bayt seorang hamba Allah rusak, media pertumbuhan dan manifestasi akhlak mulia itu dirusak sedemikian seorang hamba akan sulit tumbuh secara sempurna. Demikian pula secara sosial mereka akan terhambat dalam membentuk hubungan sosial yang memadai untuk melaksanakan amanah. Proses penyatuan diri hamba Allah terhadap kehendak-Nya akan terhambat sehingga usaha pewujudan perkataan yang teguh itu akan sulit dilaksanakan.

Bayt menjadi gambaran kesatuan urusan dalam penghambaan kepada Allah. Setiap orang di shirat al-mustaqim pada dasarnya mengerjakan satu urusan yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, dan terbagi-bagi kepada setiap makhluk melalui jalur tertentu sebagaimana seorang isteri memperoleh urusan Allah melalui suaminya. Keberjamaahan demikian harus diperhatikan mukminin yang memohon petunjuk shirat Al-mustaqim. Ada orang-orang yang mengharapkan petunjuk tanpa keinginan melangkah di atas kebenaran. Misalnya seorang pemimpin mungkin mengharapkan wangsit sebagai petunjuk dalam menunaikan tugasnya sebagai pemimpin, tetapi ia tidak mempedulikan pemahamannya terhadap kebenaran maka kebijakannya membuat orang yang dipimpin kelimpungan. Mereka tidak mengetahui atau tidak peduli kebenaran petunjuk yang diperoleh, apakah berasal dari Allah atau dari alam syaitan, yang penting ia memperoleh backing yang memberi petunjuk sebagai pemimpin. Seorang yang jahat sepenuhnya akan pandai memanfaatkan wangsitnya, sedangkan orang yang baru akan tampak canggung dalam menggunakan wangsitnya. Itu contoh kurangnya perhatian terhadap kebenaran urusan. Kesatuan urusan dalam penghambaan atau dalam pemakmuran bumi secara benar dapat dibina dengan memperhatikan pembinaan bayt. Syaitan sangat berkeinginan merusak pembinaan bayt di antara mukminin dan mukminat untuk menghambat pewujudan perkataan yang teguh yang mereka pahami.

Yang menjadi sasaran pemisahan pasangan utamanya adalah mukminin dan mukminat. Cara pemisahan yang terjadi bisa sedemikian halus hingga bisa saja masing-masing orang merasa sebagai pejuang agama, tetapi sebenarnya menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala pemisahan dilakukan secara kasar manakala memungkinkan. Cara memisahkan secara kasar itu misalnya membentuk akhlak penuntut harta benda secara berlebihan sebagai syarat pernikahan. Suatu pernikahan di antara mukminin dan mukminat hendaknya diniatkan untuk membentuk bayt meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, bukan mengumpulkan kekayaan yang banyak. Untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, setiap manusia dicipta untuk kedudukan tertentu, layaknya seorang isteri diciptakan dengan kedudukan tertentu bagi nafs suaminya. Menemukan pasangan yang paling tepat adalah kunci untuk membentuk bayt demikian. Masalah harta akan terkumpul seiring dengan terkumpulnya apa yang terserak bagi pasangan itu setelah usaha meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tidak dijadikan syarat awal pernikahan. Kadang ditemukan budaya buruk di masyarakat berupa merendahkann jodoh yang tidak cukup berharta, sekalipun jodohnya beragama dan berpendidikan memadai. Budaya demikian itu akan mendatangkan kerusakan yang besar bagi upaya mewujudkan perkataan yang kokoh dalam kehidupan dunia.

Rusaknya pembinaan bayt di suatu kaum mukminin seringkali merupakan cerminan rusaknya hubungan kaum tersebut terhadap Rasulullah SAW. Berjuang untuk agama harus mendatangkan manfaat bagi umat manusia seluruhnya, dan hal itu hanya bisa terjadi manakala langkah yang ditempuh selaras dengan yang diajarkan Rasulullah SAW. Cermin dari keselarasan langkah itu adalah terbentuknya bayt selaras dengan tuntunan Allah. Suatu kaum mungkin merasa berjuang untuk agama tetapi sebenarnya tidak mengikut langkah Rasulullah SAW hingga tidak mendatangkan manfaat tetapi justru mendatangkan kerusakan. Hal itu seperti para isteri yang berjuang untuk agama dengan meninggalkan suaminya, perjuangannya tidak mendatangkan kebaikan bagi umat dan sebenarnya meninggalkan langkah Rasulullah SAW.

Dalam perjalanan membina bayt, kesalahan dalam beragama harus dihindari. Kekeliruan dalam membina agama itu secara garis besar terdapat dua kelompok, yaitu khawarij dan ahli bid’ah. Khawarij terbentuk dari orang yang mengikuti langkah Dzulkhuwaisirah membanggakan syariat yang mereka lakukan, melupakan langkah Rasulullah SAW membentuk akhlak mulia. Mereka memperhatikan syariat dengan sangat baik untuk membanggakan diri dengan syariat itu dan untuk mencela muslimin lain, tidak dengan niat yang baik membina akhlak mulia. Mereka menjadi pembela-pembela musuh-musuh muslimin menyerang kaum muslimin. Mereka mudah melontarkan fitnah terhadap muslimin lain tanpa menimbang kebenaran fitnah mereka, hanya mengikuti pembesar mereka. Muslimin tidak boleh mengikuti pemahaman mereka dengan berusaha menggunakan akal menimbang urusan yang mereka lakukan di hadapan Allah, tidak membanggakan syariat mereka meniru Dzulkhuwaisirah.

Ahli bid’ah adalah orang-orang yang merasa sebagai pemangku urusan Allah tanpa mengetahui landasan urusan mereka dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagian ahli bid’ah melakukan amal-amal yang jelas dilarang kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi memandangnya sebagai urusan Allah. Sebagian ahli bid’ah merasa sebagai pemangku urusan Allah tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait urusan mereka hingga urusan yang benar dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tercampur secara tidak jelas dengan urusan hawa nafsu mereka. Banyak kesalahan dari hawa nafsu mereka yang disangka dari Allah, sedangkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengajarkan demikian. Sebagian dari ahli bid’ah adalah orang-orang yang mengikuti langkah orang lain dengan memandang urusan mereka benar-benar perintah Allah tanpa berusaha memahami tuntunan Allah terkait urusan yang mereka kerjakan. Kaum mukminin hendaknya menghindari perbuatan-perbuatan bid’ah dengan berusaha sungguh-sungguh mengenal urusan Allah berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Sikap kaum mukminin dalam melaksanakan urusan Allah adalah memperhatikan sungguh-sungguh tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai sumber asli urusan Allah. Seandainya ia adalah pemangku amanah atau telah mengenal amanah atas dirinya, ia hanya menghadirkan kepada umat amanah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengurangi atau menambahnya, tidak meninggikan diri. Boleh saja dalam penyampaiannya ia mengungkapkan ayat-ayat kauniyah di bumi dan di langit sebagai cahaya penerang, tetapi dengan tujuan untuk memudahkan umat memahami perintah dalam ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ia harus berusaha menghindarkan manusia tersesat dalam memandang ayat-ayat kauniyah yang disampaikan sedemikian umat tidak kehilangan hubungannya dengan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang terkait. Para pengikut hendaknya memperhatikan kaidah ini, bahwa Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah sumber dari amr, sedangkan perkataan para pemangku amr bersifat menjelaskan amr dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Barangkali pemangku amr tidak selalu menghubungkan penjelasannya dengan kitabullah tetapi sebenarnya mengetahui hubungan urusan itu secara rumit, maka hendaknya mereka mengikuti penjelasan dengan sebaik-baiknya tanpa banyak membantah. Menolak hanya dilakukan untuk penjelasan yang diketahui bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dengan memperhatikan hal ini, setiap orang dapat mengembangkan pemahaman amr dalam dirinya, tidak terkungkung dalam batasan yang sempit. Dengan pemahaman yang baik, setiap orang dapat berperan secara terbaik untuk amr Allah sesuai dengan keadaan diri masing-masing baik ketika belum mengetahui perkataan yang teguh bagi dirinya ataupun ketika telah mengetahuinya.

Kekeliruan pembinaan akhlak yang terjadi baik akhlak buruk, sifat khawarij ataupun ahli bid’ah akan mempersulit pewujudan perkataan yang teguh di antara mukminin. Perkataan yang teguh itu tidak menyebar kepada jamaah, hanya tumbuh pada sebagian kaum mukminin. Ibaratnya apabila seorang isteri terjangkit sifat ahli bid’ah atau sifat khawarij, seorang suami akan sulit untuk mensyiarkan pemahaman dirinya sekalipun benar. Ia akan terbebani dengan berbagai tugas selain amal shalih yang seharusnya dikerjakan. Seandainya ia tidak terbebani tugas yang lain, mungkin ia akan kesulitan untuk memperoleh bekal untuk melaksanakan amal shalihnya sedangkan amal shalihnya tidak tampak indah dalam pandangan orang lain layaknya seseorang dengan pakaian yang buruk atau tidak berpakaian. Ini tidak hanya dalam hubungan suami isteri, tetapi juga kesalahan pembinaan akhlak pada masyarakat umum. Sangat penting bagi kaum mukminin untuk membina akhlak mulia dengan benar mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan seksama.

Pemakmuran akan terjadi mengikuti pengetahuan yang tumbuh berdasarkan keimanan terhadap cahaya-cahaya Allah. Allah telah menciptakan petala langit dan bumi serta menurunkan air ke bumi dari langit yang terdekat. Dengan air yang diturunkan itulah buah-buahan dikeluarkan melalui tanaman-tanaman sebagai rezeki bagi makhluk. Rezeki itulah yang akan mendatangkan proses pemakmuran bumi sedemikian makhluk yang ada di atasnya menjadi sejahtera.

﴾۲۳﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai (QS Ibrahim : 32)

Ayat di atas menjelaskan tentang salah satu proses munculnya rezeki bagi makhluk di bumi. Barangkali di alam bumi banyak proses pengairan yang dapat dilakukan manusia terhadap pohon-pohon di bumi untuk menghasilkan buah-buahan, bukan hanya dari air hujan saja sebagaimana ayat di atas. Hendaknya realitas demikian tidak digunakan untuk mendebat kandungan ayat di atas. Ayat tersebut lebih menjelaskan tentang suatu proses untuk mendatangkan rezeki di bumi, yaitu dengan mensyukuri turunnya hujan pengetahuan dari alam langit ke bumi sebagai sarana untuk menghasilkan buah sebagai rezeki bagi makhluk.

Senin, 10 Agustus 2026

Ilmu dan Iman Taqwa

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia. Ada bentuk-bentuk keimanan yang harus ditumbuhkan umat dengan memperbaiki kemuliaan akhlak. Keimanan yang ditumbuhkan oleh umat manusia merupakan benih yang akan tumbuh sebagai kesejahteraan dunia melalui perbuatan syukur hamba Allah. Kemakmuran tidak akan tumbuh di suatu masyarakat manakala tidak ada keilmuan yang harus mereka usahakan terwujud di dunia. Keilmuan yang menjadi dasar pemakmuran itu adalah keilmuan yang terlahir dari keimanan. Ilmu demikian ini akan menjadikan masyarakat dapat bersinergi untuk mewujudkan pemakmuran tidak selalu berselisih satu dengan yang lain, dan menjadi landasan tumbuhnya keilmuan yang lain hingga dapat tumbuh dengan subur karena dasar yang baik.

﴾۶۹﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raaf : 96)

Keimanan adalah terlihatnya cahaya Allah oleh manusia. Iman bukan sekadar suatu kepercayaan terhadap suatu konsep yang diperkenalkan. Misalnya ayat kitabullah apabila dipahami dengan benar kandungan kebaikan yang ada padanya, maka itu merupakan keimanan. Keimanan itu bisa mempunyai bentuk yang berbeda pada masing-masing manusia sekalipun berupa pemahaman yang tumbuh dari ayat yang sama, tetapi mempunyai keselarasan karena saling melengkapi. Ibaratnya manakala mengamati suatu bintang tertentu yang sama seorang astronom mungkin akan mempunyai pemahaman yang berbeda dengan pelaut, akan tetapi pemahaman itu tidak berselisih sama sekali. Astronom dan pelaut yang melihat bintang itu ibarat orang yang beriman karena mereka mempunyai pemahaman terhadap ayat Allah, sedangkan orang gila yang melihat bintang tidak mempunyai pemahaman terhadap bintang tersebut. Pengetahuan yang tumbuh dari suatu ayat Allah pada masing-masing orang itu merupakan keimanan.

Keimanan tidak terbatas pada orang yang dapat memahami secara langsung suatu ayat Allah. Orang yang memperoleh pemahaman dari perkataan orang lain yang menjelaskan suatu ayat Allah juga merupakan keimanan. Sebaliknya orang yang percaya secara membuta terhadap suatu perkataan bukanlah orang yang beriman, sekalipun mereka patuh dalam mengikuti. Mereka orang yang taklid saja. Hal ini akan menentukan hasil perkembangan kemakmuran komunitas yang terbentuk, dimulai dari kultur keilmuan yang tumbuh dari keimanan. Orang-orang yang beriman akan tumbuh kemampuan dan kultur keilmuan mereka dalam merumuskan keilmuan, sedangkan orang-orang yang dibina untuk bertaklid akan menjadi kaum terbelakang dan bodoh. KeiIlmuan mereka akan terkungkung pada satu atau beberapa orang yang menentukan langkah tanpa mampu mengenali permasalahan yang digelar Allah bagi masing-masing. Keimanan akan menumbuhkan kemampuan masing-masing untuk mengenali ayat Allah sesuai keadaan mereka dan dapat melangkah secara sinergis bersama pemimpin mereka untuk menjadi hamba Allah.

Allah memancarkan cahaya-Nya di langit dan bumi. Cahaya Allah paling nyata berupa kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW, tidak ada kebathilan pada keduanya hingga dapat dijadikan pedoman mutlak bagi setiap manusia untuk memahami cahaya Allah. Selain itu, terdapat cahaya Allah pada setiap segala sesuatu baik yang ada di langit dan di bumi dalam bentuk dzahir ataupun bathiniah dan yang ada di antaranya yang dapat membina keimanan pada hamba Allah. Keimanan yang tumbuh dari ayat-ayat di alam kauniyah itu hendaknya digunakan untuk dapat memahami ayat Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena induk dari cahaya Allah adalah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Keimanan itu hendaknya diwujudkan oleh kaum mukminin untuk bertauhid dengan keimanan yang mencakup cahaya Allah di langit dan di bumi.

Cahaya Allah di langit dan di bumi itu akan dikenali oleh orang-orang yang membina akhlak mulia utamanya berupa sifat rahman dan rahim, tidak akan dikenali oleh logika manusia. Sangat banyak orang pandai secara logika yang tidak dapat mengenali cahaya Allah bahkan menjadi penjahat-penjahat yang merampas hak-hak orang lain. Manakala seseorang membina akhlak mulia dengan keinginan memberikan kebaikan kepada setiap makhluk dan keinginan memahami tuntunan Allah, kemampuan logika dan perhatian mereka terhadap fenomena alam langit ataupun bumi akan mengantarkan mereka untuk mengenal cahaya Allah baik yang terpancar di langit ataupun di bumi. Keimanan mereka bukan suatu keimanan berupa doktrin, tetapi berupa cahaya yang dilimpahkan Allah. Banyak orang yang merasa atau berusaha berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi sebenarnya tidak menyentuh tuntunan karena kurang terbinanya akhlak mulia berdasarkan sifat rahman dan rahim. Ini tidak efektif dalam proses pemakmuran, tetapi perkara balasan bagi kaum demikian adalah dari sisi Allah yang Maha Mengetahui.

Sebagian muslimin menempuh jalan yang keliru dalam berusaha memahami tuntunan Allah. Yang dikabarkan Rasulullah SAW, pokok dari kekeliruan demikian berupa sikap khawarij dan bid’ah. Dewasa ini, banyak tuduhan kepada muslimin dilancarkan oleh sesamanya tanpa suatu alasan yang jelas misalnya tuduhan Syiah bukan Islam, dan karena itu menjadi khawarij lebih baik daripada syiah. Ini tidak betul karena Rasulullah SAW tidak memperingatkan umatnya tentang syiah. Yang diperingatkan Rasulullah SAW terhadap umatnya utamanya adalah perkara Khawarij dan bid’ah. Khawarij adalah kelompok yang bersikap mengikuti Dzulkhuwaisirah, mempertuhankan bentuk-bentuk syariat hingga berbangga-bangga dengan syariat itu terhadap muslimin lain lain tanpa keinginan untuk membentuk akhlak mulia. Kadangkala mereka mengajarkan adab bergaul yang kemudian dijadikan sebagai ajaran membina akhlak mulia, akan tetapi sebenarnya tidak sedikitpun menyentuh pembinaan sifat rahman dan rahim. Bid’ah adalah sikap merasa menjadi wakil Allah dalam mengerjakan sesuatu yang sebenarnya tidak termasuk dalam urusan yang diperintahkan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Seringkali sikap ini mengalihkan perhatian kaum beriman dari urusan yang benar-benar diperintahkan Allah sedemikian keadaan umat menjadi berantakan. Seringkali umat memandang baik bid’ah yang mereka kerjakan, tetapi sebenarnya perintah Allah terkait keadaan mereka justru ditinggalkan.

Kekeliruan dalam membangun keimanan akan menjadikan umat menjadi bodoh. Kaum khawarij bahkan menjadi manusia yang berakhlak buruk, pelaknat dan pencela umat muslim lain sedangkan muslim lain menginginkan kebaikan. Dalam setiap keadaan, mereka mendatangkan kerugian bagi kaum muslim sendiri, bahkan manakala muslimin berperang melawan musyrikin mereka menjadi pembela-pembela musyrikin dan munafikin yang bersekutu. Sumber masalah itu berasal dari akal mereka yang terbalik. Demikian pula perbuatan bid’ah menjadikan mukminin berakhlak buruk karena tidak mau memahami tuntunan kitabullah dengan benar. Seringkali mereka menjadi orang yang lebih membenarkan pendapat mereka sendiri daripada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Atau kadangkala mereka sedemikian mengagungkan suatu kebodohan yang tidak mereka pahami, sedangkan mereka memandang indah keburukan yang menimpa mereka menyangka itu kehendak Allah. Kehendak Allah yang diajarkan Rasulullah SAW melalui kitabullah tidak mereka pahami dengan benar, dan mereka memahami kehendak Allah mengikuti caranya sendiri.

Kultur keilmuan harus tumbuh dengan benar di antara orang-orang yang beriman, karena itu merupakan tunas bagi terbentuknya pemakmuran masyarakat. Setiap orang beriman hendaknya dibina untuk berakhlak mulia dan berusaha mengenali cahaya-cahaya Allah yang terpancar baik di langit ataupun di bumi, dihindarkan dari terbentuknya sikap yang keliru meniru khawarij dan ahli bid’ah. Dengan pengenalan terhadap cahaya-cahaya Allah, hendaknya mereka bertakwa dengan melakukan perbuatan yang terbaik. Dengan demikian akan terbentuk berkah melalui langit dan bumi. Manakala keadaan masyarakat menjadi semakin buruk, hendaknya mereka kembali memeriksa akhlak mulia dalam diri mereka yang menjadi penyebab keadaan buruk tersebut. Manakala orang beriman meninggalkan pokok dari cahaya Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka telah keliru dalam membentuk akhlak dan keadaan buruk itu merupakan akibat dari kekeliruan mereka. Keburukan itu akan berlipat-lipat apabila mereka meyakini kebenaran diri yang menyimpang dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Keberkahan Melalui Ilmu, Iman dan Takwa

Di antara keburukan yang timbul dari kekeliruan itu adalah hilangnya keberkahan dalam kehidupan dan diangkatnya pemimpin yang dzalim bagi kaum beriman.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia dengan tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Keilmuan orang beriman hendaknya tumbuh dari para ulama dan fuqaha, yaitu ulama dan fuqaha yang mengenal kehendak Allah yang harus ditunaikan oleh kaum mukminin. Ilmu demikian akan mudah dikenali oleh orang-orang yang membina akhlak mulia. Suatu bangsa mungkin saja tidak mengenali keilmuan orang-orang yang mengenal Allah hingga mereka meninggalkan para ulama di antara mereka. Hal demikian mudah terjadi apabila manusia pada bangsa tersebut tidak membina akhlak mulia. Kadangkala mereka tidak mengenali karena kekeliruan dalam membina akhlak mulia. Keadaan ini lebih sulit dikenali oleh suatu kaum demikian karena mungkin saja mereka memandang diri mereka adalah hamba Allah yang paling baik, sedangkan sebenarnya mereka tidak dapat mengenali ilmu orang alim dan fuqaha di antara mereka.

Yang menjadi tanda kekeliruan pembinaan akhlak pada kaum demikian adalah berkurang atau hilangnya barakah pada kehidupan bermasyarakat, dan diangkatnya pemimpin-pemimpin yang berbuat dzalim. Ada tanda lain yang menunjukkan tetapi sulit diketahui oleh masyarakat luas berupa kematian orang beriman tanpa disertai iman. Ini adalah tanda-tanda yang dapat diketahui tentang kekeliruan pembinaan akhlak masyarakat. Pada dasarnya mereka telah meninggalkan para ulama dan fuqaha di antara mereka. Mungkin mereka tidak dapat mengenali ilmu dari para ulama dan fuqaha itu, atau mereka memilih tidak mengikuti keilmuan para ulama dan fuqaha untuk mengikuti waham mereka sendiri. Sekalipun mereka berusaha keras untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan amal-amal yang dipandang shalih, sebenarnya mereka itu belum cukup beriman dan bertakwa karena ketidakmampuan mengenali kebenaran yang harus diwujudkan dalam kehidupan mereka. Keberkahan dari langit dan bumi akan dibukakan kepada suatu kaum apabila mereka beriman dan bertakwa mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan berpegang hanya pada prasangka kebenaran diri sendiri.

Berkah penghidupan dan tatanan bermasyarakat mempunyai hubungan erat secara timbal balik. Ketika orang-orang bodoh ditempatkan sebagai pemimpin, orang-orang yang pandai di antara mereka akan terkungkung dalam kebodohan pemimpinnya. Misalnya suatu riset yang melibatkan orang-orang pandai selama bertahun-tahun mungkin tidak akan menghasilkan hasil riset yang memadai karena dipimpin orang bodoh. Usaha yang dilakukan seringkali tidak mendatangkan hasil. Kumpulan orang-orang pandai itu seharusnya mendatangkan manfaat yang berlipat-lipat dengan bekerja sama, atau setidaknya masing-masing menghasilkan sumbangsih sendiri dengan bekerja sendiri. Ketika dipimpin orang yang bodoh, karya-karya mereka mungkin akan terpangkas karena bodohnya pemimpin mereka. Ini merupakan contoh hilangnya berkah karena tatanan bermasyarakat yang keliru.

Kekeliruan tatanan masyarakat ini disebabkan di antaranya kesalahan pembinaan akhlak. Setiap orang harus dibina untuk dapat mengenali kebenaran, dimulai dengan proses tazkiyatun-nafs. Sangat banyak orang yang merasa benar dan tidak dapat mengetahui kesalahan dirinya sendiri sekalipun bila kesalahan itu sangat jelas bagi orang lain Mungkin saja rang lain tidak lagi mengetahui cara untuk membuat orang tersebut mengerti. Ibaratnya seperti menjelaskan bulatnya bentuk bumi kepada pengikut FE. Orang-orang FE mungkin akan meminta bukti, sedangkan seluruh bukti itu tidak pernah dipikirkan kebenarannya dengan selayaknya. Demikian pula banyak manusia yang tidak dapat memahami kebenaran karena lebih penting bagi mereka mempertahankan pendapat sendiri. Tazkiyatun-nafs merupakan proses pendahuluan yang harus dilakukan dalam membina akhlak mulia. Manakala tidak dilakukan proses tazkiyatun nafs, akal seseorang akan sulit berkembang dengan benar dalam memahami kebenaran. Pembinaan akhlak mulia hanya dilakukan dengan benar melalui tazkiyatun-nafs.

Tazkiyatun nafs bukan bertujuan akhir kesucian diri, tetapi harus diikuti dengan pembinaan akal untuk memahami kehendak Allah dengan benar, hingga setiap yang menempuh tazkiyatun nafs dapat menempuh jalan kembali kepada Allah dengan benar sesuai dengan tuntunan. Dekatnya kedudukan seseorang kepada Allah ditunjukkan dengan kemuliaan akhlaknya, yaitu ketepatan dalam memahami kehendak Allah dan bertindak sesuai dengan yang dipahaminya. Kemuliaan akhlak hanya berasal dari mengalirnya kemuliaan dari Sang Maha Mulia, bukan sesuatu yang dibuat-buat oleh makhluk. Orang yang kacau pemahamannya terhadap tuntunan Allah tidak dapat dikatakan berakhlak mulia karena pengaruh buruk kebathilan terhadap akalnya. Sangat banyak kebathilan yang bisa muncul dari makhluk sekalipun pada apa yang dipandang mulia, sedangkan kemuliaan datang dari Allah yang mungkin mengalir melalui makhluk sekalipun hanya sedikit. Kadang manusia tidak mengenali kemuliaan yang hadir kepada mereka karena keadaan akalnya.

Kemuliaan akhlak akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di bumi berupa barakah melalui keilmuan para ulama dan fuqaha. Keilmuan yang berasal dari keimanan tidak terbatas pada keilmuan asketik saja, tetapi juga mencakup keilmuan tentang duniawi. Banyak orang yang melakukan tazkiyatun nafs terjebak pada pembinaan sikap-sikap asketik saja tidak berkembang hingga memperoleh pengetahuan duniawi terkait kehidupan mereka. Kadangkala seseorang merasa tenang dengan kesempitan hidup atas diri mereka, sedangkan kesempitan itu diketahui orang yang berilmu dan fuqaha disebabkan oleh ketidaktaatan mereka terhadap petunjuk Allah. Seperti itu merupakan contoh jebakan asketisme saja dalam tazkiyatun-nafs. Keilmuan yang terlahir dari kemuliaan akhlak bukan hanya pembinaan asketik saja, akan tetapi juga mendatangkan berkah bagi kehidupan manusia di alam bumi.